Disclaimer : All characters and cover are not mine :') but this fic is mine.
Pairing : Silakan tentukan sendiri :)
Genre : Fantasy, Slow Romance
Warning : Typo, monoton, OOC, OOT, EYD berantakan, membosankan, ceritanya lambat, lebay, aneh, alur gaje, kalimat / tata bahasa campur-campur (bisa baku, bisa ga baku), tidak efektif, ga nyambung, dan kekurangan-kekurangan lainnya.
-Third Person POV-
Keributan yang terjadi di ruang dansa -Celegre Ballroom Major Palace- perlahan sirna tatkala Yang Mulia Baginda Raja menjatuhkan mandatnya kepada tunangan Putra Mahkota, sang Antagonis.
Hampir semua tamu yang menghadiri pesta tersebut terbelalak tak percaya, terang-terangan menampilkan tampang syok mereka.
Ekspresi syok turut terpajang di wajah Putra Mahkota. Dirinya terlalu terkejut hingga tetap bergeming di tempat, otaknya terus-menerus memproses ulang amanat Ayahandanya.
Berbeda dengan reaksi kebanyakan orang, kebahagian terlihat jelas di muka sang Antagonis meski sepasang iris aquamarine miliknya memancarkan kesedihan lumayan dalam.
Tamat.
Segala permasalahan beserta perjanjian antara Sang Antagonis dan Pangeran sudah terselesaikan detik itu juga, berlangsung lancar melebihi ekspektasi mereka.
'Selesai... tujuan kami tercapai, aku bisa pulang ke duniaku sekarang...'
Begitulah pikiran naif tokoh utama kisah ini sampai-
"Rin!"
.
.
.
Mari kita kembali ke masa lalu, ketika kehidupan protagonis cerita ini masih berjalan normal seperti 'manusia' pada umumnya ...
-Setahun yang lalu-
-Rin POV-
-tik- -tok- -tik- -tok-
-setstsetstst-
Yes! Hasilnya ketemu.
-tek- Aku melemparkan pensil yang sedaritadi kugunakan ke atas buku catatanku.
Pegal, tanganku pegal sekali.
Kurenggangkan jari-jari tanganku sembari melirik jam weker yang telah menunjukkan pukul 09.35 malam.
Gak berasa, dah 4 jam lebih aku ngerjain soal latihan hitungan. Udahan dulu deh, lanjut be—
ano ko no shinshou wa yomemasu ka
Duh, nada dering ini ...
sono kokoro wo kuroku someta no wa
Dengan malasnya, aku meraih smartphone yang ada di atas bantalku.
oi dare nanda yo oi dare—
Tanpa mengecek nama serta nomornya, aku mengangkat panggilan masuk tersebut. "Halo?"
"Halo, Rin-chan? Ini aku, Teto. Apa kamu bisa menjemput Kakakmu sekarang?" Suara Teto-san terdengar bimbang, mungkin karena tak enak hati meneleponku jam segini.
Hah... Miku-nee mabuk berat lagi nih... setiap kali Miku-nee begitu, pasti aku yang dihubungi untuk menjemputnya. Memangnya mereka gak bisa apa pesen taksi buat nganterin Miku-nee pulang?
"Rin-chan?" Teto-san yang memanggil cemas namaku, sukses mengikis sebagian rasa jengkelku.
"Dimana?" tanyaku singkat.
"Di bar biasanya," jawab Teto-san tak kalah singkat.
"Oke." Kumatikan sambungan teleponnya lalu memasukkan smartphone ke dalam saku celanaku.
Aku mengambil dompet dan bergegas pergi ke bar yang dimaksud Teto-san.
–––
"Rin-chan!" Melihat lambaian tangan Teto-san, aku pun segera berjalan menuju ke arahnya.
Lagi-lagi teman minum yang sama seperti biasanya. Aku memberi salam kepada mereka sebelum menegur Miku-nee.
Kulihat wajah Miku-nee yang sangat merah, tertawa lebar sambil memegang segelas bir. "Miku-nee! Kenapa Miku-nee mabuk sampai seperti ini lagi sih..."
"Rin... Rinny... sini ikut minum bareng kami." Miku-nee menarik lengan kiriku, menyuruhku duduk di sebelahnya.
"Cukup! Kita pulang sekarang." Aku merebut gelas yang dipegang Miku-nee dan meletakkannya di atas meja.
"Ehh...! Tapi aku belum mau pulang...!" Tidak menghiraukan penolakan Miku-nee, aku lekas membayar bir yang Miku-nee minum lalu pamit pada teman Miku-nee.
"Ukm..." Miku-nee menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
Oh tidak, Miku-nee mau muntah. Buru-buru kuseret Miku-nee keluar dari bar.
Di luar bar, Miku-nee memuntahkan minuman dan makanan yang disantapnya tadi. Buang-buang uang saja. Untuk apa minum bir yang lumayan mahal kalau ujung-ujungnya dimuntahkan? Aku tak pernah mengerti pikiran orang-orang macam Miku-nee dan teman-temannya.
Setelah puas memuntahkan semuanya, Miku-nee malah duduk, bersandar pada tiang listrik.
"Sadarlah Miku-nee, jangan tidur dulu. Rumah kita dekat sini kok." Aku membangunkan Miku-nee, memaksa Miku-nee untuk berdiri.
"Rinny... aku butuh air..." Miku-nee sedikit terbatuk seraya memegangi keningnya. Aku menarik nafas panjang.
"Okei, akan kuberikan. Tapi, Miku-nee harus tunggu di sini dan jangan kemana-mana." Miku-nee mengangguk-anggukkan kepalanya, menyetujui syaratku.
Untunglah di seberang bar ada minimarket. Aku bisa membeli air sambil terus mengawasi Miku-nee tanpa perlu membawa Miku-nee bersamaku.
Tin! Tin!
Aku menengok ke arah mobil yang entah muncul darimana dan sejak kapan mengklaksonku tanpa sempat menghindar.
"Rin...ny!" Samar-samar aku mendengar panggilan Miku-nee kemudian kesadaranku langsung menghilang ...
–––
Aku membuka mataku secara perlahan, melihat ruangan serta orang yang tidak kukenal. Apa ini rumah sakit?
"Rin-sama! Akhirnya Anda sadar juga." Seorang laki-laki berambut pink, berseragam butler, bernafas lega. Siapa dia? Kenapa dia tahu namaku?
"Maika, tolong beritahu Tuan Oliver." Dia meminta seorang perempuan berpakaian maid, berambut ungu terang dengan ombre pink untuk pergi memanggil seseorang. Apa mereka mau memanggil dokter?
"Baik." Perempuan yang mungkin suster itu pergi keluar memanggil orang yang diminta.
Aku memperhatikan sekeliling ruangan, menyadari bahwa tempat ini bukanlah rumah sakit melainkan kamar tidur pribadi seseorang.
"Rin! Bagaimana kondisimu?" Pria dewasa berpakaian layaknya pelaut dengan perban menutupi mata kirinya, berlari mendekatiku. Wajahnya terlihat sangat khawatir.
"Anda siapa...?" Sudah pasti bukan dokter apalagi suster. Atau mungkin polisi? Ha-ha-ha lebih tidak mungkin lagi.
"Aku Oliver, papamu." Dia menggenggam erat tanganku sembari tersenyum tipis.
Hahaha. Jelas-jelas kedua orang tuaku sudah meninggal sejak aku masih kecil.
"Heh. Papaku kan sudah meninggal." Kutarik kasar tanganku dari genggaman tangannya. Walau dia kelihatannya baik tapi dia sangat mencurigakan.
"Rin-sama..." Laki-laki berambut pink yang sepertinya butler orang ini memberiku tatapan iba. Apa dia kasihan lantaran mendengar orang tuaku yang telah tiada?
Oh iya, dimana Miku-nee?
Aku mencari-cari keberadaan Miku-nee di sekitar ruangan. "Dimana kakakku, Miku-nee?"
"Kamu ngomong apa Rin? Kamu kan anak tunggal." Jawaban yang dilontarkan oleh sang majikan cukup mengejutkanku.
Selain kerabat jauhku dan Miku-nee, tidak ada seorang pun termasuk sahabat kami yang tahu bahwa aku dan Miku-nee bukan saudara kandung. Apa dia salah satu kerabat jauh papa? Warna rambutnya sama sepertiku dan papa, wajahnya sekilas mirip papa. Yang aneh cuman perban yang menutupi matanya serta pakaiannya yang seperti cosplayer.
"Maksudku kakak sepupuku." Jika dia memang kerabat jauhku maka seharusnya dia mengenali Miku-nee.
"Kamu tidak punya sepupu bernama Miku, Rin. Nama sepupumu itu Fukase dan Luka." Kurespons perkataannya dengan sedikit tertawa geli. Dia kebetulan saja benar menebak statusku sebagai anak tunggal, dia bukan kerabat jauhku.
"Siapa mereka? Sepupuku hanya ada satu, yaitu Miku-nee!" Papa hanya punya satu saudara kandung. Dan anak kakak perempuannya tersebut adalah Miku-nee, sedangkan mama anak tunggal. Jadi semestinya, sepupuku hanyalah Miku-nee seorang.
Butler berambut pink yang daritadi mencatat sesuatu, berbisik pada majikannya namun masih dapat terdengar olehku, "Tuan Oliver, sepertinya Rin-sama terkena amnesia."
Oi, siapa yang kau sebut terkena amnesia. Aku sadar dan ingat dengan jelas sebagian besar peristiwa yang pernah kualami.
Merasakan tatapan sinisku, majikannya memandang lembut diriku.
"Riliane, itu nama aslimu sebelum aku mengadopsimu. Kamu ingat nama itu?" Aku menggelengkan kepalaku. Siapa lagi itu Riliane. Mengapa nama itu tak asing di telinggaku.
"Aku tidak tahu siapa sepupu yang kamu maksud. Setahuku, kamu anak yatim piatu yang sedari lahir tinggal di gereja yang sering kukunjungi." Bola mata kanannya mengarah ke atas tempat tidurku berbaring.
Aku pun ikut melihat ke arah yang sama, melihat lukisan seorang perempuan berambut ungu-tosca yang memakai gaun berwarna hijau kebiru-biruan.
"Karena warna serta bentuk matamu mirip dengan mendiang istriku, aku memutuskan untuk mengadopsimu dan mengganti namamu menjadi Rin Lapis Dikrof." Kisah ini! Aku tahu kisah ini!
"Padahal, saat kamu resmi menjadi anakku, aku sudah berjanji pada Tuhan untuk selalu menjagamu... tapi, aku malah membuatmu mengalami hal ini." Aku ingat. Aku pernah membaca dan mendengar kisah ini atas paksaan Miku-nee.
"Mengalami hal apa?" Jangan bilang aku terbaring di sini akibat terjatuh dari tangga.
"Anda terjatuh dari tangga saat hendak menyambut kepulangan Tuan Oliver." Deg! Aku dapat merasakan keringatku yang mulai mengucur deras.
"Kepulangan darimana?" Tidak mungkin dari Kerajaan Utau, kan?
"Dari Kerajaan Utau." Ya Tuhan! Masa sih aku benar-benar...
"I...ini dimana?" Kalau benar dari Kerajaan Utau berarti aku berada di...
"Kita berada di Kerajaan Voca." Sudah kuduga! -plek- Aku menepuk keras jidatku.
Ini pasti mimpi ataukah aku sudah berada di neraka? Kenapa aku bisa masuk ke dalam game otome kesukaan Miku-nee?!
-TBC-
Author's Note
Hola~ Terima kasih sudah mampir ke fic ini! Bagi yang tidak asing sama light novel China, Jepang atau Korea pasti sadar kalau ane terinspirasi dari sana #psstisekai :D
Sangat welcome dengan kritik dan saran~
#suntingankelar ane ada edit (tambahin, kurangin dan perbaikin) kalimat / kata-kata di chapter ini biar lebih efektif gak terlalu monoton XD
