Author's notes:
- Karakter hanya milik Masashi Kishimoto.
- Ditulis hanya untuk hiburan.
- Fanficcer tidak mendapatkan keuntungan materi apa pun dari fanfiction ini.
- Alternate universe setting out of character.
- Romance, Angst, Fantasy, Drama, Mystery.
Black Blood
.
.
.
Chouchou melamar pekerjaan di sebuah rumah bordil sebagai pekerja seks. Tapi di Inggris—dan barangkali di seluruh dunia, para pria mengharapkan pekerja seks yang berkulit putih dan bertubuh molek seperti bodi gitar, bukan gadis gemuk berkulit hitam seperti Chouchou. Jadi, apakah ia bermimpi saat tiba-tiba datang seorang pemuda tampan yang menginginkan tubuhnya?!
.
.
.
Chapter One
A Weird Guy
.
.
.
Di Inggris—dan mungkin di seluruh dunia, prostitusi kedengaran seperti sebuah jalan keluar yang bagus bagi seorang gadis yang putus asa. Dan Chouchou sedang putus asa.
Ayah Chouchou adalah seorang pria blasteran Jepang dan Inggris, tinggal di Bibury sejak kecil namun fasih berbahasa Jepang dan belasan bahasa lainnya. Sementara Ibu Chouchou adalah seorang wanita Afrika-Amerika yang kenal dengan ayahnya saat sang Ayah bekerja sebagai pemandu wisata.
Mereka adalah keluarga bahagia yang rukun dan harmonis. Andai cerita berakhir di sini, tapi sayang… ini semua baru dimulai.
Kemalangan sudah menjadi teman baik Chouchou sejak ia masih dalam buaian. Ia terlahir bertubuh tambun seperti ayahnya dan mewarisi kulit hitam dari ibunya. Bentuk fisik yang ia miliki jauh di bawah standar kecantikan di negaranya tinggal, dan mungkin di seluruh negara.
Hal ini membuatnya menjadi sasaran empuk perundungan ke mana pun langkahnya pergi. Tapi itu semua belum apa-apa dibandingkan saat ia harus menghadapi kenyataan bahwa orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat dalam perjalanan mereka menuju Tokyo.
Kedengarannya memang beruntung Chouchou tidak ikut dalam perjalanan pulang kampung ayahnya itu sehingga ia masih selamat hingga sekarang. Tapi bagi Chouchou, ini adalah kesialan terbesar.
Andai ia mati bersama kedua orang tuanya, ia tidak perlu bersusah payah melanjutkan hidup hanya untuk membayar utang-utang yang ditinggalkan mereka.
Biaya hidupnya sendiri saja sudah sulit untuk ia bayar, belum lagi ditambah utang-utang yang melilitnya. Chouchou terpaksa putus kuliah dan meninggalkan hobi makan keripik kentangnya.
Untuk menghindari utang-utang itu sementara waktu, ia memutuskan untuk kabur ke London dan menginap di losmen kecil di Hanbury Street yang kumuh. Hanya satu minggu waktu yang cukup ia bayar untuk bisa tidur di sana.
Big Ben, London Bridge, dan London Eye sama sekali tidak menarik perhatiannya.
Di hari pertamanya datang ke London, ia terus memikirkan keputusannya. Sanggupkah ia berbuat dosa dan merelakan tubuhnya yang masih perawan digerayangi pria-pria hidung belang yang tengah birahi seperti binatang? Sanggupkah ia menghadapi pandangan negatif orang-orang atas statusnya?
Di antara bangunan-bangunan abad ke-19 yang megah, Chouchou berdiri seorang diri di bantaran sungai Thames. Langit kota London yang selalu mendung membuat Chouchou menengadahkan kepalanya, menatapnya dengan kedua mata yang basah.
Saat cairan bening itu mengaliri pipi bulatnya, ia pejamkan kedua matanya rapat-rapat untuk menguatkan diri. Ia tidak punya pilihan lain untuk mendapatkan banyak uang dengan cara cepat selain membiarkan hari ini menjadi hari di mana ia melepas keperawanannya.
Maka, kedua kaki Chouchou mengantarkannya ke bagian barat kota London.
.
.
.
Chouchou tidak pernah mengantisipasi ini sebelumnya, rumah bordil di Soho yang Chouchou kunjungi menolak lamarannya mentah-mentah.
"Maaf, kami hanya menerima gadis cantik untuk posisi yang Anda inginkan. Kecuali kalau Anda bersedia mengurus ruangan dan lantai, Anda bisa kerja mulai besok." Mrs. Wingsley, pengurus bordil tersenyum sarkastis.
Kalimat itu bagaikan sebuah portal yang menutup satu-satunya jalan yang terisisa untuknya. Selain itu, diksinya memang menyakitkan. Chouchou tahu betul bahwa ia memang hitam, gendut, dan tidak cantik. Ia tidak membutuhkan penegasan soal itu. Tapi bukan berarti ia bisa seenaknya dihina.
Namun karena perlakuan semacam itu sudah menjadi makanannya sehari-hari dan ia lebih memilih mengurus lantai ketimbang tidak punya pekerjaan sama sekali, maka Chouchou memutuskan untuk tetap tersenyum dan berkata dengan sopan, "Ya, menjadi petugas kebersihan tampaknya lebih cocok untuk saya."
.
.
.
Di hari keduanya tinggal di London, Chouchou masih perawan dan sama sekali tidak bersentuhan dengan pria mana pun. Yang ia kerjakan sepanjang hari hanya mengepel lantai, mengelap jendela, mencuci seloki, dan mengurus seprai.
Gaji yang ia terima jauh dari harapannya, tidak sampai setengah bahkan seperempat dari jumlah utangnya. Namun kabar baiknya, bekerja di sini tidak buruk juga, ia tidak perlu berurusan dengan orang-orang mabuk dan pekerjaannya halal, kekhawatirannya selama ini tidak terjadi. Dan yang paling penting, pekerjaan ini sepertinya baik untuk merampingkan tubuhnya yang kelebihan daging.
Chouchou menghela napas sambil menyeka peluh di leher. Tak terasa hari sudah menunjukkan pukul delapan malam, tempat ini semakin ramai dan jam kerjanya hampir habis.
Chouchou segera berpamitan pada Mrs. Wingsley. Benar kata orang, impresi pertama tidak selalu benar. Mrs. Wingsley dengan tulus barkata ia sangat terbantu dengan hasil kerja Chouchou yang bagus, dengan senang hati ia akan memberikan bonus. Chouchou sangat menjadi riang dibuatnya, ia keluar dari rumah pelacuran itu dengan semangat esok hari, mengambil langkah-langkah optimis.
Sayang, keceriaan itu tidak berlangsung lama.
Di tengah perjalanan pulangnya, di Peter Street yang temaram, tidak jauh dari rumah bordil, kedua mata amber Chouchou berjumpa dengan sepasang mata emas yang dengan tajam menatapnya.
Tatapan itu begitu dingin dan menusuk. Chouchou tidak mengerti, mungkin ini hanya perasaannya atau pemuda itu memiliki aura membunuh yang kuat.
Chouchou mengusap tengkuknya yang merinding seraya buru-buru melangkah meninggalkan pemuda pucat berambut perak itu sambil berusaha menghindari ekor mata yang terus mengikatnya.
Tidak sampai lima ratus meter Chouchou melanjutkan langkah, telepon genggamnya bergetar, nama Mrs. Wingsley tertera di layarnya.
"Halo?" kata Chouchou, sedikit bingung dengan perasaan tidak enak yang ganjil memenuhi rongga dada.
"Bisa kau kembali sekarang?" Tidak ada basa-basi, ciri khas Mrs. Wingsley.
"I beg you pardon?" Chouchou semakin merasa tidak enak.
"Kau mau uang atau tidak?" desak wanita itu dengan kalimat yang lebih sederhana.
Chouchou melirik arloji di pergelangan tangannya. "Tapi ini sudah larut, Madam."
"Pukul delapan malam kau sebut larut, astaga! Kau menyia-nyiakan uang yang sukarela datang kepadamu, baby."
Sambungan telepon terputus.
Chouchou tahu betul bahwa mengikuti nalurinya untuk merelakan uang pergi di saat ia sedang sangat membutuhkan uang adalah gila. Jadi, ia berdecak dan memutar langkah, kembali pada sebuah rumah pelacuran.
Begitu ia sampai, Mrs. Wingsley menyambutnya dengan keramahan yang berlebihan. Lalu dengan terburu-buru membawanya ke ruang pribadinya.
Wanita itu mengaduk-aduk isi lemari sambil menggerutu sesekali. Sulit menemukan baju dengan ukuran yang pas untuk Chouchou.
"Kenapa kai bengong di situ?! Cepat bersihkan dirimu!" serunya sambil mengibas-ngibaskan tangannya dengan gusar.
"Saya tidak mengerti—"
"Astaga anak ini! Kau tidak mau membuat tuanmu menunggu 'kan?" tanya Mrs. Wingsley, setengah memekik.
Tuan?
Dahi Chouchou berkerut.
Jangan-jangan…. Oh tidak!
Chouchou sudah menguatkan diri untuk menghadapi situasi seperti ini sejak jauh-jauh hari. Namun ketika situasi yang ia takutkan ini harus ia hadapi di saat ia sudah cukup tenang dan mengira tidak akan ia hadapi dalam waktu dekat ternyata membuat ketakutannya berkali-kali lipat.
Bukankah sejak awal memang posisi ini yang ia inginkan, menjadi pekerja seks? Kenapa sekarang ia ragu? Dan lagi, siapa gerangan pria yang menginginkan dirinya sampai-sampai Mrs. Wingsley repot-repot meneleponnya?
Chouchou melangkah menuju kamar mandi dan membenamkan tubuh di bak berisi air sabun hangat yang sudah disiapkan Mrs. Wingsley.
Tidak penting siapa pria yang menginginkanku, yang penting adalah dompet tebal di kantongnya, bukan? pikir Chouchou.
Saat gadis itu keluar kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya, Mrs. Wingsley sudah siap dengan gaun hitam di tangannya.
"Ini bukan gaun terbaik yang kupunya tapi sepertinya hanya ini yang bisa muat di tubuhmu."
Itu gaun terindah yang pernah Chouchou lihat, ngomong-ngomong.
"Sepertinya 'tuan' ini istimewa sekali," komentar Chouchou saat wanita itu merapatkan reseleting gaun di punggungnya.
"Ya, dia membayar mahal sekali untuk tidur denganmu malam ini, jadi kau jangan membuatku malu," katanya sambil menyisir rambut Chouchou. "Nah, sekarang cepat kau hampiri dia di ruang nomor sembilan. Dia sudah menunggumu cukup lama." Mrs. Wingsley mendorong punggung Chouchou keluar setelah melempar sisirnya ke sembarang tempat.
Berendam air hangat sebentar membuat pikiran Chouchou lebih jernih untuk menghadapi situasi. Tidak perlu diteriaki dua kali, gadis gemuk itu berjalan—setengah berlari—menuju ruangan yang dimaksud.
Ketika pintu di hadapannya berderit pelan, terbuka, seorang pemuda tinggi kurus yang berdiri menatap ke luar jendela memunggunginya dengan kedua tangan di saku celana panjangnya merupakan hal yang dengan sekejap menyita perhatian Chouchou.
Merasakan kehadiran Chouchou, pemuda itu menoleh padanya. Rambut perak dan mata emas itu… tidak salah lagi… dialah si pemuda dengan aura membunuh. Detak jantung Chouchou berdegup tak beraturan dan seluruh tubuhnya mulai terasa dingin hingga kedua tangannya kebas.
"Kita berjumpa lagi, Miss," ujar pemuda itu, dingin.
Entah mengapa, di antara aura membunuh itu, Chouchou bisa merasakan kesedihan tersirat di dalamnya.
.
.
.
To Be Continued
Next Chapter
A Room
.
.
.
Author's note:
Siapa di sini yang nge-ship Mitsuki sama Chouchou? Ayo tunjuk tangan! XD
Aku udah suka banget sama dua karakter itu sejak kemunculannya di Naruto Gaiden. Chouchou yang hitam, Mitsuki yang putih. Chouchou yang gemuk, Mitsuki yang kurus. Chouchou yang cerewet, Mitsuki yang pendiam. Semua hal yang saling bertolak belakang di antara mereka bikin interaksi mereka lucu banget. Gemes jadinya! XD
Awalnya aku mau jadiin fanfic ini Saiino—lagi, tapi karena aku suka juga suka banget Mitsuchou, so why not? :D
Waktu ngeliat fanfic mereka sepi banget, aku jadi makin yakin buat bikin pake pair Mitsuchou alih-alih Saiino—lagi. Tapi maaf aku bikin mereka jadi OOC dan genre-nya kubuat angst. Aku belum bisa bikin yang gemes-gemes lucu-lucu karena emang ide cerita yang muncul di kepalaku genre-nya memang angst. :")
Tapi aku berharap, semoga fanfic yang kutulis ini bisa menghibur kalian-kalian yang haus akan interaksi Chouchou dan Mitsuki. Mohon review-nya teman-teman! :D
