Disclaimer : Saya cuma buat cerita di sini

Warning : Typo(s), Alur berantakan, OOC, Dan lain-lain

Gently Spring Breeze

Prologue

.

.

Kurasakan semilir angin menghembus tengkukku. Suasana sudah menjadi hangat, mekarnya bunga sakura menghiasi pandanganku. Hiruk pikuk sekitar tidak terasa mengganggu, musim semi memang selalu menjadi saat favoritku. Kenyataan membuyarkan lamunanku sesaat, membawaku pada suasana baru dan lingkungan baru. Ya, mulai saat ini, aku, berada di sebuah keadaan yang akan membuatku beradaptasi terhadap sekitarku.

Hoshioka Gakuen.

Kulihat sebuah tulisan yang menandakan almamaterku berada di sana. Kalau dipikir-pikir, ini pertama kali aku menjadi murid pindahan. Memang menyebalkan karena aku harus meninggalkan kenangan yang sudah kujalin di kehidupan lama sekolahku, begitupula dengan tuntutan beradaptasi pada lingkungan baru. Namun, mau bagaimana lagi. Keputusan sudah tidak bisa diganggu gugat. Pekerjaan kakakku memaksa kami untuk pindah. Ah, ya, aku memang hanya tinggal berdua dengan kakak perempuanku saat ini. Orang tua kami sibuk bekerja di luar negeri. Sejujurnya, hal ini merepotkan…

"Hey kamu."

"Hey…"

"Mau sampai kapan kamu bengong di depan pintu gerbang?!"

Ah, apa ia berbicara denganku? Sesaat aku memperhatikan siapa yang berbicara padaku, aku terpana. Gadis itu manis, pikirku. Rambutnya yang sebahu berwarna hijau. Tubuhnya yang atletis. Dan kacamata yang menghiasi wajahnya segera menyita perhatianku. Aku yang tidak tahu harus merespon apa hanya terdiam menatapnya.

"Apa kau ini patung? Kau mengganggu jalan yang lain!" Ujarnya seraya berkacak pinggang. Aku tersentak akan lidahnya yang tajam.

"Ma-maaf."

"Hmmm… aku belum pernah melihatmu sebelumnya."

"Ummm… Mulai hari ini aku menjadi siswa di sini sebagai murid pindahan."

"Ah, murid pindahan. Apa kau sudah tahu kelasmu di mana? Jika sudah segera bergegas sana!"

"Be-belum. Maafkan aku." Entah mengapa aku meminta maaf, tetapi nadanya yang seram membuatku takut.

"Kenapa juga kau harus meminta maaf?" ucapnya seraya menghela nafas, "Mau bagaimana lagi… ikuti aku ke ruang guru. Kau harus segera tahu kelasmu dan bergegas menemui wali kelasmu."

Ia segera bergegas menuju ruang guru. Aku mengikutinya dari belakang.

"Umm… terima kasih."

"Jangan dipikirkan, ini memang sudah tugasku."

Tugas? Kalau diperhatikan aku mendapati sebuah ban lengan di lengannya dengan tulisan "Komite Disiplin." Ah, ia anggota komite rupanya.

"Nakajima Gumi." Ujarnya seketika.

"Eh?"

"Namaku." Lanjutnya kemudian, matanya sekilas melihatku. Aku terheran dengan perkenalan yang tiba-tiba.

"Namaku Kagamine Len. Salam kenal, Nakajima."

"Ini adalah ruang guru." Ucapnya sebelum menghentikan langkahnya, "aku berada di kelas 2E, jika ada sesuatu yang kau perlukan atau ingin kau tanyakan jangan sungkan untuk bertanya kepadaku. Seperti memintaku untuk menunjukkan sekitar sekolah contohnya."

Nakajima segera pergi setelah itu. Kulihat punggungnya yang semakin jauh.

Nakajima Gumi.

Orang pertama yang kutemui di sekolah ini. Sekilas ia terlihat menyeramkan. Namun ia mau menunjukkan ruang guru kepadaku bahkan menawarkan bantuan untuk menunjukkan sekitar sekolah. Mengingat perilakunya membuatku tersenyum tipis.

Meskipun lidahnya tajam dan sikapnya dingin, kebaikan hati Nakajima membuat hatiku terasa hangat.

"Permisi…"

"Ah, Kagamine Len, benar?" Ujar seorang guru seketika aku melangkah masuk ke ruang guru. Kulihat sosok perempuan berambut coklat sebahu berjalan menghampiri. Untuk seorang guru ia terlihat sangat muda.

"I-iya."

"Perkenalkan, namaku Sakine Meiko, aku mengajar dalam subjek Bahasa Inggris. Mulai saat ini aku yang akan menjadi wali kelasmu."

"Mohon bantuannya, Sakine-sensei."

"Yup. Kelasmu ada di 2F. Aku bisa menunjukkannya kepadamu, namun sebelum itu kita ada apel pagi. Kau tidak berniat untuk membolos apel bukan?"

"T-tentu tidak."

"Bagus! Kau harus membuat kesan pertamamu sebaik mungkin di hari pertama kau sekolah di sini. Kalau begitu, mari kita bergegas menuju aula." Ucap Sakine-sensei seraya tersenyum. Aku mengangguk mengiyakan.

Aku… benci apel pagi.

"Para siswa Hoshioka sekalian…"

Ucapan kepala sekolah, mau dari sekolah manapun, sudah semestinya membosankan. Kata-katanya kerap masuk telinga kanan dan segera keluar melalui telinga kiri. Aku mencoba memperhatikan aula, kulihat beberapa merasakan hal yang sama denganku. Ya, mau bagaimana lagi, aku juga merasakan hal itu, kawan.

Hmmm… perasaanku saja atau memang beberapa dari mereka curi pandang ke arahku? Mungkin mereka terheran karena keberadaanku, yah namanya juga murid pindahan.

"Sensei." Suara di sampingku membuyarkan pikiranku. Kulihat seorang gadis mengangkat tangannya.

"Ada apa, Narusawa Aria?" Sakine-sensei menjawab panggilannya. Kulihat ia tersenyum kaku.

Apa gadis ini salah satu anak bermasalah? Maafkan aku yang seenaknya menilai seseorang. Namun perawakannya yang serampangan memberi kesan seperti itu. Rambut platinumnya yang acak-acakan. Seragamnya yang tidak rapi dengan tambahan aksesoris di sana-sini. Dan nada bicaranya yang terkesan seenaknya meskipun ia sedang berbicara dengan guru.

"Aku sedang tidak enak badan, boleh aku ke UKS?"

"Eh, tidak enak badan? Kau terlihat baik-baik saja." Balas Sakine-sensei dengan nada pelan.

Kulihat Narusawa memalingkan wajahnya, "aku sedang dalam periodeku."

"Eh?" Kali ini bukan hanya Sakine-sensei yang terkejut.

"Ah, rasanya tidak nyaman." Geram Narusawa, kali ini Sakine-sensei terlihat sedikit panik. Entah karena kondisi Narusawa atau karena ia mulai memberontak.

"Baiklah, kau boleh ke UKS." Narusawa segera bergegas pergi dari aula. Sakine-sensei hanya bisa menghela nafas panjang begitu melihatnya. Aku dan beberapa siswa lain juga turut ikut memperhatikan punggungnya yang kian menjauh.

Narusawa Aria.

Seolah memasang penghalang di sekitarnya, kurasakan siswa lain terlihat enggan dengannya. Meskipun ia semanis itu…

Kurasa aku dibuat penasaran akan sosok bernama Narusawa Aria.

Aku juga ingin membolos. Sampai kapan apel ini berakhir?

"Tunggu di sini, oke? Kau boleh masuk dan memperkenalkan diri begitu aku memberimu tanda."

Aku berada di depan ruang kelas 2F. Nampaknya murid lain sudah berada di dalam. Kulihat Sakine-sensei membuka kelas homeroom dan memberi tahu akan adanya murid pindahan. Aku bisa merasakan antusiasme akan berita tentang murid pindahan. Bagaimana jika aku mengacaukan perkenalanku? Tunggu, mengapa aku menjadi gugup sekarang?

Ah- mungkinkah itu tandanya?

Kuhela nafas sebelum melangkahkan kaki menuju ruang kelas. Kurasakan setiap mata menuju ke arahku. Rileks, rileks.

"Umm… Namaku Kagamine Len. Aku murid pindahan dari Shionagi. Mohon bantuan untuk kedepannya semuanya!" Ujarku sebelum mengakhirinya dengan membungkuk. Berhasil. Perkenalan yang normal tanpa ada canggung!

"Hai! Hai! Kagamine!" Mendengar seorang memanggil namaku, aku segera menoleh. Aku mendapati seorang gadis mengacungkan tangannya tinggi-tinggi seraya melompat kecil. Suaranya yang cerah bagai lonceng memenuhi ruang kelas. Tunggu, gadis ini nampak-

"Apa kau anak haram dari ayahku?"

Eh?

Suasana kelas menjadi hening seketika. Kurasa bukan hanya aku yang terkejut. Hari pertama sekolahku memang penuh kejutan. Tapi yang satu ini bagaikan critical hit, bukan- overkill! Apa itu barusan… ummm… aku, anak yang terlahir dari hubungan tidak sah? Tentu tidak mungkin bukan? Lagi pula aku tidak mengenal gadis itu sedikitpun. Meskipun…

Meskipun…

Ya ampun, mengapa ia terlihat mirip denganku?

Rambut berwarna honey blonde yang cerah. Mata berwarna sebiru langit. Memang proporsi wajah, dan tubuh kami berbeda. Namun jika seseorang berkata, "ah bagaimana jika Len berubah menjadi wanita?" Seseorang pasti akan menunjuk gadis itu. Begitu pula sebaliknya.

"Tentu saja tidak!" Balasku cepat.

"Heee… begitu. Kalau kita tidak memiliki hubungan. Berarti ini merupakan kebetulan yang sangat gila." Ucapnya kemudian. Kelas menjadi ramai setelah itu. Mengatakan bahwa betapa miripnya kami. Beberapa dari mereka menoleh ke arahku dan dirinya secara bergantian.

"Haha…" Sakine-sensei tertawa renyah, "memang Kagamine dan Kisaragi terlihat mirip."

"Namaku Kisaragi Rin! Kagamine Len, pertemuan kita di sini mungkin adalah takdir!" Ujarnya cerah dengan nada bercanda yang berlebihan, senyum lebar menghiasi wajahnya. Sejujurnya suaranya yang ceria sangat nyaman di telingaku. Secara tidak sadar aku tersenyum dibuatnya.

"Baiklah sudah cukup. Kalian bisa melanjutkannya nanti saat jeda siang." Ujar Sakine-sensei memecah suasana. "Kagamine, tempat duduk mu berada di sana. Kursi kosong di baris belakang." Ia menunjuk tempat di mana kursiku berada. Aku bergegas menuju ke sana seraya mencuri pandang sekitar. Kisaragi masih melihatku dengan senyum lebarnya. Saat mata kami bertemu ia melambai kecil ke arahku. Kulihat Narusawa Aria duduk di depan kursiku, kami satu kelas rupanya.

Meletakan tas dan segera duduk di kursiku, kurasakan energiku terkuras habis. Kukeluarkan buku dan alat tulisku seraya menghela nafas panjang. Benar juga, aku belum menyapa tetanggaku.

"Halo…" Kucoba menyapa seorang gadis yang duduk di sampingku, "namaku Kagamine… Len…" Aku terhenyak ketika ia menoleh. Rambutnya yang berwarna perak memantulkan sinar matahari yang menyinari dari balik jendela. Panjang rambut sepinggangnya yang bergelombang itu membuatku ingin membelainya. Parasnya cantik, dan ia melihatku dengan sepasang bola mata berwarna emas yang berkilau.

"Morinaga… Mayu…" Balasnya. Suaranya mengingatkanku pada musim dingin yang tenang.

Morinaga Mayu. Gadis nan menawan bagaikan putri. Suaranya yang tenang dan matanya yang indah seakan menghisapku ke dalam.

"Baiklah. Tolong fokus, kita akan segera melanjutkan kelas sekarang!"

Lanjutnya kelas Sakine-sensei segera membuyarkan lamunanku sekaligus menjadi tanda akan mulainya kehidupan sekolah baruku.

Kurasa aku harus fokus dalam pelajaran untuk saat ini.

Lonceng tanda jeda siang berbunyi setelah beberapa jam berlalu. Aku meregangkan tubuhku, melepaskan beban yang menumpuk di sendi-sendiku.

"Yaho!" Kulihat Kisaragi berjalan ke arahku seraya melambaikan tangannya. "Kagamine, sudah familiar dengan tempat di sekolah ini?"

"Belum. Hari ini pertama kalinya aku di sini."

"Eeehhh… Kau seharusnya melakukan riset atau melakukan kunjungan terlebih dahulu. Mau bagaimana lagi, aku, Rin, akan menjadi panduanmu dalam berpetualang di sekolah ini!" Ucapnya dengan nada menyombongkan diri. Lagipula, apa-apaan dengan setting berlebihan itu?

"Kalau begitu, tunjukkan di mana kantin berada."

"Ho ho… langsung mulai ke tempat last boss rupanya." Kisaragi menyeringai.

"Hoi Rin," panggil Narusawa mencela. Merasa dirinya dipanggil, Kisaragi menoleh. "Roti Yakisoba, satu."

"Eeehh…! Beli saja sendiri!" Protes Kisaragi.

"Kau bisa membeli roti yakisoba sekaligus menunjukan di mana kantin berada. Membunuh dua burung dengan satu batu."

"Aku tidak membutuhkan satu burung tambahan!"

"Cih, pelit. Bagaimana kalau kita melakukan pertukaran? Kau membeli roti yakisoba, aku membelikan kau minum."

"Membeli minum jauh lebih mudah. Tapi, oke. Tolong teh hitam satu, Aria!"

"Oke. Lalu bagaimana denganmu?" Narusawa merubah lawan bicaranya menjadi denganku. Aku yang tidak menduganya hanya terdiam sedikit terkejut, "aku bicara kepadamu, murid pindahan."

"A-ah… Teh hitam juga kalau begitu."

"teh hitam dua. Ada lagi?" Kisaragi menggelengkan kepala atas pertanyaannya.

"Ummm… bagaimana denganmu Morinaga?" Aku melontarkan pertanyaan kepada Morinaga.

"Tidak perlu…"

"Apa kau juga ingin membeli makanan di kantin?"

"Bukan… aku membawa bekal… minuman juga…"

"Begitu rupanya…" gumamku.

"Heeee…" kulihat Kisaragi dan Narusawa melihatku dengan sedikit terkejut.

"Boleh juga, murid pindahan."

"Nishishishi…" Kisaragi tersenyum lebar, "baiklah… tanpa menunggu lama lagi! Ayo, bergegas. Kantin adalah medan perang, medan perang adalah kantin!"

"DASH!" Serunya kemudian sebelum kami bergegas menuju kantin.

Maksudku, kejadian seperti ini juga kerap terjadi di sekolah lamaku.

Kantin adalah medan perang, medan perang adalah kantin.

"Uwah… ramainya." Gumam Kisaragi. Kulihat Narusawa sudah pergi membeli minuman.

"Kisaragi, tunggu di sini."

"Eh, apa yang ingin kau lakukan?"

"Tunggu dan lihat saja."

Ya, jika dilihat dari luar suasana kantin ini kacau balau. Namun kau bisa mendapatkan apa yang kau mau dengan sedikit trik.

"Roti yakisoba, tiga!" suaraku menggema. Suasana kacau barusan hening untuk sesaat, kurasakan setiap mata menoleh ke arahku. Dan saat lengah seperti ini, DASH! Segera merangsek kedepan.

"Roti yakisoba tiga, bukan?" Lihat, nona penjual roti itu segera menyiapkannya bukan? Inilah taktik jitu milikku. Setelah memberikan uang, jangan lupa ucapan terimakasih dan senyuman. Sempurna.

Tunggu, kenapa aku terlihat seperti Kisaragi?

"Ini." aku menyodorkan roti yakisoba yang kubeli barusan ke arah Kisaragi.

"Kagamine… tidak, Len! Kau benar-benar hebat!" Aku terkejut dengan perilaku Kisaragi yang tiba-tiba. "Ah, Aria sudah kembali. Ayo ke kelas!"

Kulihat Kisaragi mulai pergi meninggalkan kantin bersama Narusawa, ia sesekali melompat kecil dan memainkan plastik yang berisi roti yakisoba. Len, huh?

Kisaragi Rin.

Di hari pertama, Kisaragi membawaku dengan pacenya. Meskipun terkesan melelahkan, kurasa tidak buruk juga. Dan entah mengapa aku mempunyai firasat…

Dengan adanya Kisaragi, hidupku menjadi sedikit lebih berwarna.

Kisaragi berjalan semakin menjauh meninggalkan kantin dengan Narusawa yang mengikutinya. Seharusnya aku juga ikut bersama mereka, namun pandanganku tertuju ke arah lain.

Gadis itu terlihat kebingungan. Ia hanya melihat gerombolan siswa yang ingin membeli makanan dengan tatapan ragu. Aku berjalan menghampirinya.

"Ada apa?" ia terlonjak kaget begitu mendengar suaraku. "Maaf aku mengagetkanmu, tapi kau terlihat begitu kebingungan."

Ia melihatku dengan panik, pandangan matanya kian kesana kemari. "A-a ee-e i-itu." ucapnya terbata-bata, "aku ingin roti melon."

"Ah, pasti sulit untuk membelinya dengan keadaan seperti ini bukan? Tunggu sebentar, biar kubelikan satu untukmu."

"Apa kau akan berteriak lagi?"

Geh! Ia melihatnya?! "Tidak…" Jawabku seraya tersenyum kikuk, "lihat ini."

Selain metode sebelumnya, ada satu trik lagi untuk bertahan di medan perang ini.

Aku berjalan menerobos gerombolan siswa itu, kemudian membiarkan tubuhku mengalir ke depan. Catatan, beberapa kali kau akan merasakan sikut menghantam wajahmu.

"Ini, kudapatkan satu untukmu." Segera kuberikan roti melon setelah berhasil membelinya. Kulihat matanya yang berbinar. Senyum merekah yang menghiasi wajahnya selaras dengan rambut merah menyalahnya. Perawakannya yang mungil dan rambut twintail menambah kesan manis pada dirinya.

"Terima kasih, senpai!"

Senpai? Jika kulihat lagi, ia memakai atribut anak kelas satu.

"Namaku Kasane Teto." Ujarnya memperkenalkan diri.

Kasane Teto.

Senyum lebar masih menghiasi wajahnya. Wajahnya yang terlihat kekanak-kanakan dan polos semakin membuatnya terlihat manis.

Aku ingin melihatnya tersenyum lagi.

"Kau telat, Len!" ia benar-benar memanggilku dengan nama depan.

"Maaf, harus ke toilet." Balasku, sedangkan ia hanya cemberut kesal.

"Benar juga, karena kau sudah menunjukan sesuatu yang menarik bagaimana jika sepulang sekolah nanti aku akan menemanimu dalam berkeliling sekolah. Full services!"

"Mengenai itu… kurasa aku akan meminta orang lain melakukannya."

"eehhhhh…" Kisaragi terlihat kecewa.

"Bu-bukan berarti aku menolakmu." Balasku cepat. "Seseorang sudah menawarkan bantuannya kepadaku."

"Hmmm… siapa?"

"Nakajima Gumi." Balasku.

Aku tidak tahu mengapa namun Kisaragi terlihat begitu terkejut, "t-tunggu, Nakajima Gumi yang kau maksud itu…?"

"Nakajima Gumi dari komite disiplin."

"Sulit dipercaya…" Kisaragi terperangah, "maksudku, Nakajima meskipun terlihat manis tapi menyeramkan loh. Orang yang menyatakan perasaannya selalu berujung depresi."

"Benarkah?" Sejujurnya aku tidak begitu terkejut. Nakajima yang cantik pasti cukup populer. "Harus kuakui lidahnya memang tajam namun ia baik hati."

Kisaragi terlihat ingin mengatakan sesuatu, ia berkali membuka mulutnya sebelum menutupnya lagi. Namun sedetik kemudian senyum merekah di bibirnya. "Fufu… kalau begitu biarkan aku ikut. Lagipula aku tidak punya kegiatan apapun seusai sekolah!"

Seusai bel tanda pulang sekolah berbunyi aku segera pergi ke kelas 2E, letaknya yang bersebelahan sejujurnya cukup membantuku. "Permisi…" panggilku pelan, kurasakan beberapa pasang mata menatapku. Ah- mataku dengan mata Nakajima bertemu, "Nakajima." Panggilku.

"Ada apa?" Jawab Nakajima dengan malas seraya menghampiri. Kini kurasakan tatapan yang mengarah kepadaku kian banyak. Kisaragi tersenyum menikmati.

"U-ummm… kurasa aku akan menerima tawaranmu. Mengenai tur keliling sekolah." Jawabku gugup.

Nakajima terlihat seperti mengingat sesuatu, tunggu- kau tidak melupkannya kan? "Ya, kurasa aku memang mengatakan hal seperti itu. Hm?" kulihat Nakajima mengubah arah pandangnya menuju Kisaragi. "Kenapa ada Kisaragi di sini?" mereka saling kenal?

"Ia memaksa untuk ikut."

"Kalau begitu kenapa kau tidak meminta bantuan Kisaragi saja?" Nakajima terlihat jengkel.

"Eh?! Memangnya kenapa?! The more the merrier!" Protes Kisaragi.

"Mengapa juga kau sampai repot-repot meminta bantuanku?" Ah, ia mengabaikannya.

"I-itu…" Aku memang punya alasanku sendiri, namun mengatakannya agak memalukan. Kurasakan wajahku memerah karenanya. "A-aku ingin mengenal lebih dekat Nakajima. Aku harap kita bisa berteman."

Kini tatapan yang mengarah kepadaku berubah menjadi aneh. Nada terkejut bisa terdengar di sekitar.

"Hoi, dia berani mendekati Nakajima loh!"

"Boleh juga!"

"Another fallen soldier soon."

Sejujurnya ada apa dengan murid kelas ini?

Aku bisa mendengar Kisaragi menahan gelak tawa.

"Apa kepalamu sakit?" Ini dia- lidah tajam milik Nakajima. "Mau bagaimana lagi," ia menghela nafas panjang sebelum berjalan keluar kelas, "mari."

Aku dan Kisaragi berjalan mengikutinya, sudah kuduga Nakajima itu baik hati.

Selang beberapa lama Nakajima menunjukanku sekitar sekolah dan Kisaragi kerap menambahkan penjelasan mengenai beberapa hal. Kini kami berada di depan ruang osis. Berhenti sejenak, kulihat Nakajima mengetuk pintu.

"Eh? Kita masuk ke dalam?" Tanyaku.

"Tidak apa, osis sedang tidak sibuk sekarang. Aku ingin kau bertemu dengan ketua." Jawabnya sebelum sebuah panggilan menyuruh kami masuk dari dalam. Nakajima membuka pintu, dan kami ikut masuk ke dalam.

"Ah, Nakajima." Panggil satu-satunya orang yang berada di dalam ruangan. Kulihat ia tengah duduk di balik meja, beberapa buku dan lembaran kertas memenuhi permukaannya. Ia menyibak rambut panjang berwarna merah mudanya, membiarkan kami dapat melihat wajah cantiknya lebih luas. Meskipun ia sedang duduk aku menyadari bahwa ia cukup tinggi. Perawakannya yang terlihat dewasa membuatku terpana.

"Selamat siang, Senpai." Sapa Nakajima. Mungkinkah orang itu adalah ketua osis?

"Siang, Nakajima. Siang juga Kisaragi. Dan kamu…" ia kini menatapku. Ditatap gadis secantiknya membuat dadaku berdegup kencang.

"Kagamine Len. Aku murid pindahan. Selamat siang, senpai." Sapaku seraya memperkenalkan diri.

"Ah, murid pindahan!" Ujarnya seraya tersenyum. "Selamat datang di Hoshigaoka, namaku Megurine Luka. Aku ketua osis di sekolah ini."

"Salam kenal, Senpai." Balasku, kulihat Megurine-senpai mengangguk seraya mempertahankan senyumannya.

"Kagamine." Nakajima, memecah obrolan kami. "aku seharusnya menawarkanmu untuk masuk ke dalam klub . Namun sebagai anggota komite sendiri aku tentunya lebih merekomendasikanmu untuk ikut bergabung dengan salah satu komite sekolah, tentu saja itu juga berlaku untuk osis."

Megurine-senpai menepuk tangannya, senyumnya kini semakin lebar, "ah ide bagus. Cukup disayangkan namun kami kekurangan tenaga dalam komite sekolah, dan juga kami kekurangan tenaga bantuan pada osis."

Melihat kejadian ini yang begitu tiba-tiba aku tidak tahu harus membalas apa. Namun Megurine-senpai yang melihatku kebingungan segera menambahkan, "Tentu kami tidak memaksamu untuk bergabung. Kau berhak menolaknya, menjadi tenaga bantuan tanpa terikat oleh komite juga tidak apa-apa. Itu juga berlaku untukmu loh, Kisaragi."

"Kurasa aku akan menolak tawaranmu, senpai." Balas Kisaragi seraya tertawa renyah.

"Begitu, sayang sekali."

"Kalau begitu, kami permisi, Senpai. Kami harus berkeliling sekolah lagi. Maaf sudah menganggu."

"Tidak apa Nakajima. Terima kasih atas kerja kerasmu."

Kami melanjutkan perjalanan kami mengitari sekolah, beberapa kali Kisaragi dan Nakajima terlihat mengobrol satu sama lain.

"Kudengar-dengar osis hanya berisi Megurine-senpai saja." Ujar Kisaragi.

Hal itu sontak mengagetkanku. Bagaimanapun kedengarannya itu tidak wajar.

"Hmmm…" Nakajima terlihat berpikir sebelum membalas, "bukan berarti tidak ada yang mau bergabung dengan osis. Namun posisi yang lain selain ketua sama sekali tidak begitu dibutuhkan."

"Kenapa begitu?" Tanyaku penasaran.

"Di sekolah ini komite maupun osis tidak begitu memiliki pekerjaan yang banyak. Hanya dalam event tertentu saja. Dan dalam kegiatan seperti itu biasanya kami memiliki relawan. Namun seperti yang Megurine-senpai bilang, bagaimanapun kelihatannya kami jelas tidak memiliki banyak anggota."

"Megurine-senpai adalah sosok yang sempurna, jadi menurutku ia bisa mengatasinya sendirian." Timpal Kisaragi.

"Kurasa kau benar… ia, benar-benar wanita yang sempurna." Nakajima membalas, "namun tentunya merepotkan dalam bekerja sendiri, jadi kami anggota komite yang lain sesekali membantunya. Maka dari itu posisi osis yang lain tidak begitu diperlukan. Dan lagipula pekerjaannya sangat efisien sehingga ia terlihat tidak begitu membutuhkan bantuan kami."

Aku hanya mengangguk mengerti.

Megurine Luka.

Wanita yang sempurna. Image itu sejujurnya tidak berlebihan jika ditujukan kepada Megurine-senpai.

Secercah rasa kagum akan Megurine-senpai muncul dalam benakku.

"Oya, oya." Mendengar suara panggilan yang tertuju ke arah kami, Nakajima menghentikan langkahnya begitu pula kami yang refleks mengikuti.

"Wajah baru, tentu saja, sosok murid pindahan yang sering dikabarkan, Nya!"

Nya?

"Wah, SeeU!" Kisaragi segera menyapa dengan senyum cerahnya. Nakajima hanya mengehela nafas untuk yang ke sekian kalinya.

"Ada Rin juga rupanya, Nya!"

Yang menyapa kami adalah gadis enerjik dengan tubuh atletis, rambut panjang selututnya yang bergelombang dan berwarna emas cerah. Kudapati aksesoris telinga kucing menghiasi kepalanya. Apa ia sedang memerankan sebuah karakter? Tidak heran mengapa cara berbicaranya sangat aneh. SeeU? Apakah itu nama panggilan dari gadis dihadapanku ini?

"Namaku Kim Seeu, Nya!"

"Dia berasal dari Korea, Len."

Jadi itu mengapa namanya terkesan asing. "Namaku Kagamine Len. Salam kenal… Kim?"

"Panggil saja SeeU, Nya!" Serunya, "Len, nya! Sudah bergabung dengan klub, Nya?"

Aku menggelengkan kepalaku, memberitahu bahwa aku belum bergabung dengan klub atau komite manapun.

"Bagus, Nya! Tertarik untuk ikut klub kultur, Nya?!"

Klub kultur?

"Maksudmu klub otaku, kan?" Ujar Nakajima dingin. Aku melihat tanda bertuliskan Klub Otaku di pintu ruangan di depan kami.

"Anime dan manga adalah bagian dari kultur, Nya! Menjadi otaku berarti menghargai kultur, Nya!"

Memainkan peran? Bukan. Ia hanyalah seorang otaku! Dan seorang gaijin pula!

Aku hanya tersenyum lemah seraya tertawa kecil.

"Ah, aku tidak seharusnya menahan kalian ketika sedang mengantar Len berkeliling sekolah, Nya!" Ia memanggilku dengan nama depan?

"Len, kau bebas bergabung dengan kami, Nya! Namun jika kau tidak menginginkannya kau bisa bermain kapanpun kau mau, Nya! Itu juga berlaku untuk Rin dan Gumi, Nya!"

"Tentu saja aku akan bermain lagi nantinya, SeeU!" Rin menjawab dengan semangat.

"Kalau begitu kami permisi." Dan kurasa Nakajima tidak begitu memperdulikannya.

"Sampai bertemu lagi, Nya!" Ujar SeeU seraya melambaikan tangannya begitu kami pergi.

"Len, apa kau menyukai hal seperti manga atau anime?" Tanya Kisaragi setelah kami melanjutkan perjalanan kami.

"Aku cukup menyukainya, aku juga punya beberapa koleksi manga di kamarku."

"Heee… kalau begitu kapan-kapan mari saling bertukar rekomendasi! Bersama dengan SeeU juga."

"Hm, kurasa boleh juga."

"Apa itu berarti kau akan bergabung dengan klub otaku?" Ujar Nakajima begitu mendengar obrolan kami.

"Entahlah. Aku memang cukup menyukai manga dan menonton beberapa anime. Namun tidak cukup untuk disebut sebagai seorang otaku."

Nakajima hanya mengangguk pelan ketika mendengar jawabanku.

SeeU.

Dalam satu sisi kau bisa melihatnya sebagai orang yang aneh. Namun di sisi lain, kau bisa melihat sisi menarik dari dirinya. Bagiku, SeeU adalah gadis enerjik dengan dunianya sendiri. Dan harus kuakui, aku juga ingin melihat dunia milik SeeU.

Pikiran akan ia membawaku ke dunia yang tidak begitu familiar terdengar cukup menyenangkan.

Nakajima dan Kisaragi menarikku ke sana dan kemari setelah itu. Ruang kelas, ruang klub, lab, gymnasium, perpustakaan kemudian tempat pemberhentian kami selanjutnya. Lapangan track.

Suara gema siswa menguar di udara. Teriakan semangat dan deru sepatu menghantam tanah menjadi hiruk pikuk. Klub lari terlihat begitu bersemangat. Meskipun begitu, suasana ini tidak begitu ramai dibandingkan tadi. Absennya Kisaragi memberi ruang kosong. Hanya ada aku dan Nakajima saat ini. Sebelum kami menuju lapangan, Kisaragi segera pamit dengan tergesa-gesa.

"Setelah itu klub lari bukan! Kalau begitu aku permisi dulu, dah!" ucapnya tergesa-gesa sebelum pergi dengan senyum bodoh di wajahnya.

Aku yang terheran hanya terdiam melihatnya sebelum Nakajima menjawab tanda tanya besar di kepalaku, "Mungkin ia hanya tidak ingin direkrut klub lari. Kisaragi cukup atletis dan punya nilai bagus dalam P.E. Dan tentu saja klub lari kerap mengajaknya bergabung."

"Klub lari kami begitu kuat." Ujar Nakajima membuyarkan lamunanku. "Meskipun hanya untuk siswa perempuan."

Kalau dilihat-lihat memang hanya terdapat siswa perempuan di sini. Kurasa klub lari tidak begitu diminati siswa laki-laki di sini.

Kulihat salah satu siswa perempuan menghampiri kami. Rambut perak dengan gradasi warna ungunya di ikat twintail rendah. Ia terlihat mengenakan seragam olahraga lengkap dengan jaketnya. Kurasa ia sedang dalam sesi istirahat. Bisa kulihat bulir keringat mengucur dipipinya yang putih bagai porselen.

"Yukari. Bagaimana dengan kegiatan klubmu?" Tanya Nakajima ke siswa yang menghampiri kami. Nakajima mempunyai teman rupanya.

"Seperti biasa." Jawabnya singkat seraya tersenyum. "Tumben sekali melihatmu bersama seorang laki-laki."

"Aku hanya mengantar siswa pindahan ini berkeliling sekolah."

"Dan kau membawanya ke sini?" Ia bertanya seolah itu hal aneh. Bagaimanapun tidak ada sosok pria lain selain aku di sini.

"Aku hanya menunjukakkannya lapangan track. Bukan berarti mengusulkannya untuk bergabung klub lari."

"Kau ini serius sekali. Aku hanya bercanda tahu?" Ujarnya seraya tertawa. "Perkenalkan, namaku Yuzuki Yukari. Aku teman sekelas Gumi dan anggota klub lari." Ujarnya kemudian seraya mengulurkan tangan.

Aku menyambut uluran tangannya seraya memperkenalkan diri, "Kagamine Len. Salam kenal."

"Mungkin tidak ada banyak hal yang bisa kau lakukan di sini selain melihat klub lari latihan. Jangan melakukan hal aneh, loh! Kau akan dapat masalah jika kau menguntit!" Yuzuki memperingati sebelum ia mulai berlari kelapangan seraya berujar, "Aku harus kembali latihan. Salam kenal, Kagamine. Sampai jumpa lagi, Gumi."

Aku dan Nakajima saling terdiam melihat klub lari menjalani sesi latihan.

Yuzuki Yukari.

Ada pesona tersendiri yang membuat kedua mata kami tertuju kepada Yuzuki yang berlari dengan cepat menyusuri lapangan. Senyum merekah menghiasi wajahnya, namun matanya terlihat tajam dan fokus.

Yuzuki yang sedang berlari, di mataku terlihat sangat bersinar.

"Mungkin itu saja yang bisa kutunjukkan kepada mu." Ujar Nakajima setelah kami pergi dari lapangan track. "Aku harus pergi. Kau bebas untuk berkeliling lagi. Tapi jangan pulang terlalu larut malam."

"Terima kasih banyak!" Seruku seraya membungkuk. Nakajima segera pergi setelah itu.

Ini belum terlalu sore, pikirku. Nakajima hanya memberi penjelasan singkat mengenai fasilitas dalam sekolah sehingga kami tidak memakan begitu banyak waktu. Apa yang harus kulakukan selanjutnya? Sangat disayangkan jika pulang ke rumah sekarang. Tunggu- ada satu tempat yang belum kukunjungi.

Segera aku melangkahkan kakiku menuju tempat itu. Kunaiki anak tangga demi anak tangga. Ya, tempat yang ingin kukunjungi adalah atap sekolah. Kuharap atap sekolah tidak dilarang untuk murid.

Berdiri di depan pintu yang menuju atap sekolah kurasakan dadaku berdegup kencang. Berharap penuh agar pintu tidak dikunci, aku segera memutar kenop. Clik! Suara pintu terbuka diikuti suara derit tidak nyaman segera mengisi telingaku. Aku bernafas lega sebelum melewati pintu besi itu.

Angin terasa menyejukkan di sini. Kurasakan semilir musim semi menghembus rambut pirangku, sinar mentari pun turut hangat menyambut kulitku. Aku segera mengisi relung paru-paruku dan menghembuskannya dengan perlahan. Aku tidak percaya Nakajima melewatkan tempat ini.

Hm?

Apa perasaanku saja, atau aku mendengar suara orang lain di sini?

Bukan perasaanku, benar-benar ada orang lain di sini. Aku bisa mendengar suara nyanyian dibalik semilir angin yang berhembus. Meskipun samar tapi suara yang ditangkap kedua telingaku terdengar sangat indah.

"I stretched my fingertips out into the sky~ as if seeking an unknown answer~"

Bagaikan naga siren yang menghipnotisku aku segera mencari asal dari suara itu.

"Our monotone days were painted anew with brilliant colors~"

Aku menemukannya.

Dengan punggung yang menghadapku, ia berdiri menatap mentari. Suaranya yang merdu menerobos hembusan angin musim semi. Rambut tosca yang diikat twintail dibawa oleh semilir angin- terlihat ikut menari dalam senandung yang membuai telinga.

"Even as we stand back-to-back on your abandoned runaway~ your headwins hits my back~"

Aku hanya bisa terdiam menikmati melodi yang dilantutkannya. Terbuai dalam suaranya yang merdu.

"To the next sky~ Pass through the dawn-"

Aku tahu lagu ini.

"Precious wings." "Precious wings~"

"Eh?"

Ah! Sadar bahwa aku bergumam terlalu keras sehingga ia menyadari keberadaanku aku segera menutup mulutku seraya merutuki kebodohanku. Mau bagaimana lagi? Aku menyukai lagu itu, dan suaranya yang merdu membuatku ingin menyanyi sehingga tak sadar aku melengkapi lirik yang dilantunkannya.

Kulihat ia perlahan memutar tubuhnya ke arahku.

Sedetik kemudian aku terpana. Bola matanya yang berwarna selaras dengan rambutnya menatap mataku. Wajahnya yang cantik melekat dalam pikiranku. Namun entah mengapa aku merasa familiar dengannya- di mana aku pernah melihatnya? Tenggelam dalam pikiranku ia membuka mulutnya,

"Kenapa?" Gumamnya. "Kenapa kau bisa berada di sini?"

Kenapa? "Pintunya tidak terkunci."

"Ah!" Ia terlihat kaget akan jawabanku, "t-tidak, bukan itu!" ia menggelengkan kepalanya, rambut twintail panjangnya bergerak mengikuti. "Siswa tidak diperbolehkan berada di atap sekolah."

Lalu, mengapa ia ada di sini? "M-maaf, aku tidak tahu. Aku baru saja pindah hari ini."

"Murid pindahan?" Ujarnya. "Wajar kalau kau tidak tahu kalau begitu." Ia nampaknya memaafkanku.

"Lalu kenapa kau bisa berada di sini?"

Ia terdiam sejenak, "ini adalah tempat rahasia milikku." Ujarnya sebelum mengeluarkan sebuah benda yang terlihat seperti kunci.

"Kau mencurinya?" Tanyaku curiga.

"T-tidak! Aku menemukannya!" Sangkalnya cepat, "dengar. Jangan pernah ceritakan masalah ini kepada siapapun!" jari telunjukknya menunjuk ke arahku.

"Aku tidak akan menceritakannya kepada siapapun, namun dengan satu syarat." Ia melihatku dengan cemas. Sebesat rasa takut ada di raut wajahnya. Kata 'syarat' nampaknya membuatnya tidak nyaman. "Bolehkah aku kembali lagi ke sini dan mendengar nyanyianmu lagi?"

"Eh?" Ia terlihat bingung dan menatapku dengan mata lebarnya. Sedetik kemudian senyum tipis menghiasi wajahnya. "Baiklah, kalau memang itu adalah kesepakatan kita."

Aku membuat pose kemenangan dalam hatiku ketika mendengarnya.

"Tunggu, apa aku pernah bertemu denganmu sebelumnya?" Tanyaku kemudian, sesungguhnya perasaan déjà vu yang sedari tadi kurasakan sangat menggangguku.

"Apa aku tidak begitu populer?"

"Eh?"

"Namaku Hatsune Miku."

Hatsune… Miku…

Eh?! HATSUNE MIKU!

Tentu aku mengenalnya, ia adalah artis yang terkenal. Dan karirnya cukup melonjak beberapa bulan ini. Ia sudah membintangi beberapa iklan dan juga memerankan beberapa karakter dalam serial drama pendek.

Orang seterkenal ia satu sekolah denganku?! Ini benar-benar sulit dipercaya!

"Kau benar-benar Hatsune Miku?" Tanyaku setengah percaya, ia mengangguk mengiyakan.

Sekali lagi, ini benar-benar sulit dipercaya. Kalau ia benar-benar Hatsune Miku ada banyak hal yang ingin kusampaikan, contohnya… "A-aku menyukaimu!"

"Eh?" Melihatnya yang kebingungan aku segera menyadari kebodohanku. Wajahku memerah karenanya.

"B-bukan itu maksudku! Fans! Aku adalah fansmu!"

Melihatku yang bertindak bodoh, ia tertawa renyah. "Benarkah? Terima kasih, umm…"

"Kagamine. Namaku, Kagamine Len."

"Kagamine, apa yang membuatmu menyukaiku? Aku tidak begitu populer belakangan ini dan dalam serial drama pun aku tidak pernah memainkan tokoh penting."

"Lagumu!" Jawabku cepat. "Aku menyukai suaramu dan lagumu."

Ia terkejut mendengar jawabanku sebelum tertunduk seraya tersenyum tipis. Sesungguhnya aku tidak menyangka akan mendapat respon seperti itu. "Terimakasih." Gumamnya. "Kagamine, benarkah kau ingin mendengarkanku menyanyi lagi?"

"Tentu!"

Kulihat senyum di wajahnya semakin lebar ketika mendengar jawaban semangatku.

Hatsune Miku.

Dapat mengenalnya dan menjadi lebih dekat dengannya tentu membuatku sangat bahagia. Karena, sejak pertama kali aku mendengarnya bernyanyi aku segera terbuai olehnya.

Sejujurnya aku ingin mendengar suaranya yang merdu setiap saat.

Meninggalkan atap sekolah aku masih merasa tubuhku gemetar karena kegirangan. Bukan hanya fakta bahwa Miku berada di sekolah yang sama, namun juga karena kenyataan bahwa kami sekarang menjadi teman. Kau benar-benar beruntung bukan, Len?

Kurasakan wajahku membentuk seutas senyum seraya menuju ke luar sekolah. Sayang sekali aku tidak bisa mengobrol dengan Miku hari ini, tapi pastinya kesempatan di masa depan tidak akan kusia-siakan!

Sebagai fans Miku tidak ada yang lebih membahagiakan daripada ini. Siapapun fans Miku pasti ingin bertukar posisi denganku sekarang.

"Hei… bagaimana kalau murid pindahan itu?"

Merasa diriku terpanggil, aku memberi tatapan apa? kepada dua siswa laki-laki dihadapanku. Kulihat mereka berjalan menghampiri kemudian. Mereka ini… kalau ingatanku tidak salah, mereka berada di kelas yang sama denganku.

"K-kagamine…" ujarnya canggung, "aku tahu kau baru pindah sekolah dan aku mungkin kurang ajar dalam hal ini, tapi… Kumohon tolong bantu kami!" Lanjutnya sebelum membungkuk sembilan puluh derajat sempurna.

Aku sontak terkejut melihatnya dan tatapan sekitar yang mengarah ke kami sejujurnya sedikit mengganggu. Ada apa sebenarnya dengan mereka ini?

Melihatnya yang masih dalam posisi membungkuk tanpa bergeming aku mengalihkan tatapanku ke siswa satunya, namun ketika pandangan kami bertemu ia segera mengikuti langkah temannya.

Aku mulai merasa panik ketika mendengar bisik-bisik sekitar.

Merasa sudah di skakmat aku mengiyakan permintaan tolong mereka seraya mengembuskan nafas panjang.

"Eh Kagamine berasal dari Shionagi?"

"I-iya." Jawabku terbata-bata, sesungguhnya direnteti pertanyaan sedari tadi membuatku kebingungan.

"Apa Kagamine sudah punya pacar?" Kini suara berbeda terdengar.

"Be-belum."

"Heee… mengejutkan sekali."

Kalau kau bertanya apa yang sedang terjadi. Aku, Kagamine Len, sedang mengalami yang namanya kencan buta. Berhadapan dengan perempuan, sejujurnya aku tidak berpengalaman dalam hal ini. Kulihat mereka memakai seragam yang sama dengan sekolah kami. Kami yang ada di sini satu sekolah rupanya. Menjadi subyek rasa tertarik orang lain sejujurnya membuatku tidak nyaman. Semoga nantinya tidak ada rumor aneh tentangku di sekolah.

Oh iya, bagaimana dengan dua siswa laki-laki tadi. Ya, mereka diabaikan. Sesekali mereka mencoba membuka topik namun kerap diacuhkan. Hasilnya? Tatapan iri mereka menusuk kulitku, terkadang dapat kudengar geraman dan gigi gemeletuk. Tolong jangan dendam kepadaku, aku di sini juga kesusahan tahu!

Lagi. Pertanyaan demi pertanyaan yang kujawab dengan terbata-bata.

"Eh, ada apa Neru?"

Salah satu dari mereka berdiri. Berdasarkan perkenalan kami di awal, kalau tidak salah namanya Akita Neru. Aku sampai melupakannya karena ia hampir tidak pernah berbicara. Ia hanya melihat smartphonenya sedari tadi.

"Maaf, aku harus pergi. Aku baru ingat kalau harus berbelanja." Ujarnya seraya menepukkan kedua tangannya.

"Mau bagaimana lagi…"

"Maaf. Sampai jumpa besok!" Akita segera pergi seraya tersenyum kepada temannya.

Mungkinkah ini kesempatanku?

"Maaf, tapi aku harus pergi juga."

"Ehh, Kagamine juga?"

"Aku harus menyiapkan makan malam untuk kakakku."

"Kagamine bisa memasak?!"

Uh… entah mengapa aku merasa mereka semakin menatapku dengan mata yang berbinar.

"Begitulah." Jawabku lemah, "aku harus pergi, sampai jumpa lain waktu." Lanjutku seraya melambaikan tanganku, para perempuan turut melambaikan tangannya, sedangkan laki-laki tersenyum cerah melihat kepergianku. Meskipun kita ini satu kelas, kalian ini tega sekali.

Aku segera pergi meninggalkan kafe itu dengan tergesa-gesa. Akhirnya. Berhasil melarikan diri membuatku merasa lega. Maaf jika terdengar kasar, tapi aku tidak cukup menikmati hal ini.

"Hmmm… kau berhasil melarikan diri juga rupanya."

"Eh?" Mendengar suara yang cukup familiar membuat ku menoleh. Akita!

"Kau cukup terlihat tergesa-gesa, Kagamine." Akita memincingkan matanya ke arahku, tatapan matanya yang tajam membuatku bergidik. "Dasar munafik."

"B-bukan begitu!" Bantahku, "aku hanya terseret dalam hal ini! Ini pertama kalinya bagiku dan aku tidak begitu tertarik dengan kencan buta."

Aku merasa sedikit panik. Bagaimana jika nanti Akita menyebarkan rumor, atau dia menceritakan hal ini kepada temannya yang tadi? Aku tidak begitu mengenal Akita. Namun, ia cukup menyeramkan. Apa ini sifat Akita yang sebenarnya? Sifatnya sangat berbeda dengan Akita yang tadi.

Di tengah diriku yang merasa ketakutan kulihat Akita membentuk seutas senyum.

"Tidak apa kok. Lagi pula hal seperti melarikan diri sudah wajar."

Aku menghela nafas lega ketika mendengarnya, "Apa kau sudah sering mengikuti kencan buta."

"Ya. Tapi aku ini sama sepertimu. Aku hanya terpaksa ikut." Ujar Akita malas sebelum matanya menatap layar smartphonenya. Ia kembali menjadi Akita yang berkutat dengan smartphonenya.

Hm? Terpaksa? Lagi pula sebelumnya ia mengatakan 'kau berhasil melarikan diri juga rupanya.' bukan?

"Akita."

"Apa?"

"Kalau kau tidak ingin ikut kencan buta kenapa tidak bilang saja."

Akita tersentak, jari-jemarinya yang bergerak cepat di atas layar smartphone terhenti seketika, "b-bagaimana kau…"

"Ya. Kau sendiri yang bilang kalau ini bukan pertama kalinya kau ikut. Lagi pula alasanmu yang barusan juga bohong kan? Kau juga melarikan diri."

"Untuk urusan seperti ini kau cukup pintar rupanya." Ujarnya dengan nada rendah. "Maaf saja ya kalau aku sendiri yang munafik!" Lanjutnya dengan nada kesal.

"T-tidak, aku tidak bilang kalau kau begitu."

"Tidak apa, tidak apa." Ia mengibaskan sebelah tangannya dengan malas, "kau tidak terlihat seperti orang yang akan menyebarkan gosip. " Lanjutnya sebelum kembali menatap layar smartphone. Seperti apa kata Akita, aku sama sekali tidak tertarik untuk menyebarkan masalah ini ke orang lain.

"Ah benar juga. Kagamine, apa kau punya Lime?"

"Punya sih…"

"Mari bertukar ID. Lagipula temanku akan senang jika aku memberi mereka ID mu."

"U-umm…" melihatku yang keberatan Akita menyeringai.

"Aku bercanda. Jika mereka menginginkannya, mereka harus berusaha bukan? Cepat berikan saja. Anggap saja aku mulai tertarik denganmu."

"Ba-baiklah." Kami segera bertukar ID Lime setelah itu.

"Yup!" Ujarnya puas seraya menatap layar smartphone dengan profile Limeku di sana. "Kalau begitu aku pergi dulu, Aku pasti akan memberimu pesan jika aku sedang bosan." Lanjutnya sebelum pergi dengan smartphone di tangannya.

Akita Neru.

Aku tidak bisa menebak seperti apa orang ini. Sifatnya yang berubah-ubah kerap membingungkanku. Ia mengatakan dirinya munafik. Aku tidak tahu kalau itu benar atau tidak. Tapi jika iya, setidaknya ia punya masalahnya sendiri bukan?

Aku menatap layar smartphoneku dengan profil Akita di sana. Aku ingin tahu seperti apa sosok Akita Neru itu.

Aku harap kami dapat berbicara mengenai banyak hal nantinya.

Hm? Sesuatu yang familiar tertangkap oleh sudut pandanganku.

Namun ketika aku menoleh ke sana, aku tidak mendapati apa yang barusan kulihat. Mataku terpaku kepada tulisan besar dengan bertuliskan Game Center.

Mungkinkah…?

Merasa penasaran aku segera masuk ke dalam.

Kepalaku menoleh kesana-kemari. Ah- ketemu.

Di hari pertama kami bertemu, aku tidak bisa menyingkirkan dirinya dari ingatanku.

Perawakannya yang seperti putri terlihat sangat mencolok di sini. Mungkin kelihatannya tidak bisa dipercaya, tapi apa yang kulihat dengan mata kepalaku tidak mungkin salah.

Itu… Morinaga Mayu.

Di Game Center, ia terlihat kebingungan. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya seraya menolehkan kepalanya kesana-kemari.

"Morinaga." Melihatnya yang tengah kesusahan, aku segera memanggilnya. Kulihat ia tersentak mendengar suaraku. Kepalanya bergerak terbata-bata mengikuti suaraku.

"K-kagamine!" Ia membelalakan matanya terkejut. "A-anu a-aku…" lanjutnya terbata-bata.

"Morinaga menyukai game juga rupanya. Game apa yang sering kau mainkan?"

Kulihat ia menggelengkan kepalanya dengan kuat. Rambut peraknya yang indah bergerak kesana kemari. "T-tidak, aku hanya penasaran saja. K-kagamine, apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku hanya sedang berkeliling." Jawabku. Kulihat tubuh Morinaga yang gemetaran. "Ada apa, Morinaga?"

"K-kau akan mengejekku?"

"Eh? Kenapa?"

"Maksudku… hal seperti ini sangat asing bagi perempuan bukan? Jadi bukankah aneh melihat perempuan berada di sini?"

Ya, melihat Morinaga yang seperti putri berada di sini rasanya memang cukup aneh. Tapi tentu aku tidak akan mengatakan hal itu bukan?

"Tidak juga. Kurasa sekarang ini cukup banyak perempuan yang memainkan game. Jadi benar-benar tidak terlihat aneh kok. Di kota asalku cukup banyak siswa perempuan yang menghabiskan waktu di Game Center." Jawabku.

"Benarkah?"

Aku mengangguk mengiyakan. "Kau bilang kau penasaran dengan game bukan? Sejujurnya ketika aku melihatmu, kau terlihat sangat kebingungan."

Morinaga mengalihkan pandangannya dengan cepat. Tubuhnya terlihat mulai gemetar lagi.

"Bagaimana kalau aku menemanimu?" Ucapku kemudian.

Morinaga melihatku dengan terkejut. "Bolehkah?"

Aku mengangguk mengiyakan.

"Kalau begitu tolong bantuannya, Kagamine!"

Kami mencoba berbagai game setelah itu. Morinaga terlihat kesulitan pada awalnya, namun seiring waktu ia mulai belajar banyak hal. Terutama dalam hal fighting game, dapat kurasakan Morinaga begitu antusias. Bisa mempelajari mekanisme serta berbagai kombo dari beberapa karakter dalam waktu singkat, kurasa Morinaga adalah seseorang yang jenius. Namun-

"Aku tidak percaya bahwa aku tidak menang sekalipun darimu." Ujar Morinaga kesal saat kami berjalan keluar dari Game Center.

"Kurasa kau cukup hebat bisa mempelajari banyak kombo dalam waktu yang singkat."

"Benarkah. Kurasa tidak sesulit itu."

Oh, dia baru saja mengatakan apa yang orang jenius katakan.

"Sombong bukan? Kalau begitu bagaimana kalau kita bertanding lagi kapan-kapan?"

"Tantangan diterima." Balasnya seraya menyeringai, "ah. Sudah selarut ini rupanya."

Kulihat langit yang berwarna merah menandakan segera terbenamnya matahari.

"Kau benar. Apa kau ingin kuantarkan pulang?"

"Tidak perlu. Rumahku tidak jauh dari sini." Ucapnya seraya menunjukkan arah kemana rumahnya berada. Rumahku berada di sisi lain dari arah yang ia tunjuk.

"Apakah tidak apa?"

"Ya. Sampai jumpa besok, Kagamine. Itu tadi menyenangkan." Morinaga segera pergi, beberapa langkah kemudian ia berhenti sebelum berbalik menatap ku, "Kagamine. Terima kasih." Ujarnya seraya tersenyum. Aku terhenyak karenanya dan tidak bisa mengatakan apa-apa meski ia sudah berjalan pergi.

Morinaga Mayu.

Kesan pertama aku melihatnya adalah sosok putri yang sempurna. Wajahnya yang cantik, dan perawakannya yang elegan memancing setiap mata yang melihatnya. Melihat sisi lainnya yang seperti ini cukup mengejutkan. Jika aku menceritakan hal ini kepada yang lain, mereka pasti tidak akan percaya.

Aku ingin melihat sisi lain dirinya yang tidak diketahui banyak orang.

"Aku pulang…" Gumamku lemah seraya membuka pintu rumah. Kakak tentu belum pulang. Kurasa aku harus segera membuat makan malam. Kakak perempuanku memang payah dalam urusan rumah tangga. Jadi hampir semuanya dilakukan olehku. Ia sendiri sudah cukup sibuk dengan pekerjaannya, jadi aku tidak keberatan melakukan semuanya sendiri.

Di hari pertama kami mulai menjalani kesibukan masing-masing, kurasa aku harus membuat hidangan sedikit spesial. Aku akan membuat hidangan kesukaan kakakku.

Hamburg steak mulai mengeluarkan aromanya di atas panggangan. Aku segera menyajikan hidangan kesukaan kakakku itu di atas piring. Kemudian aku segera membuat scrambled egg dan sup tomat dengan brokoli.

"Aku pulang…" Aku mendengar suara lelah kakakku.

"Selamat datang, kak." sambutku dengan senyuman begitu ia masuk ke ruang makan. Aku segera menyajikan masakanku ke atas meja.

Perkenalkan. Kakak perempuanku yang tinggal satu atap denganku. Ia memiliki penampilan layaknya model, rambutnya yang sepinggang berwarna senada denganku. Bola matanya yang berwarna biru langit menatapku dengan gembira. Kau mungkin akan terpana jika melihatnya, namun-

"LEN!"

Ugh! Begitu melihatku ia segera berlari memelukku. Aku ikut terjatuh bersamanya karena tidak bisa menahan momentum. Kurasakan kakakku mengusap kepalanya di dadaku. Kalau kau heran dengan perlakuannya, biar kukatakan dengan jelas, kejadian ini sudah biasa dalam kediaman Kagamine.

"Aku seharian ini tidak melihat Len!"

"Ya, ya, kau sudah melihat adikmu ini. Cepat bangun."

"Hmph. Dinginnya…" ia menunjukan dirinya yang sedang cemberut. "ah… Len yang sedang memakai seragam." Lanjutnya kemudian dengan pelukan yang lebih erat. "Sniff… sniff…"

"Wah! Apa yang kau lakukan dasar mesum?!"

Ini sudah cukup. Merasa darahku yang naik ke kepala, aku segera menyingkirkannya dari atas tubuhku.

"Eh. Apa Len membenciku?" Gumamnya sedih, ia melihatku dengan matanya yang berkaca-kaca.

"Aku tidak membencimu! Tapi berhentilah menggodaku!"

"Tidak mau. Aku, Kagamine Lenka, adalah self proclaimed brocon!"

Ya, ini adalah kakakku. Kagamine Lenka. Orang yang punya masalah di kepalanya.

"Ya ampun. Kita sudah dewasa, sampai kapan kau mau begitu?" Ujarku seraya duduk di meja makan, Lenka segera mengikuti.

"Mungkin sampai kau punya pacar? Yah, Len cukup payah dalam masalah percintaan jadi ia tidak akan mendapatkan pacar dalam waktu dekat." Balasnya seraya membuka sekaleng bir. Mendengarnya berkata seperti itu membuatku kesal. Tunggu, sejak kapan ia mengambilnya dari kulkas?

"Hey, jangan minum bir sebelum makan malam!" Protesku.

"Tidak apa, cuma satu kaleng." Ia segera menenggak sekaleng bir dengan cepat.

Sekeras apa aku protes ia tetap tidak mendengar.

"Wah hamburg steak!" Matanya berbinar melihat makanan yang disajikan di atas meja. "Terima kasih Len, aku mencintaimu! Selamat makan."

Kagamine Lenka.

Aku menghela nafas panjang melihatnya. Berurusan dengan kakakku terkadang cukup menguras tenaga. Namun melihatnya yang menikmati makanan buatanku dengan sepenuh hati membuat diriku tersenyum.

Ia memang merepotkan. Namun aku menyayanginya.

Merasa tenagaku terkuras habis, aku segera merebahkan diriku di kasur. Benar-benar hari yang melelahkan.

"Pacar ya…" Aku bergumam seraya mengingat ucapan kakak. "Aku penasaran apa aku bisa mendapatkannya."

Banyak hal yang terjadi dalam satu hari. Aku juga bertemu dengan banyak orang. Beberapa dari mereka menarik perhatianku. Ingatan akan pertemuan mereka membekas di ingatanku.

Mungkinkah mendapatkan pacar bukan lagi hal yang mustahil?


Author Note:

Halo semuanya. Raganwald di sini. Saya memang sudah menekuni fanfiction. Namun mau mencoba membuat cerita sendiri. Jadi maaf kalo tulisan ini berantakan abis. Saya melihat kalau fandom vocaloid sudah tidak seramai dulu. Dan saya sangat mencintai vocaloid, seperti saat mereka booming pada tahun 2010-2015 dulu. Jadi saya memilih untuk membuat cerita di fandom ini, terutama karena fandom ini kaya akan karakter.

Gently Spring Breeze saya buat karena saya cukup menyukai VN. Dan menonton anime Amagami SS membuat saya berpikir. "Bagaimana kalau saya buat yang seperti ini?". Akhirnya lahirlah half-assed story berjudul Gently Spring Breeze.

Oh iya, kalau kamu cukup familiar dengan beberapa kata di sini seperti: Hoshioka, Shionagi, atau bahkan nama depan Aria yaitu Narusawa. Jangan heran, saya memang fanboy toneworks. Dan lagu yang dinyanyikan Miku adalah terjemahan inggris dari lagu Precious Wings yang menjadi soundtrack KonoSora. Jika itu ilegal mohon dikasih tau pasti akan saya ganti secepat mungkin.

Mengenai rute mana yang akan menjadi awal dari Gently Spring Breeze. Saya belum bisa menentukannya. Jadi kalian bisa mengusulkannya sekaligus memberi masukan lewat review.