Naruto : Masashi Kishimoto
Cerita ini by: gue lah pokonya.
Warning: Ancur ga ketolong, bahasa kacau, alur kayak maling motor yang dikejar warga, buta eyd dan kekurangan yang busuk-busuk semua ada di sini. mo baca silahkan, engga juga bodo amat. Author iseng lagi muahahaha.
.
.
.
"Maaf, kau pasti lama menunggu, aku benar-benar minta maaf untuk ini" Ino menunduk untuk mencium pipi Naruto. Ia membuka mantelnya dan langsung meminum sampanye yang ada di depannya.
"Sai tiba-tiba menelfonku, jadwalku jadi berantakan, kau yakin tak masalah?"
Naruto tersenyum memaklumi, memiliki kekasih seorang super model yang sibuk bukan hal yang mudah ketika ingin menghabiskan waktu bersama tanpa ada gangguan. Ia sudah tahu ini pasti akan terjadi "Aku memaklumi. Kau pasti sangat sibuk hari ini"
"Yah,.. akan ada pemotretan lagi untuk edisi musim gugur, jadi aku harus bersiap-siap karena itu benar-benar akan menyita waktuku. Ini membuatku lelah"
Naruto menaikkan alisnya, ia mulai terpikir sesuatu.
"Apa sekarang aku juga mengganggu waktumu?" Naruto merasa ia seperti baru saja menjadi pengganggu. Bagaimanapun, ia juga tidak akan senang jika ada orang lain yang mengusiknya jika waktunya ia sedang bekerja. Percayalah itu akan sangat menjengkelkan.
"Aaa tidak, bukan seperti itu" Ino menuang kembali sampanye itu ke dalam gelasnya. ia menuangkannya sampai separuh penuh. "Kau benar-benar membuatku penasaran karena ingin mengatakan sesuatu yang pentingkan? Apa itu.. hm?"
Naruto menggenggam kotak cincinnya, ia ragu dan ingin mengurungkan saja niatnya untuk melamar Ino malam ini. Belum lagi sepertinya Ino tidak berada dalam mood yang cukup baik. Naruto harus bersabar menunggu momen baik itu datang.
.
.
.
Dukkk!
"Ittai"
Sakura mengelus kepalanya yang baru saja terbentur dinding. Ia ketiduran lagi sehabis mengepel lantai sejak pagi sampai tubuhnya itu kelelahan dan butuh istirahat. Ia melihat jam sudah hampir tengah malam, jam kerjanyapun sudah hampir habis dan sudah waktunya untuk menutup restoran. Walau masih sangat lelah dan mengantuk ia harus bisa menahannya. Pekerjaan sekarang ini sangat sulit untuk dicari, dan ia tidak ingin dipecat hanya karena ia ketahuan tidur di saat jam kerja. Sakura sepertinya harus berterima kasih pada Temari, karena teman baiknnya itu pasti membantunya agar ia tidak ketahuan Anko karena tidur di restorannya.
"Sakura!"
"Y-ya"
Sakura cepat-cepat bangun setelah mendengar Anko yang memanggilnya, itu tidak akan bagus jika ia ketahuan. Dan ia tidak ingin itu terjadi.
Sakura memamerkan barisan giginya yang rapi dihadapan Anko. Wanita galak itu menaikkan alisnya, ia tahu gigi besar berkilau itu pasti menyimpan rahasia.
"Sangat mencurigakan" ucap Anko sambil memandang punggung Sakura yang sedang terburu-buru mengambil spons untuk mencuci piring.
.
.
.
Naruto memasukkan kembali tangannya untuk mengambil cincin dari sakunya, namun saat Ino kembali bicara Naruto kembali menarik tanganya. Naruto sangat deg-degan sampai perutnya terasa mual. Keberaniannya timbul dan menghilang di saat yang sama. Ia ingin mengatakannya sekarang juga namun Ino selalu saja menyela dengan segala keluhannya tentang karir kemodelannya yang semakin menurun.
"Sayang, apa aku bisa bertemu dengan ibumu? Tolong bilang padanya agar aku bisa bertemu dengan para desainer itu. Kau tahu? karirku sebagai model akan semakin bersinar jika aku mendapat bantuan orang dalam. Kau mau membantuku kan?"
Naruto meraba cincinnya lagi. Ia menatap Ino yang tersenyum manis ke arahnya. Naruto tak keberatan dengan semua kemauan Ino yang terkesan memanfaatkannya. Naruto memang terlalu mencintai Ino. Ia bahkan tidak peduli dengan semua itu dan rela memberi semua hartanya selama Ino bersamanya. Yang Naruto pikirkan hanyalah bagaimana ia bisa memenangkan Ino untuk malam ini! dan bagaimana ia harus mengatakan apa yang ada di kepalanya saat ini untuk segera melamarnya. Kepalanya terlalu pusing memikirkan itu semua, bahkan ocehan Ino hanya ditanggapinya dengan mengangguk patuh seperti orang bodoh.
"Saat aku di Paris, apa aku boleh memakai apartemenmu di sana? Bagaimana dengan rambut baruku, apa aku cocok dengan rambut pendek berwarna hitam? ah saat aku kemari ada kru bodoh yang menumpahkan soda di tas ku, bagaimana dengan yang baru? aku ingin tas kulit sayang, lihat warna pirusnya cantik kan?"
Ino terus mengabsen segala kebutuhannya dan Naruto hanya akan selalu mengatakan "ya" dengan mudah. Ino tersenyum puas mendengarnya, bibirnya terkembang penuh yang justru membuat Naruto tanpa sadar kembali jatuh cinta karena melihat senyuman Ino yang membuatnya bisa lupa akan dunia.
Ino adalah satu-satunya gadis yang membuat Naruto bisa percaya soal jatuh cinta, gadis itu begitu berarti untuknya.
Dan entah mendapat keberanian dari mana, Naruto baru saja mengatakannya, tanpa terbata-bata, dia begitu yakin dengan perasaanya kali ini.
"Menikahlah denganku, Ino?"
"..."
Beberapa detik hanya ada hening, Ino menatap cincin itu dengan bisu. Tidak ada berlian besar di atasnya. Naruto tidak berlutut atau menekuk kakinya, ia hanya menggenggam tangannya yang terasa hangat. Ino bahkan tidak tahu Naruto akan melamarnya malam ini, ia begitu terkejut. Sangat terkejut. Tapi..
"Maaf... "
"..."
Ino menutup kotak cincinnya itu dan ia bisa melihat bagaimana Naruto terlihat sangat kecewa di sana "Bisakah kita tidak terburu-buru, paling tidak dua tahun lagi setelah aku kembali dari Paris. Aku harus mengejar karirku Naruto, kita bisa menunggu kan?"
Naruto menatap kecewa cincin itu.
Ino menolaknya.
.
.
.
Ckittt!
Mobil van hitam besar itu berdecit sampai mengeluarkan bunyi bising di telinga. Nyaris saja si pengemudi hampir menabrak tiang lampu dipinggir jalan.
"Ouchh, Kepalaku! Kepalaku! Aku pasti mati, ibuuuuu!" Gai meringkuk sambil memegangi kepalanya yang kebentur dasboard tadi, cukup keras sampai kepalanya terasa pusing dan ia bisa melihat bintang berputar-putar di atas kepalanya tanpa teleskop.
Kakashi mendesis geram melihat Gai selalu rusuh kalau ikut melakukan misi bersamanya. Ia selalu berlebihan, padahal tidak terjadi sesuatu yang berbahaya.
"Ck... hentikan tingkahmu itu Gai, kita sudah sampai" Ucap Kakashi yang mematikan mesin mobil dan melepas seatbelnya.
Sedikit tak percaya, pelan-pelan Gai mengintip dari celah tangannya, sebenarnya ia belum berani melihat apapun. Pria berambut bob itu tidak bisa percaya begitu saja dengan si Kakashi tukang bohong-siapa tahu mereka saat ini sedang tergantung di ujung jurang dan Kakashi hanya menghiburnya. Kalau saja melihat bagaimana Kakashi menyetir seperti di sirkuit balap mobil tadi? cih... dia mana bisa percaya itu.
Gai membuka matanya, di depannya sudah ada restoran masakan Perancis yang menjadi tempat mereka untuk melakukan misi hari ini. Gai cukup lega, ternyata dia masih selamat.
"Kau sudah gila, Kakashi? Kau tahu itu hampir saja membunuh nyawa kita tadi!"
Kakashi mengedikkan bahu, tidak ingin peduli dan tidak ingin menceramahi orang yang lebih tua darinya, apalagi dia seorang Maito Gai. Itu hanya akan membuang-buang chakra.
"Kita tidak punya banyak waktu, kau tahu.. ini semua karena kesalahanmu Gai"
"Aku, kenapa aku?" Gai menunjuk dirinya sendiri dengan wajah polosnya itu. Kakashi menggeram sampai giginya bergemerutuk saat mengingat sudah berapa kali ia lari ke toilet dalam satu hari ini. Misi mereka jadi berantakan akibat diare karena ulah si rambut bulat itu.
Kakashi menarik kerah jaket Gai dan mendorong paksa wajahnya sampai menempel di jendela kaca mobilnya.
"Kau dan ramen kadaluarsamu itu yang membuat kita terlambat bodoh. kalau kita gagal dengan misi ini bukan hanya nyonya yang akan membunuhmu, tapi aku orang pertama yang akan lebih dulu menghabisimu, Gai"
Gai bergidik ngeri membayangkan ancaman Kakashi yang jarang diingkari oleh pria berambut putih itu jika ia sedang kesal. Pria itu terlalu serius untuk diajak bermain-main.
"Maa-maa jangan marah begitu Kakashi, kitakan bestfriend, ya. Toh alamatnya juga baru dikirim ibiki kan? tenang saja, misi kita pasti akan sukses"
"Cih.. berhenti membual Gai, siapkan semuanya"
.
.
.
.
.
23: 45 pm
Dengan perlahan Sakura mencoba membangunkan orang yang sepertinya sedang tidur itu.
"Tuan!" Sakura menepuk-nepuk bahu pria itu dengan pelan, sampai akhirnya ia bisa melihat iris biru pria itu mulai terbuka.
Naruto mengusap wajahnya dan melihat pelayan wanita disampingnya itu sedang memperhatikannya.
"Ah- maafkan aku" racau Naruto yang dengan cepat mengambil dompet di saku jasnya dan memberikan tip pada Sakura. Gadis itu hanya melongo saat diberi uang tip yang begitu banyak. Padahalkan dia mau membangunkan pria itu dan bukan minta tip.
Naruto mengangkat kepalanya dari meja. ia pergi dengan kepala yang terasa pusing. Ia menghabiskan sampanye itu sendirian. Penolakan ino akan lamarannya membuat ia kecewa. Naruto bahkan menghabiskan dua botol anggur itu sekaligus yang justru membuat kepalanya seperti ditimpa beton.
"Tuan? Tunggu.. anda hampir lupa membawanya" Sakura memberikan kotak hitam itu pada Naruto. Naruto yang melihatnya jadi teringat dengan penolakan Ino. Itu membuat hatinya kembali berdenyut.
"Buang saja!"
"Hah?" Sakura memutar-mutar kotak itu untuk menebak isinya, ia sebenarnya tidak cukup peduli untuk apapun yang ada di dalamnya, namun setelah ia membukanya Sakura hanya bisa menganga. Cincin putih berukiran spiral di sisi dalamnya itu terlihat berkilau di bawah cahaya lampu. Mata Sakura sekejap dibuat terpukau karena cincin itu sangat indah.
"Apa dia sudah gila?" Sakurapun segera tersadar, ia berlari untuk mengejar Naruto yang hampir menghilang di pintu keluar restoran.
"Tunggu, tuan! kau tidak boleh meninggalkan barang apapun di sini, jika memang tidak menginginkannya buang itu dengan tanganmu sendiri" Sakura menarik tangan Naruto dan ngeletakin cincinya dalam genggaman Naruto. Namun Naruto menarik tangan Sakura dan memasangkan cincin itu di jarinya.
"Apa yang kau-"
"Itu cantik, untukmu saja" Naruto berjalan pergi meninggalkan Sakura yang masih terpukau dengan cantiknya cincin itu.
'Ta-tapi... eh, kemana dia?" Sakura melihat pria itu tidak kelihatan lagi, dia melihat jarinya memang jauh terlihat lebih cantik. Ia menaikkan bahunya. "Sudahlah, toh dia sudah memberikannya untukku"
.
.
.
.
.
Di waktu yang sama :
Kau bisa melihatnya Gai?"
"Ya. Aku melihat tuan muda sudah memasang cincinnya, kuyakin dia pasti kekasihnya" Tak percaya dengan ucapan Gai, Kakashi merampas teropong itu dan memastikannya sendiri.
"Hm.. Itu pacar tuan Naruto!"
Kakashi memakai masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Gai mengenakan sarung tangan dan pakaian karet yang ketat. Mereka sudah siap dengan misi kali ini.
"Jalankan sesuai rencana Gai"
"Siap bosku"
Sakura kembali melanjutkan pekerjaanya sebelum Anko mendapati pekerjaanya belum juga selesai. Ia pasti akan kena marah lagi. Sakura mengambil sapu dan mulai membersihkan semuanya. Namun tiba-tiba entah dari mana datangnya dua orang pria itu muncul dari belakang Sakura. Tiba-tiba ia diculik dan kepalanya ditutup oleh orang yang tidak dikenal.
"Siapa kalian. Hei lepaskan aku" Sakura terus meronta.
"Mau apa kalian? Aku masih punya pekerjaan.. hei.. lepas!"
"Hei, Tol..."
Buk!
Kakashi membawa tubuh Sakura yang pingsan setelah diberi obat bius dan memasukkannya ke dalam mobil. Setelah mobil itu pergi, Temari yang baru saja dari dapur tidak bisa menemukan Sakura di mana-mana. Ia hanya melihat set alat pembersih dan sapu yang tergeletak di lantai.
"Sakura-chan, kau tertidur lagi ya?"
xxx
.
.
.
"fyuhhh..."
Dengkuran halus itu menandakan Sakura telah jauh terlelap. Aroma tenang dari akar bunga iris yang menguar juga membuat tidunya semakin nyenyak. Kakinya sedari tadi terus bergerak untuk menggeser selimut halus dari kakinya yang sempat turun. Demi apapun! Tidurnya kali ini begitu nyaman. Kasurnya begitu empuk dan kamarnya juga terasa hangat. Rasanya ia seperti tidur di antara tumpukan bulu-bulu yang begitu halus.
"Hm..." Sakura terus menikmati asiknya mengelus-elus kasurnya yang nyaman.
Sampai... setelah beberapa detik, otaknya yang waras itu akhirnya kembali dan ia segera sadar. Tidak, Sakura merasa ini semua terlalu janggal. Entah sejak kapan futon tuanya itu terasa empuk dan lagi... tidak mungkin kamarnya itu terasa hangat-dinding kamarnya saja berlubang sampai membuat angin begitu leluasa masuk ke dalam kamarnya, ia bahkan selalu kedinginan di kamarnya itu setiap malam.
Tapi ini?
Sakura segera bangun dan melihat sekelilingnya. Ada ranjang besar, lampu kristal, dinding kokoh dan penghangat ruangan? Jelas sekali ini bukan kamarnya.
"Apa aku di hotel?"
Sakura mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Walau sebenarnya ia tidak ingat apapun selain malam itu ia telah diserang dan diculik oleh dua orang pria asing. Itu adalah hal yang benar-benar mengerikan bahkan sekedar untuk dipikirkan lagi. Sakura sangat takut, ia juga tidak tahu sekarang ia berada entah di mana.
"Kami sama! APA YANG TERJADI PADAKU?" Sakura melihat ke cermin besar yang ada di sisi tempat tidurnya. Ia bisa memastikan semalam ia hanya memakai kemeja dan rok hitam selutut yang biasa dipakainya untuk bekerja. Lalu sekarang, kenapa ia bisa memakai kimono sexy ini? Ke mana pakaiannya?
Ceklek!
"Aaaa kau sudah bangun, sayang?"
Sakura terkejut saat melihat seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu terlihat cantik dengan dandananya yang tampak sexy dan berkelas. Sakura yakin ini seperti di film-film. Ia punya firasat yang akurat. Apa ia diculik semalam untuk dijual dan dijadikan wanita penghibur? Tidak, dia masih suci, tolong siapapun itu, lebih baik ia bekerja dengan Anko seumur hidup dari pada harus menjadi wanita penghibur.
"Siapa kau?" Sakura memandang wanita itu was-was. Entah mengapa ia punya firasat buruk dengan wanita cantik itu. Sakura tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya spontan melangkah mundur tiap kali wanita cantik itu mendekat maju ke arahnya sambil memasang senyuman yang sangat menakutkan bagi Sakura.
"..."
"Kyaaaa, kau cantik sekali, dattebane!"
"A-apa?" Sakura semakin takut saat wanita itu malah memeluknya erat sekali. Kakinya bahkan bergetar dan tidak kuat untuk melarikan diri. Cengkraman wanita itu terlalu kuat.
"Ahahaha, ya ampun, aku pasti sangat tidak sopan!" Wanita cantik itu menyadari raut bingung di wajah Sakura. Ia segera melepaskan pelukannya dan menatap Sakura dengan senyum yang belum berhenti sejak tadi.
"Maaf... kalau aku harus menculikmu seperti ini. Habisnya putraku itu sangat suka main rahasia-rahasiaan"
"HAH?"
"Aku Namikaze Kushina, tidak perlu sungkan begitu. Kau akan menikah dengan putraku dan kita akan jadi keluarga. Benarkan sayang?"
"What? tunggu apa maksudnya ini" Sakura begitu syok setelah mendengarnya. Nikah? Pacar aja ga punya, apa pula ini nikah-nikahan? Sakura mencoba menghindar dari 'lilitan' Kushina. Ia mulai mengerti bahwa ini mungkin hanya kesalah pahaman. Sakura juga berusaha menjelaskan supaya Kushina tidak salah paham. Pokoknya dia harus meluruskan ini semua.
"Nyonya, kau sepertinya salah orang, aku tidak bisa di sini karena aku punya pekerjaan, Aku bukan-"
"Yaa... Aku tahu anakku itu sangat pelit untuk memberitahukan pacarnya pada kami, dia memang selalu begitu" Kushina mengambil tangan Sakura yang dari tadi mengepal diatas pahanya. Kushina jelas melihat cincin keluarganya itu melekat di jari manis Sakura. Sangat cocok. Pikir Kushina.
Kushina kembali tersenyum, ia bahkan menggenggam tangan Sakura dengan lembut untuk mulai mengajak gadis itu bicara sebagai sesama perempuan. Dan ternyata berhasil... Ilmu keibuan Kushina benar-benar terasa saat Sakura tak lagi merasa canggung dan gelisah seperti tadi. "... dan sekarang kami semua akan tahu siapa kau sayang, sudahlah, kau harus bersiap karena aku yang akan mengenalkanmu pada keluarga ini, jadi bersiaplah?" ucap Kushina yang mulai beranjak dari dudukannya di atas ranjang.
Sakura benar-benar tidak siap dengan apa yang barusan didengarnya, ayolah ini hanya kesalahpahaman! Iya kesalahpahamaaan! dan kau harus meluruskannya Sakura.
"Ta-tapi, nyonya?"
Tok.. tok.. tok...
Sakura membatin karena ia terus terbata-bata seperti orang bodoh. Dia belum menjelaskan maksudnya dan Kushina terus saja menyela, apalagi setelah wanita berambut merah itu mengatakan "Masuk!" setelah ia mendengar ketukan pintu dari luar kamarnya.
Belum habis keterkejutannya, Sakura harus terkejut lagi saat melihat beberapa maid berbaris masuk ke dalam kamarnya sambil membawa sesuatu. Sakura berkedip melihat semua barang-barang yang dibawa para maid itu ternyata semua disiapkan untuknya. Sakura sadar betul dengan semua itu, bahwa hal yang paling diinginkan oleh semua perempuan ada di depan matanya saat ini. Gaun mewah, perhiasan, sepatu dan kotak-kotak yang Sakura sendiri tidak tahu apa isinya tapi kelihatan sangat berkelas. Ia sendiri tidak mengerti bahasa selain Jepang, tapi setelah membaca merek pada kotak itu, sepertinya ia bisa meyakinkan satu hal. Bahwa benda mewah itu pasti bukan buatan negaranya, mungkin Amerika atau juga buatan Eropa. Entahlah, dia tidak terlalu mengerti soal fashion.
"Kami akan melayani anda, nona Haruno".
Pelayan pribadi dari keluarga Namikaze itu membungkuk sesaat untuk meminta izin melayani dan melakukan makeover pada Sakura. Sakura sendiri masih bingung, ia tidak bisa merespon apapun. Entah mimpi apa ia semalam, kepalanya terlalu sakit untuk diajak berpikir sekarang.
Para maid itu mulai bekerja dengan lebih dulu mengukur tubuh Sakura, menyentuh rambut pinknya, memeriksa kuku juga jari-jarinya dan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada kulit dan tubuhnya.
Srett!
"Kyaaaaaa apa yang kalian lakukan!"
Sakura menjerit kencang saat pelayan itu menarik tali kimononya dan membuat tubuhnya terekspos. Bahkan Kushina yang sempat mendengar jeritan Sakura barusan hanya bisa tertawa geli di balik pintu setelah mendengar gadis itu berteriak.
"Tidak, Aku bisa melakukannya sendiri"
xxx
.
.
Killer Bee semakin mempercepat langkahnya untuk mencapai ruangan itu. Ia bahkan tidak menggubris salam dari beberapa pegawai yang berpapasan dengannya. Tidak sempat, Ini terlalu urgent.
"BOSS!"
Naruto tidak berbalik dari kursinya setelah Bee memanggilnya dengan suara yang cukup berisik. Pria kuning itu masih diam memperhatikan jalanan sore yang macet dari jendela transparan di ruangannya sejak lima belas menit yang lalu.
Bee menetralkan napasnya yang naik turun setelah tadi berjalan terburu-buru. Ia punya informasi penting yang harus disampaikan.
"Boss, aku mendapat kabar kalau-"
"Ck!"
Decakan sebal itu membuat Bee berhenti bicara. Alisnya mengerut melihat Naruto yang ia kenal tegas itu berubah menjadi mahluk lemah hanya dalam semalam karena sedang putus cinta. Bee juga memergoki Naruto sempat menggosok matanya barusan. "ia habis menangis?"
Naruto menutup berkas yang tertumpuk di meja- ia sepertinya hanya pura-pura sibuk.
"Aku sedang tak ingin dengar apapun! Aku sudah bilang padamukan Bee aku tak ingin diganggu!" Suara Naruto terdengar berat. Dan Bee sangat mengerti itu adalah sebuah peringatan untuknya. Baiklah...
Bee menarik napasnya. Ini yang paling tidak ia suka jika sudah berada dalam situasi dilema seperti ini. Informasi yang harus disampaikannya kali ini benar-benar serius. Kalau tidak segera disampaikan bosnya itu sendiri yang nanti akan rugi. Dan kalau sudah seperti itu, ujung-ujungnya dia juga yang akan kerepotan mengurus semuanya nanti.
"Tapi ini penting, boss!"
"Ya Tuhan! BEE!" Naruto berkata tegas dengan sedikit amarah di nada bicaranya. Itu artinya tidak boleh ada bantahan lagi. Naruto pun segera menyuruh Bee keluar dengan mengibas-ibaskan tangannya tanpa menoleh.
Bee menarik napas lagi. Kali ini lebih panjang, Ia sudah siap jika ada benda melayang ke arahnya. Bodo amat! Yang penting ia sudah memberitahukannya.
"BOSS... PACARMU AKAN DIKENALKAN PADA SEMUA KELUARGA NAMIKAZE. DIA SUDAH ADA DI RUMAHMU!"
"..."
Butuh dua detik setelah terdengar suara 'krak' dari kursi Naruto yang berputar. Saat Bee membuka matanya yang memicing, ia hanya bisa mendengar Naruto yang berteriak.
"Apa!" Naruto menatap pria besar itu dengan alisnya yang diangkat tinggi. Bingung, Naruto mulai berpikir. Padahal setelah penolakan Ino semalam ia telah menggap bahwa hubungan mereka sudah berakhir. Apa mungkin Ino berubah pikiran?
Naruto segera mengambil jasnya yang tergantung di kursinya. Ia menatap Bee. Heran?
"Apa yang kau tunggu Bee, siapkan mobil!"
.
.
.
xxx
.
.
"Apa ini aku?"
Sakura melihat pantulan dirinya di depan cermin. Dia cukup terkejut saat melihat rupanya sendiri. Tidak ada lagi wajah lelah, kantung mata, dan kulit kusam seperti dirinya sehari-hari. Sakura bahkan sempat tidak percaya kalau dia bisa berubah secantik itu. Wajahnya sekarang begitu segar dengan sapuan make-up yang serasi dengan gaunnya yang begitu indah. Entahlah, dia begitu bingung untuk mengatakannya, yang Sakura tahu ia benar-benar terlihat sangat cantik!
"Ya ampun, Apa aku melihat bidadari?" Sakura tersipu setelah dipuji oleh Kushina yang baru saja memasuki kamarnya. Sepertinya wanita berambut merah itu tidak akan pernah bosan-bosannya untuk memujinya.
Sakura kembali merasa canggung saat Kushina lagi-lagi memeluknya. Padahal Sakura sudah ingin menjelaskan pada Kushina bahwa semua ini mungkin kesalahpahaman dan harus diluruskan, tapi ketika melihat Kushina menangis sambil memeluknya, Sakura jadi tidak tega.
"Aku tidak sabar melihat kalian segera bersama sayang" Ucap Kushina sambil menekan sudut matanya yang berair. Kushina benar-benar terharu karena putra satu-satunya itu akhirnya akan menikahi wanita cantik.
Mengingat itu, Kushina tersadar. Mereka harus segera turun untuk memulai acaranya. Keluarga Namikaze sudah berkumpul di bawah dan pasti sedang menunggu keduanya.
"Kau sudah siap sayang?"
Sakura tak tahu harus melakukan apa. Otaknya terasa beku seperti es. Ia bahkan tidak sadar mengikuti Kushina di sebelahnya untuk bertemu dengan keluarga Namikaze. Sakura hanya bisa berharap. Siapapun... semoga ada yang menolongnya dari ini semua. siapapun!
xxx
"Ibu? Nenek!"
Naruto berjalan cepat menuju ruang tamu untuk mencari keberadaan Kushina dan Tsunade yang sedang berkumpul di sana. Ia hanya bisa terheran setelah melihat Kushina yang duduk di sofa tengah berbincang-bincang heboh dengan seorang wanita asing berambut merah muda. Naruto mencari-cari keberadaan Ino tapi tidak menemukannya. Mana? Katanya Ino di rumah?
"Kau sudah pulang?" Tsunade datang dari dapur sambil membawa beberapa kue matang yang masih panas. Ia segera meletakkan piring itu dan menghampri Naruto dengan senyum yang terpampang lebar di wajahnya.
"Naruto..." Tsunade 'menampar' punggung Naruto-cukup keras sampai Naruto nyaris tersedak dan melirik neneknya itu yang mau menyambutnya atau malah membunuhnya? Entahlah, mungkin itu karena efek bahagianya karena baru kali ini Naruto membawa seorang gadis ke rumahnya.
"Calon istrimu cantik sekali, Naruto" Ucap Tsunade begitu girang. Naruto melirik gadis merah muda yang dibilang neneknya itu cantik. Sebentar Naruto mulai berpikir, Ini semakin aneh, tidak ada Ino di rumahnya tapi ada gadis merah muda itu, dan apa tadi kata neneknya itu? Calon istri? yang benar saja!
Naruto berjalan untuk melihat lebih dekat gadis itu. Dia mulai mengamati beberapa detik. Sepertinya wajahnya tidak asing, dan itu semakin membenarkan dugaannya saat mata hijau itu juga ikut melebar ketika pandangan mereka bertemu.
"Kau?"
"Kau?"
Naruto dan Sakura berhadap-hadapan dan mereka saling menunjuk satu sama lain. Tentu saja mereka heran, karena baru dua puluh tiga jam yang lalu mereka bertemu di sebuah restoran masakan Perancis. Sakura yakin pria itu adalah pria mabuk yang memberinya cincin semalam, dan Naruto yakin ia memberikan cincin untuk melamar Ino pada gadis di depannya ini.
Beberpa menit hanya ada hening di ruangan itu, sampai Tsunade tiba tiba bertepuk tangan karena ingin menyampaikan sesuatu yang sepertinya sangat penting. Semua menoleh ke arah Tsunade yang tampak heboh itu.
"Naruto?..." Panggilnya pada cucu satu-satunya itu. Naruto akhirnya menjadi orang terakhir yang ikut menoleh.
"Apa?"
"Aku akan setuju untuk melakukan pengobatan itu"
"APAAA?"
"Hei.. aku harus hidup lebih lama untuk melihatmu menikah"
"A-pa? Nenek setuju?" Ulangnya tak percaya. Naruto begitu terkejut. Astaga... ia benar-benar bahagia mendengar neneknya itu akhirnya mau berobat.
Tsunade mengangguk-angguk senang "Yeah, dulu aku tidak mau melakukannya karena kurasa itu percuma, untuk apa aku hidup kalau cucuku satu-satunya tidak mau menikah? Tapi..." Tsunade kembali menatap Sakura dengan senyum tulus yang tak pernah luntur sejak tadi. Sepertinya gadis merah muda itu begitu mudah untuk bisa disukai semua orang "... karena kau sudah bawa calon istrimu ke rumah, aku jadi ingin memperpanjang usiaku. Paling tidak sampai aku mendapat cicit. Jadi... kau bisa bawa si Kabuto itu mulai besok.
"..."
" Ya Tuhan, ibu serius?" Kushina bahkan sampai berdiri karena terkejut, ia begitu senang dengan keputusan mertuanya itu untuk mau berobat.
"Kyaaaaa, ini berkat Sakura-chan. Keluarga ini semakin bahagia sejak kau datang sayang" Kushina memeluk Sakura dan disusul Tsunade dan keluarga Namikaze yang lain. Sakura justru merasa risih karena ia dipeluk seperti teletubies oleh orang-orang yang masih asing baginya.
Naruto yang sedari tadi menonton semuanya itu sepertinya juga setuju. Itu benar-neneknya itu mau melakukan pengobatan karena gadis bernama Sakura itu. Naruto pun mulai memperhatikan gadis merah muda itu. Jujur Naruto tidak mengenalnya, namun siapapun gadis itu, Naruto harus berterima kasih padanya.
Pelukan itu akhirnya terlepas, setelah Sakura terbatuk-batuk karena hampir kehabisan napas. Dan tentunya setelah perkataan Kushina yang begitu mengejutkan.
"Jadi... tanggal berapa kalian akan menikah?"
xxx
Naruto menarik tangan Sakura dan membawanya menjauh, yang Naruto yakini nenek atau ibunya itu tidak akan bisa mendengar perbincangan mereka.
"Maaf, aku tahu kau pasti kebingungan, tapi keluargaku memang seperti itu" Naruto memperhatikan Sakura yang menggelengkan kepalanya. Sepertinya gadis itu bisa mengerti.
"Tak apa, ini hanya salah paham. Aku sudah mencoba menjelaskan yang sebenarnya tapi sulit sekali, ibu dan nenekmu sulit sekali dihadapi"
"Ya, ibu dan nenekku memang sangat ingin tahu soal hubunganku. Tapi.., bisakah kau merahasiakan ini sampai aku yang mengatakan sendiri pada mereka? Tolonglah, nenekku itu bisa mati detik ini juga kalau tahu kau sebenarnya bukan pacarku, jadi kumohon berpura-puralah menjadi pacarku"
Sakura menggaruk kepalanya, ia tidak mengerti kenapa ia harus terseret ke dalam masalah seperti ini. Laki-laki di depannya ini terlihat sangat berharap dan sangat membutuhkannya, Sakura merasa tidak tega.
"Ehh.. baiklah, aku akan melakukannya sebaik mungkin"
Naruto tersenyum puas mendengarnya. Sakura memang wanita yang sangat baik. Ia sangat beruntung menemukan Sakura. Kebaikan Sakura itu sepertinya malah membuat Naruto tertarik. Dan di saat Naruto ingin mengajak gadis itu mengobrol lebih jauh, Naruto mau tidak mau harus mengangkat teleponnya yang terus bergetar. Ia tahu, sebagai pengusaha sukses ponselnya akan sering berbunyi dalam tiap beberapa menit. Narutopun meminta izin pada Sakura untuk menerima telepon. Ia bergeser sedikit menjauh dari gadis berambut merah muda itu yang sedang memandangi taman bunganya.
Sakura melihat koleksi taman bunga milik Naruto yang sangat luas, ia sangat takjub dengan banyaknya jenis bunga seperti yang sering dilihatnya di dalam lukisan.
"Apa aku harus bekerja seribu tahun lagi untuk bisa punya taman seperti ini?" Sakura menampar dirinya sendiri, ia terlalu jauh melamun, sampai ponsel yang ada di tas nya itu terus bergetar dan berhasil melenyapkan mimpinya. Sakura terkejut sampai membulatkan kedua matanya saat melihat layar ponselnya itu menerima pesan. Ia bergegas untuk pergi secepatnya. Ia harus pergi sekarang.
Beberapa menit, Naruto kembali ke taman dan sangat terkejut melihat Sakura sedang memanjat pagar tamannya. Gadis itu berteriak kencang saat Naruto memberikan tanda sebagai 'jangan lakukan itu'
"Maaf tuan, aku berubah pikiran sepertinya aku tidak bisa" Ucap Sakura sambil melompat dari tembok.
Namun sial bagi Sakura temboknya tinggi sekali, ditambah gaunnya yang sempit membuat Sakura sulit bergerak, Naruto datang dan mencoba menariknya, namun Sakura lebih cepat untuk bisa melompat ke luar.
"Maafkan aku"
Naruto mengumpat karena ia hanya berhasil menarik tas Sakura. Sementara gadis itu berhasil melarikan diri. Naruto sangat marah.
"Bee, cepat dapatkan gadis itu untukku!"
TBC...
.
.
.
hi, happy new year gaes wkwkw.
sebelumnya makasih nih kalau nanti ada reader yg masih mo baca fic-fic gue hehehe. Btw, nggak mau ngebela diri karna telah menghilang bertahun-tahun dan molor kalau mo update. maap keun ya :).
oh iya Fic ini terinspirasi dari ala-ala Cinderella, makanya gue buat genrenya romance familiy. enggak bakalan pure sih kayak dongeng atau versi Disney nya, Ya pokonya suka suka gue lah gimana entar wkwkwk.
Btw, semoga ini ga jelek2 amatlah ya, kalau terlalu jelek, yaudah nanti saya hapus.
ini tanya-tanya yang sering ditanyain redear. bahkan sampe nyariin di pm. makasih dah mau kepo sama konohamidori. siapapun kamu, yang kamu lakukan itu: kurang kerjaan nak :)
Q: Thor udah pensiun? Fic yang lain kapan update?
A: Gimana mo pensiun, cerita gue masih pada chap 1. gue selesein dulu lah baru pensi. Gue usahain tetap update di waktu yg tidak bisa athor sendiri janjikan hehehe. Yang penting tamat keun!
Q: kok cerita lu jelek semua Kon***?
A: gue amatir, nulis kalok suka doang, ya kalo lu mau.. baca aja, enggak juga bodo amat kampret lu, muaah (kiss)
Q: nulis genre gitu2 doang, yang lain dong!
A: kalau otak lagi gak busuk, nanti gue buat. fokus ke cerita yang ada dulu.
Q: kok lu sok asik Thor?
A: Jadi orang jangan dibuat susah, Asikin aja lagi.
Q: kakak lucu
A: gue introvert, tapi makasih kalau dibilang lucu. *nyengir jijik
PS: makasih sudah dukung saya, yang pm dan nanya2 seputar ff. saya senang tiap baca review dan masukan kalian. itu membuat saya jadi pengen nulis lagi :)
