Disclaimer : Gege Akutami

A Fanfiction by Noisseggra

Pair : Gojo X Sukuna

Genre : Romance, Drama

Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,

You have been warned !

Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V

.

.

Makasih banyak buat yang udah read and review :

#Guest : iyaa kemaren abis keluar kota jadi telat update XD gomen gomen. Makasih banyak semangat nyaaa

#Guest : ohoho tenang sadja~ bentar lagi dikasih tau kok mereka XD makasih banyak read reviewnya ya…

#Guest : KUJUGA MAU PUNYA PACAR KEK SATOWUUUU T-T #cry in Satowu

#Guest : Lah ini kan juga AU uwu

Btw makasih banyak buat read reviewnya ya…

.

#Makasih banyak buat kokorocchi, Yuki ChibiHitsu-chan and emperor it's me yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/

.

.

HeartBreak Night

.

.

Entah itu hanya perasaan Gojo atau memang benar adanya. Sepertinya akhir-akhir ini Sukuna jadi workaholic. Biasanya ia hanya menerima satu project, mengerjakan bersama tim nya sampai selesai, lalu menerima project lain. Tapi akhir-akhir ini, dari yang Gojo lihat, Sukuna masih melakukan hal yang sama, hanya saja ia juga menerima job lain untuk mendesain suatu bangunan. Meski bukan ia dan tim nya yang mengerjakan projek tersebut.

Jadi semacam Sukuna menjadi arsitek tanpa tim seperti yang pernah Sukuna ceritakan padanya. Sukuna hanya menerima job mendesain, sisanya si kontraktor yang cari tim sendiri untuk membangun projek tersebut.

"Dia ini gila kerja atau masochist sih," gumam Gojo saat melihat kamar Sukuna yang makin hari makin berantakan. Ia tak berani lagi masuk kamar Sukuna. Takut mengganggu atau menyenggol peralatan kerja di sana.

Tapi yang membuat Gojo heran, meski bekerja sekeras itu, tampaknya Sukuna malah jadi makin ngirit. Gojo tahu Sukuna sudah hemat dari dulu, jadi seolah ia sudah punya daftar pemasukan dan pengeluaran yang harus ia patuhi, tapi akhir-akhir ini anggaran pengeluarannya makin dipersempit.

Beberapa kali Gojo mengajak keluar untuk minum, selalu Sukuna tolak. Sukuna hanya mau minum bir murah atau beli dari konbini. Diajak makan di luar juga jarang-jarang mau. Dan meskipun dalam projek, saat Sukuna pulang untuk menemui Gojo, biasanya ia hanya mau berada di rumah, tak mau diajak jalan. Gojo merayu dia yang akan bayar pun Sukuna tetap ogah, seperti takut akan ada pengeluaran tak terduga.

"Satoru. Pokoknya aku mau leech saja selama tinggal di rumahmu," ucap Sukuna suatu hari. "Aku nggak akan bayar listrik, air, wi-fi, atau gas. Ah, paling bayar petugas sampah aku masih mau deh," Sukuna mengacungkan jempolnya.

Gojo mengerutkan alis. Selama ini ia juga tak pernah meminta Sukuna bayar, tapi memang Sukuna selalu memberi uang untuk patungan bayar sih. Jadi ia tentunya tak keberatan kalau Sukuna tak ikut patungan.

"Ya nggak papa sih, yang pakai banyak listrik juga aku. Ya, intinya dulu saat tinggal sama Megumi kan ya aku nggak nyuruh Megumi patungan bayar juga. Makanya sekarang tinggal sama kamu ya kamu nggak usah bayar lah, yang nyuruh kamu pindah aku juga," ucap Gojo sambil berkacak pinggang.

"Oh, baguslah. Kalau gitu soal makanan aku juga minta kau kasih makan saja ya."

"Ya nggak masalah. Mau kukasih uang bulanan juga," goda Gojo.

"Minta," Sukuna menengadahkan tangannya.

Gojo tertawa lalu menghampiri Sukuna, memeluknya dari belakang kursi yang Sukuna duduki. "Emangnya kamu lagi butuh uang banget pa? Kok kayaknya akhir-akhir ini irit banget. Buat bayar kuliahnya Yuuji?"

"Hng...Ya, semacam itu," jawab Sukuna sekenanya, seolah tak niat menjawab.

"Eh, tapi kalau emang butuh aku bisa bantu loh. Butuh berapa?"

"Hmm...ya, nanti minta bantuanmu kalau butuh banget," hanya itu balasan Sukuna.

"..." Gojo menatap Sukuna yang tak menatapnya. Ia lalu mengecup pipi Sukuna. "Tapi jangan kecapekan ya. Kalau butuh bantuan bilang," Gojo melepas pelukan lalu mengacak rambut Sukuna. Ia melangkah pergi tapi Sukuna menarik tangannya.

"Cium," ucap Sukuna, mendongakkan kepalanya di atas sandaran kursi. Gojo tersenyum lalu menuruti kemauan Sukuna, mencium Sukuna dalam posisi terbalik. Setelahnya barulah Gojo pergi, membiarkan Sukuna bekerja kembali.

.

~OoooOoooO~

.

Awalnya Gojo mengira masih ok, tapi lama-lama ia jadi kepikiran juga. Sukuna makin keras bekerja, tapi entah uangnya lari ke mana. Ya...dia bukannya mau ikut campur urusan ekonomi orang lain sih...tapi kan kalau itu pacar sendiri, jadi kepikiran juga.

Malam itu Gojo iseng browsing alasan pasangan menyembunyikan beberapa hal dari yang lain, dan Gojo menemukan artikel mencengangkan. Salah satu point nya menyebutkan itu dalam ciri-ciri perselingkuhan. Biasanya uang akan habis untuk diberikan kepada isteri muda, dan isteri tua mulai ditinggalkan.

"Gaahh," Gojo jadi heboh sendiri. Tapi masa sih, Sukuna punya isteri? Gojo jadi membayangkan kalau di luar sana Sukuna punya isteri dan anak, tapi karena tak enak bicara pada Gojo, Sukuna jadi menyembunyikannya. Mungkin juga Sukuna mencintai Gojo, tapi ia menikah dengan wanita itu karena si wanita keburu hamil.

"Aaaaaaaaaa," Gojo guling-guling tak jelas di ranjangnya.

"Apaan sih, berisik! Sudah malam!" omel Sukuna yang kini berada di pintu kamarnya sambil mengeringkan rambut dan hanya memakai boxer.

"Sukunaaaa," Gojo segera duduk, menatap Sukuna. "Apa kau—..." tapi Gojo batal tanya. Ia sadar kalau yang barusan itu hanya hayalannya saja. Tiba-tiba menanyakan itu pastinya akan terasa aneh. "...apa kau masih kerja?" akhirnya ia mengganti pertanyaan.

Sukuna menyeringai, lalu menghampiri ranjang Gojo. "Kenapa? Lagi pengen?" goda Sukuna.

Gojo tak menjawab, tapi ia tak menolak saat Sukuna menciumnya, lalu mulai melucuti pakaiannya. Gojo berbaring, menatap Sukuna yang kini bergerak naik turun di atas tubuhnya, wajahnya tampak menikmati kegiatan mereka. Gojo terdiam. Masa sih Sukuna selingkuh, padahal mereka semesra ini. Apa jangan-jangan Sukuna bersikap mesra karena untuk menutupi perselingkuhannya?

'Gyaaahh jangan dooong,' teriak batin Gojo dan menggeleng keras.

Sukuna berhenti bergerak dengan alis bertaut. "Kok kau lembek sih!" omelnya merasakan penis Gojo melemas.

"E-eh, masa sih," Gojo sweatdrop takut-takut menatap wajah sangar Sukuna yang sudah siap ulti.

Dengan wajah kesal, Sukuna pun menarik penis Gojo dari lubangnya, lalu memajukan tubuh mendekat ke wajah Gojo. Ia menyeringai setan mengocok kejantanannya pelan di depan wajah Gojo.

"Kalau begitu puaskan aku dengan cara lain," seringai Sukuna, yang sebelum Gojo sempat menjawab, ia sudah memasukkan benda itu ke mulut Gojo.

"Mmpghn...mphh..." Gojo pun hanya bisa pasrah.

.

.

Gojo mencoba membuang jauh-jauh pikiran negative nya. Tidak ah, Sukuna tidak mungkin selingkuh. Ia meyakinkan diri sendiri. Meski ia sempat merinding saat mengingat pengakuan Sukuna mengenai berapa cewek yang pernah ditidurinya hanya dalam waktu singkat.

"Ugh…enggak enggak," Gojo menggeleng keras. Saat ini ia tengah berada di meja kerja nya di kampus. Ia bersandar malas ke kursi kerja, masih kepikiran soal Sukuna.

Saat ini pacarnya itu tengah mengerjakan proyek di daerah lain, baru saja pulang beberapa hari lalu dan sudah pergi lagi. Mungkin baru akan pulang Minggu depan.

Gojo merasa tempo kerja Sukuna juga saat ini lebih cepat. Biasanya ia mengerjakan satu proyek sekitar dua bulan, dari mulai nego dengan client, perancangan, sampai pembangunan dan finishing. Kalau proyek besar bisa lebih lama, sampai empat bulan. Tapi akhir-akhir ini Gojo merasa cepat sekali perpindahan Sukuna dari proyek satu ke yang lain. Intinya tak se slow dulu.

Gojo memainkan ponselnya, menyecroll isi kontak. Ia menemukan nama Uraume. Apa coba tanya pada orang itu ya?

"Ah, nggak ah. Terlalu ikut campur nggak sih," ucap Gojo, batal menghubungi Uraume. Ia masih mencoba menahan diri.

Tapi beberapa hari kemudian, saat Sukuna pulang, ia menghabiskan banyak waktu di rumah nya sendiri. Misal siang di rumah, baru sore atau malamnya ia kembali ke tempat Gojo. Begitu terus.

Gojo jadi makin kepikiran. Jangan-jangan di rumah Sukuna ada isteri dan anaknya. Mereka sudah pindahan menempati rumah Sukuna.

"Uhuhuhu..." Gojo nangis bombay sambil meringkuk di kamarnya. Saat ini Sukuna sudah pergi lagi ke tempat proyek pembangunan.

Ponsel Gojo berbunyi, ada chat dari Megumi. Dia minta uang untuk membayar uang semesteran. Ah, Gojo baru ingat kalau sudah memasuki semester baru. Sepertinya Megumi akan super sibuk mulai tahun itu. Akan banyak praktik dan kegiatan lapangan, pastinya memakan biaya besar. Gojo sudah menyiapkan untuk itu sih, jadi ia tak khawatir. Tapi ia jadi kepikiran soal Yuuji. Apa Sukuna sedang kesulitan bayar kuliah Yuuji ya? Tapi Sukuna tak enak untuk minta tolong pada Gojo.

Setelah menransfer uang untuk Megumi, Gojo ganti menghubungi Yuuji.

'Yuuji, kamu udah bayar uang semesteran? Kata Megumi dia sudah harus bayar minggu ini,' chat Gojo.

Tak berapa lama Yuuji membalas. 'Iya, sudah. Kemarin Nii-san sudah transfer. Ada apa Sensei?'

"..." Gojo terdiam. Berarti Sukuna masih mampu membiayai Yuuji kan. 'Memangnya, berapa biaya kuliahmu, Yuuji? Sama biaya hidupmu per bulan? Ah, kamu sudah pindah ke apartment kan ya, bukan di asrama lagi?'

Yuuji membalas sejumlah nominal yang Gojo tanyakan. 'Eh, ada apa nih? Apa jangan-jangan Nii-san kesulitan bayar kuliahku ya? Dia nggak bilang apa-apa padaku tapi bilangnya ke Sensei,' panik Yuuji.

'Nggak, bukan itu. Aku hanya sedang kepo saja,' Gojo cepat-cepat membalas. Kenapa dia malah bikin anak orang khawatir sih. 'Dia dapat banyak orderan malah. Kayaknya uangku kalah banyak sama dia. Haha,' tambah Gojo.

'Oooh, kupikir kenapa. Iya kata Nii-san juga lagi banyak kerjaan sih, berarti ya uang lancar. Jadi kaget aku tadi.'

'Hehe, maaf maaf, biasa lah. Aku hanya kepo saja,' balas Gojo.

Gojo menghela nafas lelah. Berarti uang Sukuna tidak lari ke Yuuji juga. Yuuji hanya menyebutkan biaya hidup dan kuliahnya saja, tak menambahkan yang lain-lain. Mengingat Yuuji, dia pasti bilang kalau ada fakta tambahan misalnya Sukuna tiba-tiba kirim banyak uang tak tahu kenapa. Tapi Yuuji tak bilang apapun, malah khawatir Sukuna kehabisan uang.

Gojo mengetuk-ngetukkan ponsel ke bibirnya. Karena tak bisa lagi menahan rasa penasaran, ia akhirnya menghubungi Uraume.

'Sukuna lagi banyak projek kah?' itu pertanyaan pertamanya setelah basa-basi di chat sebelumnya.

'Iya. Beliau sedang menerima beberapa projek akhir-akhir ini,' balas Uraume.

'Kalau boleh tahu, gaji dia berapa sih? Hanya kepo saja, tadi browsing soal arsitek untuk bahan buku, tapi tak enak kalau tanya Sukuna langsung,' bohong Gojo.

'Ma, kalau jumlah pastinya saya tidak tahu. Mahito yang urus keuangan kami. Kalau mau tanya dia saja,' dan Uraume mengirimkan kontak Mahito pada Gojo.

Gojo sweatdrop. "Yakali aku nggak kenal dia disuruh menghubungi buat tanya gaji orang," omel Gojo sambil mengetik pesan balasan.

'Nggak enak ah, ketemu aja belum pernah. Tanyain dong, tolong,' balas Gojo.

Cukup lama Uraume tak menjawab, hanya me read pesan Gojo. Gojo jadi gelisah menunggu balasan. Setelah cukup lama, akhirnya Uraume mengirim foto, screenshoot hasil percakapan dia dengan Mahito, yang isinya hanya tulisan rumus pembagian persen dari sekian jumlah bla bla bla.

"AARRGGHHH, YA AKU MANA TAHU KAN JUMLAH YANG KALIAN DAPAT BUAT DIHITUNG DARI PERSEN ITU!" omel Gojo frustasi. Tapi untunglah Uraume membalas lagi.

'Ya, kalau dari rumus yang diberikan Mahito, kurang lebih gaji Sukuna-sama segini,' Uraume mengirim screenshot hasil penghitungan kalkulator. 'Itu tergantung proyek. Yang kuhitung ini projek terbaru kami. Beda projek beda jumlah uang. Tapi ya bisa sebagai gambaran saja,' tambah Uraume. 'Ah, akhir-akhir ini Sukuna-sama juga ambil projek dari luar, yang individu bukan tim. Saya tidak tahu seberapa besar bayarannya.'

Gojo menghela nafas lelah lalu mengucapkan terimakasih. Ia menatap kembali jumlah yang dikirim Uraume. Jumlahnya besar. Itu baru satu projek. Belum projek yang lain. Kalau dikurangi pengeluaran biaya kuliah Yuuji, tentunya masih sisa banyak. Gojo dibuat makin kepo kemana larinya uang Sukuna. Uang sebanyak itu, tapi Sukuna malah makin hemat.

Dia sudah punya isteri baru dan anak-anak yang harus dinafkahi.

Gojo merinding saat pemikiran itu melintas di kepalanya. "Aaahh mana mungkin kan. Nggak mungkin nggak mungkiiinnn," Gojo menggeleng keras.

.

~OoooOoooO~

.

Sekitar seminggu kemudian, Gojo mendapat kabar kalau Sukuna berada di rumah sakit. Ia ditemukan pingsan di apartment nya oleh Uraume, dan langsung dibawa ke rumah sakit.

"Nggak usah datang, aku hanya kecapekan saja. Bukan hal yang serius," omel Sukuna di telefon.

"Bukan hal serius gimana. Kamu sampai pingsan loh!" balas Gojo.

"Tch, intinya aku sudah baik-baik saja. Jadi jangan datang!" dan Sukuna pun mematikan telefon.

Gojo menghela nafas lelah, tapi ia tetap datang. Ia mendapatkan info rumah sakitnya dari Uraume. Sukuna menatap kesal begitu Gojo datang, padahal tubuhnya terlihat lemah sekali. Ia terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang infus menggantung di sisi ranjang.

"Saya permisi dulu," pamit Uraume saat Gojo datang, sekalian kabur dari omelan Sukuna.

Gojo duduk di kursi samping ranjang, meletakkan parcel buah di meja. "Boleh makan buah sama dokter?" tanyanya.

Sukuna mengangguk. "Mau apel. Kupasin," ucapnya.

Gojo menurut. Ia mengupas apel dan menatanya di piring. Ia potong kecil-kecil supaya gampang dimakan. Ia lalu menyuapi Sukuna.

"Kamu kerja apaan sih ampe drop gini," omel Gojo sambil menyuapi.

"Bodo ah. Ngapain juga kau datang. Aku hanya kecapekan, besok juga sudah bisa keluar dari rumah sakit," balas Sukuna sambil mengunyah.

"Ya kamu kenapa sampai overwork gini. Sampai kecapekan gini. Mau beli apa sih kamu?" Gojo kembali menyuapi Sukuna. Sukuna tak menjawab. Gojo merengut karenanya. Ia tak lagi menyuapi Sukuna. "Kamu kalau butuh uang bilang deh. Aku kan bisa bantu," omel Gojo akhirnya.

"Iya, nanti juga minta bantuanmu kalau memang butuh," Sukuna malah mengambil sendiri apel di piring yang dipegang Gojo, memakannya beberapa potong sekaligus.

"Nanti kapan? Nunggu kamu drop dan nggak bisa gerak lagi? Baru minta tolong?"

"Ya enggak lah. Ini aku lengah saja. Lain kali nggak akan sampai drop."

"Tch! Bodo ah," kesal Gojo merasa pertanyaannya tak dijawab. Tapi ia kembali menyuapi Sukuna. Meski ia kesal, ia tetap sayang pada manusia menyebalkan di hadapannya itu.

.

~OoooOoooO~

.

Kegiatan overwork Sukuna terus berlanjut sejak hari itu. Ia hanya beberapa hari saja di rumah sakit, selanjutnya ia kembali bekerja. Hanya saja ia lebih memperhatikan kesehatan dan pola makan, jadi tak drop lagi. Gojo hanya bisa pasrah, ia sudah tanya tapi tak dijawab, mungkin tinggal menunggu waktu saja suatu saat Sukuna akan menjelaskan. Untuk saat ini yang bisa ia lakukan hanyalah men support Sukuna, setidaknya secara mental. Ia tak mau mereka bertengkar dan menambah beban mental Sukuna. Jadi ia berusaha menjaga hubungan mereka baik-baik saja.

.

Beberapa bulan kemudian pekerjaan Sukuna mulai slow, tak separah sebelumnya. Sukuna juga sering di rumah Gojo, meski tetap bolak-balik ke rumahnya. Lagi, pemikiran tentang ada keluarga Sukuna yang kini tinggal di sana kembali mengusik Gojo. Yaa...walaupun itu hanya pemikirannya saja sih. Tapi pada akhirnya, karena ia terlalu penasaran, lagi-lagi Uraume jadi sasaran ke kepo annya.

'Kau masih tinggal di rumah Sukuna?' tanya Gojo.

'Iya,' jawab Uraume singkat.

Kalau Uraume masih di sana, tidak mungkin dong ada keluarga lain yang tinggal di sana. Tapi...rumah Sukuna kan cukup besar. Bisa saja mereka menempati satu kamar satu kamar, seperti di kos atau kontrakan. Ugh...karena penasaran akhirnya Gojo tanya lagi.

'Tinggal di sana dengan siapa saja?'

'Dengan Mahito. Kami menempati 2 kamar di belakang. Yuuji dan Sukuna-sama juga sesekali pulang.'

"..." Gojo terdiam. Berarti tak ada orang lain. Apa yang Gojo khawatirkan. "Heehh..." ia menghela nafas panjang. "Sudahlah, nggak usah overthinking deh," keluhnya pada diri sendiri.

.

~OoooOoooO~

.

"Tadaima," ucap Sukuna. Malam itu ia baru kembali dari rumahnya.

"Okaeri," balas Gojo yang tengah memasak makan malam.

Sukuna menghampiri ke dapur, melongok masakan Gojo. "Asyik, daging," seringainya.

Gojo hanya tersenyum dan mengecup puncak kepala Sukuna. "Dasar karnivora," ucapnya.

"Aku ganti baju dulu," pamit Sukuna dan naik ke lantai dua. Saat Sukuna turun kembali, Gojo tengah menyajikan makanan di meja makan. Setelah itu mereka pun makan malam bersama.

"Sayang, kamu ngapain sih bolak-balik terus ke rumah," tanya Gojo di tengah makan malam mereka.

"..." Sukuna berhenti mengunyah. Alih-alih menjawab, Sukuna malah menjawab hal lain. "Ah, ya. Besok Sabtu ya, kau libur. Aku akan di sini selama kau libur, biar kita bisa berduaan," goda Sukuna.

Gojo manyun merasa pertanyaannya tak dijawab, tapi ia tak meneruskan topik itu. Ia tak mau mereka berujung dengan pertengkaran.

.

Malamnya Gojo berbaring sambil memikirkan hal apa yang mau ia lakukan. Apa dia minta datang ke rumah Sukuna ya? Hanya kepo saja. Tapi apa alasan dia minta datang? Ah, tiba-tiba ia teringat Yuuji. Ia pun meraih ponsel dan menghubungi Yuuji.

'Yuuji, akhir pekan kamu nggak pulang ke rumah?' tanya Gojo.

'Minggu kemarin baru pulang Sensei, jadi minggu ini nggak deh. Ah, tapi mungkin besok ke apartment Megumi. Hehe.'

Gojo menarik nafas panjang. Fuh, harus gimana ya, pikirnya. 'Umm...bisa mampir ke rumahmu dulu nggak. Aku ingin ke rumahmu tapi nggak ada alasan ke Sukuna buat ke sana nih,' akhirnya ia memilih jujur.

'Haha ada-ada saja. Padahal main tinggal main saja. Ya sudah, besok pagi aku ke rumah saja, buat alasan Sensei datang. Tapi siangnya aku ke tempat Megumi ya. Hehe.'

'Oh, boleh boleh. Makasih Yuuji,' balas Gojo. Ia pun tersenyum.

"Ngapain senyum-senyum," ucap Sukuna yang baru keluar dari kamar mandi.

"Huh, oh, umm, ini...Yuuji besok pagi mau pulang katanya. Aku jadi ingin ketemu, soalnya sudah lama kan nggak ketemu dia," jelas Gojo. "Aku ke rumahmu ya, pagi aja. Siang Yuuji mau ke tempat Megumi."

"Ooh, ya boleh saja. Apa mau habiskan sampai Minggu biar tak bolak balik? Kau bawa baju ganti," jawab Sukuna santai. Ia naik ke ranjang dan duduk di pangkuan Gojo.

Gojo terdiam. Kalau jawaban Sukuna sesantai itu dan bukannya panik, sudah jelas perkiraan Gojo mengenai isteri Sukuna salah besar. Tapi ya...Gojo tetap penasaran, sebenarnya kenapa Sukuna sering bolak-balik ke sana.

"Boleh?" Gojo memastikan.

Sukuna mengangguk. "Kebetulan Uraume dan Mahito ada di proyek pembangunan. Jadi kita hanya akan berdua di sana setelah Yuuji pergi," goda Sukuna. Gojo pun tersenyum menanggapi itu.

.

.

Keesokan paginya mereka pergi ke rumah Sukuna. Yuuji sudah sampai duluan di sana. Naik kereta pertama dia bilang. Mereka pun ngobrol seru sampai siang, dan menyempatkan makan siang bersama. Setelah itu barulah Yuuji pergi ke apartment Megumi, meninggalkan Gojo dan Sukuna berdua di rumah.

"Hee, jadi ini semua punya Uraume?" tanya Gojo, mengamati tanaman-tamanan dalam pot yang tersusun rapi di halaman samping. Ada cabai, terong, jeruk, tomat, pokoknya segala macam ditanam.

"Yeah, dia bilang dia suka kalau masak dari hasil tanaman yang ia tanam. Walaupun jumlahnya sedikit, buat kepuasan pribadi saja," balas Sukuna. "Paling metik juga sebiji dua biji, sisanya beli ke konbini juga ujung-ujungnya."

Gojo tertawa kecil mendengar itu. "Eh, terus ini yang nyiramin siapa kalau Uraume lagi pergi lama kayak sekarang?"

"Tuh," Sukuna menunjuk dengan mukanya ke arah slang yang tergantung cukup tinggi di tiang. "Dipasang timer sama dia, nggak tahu deh gimana ceritanya. Intinya itu bakal nyiram jam 8 pagi sama jam 3 sore."

"Hahahaha, kreatif kreatif," ucap Gojo kagum.

"Hei, barang-barangmu kutaruh di kamarku ya," Sukuna menenteng tas Gojo yang sedari tadi tergeletak di ruang tengah. Gojo terdiam, lalu melangkah mengejar langkah Sukuna. Ia melongok dan diam saat sudah berada di pintu kamar.

"Kenapa?" tanya Sukuna. Ia meletakkan tas Gojo di atas meja. "Ah, kalau dipikir-pikir, kau belum pernah ke kamarku ya?"

Gojo mengangguk.

Sukuna tertawa, lalu duduk di tepi ranjang, tangannya bergerak membuat gesture mendekat. "Sini sini," undangnya.

Gojo pun melangkah masuk, menatap sekeliling. Kamar itu penuh dengan aroma Sukuna, barang-barangnya memenuhi kamar. Well, dia pernah masuk ke kamar Sukuna yang ada di rumahnya sih, tapi ini pertama kalinya ia masuk ke kamar Sukuna di rumah Sukuna sendiri.

Sukuna bangkit, menarik Gojo dan menciumnya. "Excited?" goda Sukuna. Gojo mengangguk, lalu kembali mencium Sukuna. Sukuna tertawa kecil dan berbalik, melepas pelukan Gojo. "Ah, ya, dulu kau excited saat masuk ke kamar Yuuji sih. Aku ingat kau jerk-off di kamar a—..." ucapan Sukuna terhenti saat Gojo memeluknya dari belakang, menggigit tengkuknya. Bagian bawah tubuh Sukuna bergesek dengan sesuatu di selangkangan Gojo yang sudah mengeras.

Sukuna menoleh, meraih kepala Gojo dengan tangannya. "Masih siang bolong gini, sudah pengen?"

Gojo tak menjawab, hanya memeluk Sukuna lebih erat. Ia menghirup tengkuk Sukuna, menggigit pelan lehernya. "Kamar ini penuh aromamu. Barang-barangmu, semuanya..." ucap Gojo tertahan.

Sukuna menyeringai. Ia membalikkan tubuh dan mengusap wajah Gojo yang memerah dengan tatapan tak fokus. Wajah excited nya membuat Sukuna juga terangsang.

"Hei hei, apa wajahmu dulu juga begini saat masuk ke kamar Yuuji? Dulu kau ingin memeluk Yuuji, eh?" goda Sukuna.

"Bukannya kau sama saja. Kau ingin memeluk Megumi. Atau...dipeluk olehnya?" Gojo balas menyeringai. "Kenapa sekarang yang bisa kubayangkan justru kau menggeliat di bawah tubuhnya ya, bukan kau yang membuatnya pasrah di bawah tubumu."

"Sialan," gerutu Sukuna dan kembali mencium Gojo. Tangannya meraba pinggang Gojo dengan sensual, sementara tangan Gojo meremas bokong Sukuna, membuat kejantanan mereka saling bergesek. Tangan Sukuna menelusup masuk ke balik kaos Gojo, meraba punggungnya, lalu beralih ke depan, meraba perut dan dada nya, lalu menekan nipple nya kuat.

"Nn," Gojo mengerang tertahan, ia lalu membopong Sukuna dan menaikkannya ke ranjang. Gojo melepas kaos nya.

"Heh, ternyata kau bisa terangsang karena nipple mu juga ya," seringai Sukuna seraya melepas pakaiannya sendiri.

"Baka, itu kan salah satu titik ter sensitive laki-laki, siapa juga yang nggak terangsang apalagi disentuh sama pacar," Gojo menggesekkan selangkangannya ke bokong Sukuna meski masih sama-sama tertutup celana. Ia lalu menundukkan tubuhnya, mencium Sukuna. Tangannya menumpu ke samping kepala Sukuna dan baru menyadari benda empuk itu adalah bantal Sukuna.

Gojo melepas ciuman, beralih membenamkan wajahnya ke bantal itu. "Hmn, aroma tubuhmu. Kamar ini penuh hawa keberadaanmu," racau Gojo.

Melihat Gojo excited begitu membuat Sukuna terangsang juga. Ia memeluk Gojo, menjilat cuping telinganya, lalu lehernya. Sukuna sedikit mengangkat tubuh bawahnya, membuat selangkangan mereka saling bergesek.

'Oh, shit shit shit shit—...' batin Sukuna sambil mengeratkan gigi untuk menahan diri. Tapi ia gagal, ia klimaks bahkan sebelum mereka mulai. Apa dia se excited itu?

Nafas Sukuna terengah, wajahnya memerah saat perlahan Gojo menaikkan tubuhnya. Apa Gojo akan meledeknya? Tapi wajah Gojo juga dipenuhi kabut nafsu. Saat Sukuna melongok ke bawah, ia baru sadar bukan celananya saja yang basah, celana Gojo juga.

"Fuck!" ucap Sukuna tak tahan. Ia mendorong tubuh Gojo gantian di bawah, membuatnya tiduran di bantal Sukuna. Sementara Sukuna duduk di atas paha Gojo, menggesekkan selangkangan mereka yang sama-sama banjir.

"Hmnfh...anh," Gojo menoleh, menarik bagian bawah bantal supaya bisa menariknya ke wajah. Ia membenamkan wajah di sana, tapi matanya melirik tajam Sukuna.

Sukuna menggigit bibir bawahnya melihat itu, kembali menggesek selangkangan mereka. "Kuso...!" umpat Sukuna dengan nada tertahan. Bahkan mau melepas celana saja rasanya tak bisa, hanya ingin mencari kenikmatan bersama Gojo.

"Hn...nn, ahh, Sukuna, pengin masuk," Gojo menggeliat tak nyaman.

"Fuck! Nn, aku juga ingin. Ahh, tapi..."

Gojo bangun lalu mengubah posisi. Sukuna merangkak berpegangan ke kepala ranjang, Gojo menurunkan celana Sukuna sedikit, hanya sampai lubangnya terlihat sebagian, dan dengan tak sabar Gojo membuka resletting celananya, mengeluarkan penisnya dari sana lalu langsung menghujam masuk. "Ngh...ahh," desahnya tertahan. Tangannya meraba dada Sukuna, memilin nipple nya kuat sambil bergerak keluar masuk.

"Ungh...ahh," Sukuna mencengkeram kuat kepala ranjang. Penisnya yang bahkan masih di dalam celana, merasa semakin sesak. Tapi ada sensasi tersendiri karena hal itu. Ia ingin membuka celananya, tapi yang ada ia malah hanya meremas kejantanannya yang ada di balik celana. Tubuhnya bergoncang keras karena penetrasi Gojo.

"Nghh...haah, aaahhh," Sukuna klimaks kembali. Membuat celananya yang basah semakin basah. Gojo masih bergerak di dalam lubangnya, menggesek sweetspot nya.

Gojo menarik tubuh Sukuna dan kembali mengubah posisi. Ia merebahkan Sukuna, dan kembali memasukinya tanpa melepas celana Sukuna. Ia harus menaikkan satu kaki Sukuna supaya bisa penetrasi. Tapi karena hal itu setidaknya membuat penis Sukuna keluar dengan posisi naik karena terhalang celana.

"Hngh...ohhh...ahhh," Sukuna mendesah saat Gojo terus mengguncang keras di dalam tubuhnya. Tangan Gojo bergerak memilin nipple Sukuna, memberinya rangsangan lebih. Sukuna mendongak penuh merasakan itu.

"Hnn, nnh, ikku..." Gojo tak tahan juga. Ia menyodok keras dan klimaks di lubang Sukuna, sementara Sukuna kembali klimaks hingga sperma membanjiri dadanya. Nafas mereka terengah. Sukuna tergeletak lemas di ranjang.

Gojo melepas celana mereka yang sudah berantakan, membuangnya sembarangan ke lantai. Ia menatap penis Sukuna yang belepotan sperma nya sendiri. Gojo meneguk ludah berat. Ia menundukkan tubuh dan kembali mencium Sukuna, tubuh bawah mereka bergesek, dan mereka pun melanjutkan sex mereka.

.

~OoooOoooO~

.

Saat matahari mulai terbenam mereka baru menyudahi kegiatan ranjang mereka. Sebenarnya masih mau lanjut, tapi Gojo kan takut gelap. Jadi mereka terpaksa berhenti sebelum hari gelap untuk menyalakan lampu.

"Apa beli lampu yang pakai sensor saja ya, yang ditepuk sudah menyala," ucap Sukuna sambil berjalan ke arah saklar, menyalakan lampu.

"Nanti kalau kamu ngelindur lampunya nyala mati," tawa Gojo. Ia masih berbaring santai di ranjang.

"Hee, memangnya aku suka ngelindur ya?" tanya Sukuna. Naik ke ranjang dan berbaring di samping Gojo. Masih malas ke kamar mandi.

"Hehe, enggak sih," balas Gojo lalu mencium Sukuna. Sebuah ciuman lembut. Gojo melepas ciuman, menatap Sukuna dengan sayang. Jemarinya menyentuh pipi Sukuna, membelainya lembut. "Sayang, kamu masih nggak mau ngomong sama aku?" tanya Gojo.

"Ngomong apa?"

"Kenapa beberapa bulan terakhir kamu kerja ampe drop gitu. Terus jadi hemat banget pula. Kamu lagi nabung buat apa? Kalau butuh uang bilang dong siapa tahu aku bisa bantu."

"Ooh, itu," Sukuna meraih tangan Gojo, mengecupnya. "Aku hanya ingin sering berada di rumah bersamamu. Jadi aku harus melakukan sesuatu sebelum itu."

Gojo mengerutkan alis lalu tersenyum. "Jadi maksudnya nabung yang banyak biar habis itu kamu nggak kerja, bisa di rumah terus gitu?"

"Yeah, kurang lebih begitu. Sempat kepikiran untuk kerja hanya merancang saja dan membiarkan sisanya dikerjakan tim ku, tapi aku takut kalau sampai Yuuji kena imbasnya kalau gajiku menurun. Jadi aku harus cari cara lain."

Gojo menghela nafas lalu memeluk Sukuna. "Astaga, bilang kenapa sih. Gini aja deh. Kamu beneran kerja yang cuma merancang gitu, sisanya kasih tim mu. Kamu tinggal di rumahku aja, aku yang tanggung biaya hidupmu. Kamu kerja uangnya buat Yuuji, terus hidupmu aku yang tanggung. Aku kasih uang bulanan juga kalau perlu."

Sukuna tertawa kecil, menepuk-nepuk kepala Gojo. "Kaya banget kamu?" godanya.

Gojo hanya tertawa kecil. "Ya...lumayan lah. 11 12 sama J. K. Rowling. Pemenang award kelas dunia loh," ucap Gojo songong.

"Beneran?" goda Sukuna.

Gojo mengangguk. Ia melepas pelukan supaya bisa menatap wajah Sukuna. "Ya...bukannya mau pamer nih. Menang penghargaan kelas dunia itu menguntungkan banget. Novelku diterjemahkan berbagai bahasa, disebar ke seluruh dunia, selama novel itu laku aku dapat royalti terus. Selain novel kan aku juga nulis buku lain, ada yang udah masuk kurikulum pendidikan loh. Jadi selama buku itu dipakai buat pembelajaran, dan aku masih hidup, royalti nya masuk ke aku. Malah masuk ke ahli waris ku kalau aku sudah meninggal nanti."

"Gilaaa, warisan 7 turunan dan melampauinya dong," ucap Sukuna.

"Iya dong. Terus, aku juga investasi sama Shun loh. Dia kan public figure, punya banyak label ori kan, distro lah karaoke lah parfum lah, aku investasi sama dia. Jadi aku juga dapat pemasukan dari arah sana. Ah, dan terus, kemarin tuh, pas sempat viral tuh, majalan foto-foto ku yang dulu itu di re-publish gara-gara aku nggak mau ambil projek baru. Dan ya...meski nggak suka karena viral itu, tapi menikmati cuan juga dari royalti foto-foto nya."

"Hee, memangnya meski sudah putus kontrak dengan agency kau tetap diberi royalti?"

"Iya. Mereka professional sih. Coba saja kalau sampai terendus media, mereka publish fotoku tapi aku nggak dapat apa-apa. Yang kena juga mereka. Ya aku bukan mau menuntut juga padahal, cuma mungkin sudah jadi policy mereka juga kayaknya. Bukan cuma ke model aku saja kan, tapi ke semua model agency."

"Lah, berarti pekerjaanmu jadi dosen cuma pajangan dong. Nggak kerja pun kau udah kaya."

"Hehe, biarin lah biar ada kegiatan. Kalau nggak kerja, mau ngapain juga aku di rumah. Lagipula jadi dosen dibayar juga, uang lagi hahaha."

"Astaga. Mau jadi sekaya apa sih kau ini," Sukuna menjewer pipi Gojo.

"Hehheh, habisnya aku nggak mau Megumi hidup susah. Dulu dia sudah hidup susah bersamaku saat aku seenaknya membawa dia untuk hidup bersama. Kalau aku nggak bisa membuat hidupnya enak, aku jadi merasa bersalah," Gojo menaut jemari Sukuna, mengecupnya.

"Jadi...kalau harus menambah tanggungan hidup satu orang," ucap Gojo, menatap lurus mata Sukuna. "Aku masih bisa. Makanya jangan kerja ampe drop gitu. Sekali-kali bergantung padaku nggak papa kan."

"Yee...sekali-kali gimana. Kalau seumur hidup? Gila aja."

"Ya nggak papa. Seumur hidup aku bertanggungjawab padamu, kedengarannya tidak buruk," Gojo tersenyum. Meski dalam hati sedikit berdebar, kenapa...ucapannya tadi seperti lamaran?

Deg...deg...deg...

Jantungnya jadi berdebar tak karuan.

"Ya deh iya, aku bakal minta duit terus ke kamu," Sukuna bangkit. "Dah ah, mandi sana. Aku nyalain lampu-lampu dulu."

"Iya," Gojo pun bangkit menuju kamar mandi, sementara Sukuna keluar kamar. Ia menutup pintu kamar, lalu berdiri bersandar di balik pintu yang tertutup.

Deg...deg...deg...

Jantung Sukuna berdebar keras, tangannya menyentuh ke dada dan bisa merasakan debaran jantung itu. "Sialan," umpatnya lalu beranjak untuk menyalakan lampu-lampu.

.

.

Saat Gojo keluar kamar mandi, kamar sudah rapi, lampu di luar juga sudah menyala. Sukuna tengah duduk memainkan ponsel, tapi meletakkannya begitu Gojo datang.

"Kamu masak ya," cengir Sukuna lalu meraih handuk.

"Ada bahan makanan?"

"Ada, nih aku barusan pesan. Nanti 5 menit lagi datang paling," Sukuna memasuki kamar mandi. "Itu pegang HP ku, siapa tahu tukang sayur nya udah datang," teriaknya dari dalam.

"Astaga, pesen bahan makanan pun online. Semales apa sih dia. Padahal konbini juga deket," gerutu Gojo sambil meraih ponsel Sukuna. Rupanya pesanan Sukuna sudah otw ke sana. Gojo pun keluar rumah, tak berapa lama pesanan itu tiba. Gojo meraih bahan makanan itu, membawanya ke dalam.

"Daging semua astaga. Sayurnya cuma ini. Dasar karnivora," ucap Gojo sambil berjalan masuk. Saat melangkah menuju dapur, ia melewati ruang kerja Sukuna. Langkahnya terhenti menatap pintu tertutup itu. Ia melirik kamar Sukuna, masih terdengar suara pelan dari kamar mandi. Gojo meletakkan belanjaan di depan pintu, lalu dengan perlahan membuka ruang kerja Sukuna dan masuk ke sana. Ia penasaran apa yang Sukuna kerjakan selama bolak balik terus dari rumahnya ke sini.

Gojo menatap ruang kerja yang lumayan tertata itu. Ada mock-up yang biasa ada di sana, tapi ada lagi mock-up baru. Gojo menghampiri mock-up itu, ada kertas-kertas berisi rancangan mock-up tersebut di meja samping. Gojo meraih kertas-kertas itu. Ada yang coretan pensil, ada yang sudah hasil print dari komputer. Gojo beralih menghampiri mock-up, melihatnya dengan seksama.

"Condominium?" ucapnya.

"Ya," jawab Sukuna yang rupanya sudah ada di depan pintu.

"..." Gojo terdiam sesaat. "Projek...baru mu?" ucapnya tak yakin. Karena baginya, projek itu seperti bukan suruhan client. Seolah Sukuna membuatnya untuk diri sendiri. Ia yang sudah cukup lama bersama Sukuna, bisa merasakan perbedaan itu dari melihat bentuk rancangan dan step pengerjaan di kertas-kertas tadi.

"..." Sukuna tak menjawab, ia melangkah mendekati Gojo. "Kalau projek ini jalan, aku tidak perlu bekerja lagi. Aku tinggal terima uang, dan setelah balik modal, aku bisa menggunakannya untuk memulai projek baru lagi. Apartment lah, kondominimun lain, apapun itu. Kalaupun aku bekerja, aku hanya akan merancang dari rumah, tak perlu pergi-pergi lagi."

"...condominium ini...milikmu...?" Gojo hanya ingin konfirmasi.

Sukuna mengangguk. "Baru rancangan, tapi aku akan merealisasikannya segera. Setelah modalku cukup. Dan kurasa bulan depan aku sudah bisa mulai merealisasikannya," tangan Sukuna bergerak untuk meraih kertas-kertas di tangan Gojo, meletakkannya di samping mock-up. "Setelah projek ini jalan...aku bisa terus berada di rumah. Aku bisa menyambutmu saat kau pulang kerja, menyiapkan bathtub untukmu, mungkin belajar masak supaya kau tidak bosan dengan makanan yang itu-itu saja," Sukuna meraih tangan Gojo, menaut jemarinya, menggenggamnya erat.

"Saat itu tiba...menikahlah denganku," ucap Sukuna, menatap lurus ke sapphire Gojo yang perlahan membola mendengar lamarannya.

.

.

.

~TBC~

.

Support me on Trakteer : Noisseggra