Vocaloid © Yamaha. No commercial profit taken.

Warning cliché. Kesamaan ide harap dimaklumi.


Adikku dan Pria Bersabit

oleh cloevil


Setiap malam, aku selalu menemukan adik perempuanku menangis sesegukan di depan kamar.

Saat kutanya alasannya, jawaban yang diberi selalu saja sama: bahwa ia melihat seorang paman dengan sabit di dalam kamar. Lebih tepatnya, di kolong tempat tidurnya. Tentu saja, aku tidak percaya. Maksudku, hei, bagaimana bisa ada orang asing masuk ke dalam kamar adikku yang letaknya di lantai dua? Bawa sabit, pula. Logikaku tak pernah sampai untuk menjawab pertanyaan itu.

"Tapi, Kak Kaito, aku betul-betul melihatnya!"

"Ayolah, Miku. Itu hanya imajinasimu."

"Bukan! Bukan!" Adikku, Miku, bersikeras. "Aku benar-benar melihatnya! Paman bersabit itu ada di kolong tempat tidurku! Aku tidak berbohong, Kak! Aku takut!"

Sebagai orang yang lebih dewasa, aku tidak menganggap serius ocehan adik perempuanku itu. Bahkan, tidak ada seorang pun di rumah yang menggubris Miku. Akaito, kakak pertamaku, tenang-tenang saja. Ayah dan ibuku juga. Mereka sepertinya menganggap jika Miku terlalu banyak menonton film. Imajinasi liar anak kecil. Akhirnya, aku pun mengabaikan adikku tersebut.

Pada suatu sore, aku menaiki anak tangga menuju kamar. Waktu itu, aku baru saja pulang sekolah. Badanku lengket oleh peluh karena sempat berlari mengejar bis. Aku ingin cepat-cepat mandi, lalu tidur sampai dibangunkan oleh ibu waktu jam makan malam tiba.

Saat lewat di depan kamar yang letaknya paling dekat dengan tangga, entah kenapa, aku teringat pada Miku dan kebiasaannya menangis di depan kamar. Langkahku pun berhenti.

Aku menatap pintu kayu itu lamat-lamat. Bertanya-tanya mengenai apa yang ada di kolong tempat tidur anak itu. Rasa penasaranku mendadak muncul dan naik. Kemudian, tanpa berpikir dua kali, aku masuk ke dalam dan melihat ke kolong tempat tidur.

Jantungku berdetak lebih cepat, was-was akan mendapati hal-hal mengerikan. Kepala buntung. Pria tanpa bola mata. Makhluk apa pun yang wujudnya mengerikan dan tak pernah absen mengisi adegan film horor.

Tapi aku tidak menemukan apa-apa.

Yang kulihat hanya lantai berdebu dan beberapa mainan lama yang tertinggal di kolong tempat tidur.

Tidak ada apa-apa lagi. Bahkan seekor kecoak pun tidak tampak.

Aku mendengus dan menertawai diriku sendiri. Merasa tertipu, tentu saja. Bagaimana bisa aku percaya pada ocehan anak kecil seperti Miku? Astaga! Benar-benar tidak dapat dipercaya.

Jadi, aku pun segera kembali ke kamar untuk mandi, kemudian turun lagi ke bawah untuk mengambil segelas air karena merasa sangat haus.

Saat menuju dapur, aku harus melewati ruang keluargaku karena ruangan itu memang berada di tengah-tengah rumah. Di situ, aku mendapati Miku duduk di sofa. Menonton kartun sore sambil tertawa geli.

Aku melewatinya dan tidak menaruh terlalu banyak atensi. Masih sedikit kesal dengan apa yang terjadi tadi. Ujung mataku hanya menangkap sedikit cuplikan serial kartun, sebelum beralih ke rak kecil di sudut ruangan sambil tetap berjalan ke dapur.

Ada foto keluarga kami di sana.

Foto keluarga kecil yang bahagia.

Orangtua dan dua orang putra.

Seketika itu pula, realita menamparku keras-keras.

Ibuku tidak punya anak perempuan.

Dan yang lebih penting; aku, Shion Kaito, adalah anak bungsu.

"Hahahaha!"

"…"

Aku masih bisa mendengar Miku menertawai serial kartun sore favoritnya.