Gugup. Itulah yang dirasakan gadis manis ini sekarang. Ia berdiri di depan cermin yang ada di toilet siswi. Wajahnya menyiratkan kebingungan, ketakutan secara bersamaan. Sekarang pikirannya benar-benar buntu, tidak tahu harus berbuat apa. Tidak menyangka kalau bisa secepat ini terjadi. Sebuah kesalahan fatal yang ia lakukan di usia 17 tahun, membuat masa depannya di ambang kehancurhan.
Wajah hingga poninya basah oleh air keran yang terus keluar,mungkin juga karena air matanya yang tumpah ruah. Ingin menangis, mengeluarkan semuanya sampai sehabis-habis yang ia bisa. Tapi, cairan itu sudah keluar begitu banyak, tidak bisa dibendung, tidak dapat ditahan. Sakura berpura-pura ke toilet dengan alasan ingin pipis. Entah sudah berapa lama ia berada di tempat yang menjadi saksi semua kenyataan pahit yang menjadi sebuah mimpi buruk baginya.
Sakura tidak peduli dengan seragam sekolah high school yang ia gunakan saat ini tampak buruk seperti harinya sekarang, ia menyimpan benda panjang nan ramping yang sakral—baginya untuk sekarang dan tanda bukti sialan itu—di saku seragamnya. Menghembuskan napas, mengulangnya beberapa kali guna mengambil kembali ketenangan itu, sembari menghentikan isak tangis yang kadang lolos begitu saja di bibirnya. Bagaimanapun juga, ia tidak dapat menyimpan rahasia ini seorang diri.
Dengan pelan, Sakura mengusap wajahnya yang basah menggunakan lengannya. Gadis mungil itu merapikan sedikit rok di atas lututnya dan beralih mengelap kemeja putih yang sedikit kumal. Ia tidak mau orang berasumsi negatif tentang dirinya, apalagi sampai memberi tanggapan buruk bagaimana keadaanya yang sekarang seperti pecundang. Dengan berat hati dan tangan yang keram, ia mencoba mentapkan hatinya dan menghembuskan napas panjang ketika membuka pintu dan keluar dari toilet.
~0o0~
Naruto dan semua karakter di dalamnya adalah milik Masashi Kishimoto
Our Baby
Ketika masa mudamu tidak lagi sesuai ekspetasi bayanganmu, maka cobalah berpikir; terkadang kesalahan tidak selalu buruk untuk memperbaiki waktu di masa depan. Karena ini adalah tentang waktu, bukan penyesalan yang tak berkesudahan.
.
~0o0~
Sasuke tidak bisa fokus memperhatikan penjelasan dari guru yang sekarang tengah menjelaskan rumus-rumus matematika. Wajahnya memang lurus menatap papan tulis berwarna hijau tua itu. Namun, pikirannya melambung jauh kepada gadis yang tadi pergi ke toilet, Sakura, bahkan sudah lebih dari sepuluh menit berlalu belum juga masuk kelas. Dia itu kencing atau buang air besar, sih. Seharusnya Sakura sudah sampai sekarang, itupun sudah waktu yang paling lama.
Melihat gelagat gurunya yang hanya bertingkah tenang-tenang saja, atau sepertinya mungkin masa bodoh, membuat Sasuke kesal. Ah, apa dirinya yang terlalu khawatir. Sepertinya tidak, mengingat gadisnya yang memiliki sifat praktis itu acap kali tidak mau berlama-lama melakukan segala kegiatan. Mungkin beberapa menit atau detik lagi gadis itu akan muncul.
Suara ketukan pintu mengalihkan atensi pemuda ini sekarang, seolah bukunya yang penuh dengan coretan rumus-rumus kuadrat itu tidak lagi sama menariknya untuk menelan waktu. Sedikit lega, ia menatap Sakura yang tengah berjalan menghampirinya. Lebih tepat, ke arah bangku yang bersebelahan dengan dirinya.
Sasuke terus menatap gadis itu sampai ia mendudukkan bokongnya sendiri di atas kursi. Tidak ada percakapan atau sekedar reaksi yang diberikan untuk Sasuke. Ini terasa seperti kekasihnya tak mengacuhkannya dan malah lebih peduli terhadap benda mati berwarna hijau yang sekarang sudah penuh dengan coretan rumus seperti mantra zaman Yunani Kuno.
Aneh. Seperti gadis yang sering cerewet ini lebih pendiam daripada dirinya. Sasuke mengimajinasikan jika Sakura adalah manekin yang dibuat sedemikian mirip manusi; lihat saja matanya, sama sekali tidak berkedip barang sekali. Bagaimanapun, Sasuke tidak bisa menyimpan kekhawatirannya begitu saja.
"Sakura?" Sasuke berucap pelan sembari terus menatap gadis yang dipanggilnya Sakura.
Tidak ada jawab. Sasuke terdiam. Ia menatap lekat-lekat Sakura yang tengah merobek kecil bukunya. Menulis sesuatu dengan pulpen yang memang sudah ada di dalam buku. Tidak terlalu lama sehingga sekian detik kemudian gadis manis itu memberikan hasil tulisannya kepada Sasuke, tanpa melihat pemuda itu sekilas pun.
Sasuke menatap kertas dan Sakura secara bergantian. Apa maksudnya pakai acara surat-menyurat. Apa tidak bisa berbicara secara langsung saja. Sepertinya setan yang ada di toilet membuat tingkah Sakura menjadi tidak sewajarnya.
Menghela nafas sejenak, Sasuke mengambil kertas persegi itu. Sudut siku-siku muncul di kening pemuda berambut emo ketika membaca isi tulisan yang ditulis dengan tintah warna hitam tersebut. Ia kembali menatap Sakura. Tidak ada jawaban lagi. Gadis itu tidak menatapnya.
Baiklah. Sasuke mencoba untuk tetap tenang dan menyimpan kertas itu di antara lipatan bukunya. Ia kembali menatap papan tulis dan mencatat beberapa rumus yang telah tertinggal.
'Pulang sekolah jangan pulang dulu. Tunggu aku di atap sekolah.'
.
.
.
~OoO~
.
.
.
Sore sudah mulai menjelang. Langit begitu cerah dengan awan yang menari-nari membentuk beberapa bagian abstrak. Burung-burung terbang bersama membentuk segitiga yang mengambang di atas langit,dengan kicauan ria menemani. Hari yang sejuk, sangat meyakinkan untuk berjalan-jalan disekitar taman atau mengelilingi pusat kota.
Sasuke berdiri di atap sekolah. Menumpukan kedua sikunya di atas pagar setinggi pinggangnya. Menutup matanya, ia mencoba merasakan hembusan angin sejuk yang menerpa permukaan wajahnya, serta menerbangkan surai hitamnya.
Jam tangannya berbunyi, menandakan sudah pukul tiga sore. Kalau dihitung-hitung sudah seperempat jam ia menunggu. Dia memang berencana untuk mendahului Sakura, mengingat gadis beriris emerald itu tengah melakukan tugas piket sebelum pulang.
Rasanya seperti bernostalgia. Ia tersenyum tipis mengingat kejadian beberapa minggu lalu. Di atap ini, ia menyatakan cintanya untuk yang kedua kali setelah yang pertama di sebuah taman. Yah... walaupun terasa sangat kaku dan tidak romantis, sepertinya. Tapi, Sakura menerimanya dan malah bilang kalau ia sangat romantis daripada aktor yang sering gadis itu tonton. Ck.
Sasuke tiba-tiba saja membuka matanya ketika mendengar suara pintu yang sudah berkerat terbuka. Ia berbalik, menatap Sakura yang tengah terdiam berdiri diambang pintu. Tidak biasanya begini. Sakura benar-benar aneh hari ini.
"Sakura?" Sasuke memiringkan kepalanya. Ia menatap Sakura dengan kening yang berkerut. Terdengar jelas gadis itu mendengus.
Kaki jenjang gadis itu melangkah mendekati Sasuke. Hingga mereka saling berhadapan dengan jarak yang tidak begitu jauh, hanya beberapa puluh centi. Sasuke menatap Sakura, begitupula sebaliknya. Iris berbeda warna itu saling bertukar pandang. Hening. Terdengar suara halus hembusan nafas masing-masing.
Sakura menutup mata. Ia menghela nafas sejenak, diiringi kelopak mata yang kembali terbuka. Gadis manis ini sudah memantapkan hati dan batinnya. "Apa Sasuke- kun mencintaiku?"
Sasuke mengangguk cepat, tepat dan yakin. Pemuda beriris hitam itu masih diam, menunggu ucapan dari Sakura lagi. Ia memandang Sakura dengan sorot mata yang tak terbaca.
"Bagaimana kalau suatu hari nanti aku kecelakaan dan wajahku hancur?" Sakura bertanya dengan wajah sendu, begitupun ketika ia menatap wajah Sasuke yang balas menatap Sakura dengan keyakinan.
Bagaimanapun juga, Sasuke itu incaran semua perempuan di sekolah yang menganggapnya sebagai pemuda berwajah manis. Mereka juga berpacaran baru lebih dari satu bulan. Bisa saja, kan, Sasuke hanya menginginkannya di saat pemuda itu butuh saja. Walaupun ia yakin kalau pemuda di depannya ini benar-benar mencintainya.
"Aku tetap mencintaimu." Sasuke tersenyum dan menepuk puncak kepala Sakura, membuat gadis itu langsung tersentak kaget. Benarkan, Sakura tidak salah dengar.
Sakura semakin menundukkan kepalanya. Ia mencengkeram rok pendeknya, bulir-bulir keringat menghiasi keningnya. Sementara Sasuke, ia semakin bingung dibuatnya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Sakura dengan kepala yang masih menunduk ke bawah, menatap lantai yang dipenuhi daun-daun kering.
"Tentang?" tanya Sasuke cepat.
Jujur. Sebenarnya Sakura tidak ingin memberitahukannya kepada Sasuke. Ia takut Sasuke akan meninggalkan dan menjauhinya. Ia ingin terus berada di samping pemuda itu. Tapi, Sakura tidak bisa memendam dan menyimpannya, terlebih jika harus melewati seorang diri. Mungkin, sekaranglah waktu yang tepat, tidak peduli apa yang akan terjadi nanti.
Sakura mengigit pelan bibir bawahnya. Dengan gerakan lamban namun pasti, tangan kanannya merogoh saku seragamnya yang terasa berat. Benda yang menjadi alasannya sudah dapat di tangan, terasa begitu diambang hidup dan mati. Ia mencoba bertekad kuat di dalam hati. Menghela napas pelan, Sakura pun menghadapkan benda kecil yang didominasi warna putih itu dihadapan Sasuke.
"Aku hamil." Sakura mengalihkan pandangannya ke arah lain, dengan rona merah yang sangat jelas tercetak di pipinya. Seraya mengumpulkan udara dan membuangnya perlahan, "Anakmu."
Entah ini hanya mimpi atau ia sekarang berada pada kenyataan yang menghantam kepalanya, Sasuke langsung diam membeku. Matanya sedikit melebar dengan bibir yang berbentuk bulat kecil, tidak ketinggalan sedikit warna kemerahan yang juga ada di pipinya. Kelopak matanya tidak berkedip sedikitpun melihat benda test kehamilan yang memiliki dua garis merah, menandakan hasil yang positif.
Angin kembali berhembus. Dedaunan kering yang ada dilantai ikut terbang. Keadaan semakin hening karena tidak ada yang membuka pembicaraan. Mereka berdua masih kepada posisi masing-masing. Atmosfir terasa sangat kaku, berbeda dengan keseharian mereka yang lalu.
"Apa kau yakin?" Sasuke mengambil test kehamilan itu dari tangan Sakura, melihatnya secara lebih intens dengan raut ketidakpercayaan.
"Apa kau pikir aku bercanda? Aku hanya melakukan itu denganmu!" Nada suara Sakura meninggi, ia menatap wajah Sasuke dengan kesal dan ingin rasanya menjambak rambut pemuda itu. Semenjak ia mengalami muntah-muntah 2 minggu yang lalu, mood-nya menjadi mudah berubah.
Mendengar ucapan Sakura barusan, membuat Sasuke menundukkan kepalanya dengan tangan yang menggenggam erat tes kehamilan itu. Memang betul, mana berani Sakura melakukannya dengan orang lain selain dirinya. Ia adalah orang yang mengambil keperawanan Sakura. Saat itu ia berjanji akan bertanggungjawab apapun yang terjadi. Ia merasa mengambil keputusan tersebut adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya, dan menghancurkan masa depan Sakura adalah dosa besar baginya.
Yang ada di dalam rahim Sakura sekarang adalah anaknya, darah daging hasil dari apa yang mereka lakukan. Ada rasa bahagia tersendiri ketika mendengar Sakura mengandung anaknya, yang berarti ia akan menjadi seorang ayah. Namun, ini masih terlalu dini untuk Sasuke, begitupula dengan Sakura.
"Bagaimana kalau gugurkan saja? Kita bisa membuat lagi nanti kalau sudah saatnya." Sasuke mencoba menenangkan dengan cara memegang kedua pundak Sakura, walau sebenarnya ia juga sedang berpikir keras untuk mencari jalan keluar.
Entah mengapa, airmata sudah menggenang di pelupuk mata Sakura. Kenapa harus dengan jalan pintas, menggugurkan seorang bayi, anak mereka sendiri yang tidak tahu apa-apa. Tapi, Sakura tahu kalau memang tidak ada cara lain lagi.
Saat ini yang mereka pikirkan adalah untuk fokus mencari jalan keluar. Kalau memang ada cara lain selain aborsi, mungkin itulah jalan keluar yang sesungguhnya. Sasuke terus memeluk tubuh Sakura yang gemetar, gadis itu menangis sejadi-jadinya di dadanya.
.
.
.
~OoO~
.
.
.
Pagi hari yang cerah, berbagai macam kendaraan transportasi memenuhi jalan raya. Para pejalan kaki mendominasi pinggir jalan raya, menuju aktivitas masing-masing, seperti misalnya pekerja kantoran dan anak-anak sekolah. Bangunan pencakar langit menjulang tinggi memenuhi kota yang asri, begitu juga mall ternama di ibukota.
Seperti biasa, Sakura menunggu Sasuke di halte bus. Gadis berperawakan mungil itu berdiri di ujung bangku halte sambil memainkan ponsel pintarnya tanpa minat. Sasuke memang sering telat, sehingga Sakura-lah yang selalu menunggu pemuda yang menjadi kekasihnya sekitar satu bulan lalu. Meskipun begitu, Sakura dengan senang hati menunggu Sasuke, karena pemuda itu selalu memberikannya cokelat batangan ketika sampai.
Namun, tidak biasanya Sasuke belum datang sampai sekarang. Kurang dari setengah jam lagi pelajaran pertama akan dimulai, sementara perjalanan untuk sampai ke sekolah menggunakan bus bisa memakan waktu hingga 20 menit.
Sakura sudah menelpon ke nomer Sasuke entah sudah berapa kali. Namun, yang ada hanyalah nada tunggu. Hingga seperkian detik, nomor itu sudah tidak aktif lagi. Sakura mencoba berpikir positif. Mungkin saja Sasuke sudah berangkat duluan dan lupa untuk membawa ponsel, atau mungkin saat sedang diperjalan kemari ponsel Sasuke mati. Entahlah, sepertinya Sakura harus segera berangkat ke sekolah karena bus sudah datang.
Dengan wajah sendu Sakura memasuki bus dan duduk dibangku pojok paling belakang. Ia terus menatap keluar dari jendela bus, berharap kalau Sasuke datang dan berlari menghampirinya menuju bus.
Namun, sepertinya hal itu hanyalah sekelebat khayalan Sakura. Sasuke tidak ada, dia tidak datang atau memang sudah ada disekolah lebih dahulu. Hingga halte itu semakin jauh seiring bus itu berjalan, pemuda itu tidak nampak. Akhirnya Sakura mencoba menyamankan dirinya dengan menyenderkan badannya dibangku bus.
Dan sedikit menitikkan airmata.
.
.
~OoO~
.
.
.
Melangkah dengan ritme cepat menyusuri koridor sekolah. Menopang tas ransel yang ada di punggungnya. Ia berlari sekuat tenaga menuju kelas yang ada di ujung. Walau rasanya sudah tak bisa melangkah menginjakkan kaki, ia terus berlari dengan sisa tenaga yang sudah berkurang sejak berlari dari gerbang sekolah.
Sebagian kelas sudah tertata rapi dengan siswa-siswa yang sedang membaca doa sebelum belajar dengan khidmat. Adapula kelas yang masih ribut dengan hiruk-pikuk para siswa yang sibuk dengan urusan masing-masing.
Gadis yang memegang erat tas ranselnya itu masih berlari, sedikit melirik kelas lain dari jendela kelas yang berjejer membiarkan cahaya mentari masuk. Ia tersenyum ketika orang-orang yang ia lewati menyapanya dari ambang pintu.
Sakura. Dengan keringat yang menghiasi keningnya, napas yang tersengal dengan cepat mengambil udara gratis. Sedikit lagi. Mulut mungilnya terus bergerak walau tak mengeluarkan suara apapun. Pintu bercat coklat itu masih terbuka, menandakan belum ada guru yang mengajar. Ia sedikit menghela napas lega, menyeka cairan bening yang terus turun dari keningnya.
Gadis berambut pendek sebahu itu mengurangi langkah kaki jenjangnya ketika tinggal beberapa meter lagi dari pintu kelas. Ia mencoba menetralisirkan degup jantungnya yang berdetak cepat seperti detik jarum jam. Nafas cepatnya berangsur normal seiringi memasuki ruangan bercat putih porselin, lengkap dengan berbagai macam tempelan dinding.
Walaupun guru belum juga memasuki ruangan kelas. Namun, kelasnya tidak seramai dan segaduh kelas-kelas lain ketika jam kosong. Sebagian banyak para siswa sedang serius berkutat dengan buku masing-masing. Mungkin sedang mengerjakan pekerjaan rumah dari guru Kakashi, pikir gadis yang kembali melangkahkan kakinya yang tadi sempat terhenti menuju tempat duduk biasanya.
Duduk di kursi paling pojok dekat jendela barisan nomer tiga, Sakura teringat Sasuke. Tas hitami milik pemuda itu tidak ada di kursi sebelah Sakura. Ke mana pemuda itu, Apa dia saki? Tapi, Sasuke selalu mengabarinya ketika terjadi sesuatu.
Iris emerald itu mengintimidasi semua seluk-beluk ruang kelas XII A. Hingga matanya sedikit melebar, membuat pupil matanya mengecil. Pemuda yang sedang ia cari sedari tadi, ternyata tengah duduk di kursi belakang di pojok ruangan.
Pemuda itu menunduk, menatap layar hitam ponselnya. Sakura yakin, pemuda itu pasti sudah tahu kalau gadis bermarga Haruno ini tengah memandangnya. Sasuke membuang muka ke samping, mencengkeram benda persegi panjang itu seolah ingin meremukkannya.
Sasuke menjauhinya, Sakura tahu itu. Pemuda itu tidak pernah menghubunginya lagi setelah insiden saat di atas atap kemarin. Terakhir Sasuke menghubunginya hanya untuk menanyakan bagaimana kabar Sakura, itupun saat dirinya sudah tertidur dengan airmata yang mengering.
Mungkin dirinya hanyalah benda yang sudah tak terpakai lagi, bagi Sasuke. Apa yang dikatakan Ino memang benar, ketika laki-laki sudah mendapatkan yang ia mau, mereka akan pergi begitu saja menyisakan luka. Seharusnya dulu Sakura tidak menerima Sasuke, tidak termakan rayuan pemuda yang bisa saja memiliki perempuan lain selain dirinya.
Gadis manis itu mencoba menahan airmatanya yang sudah menggenang di pelupuk mata. Ia membenarkan posisi duduknya agar tidak lagi memandang sang mantan kekasih-menurut Sakura. Jari-jari tangannya, ia tautkan seerat mungkin. Hatinya berdenyut, seolah ribuan pisau belati yang tajam tengah menggerogoti hatinya secara perlahan.
Sakura menangis dalam diam. Ketika teman-temennya sedang mengoceh, berlarian kesana-kemari mencari jawaban, ia hanya bisa diam sekuat tenaga menahan agar liquid bening tidak menetes dari matanya. Tidak untuk sekarang. Ia tidak ingin dianggap gadis lemah. Gadis, eh? Dia sudah tidak gadis lagi. Sekarang ia seorang wanita. Ya, wanita. Padahal usianya masih tergolong gadis remaja.
Entah karena ini keinginan dari sang jabang bayi, atau memang dari dirinya. Sakura sangat ingin disentuh oleh Sasuke. Ia ingin Sasuke mengelus perutnya seperti seorang calon ayah yang menginginkan anaknya cepat-cepat lahir ke dunia. Mungkinkah? Itu hanyalah sebuah delusi semata. Pemuda itu saja menyuruhnya untuk menggugurkan hasil cinta mereka sendiri.
Setitik cairan bening terjatuh. Sakura segera menghapus air matanya yang tersisa di pipi ketika merasakan seseorang menaruh tas di samping tempat duduk yang kosong. Tas bermodel yang sebenarnya tidak diperbolehkan untuk dipakai di sekolah.
Benar sekali dugaan Sakura. Dengan helaan nafas panjang sosok itu mengistirahatkan bokongnya. Gadis berambut coklat muda poni tail, berparas seperti keturuna bule dengan iris biru jernih, pakaian yang ketat memakai rok limabelas centi di atas lutut. Siapa lagi kalau bukan sahabatnya yang cerewet. Yamanaka Ino.
"Hey, jangan tatap aku seperti itu, Jidat." Walau jari lentiknya terus menggeser layar ponsel pintar yang sedang trend sekarang. Gadis bermarga Yamanaka itu bisa merasakan gelagat sang sahabat sedari kecil itu terus memandangnya.
Sakura mendengus. Membenarkan lagi posisi duduknya seperti semula. Kepalanya sedikit pusing merasakan mual di perut yang sudah ia rasakan saat bangun tidur tadi pagi. Ia tidak berniat ke toilet. Karena sekarang kepala merah mudanya ia tumpukan di atas meja. Kedua lengannya ia gunakan untuk bantalan.
Kali ini ia bersyukur akan keterlambatan dari sang guru matematika, Hatake Kakashi. Padahal jika sekarang Sakura tidak sakit, ia akan segera ke kantor meminta soal atau materi yang jika perlu untuk dicatat. Mungkin ia bisa beristirahat, melupakan dunia ini sebentar. Ya, sebentar saja atau mungkin selamanya.
"Kuharap kau tidak stres karena bertengkar dengan Pangeran Es itu." Jari-jari itu masih saja menari-nari di atas layar. Suaranya terdengar ketus, bola matanya memicing melirik gadis yang kembali membuka kelopak matanya.
Sakura menghela napas sedikit mendengus dengan bibir yang mengerucut. "Kau tahu itu," ucapnya pelan dengan dagu yang bertumpu di atas meja.
"Kau punya teman untuk berbicara. Seperti aku, mungkin?" Kali ini Ino sepenuhnya menatap Sakura, tidak lagi menatap layar ponsel yang baru saja ia simpan di dalam tas. Gadis modis itu tersenyum membanggakan dirinya.
"Lalu, yang menyebarkan berita kalau aku berpacaran dengan Sasuke- kun siapa?" Kali ini, gadis bermarga Haruno itu duduk sepenuhnya menghadap Ino dengan kedua tangan melipat di bawah dada, menatap sebal gadis di depannya yang tersenyum lebar dengan wajah tanpa dosa.
Ino sedikit terkikik walau sebenarnya ia juga merasa bersalah. Sedangkan Sakura hanya menghela napas dan kembali duduk seperti sewajarnya. Kelas yang tadinya gaduh dengan para siswa kocar-kacir mencari jawaban, kini menjadi hening ketika seorang pria bertubuh tinggi tegap duduk didepan meja guru.
"Maaf sedikit terlambat." Dengan santainya pria berambut perak melawan gravitasi itu membuka buku yang tadi ia bawa tanpa mengacuhkan para siswa yang menggerutu kesal.
Ia Kakashi Hatake. Sebenarnya Sakura juga sedikit kesal entah kepada siapa. Dengan wajah yang merengut ia sedikit menengok kebelakang, melihat wajah Sasuke yang ternyata membuang mukanya ke arah berlawanan. Ada sedikit rasa senang sebenarnya ketika tahu kalau Sasuke masih memperhatikannya. Namun, mungkin itu hanya kebetulan, pikir gadis yang kini mengalihkan atensinya kearah guru Kakashi yang tengah menerangkan materi.
.
.
.
~OoO~
.
.
.
Bunyi bel berkumandang, menandakan waktu untuk segera pulang. Siswa-siswa bersorak ria diiringi lenguhan lelah karena pelajaran yang dirasakan terlalu monoton. Bagaimana tidak? Hampir semua siswa menguap dengan mata sayu saat jam pelajaran sejarah. Akhirnya, dengan bertahan selama sekitar dua jam, para siswa XIIA segera memasukan peralatan belajar masing-masing dengan bersemangat ketika jam pulang tiba.
Bagaimana dengan gadis bersurai pink sekarang? Sepertinya ia cukup lelah hanya untuk membereskan buku-buku tebal yang masih nyaman berada di atas meja. Wajahnya pucat pasi, tidak ada seulas senyum pun di bibir mungilnya yang mengembang ke bawah. Ia melihat sebagian siswa sudah ada yang pulang, sebagian lagi masih membereskan peralatannya. Tidak terkecuali gadis di sampingnya sekarang, bahkan Ino sudah beranjak dari duduknya dan bersiap untuk pulang.
"Aku duluan, Jidat." Ino tersenyum walau sebenarnya ia khawatir dengan keadaan sahabatnya sekarang.
Samar-samar Sakura mengangguk. Ia mencoba tetap tersenyum sampai sosok bayangan Ino menghilang di balik pintu. Sakura segera cepat-cepat membereskan peralatan belajarnya ketika sudah tidak ada lagi siswa yang tersisa. Termasuk Sasuke.
Yah... sebelum itu Sakura mengirim pesan untuk Sasuke yang syukurnya di balas dengan persetujuan. Ia meminta untuk bertemu, di atap sekolah seperti kemarin. Beruntung Sasuke mau, sehingga pemuda itu terlihat lebih dulu keluar kelas. Benarkan, Sasuke itu menjauhinya. Sudah jelas kenapa ia tidak mengangkat telpon Sakura tadi pagi, bahkan mematikan ponselnya.
Sakit memang. Tidak usah ditanya bagaimana rasanya. Seorang penjahat pun mempunyai hati. Walaupun pada kenyataan kalau Sasuke benar-benar pria brengsek, Sakura tetap mencintainya. Bagaimana lagi. Cinta memang gila. Ia hamil. Namun, pria yang sudah memberikan benihnya tidak mau menganggap anaknya sendiri, bahkan tak mengacuhkan sama sekali.
Sakura menangis dalam diam. Airmata keluar begitu saja tanpa suara. Terus keluar hingga matanya memerah, mengalir di pipi dan membekas. Ia menengok ke samping, ke arah jendela luar di sampingnya. Tas ransel hitamnya sudah bertengger manis di punggungnya yang terlihat bergetar. Tidak ada suara sama sekali, hanya keheningan yang menemani. Begitu sakit untuk diratapi, hanya air matalah yang membuktikan tanpa lisan dan ucapan.
Perempuan mana yang mau hamil tanpa seorang ayah. Hati perempuan semuanya sama. Begitu rapuh dan hancur. Namun, kuat di saat yang bersamaan. Ketika ia mencintai, ia akan terus mengasihi. Miris memang. Hamil di umur yang masih tergolong remaja, masa-masa di mana keingintahuan mendominasi pikiran. Jika memang pada akhirnya nanti Sasuke tak ingin bertanggungjawab, biarlah ia sendiri yang mengurus bayinya.
"Hei, jangan terlalu nakal di dalam sini, ya." Sakura mengelus lembut perutnya yang masih rata. Matanya menatap ke bawah, memancarkan kilatan kasih sayang keibuan. Ia kembali menangis, kali ini dengan suara isak tangis dengan ratapan menyayat hati.
Matanya menutup erat dengan airmata yang berlinang. Ia tidak sanggup bertemu Sasuke. Terlalu menyakitkan. Tapi, ada hal yang lebih penting untuk dibicarakan.
Sakura menghapus pelan air matanya. Matanya sembab memerah. Kuat. Itulah yang coba Sakura yakinkan. Ia berdiri, merapikan sedikit dirinya yang begitu berantakan. Menghela napas sejenak diiringi kelopak mata yang kembali terbuka, Sakura melangkahkan kakinya keluar kelas.
~OoO~
Sakura dengan langkah yang tergesa-gesa sedikit berlari melewati koridor sekolah. Matanya menatap lurus ke depan, hanya satu tujuan kakinya melangkah sekarang. Atap Sekolah. Helaian demi helaian rambut pink-nya terbang seiring langkahnya yang mulai cepat, hingga sedikit menempel di keningnya yang mengucurkan keringat.
Gadis manis itu menyeka keringatnya dengan napas yang cepat dan tidak teratur. Lembayung senja menghiasi langit sore. Sepertinya Sakura terlalu lama menangis hingga tidak merasakan waktu yang terkuras sudah lebih dari satu jam. Mulutnya berkomat-kamit berdoa agar Sasuke belum pulang.
"Eh?" Seketika Sakura menghentikan langkahnya. Tadi itu, Sasuke, kan? Di gudang sekolah dengan perempuan?
Jantung Sakura berdetak dengan cepat. Ia memundurkan langkahnya, pintu gudang berjarak satu meter di belakang sekarang. Napas lelahnya tidak ia pedulikan, kakinya dengan langkah kecil terus mundur.
"Sa-sasuke- kun ?" Tidak mungkin. Sakura menutup mulutnya tidak percaya. Lagi dan lagi. Airmatanya kembali mengalir, kali ini begitu deras dan cepat. Rasanya napas ini menjadi sesak, jantungnya berdetak lebih cepat.
Sasuke dan Karin, berciuman. Mereka bercumbu hingga Karin memeluk Sasuke dengan erat. Tangisan Sakura menjadi-jadi, hingga terdengar oleh kedua insan yang tidak jauh jaraknya dari sang pengamat.
Sasuke terkejut bukan main, hingga ia mendorong tubuh Karin yang langsung terduduk mengaduh. Bibirnya kaku, mulutnya tercekat, dunia mulai mengecil dan hitam. Sakura melihatnya, gadisnya menangis, karenanya.
Ia tidak mau terlalu larut oleh rasa sakit. Sakura berlari sekencang mungkin, tanpa memedulikan teriakan Sasuke. Lelah. Ia lelah dengan hidup ini. Ia menangis sejadi-jadinya dengan kaki yang terus berlari. Lari dari kenyataan, jika memang bisa. Ia mencoba melihat ke belakang, berharap pemuda itu mengejarnya. Tak ada. Sasuke tidak berlari untuk mengejarnya. Sakura kembali berlari hingga keluar dari gerbang sekolah. Halte adalah tujuan Sakura selanjutnya. Ia harus cepat pulang dan menumpahkan semuanya sekarang.
"Hiks." Sakura terduduk di bangku halte, sendirian. Kedua tangannya ia pangku di atas paha, kepalanya menduduk begitu dalam, airmata terus saja keluar.
Hujan baru saja turun. Untunglah ia sempat berteduh hingga tidak terkena tetesan air dari langit. Sakura memainkan kakinya yang mengunakan sepatu sambil menangis. Ia berharap bus cepat datang.
"Ini." Tisu. Sakura berhenti terisak ketika sebuah tangan besar menyodorkannya tissue kain berwarna putih bersih.
Sakura mendongak. Seorang pemuda tersenyum hingga membuat matanya menyimpit. Dengan ragu-ragu Sakura mengambil benda lembut itu, segera ia usap airmatanya.
"Namaku Sai. Kau?" Pemuda berkulit pucat itu mengambil tempat duduk di samping Sakura.
"Sakura," jawab gadis beriris emerald itu sedikit terisak. Sepertinya Sakura tidak usah bertanya lagi darimana asal pemuda yang sedang menatapnya sekarang. Motif seragamnya saja ia sudah tahu pemuda yang mengingatkannya dengan seseorang itu satu sekolah dengan dirinya.
"Aa. Itu busnya," seru Sai tersenyum manis seperti tadi.
Sakura cepat-cepat masuk ketika bus sudah ada di depan dan berhenti. Sebelumnya ia sudah mengucapkan salam perpisahan, tidak lupa kata terimakasih. Ia tersenyum di balik kaca bus ketika Sai melambaikan tangan dan mempertahankan senyum misteriusnya.
Setelah bus mulai menjauh, barulah Sakura kembali seperti semula. Setetes airmata kembali jatuh. Sakura kembali tersenyum ketika melihat tissue itu masih ada dalam genggamnya.
.
.
.
Bersambung
Aicchi
