Disclaimer : Gege Akutami

A Fanfiction by Noisseggra

Pair : Gojo X Sukuna

Genre : Romance, Drama

Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,

You have been warned !

Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V

.

.

Makasih banyak buat yang udah read and review :

#Guest : wohooo selamat meleyot~ Btw makasih banyak buat read reviewnya ya… ^o^

.

#Makasih banyak buat Yuki ChibiHitsu-chan, kokorocchi and emperor it's me yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/

.

.

HeartBreak Night

.

.

"...condominium ini...milikmu...?" Gojo hanya ingin konfirmasi.

Sukuna mengangguk. "Baru rancangan, tapi aku akan merealisasikannya segera. Setelah modalku cukup. Dan kurasa bulan depan aku sudah bisa mulai merealisasikannya," tangan Sukuna bergerak untuk meraih kertas-kertas di tangan Gojo, meletakkannya di samping mock-up. "Setelah projek ini jalan...aku bisa terus berada di rumah. Aku bisa menyambutmu saat kau pulang kerja, menyiapkan bathtub untukmu, mungkin belajar masak supaya kau tidak bosan dengan makanan yang itu-itu saja," Sukuna meraih tangan Gojo, menaut jemarinya, menggenggamnya erat.

"Saat itu tiba...menikahlah denganku," ucap Sukuna, menatap lurus ke sapphire Gojo yang perlahan membola mendengar lamarannya.

.

.

Tak ada kata terucap dari bibir Gojo. Nafasnya seolah tercekat di tenggorokan. Dadanya sesak, dan saphhire langitnya hanya bisa terbelalak menatap lurus iris crimson Sukuna.

'Menikahlah denganku,' kata itu terulang di kepala Gojo. Bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah permintaan yang dibarengi dengan tatapan penuh keyakinan dari Sukuna.

Gojo tertawa kecil meski matanya mulai berair. "Apa itu sebuah pertanyaan?" ucapnya, mendekatkan wajah ke wajah Sukuna, menyatukan dahi mereka.

"Baaka. Kau dosen kan. Harusnya tahu mana kalimat pertanyaan dan mana yang bukan," ucap Sukuna. "Lagipula meskipun itu sebuah pertanyaan, aku yakin kau tidak akan menolakku."

"Percaya diri sekali," balas Gojo, ia menyatukan bibir mereka, perlahan air mata meleleh di pipi Gojo. Ah, Sukuna pasti akan meledeknya nanti. Gojo meraih pipi Sukuna, membelainya, lalu mencium bibirnya lembut. Tapi saat ia merasakan cairan hangat mengalir di pipi Sukuna, ia tahu ia tak perlu khawatir lagi Sukuna akan meledeknya. Gojo tersenyum, lalu melepas ciuman dan ganti memeluk Sukuna supaya bisa menyembunyikan wajahnya di punggung Sukuna.

"Tapi kita harus memberitahu Megumi dan Yuuji dulu," ucap Gojo mencoba tertawa kecil, tapi gagal. Justru suaranya terdengar bendeng dan sedikit isakan terdengar di sana.

"Yeah," balas Sukuna serak. Sepertinya dia sama saja.

Gojo mengangkat tubuh Sukuna dan memutarnya sedikit, ia benar-benar bahagia saat ini. Jadi selama ini Sukuna berjuang demi dirinya. Bekerja sampai drop, demi mewujudkan keinginannya membangun condo itu, supaya ia bisa berada lebih banyak di rumah bersama Gojo.

"Aku mencintaimu," bisik Gojo seolah tanpa sadar mengucapkan itu. Mata Sukuna melebar tapi lalu memejam, membuat buliran bening kembali turun dari sana. Ia memeluk Gojo, menyandarkan wajahnya dipundak Gojo.

"Ya, aku juga," balas Sukuna.

Gojo menyeka air matanya lalu melepas pelukan, ia mengusap air mata di pipi Sukuna. "Haha, aku jadi tak sabar mau memberitahu Megumi dan Yuuji. Kira-kira bagaimana reaksi mereka ya."

"Ma, kaget sudah pasti. Tapi kuyakin mereka akan menerima. Megumi mengenalku baik, dan kau juga menganal baik Yuuji. Kita bukan orang asing lagi satu sama lain. Bukan menikah dengan orang random yang belum mereka kenal kepribadiannya."

Gojo tersenyum lalu mengecup dahi Sukuna. "Ya. Aku juga yakin mereka akan menerima keputusan kita."

.

~OoooOoooO~

.

"Jadi…begitulah," ucap Gojo dengan senyum mengembang. Ia merangkul pundak Sukuna yang muka nya lempeng meski di pipi nya ada semburat merah. "Kami…memutuskan untuk menikah."

Glegaarr…!

Aura pink bunga-bunga dan bling-bling yang terpancar dari mereka berdua, berbanding terbalik dengan aura horror dan gelap dari Megumi dan Yuuji di hadapan mereka. Yuuji yang kini menumpahkan bir dari mulutnya tanpa sadar, dan Megumi yang bahkan malah meminum bir ke pipi nya, membuatnya menyiram sofa tempat ia duduk.

Rasanya adegan pertama yang pernah terjadi saat Megumi dan Yuuji memutuskan memberitahu Gojo dan Sukuna bahwa mereka pacaran, kini terulang lagi. Hanya saja sekarang posisinya terbalik, dan bukan pengumuman pacaran yang mereka dengar, melainkan sebuah pengumuman pernikahan.

"H-huh, eh, huh?" Yuuji cengok sendiri. "Kupingku yang salah dengar atau aku memang dengar kalian mau menikah?"

"Ehehehe," Gojo hanya nyengir gaje sementara Sukuna menghabiskan minuman di gelas nya.

"Memangnya sejak kapan kalian pacaran, kenapa tiba-tiba bilang mau menikah," tambah Yuuji. Ia beralih menatap Megumi yang tampak tenang meski tadi sempat kaget juga. "Kok kau nggak ikutan kaget sih? Aku shock banget loh. Padahal kupikir selama ini mereka berantem terus."

"Ma, kurang lebih aku tahu mereka punya hubungan istimewa," ucap Megumi, meletakkan gelasnya di meja.

"EEHH? KAU TAHU?" Yuuji shock.

Megumi mengangguk. "Kalau melihat kelakuan mereka kurang lebih aku tahu. Tapi aku tak menyangka mereka mengatakan akan menikah. Ini di luar ekspektasiku. Mereka sama-sama playboy kelas kakap, kenapa juga tiba-tiba memutuskan menikah satu sama lain," aura hitam menguar dari tubuh Megumi yang langsung membuat merinding semuanya.

"Lalu...bagaimana keputusan kalian? Soal pernikahan kami," ucap Gojo penuh harap.

"Umm...entahlah, aku masih mencoba mencerna apa yang terjadi," Yuuji mengusap tengkuknya. Sementara Megumi, ia menatap tajam.

"Nggak," jawabnya tegas yang sukses membuat backsound petir membahana di antara mereka. Bahkan Yuuji juga kaget. Ia tak mengira Megumi akan menerima dengan cepat, tapi ia juga tak menyangka Megumi akan menolak dengan jelas dan tegas.

"Ke-kenapa?" ucap Gojo panik. Sukuna juga hanya bisa mematung mendapat penolakan itu.

"Sudah kubilang. Selama ini aku diam saja mengetahui kalian punya hubungan khusus karena kupikir kalian hanya main-main saja," ucap Megumi. "Kalian sama-sama playboy, suka main perempuan, gonta-ganti cewek di setiap tempat yang kalian datangi."

Jleb...!

Jleb...jleb...!

Anak panah langsung menancap di jantung Gojo dan Sukuna.

"Ahaha," sementara Yuuji hanya sweatdrop. "Terus, kau melarang mereka menikah karena takut mereka akan bercerai juga nantinya?" tanya Yuuji. "Ah, benar saja. Mungkin kalian hanya sedang penasaran dan salah menganggap perasaan kalian sebagai cinta. Ini hanya perasaan sesaat saja. Hm ya ya, pasti begitu," Yuuji mencoba sok bijak.

"Nggak lah, kami sudah pacaran sejak sebelum kalian lulus SMU. Mana mungkin ini hanya perasaan sesaat," omel Sukuna.

"WHUT," Yuuji jadi makin terkejut. "Kalian sudah pacaran selama itu?!"

"Iya, dan sejak kalian bilang kalian pacaran, kami juga sudah jadi fuck buddies," Sukuna malah melipat tangan di depan dada dengan songong nya meski itu harusnya bukan sesuatu yang bisa dibanggakan.

"Aak—..." Yuuji tak tahu lagi harus berkomentar apa. "Sejak...what...huh, fuck budd—...wait, jadi bahkan saat di cottage sudah...aaaargh, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi," Yuuji memegangi kepalanya sendiri.

"Megumi, apa kau juga menganggap kami cuma main-main? Kami serius kok," Gojo ikutan memelas.

"Bukan itu. Itu soal perasaan, aku tidak punya hak mengomentari perasaan kalian," ucap Megumi.

"Terus kenapa?" tanya Yuuji dan Gojo nyaris bersamaan.

"Kalau kalian menikah, aku dan Yuuji mana bisa menikah!" omel Megumi yang sontak membuat mereka semua membatu dengan mulut menganga. Kenapa juga mereka baru kepikiran sampai ke sana.

"Aku tahu kalian serius kalau sampai mengatakannya pada kami meminta persetujuan," ucap Megumi dengan tatapan serius, ia meraih pundak Yuuji dan merangkulnya mendekat. "Tapi aku dan Yuuji yang pacaran duluan. Di antara kita, hanya satu pasangan yang bisa menikah, dan aku tidak akan mengalah kalau ini soal pernikahanku dengan Yuuji."

"..." suasana jadi tegang untuk beberapa saat. Fakta mengejutkan itu kenapa juga baru mereka sadari. Untuk beberapa lama mereka hanya diam, larut dalam kekalutan masing-masing.

"Atau..." ucap Megumi selanjutnya. Membuat seluruh perhatian tertuju ke arahnya. "Kita bisa sama-sama menikah asal..." Megumi beralih menatap Gojo tepat di mata. "...Satoru-san, kau melepas hak asuhku dan tak lagi menjadi wali ku."

Perlahan mata Gojo membola mendengar itu.

"Aku bukan mengatakan ini karena benci padamu. Tapi bukankah itu untuk kebaikan bersama. Kau mencintai Sukuna-san, aku mencintai Yuuji. Kalau kau melepas hak asuhku, kita sama-sama bisa menikah. Ditambah...aku sudah dewasa. Aku sudah tidak butuh wali lagi. Hora, kau juga keluar dari clan setelah usia 18 tahun kan, karena di usia itu kau sudah tidak butuh wali lagi. Bukankah sekarang kasus nya sama?"

Gojo masih terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Megumi mencondongkan tubuhnya ke depan, meraih tangan Gojo dan menggenggamnya.

"Walau kau bukan wali ku lagi bukan berarti kita pisah atau apa kan. Hubungan kita bisa tetap seperti dulu. Kita bisa berkumpul dan makan malam bersama, pergi liburan bersama. Apapun itu. Hanya status resmi nya saja yang berubah, kau akan tetap menjadi Papa ku apapun yang terjadi."

"...umm..." mata Gojo berair, ia menarik tangannya dari genggaman Megumi. "Akan kupikirkan dulu," ucapnya dengan suara yang pecah. "Aku...belum bisa memberikan keputusan sekarang."

"...tidak masalah," ucap Megumi. Ia sekali lagi menarik tangan Gojo dan menggenggamnya, kali ini mengecup lama tangan itu. "Dengar, sekali lagi aku bilang, ini bukan karena aku membencimu atau apa. Dan bagi ku kau tetap Papa terbaik di dunia. Hubungan kita juga tak akan ada yang berubah, hanya status resmi nya saja. Selain hal itu, apapun yang terjadi aku tetap putera mu."

Gojo menelan ludah yang terasa sakit di tenggorokannya. Ia tak bisa menjawab apapun dan hanya bisa mengangguk. Saat ia berkedip, air mata turun dari salah satu sudut matanya.

.

Makan malam kali itu tak berujung baik. Kebahagiaan yang tadinya mereka rasakan kini berubah menjadi rumit. Gojo tertunduk di setir nya dalam mobil yang belum bergerak dari parkiran.

"Sukuna gomen, bisakah kau yang menyetir?" ucap Gojo parau.

"Ya," balas Sukuna singkat. Mereka pun bertukar posisi dan barulah mereka meninggalkan tempat itu menuju rumah Gojo. Saat tiba di rumah, Gojo juga masih tak buka suara.

"Sukuna, aku ingin sendiri dulu," ucap Gojo lesu.

"Ya, aku akan tidur di kamarku sendiri," balas Sukuna. "Oyasum—..." ucapan Sukuna terhenti saat Gojo memeluknya erat. Tak ada kata apapun, hanya memeluk dalan diam.

"Oyasumi," ucap Gojo setelah beberapa lama diam. Ia melepas pelukan dan berjalan menuju kamarnya.

.

~OoooOoooO~

.

Sementara di apartment nya, Megumi tengah duduk di kursi santai balkon, menatap pemandangan malam. Ia hanya memakai kaos oblong dan celana longgar, lagipula udara tak begitu dingin.

"Megumi?" panggil Yuuji. Ia mencari keberadaan Megumi dan menemukannya di balkon. Ia pun duduk di samping Megumi. "Aku serius masih tak menyangka mereka pacaran. Haha," obrol Yuuji.

"Yeah," jawab Megumi singkat.

"Dan aku juga heran padamu, kok bisa kahu sudah tau soal hubungan mereka? Bagaimana bisa?"

Megumi tersenyum tipis. "Saat valentine dulu sebelum kita lulus SMU, Tou-san tak memberitahuku soal award yang dia terima. Tapi kenapa malah Sukuna-san duluan yang ia kabari. Keesokan harinya saat Tou-san mengabari belum jadi pulang karena ada wawancara, kita juga tahu nya dari Sukuna-san, bukan Tou-san yang mengabariku."

"Uwaah, aku sama sekali tidak kepikiran sampai situ."

"Oh, terus saat kita seharian menyewa restaurant untuk perayaan Tou-san itu, saat kau mengusulkan mereka untuk tinggal bareng, mereka juga bersikap aneh kan. Jadi ya…kurang lebih aku merasa yakin dengan kecurigaanku sebelumnya."

"Uwaaahh, aku merasa jadi orang paling tidak peka sedunia," Yuuji memegangi kepalanya sendiri.

"Mengingat Sukuna-san, aku tidak heran lagi sih kau juga begini," gumam Megumi pelan.

"Huh? Apa?" Tanya Yuuji yang tak dengar Megumi menggumam apa.

"Bukan apa-apa," sanggah Megumi. Untuk kemudian keduanya diam, menatap pemandangan malam kota. Yuuji menatap tatapan Megumi yang kosong.

"Masih kepikiran soal tadi?" ucap Yuuji. Megumi hanya menghela nafas sebagai jawaban.

"Aku hanya merasa sangat egois," ucap Megumi.

"Kalau kau segitu kepikirannya, gimana kalau kalau kita yang menyerah soal pernikahan kita?"

Megumi melirik Yuuji.

"Hey, hey, bukan berarti aku tak mencintaimu," ucap Yuuji. "Maksudku, kurasa sudah cukup yang kita punya sekarang. Aku bahagia bersamamu, pacarku. Dan kurasa tak masalah kalau kita begini saja selamanya."

Megumi tersenyum kecil, lalu merangkul Yuuji, mendekapnya ke dada. Yuuji malah lalu rebahan di pangkuan Megumi dengan tangan memainkan tangan Megumi.

"Ano sa, aku juga menyayangi Nii-san ku," ucap Yuuji. "Aku mau dia bahagia. Dan kalau menikah dengan Sensei membuatnya bahagia, aku tidak keberatan memberikan kesempatan pernikahan ini pada mereka."

Megumi menghela nafas berat. "Yeah. Aku juga berpikiran begitu. Tapi kurasa...ada hal lain yang membuatku melakukan ini."

"..." Yuuji mengerutkan alis. "Hal apa?"

"...selama ini...Tou-san merawatku yang bukan siapa-siapanya seperti merawat anaknya sendiri. Dia yang berjuang untuk hidup kami berdua, sementara anak-anak sebayanya menikmati masa remaja mereka. Seperti kita saat SMU. Saat dia seusia kita ini, dia berjuang untuk membiayai kuliahnya dan sekolahku. Membayar sewa apartment, uang makan, semuanya dia yang tanggung. Aku hanya merasa...selama ini aku terus membebaninya. Aku seolah merantai nya dalam rantai tanggungjawab karena mengangkatku menjadi anak," Megumi meraih tangan Yuuji, menumpukan dahinya dengan tangan itu. "Dan sekarang, saat dia mau menikah, lagi-lagi aku merantainya untuk tak mendapatkan kebahagiaan itu. Aku ingin dia bebas," ucap Megumi.

Tanpa sadar sebulir air langit jatuh ke pipi Yuuji dari iris Megumi. "Kalau aku memintanya melepas hak asuh dia pasti tak akan mau, kurasa hanya dengan cara ini dia mau melepasnya. Aku takut selama ini dia terus terkekang karena rasa tanggungjawabnya terhadap orangtuaku. Bahkan sampai detik ini ia terus merasa bersalah atas kematian mereka. Aku ingin...dia bebas dari semua perasaan itu," Megumi terisak.

Yuuji bangun lalu meraih tubuh Megumi dalam pelukannya. Membiarkan kekasihnya itu meluapkan perasaan sampai ia tenang.

.

~OoooOoooO~

.

Keadaan cukup tenang setelah hari itu. Gojo mencoba bersikap biasa saja, tapi ia sama sekali tak menyinggung soal pembicaraan malam itu. Sukuna membiarkan saja Gojo seperti itu, ia hanya menanggapi sesuai apa yang Gojo lakukan.

Sukuna masih sibuk bolak-balik ke rumahnya untuk mengurus projek, saat malam hari atau saat Gojo libur, ia menyempatkan diri untuk tetap berada di rumah Gojo. Sekedar mengobrol atau melakukan sex. Tapi sama sekali tak membicarakan yang yang berhubungan dengan malam itu. Tidak dengan rencana pernikahan, bahkan tidak dengan projek yang tengah Sukuna bangun.

.

Hari itu Sukuna cukup lama berada di rumahnya. Ia menghubungi Gojo untuk makan malam duluan, karena mungkin ia baru akan datang lewat jam itu.

"Nanti aku makan di jalan saja, nggak usah siapkan untukku," ucap Sukuna di telefon, ia mendengarkan suara dari seberang. "Baiklah, nanti kukabari kalau aku mau otw pulang," ucapnya. Setelah itu ia pun mematikan sambungan.

Sukuna masih bekerja sampai jam 8. Setelah itu ia memakan burger yang dipesannya sore tadi, sekedar untuk ganjal perut. Nanti di rumah Gojo dia makan lagi saja, masak sendiri atau pesan makanan. Setelah memberesi pekerjaannya, Sukuna meraih kunci kuncil mobil dan berjalan ke garasi sambil menelfon Gojo, memberitahu bahwa ia mau ke sana.

"Mampir beliin jajan dong," ucap Gojo.

"Jajan apa? Kamu belum makan malam?" tanya Sukuna sambil menutup pintu mobil.

"Udah. Tapi pengin jajan."

Sukuna menghela nafas lelah. "Ya udah. Jajan apa?"

"Takoyaki, sama corndog. Sosis bakar juga, mayounaise nya yang banyak. Terus...apalagi ya."

"Hoi hoi, memangnya bakalan habis?" cegah Sukuna, mulai menyetir menjauh.

"Habis kok. Aku lagi pengen jajan pokoknya. Oh, telur gulung mau juga. Sama es ya. Es blender atau apa aja lah."

"Iya iya," Sukuna pun menyanggupi. Ia berkendara menuju ke bantaran sungai dekat rumah Gojo, banyak jajanan di sana, dan semua pesanan Gojo ada. Setelah membeli semua itu, ia pun berkendara ke rumah Gojo.

Ia menatap heran saat keadaan rumah gelap. Hanya beberapa lampu saja yang menyala. Padahal Gojo biasanya menyalakan semua lampu tanpa terkecuali, bahkan di ruangan yang tak dipakai sekalipun.

"Satoru?" Sukuna memanggil dengan sedikit panik.

"Sukuna? Sini sini, aku di beranda samping," terdengar jawaban Gojo. Sukuna menghela nafas lega. Ia pikir terjadi sesuatu yang buruk.

"Ada apa kok tumben nggak nyalain lampu?" tanya Sukuna sambil berjalan menuju beranda samping.

"Iya lagi pengin aja. Kamu jadi beli jajan?"

"Jadi kok. Nih. Habisin loh."

"Iya iya."

Sukuna semakin mendekat. Ia melihat siluet Gojo berdiri di depan teras beranda, berdiri memegang sesuatu. Dengan alis bertaut Sukuna mendekat.

"Satoru?" panggilnya.

Gojo menoleh, lalu menekan sesuatu di tangannya. Dalam sekejap mata saja kembang api air mancur menyala mengitari di seluruh halaman samping. "Tadaaa~" ucap Gojo riang.

Sukuna terbelalak. "Satoru-teme!" omelnya, berniat mundur tapi Gojo langsung menangkapnya.

"Hehehe, sini dong," Gojo membopong tubuh Sukuna ke tepian teras.

"Ogah! Nggak mau! Lepaaass," Sukuna terus berontak.

"Ish, sini ah. Jauh kok kembang api nya."

"Jauh apaan, di depan mata gini! Satoru ah! Jangan main-main!"

"Enggak nggak papa, sini deh," Gojo duduk di tepian teras, memaksa Sukuna duduk di pangkuannya. "Ini loh rumah gelap, aku juga mencoba berani buat gelap-gelapan. Masa kamu nggak mau mencoba berani sama kembang api."

Seketika Sukuna bungkam mendengar itu. Ia pun berhenti memberontak meski tubuhnya masih kaku. Ia belum berani betul menatap kembang api-kembang api yang masih menyala itu.

"Jadi seperti festival kan. Ada kembang api, terus ada jajanan juga," Gojo meraih jajanan di tangan Sukuna, memakan sebuah corndog, lalu menyodorkannya ke Sukuna. "Nih, makan."

Meski enggan, Sukuna menggigit corndog itu juga. Ia mengunyah dengan kaku, Gojo masih memeluknya erat supaya tak kabur.

"Padahal kau yang pertama mengajariku untuk tak takut gelap, dengan menunjukkan keberadaan seseorang bersamaku di tempat itu. Terus latihan pakai lampu redup. Nah, sekarang aku cuma ingin kau mengurangi ketakutanmu sama kembang api. Sama seperti yang kau lakukan padaku kan," ucap Gojo. Ia menyandarkan kepalanya ke pundak Sukuna. Mereka diam sampai semua nyala kembang api padam. Suasana berubah gelap meski tak gelap total, Gojo tak mematikan semua lampu. Jadi saat ini di halaman, ada satu lampu yang menyala dari pojokan taman sebagai sumber pencahayaan.

Tangan Gojo bergerak lagi meraih sesuatu di sampingnya. Ia meraih sebuah kembang api dan korek. Mata Sukuna terbelalak.

"Hoy! Ini kelewatan!" omel Sukuna, mencoba berontak tapi Gojo tetap memeluk tubuhnya.

"Ssshh, nggak papa. Coba dulu deh. Sini aku yang pegang kok, aku yang pegang. Oke?"

Sukuna tak menjawab. Gojo menyalakan kembang api di tangannya, menjauhkan kembang api itu dari Sukuna sejauh tangannya terulur. Satu tangan lagi masih memeluk Sukuna.

"Bagus kan?" ucap Gojo, menatap percik kembang api. Tangannya meraih tangan Sukuna, lalu perlahan menggerakkan tangan itu untuk memegang gagang kembang apinya. Meski Sukuna menolak, tapi tenaga Gojo lebih besar, akhirnya tangan Sukuna pun memegang kembang api itu. "Nah, nggak papa kan," ucap Gojo. Ia menyalakan satu kembang api lagi untuk ia pegang.

"Ugh...!" Sukuna menatap kembang api yang makin pendek di tangannya. Ia pun melepas kembang api itu hingga jatuh ke tanah, kakinya mengangkat tinggi meski percikan kembang apinya tak memercik jauh karena tergeletak.

"Haha, nih lagi. Yang masih panjang. Kalau udah pendek lempar aja yang jauh," ucap Gojo, memberikan kembang api yang masih panjang ke Sukuna. Ia juga menyalakan satu kembang api lagi. Mereka terus melakukannya sampai habis beberapa batang. Tubuh Sukuna juga mulai rileks. Ia bersandar nyaman di dada Gojo. Ia menatap percik kembang api di tangannya, ia bahkan sudah berani memegang kembang api itu sampai habis, meski tangannya terulur jauh ke depan. Mereka menyalakan kembang api lagi, membiarkan perciknya menghias iris mereka.

"Sukuna..." panggil Gojo kemudian.

"Hn," hanya itu jawaban Sukuna.

"Maafkan aku."

"...untuk apa?"

Tangan Gojo yang memeluk tubuh Sukuna mengerat. "...aku...tidak akan melepaskan hak asuh Megumi..." ucap Gojo. Perlahan kembang api di tangannya mati karena sudah habis tersulut. Gojo menggunakan kedua tangannya untuk memeluk Sukuna.

"Aku mencintaimu, Sukuna. Tapi kalau harus memilih antara kau atau Megumi, aku akan memilih Megumi. Selamanya akan tetap Megumi," ucap Gojo dengan tarikan nafas berat.

Sukuna tak langsung menjawab, ia menatap nyala kembang apinya yang mulai padam, ia membuangnya ke tanah. Ia menyandarkan seluruh berat tubuhnya ke Gojo. "Baka ga. Kalau aku disuruh memilih antara kau dan Yuuji, selamanya aku juga akan tetap memilih Yuuji. Tidak mungkin tidak. Jadi yah...aku tidak menyalahkanmu kau tetap memilih memegang hak asuh Megumi walau kita jadi tak bisa menikah."

"Sukuna..."

Sukuna melepas pelukan lalu memutar tubuhnya menghadap Gojo. Ia melingkarkan tangannya ke pundak Gojo, sementara Gojo kembali memeluk pinggangnya.

"Ma, jujur saja. Bohong kalau aku bilang aku tidak kecewa," ucap Sukuna. "Tapi dibanding marah karena kau lebih memilih Megumi, aku lebih ke arah marah dengan keadaan yang ada. Aku hanya mengutuk keadaan kenapa semua ini harus terjadi. Kenapa kau bukan terlahir saja sebagai kakak Megumi, hal semacam itu," Sukuna meraih wajah Gojo, membelai lembut wajah sendu itu. "Aku hargai keputusanmu. Karena kalau aku berada di posisi mu pun, aku akan memilih hal yang sama denganmu."

Gojo menarik nafas berat lalu menundukkan kepala di pundak Sukuna. "Gomenne, setelah semua yang kau lakukan demi kita...aku malah tak bisa menerima lamaranmu."

"Ma, ii ka. Anggap saja projek ini sebagai investasi masa depanku. Aku juga tidak akan selamanya muda dan kuat untuk commuted terus, kerja kesana kemari mengikuti proyek yang kujalani. Tidak sepertimu yang bisa pensiun, pekerjaan sepertiku kalau tidak kerja ya tidak makan. Tak ada dana pensiun atau semacam itu."

Gojo memeluk Sukuna erat, seolah permintaan maafnya yang sudah Sukuna terima masih belum cukup. Dadanya tetap sesak. Ia merasa bersalah pada Sukuna, tapi ia juga tahu ia tak akan mengubah keputusannya.

"Tapi meski kau menolak permintaan menikahku..." Sukuna melepas pelukan, meraih kedua tangan Gojo dan menciumnya. "...apa kau mau menerima ajakanku untuk menghabiskan sisa hidup bersama? Sampai kita tua. Sampai kita mati nanti."

Perlahan mata Gojo membola, iris langit itu mulai berkaca-kaca. Ia tertunduk di dada Sukuna dengan tangan tetap saling menggenggam. "Ya. Aku menerimamu Sukuna. Aku akan menghabiskan sisa waktuku bersamamu, sampai kita tua nanti, sampai akhir hidup kita nanti," ucap Gojo parau.

"...dasar cengeng."

Gojo tertawa kecil. "Bukannya kau sama saja," balasnya mendengar suara Sukuna yang sedikit bergetar.

"Aku ketularan kau, bangsat. Dasar sial."

Gojo tertawa lalu mencium bibir Sukuna, membiarkan air mata mengalir ke pipinya dan juga pipi Sukuna. Entahlah, atau air mata itu juga milik Sukuna.

.

.

.

~TBC~

.

Support me on Trakteer : Noisseggra