Detective Conan © Aoyama Gosho

Happy reading~! :)


Leaves and Wind

Chapter 1. Bridesmaid

Netra biru abu itu mengarahkan pandangan bergantian antara monitor dan jari-jari kurusnya yang bergerak-gerak lincah di atas keyboard hitam tersebut. Ia memang harus menyelesaikan tugas laporan segera sebelum penerbangannya besok lusa ke Jepang.

Shiho menghela napas sejenak. 'Masih banyak yang harus dibuat laporan' pikirnya. Terima kasih pada profesor—baik hati—nya yang memang sedang rajin memberinya banyak list percobaan.

Hari menjelang sore saat ia memutuskan untuk menyudahi aktivitas—membosankannya—. Disampirkannya jas lab putih di gantungan dekat pintu, bergegas ia menuruni tangga gedung universitas. Tak lupa pamit pada rekan laboratoriumnya yang masih setia berkutat dengan research mereka.

Karena Shiho ingat ada janji dengan temannya untuk mengambil barang pesanan sore ini. Sekarang masih pukul 5 dan langit New York pun masih terlihat cerah, secerah suasana hatinya akhir-akhir ini. Terutama setelah memperoleh kabar bahagia dari sahabatnya. Sambil berjalan tenang di trotoar ia membuka ponselnya kembali. Mengetik pesan kepada seseorang dan membuka kembali website online bertema warna pink dihiasi bunga anggrek putih. Ya, undangan wedding dari Ran yang baru minggu kemarin diterimanya, walaupun ia sudah mengetahui rencana itu lama sebelumnya.

Setelah berjalan sekitar 20 menit, sampailah ia di Anne's taylor. Tempat ia menjahitkan baju bridesmaid—pink—nya sesuai tema wedding. Yah, pendamping pengantin juga harus cantik kan?

"Apa ukurannya sudah sesuai dengan fitting terakhir, Anne?" tanya Shiho dengan bahasa inggris amerika yang fasih pada Anne—temannya sekaligus designer kenalannya yang berumur awal tiga puluhan itu—.

"Of course." Jawab Anne sambil tersenyum. "Kau mau mencobanya dulu, Shiho?"

Shiho mengangguk. "Ya." Bergegas ia membawa dress panjang tersebut ke fitting room.

"Aku menyukai desainnya, Anne." Ujar Shiho. "Anda memang tak perlu diragukan."tambahnya tersenyum.

Anne pun tertawa kecil, wanita amerika ini memang sangat ramah. "Kau bisa saja, Shiho. Ini karena kainnya memang bagus. Kau bawa dari Jepang kan?"

"Hn. Bridenya langsung yang memilih material kain ini meskipun modelnya terserah yang memakai."

"Oh.. by the way, Kapan giliranmu jadi bride?" Wajah Anne yang ramah itu sedikit menyeringai.

Pipi Shiho pun memanas dan bersemu merah muda. "A-ah.. kalau itu, lihat saja nanti, Anne." Jawabnya malu.

Yah.. pemuda itu. Pemuda tidak peka yang memang terakhir kali membuatnya tersentuh luar biasa. Detektif arogan yang bisa berubah sangat romantis padanya. Tapi sejak pengakuan hati oleh si Holme's Apprentice itu, belum pernah lagi pemuda itu mengajukan propose padanya—Lamaran atau sebagainya—. Mereka berdua sangat sibuk. Jarang bertemu pula. Yang terpenting komunikasi selama ini lancar saja. Juga, Shiho sudah tentu dan sangat percaya pada pemilik hatinya itu. Bahwa hati mereka akan selalu terpaut dan menyatu pada akhirnya.

Sambil menarik koper ukuran sedangnya, Shiho mencoba menghubungi seseorang. Dicarinya tempat duduk dekat pintu keberangkatan internasional di bandara International John F. Kennedy itu.

"Moshi-moshi," ucapnya setelah panggilan tersambung. "Penerbanganku pukul 10.00 pagi ini, Um yaa sebentar lagi. Kau bisa menjemputku nanti?" tambahnya sambil merogoh tas untuk mencari tiket pesawatnya. "Eh? Ada kasus rumit? Wakatta. Daijobu.. akan kuminta Hakase menjemputku nanti. Sou, tak usah khawatir, Kudo. Mata ne."

Shiho menutup teleponnya sambil menghela napas ringan. Segera ia beranjak berdiri dan bersiap dalam perjalanannya menembus ribuan kilometer diatas awan. Sudah setahun lebih ia tinggal di Amerika. Mengambil beasiswa S2 tentunya. Kali ini semangatnya berada di level 100% untuk menemui keluarga, sahabat, dan tentunya pemilik hatinya itu. Kudo Shinichi.

Ah, Hatinya terasa ringan saat ini.

Keluar dari Narita International Airport, Shiho segera mencari Hakase dan Fusae yang berjanji menjemputnya. Pelukan bahagia itu tak terhindarkan antara tiga orang tersebut setelah bertemu. Hakase membantu memasukkan koper Shiho ke bagasi, sedangkan Fusae dan Shiho tak hentinya bertukar cerita dan tawa kecil. Banyak hal yang gatal untuk dibahas setelah beberapa bulan tak bertemu.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, pandangan mata Shiho dimanjakan dengan indahnya warna-warni musim gugur di bulan Oktober.

"Kirei.." gumamnya yang duduk di jok belakang mobil VW kuning Hakase.

"Shiho, Bagaimana kuliahmu di New York?" tanya Hakase membuka pembicaraan.

Sejurus Shiho mengalihkan pandangan dari luar kaca mobil pada si penanya. " Baik-baik saja seperti biasanya, Hakase."

"Baguslah."

"Kalau ada masalah, ceritakan pada kami ya," sahut Fusae.

"Hn, Tentu Okaasan."

Sesampainya di rumah yang berbentuk seperti planetarium itu Shiho tersenyum kecil. Sambil memandangi rimbunnya sulur wisteria di depan rumahnya ia melangkah masuk ke rumah bersama kedua orangtuanya. Di musim gugur ini memang bukan waktunya tanaman perdu itu untuk berbunga.

Matahari pagi yang bersinar menelisik dibalik gorden tipis kamar ini. Beberapa menit Shiho mematut diri di depan cermin almarinya yang cukup lebar itu. Sambil menunggu jemputannya yang belum juga datang. Ia tak ingin terlambat di hari penting sahabatnya. Ya, hari ini hari pernikahan Ran. Shinichi sudah berjanji akan menjemputnya pukul 9. Terlambat 7 menit, pikirnya. Awas saja nanti. Sepertinya detektif tampan itu harus menyiapkan mental untuk sambutan sarkasme Shiho saat pertemuan mereka nanti.

Nee, ia juga sudah tak sabar ingin segera bertemu detektif arogan itu. Ia memang rindu.

to be continued :)


Konnichiwa, minna-san~

Arigatou gozaimasu telah meluangkan waktu membaca fanfic ini :))

Wah, sudah lama ya sejak terakhir kali saya menyelesaikan WL, sejak itu saya jarang sekali buka website ini :'D

dan akhir2 ini kangen juga untuk posting sebuah fanfic. Jujur agak sulit untuk memulai membuat fanfic lagi, terlebih untuk mencari inspirasinya :'D

Demo, saya akan berusaha :) Yosh, sekian say HI nya, Jaa

See yaa in the next chapter~