Disclaimer : Gege Akutami
A Fanfiction by Noisseggra
Pair : Gojo X Sukuna
Genre : Romance, Drama
Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,
You have been warned !
Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V
.
.
Ahahah gomen. Kemaren abis keluar kota 4 hari, balik2 tepar tidur dari jam 6 ke jam 6 wkwkwkwk jd baru skrg bisa update XD
Selamat membaca~
.
.
Makasih banyak buat yang udah read and review :
#Guest : punyaa. Twitter facebook instagram pixiv deviantart tumblr ffn wattpad Ao3 webtoon semua punya XD search aja Noisseggra. Btw makasih banyak udah read and review ya…
#Makasih banyak buat kokorocchi, Yuki ChibiHitsu-chan and emperor it's me yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/
.
.
HeartBreak Night
.
.
Mood Gojo begitu baik hari itu. Senyuman tak lepas dari bibirnya sepanjang hari.
"Hee, sepertinya ada yang sedang bahagia," goda Utahime.
"Ehehe iya, nanti Sukuna pulang," balas Gojo.
"Heeh, enaknya yang nanti ketemu pacar."
Gojo nyengir. "Kau sendiri bagaimana dengan Nanami-sensei, sudah ada kemajuan?"
Wajah Utahime memerah. "Apaan sih. Sudah kubilang dia punya kekasih. Itu yang di toko roti—..."
"Halaah, aku sudah dengar kok. Cewek itu sepupunya kan? Nanami-sensei sering ke sana karena dia dititipi bibi nya untuk menjaga cewek itu."
Utahime memalingkan wajahnya.
"Hehe, sudahlah. Terima saja. Nanami-sensei itu baik loh," Gojo mencondongkan wajahnya ke dekat telinga Utahime. "Dan yang jelas jauh lebih baik dariku."
"Cowok manapun akan jauh lebih baik darimu, Satoru-Sensei," Utahime mengurung wajah Gojo dengan tangannya.
"Hahaha jahat amat, begini-begini aku pernah jadi orang yang k—..." ucapan Gojo terhenti saat melihat Nanami muncul, Utahime juga membatu. Dengan wajah mengerikan, Nanami menatap Gojo. Gojo pun segera menjauhkan wajahnya dari Utahime. "Ja~ sampai nanti Utahime-Sensei, aku masih ada pekerjaan," Gojo langsung kabur, tak ingin ada perang dunia.
.
Gojo pulang dengan langkah yang ringan. Sukuna belum tiba memang. Dia bilang akan sampai sekitar jam 7. Gojo pun bebersih, lalu menyiapkan makan malam sambil menunggu Sukuna.
Jam 7 kurang, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Dengan bersemangat, Gojo pun menuju pintu depan. Benar saja, Sukuna berjalan menuju pintu.
"Sukunaaa, akhirnya kau—..." ucapan Gojo terpotong karena tiba-tiba saja Sukuna ambruk ke tubuhnya.
"Capek banget. Gendong aku," ucap Sukuna.
"H-huh, tapi bukannya kau bilang tinggal penyelesaian, jadi harusnya tak secapek pas awal?"
"Aku menerima job lain, hanya merancang sih nggak sampai membangun. Tapi jadi tumpuk beberapa job."
"Argh, ya kenapa juga harus nerima banyak job. Biasanya juga satu satu kan," Gojo membopong Sukuna bridal style ke lantai atas. Sukuna tak menjawab pertanyaan Gojo yang itu. Gojo membaringkan Sukuna ke ranjang.
"Hei, nggak mandi dulu? Cuci muka atau apa gitu kek," ucap Gojo.
"Hngh..." Sukuna hanya menggumam dengan mata terpejam.
Gojo menghela nafas lelah. Kalau sudah jadi mode mayat hidup begitu, sepertinya memang tidak mungkin lagi membangunkan Sukuna.
Gojo membantu melepas sepatu Sukuna, lalu melepas sabuk dan celananya.
"Ugh..." ia mengeluh melihat pemandangan menggoda itu. Maklum lah, sudah lama tak melakukan. Tapi Gojo menahan diri. Ia memakaikan celana longgar ke Sukuna supaya lebih nyaman. Setelahnya, barulah ia pergi dari kamar Sukuna.
Gojo menghela nafas lelah, bersandar di pintu kamarnya yang tertutup, menatap selangkangannya yang kini menggunduk.
"Pakai tangan lagi deh," keluhnya sambil meremas pelan benda itu.
Gojo onani beberapa kali, tapi ia sama sekali tak merasa puas. Apalagi karena ia tahu Sukuna ada di rumah itu. Selama ini ia onani karena Sukuna tak ada, sekarang setelah Sukuna ada di sana...ditambah ia barusan melihat tubuh Sukuna...rasanya mustahil memuaskan sendiri hasratnya.
Gojo pun kembali ke kamar Sukuna. Pria itu masih belum berubah posisi, padahal sudah beberapa jam tertidur.
Gojo menghampiri, duduk di tepi ranjang, lalu menggoncang tubuh Sukuna.
"Sukuna...bangun dong. Pengen," rengeknya. Tak ada reaksi. "Sukunaaa," ia menggoncang semakin keras.
"Hnghh..." akhirnya Sukuna bereaksi.
"Sukuna. Bangun dong. Aku kebelet nih. Udah dua bulan loh kita nggak gituan," Gojo menekan-nekan pipi Sukuna beberapa kali.
"Ghh, apa sih!" kesal Sukuna, menampik tangan Gojo kasar.
"Pengen," rengek Gojo. "Sekaliii aja. Ya?"
"Aku capek. Besok aja lah."
"Nggak bisa. Udah di ujung nih."
"Bodo ah. Pakai tangan sana," Sukuna membalikkan badan dan menarik selimut sampai kepala.
"Ah Sukuna ah, nyebelin," kesal Gojo. Ia pun bangkit. "Njajan deh. Stress aku lama-lama," ia keluar kamar sambil setengah membanting pintu.
Mata Sukuna langsung terbuka lebar mendengar kata 'njajan'. Pasalnya itu kode yang biasa para pekerjanya gunakan untuk kata nyari lonte, memuaskan hasrat mereka karena jauh dari isteri. Sukuna langsung bangkit dari tempat tidur, melongok ke bawah. Tak ada Gojo. Apa masih di kamar? Ah, ternyata benar. Ia mendengar suara dari kamar Gojo. Tak berapa lama pria itu keluar kamar, sudah memakai jaket.
"Kau mau kemana huh?!" omel Sukuna, mencengkeram dada Gojo.
"Njajan. Stress aku," balas Gojo.
Grrtt...!
Sukuna mengeratkan gigi-gigi nya. "Oooh, sekarang udah berani kau ya, mengatakannya tepat di depan wajahku. Apa penis mu itu akan meledak kalau semalam saja tidak masuk ke lubang huh?" omelnya kasar.
"Huh?" Gojo menatap bingung. "Kamu ngomong apaan sih? Mau njajan kok jadi diomelin nggak jelas gini?" heran Gojo. Tapi beberapa detik kemudian, otak Gojo baru konek. "Ooooohhhh, itu maksud kamu. Astagaaa," Gojo mengacak rambut Sukuna. "Aku beneran cuma mau njajan loh, ke konbini. Beli es krim atau cokelat."
Sukuna masih manyun, menatap tak percaya.
"Ini loh aku pakai celana pendek, pakai sendal. Nggak bawa kunci mobil, cuma bawa dompet, HP juga kutinggal tuh," Gojo merentangkan tangannya.
Sukuna baru sadar kalau Gojo memang cuma pakai kaos oblong dibalut jaket, lalu celana longgar selutut. Dia juga hanya pakai sandal.
"Dah? Puas?" ucap Gojo. "Dah ah, keburu males keluar ntar aku," ia sekali lagi mengacak rambut Sukuna lalu pergi keluar rumah. Ia menuju konbini yang hanya berjarak dua blok dari rumahnya. Konbini itu buka 24 jam, jadi enak saja kalau ia ingin jajan malam-malam.
Gojo masuk ke konbini, berkeliling beberapa saat. Ia membawa keranjang belanjaan, memasukkan segala jajanan yang ia mau ke dalam keranjang itu. Kebanyakan sih makanan manis. Tapi ia lalu ingat Sukuna, jadi ia pun membeli juga beberapa snack yang asin atau pedas.
Sebelum menuju kasir, terakhir Gojo membeli es krim. Ia sengaja tak meminta kasir membungkusnya dengan pouch khusus es krim karena berniat mau mekanannya langsung di depan konbini sambil bersantai menikmati malam.
"Terimakasih banyak, silahkan datang kembali," si kasir mengantar kepergian Gojo.
Gojo keluar dari konbini, duduk di kursi yang ada di depan toko itu dan membuka es krim nya. Ia baru makan beberapa jilatan, tapi lagi-lagi ia teringat Sukuna. Kalau ia terlalu lama di luar, jangan-jangan Sukuna berpikiran aneh lagi. Gojo menghela nafas lelah, dan akhirnya berjalan pulang sambil menjilati es krim nya seperti bocah SD.
"Tadaima," ucap Gojo begitu memasuki rumah. Benar saja, saat ia masuk, ia melihat Sukuna berada di ruang tengah, duduk di sofa seolah menunggunya pulang.
"Mau snack?" Gojo menawarkan, menunjukkan kantong belanjaannya. Sukuna tak menjawab. "Nggak mau ya udah," Gojo menghabiskan es krim nya lalu membuang stick nya ke tempat sampah. Ia kembali menghampiri Sukuna. "Mau naik belum? Apa masih mau di—..." ucapan Gojo terhenti saat Sukuna menarik turun celananya.
"Hei hei hei hei," Gojo berusaha menutup kembali celananya, tapi Sukuna tetap menariknya turun. "Sukuna, Sukuna. Hey, aku tahu kau capek. Kau bilang besok saja, nggak papa. Hey," Gojo masih berusaha menolak, tapi Sukuna sudah menjilat penis Gojo, memasukkan ke dalam mulutnya.
"Hngh, S-Sukuna..." mendapat sentuhan begitu tentu saja Gojo kalah. Kantong belanjaannya jatuh. Sukuna menariknya duduk di sofa. Gojo bersandar di pojokan sofa, Sukuna menurunkan kepalanya dan memanja penis Gojo dengan mulut. "Hn...ahh," tak butuh waktu lama sampai Gojo ereksi penuh. Ia meremas kuat belakang kepala Sukuna.
Sukuna memasukkan penis Gojo ke mulutnya, lalu bergerak naik turun. Benda itu cepat sekali ereksi tak seperti biasanya, membuat Sukuna tahu seberapa inginnya Gojo melakukan sex malam ini. Sedikit rasa bersalah menggelayut di batin Sukuna. Ia terus memanja benda itu, menjilat ujung penis Gojo yang mulai banjir pre cum. Sukuna mengocok batang penis Gojo dengan kuat, lidahnya menjilat lubang kecil di atasnya.
"Nn...ahh, S-Su...kuna..."
Gojo klimaks. Sperma membanjiri wajah Sukuna hingga ke rambut. Cepat sekali Gojo klimaks. Sukuna menegakkan tubuh sambil mengelap wajahnya dengan punggung tangan, ia menatap wajah Gojo yang terengah. Mana mungkin ia puas hanya dari sebuah blowjob.
Gojo menarik Sukuna untuk berciuman, sebuah ciuman dalam. Menginvasi rongga mulut Sukuna, mengajak lidahnya saling menaut. Tangan Gojo meraba selangkangan Sukuna, tapi saat merasakan benda itu masih lembek, Gojo berhenti berciuman. Ia ganti memeluk Sukuna dengan lembut.
"Tidurlah, kau pasti lelah ya. Besok saja tidak apa-apa," lirih Gojo, mengusap-usap punggung Sukuna pelan.
Sukuna balas memeluk, menyandarkan kepala ke pundak Gojo. "Aku bisa kok, kalau hanya satu dua ronde," ucapnya.
"Sudahlah, istirahat saja."
"Tapi kau—..."
"Aku nggak selingkuh loh, nih aku di sini. Nggak cari PSK juga. Kamu curigaan banget sih sama aku. Emangnya kapan sih aku pernah nyelingkuhin kamu? Kok kayaknya curigaaa terus bawaannya."
"Sama Utahime."
"Aku nggak selingkuh! Kau tahu sendiri gimana-gimana nya."
"Sama Shun."
"Enggak astagaaa, cuma nginep doang dia. Kita nggak ngapa-ngapain."
"Waktu di bar kau nyewa private room sama cewek."
"Kapan? Pas di cottage? Waktu itu kan kita belum jadian. Terus nggak jadi juga kan, akhirnya sama kamu juga."
Sukuna masih tampak manyun.
"Astagaa, kalau mau ungkit masa lalu, bukannya dulu kau ya yang pergi cari cewek di bar pas kita LDR. Ampe berapa cewek pula. Tiga? Lima?" kesal Gojo.
"Yang kapan?" sewot Sukuna.
"Yang duluuu, pas kita LDR. Kamu sexually frustrated, terus gonta-ganti cewek sampai akhirnya ke sini tengah malem pas hujan badai cuma buat sex."
"O-ooohhh," Sukuna akhirnya mengingat kejadian itu. "Tapi kau sendiri pasti cari cewek selama kita LDR itu kan."
"Enggak tuh."
"Bohong! Pas kutanya kau nggak jawab!"
"Bukannya kau sendiri yang suruh aku nggak usah jawab biar kau nggak cemburu?!"
"Aaaarrgghh..." Sukuna berteriak frustasi lalu menenggelamkan wajahnya ke dada Gojo. "Sudahlah, aku capek berantem. Nggak punya tenaga lagi."
Gojo menghela nafas lelah. "Kau pernah bilang kau nggak bisa lagi sex sama yang lain selain aku. Kenapa kamu nggak nyoba mikir kalau aku juga merasakan hal yang sama sih? Kita tuh pacaran, bukan kau jatuh cinta padaku dan mengejarku, sementara aku tak balas mencintaimu. Aku punya perasaan yang sama padamu, Sukuna. Aku mencintaimu," Gojo melepas pelukan, meraih wajah Sukuna dengan kedua tangannya.
Wajah Sukuna memerah, ia kembali menyembunyikan wajah di dada Gojo, memeluknya erat, tak mau lagi memunculkan wajahnya. Gojo tertawa kecil, lalu membopong Sukuna seperti koala. "Dah, istirahat sana. Besok kugarap sampai nggak bisa jalan kau," ucap Gojo, membopong Sukuna ke kamar. Merebahkannya ke ranjang.
Sukuna meraih ujung kaos Gojo. "Tidur bareng," pintanya.
"Kau mau menyiksaku atau apa?!" omel Gojo. Tapi pada akhirmya ia mengalah. Ia pun tidur seranjang bersama Sukuna meski harus tersiksa mencoba menahan diri. Mana Sukuna memeluknya pula, menyamankan diri di dekapan Gojo.
'Tahan Satoru, tahan,' batin Gojo frustasi.
"Hey…" panggil Sukuna setelah lama keduanya diam.
"Apa?" Tanya Gojo.
"Aku minta maaf soal yang itu."
Gojo mengerutkan sebelah alis. "Yang itu yang mana?"
"Yang dulu aku cari cewek selama LDR. Dan…aku bukan pergi sama lima cewek. Tapi delapan."
"Sialan!" umpat Gojo.
"Hey! Tapi dari situ kan aku jadi tahu kalau aku hanya bisa melakukan sex denganmu!" Sukuna balas mengomel mencari pembenaran, ia bahkan sampai melepas pelukan demi menatap wajah Gojo.
"Oh, terus kalau aku juga jalan sama delapan cewek buat sex, kau bakal biasa saja kan? Kan biar aku sadar kalau aku hanya bisa sex denganmu?"
Sukuna merengut mendengar itu. Gojo menghela nafas lelah lalu kembali mendekap Sukuna. "Sudahlah, jangan dibahas lagi. Itu semua ada di masa lalu. Yang jelas sekarang kau milikku, dan aku hanya ingin bilang berhenti cemburu terlalu berlebihan. Aku suka kau cemburu, tapi setidaknya kau juga bisa percaya padaku kan. Aku capek berantem terus karena hal sepele, dan kau tidak pernah percaya penjelasanku."
"…" Sukuna terdiam mendengar itu. "…iya maaf," ucapnya lalu kembali menyamankan diri di pelukan Gojo.
.
.
Keesokan paginya Gojo berangkat kerja seperti biasa. Sukuna masih molor, tak bergerak seperti mayat. Sebelum pergi Gojo menyempatkan untuk membuat makanan untuk Sukuna dan meletakkannya di meja samping ranjang. Siapa tahu dia nanti bangun sebentar tapi terlalu malas untuk sekedar ke dapur. Kebiasaan Sukuna kalau sedang mode zombie.
"Ittekimas," lirih Gojo seraya mengecup dahi Sukuna. Setelah itu ia pergi meninggalkan kamar.
.
Gojo menjalani harinya seperti biasa. Kesibukan kampus, rutinitas sesuai jadwal. Ia sesekali menilik ponsel. Tak ada satupun chat masuk dari Sukuna. Gojo menghela nafas lelah tak mendapat mood booster. Ia hanya berharap hari nya cepat selesai sehingga ia bisa pulang.
.
Jam 5 sore Gojo pulang dari kampus. Saat ia pulang, rumah dalam keadaan sepi.
"Sukuna?" panggilnya. Tak ada jawaban. Apa masih tidur? Gojo pun masuk rumah sambil menyalakan lampu-lampu. Ia naik ke kamar atas, menuju kamar Sukuna. Kosong. Sukuna sudah tak berada di kamar. "Apa lagi keluar ya," gumam Gojo. Ia pun kembali melangkah, kali ini menuju kamarnya.
Dan ia terkesiap begitu memasuki kamar, melihat pemandangan yang ada. Sukuna ada di atas ranjangnya, telanjang bulat, hanya sebuah handuk kecil melingkar di pinggang. Ia tampak tengah main HP dengan headphone di telinga, dan lollipop di mulutnya. Sukuna mendongak saat melihat Gojo datang, dan ia menyeringai melihat ekspresi Gojo.
"Okaerinasai, anata," goda Sukuna. Ia meletakkan ponsel dan headphone nya di meja, lalu bangkit dari ranjang menghampiri Gojo. Sukuna memutari tubuh Gojo, berdiri di belakangnya—sedikit ke samping, lalu dengan nakal melingkarkan tangannya di tubuh Gojo. Jemarinya menyentuh dada Gojo dengan sensual.
"Gohan ni suru?" ucap Sukuna, perlahan ia melepaskan kancing kemeja teratas Gojo. "Ofuro ni suru? Soretomo..." Sukuna melepas satu kancing kemeja lagi. "...wa...ta...gyaahhh," Sukuna berteriak saat Gojo memutar tubuhnya lalu membopongnya ke ranjang.
"Tentu saja kau, kenapa pake tanya," ucap Gojo, membanting Sukuna ke ranjang yang empuk. Sukuna tertawa, lalu menyambut ciuman Gojo. Tangan Sukuna sambil melepas pakaian Gojo selama mereka berciuman. "Mnn, mm," Sukuna menikmati tautan lidah Gojo yang basah dan hangat, sesekali menghisapnya. Gojo meremas dada Sukuna kuat, seolah gemas.
Tangan Sukuna beralih menyentuh selangkangan Gojo, benda itu sudah mengeras. Dengan tak sabar Sukuna melepas sabuk Gojo lalu menurunkan reslettingnya.
"Kau sudah mempersiapkan lubangmu tadi saat mandi?" tanya Gojo dengan nafas menderu.
Sukuna hanya mengangguk, nafasnya terengah. Ia menuntun penis Gojo masuk ke lubangnya. "Nn, ahh..." ia mendesah saat benda itu masuk. Sudah lama sekali ia tak merasakan benda itu berada di dalam tubuhnya. "Hn, cepat. Lebih cepat," pintanya.
Gojo tentu saja menurut. Ia bergerak cepat memasuki lubang Sukuna, membuat suara kulit mereka yang saling menubruk memenuhi ruangan. Gojo kembali mencium Sukuna, menikmati setiap inchi rongga basahnya. "Nn, ahh, gomen," ucap Gojo setelah cukup lama berciuman. Ia menundukkan kepala di samping telinga Sukuna, gerakannya sedikit melambat tapi lebih kuat, ia tengah klimaks.
Sukuna sama sekali tak berniat mengejek Gojo karena keluar lebih cepat dari biasanya, toh itu berarti Gojo memang tak melakukan sex dengan siapapun selama Sukuna pergi. Sukuna memeluk punggung Gojo, tangannya beralih meremas bokong Gojo, seolah menyuruhnya bergerak kembali. Toh, Gojo juga pasti belum puas.
Gojo menciumi leher Sukuna dan mulai bergerak, perlahan penisnya kembali ereksi. Ia mengocok penis Sukuna, tapi Sukuna mencegahnya.
"Nanti, ahh, nn," lenguh Sukuna. Gojo menurut saja. Ia bergerak tanpa menyentuh penis Sukuna, tangannya beralih menaut kedua tangan Sukuna di atas kepalanya. Bibir mereka saling bertaut.
Gojo mengubah posisi, memutar tubuh Sukuna supaya menungging, lalu kembali memasukinya dengan brutal.
"Hnn...ahh," Sukuna mencengkeram erat bantal. "Ugh...ikku..." ia akhirnya klimaks. Sperma membasahi sprei di bawahnya. Gojo memberikan jeda waktu untuk Sukuna bernafas sebelum mulai bergerak kembali.
Gojo meraba pinggang Sukuna yang mulus, meremasnya, lalu beralih ke bokongnya. Menarik kedua belah bokong Sukuna ke samping, menampilkan pemandangan indah di mana tubuh mereka terhubungan. Lubang Sukuna memerah dimasuki oleh penis Gojo. Melihat itu membuat libido Gojo makin naik.
"Hnghh...ahh, ke-kenapa bertambah besar lagi. B-baka...!" omel Sukuna. Ia kembali ereksi merasakan denyutan penis Gojo di dalam tubuhnya.
"Habisnya kau sangat sexy, Sukuna," Gojo menarik tubuh Sukuna bangun, memeluknya dari belakang supaya tubuh Sukuna tetap stabil selama ia bergerak. Tangan Gojo yang memeluk Sukuna, mengusap nipple pink Sukuba yang ereksi, satu tangan lagi mengocok penis Sukuna.
"Hngh...ahh, hn..." Sukuna mendesah. Ia mencengkeram tangan Gojo yang memeluknya, ia menolehkan wajah, meminta ciuman. Dengan senang hati Gojo menerimanya. Lidah mereka saling bertaut, basah dan hangat. "Mmn, mmph," Sukuna mengerang tertahan saat akhirnya ia klimaks di tangan Gojo. Sperma nya muncrat sampai mengenai bantal.
Sukuna terengah, ia melepas ciuman dan menumpu tubuhnya ke kasur dengan kedua tangan.
"Gomen, Sukuna. Aku masih ingin," ucap Gojo.
"..." Sukuna menoleh lewat pundaknya lalu melepas koneksi tubuh mereka. Cairan sperma mengalir dari lubangnya. Ia tiduran di bantal dan membuka kakinya lebar-lebar, tangannya membuka lubangnya dengan nakal. "Ya, lakukan sesukamu. Kali ini aku yang akan memuaskanmu," ucap Sukuna.
Gojo pun tersenyum dan langsung menubruk Sukuna. "Sukunaaaa," rengeknya dan mencium Sukuna, tangannya kembali menuntun penisnya menuju lubang Sukuna. "Kau yang terbaik," bisik Gojo.
Sukuna menyeringai, memeluk leher Gojo. "Tentu saja," balasnya.
.
~OoooOoooO~
.
Lewat tengah malam mereka istirahat dari kegiatan ranjang mereka. Saat ini mereka sudah mandi dan mengganti sprei serta selimut, tapi mereka hanya mengenakan handuk sepinggang. Gojo duduk di sofa tak berlengan yang ada di kaki ranjang. Sukuna ada di atas ranjang, tengkurap sambil memeluk pundak Gojo.
"Ini sayang, Pamfletnya," ucap Gojo. Ia tengah menunjukkan sesuatu di layar ponselnya. "Pameran mock-up nya sampai seminggu. Udah dari senin kemarin, sampai jumat besok berarti. Kalau kamu minat dateng aja."
"Harus pesan tiket masuk dulu nggak?" tanya Sukuna.
"Nggak kok, ini terbuka untuk umum. Kayaknya ada beberapa tamu undangan, tapi selebihnya bebas keluar masuk. Ini di ruangan D4 juga, biasa buat transit perkuliahan. Jadi mahasiswa yang lewat mau ke kelas juga bisa sambil lihat-lihat."
"Kau ngajar di gedung ini?"
"Kadang. Aku kan megang mata kuliah umum, sesekali di sana. Ah, besok ada dua kelas sih di Gedung ini. Kalau kamu dateng kita bisa ketemuan di sana."
"Ya...coba nanti deh. Kalau males keluar rumah ya nggak pergi."
"Haha, iya. Aku juga ngasih tahu kalu kau minat saja. Kalau nggak ya nggak papa," Gojo menyandarkan kepalanya ke ranjang, mengecup pipi Sukuna. "Lagipula itu cuma pameran anak-anak teknik, bukan professional. Takutnya nggak sesuai ekspektasimu juga."
"Ya," Sukuna memeluk leher Gojo. Tangannya terulur ke bawah untuk memainkan nipple Gojo. Gojo tertawa kecil karenanya.
"Nanti ada yang bangun loh," goda Gojo.
Sukuna malah menyeringai lalu menurunkan tangannya menyentuh penis Gojo di dalam handuk, menyibaknya dari bawah. "Ya, aku lebih suka benda ini tegak dari pada lembek," ucap Sukuna.
Gojo menciumi leher Sukuna sambil ia menikmati sentuhan Sukuna di bagian bawah tubuhnya. Penisnya mulai tegak di tangan Sukuna. "Sayang, pengin masuk," ucap Gojo dengan nafas memburu.
"Sini naik," Sukuna bangkit, lalu menarik Gojo naik ke atas ranjang, mendorongnya hingga berbaring ke bantal. Sukuna naik ke atas tubuh Gojo, memosisikan kejantanan Gojo ke lubangnya dan perlahan bergerak turun. Penis Sukuna juga sudah menggunduk di balik handuk kecil yang melingkar di pinggangnya.
"Hn...ahh, mn..." Sukuna mulai mempercepat gerakan, tangan Gojo memegangi pinggang Sukuna, membantunya bergerak. Sukuna melihat ekspresi Gojo yang tampak keenakan, tatapannya tak begitu fokus menatap ke arah tubuh mereka terhubung, meski sesekali tertutup handuk saat Sukuna turun.
Sukuna mengapit erat penis Gojo beberapa kali, membuat mata Gojo terbuka terpejam menikmati perlakuan Sukuna. Sukuna menyeringai, ia tambah terangsang melihat ekspresi Gojo. Ia pun mempercepat gerakannya, menyentuh sweetspot nya semau dia.
"Nn, Sukuna, lepas handukmu dong," pinta Gojo.
"Hn..." Sukuna pun menurut. Ia melepas handuknya sehingga persetubuhan mereka lebih jelas Gojo lihat. Penis Sukuna yang tegak juga tak terhalang apapun, pre cum membanjir dari ujung penisnya. "Hngh...nn, ahh," Sukuna bergerak semakin cepat, ia juga mencengkeram semakin erat. "Ugh...nn...ikku...aahhh," Sukuna klimaks. Sperma muncrat hingga mengenai wajah Gojo. Di dalam lubangnya Gojo juga klimaks, lubang Sukuna terasa panas diisi sperma Gojo.
Nafas Sukuna terengah. Ia masih duduk di atas tubuh Gojo, menormalkan nafasnya. Tangan Gojo bergeraik meraih penis Sukuna, mengusap ujungnya yang basah oleh cairan putih. Sukuna kembali terangsang karena itu. "Memangnya kau kuat sampai pagi? Besok kau kerja loh," ucap Sukuna.
"Hng..." Gojo merajuk. "Tapi masih pengin," rengeknya.
Sukuna menghela nafas lelah. "Baiklah, beberapa kali saja. Setelah itu kau harus tidur," ucap Sukuna lalu mencium Gojo, melanjutkan kegiatan mereka.
.
~OoooOoooO~
.
Sukuna membuka laptop, menatap pekerjaannya. Tapi ia lalu teringat soal pameran mock-up yang dikatakan Gojo. Mungkin tak apa libur beberapa hari, toh ia tak akan liburan lama seperti yang biasa ia lakukan. Akhirnya Sukuna menutup laptop dan pergi ke acara itu.
Ia tak menghubungi Gojo dulu, tapi semalam Gojo sudah menyebutkan jam berapa saja dia mengajar di sana. Jadi Sukuna datang lebih awal sebelum jam Gojo selesai mengajar. Biar ia bisa melihat-lihat dulu pameran itu.
Suasana pameran lumayan ramai. Banyak mahasiswa yang melihat pameran itu, tapi banyak juga orang-orang ber jaz yang ada di sana. Area pamerannya juga luas, mock-up yang dipajang juga bagus-bagus.
"Satoru sialan. Apanya yang 'cuma' pameran anak-anak teknik. Ini sih sudah kayak pameran pro," gerutu Sukuna. Ya maklum lah, kampus tempat Gojo bekerja termasuk salah satu kampus terbaik yang ada, jadi sekedar pameran milik mahasiswa pun bisa semegah itu.
Sukuna berjalan santai memperhatikan satu per satu mock-up yang ada. Sesekali ia tersenyum, sesekali menyeringai. Ia melihat banyak potensi bagus dari desain-desain itu. Hingga ada satu mock-up yang menarik perhatiannya. Desain sebuah Mall, dan bentuknya unik. Banyak inovasi baru berada di mock-up itu. Ia menatap dengan seksama setiap detail, setiap bagian.
"Ini bagus," komentarnya yang tanpa disangka disahut oleh seseorang.
"Terimakasih banyak," seorang mahasiswa berkacamata berjaz almamater berdiri di dekat Sukuna. Sebuah nametag bertuliskan Daisuke tertempel di dada sebelah kiri nya.
Sukuna menarik sebelah bibir menatap raut percaya diri dari mahasiswa itu. "Kau yang membuatnya?" tanya Sukuna.
"Benar," jawab Daisuke. "Saya memperhatikan Anda sepertinya mengerti banyak soal bidang ini, terlihat dari cara Anda mengamati pameran yang ada."
"Ya, kurasa," balas Sukuna, kembali memerhatikan mock-up Mall di hadapannya.
"Bagaimana menurut Anda?" Daisuke meminta pendapat.
"Harus kuakui, ini bagus. Inovasi yang cemerlang, banyak ide-ide baru. Kalau betulan direalisasikan jadi sebuah bangunan Mall, pasti banyak yang tertarik untuk datang," komentar Sukuna.
Wajah Daisuke tampak senang. "Terimakasih banyak," ucapnya. "Sebenarnya saya terinspirasi dari seseorang, untuk mencoba hal-hal baru dan berpikir out of the box mengenai desain suatu bangunan. Ah, kalau Anda juga menyukai bidang ini, mungkin Anda juga mengenal namanya. Apa Anda tahu arsitek bernama Ryomen Sukuna?"
Pffttt...!
Sukuna nyaris tersedak, tapi untunglah berhasil menahan diri.
"Saya sudah mengunjungi beberapa gedung rancangan beliau, desain nya bagus sekali," ucap Daisuke dengan mata bling-bling. "Saya belum pernah bertemu beliau, tapi dosen saya pernah satu kali ikut menghadiri saat Ryomen-sama presentasi mengenai rancangan pembangunan sebuah aquarium di salah satu kota. Dosen saya menceritakan bahwa Ryomen-sama sangat mengagumkan, desain yang beliau presentasikan sangat menawan dan fresh, banyak ide-ide baru. Saya sudah berkunjung ke aquarium tersebut dan memang rancangannya sangat bagus. Saya berharap bisa bertemu Ryomen-san suatu hari nanti, kalau saya sudah menjadi arsitek dan bekerja di bidang yang sama dengan beliau."
Sukuna hanya terbelalak sambil manggut-manggut, mencoba untuk tidak bersikap aneh. "Ya, berusahalah. Kau pasti bisa," ucap Sukuna tanpa menatap Daisuke.
"Apa Anda juga mengunjungi gedung rancangan beliau? Atau pernah datang ke presentasinya seperti dosen saya?"
"Hng?" Sukuna hanya cengok, bingung harus menjawab apa.
"Hei, hei, Daisuke. Jangan mengganggu tamu. Kebiasaan burukmu kau terlalu antusias kalau ada yang memperhatikan desain rancanganmu dengan seksama," seorang yang berpenampilan seperti dosen, menghampiri mereka.
"Ah, maaf Miyagi-san. Dan, maaf juga untuk Anda karena saya terlalu banyak bicara," Daisuke membungkuk ke arah Sukuna.
"Semoga Anda tidak terganggu, mahasiswa saya ini memang..." Miyagi mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Sukuna, tapi terhenti begitu melihat wajahnya. "Ryomen...Sukuna...?"
Sukuna bungkam, tersenyum kaku. Sementara Daisuke membatu di tempat.
"Aakk...?!" Daisuke melongo dengan tatapan terbelalak.
"Suatu kehormatan Anda datang ke pameran jurusan kami," Miyagi menyalami Sukuna dengan kedua tangannya.
"Ya, saya hanya mampir sebentar sebelum menemui seseorang," balas Sukuna.
"Oh, begitu. Tapi tetap saja, terima kasih sudah datang di pameran sederhana kami. Bagaimana menurut Anda karya-karya mahasiswa kami?"
Sukuna tersenyum. "Ya, bagus. Banyak potensi. Terutama desain milik Daisuke-kun ini, benar-benar menarik perhatian saya," ucap Sukuna, menepuk pundak Daisuke. "Ah, saya harus menemui seseorang. Saya pamit dulu," Sukuna berniat menyudahi kunjungannya.
"A...um...a-apa boleh...foto bersama," ucap Daisuke gelagapan.
"Ya, tidak masalah," jawab Sukuna. Daisuke meminta tolong Miyagi untuk memotretnya bersama Sukuna di depan mock-up rancangan Daisuke.
"Terima kasih banyak, sebuah kehormatan bertemu dengan Anda," Daisuke menyalami Sukuna sesudah foto bersama.
"Ya. Ah, satu masukan buatmu. Walau kau ingin desain out of the box, kau juga harus menguasai desain umum yang biasa dipakai orang. Mencari pengalaman itu penting, dan orang juga tidak akan mempekerjakan arsitek yang baru pertama kali mendapat projek untuk menggarap sebuah gedung dengan desain unik. Intinya desain umum itu kau gunakan untuk cari pengalaman, kalau kau sudah punya nama, akan tiba waktu di mana seseorang akan mempekerjakanmu menggarap sesuatu di mana kau bisa berkreasi semaumu."
"Baik, terimakasih banyak masukannya," Daisuke membungkuk dalam mengantar kepergian Sukuna.
Sukuna naik ke lantai tiga di mana Gojo bilang ia mengajar di sana. Sukuna melihat kelas-kelas masih terisi. Ia melihat jam tangannya. Mungkin sebentar lagi, pikirnya. Ia menuju kelas di mana Gojo mengajar, mengintip dari luar. Ia ada di pintu belakang kelas yang jauh dari meja dosen, jadi ia yakin tak ketahuan Gojo.
Sukuna tersenyum, ini pertama kalinya melihat Gojo mengajar. Rupanya pria itu bisa serius juga. Meski kelasnya terkesan santai, saat memberikan penjelasan, Gojo bisa serius, dan semua mahasiswa tampak terfokus padanya. Saat interaksi dengan mahasiswa barulah suasana terlihat ceria dan santai, mahasiswa terlihat antusias dengan kelas tersebut. Bagi Sukuna, bisa mengajar seperti itu juga butuh talenta. Karena ia juga pernah kuliah, ia pernah merasakan diajar dosen yang sangat membosankan, juga pernah diajar dosen yang seperti Gojo. Bagi Sukuna, ada kharisma tersendiri yang membuat seorang dosen diperhatikan oleh mahasiswanya, meskipun mata kuliah yang diajarkan membosankan atau sulit sekalipun.
Tak berapa lama kelas yang diajar Gojo selesai. Mahasiswa berhambur keluar kelas satu per satu, beberapa melirik Sukuna karena ia hanya berdiri diam bersandar ke tembok pembatas balkon, mana tubuh dia penuh tattoo begitu. Sukuna akhirnya berjalan menuju pintu yang satu lagi yang dekat dengan meja dosen. Gojo tampak tengah memberesi barang-barangnya.
Tapi sebelum Sukuna masuk, beberapa orang mahasiswi menghampiri Gojo.
"Sensei Sensei, nanti malam aku mengadakan pesta ulang tahun. Datang dong, beberapa dosen lain juga kuundang loh."
"Hmm gimana ya. Pesta sampai malam dong," ucap Gojo.
"Ya paling sampai jam 10 atau 11 lah."
"Datang ya Sensei, aku sudah siapkan banyak minuman bagus di sana."
"Haha, kedengarannya menyenangkan. Tapi gomen, sepertinya aku tidak bisa ikut," ucap Gojo.
"Yaaahh, kok gitu," mereka langsung bersahutan mengutarakan kekecewaannya.
"Atau jangan-jangan, Sensei ada pacar ya? Takut dimarahin pacar?" goda seorang mahasiswi.
Deg...!
Jantung Sukuna berdegup kencang, wajahnya sedikit memanas. Ia penasaran Gojo mau menjawab apa.
"Hehe, iya nih. Kalau pulang malam bakal dimarahin. Apalagi ke pesta, pacarku itu cemburuan banget," ucap Gojo.
Para mahasiswi itu tertawa. "Kalau aku punya pacar seganteng Sensei, aku juga bakal possesive banget sih," sahut seseorang.
"Iya. Jangankan ke pesta. Ke cafe aja aku taliin kali biar nggak lepas," sahut yang lain disambut riuh tawa mereka.
"Haha, begitulah. Jadi maaf ya, mungkin lain kali," balas Gojo.
"Yaaah," mereka masih kecewa. "Atau ajak saja pacarnya, Sensei?"
"Hmmm..." Gojo tampak berpikir. "Ya, coba nanti aku bilang dulu. Tapi nggak janji ya."
"Oke deh. Bye Sensei," mereka pun pamit. Sukuna menghela nafas melihat kepergian para mahasiswi itu. Ia hanya kagum bagaimana bisa mahasiswi bisa seakrab itu dengan Dosen. Mungkin karena sifat Gojo juga jadi ia gampang akrab dengan orang, bahkan hubungan dengan murid-murid nya pun sangat fleksible. Sementara Sukuna, seingatnya dulu ia tak pernah memiliki hubungan se asyik itu dengan dosen. Sampai bisa mengajak pesta, atau menggodanya soal pacar. Gila. Yang ada nilai nya F di akhir semester.
Gojo lanjut membereskan barang-barangnya, memasukkan laptop ke tas. Lagi, sebelum Sukuna melangkah, seseorang mendahului. Kali ini tampaknya sama-sama dosen.
"Satoru-sensei," sapa orang itu.
"Oh, Gin-sensei. Ada apa?" tanya Gojo.
"Aku dan beberapa dosen lain mau ke karaoke nih. Sekalian Goukon, group kencan gitu. Kurang satu orang, mau ikut nggak?"
"Huh, enggak ah. Goukon gitu," ucap Gojo.
"Halah, cuma kencan semalam. Anda bilang kemarin lagi LDR sama pacar Anda kan? Ikut saja yuk. Pacar Anda juga nggak akan tahu."
"Nggak deh, makasih."
"Ck, ayolah," Gin berusaha merayu. "Cewek yang datang seksi-seksi loh. Buat kencan semalam saja. Kau pasti puas."
"Haha, nggak deh. Aku nungguin pacarku pulang saja."
"Hish, yakin nih? Lama nggak begituan bikin stress loh."
"Heeh, iya bener banget. Emang bikin stress."
"Nah makanya."
"Haha, iya, tapi aku nunggu pacarku saja."
"Yaah, Satoru-sensei ah," ucap Gin. "Ya sudahlah. Tapi jangan menyesal loh," akhirnya Gin menyerah. "Kalau berubah pikiran bisa langsung hubungi aku," teriak Gin sambil keluar ruangan.
"Ya," balas Gojo singkat. Ia menoleh ke luar, tapi tak melihat Sukuna karena posisi Sukuna memang berada di belakang tembok antar jendela.
Sukuna terdiam menatap ruang kosong di hadapannya. Ia hanya kembali teringat ucapan Gojo yang menanyakan kenapa Sukuna selalu curiga padanya, padahal Gojo tak pernah sekalipun selingkuh. Sukuna menghela nafas panjang. Entahlah, mungkin karena ia tak percaya diri. Ia takut Gojo tak puas dengan dirinya saja, sehingga harus mencari orang lain. Tapi itu hanya pemikiran Sukuna. Padahal Gojo sudah sering menjelaskan dan mengatakan mencintainya, bahkan yang mengajak pacaran justru Gojo. Lalu kejadian tadi...di mana Gojo menolak semua ajakan yang ada. Mungkin saja Gojo selalu melakukan hal yang sama selama Sukuna tak ada. Seharusnya Sukuna tak lagi meragukan Gojo.
Sukuna tersenyum tipis, lalu beranjak menuju kelas. Gojo menoleh dan tersenyum melihat kedatangannya. Padahal Sukuna menyadari ekspresi Gojo yang selalu berubah cerah setiap kali melihatnya, harusnya Sukuna menyadari itu dari dulu. Kalau Gojo serius dengan perasaannya.
"Hey, kau sudah datang. Sorry, aku baru selesai nih," Gojo selesai beres-beres. "Udah nonton pamerannya?"
"Udah tadi. Sejam kayaknya aku di bawah. Bagus-bagus o, nggak nyesel dateng," komentar Sukuna.
"Hee, syukurlah kalau begitu. Masih mau ke pameran atau nggak?" Gojo bangkit, menenteng tas nya.
"Udah ah, udah puas tadi."
"Aku ngajar lagi jam 2 nanti. Mau makan siang bareng nggak sekarang? Tapi di kantin kampus aja ya, udah jam segini," ucap Gojo.
Sukuna mengangguk.
"Yaudah ayok. Nan—..." ucapan Gojo terhenti karena Sukuna menarik kerah kemejanya, memaksanya sedikit menunduk, lalu mencium bibir Gojo. Hanya sebuah kecupan lembut.
Gojo tersenyum saat kecupan terlepas. "Tumben," lirihnya.
"Sedang ingin saja," balas Sukuna lalu melepas tangannya dari kerah pakaian Gojo. Ia pun berjalan meninggalkan kelas disusul Gojo.
.
.
.
~TBC~
.
Support me on Trakteer : Noisseggra
