Disclaimer : Gege Akutami

A Fanfiction by Noisseggra

Pair : Gojo X Sukuna

Genre : Romance, Drama

Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,

You have been warned !

Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V

.

.

Makasih banyak buat yang udah read and review :

#Guest : Heheheh, Megumi gitu loh.

Iya, mereka sama-sama ingin keluarga nya bahagia~ Btw makasih banyak buat read reviewnya ya… ^o^

.

#Makasih banyak buat Yuki ChibiHitsu-chan, kokorocchi and emperor it's me yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/

.

.

HeartBreak Night

.

.

Megumi bangun kesiangan pagi itu. Mungkin karena semalam habis begadang mengerjakan tugas. Untungnya hari itu ia kuliah siang, jadi tak masalah. Hanya saja ia kini sudah rutin olahraga pagi, yang artinya ia kesiangan untuk jogging. Akhirnya ia memutuskan untuk workout di apartment saja. Melakukan menu latihan yang biasa ia lakukan setelah jogging.

Selama workout dia menatap ruang kosong di apartment. Bisa ditaruh treadmill tuh. Di rumah, Gojo juga punya treadmill untuk workout kalau dia sedang malas jogging, atau kalau cuaca sedang buruk. Tapi Megumi langsung sweatdrop. Ia mana punya uang untuk beli treadmill. Kalau minta dibelikan Gojo sih pasti dikasih, pasti. Tapi Megumi merasa tak enak.

Dia yang berniat membayar sewa apartment sendiri malah pada akhirnya sampai tahun ketiga nya kuliah, masih belum jadi bayar sendiri. Sewa apartment nya kelewat mahal untuk dibayar pakai uang hasil kerja sambilan—yang sebenarnya bukan sepenuhnya salah Megumi sih, karena Gojo yang memilihkan apartment untuknya. Kalau Megumi cari apartment sendiri pasti cari yang paling murah. Mau angker atau stigmatized property juga tak masalah asal bisa terbayar.

"Sudahlah, jangan macam-macam, Megumi," ucapnya pada diri sendiri dan melanjutkan sit up. Saat ia tengah workout itulah, bel apartment nya berbunyi. Megumi mengernyit heran, siapa yang datang? Megumi pun bangkit menuju pintu, melihat dari intercom siapa yang datang.

"Tou-san?" ucapnya saat mengenali siapa yang berdiri di depan pintu. Ia pun segera membukanya.

"Yahoo~" sapa Gojo.

"Tumben datang nggak bilang dulu. Nggak ngajar?" ucap Megumi seraya mempersilahkan masuk.

"Hehe nanti siang mengisi seminar. Sekarang jalan-jalan dulu. Mengganggu?" Gojo masuk ke apartment.

"Enggak kok, tugasku sudah selesai semalam. Sekarang bisa santai," Megumi mengikuti langkah Gojo.

"Kok kau keringetan begitu. Lagi workout? Jam segini?"

"Iya, aku bangun kesiangan. Nggak jogging, jadi workout di rumah saja," Megumi menenggak segelas air.

"Hee. Mau beli treadmill? Biar bisa lari kalau telat jogging."

Pffftr...!

Megumi langsung menyemburkan air yang diminumnya. Kenapa Gojo bisa langsung konek begitu. "Nggak usah. Aku workout yang lain saja kan nggak msasalah," ucap Megumi sambil mengelap mulutnya.

"Ehehe," tapi Gojo nyengir nista dan meraih ponselnya.

"Hentikan itu!" omel Megumi dan langsung menubruk Gojo, mencegahnya membuka ponsel itu untuk memesan online treadmill.

"Hish, nggak papa. Cuma treadmill kok," oceh Gojo.

"Nggak usaaah, kubilang nggak usaah," mereka bergulat di atas sofa rebutan ponsel. Akhirnya Megumi berhasil merebut ponsel itu, menjauhkannya dari Gojo. Mereka sama-sama menghela nafas lelah. Megumi masih rebahan di atas tubuh Gojo, handphone sudah ia singkirkan ke meja. Ia yakin Gojo tak bisa menjangkaunya sekarang.

Puk...puk...

Gojo tertawa kecil menepuk pelan kepala Megumi.

"Astaga, kau sudah besar ya. Padahal dulu sekecil ini," Gojo memperagakan ukuran dengan tangannya.

"Mana adaa, aku nggak pernah sekecil itu," omel Megumi. Ia berniat bangun, tapi Gojo malah memeluknya, membiarkan posisi mereka tetap begitu. Ia mengelus pelan kepala Megumi. Hanya begitu, tanpa mengatakan apapun.

"Tou-san, selangkanganmu mengganjal," protes Megumi.

"Bwahaha, padahal posisi tidur loh," tawa Gojo.

"Sialan."

"Pfftt..." Gojo memain-mainkan rambut Megumi. "Ne Megumi," panggilnya.

"Hm?"

"...aku nggak akan melepaskan hak asuh atas dirimu."

"..." Megumi tak langsung menjawab, tatapannya menyipit. "Meskipun sudah kuberikan semua alasan itu?"

Gojo mengangguk.

"Tapi apa gunanya, Tou-san. Aku sudah bisa tanpa wali. Bukankah tidak apa-apa dilepas. Dengan begitu kau bisa menikah dengan Sukuna-san, aku bisa menikah dengan Yuuji," Megumi mengangkat tubuhnya, menumpu dengan kedua tangan yang berada di sofa samping tubuh Gojo.

"Heh, nanti kalau kau menikah siapa yang mau jadi wali mu, bodoh," Gojo menyentil dahi Megumi.

"Kan bisa perwakilan kerabat. Kau masuk di situ saja."

"..." Gojo hanya tersenyum, matanya menyipit. Ia memainkan rambut Megumi. "Ano sa, Megumi. Hubungan kita sebagai ayah dan anak...hanya terhubung oleh selembar kertas. Kalau aku melepaskan kertas itu, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya terhubung denganmu. Bagaimana caranya aku meng klaim bahwa aku ayahmu."

Mata Megumi memanas. Ia menundukkan kepala nya kembali di dada Gojo, menumpukan seluruh berat badannya di sana.

"...aku hanya...tak suka kau terkekang olehku, Tou-san," ucap Megumi setelah terdiam cukup lama.

"Baka, terkekang apanya."

"Bukankah sampai saat ini kau merawatku karena kau merasa bertanggungjawab atas kematian orang tua ku? Aku tidak mau kau terus merasa begitu," Megumi mengangkat wajahnya.

Gojo terbelalak, tapi lalu tersenyum. Ia meraih wajah Megumi dan memainkannya dengan tangan. "Ma, sebagian diriku ada yang begitu, aku merasa aku harus bertanggungjawab atas dirimu demi Toji-san. Tapi Megumi, setelah sekian lama bersamamu, mana mungkin aku bisa merawatmu dan berjuang dari awal sendirian demi kau kalau hanya karena sebuah perasaan tanggungjawab. Aku menyayangimu Megumi. Karena perasaan itulah aku bisa bertahan sejauh ini," Gojo mengusap rambut Megumi, menariknya ke belakang.

"Kau tahu arti namamu? Megumi berarti blessing. Kurasa itu nama yang sangat tepat Toji-san berikan untukmu. Karena bagiku kau adalah blessing dalam kehidupanku," Gojo menarik pipi Megumi ke kanan dan ke kiri. Megumi tampak masih menatap tak percaya.

"Hora, kau kau bilang kau ingat kalau dulu aku masuk trauma center. Menurutmu kenapa aku bisa keluar dari sana dengan segera," Gojo menatap lurus mata Megumi. "Tentu saja karena kau. Karena aku mengingatmu, aku berusaha sembuh dari trauma. Aku terus berpikir tak ingin meninggalkanmu sendirian setelah semua yang telah kau lewati. Kalau tak ada kau mungkin detik ini aku bahkan masih di trauma center itu, atau sudah meninggal di sana karena mental ku tak kuat. Tapi karena ada kau aku bisa keluar dari sana, aku punya semangat lagi untuk hidup. Karena kau juga aku berani keluar dari clan. Sebenarnya aku sudah lama ingin keluar dari sana, tapi dalam hati aku masih ragu apa aku bisa survive sendirian. Dan aku malah mengajakmu untuk menderita bersamaku. Kau yang menemaniku di titik terendahku, bergantung padaku seolah aku seseorang yang bisa diandalkan. Kalau tidak ada kau...aku tidak yakin bisa melanjutkan hidup."

Gojo duduk, membawa tubuh Megumi. Ia mengacak rambut putera nya itu. "Kau sudah pernah hidup susah bersamaku, aku yang memaksamu menemaniku melewati kehidupan susah itu. Kadang aku juga merasa bersalah kenapa aku tidak berada di clan saja dan menghidupimu dengan kemewahan di sana, kau pasti hidup enak. Tapi aku malah menyeretmu hidup di apartment sempit, makan cup ramen setiap hari. Makanya sekarang setelah aku punya uang, aku tak mau lagi kau hidup susah. Kalau hanya treadmill aku bisa lah membelikanmu."

Megumi membuang muka dengan pipi sedikit memerah. "Ucapanmu itu memalukan. Kau hampir seperti menyatakan cinta," Megumi menyingkirkan tangan Gojo dari rambutnya.

Gojo tertawa. "Iya, padahal dulu Megumi yang mengajakku menikah loh. Kau ingat? Waktu kubilang kita akan pindah ke rumah yang sekarang dari apartment sempit itu."

"Nggak ingat tuh," balas Megumi dengan mata jelalatan meragukan.

"Halah, pasti ingat kalau yang itu. Kau sudah hampir lulus SD soalnya. Kyaah, apa jangan-jangan waktu itu kau sudah mimpi bas—...mmph," Megumi membungkam mulut Gojo dengan tangannya.

"Diamlah, pokoknya aku nggak ingat!" omel Megumi dengan wajah bersemu.

"Ara ara, tapi lihatlah anak Papa sekarang. Sudah besar, sudah punya pacar. Mana sudah merencanakan pernikahan pula," Gojo masih meledeknya.

"Diaaam, pokoknya diaamm!"

Gojo pun menghabiskan beberapa waktu di apartment Megumi. Setelah itu ia pamit karena seperti yang ia bilang tadi, ia harus mengisi seminar nanti.

"Nggak perlu kuantar, Tou-san?" Tanya Megumi saat Gojo memakai jaz nya.

"Enggak. Aku bawa mobil seka—…eh, aku lupa bilang kah? Besok Sabtu aku sama Sukuna niatnya mau barbeque an. Jadi mau mengundang kau dan Yuuji datang juga. Astaga, kenapa juga malah dari tadi aku belum bilang," Gojo sweatdrop sendiri.

"Hee, barbeque ya."

"Iya. Bisa luangkan waktu buat pulang?"

Megumi mengangguk. "Sudah bilang ke Yuuji juga?"

"Harusnya sih Sukuna yang bilang. Tapi jaga-jaga dia lupa, kau bilang juga nggak papa."

Setelah itu Megumi pun mengantar Gojo ke parkiran.

.

Keesokan harinya, Megumi cengok karena ada tukang antar barang yang menyambangi apartment nya, mengantarkan treadmill.

"Tou-san!" omel Megumi di telefon.

"Thehe," hanya itu respon Gojo.

.

~OoooOoooO~

.

Sukuna tengah berjalan di antara rak-rak supermarket sambil mendorong troli berisi barang belanjaannya. Ia menuju rak daging, dan melihat-lihat apa yang mau ia beli untuk acara barbeque nanti. Ia melihat satu produk, meraihnya, lalu membandingkannya dengan yang lain.

Saat tengah memilih itu, ia ter distract saat mendengar percakapan sepasang suami istri yang tengah berbelanja tak begitu jauh darinya. Mereka tampak sudah berumur. Sang istri meminta pendapat untuk membeli daging, dan sang suami hanya menyahut sekenanya. Sang istri sedikit merajuk, tapi lalu tertawa kecil. Mereka tampak bahagia. Di usia senja, seolah menikmati kebersamaan mereka.

"...na, Sukuna..."

Lamunan Sukuna buyar saat seseorang memanggil.

"Udah dapat dagingnya belum? Nih aku udah ambil sosis sama ikan," ucap Gojo sembari meletakkan belanjaan di troli.

"Umm...yeah," Sukuna mengerjap dan menggeleng singkat untuk membawa lamunannya kembali ke dunia nyata. "Aku masih bingung pilih yang mana," Sukuna kembali meraih daging dari rak.

"Ambil yang banyak saja. Kamu sama Yuuji suka banget daging kan," ujar Gojo.

"...yeah," Sukuna pun mengambil beberapa pack daging. Di sisi lain Sukuna melihat pasangan suami isteri tadi meninggalkan rak daging membawa beberapa pack daging, mereka tampak tersenyum sambil mengobrol kecil menuju kasir. Tanpa sadar gerakan Sukuna kembali terhenti.

"...na? Sukuna, kamu kenapa si?" Gojo kembali menanyai Sukuna yang bertingkah aneh.

Sukuna hanya menggeleng, meletakkan belanjaannya ke troli. Ia berniat melangkah pergi, tapi Gojo menahannya. Gojo membelai rambut Sukuna yang jatuh ke depan, lalu merapikannya ke belakang.

"Kenapa si?" ulang Gojo lembut.

"..." Sukuna tak menjawab. Ia hanya mencengkeram lengan Gojo kuat, lalu menundukkan kepala di sana.

"..." Gojo terdiam, tapi lalu meraih belakang kepala Sukuna dengan tangannya, membelainya pelan, kemudian mengecup puncak kepala Sukuna. "Udah semua bahannya kan, ayo pulang," ajaknya.

Sukuna pun mengangguk lalu menegakkan kepala. Mereka pun berjalan menuju kasir, mengantri di belakang pasangan paruh baya yang tadi Sukuna lihat di bagian daging. Mata Sukuna kembali sayu menatap keharmonisan keduanya. Mereka sempat bercanda kecil sambil menunggu antrian mereka maju.

"..." Gojo yang melihat itu kurang lebih mengerti mengapa Sukuna jadi pendiam begitu. Ia pun hanya bisa meraih tangan Sukuna dan menggenggamnya erat.

Sukuna langsung salah tingkah dibuatnya. Ia segera melepas genggaman tangan Gojo, dan sempat celingukan grogi sebelum melihat ke troli.

"Huh, kok kamu beli ikan sih? Barbeque pake ikan?" ucap Sukuna.

"Ya nggak papa kan. Dimakan sendiri ini. Bukannya kamu sama Yuuji suka ikan. Nggak papa lah sekalian dibakar nanti," balas Gojo.

Sukuna pun hanya menghela nafas dan meng iya kan saja.

Mereka pulang setelah membayar belanjaan mereka. Rumah masih sepi karena acara barbeque nya sore nanti, jadi Yuuji dan Megumi belum datang. Gojo dan Sukuna membawa belanjaan mereka ke dapur, meletakkan kantong-kantong belanjaan di meja dapur. Gojo mulai memilah isinya, memasukkannya ke dalam kulkas. Saat itulah tiba-tiba Sukuna memeluknya dari belakang.

Gojo menghentikan gerakannya sesaat, lalu kembali memasukkan barang belanjaan di tangannya ke kulkas sebelum menutup pintu lemari pendingin itu. Ia meraih tangan Sukuna yang memeluknya, menepuknya pelan. Gojo memutar tubuhnya ke arah Sukuna lalu mengecup dahinya lembut. Tapi Sukuna malah meraih leher Gojo, menariknya turun dan mengajak berciuman bibir.

Bibir Gojo menaut bibir hangat Sukuna, tak butuh waktu lama hingga lidah mereka saling bertaut, menginvasi rongga basah masing-masing, mencoba mendominasi. Tangan Sukuna bergerak melepas kemeja Gojo, menyisakan kaos nya saja, lalu tangannya beralih melepas sabuk celana Gojo.

Gojo melepas ciuman, tersenyum dengan perlakuan Sukuna. "Tumben. Masih pagi ini loh," godanya, tapi ia juga melepas kemeja Sukuna, lalu menurunkan celananya. Sukuna tak menjawab, ia hanya memijit pelan selangkangan Gojo dari luar celana, memberikan rangsangan pada benda itu. Ia bergerak mundur menuju meja dapur sehingga Gojo mengikuti tubuhnya.

"Fuck!" umpat Sukuna. Ia melepas keseluruhan celananya lalu naik ke atas meja, mengangkat satu kakinya supaya lubangnya terlihat. Gojo kembali mencium Sukuna, ia biarkan Sukuna menurunkan sletting celana lalu mengeluarkan kejantanan Gojo yang sudah tegak. Ia lalu menuntun kejantanannya ke arah lubang Sukuna dan mendorong masuk.

"Hmnh..." Sukuna nyaris mengigit bibir Gojo, jadi ia melepas ciuman. Ia menundukkan kepala di dada Gojo, menatap di mana tubuh mereka terhubung di bawah sana, melihat penis Gojo yang keluar masuk lubang kenikmatannya yang merekah.

Rriing...

Ponsel Gojo berdering pelan. Gojo menghela nafas lelah dan menghentikan gerakan, meski tak mengeluarkan penisnya dari lubang Sukuna. Ia mengangkat telefon itu.

"Hai Yuuji," ucapnya setelah menekan tombol answer. Ia kembali bergerak meski pelan. "Iya, nanti sore kok. Nggak usah bantu persiapannya nggak papa," Gojo kembali mendengarkan ucapan dari ujung telefon. "...nn..." ia melenguh pelan saat lubang Sukuna mencengkeram penisnya kuat, seolah minta lebih. Tak suka dengan tempo lambat itu. Tangan Sukuna bahkan merayap ke balik kaos Gojo, mengusap dadanya, memilin nipple nya.

"Iya. Sampai jumpa nanti sore, Yuuji," Gojo mematikan telefon dengan tergesa. Ia segera meletakkan benda itu dan bergerak kuat memenuhi keinginan Sukuna.

"Nn...ahh," Sukuna memejam merasakan sentakan keras itu. Ia menaikkan kedua kakinya, tangannya bertumpu ke meja dan mencengkeram kuat kemeja nya yang gergeletak di belakang tubuh. "Ahh...shit...!" ia makin tak bisa menjaga keseimbangan saat gerakan Gojo kian kuat. Ia pun berganti memeluk leher Gojo supaya lebih stabil. Ia menghirup aroma pria itu, menggigit lehernya, mengecup leher itu.

"Hnn...nnh..." Sukuna mencengkeram erat punggung Gojo saat hasratnya mencapai puncak. Ia juga merasakan cairan panas memenuhi lubangnya, sepertinya Gojo juga klimaks.

Nafas Sukuna terengah, ia masih memeluk Gojo. Tatapannya menerawang ke udara kosong sembari merasakan tubuh Gojo yang juga tengah menormalkan nafas di dalam pelukannya. Sukuna melirik belakang kepala pria yang ia peluk itu, lalu mengalihkan satu tangannya memeluk kepala Gojo.

Ia kembali teringat pasangan paruh baya tadi di supermarket. Tatapan Sukuna sayu. Ia...tak memiliki masa depan itu dengan Gojo. Mereka tak akan menikah, mereka tak memiliki 'langkah selanjutnya' dalam hubungan ini. Mereka hanya berjanji akan menghabiskan sisa hidup bersama, tapi hanya itu, tak ada ikatan lain yang mengikat mereka. Tak ada bukti kongkrit untuk mengukuhkan janji mereka itu. Kedua alis Sukuna bertaut saat memikirkan itu, dan tanpa sadar tangannya mencengkeram punggung Gojo lebih erat lagi.

"Sssshh.. " Gojo mendesis perih.

"Ah...gomen," Sukuna seolah baru sadar kuku nya menghujam punggung Gojo. Ia melepas pelukan. Gojo menatapnya dalam diam.

"Kamu kenapa sih?" tanya Gojo lembut, membelai pipi Sukuna. "Kamu kepikiran sama pasangan tadi di supermarket?"

Mata Sukuna sedikit terbelalak Gojo menyadari itu. Gojo tertawa kecil lalu mengecup pelipis Sukuna.

"Kita juga bisa kok kayak gitu. Kamu khawatir kita nggak bisa bertahan sampai tua?" Gojo menarik penis nya dari lubang Sukuna. Meninggalkan lelehan putih dari lubang kemerahan itu. "Bukankah kita sudah janji untuk menghabiskan sisa hidup kita bersama. Apa yang kau takutkan?"

"...yeah," balas Sukuna. Ia menundukkan kepala ke dada Gojo.

"Sudahlah. Ayo bersih-bersih. Dapurnya belum diberesin nih," Gojo membopong Sukuna supaya berdiri.

"Ugh..." Sukuna menatap pahanya yang mengalir cairan putih.

"Ehehe," Gojo nyengir nista.

"Dasar," Sukuna menjewer pipi Gojo dengan gemas.

.

~OoooOoooO~

.

"Nii-san, Senseeei," panggil Yuuji sembari menuju halaman belakang di mana mereka mengadakan barbeque.

"Hai Yuuji, Megumi. Kalian sudah datang," balas Gojo yang tengah menyiapkan peralatan barbeque bersama Sukuna.

"Woaah dagingnya banyak banget," Yuuji tampak antusias menatap daging yang tersedia untuk mereka bakar nanti.

"Makan sayurnya juga loh," ceramah Megumi.

"Iya iya," balas Yuuji sekenanya. "Waaah, ada ikan juga. Bakar ikan yey."

"Hehe kau suka, Yuuji?" tanya Gojo.

"Tentu saja. Aah, Sensei memang yang terbaik," Yuuji memeluk lengan Gojo.

"Pastinya," Gojo mengacak rambut Yuuji.

Detik berikutnya mereka cengok saat menyadari tatapan datar dari Sukuna dan Megumi. Yuuji pun segera melepas pelukannya sambil bersiul ringan.

"Ah, Sukuna. Lupa belum ambil kecap. Tolong dong," ucap Gojo, mengalihkan suasana yang cukup awkward tadi.

Tanpa jawaban Sukuna melangkah ke dapur mengambil apa yang Gojo suruh. Ia mengambil kecap serta beberapa benda lain yang diperlukan. Saat ia kembali, Megumi dan Yuuji tengah membantu Gojo menyelesaikan persiapan barbeque mereka. Sukuna menghentikan langkah, menatap keceriaan mereka.

Mungkin benar apa kata Gojo, ia tak perlu menghawatirkan hal lain lagi. Meski tak ada kata 'langkah selanjutnya' dalam hubungannya dengan Gojo, ia yakin mereka mampu menjalani hubungan mereka sampai tua nanti. Meski nantinya Yuuji dan Megumi akan menikah, ia yakin bisa tetap mempertahankan hubungannya dengan Gojo layaknya pasangan yang sudah menikah, meski mereka menjalaninya tanpa ikatan lebih.

Ya. Ia pasti bisa. Ia dan Gojo pasti bisa. Sukuna meyakinkan dirinya sendiri.

Sukuna pun kembali melangkah menuju halaman belakang, bergabung dengan yang lain untuk memulai pesta barbeque mereka.

Asap panggangan beserta aroma daging sudah tercium hanya dalam beberapa waktu saja. Yuuji dengan tak sabar menanti daging panggangnya matang, beserta ikan yang juga langsung ia bakar. Setelah merasa panggangan mereka matang, mereka pun mulai mencicipi masakan mereka.

"Enaaakk," Yuuji menikmati dagingnya.

"Hey, memangnya tidak panas?" Megumi meraih tissue untuk mengelap bibir Yuuji yang belepotan kecap.

"Panas, tapi sudah tak sabar," ucap Yuuji sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan mulutnya yang terbuka karena kepanasan.

"Dasar," Megumi hanya bisa sweatdrop.

Sementara Sukuna masih memanggang daging miliknya, karena ia tak suka daging yang belum terlalu matang, jadi ia mau dagingnya benar-benar mencapai kematangan sempurna.

"Sukuna, cobain deh. Enak loh," Gojo menyumpit sepotong daging, berniat menyuapkannya ke Sukuna.

"Nggak mau, maunya yang matang banget," Sukuna menggeleng.

"Ini mateng. Kan udah kupanggang duluan tadi," balas Gojo. "Nih, aaa..." ia kembali menyuapi Sukuna. Akhirnya Sukuna mau juga, ia melahap daging itu, mengunyahnya. "Enak kan? Aku celupin ke kecap pedas tadi. Kan kamu suka pedes," Gojo ingin memastikan.

Sukuna mengangguk. "Iya enak. Ta—..." ucapan Sukuna terhenti saat ada lelehan kecap di sudut bibirnya, lalu Gojo mengusap lelehan itu dengan ibu jari, kemudian menjilatnya.

Deg...deg...

Sukuna jadi grogi dibuatnya.

"Hehe," cengir Gojo menggoda lalu mengacak lembut kepala Sukuna.

Kemesraan mereka terhenti saat mereka menyadari ada Yuuji dan Megumi di sana. Mereka menoleh dan sweatdrop mendapati Yuuji dan Megumi mematung di tempat menatap ke arah mereka.

Plop...

Bahkan daging di sumpit Yuuji kembali jatuh ke piring kecil di tangannya yang satu lagi.

"Mereka pacaran! Mereka beneran pacaran loh!" heboh Yuuji seketika menoleh pada Megumi. Megumi hanya bisa memejamkan mata sweatdrop.

Gojo dan Sukuna jadi salah tingkah sendiri. Mereka baru sadar kalau baru kali ini menunjukkan kemesraan mereka di depan Yuuji dan Megumi. Dulu mereka sering bertengkar di hadapan kedua bocah itu, dan sekalipun bermesraan bakal di belakang mereka, bukan terang-terangan begini.

"Urusai, gaki!" omel Sukuna dengan kedutan besar di pelipis, meski pipi nya sedikit bersemu.

"Ahahaha," sementara Gojo memilih untuk membalik daging yang tengah Sukuna panggang.

"Tapi seriusan nggak nyangka loh, mereka bisa begini. Aaargh, aku masih tidak percaya matakuuu," Yuuji masih heboh pada Megumi.

"Sudah kubilang diam! Kau makan saja! Sumpal mulutmu itu dengan makanan!" omel Sukuna.

Barbeque mereka sore itu pun berjalan dengan santai, seolah menunjukkan kebahagian keluarga kecil mereka, yang mereka harap akan berlangsung selamanya.

.

.

.

~Season 1 : End~

.

Support me on Trakteer : Noisseggra