A/N : Hai hai semua, HeartBreak Night kembali nih di season 2. Ada yang kangen nggak ya? XD kalau ada, ya makasih banyak udah mau nungguin sampai season 2 ini mulai :3
Makasih banyak juga buat yang pada re-read, yang pada komen, yang pada vote, makasih juga buat para pembaca baru. Selamat datang di ship ini, semoga suka sama fanficnya ^^
Oh, ngomong-ngomong, selamat tahun baru ya. Semoga tahun ini jadi tahun yang baik buat kita semua~
.
Special thanks buat yang udah dukung author di Trakteer, semoga kalian menikmati HeartBreak Night mini chapter nya ya…semoga bisa mengobati rasa kangen kalian selama menunggu season 2 ehehe. Special mention teruntuk :
- Om ganteng : makasih banyak dukungannya di trakteer, makasih juga ucapan semangat nya, semoga suka sama mini chapter nya ya ^o^ btw baca fanfic ini juga gak ya :"v karena kupikir yang baca fanfic ku fujo semua, gak ada yang fudan. Semoga aja pesan ini tersampaikan ke dirimu :'3
- Katsudon42 : makasih banyak udah dukung di Trakteer, makasih juga karena udah komen di mini chapter nya :"V kebanyakan yang Trakteer tuh gak ada yang komen di bagian karya nya, author jadi takut jangan-jangan mereka gak tau cara buka halaman karya, padahal udah dibela-belain nrakteer. Hueee tapi syukurlah sepertinya pada gak nyasar X"D
- istri gojo : UwU yang nrakteer pas ultah nya suami kita (baca : akang Gojo), semoga dia tambah ganteng seksi nan sakti #tabok, duh gak sabar ya nungguin si akang unboxing T-T Btw makasih banyak udah nrakteer dan ngasih semangat, seneng banget katanya fanfic author bisa ngilangin capek. Semoga terhibur ya~ semoga bisa jadi pelepas penat dari kesibukan sehari-hari. Semangat untukmu juga :3
- Khusus buat 'Your Guest' yang buset nrakteer tiap minggu gegara katanya kangen fanfic nya gak update lagi tiap minggu….X"D I loph you full. Astagaa, makasih banyak trakteerannya, banyak bangeeettt. Author jadi merasa bersalah karena nggak ada karya baru selain mini chapter sama FanArts itu buat yang nrakteer. Semoga rejekimu diganti dengan rejeki yang berlimpah ruah ya, karena udah banyak banget nrakteer author T-T dan yesh, HeartBreak Night udah balik lagi minggu ini. Selamat menikmati…dan semoga suka sama kelanjutan ceritanya~
.
.
Disclaimer : Gege Akutami
A Fanfiction by Noisseggra
Pair : Gojo X Sukuna
Genre : Romance, Drama
Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,
You have been warned !
Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V
.
.
Makasih banyak buat yang udah review, ini balasan review chapter 38 + pengumuman kujadiin satu yak, krn di chapter sebelumnya belum kubales. Ehehehe…
# Guest : - Iyaaa, selain Una, Satowu juga sedih o karena belom bisa nikah :") hiks…
Pas dulu ya…belom tau megumi top XD lagian una juga top. Kalo mereka jadian gumi jadi bottom dong wkwkkwk
# Guest : hiya hiya malam jumat kelabu wkwk tenang, ini udah lanjut sekarang, moga gak kelabu lagi XD
ehehe makasih, semoga gak bosen ma book ini ya..dan makasih udah mampir ke mini chapter buat liat una jadi cemong wkwkwk
makasih banyak semangat dan segala dukungannya :3 semoga harimu menyenangkan~
.
Makasih juga buat yg udah log in kokorocchi, Yuki ChibiHitsu-chan, Frigg Nevia07 dan emperor it's me, dibales lewat PM ya…
.
.
HeartBreak Night
(season 2)
.
.
Sukuna sudah memulai projek condominium nya. Dan karena jarak site pembangunan tidak terlalu jauh dari tempat Gojo, Sukuna lebih memilih bolak-balik daripada harus menyewa apartment.
Hari itu Gojo berniat pulang lebih awal karena sudah tidak ada urusan di kampus. Tapi ia tidak tahu Sukuna ada di rumah atau tidak, jadi ia menelfon terlebih dahulu.
"Aku masih di site," jawab Sukuna di telefon.
"Yah..." keluh Gojo.
"Ya kalau mau ke sini saja. Nanti sekalian makan malam di luar. Sambil nunggu jam makan malam kau bisa menemaniku di sini atau kita jalan-jalan dulu keliling kota."
"Ah, boleh boleh. Alamatnya di mana?"
"Nanti ku share loc."
"Oke, deh. Sampai nanti," Gojo mematikan telefon. Ia pun memberesi meja kerjanya. Tak lama kemudian Sukuna mengirimkan lokasi pembangunan di mana ia berada. Gojo pun berkemas dan keluar dari kantor.
Saat menuju mobil, di sisi lain tempat parkir Gojo melihat Utahime memasuki mobil yang pintunya tengah dibukakan oleh seorang pria pirang berkacamata bulat. Gojo tersenyum melihat itu lalu masuk ke mobilnya sendiri.
Gojo berkendara menuju lokasi yang Sukuna kirim. Saat tiba di sana, ia melihat area pembangunannya yang lumayan luas.
"Woaah," ucapnya sambil berkendara melewati site itu. Ada billboard besar di sana yang berisi gambar condominium yang sedang dibangun, kira-kira akan seperti itu jadinya nanti.
Gojo menelfon Sukuna lagi untuk membicarakan lagi titik temu mereka. Gojo pun berkendara ke tempat yang Sukuna sebutkan. Ia parkir, lalu jalan keluar mobil menuju tempat di mana Sukuna berada. Pria itu ada di dekat pembangunan gedung condo.
"Hey," sapa Gojo.
"Yo," balas Sukuna.
"Woah, udah berapa persen?" tanya Gojo seraya menatap gedung di hadapannya.
"Total? Paling baru 20% lah, baru mulai kok. Apalagi nanti kan bangun taman nya juga, ngisi gedungnya juga."
"Hee," Gojo tersenyum menatap Sukuna. "Nanti kalau ini selesai, kau bakal di rumah terus ya. Aku jadi tak sabar," cengirnya.
Sukuna menarik bibir sebelah. "Ya, tunggu saja," balasnya lalu membalikkan tubuh, melangkah menjauh. Gojo mengikuti.
"Heh, percaya diri sekali. Memangnya sudah pasti laku?" goda Gojo.
"Laku lah."
"Kan bangunan baru."
"Ya kamu sendiri, kalau nyari tempat tinggal baru, lebih suka bangunan lama apa bangunan baru?"
"..." Gojo terdiam. "Hehe, bangunan baru dong."
"Ya udah. Sama aja. Orang juga biasanya lebih suka sama bangunan baru, yang belum dijamah orang lain."
"Ya, tapi kan biasanya banyak juga yang nyari bangunan nggak baru, biar harga nya lebih murah."
"Ya tapi kan target pasarku bukan mereka. Target pasarku emang orang-orang kelebihan duit yang nyari tempat tinggal buat gaya."
Gojo tertawa keras mendengar itu. Mereka jalan ke area pembangunan taman. Sama saja, masih berantakan. Belum terlihat nantinya bakal jadi seperti apa.
"Ya lagian, sebelum ini dibangun, kan udah masuk ranah promosi juga," Sukuna meraih booklet lalu menyerahkannya pada Gojo. "Ini baru proses pembangunan 20% gini udah ada yang booking loh. 2 unit udah terjual, udah bayar uang muka," tambah Sukuna. "Jadi aku sih positive thinking aja sisanya bakal terjual juga."
Gojo mengamati booklet di tangannya, membuka-buka dan mengamati isinya. "Woah," ucapnya kagum. Booklet nya berisi gambar digital bangunan condo nantinya seperti apa, lalu fasilitas yang disediakan, juga lingkungan serta letak strategis tempat itu. "Ini langsung ditaruh di sini? Nggak nanti kalau udah jadi? Sekalian real photo gitu?"
"Ya itu juga ada nanti setelah bangunannya jadi. Karena yang ini masi perencanaan, jadi ya memang booklet nya isi begini doang," Sukuna mengetuk pelan booklet itu.
Gojo lanjut mengamati, hingga ia menemukan nama Ryomen Sukuna di sana. "Widiih, majang nama juga nih," goda Gojo.
Sukuna menyeringai. "Kau punya nama di dunia literatur, aku, bisa dibilang, yah...aku juga punya nama di bidang ini. Bisa buat boost penjualan ku," ucapnya bangga.
Gojo tersenyum dan mengacak rambut Sukuna. "Sasuga, Sukuna-sama," godanya.
"Geez," Sukuna menyingkirkan tangan Gojo dengan pipi sedikit merona.
"Eh, tapi bukannya daerah sini lebih dekat dengan apartment Megumi ya dari pada ke rumahku," Gojo menatap sekeliling.
"Ya terus? Kamu maunya aku pulang ke apartment Megumi aja daripada ke rumahmu? Boleh gitu?"
Gojo nyengir kuda. "Nggak boleh," ucapnya.
Sukuna hanya tertawa. "Dasar bodoh," ucapnya. Sukuna berbicara dulu dengan beberapa kepala proyek, setelah itu ia mengajak Gojo kembali ke mobil. Gojo menuju mobilnya sendiri karena tahu Sukuna juga bawa mobil, tapi ia sedikit terkejut saat mengetahui Sukuna malah mengikuti langkahnya.
"Apa? Nggak boleh?" tanya Sukuna dengan pipi sedikit bersemu.
Gojo tersenyum lebar mendengar itu. "Boleh banget," ucapnya. Lalu daripada menuju kursi kemudi, Gojo lebih memilih masuk ke kursi tengah, dan Sukuna mengikutinya. Sukuna yang masuk mobil belakangan, menutup pintu mobil Gojo dengan sedikit keras, lalu segera naik ke pangkuan Gojo yang sudah duduk manis menunggunya di kursi penumpang.
Gojo tersenyum menyambut ciuman Sukuna, tangannya memeluk pinggang Sukuna sementara bibirnya menikmati sentuhan lembut dan basah bibir Sukuna. Mereka melepas ciuman setelah beberapa saat, saling tatap di jarak yang sangat dekat. Sukuna lalu memeluk Gojo erat seraya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gojo, mengusap-usapkan wajahnya di sana seperti anak kucing.
Gojo tersenyum, ia balas memeluk Sukuna dengan gemas. "Hiiiishh," ucapnya tak tahan saking gemasnya. Semenjak ia memanggil Sukuna dengan panggilan itu di malam pesta barbeque, Sukuna jadi manja sekali padanya, dan Gojo suka itu. Sukuna juga jadi lebih sering memanggilnya sayang dibanding sebelumnya, di mana Sukuna masih sering gengsi dan malu-malu. Sekarang ia lebih bisa mengekspresikan dirinya. Gojo benar-benar bersyukur malam itu ia mengucapkan kata yang tepat.
"Sayang?" panggil Sukuna lirih karena Gojo diam saja.
Gojo tersenyum, kan. Sekarang Sukuna jadi lebih sering memanggilnya itu. Gojo melepas pelukan supaya bisa membelai pipi Sukuna. Tatapan Sukuna sedikit sayu dan pipinya bersemu, ditambah sentuhan cahaya matahari sore yang menerobos masuk ke jendela mobil. Cantik sekali.
Mulut Gojo terbuka, ia kembali memanggil Sukuna dengan panggilan itu. Membuat mata Sukuna sedikit melebar dengan kedua alis bertaut. Dada Gojo serasa diremas, ia menikmati setiap detail perubahan ekspresi Sukuna tiap kali panggilan itu ia sebut. Dengan lembut, Gojo kembali menyatukan bibir mereka, menikmati perasaan yang mereka rasa terlalu dalam untuk mereka ucap dengan kata-kata.
.
~OoooOoooO~
.
Yuuji dan Megumi makin sibuk memasuki akhir tahun ke tiga mereka. Lebih banyak praktik dan kegiatan di luar, sehingga waktu bertemu mereka juga semakin sedikit.
Megumi baru mengakhiri jadwal jaga nya hari itu, ia berada di sebuah klinik hewan, membantu praktik di sana sebagai pendamping dokter yang sudah senior. Itu juga salah satu tugas dari kampus. Sudah sekitar sebulan ia di sana, dan masih akan di sana 2 bulan lagi.
Saat ini Megumi duduk di ruang loker melepas lelah. Ia memainkan handphone menatap kontak Yuuji di sana. Kebetulan hari Sabtu-Minggu ini dia kosong, tapi entah dengan Yuuji. Mungkin dia sedang volunteer di luar, kegiatan Yuuji yang sudah dilakukan memasuki akhir tahun ke tiga nya. Tapi daripada penasaran, akhirnya Megumi pun mengirim chat.
'Sabtu Minggu free nggak? Mau ketemuan?' chat Megumi. Tidak langsung dijawab tentunya. Megumi pun lanjut untuk ganti baju dan meninggalkan klinik itu.
.
Saat Megumi makan malam, barulah ada chat balasan dari Yuuji.
'Bisa. Tapi aku capek banget. Kau yang ke sini ya?'
Megumi tersenyum tipis. Iya pun menyetujui itu.
.
Sesuai rencana, hari Sabtu pagi Megumi bersiap pergi ke tempat Yuuji. Ia bangun lebih awal untuk workout, mandi, dan sarapan. Setelah itu barulah ia mengambil motornya di garasi lalu pergi menuju apartment Yuuji. Ya, sejak memasuki tahun ke 3, Yuuji betulan jadi menyewa apartment sendiri, tak lagi menetap di asrama. Dan benar saja, Sukuna sama sekali tak keberatan Yuuji menyewa apartment. Tapi ia tak ikut memilihkan apartment untuk Yuuji karena waktu itu ia sedang ada kerjaan. Jadi Yuuji memilih apartment sendiri, dan tentunya ia cari yang murah.
Setelah perjalanan yang cukup bikin pantat pegal, Megumi akhirnya tiba di apartment Yuuji. Sebuah bangunan 3 lantai yang dalamnya berkelok-kelok. Kamar Yuuji ada di lantai 3 bangunan di belakang. Megumi menuju ke sana. Tapi saat tiba di depan pintu, kamar Yuuji sepi.
"Yuuji," Megumi mencoba mengetuk, tak ada jawaban. Megumi pun menelfon Yuuji. Megumi mengernyit saat mendengar lirih nada dering ponsel dari dalam, yang artinya Yuuji ada di apartment. Cukup lama baru Yuuji mengangkat telefon dengan suara yang serak seperti baru bangun tidur.
"Moshi moshi," ucapnya.
"Baru bangun?" tanya Megumi.
Yuuji menguap. "Iya. Ada apa?"
"Aku sudah di depan."
"Eh?" Yuuji tampak kaget. "Pagi banget," terdengar langkah buru-buru menuju pintu, dan bunyi kunci apartment terbuka. Pintu kamar Yuuji pun terbuka.
"Iya, aku bangun lebih pagi," balas Megumi yang jadi terdengar dua arah dari Megumi langsung dan dari ponsel di telinga Yuuji.
"Hehe," Yuuji mematikan telefon lalu mempersilahkan Megumi masuk. "Aku cuci muka dulu," ucap Yuuji seraya berjalan ke kamar mandi, sementara Megumi duduk di ruang tengah.
Megumi menatap sekeliling. Apartment Yuuji adalah jenis apartment yang Megumi inginkan dulu saat pertama pindahan. Sebuah apartment dengan satu kamar tidur, satu dapur, kamar mandi, dan ada ruang tengah untuk makan dan menonton TV. Ukurannya tak terlalu luas, meski begitu tak sempit juga. Pokoknya seperti sangat pas untuk kebutuhan satu orang. Bukan seperti apartment yang ia tempati sekarang, yang mungkin luas ruang tengahnya saja sudah mencakup luas seluruh apartment Yuuji.
Berkutat dengan pikirannya sendiri, Megumi tak sadar Yuuji sudah keluar dari kamar mandi, ia mendekat lalu memeluk Megumi dari belakang. Megumi tersenyum lalu mengecup tangan Yuuji.
Yuuji beralih duduk di samping pacarnya itu lalu memilih merebahkan kepala di pangkuan Megumi. "Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini," tanya Yuuji.
"Seperti biasa. Aku masih kerja di klinik itu. Kau sendiri?"
"Hng...masih volunteer juga. Ah, tapi mulai minggu depan bakal lebih ringan. Kami akan datang ke sekolah-sekolah TK."
"Sekolah TK?"
"Iya. Semacam...apa ya, seperti memberikan gambaran untuk cita-cita anak kecil begitu loh. Nggak hanya dari tim DamKar juga, ada dari dokter, polisi, profesi semacam itu. Selama dua bulan akan bergantian di sebuah sekolah, jadi kami rolling di beberapa TK selama dua bulan itu."
"Hee, begitu rupanya," Megumi mencubit hidung Yuuji gemas.
"Hngh..." hidung Yuuji memerah karenanya, matanya sedikit berair. Ia bangkit dan ganti mencium bibir Megumi. Sengaja ia ciuman menggunakan lidah, perlahan ia mendorong tubuh Megumi sampai berbaring.
"Hey, ini masih pagi loh," Megumi sweatdrop, ia menyamankan kepala di bantal duduk.
"Tapi sudah lama nggak ketemu. Sibuk sendiri-sendiri," ucap Yuuji dengan wajah memerah.
Megumi menghela nafas. "Baiklah," ucapnya. Ia kembali mengajak Yuuji berciuman, tangannya meraba pinggang Yuuji lalu menurunkan celananya. Ia meremas bokong Yuuji dengan sensual tanpa melepas ciuman. Perlahan ia merasakan penis Yuuji mengeras, menggesek perut Megumi. "Ke kamar yuk," ajak Megumi.
"Malas ah, nanti saja," Yuuji menegakkan tubuhnya lalu melepas sabuk Megumi, membuangnya sembarangan ke lantai. Ia menurunkan celana Megumi, mengusap penisnya yang juga sudah tegak. "Fuwah, haah, haah," nafas Yuuji memburu menyentuh benda itu. Ia memainkan ujungnya, di mana cairan pre-cum keluar dari sana.
Tangan Megumi bergerak menelusup ke balik kaos Yuuji, memilin nipple nya.
"Nn," Yuuji mengerang nikmat, ia meremas penis Megumi sedikit kuat. Ia mempercepat gerakan tangannya di benda itu.
"Hey, jangan bersemangat begitu. Aku bisa cum kalau begini," goda Megumi.
Yuuji tampaknya tak mendengarkan, tatapannya penuh kabut nafsu. Ia malah menurunkan kepalanya dan mulai menjilat penis Megumi dengan rakus.
"Nnh, Yuuji, kau tidak dengar," omel Megumi. Ia berusaha menahan kepala Yuuji tapi percuma, akhirnya ia menikmati perlakuan Yuuji saja. "Fuuh...nn," ia merasa hasratnya kian mendekat, Yuuji benar-benar memainkan penisnya dengan lihai. "Yuuji, aku ham...pir...nnh," Megumi meremas belakang kepala Yuuji, akhirnya ia pun klimaks.
Yuuji melepas penis Megumi dari mulutnya, cairan putih belepotan di bibir Yuuji. Ia menegakkan tubuh sambil menyeka bibirnya. Megumi menatap bagian bawah tubuh Yuuji yang rupanya juga mengalirkan cairan putih. Yuuji menatap penisnya sendiri, mengocoknya pelan.
"Keluar sedikit," ucapnya sambil menyentuh sperma yang membasahi ujung penis.
Megumi jadi tak tahan melihat kelakuan Yuuji dan ucapan nakalnya. Megumi meraih penis Yuuji, mengocoknya cepat.
"Hngh, aaahh, ahh, Megumi...nn, nanti...ahh, klimaks nanti saja," cegah Yuuji. "Masukkan...ahh, masukkan du...ahhh..."
Tapi Megumi tak mendengarkan. Sudah lama ia tak mendengar desahan Yuuji, dan kini ia bisa mendengarnya lagi. Megumi pun dengan bersemangat melanjutkan gerakan tangannya.
"Ugh...Megumi, ahh, nn, ahhh, ke...keluar...aaaahhhhh," Yuuji mendesah keras saat akhirnya klimaks. Cairan sperma muncrat dari ujung penisnya, membasahi kaos bagian dada Megumi. "Hosh...hosh..." Yuuji terengah.
Melihat kaosnya yang sudah kotor, Megumi sekalian melepas benda itu. Menampilkan tubuhnya yang kini kian terbentuk sempurna. Meski kalau soal posture, otot Yuuji terlihat jauh lebih besar. Maklum lah, dia menjalani latihan setiap hari di FFA.
Megumi meraih kaos Yuuji dan juga melepasnya. Ia meraup dada Yuuji, menjilat nipple nya lalu mengemutnya. Satu tangan meremas dada Yuuji yang besar, memilin nipple nya.
"Ungh.. Ahh," Yuuji mendesah, memeluk kepala Megumi. Ia memajukan duduknya hingga penisnya menggesek perut Megumi, membuatnya kembali tegak. Di belahan bokongnya ia merasakan penis Megumi juga mulai mengeras, suhu nya yang panas membuat lubang Yuuji berkedut tak sabar.
"Me...gumi...ahh, ayo lakukan," pintanya.
"Ya," balas Megumi. Ia meremas bokong Yuuji, lalu memasukkan dua jari ke lubangnya.
"Ahh, nggak perlu. Nn, langsung masukkan saja. Cepat," erang Yuuji tak sabar.
"Nanti kau kesakitan," ucap Megumi.
"Nn," Yuuji sedikit mengangkat tubuhnya, tangannya menuntun penis Megumi menuju lubang, perlahan ia bergerak turun, hingga lubangnya menelan keseluruhan penis Megumi. Ia duduk dengan nafas sedikit terengah, mencondongkan tubuhnya ke belakang dengan dua tangan sebagai tumpuan, membuat koneksi tubuh mereka bisa terlihat jelas.
"Tuh kan, kau kesakitan," ujar Megumi khawatir melihat ekspresi Yuuji. Apalagi melihat lubangnya yang begitu erat.
"Aku suka...kalau sedikit sakit," ucap Yuuji yang sontak membuat mata Megumi terbelalak. Tapi detik berikutnya, gantian Yuuji yang terkejut saat merasakan penis di lubangnya semakin membesar. "Huaahh, aahh," ia mengerang keras saat Megumi meraih pinggangnya, lalu menggerakkanya dengan keras.
"Aahhh, ahhh," tubuh Yuuji menghentak keras. Ia berpegang ke pundak Megumi, lalu ikut bergerak mencari kenikmatan dari kegiatan mereka. Ia bergerak sesuka hati, menghantam sweetspotnya dari penetrasi Megumi. Lubangnya mengerat sesekali, memanja penis Megumi. Ia tersenyum kecil sesekali saat melihat ekspresi Megumi yang keenakan karena perlakuannya.
"Fuck—..." umpat Megumi tak tahan. Ia meremas kuat bokong Yuuji, lalu kembali mengulum nipple nya. Ia menggerakkan tubuh Yuuji semakin brutal.
Yuuji yang memeluk kepala Megumi, mendongak penuh merasakan nikmat di nipple dan di tubuh bawahnya. Ia ikut bergerak kian cepat. "Ugh...ahh...m-mau klimaks...ahh," desahnya. Ia mencengkeram punggung Megumi saat akhirnya tak tahan. "Aahhhhh," desahnya panjang, masih bergerak kuat sambil menuntaskan hasrat. Sementara lubangnya sedikit terasa perih, juga panas. Cairan hangat mengisi rongga tubuhnya. Sepertinya Megumi juga klimaks.
"Hosh...hosh..." Yuuji terengah, menyandarkan tubuh ke pelukan Megumi. Ia bergerak pelan, membuat cairan lengket merangsek keluar dari lubangnya yang masih diisi penis Megumi.
Saat nafasnya mulai normal, Yuuji mengangkat tubuhnya, memutus koneksi mereka, lalu meraih tissue dari atas meja. Ia membersihkan tubuh ala kadarnya dengan tissue itu. Megumi juga melakukan hal yang sama. Yuuji bangkit menuju kamar, memakai boxer baru karena celananya sudah kotor tadi, ia juga mengambilkan kaos untuk Megumi.
Megumi yang mengikuti ke kamar, duduk di ranjang, menangkap kaos yang dilempar Yuuji lalu memakainya. Yuuji naik ke ranjang dan gegulingan di pangkuan Megumi.
"Sarapan belum? Makan dulu sana," Megumi mencubit pelan hidung Yuuji.
"Hngh, nanti," Yuuji masih gegulingan di pangkuan Megumi, memeluk punggungnya. "Kau sudah makan?"
"Iya, tadi menyempatkan sarapan sebelum ke sini. Soalnya berkendara lumayan jauh."
"Hee," hanya itu balasan Yuuji. Ia menggulingkan tubuhnya ganti terlentang di pangkuan Megumi. "Ano sa, kok aku jadi kepikiran. Kalau melakukan sex, Sensei dan Nii-san, siapa yang masuk ya? Mereka kan sama-sama playboy dengan pengalaman sex segudang," ucap Yuuji.
Megumi sweatdrop. Kadang ia heran dengan ke random an Yuuji yang tiba-tiba terpikir sesuatu.
"Ne Ne Megumi, menurutmu siapa," Yuuji menuntut jawaban.
"Ya...Tou-san paling," balas Megumi.
Yuuji segera bangkit, memutar tubuhnya ke arah Megumi dengan kedua tangan menumpu ke kasur. "Masa sih? Tapi aku nggak bisa membayangkan Nii-san di bawah nih. Muka serem kayak dia, memangnya siapa yang bakal terangsang melihatnya."
"..." Megumi terdiam, tapi seketika ia sweatdrop dengan wajah menghitam.
"Kan kan kan?" Yuuji tertawa puas. "Aku lebih bisa membayangkan Sensei yang dimasuki. Kalau dia kan cantik, bulu matanya bagus banget. Kulitnya putih, matanya apalagi, cantik banget. Kalau membayangkan dia mendesah keenakan..." Yuuji menghentikan ucapannya, di kepalanya membayangkan bagaimana Gojo mendesah di bawah tubuh Sukuna. Kulitnya yang seputih salju berubah kemerahan karena aktivitas ranjang mereka yang brutal. Matanya berair, dan bibirnya yang kemerahan mendesahkan nama seseorang.
Gulp...!
"Yuujii..." Megumi memanggil horror dan menatap Yuuji dengan tatapan iblis.
"E-eh..." Yuuji langsung cengok. Tapi ia baru menyadari sesuatu. Ia menatap ke area bawah tubuhnya yang kembali menggunduk. "Gyaahh...!" Yuuji segera menutup selangkangannya dengan tangan. Ia tak menyangka ia bisa ereksi dengan membayangkan Gojo.
"Y-ya, pokoknya begitu deh. Pokoknya kupikir Sensei yang dimasuki, soalnya muka Nii-san serem. Mana bisa manis dan bikin terangs-...gyaaahh...!" Yuuji menjerit saat akhirnya Megumi menubruknya hingga terbaring ke ranjang.
"Ah, ya ya. Pasti Tou-san yang mendesah di bawah begitu kan. Sampai-sampai kau juga ereksi membayangkannya," ucap Megumi dengan muka horror. Ia merangkak di atas Yuuji, mengurung tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu di sisi tubuh Yuuji.
"Aaah, habisnya kan bisa kau bayangkan sendiri. Sensei itu cantik banget loh."
"Iya, cantik banget sampai bikin kau ngaceng. Padahal kau pernah bilang kau tidak gay, dan suka badan cewek. Kau bisa dengan cowok karena cowoknya aku. Sepertinya sekarang tidak begitu."
"Aargh, bukan begitu. Baiklah maafkan aku, maafkan akuuu," Yuuji mendorong wajah Megumi yang terlihat mengerikan.
"Apa jangan-jangan kau juga mau melakukan sex dengan Tou-san. Kau ingin coba memasukinya huh?" Megumi masih kesal.
"Mana mungkin begitu. Sensei terlalu tinggi buatku."
"Ooh, jadi faktor utamanya karena tinggi badan."
"Bukan bukan, ma-maksudku...aku hanya bisa melakukannya dengan Megumi saja. Tidak bisa dengan cowok la-...gyaahh," akhirnya Yuuji hanya bisa pasrah saat digarap habis oleh Megumi karena cowok itu terlanjur kesal padanya.
.
.
"Ngh...hosh...hosh..." Nafas Yuuji terengah. Lututnya mencoba terangkat tapi ambruk lagi, ia merasa sudah tak punya tenaga. "Hosh...Megumi, sudah dong. Iya aku minta maaf," ucap Yuuji, ia memeluk bantal dengan lemas. Ia berbaring tengkurap tanpa daya, masih menormalkan nafas.
"Nn..." terdengar suara Megumi melenguh pelan, lalu suara lengket dan suara kocokan cepat. Yuuji hanya melirik lewat pundak karena sudah tak punya tenaga lagi. Tak berapa lama ia merasakan permukaan bokongnya basah oleh cairan hangat. Yuuji pun menghela nafas lega, akhirnya Megumi selesai juga. Cowok itu menundukkan tubuh dan menghirup tengkuk Yuuji, menggigitnya sesaat. Yuuji pasrah saja diperlakukan begitu. Megumi lalu memeluk Yuuji, menimpakan seluruh berat tubuhnya di punggung Yuuji. Kaki Yuuji yang bebas menendang-nendang santai ke udara.
"Megumi..." panggil Yuuji.
"Hng," hanya itu balasan Megumi.
"Tapi kalau dipikir, mungkin Sensei yang di atas ya. Kan dia lebih tinggi."
"Kau masih mau membahas ini?!" kesal Megumi.
"Ya habisnya aku hanya penasaran saja," balas Yuuji. "Eh, Sensei itu selalu senyum. Dia pernah marah nggak sih? Kalau marah serem nggak?"
Megumi hanya menghela nafas lelah menanggapi pacarnya itu.
"Hey, ayo jawab. Sensei kalau marah serem?" ulang Yuuji.
"Iya serem banget," balas Megumi kesal.
"Nah benar kan. Biasanya kalau orang yang selalu senyum terus marah, biasanya serem banget. Bisa 180 derajat. Mungkin saja Sensei kalau di ranjang juga bakal berubah 180 derajat, hehehehe."
"Hiiiihh," Megumi menjewer pipi Yuuji kesal. "Tou-san Tou-san terus. Yaudah pacaran sama Tou-san saja sana!" kesal Megumi. Ia pun bangkit dan langsung menuju kamar mandi sekalian menyambar pakaian kotornya.
"Yah yaah, ngambek," ucap Yuuji saat pintu kamar mandi tertutup. Ia menghela nafas lelah lalu duduk bersila, masih kepikiran soal Sukuna dan Gojo. "Ah, apa langsung tanya saja ya, hehe," cengir Yuuji lalu merangkak meraih ponselnya di atas meja.
"Adududuh," dia sempat mengaduh memegangi bagian belakang tubuhnya yang terasa nyeri. Cairan kental mengalir dari lubangnya. "Dasar Megumi," gerutunya lalu tengkurap sambil memainkan ponsel. Ia mengirim pesan pada Sukuna.
'Nii-san, kau dan Sensei, siapa yang masuk?' chat Yuuji dengan watados nya.
.
Sementara di kamar mandi, Megumi yang mulai membersihkan diri, jadi kepikiran juga akibat ocehan Yuuji. Megumi merasa bahwa Tou-san nya yang masuk, mengingat Gojo bisa memberikan tips untuknya seperti sudah berpengalaman sekali. Tapi seperti yang Yuuji bilang, baik Gojo maupun Sukuna sama-sama playboy kelas kakap dengan pengalaman sex segudang. Bisa saja Gojo yang sudah berpengalaman jadi seme pun bakal tunduk pada Sukuna yang sangar. Atau…memang Sukuna yang berwajah seram bisa berubah 180 derajat di bawah tubuh Gojo?
Twitch…!
Awalnya Megumi masih mencoba menahan diri, tapi akhirnya tak kuat juga. Ia pun mematikan shower lalu menuju tumpukan pakaian kotor nya, meraih ponsel dari saku, lalu mengirim chat pada Gojo.
'Tou-san. Kau top atau bottom?'
.
.
"Hn...ahh," Sukuna yang tengah mendesah di bawah tubuh Gojo, terganggu dengan bunyi notifikasi masuk di ponselnya. Ia pun meraih benda itu dari atas meja.
"Hey! Kenapa malah main ponsel!" kesal Gojo, melebarkan paha Sukuna.
"Hngh...! Hanya ingin menyalakan mode silent biar tak mengganggu," ucap Sukuna. Tapi saat ia menyalakan ponsel dan melihat chat dari Yuuji, ia mematung sesaat.
"Apa? Dari siapa?" tanya Gojo.
Sukuna tak menjawab, ia hanya meletakkan ponsel di sebelah bantal lalu memeluk leher Gojo, mencium bibirnya. "Sudah, lanjut saja. Bukannya kau bilang mumpung libur mau habiskan waktu bersamaku," ucap Sukuna.
"Yeah, tentu saja," Gojo pun kembali mencium Sukuna dan bergerak keluar masuk. Tapi ia mengernyit saat mendengar bunyi bip bip yang kian cepat, seperti suara timer. Ia pun melepas ciuman.
"Oh shit, aku lupa belum menyalakan mode silent," umpat Sukuna.
Bip...bip...bip...
Ckrek...!
Suara shutter kamera. Gojo mengernyit, menatap Sukuna yang kini membuang wajah dengan pipi memerah. Gojo meraih ponsel Sukuna, ada jepretan foto dirinya meski tak fokus karena pergerakan mereka. Gojo tertawa.
"Hahaha, kau mau merekam kegiatan ranjang kita?" tawa Gojo.
"Nggak!" omel Sukuna.
"Terus? Mau motret aku?"
"..." Sukuna tak menjawab, hanya wajahnya saja yang kian merona. Gojo menyeringai, ia lalu memberikan ponsel itu ke Sukuna dengan posisi kamera menyala.
"Ambil foto yang bagus, sayang," seringai Gojo.
Sukuna pun membidik dengan layar ponsel nya. Gojo berpose liar, ia menyisir rambutnya ke belakang dengan jari, lalu ujung lidahnya menjilat kecil bibirnya yang tengah menyeringai, matanya melirik tajam ke kamera. Tubuhnya yang berkeringat, dibalut kemeja putih sang semua kancingnya terbuka, sangat seksi.
Ckrek!
Sukuna mengambil foto. Kedua alisnya bertaut menatap hasil jepretannya. Gojo benar-benar fotogenik, dia terlihat sangat bagus di kamera. Sasuga mantan model. Tanpa sadar lubang Sukuna mengerat menatap pemandangan seksi itu.
"Ngh...sayang, jangan menjepitku begini, aku tidak tahan," ucap Gojo dan langsung menghujam keras lubang Sukuna.
"Aaaahhh!" Sukuna menjerit keras, ponsel terlepas dari tangannya. "Sa...Satoru...ahhh, ahhh..." ia mendesah keenakan.
Gojo menyeringai, meraih ponsel itu. Ia ingin memotret Sukuna.
"Hentikan, aku tidak mau, ahhh," Sukuna merebut ponsel itu dan menjatuhkannya ke lantai yang berbalut karpet tebal.
"Ah, dasar menyebalkan," umpat Gojo. Ia menundukkan tubuh untuk mencium Sukuna, tapi tangannya ganti meraih ponselnya sendiri dari atas meja, membuka camera. Setelah itu ia pun melepas ciuman dan mengarahkan ponselnya pada Sukuna.
"Sa...Satoru...! Sialan!" umpat Sukuna. Ia berusaha merebut, tapi kali ini Gojo tak mau kalah. Ia mengusap tepian lubang Sukuna dengan jemarinya yang bebas, lalu menghujam masuk dengan keras.
"AAHHHH...AAHHH," Sukuna menjerit keras. Tubuhnya melengkung nikmat dengan kaki menekan ke ranjang menahan diri. Meski begitu ia menyempatkan menutup sebagian wajahnya dengan lengan karena ia tahu Gojo memegang kamera.
"Ah, Sukuna ah," rajuk Gojo karena tak berhasil memotret penuh wajah Sukuna.
Sukuna terengah, ia menarik bantal dan menutup wajahnya dengan benda itu. "Kalau mau lanjut letakkan ponselmu," ancamnya.
Gojo yang merasa hasratnya belum terpuaskan tentu saja mengalah. Ia pun meletakkan kembali ponsel itu di meja, lalu melanjutkan hubungan sex mereka.
.
.
Mereka memutuskan untuk istirahat dari kegiatan ranjang mereka saat jam makan siang tiba.
"Mandi duluan sana," perintah Sukuna.
"Mandi bareng," rengek Gojo.
"Enggak. Sana duluan," Sukuna mendorong tubuh Gojo dengan kakinya.
"Ish kau ini..." gerutu Gojo meski akhirnya menurut. Ia meraih ponselnya sebelum menuju kamar mandi.
Sepeninggal Gojo, Sukuna meraih kembali ponselnya yang tergeletak di karpet. Ia membuka chat dari Yuuji yang sebelumnya.
'Nii-san, kau dan Sensei, siapa yang masuk?'
Sukuna membuka kembali foto Gojo yang tadi ia ambil. Benar-benar menggoda. Sebenarnya ia ingin simpan untuk dirinya sendiri, sama seperti video kekanakan Gojo saat di pasar malam. Tapi entahlah...sejak ia dan Gojo terbuka pada Megumi dan Yuuji mengenai hubungan mereka...Sukuna merasa ingin menunjukkan pada orang lain bahwa Gojo miliknya.
Ia tak bisa pamer pada dunia kalau Gojo miliknya, jadi setidaknya ia ingin memberitahu seseorang mengenai itu. Ditambah, meski sudah membuka hubungan pada adiknya itu, Sukuna dan Gojo rasanya jarang sekali—hampir tak pernah—memamerkan kemesraan mereka. Mungkin karena itulah, kali ini Sukuna ingin memamerkannya. Toh hanya pada Yuuji, adiknya, orang terdekatnya, rasanya tak masalah.
Dengan pertimbangan itu, ia pun mengirim foto Gojo yang tadi pada Yuuji.
.
Di sisi lain, di kamar mandi, Gojo sengaja membawa ponsel kali itu karena tadi belum puas melihat foto Sukuna yang ia ambil. Ia tersenyum melihat layar ponselnya. Sukuna benar-benar manis, juga seksi tentunya. Bahkan dengan sebagian wajah tertutupi pun, ia tampak manis. Kedua alisnya bertaut dan iris crimson nya berair seolah menahan kenikmatan, wajahnya memerah, rambutnya yang selalu rapi, sebagian turun berantakan ke dahi. Benar-benar sexy. Seolah menunjukkan 180 derajat sisi lain Sukuna yang biasanya garang.
Asyik menikmati foto, ia menarik bar notif dan baru menyadari ada chat dari Megumi.
'Tou-san. Kau top atau bottom?'
Gojo tersenyum lebar. Dan tanpa ragu ia pun mengirimkan foto Sukuna yang tadi.
.
~OoooOoooO~
.
Yuuji tengah makan siang dengan Megumi sambil menonton TV.
Kling...!
Sebuah notifikasi masuk di ponsel Yuuji. Ia meraih ponsel nya sambil meminum segelas air putih. Sebuah chat masuk dari Sukuna. Yuuji terbelalak begitu membuka isi chat itu, ia pun cepat-cepat meletakkan gelasnya.
"A-aku ke toilet dulu ya," ucap Yuuji dan langsung kabur ke kamar mandi membawa ponselnya.
"Holy shit," umpat Yuuji pelan begitu menutup pintu. Ia menatap foto Gojo yang dikirimkan Sukuna. Terlihat begitu liar, sangat jauh berbeda dari Gojo yang biasanya kekanakan.
"Kan kan kan benar kan, kalau di ranjang Sensei bisa berubah drastis begini. Astaga, seliar ini. Aakk, berarti dia top ya. Iya, ini angle foto nya dari bawah. Sialan! Mereka lagi gituan pa?" oceh Yuuji.
Ia mengamati kembali, tapi lalu tercengang saat menyadari sesuatu. Ia menatap ke bawah, dan melihat kalau selangkangannya sudah berdiri lagi.
"Sial," umpatnya. "Pasti kena marah Megumi lagi deh."
.
Di ruang TV, Megumi hanya mengerutkan sebelah alis heran menatap Yuuji yang buru-buru ke kamar mandi tadi. Ia melanjutkan makan, tapi terhenti saat ada chat masuk di ponselnya. Ia pun membuka chat itu, dan terbelalak saat membuka foto Sukuna yang Gojo kirimkan.
"Ssshhhiiit..." umpatnya pelan. Ia langsung memeluk lutut dan meremas selangkangannya yang berkedut tak nyaman. "Sial. Kenapa kamar mandi di apartment ini hanya satu," gerutunya.
.
.
.
~TBC~
.
Support me on Trakteer : Noisseggra
