"Ochobot! Boleh aku berpecah tujuh?"
Kalau saja robot bisa mengerutkan dahi maka sedari tadi sudah Ochobot lakukan. Power sphera kuning bermata biru itu menatap agak lama pemuda bumi yang berstatus sebagai tuannya. Di diamkan begitu, Boboiboy jadi gelisah sendiri.
"Uh, aku tau permintaanku berlebihan. Tapi tolong, ya? Misi ini akan cepat selesai kalau bala bantuannya banyak," kedua tangannya disatukan tak lupa dengan wajah memohon.
Tentu saja itu tidak berpengaruh pada Ochobot. Robot kuning itu hanya diam dan menatap datar Boboiboy yang uring-uringan. Kalau saja robot bisa menghela nafas maka Ochobot akan melakukannya sekarang.
"Kau lupa kabar burung itu?" ucapnya sambil berkacak pinggang. "Kita ada di planet antah berantah di galaksi antah berantah, Boboiboy. Bukannya aku tidak percaya tapi kabar burung itu membuatku takut. Kau bisa waspada sedikit tidak, sih?"
"Ayolah!" Boboiboy merengek. Memutar bola matanya malas, tentu saja dia waspada. "Itu cuma kabar burung. Belum tentu benar."
"Kau ternyata lumayan santai menghadapi kabar itu, ya? Egomu sudah setinggi apa sampai menyepelekan kabar yang bahkan membuat Komandan Koko Ci pun gemetar?"
"Aku tidak menyepelekan! Hanya saja…" Boboiboy tiba-tiba diam, tubuhnya tanpa sadar gemetar. Tentu saja dia takut. Takut kejadian itu terulang lagi dan takut kehilangan semuanya lagi. "Aku tidak mau berpikir… dia benar-benar akan datang."
Ochobot paham dan akhirnya mengalah. Dia mengizinkan dengan berat hati juga sesekali mengingatkan untuk selalu berhati-hati dan masing-masing pecahan tidak diperbolehkan sendiri. Kabar burung yang sudah seperti mimpi buruk itu entah akan datang atau tidak. Semua tentu ingin kabar burung itu hanyalah kabar iseng belaka tapi apalah tipu daya tampilan manis dari sebuah makanan yang ketika dicicipi malah terasa pahit.
Tidak ada yang benar-benar tau kebenarannya, berhati-hati dan berdoa tidak ada salahnya, kan?
...
Ice gelisah. Perasaannya mengatakan kalau mereka di ikuti. Ice berdoa semoga suara kaki tambahan di belakang adalah Thorn. Adiknya itu memang paling mudah penasaran selain Solar dan tidak akan segan mengikuti apa yang membuatnya penasaran.
"Ada apa, Ice?" tanya Blaze. Dia baru sadar Ice yang biasanya datar berubah gelisah.
Ice tidak langsung menjawab. Tampaknya bimbang apakah harus mengatakan hal yang dikhawatirkan atau tidak. Dan elemental itu memilih tidak mengatakan apa pun. Ice ragu dan mungkin dianya saja yang terlalu khawatir karena baru-baru ini beredar kabar bahwa pemilik terdahulu mereka sedang berburu mencari mahakaryanya yang dibawa kabur.
Meski tidak puas tapi Blaze tidak mengatakan apa pun. Dia menghargai keputusan Ice meski tak jarang membuatnya ingin menginterogasi yang sayangnya, selalu berakhir sia-sia. Ice tetap akan diam. Meski terus di desak pertanyaan.
Mereka melanjutkan perjalanan dan mengabaikan satu sama lain. Bukan berarti sedang terjadi perang dingin tapi baik Blaze dan Ice memfokuskan pengawasan. Hutan yang sedang mereka telusuri sangat luas. Kalau mata tidak jeli, yang ada sedari tadi mereka hanya berputar. Syukurlah ke tujuh elemental memiliki kepekaan diluar nalar manusia, menjelajah hutan bukanlah masalah besar.
"Sebentar," Blaze merentangkan sebelah tangannya dengan pandangan awas, menajamkan pendengaran. "Kau dengar itu?" tanyanya. "Kita di ikuti."
Ice membelakan matanya.
Blaze yang melihat gelagat Ice langsung kesal. "Kau sadar? Kenapa tidak beritau aku?!" geramnya.
"Aku ragu," balasnya lirih. "Ku kira Thorn."
"Dia tidak akan melakukan itu di situasi genting seperti ini. Dengar sendiri kan, Ochobot melarang kita keluar sendirian gara-gara kabar burung itu!" omel Blaze.
Ice menunduk bersalah dan merutuki dirinya yang tidak pernah percaya kata hatinya. Ketika merasakan pergerakan lain, Ice menatap Blaze dan detik itu mereka berpencar masuk ke pepohonan. Bukan manusia tapi robot tempur yang mengikuti mereka. Ice dalam hati takjub dengan penampilan robot yang sangat lain dari biasanya. Robot ini sangat canggih. Dari penampilannya saja Ice tau robot ini sangatlah hebat.
Blaze bersiul pelan. Agaknya takjub dengan yang dia lihat dari balik pohon. "Wow! Itu berbeda dari robot yang biasa ku lihat. Versi baru, kah?" Pecahan keempat itu tertawa bahagia. "Ah! Tidak sabar menghancurkan mereka dengan cakramku!" Kedua tangannya memutar lalu muncul cakram api. Di tempat lain, Ice sudah mengeluarkan panah beku berasap karena terlampau dingin dengan anak panah yang siap di lepas.
Ada lima robot tempur, salah satunya berhenti lalu memandang sekitar dengan mata merah darah berbahaya. Di saat itulah, Blaze melempar cakram apinya. Dia tertawa bahagia ketika berhasil membelah robot tempur itu. "Hebat! Cakramku masih menang dari robot payah itu!"
Suara "krak" yang keras menarik perhatian Blaze. Dua robot tempur dengan desain yang berbeda membeku lalu pecah berkeping-keping. Blaze merengut tidak suka. "Curang! Kenapa kau langsung dapat dua sekaligus?!" protesnya.
"Maaf," balas Ice kalem.
"Ya sudah. Dua robot tempur sisanya untukku!" Blaze mengeluarkan cakram api lagi, berlari lalu melepar cakram apinya ke arah robot tempur yang siap dengan senjata mereka.
Ice keluar dari tempat persembunyian. Panah beku miliknya sudah hilang. Dia memutuskan menonton pertarungan kakaknya melawan robot tempur dalam diam. Tawa maniak Blaze yang selalu muncul tiap kali bertarung menunjukkan seberapa menikmatinya dia. Semakin keras dan menggila berarti dia sangat menikmati pertarungan itu meski harus membakar habis lingkungan sekitar. Yang kesusahan adalah Gempa. Karena ulah Blaze, Gempa harus menguras tenaga lebih untuk membuat tanah kembali subur sedia kala.
Ice tersenyum kecil. Dia satu-satunya yang tidak mempermasalahkan Blaze melepas kuasanya secara sembarang dan berakibat fatal bagi sekitar. Bukannya tidak peduli, hanya saja dia terlalu paham. Ice terlalu peka dan pengertian. Itu kelemahannya. Dan empatinya itu terkadang membuatnya menjadi linglung dan melupakan penjagaan.
"Kuat dan buas. Sayangnya aku tidak memerlukan kuasanya sekarang."
Ice membeku, hapal betul suara berat itu. Dan nyatanya benar, ingatannya masih bisa dipercaya yang biasanya payah. Tubuhnya sama sekali tidak bereaksi meski mata biru pucatnya melakukan kontak mata dengan mata jingga Retak'ka yang menatapnya penuh hasrat dan berbahaya.
"Aku ingin kuasamu," ujar Retak'ka sambil menyeringai. Tangannya terbuka lebar ingin menangkap wajah Ice yang masih terpaku dan menyerap kuasanya. Tapi tangan dengan kuku runcing itu ditepak kasar dan membeku. Retak'ka mengernyit tidak suka. "Pemberontak," desisnya. "Diamlah!"
Ice tidak sempat menghindar, alhasil tubuhnya terlempar jauh karena tendangan kuat dari Retak'ka.
"Ukh!" Ice meringis kesakitan. Punggung dan kepalanya terbentur keras pohon besar yang kuat nan kokoh, tapi sekarang pohon itu tumbang seperti lidi yang rapuh. Tubuhnya telentang dan nafasnya tersengal-sengal. Mulutnya terbuka berusaha memasukan udara dengan rakus. Tapi percuma. Sekeras apa pun Ice mencoba bernafas, paru-parunya tidak mengizinkan. Darah yang keluar dari belakang kepalanya semakin banyak membetuk danau kecil di tanah, mulutnya pun juga mengeluarkan darah. Bau amis juga teksturnya yang menjijikan mengotori wajah dan pakaianya yang membeku. Tubuhnya mengeras seperti es. Bentuk pertahanan diri yang tampaknya tidak berguna karena membuatnya tambah kesakitan. Ice bisa melihat kunang-kunang. Untunglah dia mesin tempur. Meski diberi tubuh organik yang terluka berat, Ice tidak akan mati. Dia hanya merasakan sakit yang luar biasa dari kepala, dada, perut, dan punggung yang membuatnya tidak bisa berbuat banyak membalas serangan Retak'ka.
Sosok yang mirip primata itu mendekati Ice yang tergeletak lemah. Tawa hina juga raut angkuh dikeluarkan dengan bangga. "Bodohnya kau menerima tubuh yang mudah rusak ini. Apa yang kau dapatkan dari tubuh yang fana ini, kuasaku?" Retak'ka menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan mesin tempur yang di desain canggih ini ternyata begitu naif. "Bocah itu mempengaruhimu terlalu jauh. Terlampau jauh sampai-sampai teknologi canggih sepertimu bermain dengan barang rendahan seperti tubuh organik ini," Retak'ka menatap tubuh replika bocah laki-laki yang amat dia benci. Mata jingga itu tersenyum puas begitu tau kerusakan yang dia timbulkan. Tulang kepala tubuh replika itu retak, tulang rusuknya patah dan beberapa potongan tulang ada yang menusuk paru-parunya, pendarahan internal di bagian pencernaan, juga tulang punggung yang retak. Normalnya, siapa pun yang mendapat luka berat seperti ini akan tewas seketika. Terutama manusia, yang memang memiliki kekebalan tubuh yang lemah dan tubuh yang gampang rusak.
Retak'ka berjongkok, senyumnya makin lebar ketika melihat darah yang mengalir keluar dari tubuh replika yang dipakai kuasanya itu perlahan masuk kembali. "Kau menyembuhkan diri dengan kuasamu?" tanyanya. "Luar biasa. Hebat dan pintar. Tapi tidakkah kau sadar rasa sakitnya sangat menyakitkan? Sini, biar ku bantu kau. Tidak perlu repot-repot mengobati dirimu sendiri yang sedang sekarat, istirahat saja dan lakukan kegiatan yang begitu kau sukai itu." Tangan besarnya menekan dada Ice kuat. Darah segar kembali dimuntahkan. Pandangan Ice menggelap begitu pula dengan nafasnya yang tinggal satu-satu.
"Tidurlah," tangan besar Retak'ka menutup kedua mata Ice. Senyum terhias di wajahnya lagi. "Sekarang, bergabunglah denganku."
TRANG!
Retak'ka berhasil menangkis cakram itu dengan elok. Tanpa melihat siapa si pemilik senjata, penguasa kuasa elemental terdahulu itu tau pelakunya. Dia melirik sedikit pergelangan tangan kiri yang dipakainya menangkis cakram api tadi. Retakkannya bertambah dan agak parah, tapi tidak berpengaruh apa-apa. Api merah yang membakar tangannya perlahan menyusut dan masuk ke dalam tubuhnya.
"Jangan sentuh adikku, keparat!" seru Blaze marah. Matanya berkilat bahaya, memandang Retak'ka murka. Tubuhnya serasa mendidih begitu melihat keadaan Ice yang sangat berantakan dan tidak sadarkan diri. Ia geram. Apa alien yang seperti primata itu mau melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya?
Dahi Retak'ka mengernyit heran, "Adik?" ucapnya. "Apa ini? Kuasaku memandang kuasa yang lain sebagai saudara?"
"Bukan urusanmu," jawab Blaze acuh. Tangan kiri yang memegang cakram apinya dicengkram kuat, tangan kanannya diayunkan lalu muncul cakram api baru. "Akan ku hancurkan siapa pun yang melukai adikku!"
"Ah, perlahan kalian seperti bocah berisik itu. Terlalu lama bergaul dengannya membuat kuasa-kuasaku membangkang dan berpikiran aneh. Saudara? Jangan membuat tuanmu ini tertawa! Kalian hanyalah sebuah mesin tempur yang di desain untuk patuh pada satu tuan, yakni aku!"
"KAU BUKAN TUAN KAMI!" seru Blaze. "Tidak akan pernah!"
Kemudian cakram-cakram api itu dilempar, bergerak cepat dan membabi buta. Blaze membuat cakram api lain dan melemparnya lagi. Fokus utamanya sekarang adalah menjauhkan Retak'ka dari Ice sejauh mungkin lalu saat kesempatan datang, membawa Ice kembali ke tempat persembunyian. Sayangnya Retak'ka belum cukup jauh dari posisi Ice, malah masih terlampau dekat untuk berlari dan membawa kabur adiknya itu. Serangan dari empat cakram api dari Blaze pun dihindar dan ditangkis dengan mudah. Blaze mendecakkan lidahnya, kalau begini terus bagaimana dia bisa menyelamatkan Ice?
Satu per satu cakram api yang bergerak liar di udara ditangkap lalu menghilang. Blaze terkesiap dan mulai berhati-hati. Salah sedikit bisa berakibat fatal. Secerobohnya dia, Blaze tidak sudi tertangkap dan bersatu dengan Retak'ka. Pengalaman adalah guru paling berharga yang menamparnya keras-keras supaya tetap waspada.
"Cukup dengan ini. Kau membuang waktuku terlalu banyak."
"Apa? TIDAK!" Blaze panik. Dia memaksakan kakinya berlari kencang yang rasanya sudah seperti jeli karena bercampur takut dan lelah. Dalam hati dia memohon, jangan ada saudaranya yang diambil. Jangan Ice. Jangan saudara yang paling dekat dan yang paling memahami dia. "Jauhkan tanganmu dari–Aaarrgghh!"
Punggungnya serasa terbakar. Sensasi sakit yang luar biasa juga pedih menjalar cepat di tubuh Blaze seperti penyakit. Blaze menopang setengah badannya di tanah dengan kedua tangan yang gemetar. Bau daging terbakar, darah, dan suara besi panas yang berdesis membuatnya bergidik ngeri. Suara mesin bekerja terdengar jelas di telinga, sepertinya ada satu robot tempur yang dia lewatkan atau mungkin robot tempur yang menyerangnya ini adalah bala bantuan. Yang mana pun itu yang jelas Blaze dalam bahaya dan terpojok. Blaze menggeram marah. Dia memaksakan tubuhnya berdiri, mengacuhkan rasa sakit yang membuatnya berkeringat dingin sebesar biji jagung. Robot tempur itu kembali menyerang, beruntung Blaze berhasil menghindar dan meninju robot itu tepat di dada. "Tinju berapi!" serunya. Robot itu pun meledak dan hancur berkeping-keping.
Retak'ka berdecak kagum. Dia mengakui bocah bumi itu mengasah kuasanya dengan baik tapi masih terlalu banyak celah dan terkesan tidak serius. Apalagi dengan embel-embel 'menyelamatkan galaksi' yang selalu bocah itu katakan. Jujur saja itu membuatnya muak. Tapi bocah bumi itu memang masih dalam pertumbuhan, wajar kalau sifat naifnya ketara sekali.
Blaze menoleh dan mendapati Retak'ka tengah berjalan santai mendekati Ice yang masih belum bergerak. Pecahan keempat itu menyeret paksa kakinya untuk berlari tapi robot tempur lain datang menghalang. Dengan cepat, robot tempur yang ternyata ukurannya dua kali lipat dari yang baru Blaze kalahkan itu menembakkan tombak baja hitam berkali-kali. Beberapa berhasil dihindari dengan susah payah dan beberapa berhasil menggores rubuhnya. Blaze berteriak kesakitan ketika salah satu tombak baja hitam itu menusuk bahu sebelah kiri dan membuatnya mundur dua langkah.
Tangan kanannya mencengkram tombak baja hitam yang menancap dengan gemetar. "Jangan pernah–" Blaze menahan nafas lalu menarik paksa tombak baja hitam itu. "–berpikir aku akan menyerahkan –Akh!" Tombak baja hitam lain ditembakan lagi. Kali ini menancap bahu sebelah kanan.
"Jangan… bawa adikku, Retak'ka!" Dengan tangan kiri yang mencengkram tombak baja hitam, Blaze berjalan gontai mendekati sang robot yang menatapnya tajam. Mengatur nafas sampai tenang, Blaze akhirnya mencabut senjata itu. Dia tidak meringis atau pun mengernyit sakit. Di pikiran pemuda berpakaian bercorak api itu hanya fokus di saru titik. Menyelamatkan saudaranya apa pun yang terjadi.
"Turunkan Ice, keparat!" teriak Blaze. Suaranya berubah serak dan tenggorokkannya mulai sakit. Jari telunjuknya teracung gemetar menatap tajam Retak'ka yang menggendong Ice di bahu layaknya barang. "Kubilang turunkan adikku!"
Retak'ka berdecak kesal. "Bereskan dia sekarang," perintahnya.
Robot tempur itu kembali menyerang seusai mendengar perintah Retak'ka. Dengan tenaga yang tersisa, Blaze mengeluarkan cakram apinya. Tubuhya sempoyongan karena kehilangan banyak darah, pandangannya mulai mengabur. Blaze menggelengkan kepalanya pelan membiarkan keringat dingin kembali mengucur keluar lalu sebisa mungkin fokus.
Dengan tangan yang gemetar, cakram api itu terlempar. Tidak seterarah sebelumnya tapi masih bisa memotong tombak baja hitam yang lagi-lagi ditembakkan.
"Ukh!" Blaze memuntahkan darah dan refleks menekan perutnya yang tertembak. Kepalanya berat dan bisa dirasakan tubuhnya jadi seringan kapas, Blaze tidak tau kapan dia terjatuh. Inginnya menarik paksa senjata yang melubangi perutnya tapi apa daya, tenaga untuk duduk saja tidak ada apa lagi mencabuti tombak baja hitam yang sedikit ditarik membuat rasa nyeri luar biasa.
Mungkin karena marah, elemental api itu tidak terganggu dengan rasa sakit yang begitu menyiksa. Otaknya mempermainkannya dengan hebat.
Blaze meringkuk di tanah. Tangan kanannya melingkar di perut, menekan lukanya yang menganga sedangkan tangan kirinya terjulur ke depan seperti ingin meraih sesuatu. Susah payah, dia menyeret tubuhnya mendekat dimana robot tempur paling besar itu berada. Samar bisa dilihatnya sekarang mau Retak'ka atau robot tempur itu pergi entah kemana. Blaze juga mendengar ungkapan Retak'ka, "Tenanglah. Aku akan kembali dan mengambil kuasaku lagi suatu hari nanti" yang entah kenapa begitu menakutkan. Blaze harus bisa mengambil Ice sebelum di bawa entah kemana.
"KEMBALIKAN!" pinta Blaze yang tentu dihiraukan. "ICE! ICE!" Air matanya merembes keluar entah karena rasa sakit yang semakin merajai atau karena takut. "Jangan ambil… adikku…"
Dan hal yang Blaze ingat setelahnya adalah gelap.
Waktu dia membuka matanya, Blaze bisa melihat Thorn di samping kirinya sambil memegang tangannya erat. Sadar ada pergerakan, Thorn mendongak lalu memeluk erat elemental api tersebut. Dia menangis sejadinya. Tidak henti-henti mengucap syukur dan betapa bahagianya dia salah satu kakak favoritnya akhirnya bangun. Di belakang ada Taufan yang tersenyum lega dengan mata sembab habis menangis juga Gempa yang keadaannya tidak jauh berbeda. Blaze menggerakkan tangannya yang terbungkus perban tebal perlahan. Tubuhnya kaku dan sakit.
Berapa lama dia tertidur?
"Kakak koma dua bulan," jawab Thorn sesegukan. Pelukannya sudah dilepas tapi masih menangis tersedu-sedu. "Aku takut kakak kenapa-kenapa. So-soalnya, waktu Kak Halilintar datang gendong kakak..." Memori buruk itu tiba-tiba terputar kembali di kepalanya. Thorn menangis lebih keras.
Meski sudah berkali-kali melihat orang terluka, separah apa pun, tapi begitu melihat saudaranya sendiri yang terluka tidak pernah membuat Thorn terbiasa. Terlebih ketika kondisi saudaranya itu sudah di ujung tanduk. Kalau tidak di sengat listrik Halilintar kemungkinan Thorn hanya diam, menyaksikan maut menjemput kakaknya.
"Kak Hali dan Solar di luar sedang patroli kalau kau tanya dimana mereka," ujar Gempa sambil tersenyum lelah. Mata emasnya perlahan kembali hidup. Jarinya menyeka air matanya. "Mereka jadi lebih sering keluar akhir-akhir ini," keluh Gempa.
"Mau bagaimana lagi, kan?" timpal Taufan. Pemuda serba biru itu memiringkan kepalanya bingung melihat Blaze yang celingukan mencari sesuatu. "Kenapa, Blaze? Cari apa? Haus, ya? Sebentar, aku ambilkan minum."
"Mana Ice?"
Blaze tidak lupa kalau dia di serang. Dan mendengar bagaimana bisa dia berada di sini membuatnya berharap kalau Halilintar berhasil menghajar atau minimal merebut Ice. Merasakan suasana kamar yang berubah berat dan reaksi saudaranya yang aneh membuat Blaze paham bahwa harapannya hanyalah sebuah harapan.
Taufan menelan ludahnya susah payah. "Hali… saat memutuskan mencari kalian berdua yang tak kunjung kumpul, dia hanya melihatmu tergeletak di tanah hampir tidak bernafas," jelasnya. Pelan dan hati-hati.
"Kau pendarahan hebat," kata Gempa. Wajahnya berubah sendu. "Baju Kak Hali hampir basah semua dengan darahmu waktu kembali kemari." Pemuda itu menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Tubuhnya agak gemetar karena menahan tangis. "Kami kesulitan menghentikan pendarahan juga transfusi darah. Tapi untungnya kami berhasil mengatasinya." Air matanya akhirnya tumpah. Gempa memang merasa dia tidak akan bisa setegar biasanya.
Semuanya kacau balau membuatnya resah dan sedikit demi sedikit sikapnya untuk selalu tegar dengan keadaan apa pun perlahan runtuh. Dan ketika melihat darah dari saudaranya sendiri juga pengakuan dari bumi yang menceritakan semuanya, Gempa merasa usahnya meyakinkan diri semuanya akan baik-baik saja seiring waktu berlalu berakhir sia-sia.
"Blaze!" Taufan mencoba mencegah adik keduanya itu bergerak sebelum membuka lukanya yang belum kering. "Jangan gerak dulu! Nanti lukamu–"
"AKU TIDAK PEDULI!" potong Blaze. Dia berusaha turun dari tempat tidur meski mulutnya meringis sakit. "Aku mau cari Ice! Jangan halangi aku!" Tangannya yang diperban mendorong Taufan dan Thorn yang berusaha menghalanginya keluar kamar.
Gempa cepat-cepat berdiri menghalangi pintu. "Jangan dulu! Jangan sekarang! Kondisi di luar dan dalam tidak mendukung juga kita kekurangan orang serta tenaga. Mencari Ice dan merebutnya kembali dari Retak'ka sekarang sama saja menyerahkan diri!" Gempa harus tegar. Dia harus kuat. Demi saudaranya, demi dirinya. Dia memang tidak menjamin seratus persen keadaan Ice tapi mari berdoa semoga Retak'ka tidak melakukan apa-apa. "Kita tidak bisa bersatu karena keadaanmu yang kritis dan Ice yang menghilang entah kemana. Ochobot bilang, yang penting untuk saat ini adalah kuatkan fisik dan mental. Jangan sampai ada perpecahan dalam diri kita. Boboiboy bisa dalam bahaya."
"JADI INI SALAHKU?!"
Gempa menggeleng panik. "Aku tidak bilang–"
"Tapi intinya sama, kan?! Kau menyalahkanku!" teriak Blaze. "Semuanya menyalahkanku, setiap saat, bahkan waktu pertama kalinya aku muncul semuanya menyalahkanku!" Dia berjuang melepaskan diri dari tangan Taufan dan Thorn yang menahannya. Dia terus memberontak sampai luka di bahunya berdarah. "Aku mau Ice!" katanya putus asa. "Aku mau saudaraku kembali! Aku mau mencarinya! Biarkan aku mencarinya, kak! Tolong…" Elemental api yang selalu tampil jenaka itu kini menangis putus asa, kecewa, dan takut.
Ini memang salahnya.
Dia menyalahkan betapa bodohnya tidak melakukan pengalihan, tidak bisa lebih cepat dan cekatan.
"Kami tidak menyalahkanmu," ucap Gempa pelan menenangkan. Elemental paling bijak itu mendekati Blaze yang dipeluk erat Taufan dan mensejajarkan tingginya yang sekarang tengah duduk di lantai. "Kita tidak bisa menyalahkanmu atau siapa pun. Aku tidak membela Retak'ka yang menginginkan kuasanya kembali. Tidak salah jika dia ingin kuasanya tapi kita tau dia dan ambisi terdalamnya yang bejat." Gempa tai seharusnya dia tidak tersenyum tapi apalah yang bisa dilakukannya sekarang kalau bukan tersenyum.
"Kamu harus sembuh dulu. Setelahnya kita akan berlatih lebih kuat dan memikirkan strategi melawan dan merebut Ice kembali. Paham?" Gempa mengulum senyum lalu mengusap puncak kepala Blaze sayang. "Jangan khawatir," katanya. Dia melirik Thorn yang sesegukan lalu tersenyum kecil. "Kita pasti bisa merebut Ice kembali. Jangan khawatir."
Gempa pikir, Ice harus bersabar dulu untuk beberapa waktu. Para kuasa elemental harus mempersiapkan diri mereka sebelum melawan kembali majikan mereka terdahulu. Mereka beruntung punya majikan yang tidak menyalahgunakan kuasa mereka juga berhati baik yang membuat mereka memutuskan setia melayani pemuda bernama Boboiboy.
Mereka akan tetap bertujuh selamanya. Tidak kurang dan lebih.
...
Halilintar memandang langit yang berubah jadi hitam tak luput dengan kilat dan petir yang saling menyambar berbahaya. Ekspresinya dingin dan kosong. Dahinya berkerut dalam dengan gigi gemertak menahan marah. Gatal rasanya ingin menghancurkan sesuatu sebagai pelampiasan.
Solar yang berdiri tidak jauh di samping Halilintar pun merasa risih. Sudah dua bulan berlalu dan tampaknya amarah Halilintar tidak surut. Mungkin lebih tepatnya perasaan sedih dan kecewa. Solar juga tau kalau Halilintar sebenarnya ingin sekali memaki bahkan mungkin memakan hidup-hidup elemental api yang tidak becus menjaga adiknya sendiri. Tapi begitu mendengar pernyataan Gempa yang menceritakan awal kronologi kejadian menyakitkan ini, niatnya langsung lenyap. Gempa memang bisa berkomunikasi dengan bumi sama halnya dengan elemental lain yang mempunyai kelebihan masing-masing, dengan saksi mata terpercaya ditambah yang menyampaikan berita itu semua adalah Gempa, Halilintar tidak terkutik.
Dia tidak bisa bertindak bodoh dan main hakim sendiri kalau tidak mau memperburuk keadaan.
Tapi selain masalah itu, ada hal yang membuat Solar mengernyitkan dahi dan kebingungan setengah mati. Mereka, kuasa elemental, hanyalah sebuah kuasa yang dibuat sebagai mesin tempur super canggih. Ide menganggap kalau mereka saudara adalah ide tuan baru mereka, Boboiboy, yang tampaknya sangat diterima antusias oleh semua elemental. Solar tidak menganggap hal itu buruk tapi rasanya aneh. Setelah hidup bertahun-tahun tidak ada satu pun dari tujuh elemental yang saling menganggap satu sama lain sebagai saudara. Ikatan diantara mereka hanya sebatas rekan sesama, tidak lebih. Tidak pernah ada ikatan serius macam saudara yang Boboiboy usul.
Solar memang yang paling susah menerima hal-hal baru. Dan yang membuatnya semakin bingung adalah haruskah mereka saling memanggil satu sama lain dengan honorifik? Toh, kalau dipikir mereka lebih seperti anak kembar. Bukannya panggilan seperti "kakak" juga tidak perlu? Umur dan eksistensi mereka tidak ada yang tau siapa yang paling dulu ada. Kalau mau mengurutkan kuasa mana yang pertama kali digunakan, Halilintarlah jawabannya. Tapi bukan berarti dia yang jadi kakak sulung, kan?
Kalau boleh memilih, Solar akan menunjuk Gempa sebagai kakak sulung. Dia lebih pantas dari segi mana pun.
"Apa ada perubahan? Petunjuk? Atau apalah itu?"
"Semuanya sama," jawab Solar. Matanya melirik ke Halilintar lalu ke langit yang semakin hitam. solar melonggarkan kerah sweaternya, entah kenapa lehernya terasa tercekik. "Kak," panggilnya lirih. Dalam hati, Solar merutuki memanggil kuasa elemental paling tempramen itu "kakak". Oh tidak! Pengaruh dari elemental lain terlalu kuat untuk dihindari. "Aku tau kakak masih marah. Tapi jangan begini juga."
"Maksudmu?" Solar bergidik takut mendengar suara dingin Halilintar. Mata merah delimanya menatap tajam Solar yang sudah mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri. "Kau mau aku melupakan eksistensi Ice begitu saja?"
Solar menggeleng cepat. Dia tidak mau kena amuk kakak sulungnya. "B-bukan! Maksudku, kita tau Kak Ice sudah tidak ada di planet ini. Entah ada di galaksi mana dia berada sekarang. Kita tau itu dari lusa setelah kejadian tapi kenapa masih repot-repot memeriksa hal yang sudah jelas?" ujar Solar panjang lebar. "Kita membuang waktu terlalu banyak untuk ini."
"Yang ingin kukatakan adalah," Solar buru-buru menyambung ucapannya. Sorot mata Halilintar membuatnya takut. Menyeramkan, meski tidak seseram Gempa yang mengamuk. "Kita harus latihan. Latihan dan latihan agar menjadi kuat dan siap dengan apa yang terjadi selanjutnya. Aku sudah minta bantuan ke Komandan Koko Ci. Ini memang dugaanku tapi," Solar menghela nafas. "Intinya, kita harus latihan agar siap. Tok Kasa mungkin mau membantu kita lagi. Kuasa gabungan kita juga belum terlalu stabil. Mari fokus ke sana dulu."
"Kau tau sesuatu," kata Halilintar. Dengan latar belakang langit yang kapan saja akan keluar badai juga halilintar yang menyambar dan suara ledakkannya yang memengkakan telinga, kakak sulungnya jadi bertambah seram dua kali lipat. Halilintar memang tidak sebanding dengan cahaya. Tapi jangan diremehkan. Tidak keren kalau Solar sampai tersambar karena sifat sombongnya yang sering kumat. "Katakan semuanya padaku."
"Ini hanya dugaanku belum tentu benar," jawab Solar menurut. "Makhluk itu, Retak'ka, sebagai pemilik kuasa elemental tentunya tau seberapa kuat dan dahsyatnya serangan masing-masing di antara kita. Aku tidak mau mengatakan siapa yang paling kuat dan membanding-bandingkan tapi serangan Kak Ice termasuk fatal. Dia bisa saja membekukan satu planet tapi karena sifatnya yang malas atau mungkin dia saja yang terlalu menahan diri, kita tidak pernah tau dampak kekuatannya itu. Dan lagi elemen utama Kak Ice adalah air, air cukup bisa dikatakan fleksibel dalam serangan maupun pertahanan. Jarak dekat mau pun jauh. Air ada dimana-mana jadi cukup mudah untuk menambah daya kekuatan serangan."
Teori Solar benar-benar masuk akal. Tapi yang ingin dia ketahui sebenarnya memang hal itu. Bukannya mencela si elemental paling malas tapi hanya penasaran. Pasalnya, Ice memang jarang sekali bertarung serius bahkan sampai mengeluarkan jurus jitu yang sampai membuat berdecak kagum.
"Jadi Retak'ka mengambil elemental yang berpeluang besar untuk mencapai tujuannya?" Solar mengangguk pelan. Dia melompat kaget begitu suara ledakan halilintar yang sangat besar muncul bersamaan dengan mood kakak sulungnya yang semakin jelek. "Keparat betul!"
"Kak, kalem," bujuk Solar sambil mengipaskan tangannya. Wajahnya pucat karena takut. "Lebih baik kita kembali ke tempat kapal dan membicarakan masalah ini lebih lanjut dengan yang lain," ajak Solar.
Tapi Halilintar tidak bergeming membuat Solar semakin takut. Dia diam dan wajahnya sudah tidak ada urat kesal yang di tahan supaya tidak meledak, benar-benar wajah datar yang biasa di pasang. Mereka berdua akhirnya diam-diaman. Si sulung tampak memikirkan sesuatu dan si bungsu bungkam sambil melihat langit yang perlahan kembali cerah.
Oh, tidak juga.
Langit masih berwarna abu-abu, mendung. Kali ini tidak ada kilat, sambaran petir, atau halilintar. Awan berkumpul kembali dalam hitungan menit. Kuasa tambahan milik Halilintar memang hebat. Kondisi cuaca planet mana pun bisa di atur mudah tergantung suasana hatinya. Sudut bibir Solar berkedut, rasanya dia iri dengan kuasa tambahan kakak Halilintar yang agak keren ini. Sebut Solar sebagai elemental yang tamak. Tidak apa. Toh, faktanya dia mendapat sifat ini dari pemilik asalnya.
"Air itu banyak gunanya, kan? Katamu karena sifatnya yang fleksibel tentu saja Ice yang dipilih. Tapi Solar," ujar Halilintar tidak menoleh ke adik bungsunya yang menatapnya penasaran. "Menurutmu kenapa Retak'ka tidak menyerap kuasa Ice dan malah membawa pergi tubuh replika yang Boboiboy beri? Gempa bilang, dia melumpuhkan Ice dengan memberinya luka berat, kan? Orang itu tidak akan mengasihani kita, tidak pernah. Lalu kenapa di penyerangan kedua ini dia tidak melakukan hal yang sama? Dia masih punya kekuatan menyerap kuasa kita, kan?"
Solar diam. Benar juga, kenapa dia tidak kepikiran hal itu?
"Janggal." Halilintar tampaknya tidak peduli Solar memerhatikan atau tidak. Karena adiknya itu tidak merespon apa-apa jadilah dia berbicara sendiri. "Dia tidak bermaksud–"
"Mungkin saja. Toh, dia juga benci dengan Boboiboy, kan?"
Halilintar paling tidak suka kalau ada yang memotong ketika dia bicara. Solar mendekat, acuh dengan wajah sang kakak yang penuh dengan siku perempatan dan menyeramkan layaknya singa kelaparan. "Menurutmu apa hal yang membuat Retak'ka akhirnya memilih Kak Ice dibanding kita semua?"
Dahi Halilintar mengerut bingung. "Kebetulan saja mereka bertemu, kan?"
"Orang yang penuh perhitungan seperti dia? Heh, tidak mungkin!" cibir Solar. Lalu senyum bangga muncul, pertanda dia paham betul dengan situasi sekarang. Halilintar mulai muak dengan senyum cerah p*ps*dent si bungsu.
"Jadi?" Halilintar memutar bola matanya jengah. Solar kumat lagi. "Bisa tolong diperjelas, adikku?"
"Aku sendiri kurang paham," kata Solar. Halilintar mati-matian menahan tangannya yang ingin menjitak kepala saudara bling-blingnya itu. Gemas dia. "Tapi selain memanfaatkan wajah dan kuasa yang tentu menunjukkan bahwa Boboiboy tidak bisa mengendalikan kekuatannya, aku sangat yakin dia juga memanfaatkan emosi Kak Ice."
Solar menghela nafas di tatap lama Halilintar. "Duh, gimana, ya?" ucapnya kebingungan. "Pernah lihat tidak sekali saja Kak Ice serius, jangan itu deh! Ganti-ganti! Pernah lihat Kak Ice mengamuk? Tidak pernah, kan? Kak, emosi masing-masing dari elemental mempengaruhi lingkungan sekitar. Contoh mudahnya, keadaan cuaca yang sering berubah karena mood kakak sendiri. Seperti sekarang. Nah, bayangkan kalau emosi Kak Ice yang biasanya stabil itu goyah."
Tanpa disuruh, Halilintar sudah melakukannya.
Halilintar mulai membayangkan Ice tiba-tiba muncul entah dari mana menyerang mereka dengan emosi yang meluap-luap. Membekukan semuanya menjadi daratan es tak berujung dengan suhu jauh dibawah nol derajat. Merusak paru-paru mereka karena tekanan udara yang terlalu tipis, metabolisme mereka yang menyebabkan hiportemia, radang dinginparah membuat tubuh mereka patah seperti kerupuk, juga mematikan sel tubuh mereka secara perlahan dan menyakitkan. Entah itu dalam mode level satu atau dua.
"–mungkin juga ada hal yang hanya bisa dilakukan Kak Ice. Seperti… mengendalikan darah? Huh? Tidak, tidak, tidak! Itu tidak mungkin! Terlalu seram!" Solar meracau sendiri membuat teori tentang apa-sebab-utama-Retak'ka-memilih-elemen-air. "Eh, tapi bisa juga, kan? Kandungan air di darah saja sembilan puluh lima persen. Angka yang besar dan fatal kalau tiba-tiba diganggu karena bisa menyebabkan kematian," Solar diam sebentar. "Kenapa selalu berakhir ke sana, sih?"
"Hm, aku sangat penasaran kenapa elemen air yang di pilih. Biasanya penjahat selalu mengambil kekuatan terhebat atau sesuatu yang tampak 'wah'. Kalau diibaratkan barang, Kak Ice itu terlalu sederhana dan biasa saja. Tidak menonjol dan tidak tertarik menjadi pusat perhatian." Tangannya ditaruh di dagu. Solar melakukan pose yang sering kali dia lakukan. "Dan bukannya itu agak menarik? Hal sederhana selalu cocok untuk–lho? Kak Hali mau kemana?"
Halilintar memutuskan kembali. Masa bodo dengan Solar yang kemungkinan masih meracau tidak jelas, bahkan dirinya hampir mengeluarkan jurus gerakan kilat ingin cepat-cepat berembuk dengan saudara-saudaranya jika saja badannya tiba-tiba tidak sakit. Pemilik tubuh asli, Boboiboy, mulai mendapatkan efek samping. Halilintar tentu tidak lupa dengan batas waktu tambahan yang Ochobot katakan. Sebenarnya masih ada beberapa bulan lagi, itu menurut perhitungan tapi Ochobot tetap memperingatkan kalau efek samping terlalu lama menggunakan kuasa akan datang kapan saja meski batas waktu masih lama. Power sphera itu juga bilang, mereka berenam harus menjaga kondisi fisik dan mental supaya tidak ada kejadian yang tidak diinginkan. Hilang ingatan atau hal lain yang membahayakan untuk semuanya.
Ice yang terpisah berkilo-kilo meter (bahkan mungkin bertahun-tahun cahaya) masih bisa merasakan efek samping yang sama. Karena dari mereka berlima tidak ada yang berbuat macam-macam tentunya rasa sakit ini muncul tidak lain karena dua hal, yakni Blaze yang sudah siuman atau Ice. Si sulung tidak tau dan tidak mau membayangkan apa yang terjadi pada Ice. Dia hanya berharap efek samping yang tiba-tiba muncul ini karena Blaze yang bangun dan bergerak seenak jidat sehingga lukanya terbuka lebar.
"Kak Hali! Hoi! Kalau pergi setidaknya bilang-bilang, dong!" omel Solar. Suaranya agak jauh tapi berhasil mengejar Halilintar yang sudah menambah kecepatan larinya.
"Cepatlah! Kita tidak punya waktu lagi!"
Solar berdecih begitu Halilintar menghilang dengan percikan listrik merah yang tertinggal dan detik selanjutnya menghilang begitu saja. "Dasar," umpatnya. Pecahan ketujuh itu mempercepat larinya selesai membenarkan letak kacamata jingganya yang agak miring. "Memangnya kau saja yang ingin cepat-cepat ini berlalu?"
...
"I-Ice?"
Akhirnya setelah sekian lama menunggu dan mencari, keenam elemental berhasil menemukan saudara mereka yang hilang. Tepat di saat waktu tambahan hampir habis. Gempa menghela nafas lega, setidaknya mereka tidak akan mengeluh sakit lagi. Rencana mereka sangat simple, begitu tau lokasi Ice tiga dari enam elemental dan beberapa orang tambahan harus menggiringnya ke pesawat angkasa Papa Zola lalu diperiksa secara rutin oleh Ochobot dan kembali masuk ke jam kuasa. Tentunya mereka juga sudah memperkirakan hal-hal buruk seperti Ice hilang ingatan dan pertarungan yang tidak bisa dihindari.
Semuanya sudah masuk perkiraan dan mereka (keenam elemental), Yaya, Ying, Gopal, Fang, Papa Zola, bahkan sampai Kapten Kaizo, Komandan Koko Ci dan Laksamana Tarung sudah menyiapkan beberapa rencana cadangan yang (pasti) diperlukan. Lawan mereka adalah sebuah elemental yang tidak diketahui kondisi pastinya. Tapi kalau mengingat pada laporan dan informasi yang masuk, Retak'ka berhasil mengacaukan dan mengendalikan pecahan Boboiboy itu entah bagaimana. Kerusakan yang disebabkan karena penyalahgunaan kuasa juga sangat besar dan mengerikan.
Sebuah kuasa tidak akan menentang tuannya meski mendapat perintah yang tidak dia sukai. Karena kuasa yang tersimpan di jam kuasa adalah mesin canggih yang diciptakan hanya untuk menuruti apa kata tuannya. Kalau sampai menolak atau membangkang, maka secara otomatis kuasa itu dianggap bahaya dan akan dihancurkan. Boboiboy tidak mau melakukan itu pada kuasa elementalnya. Dia akan bicara dan meyakinkan mereka untuk berpaling dan mengikuti kemana pun dia pergi. Masa lalu para elemental memang misterius dan tidak ada yang kenal baik siapa mereka, Boboiboy hanya berusaha untuk mengerti dan memahami. Semuanya tidak akan berjalan baik kalau memakai paksaan. Sama halnya dengan ini. Kalau sampai mereka berhasil membawa Ice dan mengembalikannya ke jam kuasa, Boboiboy tidak akan menghukum elemen air itu. Bocah bumi itu paham, kuasanya itu pasti tidak akan melakukan apa yang sudah dia lakukan.
Untungnya, pihak TAPOPS setuju.
Mereka tidak memandang kuasa elemen air itu sebagai pemberontak. Mereka hanya berpesan agar Boboiboy, selaku pemilik dan pengendali kuasa tujuh elemental, harus terus memantau kuasanya agar tidak ada kejadian seperti ini lagi. Tentu Boboiboy menyetujui dengan anggukan mantap. Di hatinya tidak ada dendam, yang ada hanyalah perasaan rindu dan khawatir.
Tapi rencana hanyalah sebuah ekspetasi yang diinginkan.
Tidak ada yang meremehkan elemental paling malas yang kerjaan hanya tidur itu, ralat. Gopal sempat kebingungan saat membicarakan rencana mereka dan hampir tertawa mengejek jika tidak diomeli Laksamana Tarung dan ucapan mengejutkan dari Solar.
"Kau tau kenapa singa ditakuti karena diam sedangkan anjing dijadikan mainan karena ia menggonggong?"
Hal itu sontak membuat suasana rapat jadi berat.
Bahkan Gopal saja sampai pucat membayangkan apa yang akan terjadi. Semua rencana sudah disiapkan bahkan untuk bagian paling buruk. Bagian dimana Ice tidak dapat dikendalikan dan terus mengamuk sampai membekukan semuanya. Solar mengira, Ice yang mengamuk akan berteriak atau minimal mengerutkan dahi dengan mata biru muda penuh amarah. Tapi nyatanya tidak.
Ice hanya diam. Wajahnya pun tidak mengerut membentuk ekspresi. Datar, dingin, dan kosong. Halilintar saja sampai merinding menatap mata biru muda Ice yang menyala. Terlalu dingin dan asing. Terlebih mata biru muda itu tidak berkedip membuatnya semakin menakutkan.
"I…Ice," susah payah Gempa bicara dengan tubuh setengah beku dan nafas tersengal. Hanya perasaannya saja atau kadar oksigen di arena lapang yang berubah jadi daratan beku semakin menipis karena badai yang Ice ciptakan? "Ingatkah kau… si…apa… kami?" Suhu dingin ini serasa menusuk tulang. Ditambah dengan angin yang berhembus kencang semakin mempersulit bernafas. Ingin sekali Gempa meninju tanah membentuk igloo guna menghangatkan diri tapi apa daya kedua tangannya sudah mati rasa. Kalau begini terus bisa-bisa dia mati kedinginan.
Ice tidak menjawab, kelihatan sekali bingung dengan pertanyaan Gempa. Tangan kanannya di angkat, terjulur ke depan. Seiring gerakan tangannya itu muncul es besar nan runcing berlari menyerang apa pun di depan. Gempa menutup mata, siap menerima serangan lagi. Tapi yang di dapat suara ledakan dan bongkahan es yang berterbangan beserta angin kencang.
"Tembakan optikal cahaya!"
Serangan dahsyat dari Solar dihindar mudah oleh Ice. Tangan kirinya yang sepenuhnya terbuat dari es terayun membuat es besar lagi. Tinggal beberapa meter, Solar pun sudah menyiapkan kuda-kuda menyerang dengan susah payah (keadaannya tidak jauh berbeda dengan Gempa) tiba-tiba es besar itu menguap. Solar mengedipkan matanya bingung lalu menoleh mendapati Blaze yang baru siuman tiba dengan tubuh dikelilingi api. Berkat itu badai perlahan menghilang bersamaan dengan daratan es yang kembali hijau. Beberapa orang yang terjebak es bisa menggerakan tubuhnya meski masih kaku dan kebas dengan perubahan suhu yang tiba-tiba.
Blaze menggeram marah. Dahinya dikerutkan dalam-dalam. Api yang menyelimutinya membesar. "Ice!" panggil Blaze. "Kendalikan dirimu dan ingatlah! Aku tidak peduli apa yang monyet itu lakukan padamu tapi orang yang harus kau dengar bukanlah dia!"
Retak'ka yang memerhatikan dari jauh hanya menyeringai. Rencananya memang agak rusak, tak apalah. Adanya gangguan merupakan hal biasa dan rencananya belum gagal. "Bereskan mereka," bisiknya.
Ice mengangguk kecil, bahkan hampir tidak terlihat membuat gerakan kepala, mengayunkan tangannya lagi dan membentuk es besar untuk kesekian kalinya. Blaze membuat gerakan sama. Es pun mencair dan mengeluarkan asap. Ice mengernyit lalu menghela nafas perlahan. Genangan air yang berada di sekitarnya menghampiri elemental itu seakan-akan diisap vacuum cleaner kasat mata. Air-air itu membentuk bola, membungkus tubuh Ice melindunginya protektif.
Gempa, Solar, dan Blaze waspada. Kali ini mereka tidak akan tertipu lagi. Masih misteri kenapa Ice bisa dengan mudahnya gonta-ganti level kuasanya seakan hal itu adalah sesuatu yang biasa. Padahal untuk masuk ke level tinggi butuh tenaga dan waktu yang lama. Solar berdecak kagum dan sangat penasaran apa yang sebenarnya makhluk mirip primata itu lakukan ke saudaranya ini.
"Solar, aku tau apa yang ada dipikiranmu sekarang. Fokus! Kau bisa bereksperimen sesukamu nanti!" tegur Gempa.
Solar mengangkat bahu acuh. "Aku hanya penasaran. Apa salahnya?"
Ombak besar datang menerjang, Gempa meninju tanah dan terbentuklah dinding pelindung. Pecahan ketiga itu meninju tanah beberapa kali membuat dinding pelindungnya yang paling luar berlapis bebatuan keras. Dia yakin kalau hanya satu lapisan saja, Air dengan mudah menghancurkannya. Senyum kecil sudah terbentuk di bibir tapi ombak itu tiba-tiba terbelah jadi dua dan membentuk jari-jari panjang. Belum sempat pusaran air itu mengenai salah satu dari ketiga elemental, tombak dengan percikan listrik merah muncul dan mengenai pusaran air itu tepat di tengah percabangan. Listrik merah itu menyebar cepat, bahkan suara yang dihasilkannya pun jadi tambah mengerikan.
Melihat bahaya datang, Air melompat menjauh. Kemudian dia sadar bahwa disekelilingnya adalah genangan air yang masih menyatu dengan serangannya tadi. Pecahan kelima itu berubah ke level dua lalu langsung membekukan genangan air dan kembali mengerahkan serangan. Blaze maju ke garis depan dan mengeluarkan nafas api. Es mencair dan mengeluarkan asap yang lumayan tebal, Solar tidak menyia-nyiakan kesempatan. Tapi Halilintar menariknya kerah belakang jaketnya dan seketika berpindah lokasi agak jauh dari arena pertarungan.
"Udaranya lembab. Kalau dia menggunakannya untuk menyerang, habis kau!" omel Halilintar. Dia mendengus kesal. "Makanya perhatikan sekitar dulu kalau mau pamer jurus! Kau buta sampai tidak lihat air di udara sudah di ubah jadi bunga es?"
Solar tadinya ingin membalas tapi begitu melihat arena pertarungan yang berubah jadi hutan es kecil membuatnya diam.
Gempa menelan ludahnya beberapa kali, tenggorokannya kering karena takut. Masih bisa dia rasakan jantungnya berdegup kencang. "Halilintar, kau sudah mengungsikan teman-teman kita?"
"Sudah!" Bukan Halilintar yang menjawab melainkan Taufan. Nada suaranya riang seperti melupakan fakta bahwa pertarungan yang sedari tadi dilakukan bukanlah sparring tiap akhir pekan. "Mereka sudah aman, selamat, sentosa di dalam pesawat."
"Laksamana Tarung menyerahkan pertarungan ini kepada semua elemental," ucap Thorn. Jari telunjuk tangan kanannya di pipi, matanya ke kanan mengingat-ingat sesuatu. "Beliau bilang karena terlalu bahaya, Boboiboy selaku pemilik kuasa elemental sendiri yang harus menghentikan ini semua."
"Tapi bagaimana caranya? Mendekat saja tidak bisa!" Halilintar menggerutu. Diam-diam menyesal sudah meremehkan elemental paling malas yang pernah dia temui. Memang, ya. Orang diam itu penuh kejutan. "Padahal biasanya juga lambat!"
"Dia menahan diri. Ok?" Gempa memijat pangkal hidungnya kuat-kuat setelah melepas sarung tangan tanahnya. "Bisa tidak meributkan hal yang tidak perlu dulu? Kita harus cepat sebelum waktu tambahan habis."
"Dan sebelum planet ini membeku," tambah Solar. Tiba-tiba menjentikkan jarinya. "Ah! Aku tau!"
"Apa-apa?" Thorn menatap dengan mata bulatnya antusias.
"Kau ada ide menjinakkan si beruang kutub? Wah! Bagaimana caranya?"
Gempa mengernyit. "Blaze, Ice bukan beruang kutub! Dan apa maksudmu 'menjinakkan'?"
"Tapi benar, kok!"
Halilintar memutar bola matanya. Sebelum Gempa atau Blaze (atau mungkin malah keduanya) mengatakan apa pun yang memicu pertengkaran, dia bertanya pada Solar yang lagi-lagi sedang bergaya. "Jelaskan dengan padat dan jelas," perintahnya.
Solar sebisa mungkin menahan diri tidak kelepasan bicara atau sekedar memutar bola matanya jengah. "Kita harus bergerak cepat dan kompak. Memang tidak ada jaminannya tapi setidaknya hanya ini yang bisa kita lakukan karena waktunya juga terbatas. Kita perlu memaksa dia berada di level pertama kuasanya, kelemahan air adalah listrik. Kita diperintahkan melumpuhkan bukannya membu–"
"Solar, kau tau kalau itu sampai terjadi kita tidak akan bisa bersatu dan entah apa yang akan terjadi pada Boboiboy. Jangan berpikiran aneh begitu!" tegur Gempa lagi.
Solar mengangkat bahu acuh lalu menatap satu-satu saudaranya. "Jadi?"
"Kita tidak punya waktu banyak. Ayo lakukan."
Taufan yang maju pertama. Dia mendekati Ice dengan kecepatan tinggi. Senyumnya tidak luntur meski tau situasi semakin mendesak. Agaknya mencoba menghibur diri agar tidak panik dan terus maju apa pun yang terjadi.
"Pusaran Taufan!"
Serangannya memang tidak berdampak banyak, Ice terhuyung dan mundur beberapa langkah tapi bisa diatasi dengan bongkahan es yang menahannya di belakang. Ice menghela nafas, asap putih mengebul keluar dari mulutnya lalu menyerang Taufan di udara dengan tembakan meriam pembeku.
"Woah! Ice! Kalem, dong! Kalem!"
Untungnya atau sayangnya, Taufan berhasil menghindar tapi bola-bola es yang ditembakkan meledak dan berubah menjadi peluru es. Pecahan kedua itu kembali melakukan aksi akrobatik di udara sembari mengumpat kesal.
"Tembakan optikal cahaya!" Solar menyerukan jurusnya dengan lantang.
Ice yang sadar dirinya diserang secara keroyokan berubah ke tingkat satu dan membuat dinding air. Serangan dahsyat Solar dibiaskan dan mengarah ke Taufan yang lagi-lagi berhasil menghindar. Pemuda serba biru itu memeriksa jantungnya yang serasa bisa copot saat itu juga. "SOLARR!" teriaknya kesal.
"BUKAN SALAHKU, YA!" bela Solar.
"Akar duri menjalar!"
"Bebola api! Bertalu-talu!"
Air menghindar akar-akar duri yang berusaha menangkap dan menjeratnya. Kedua tangannya direntangkan ke depan lalu memutar tubuhnya, akar-akar duri milik Thorn mati karena air yang ada di akar diserap habis. Serangan Blaze pun berhasil dipadamkan.
"Ombak gergasi," gumamnya. Thorn dan Blaze hanyut terbawa ombak besar. Air bersiap mengeluarkan jurusnya yang lain namun tiba-tiba tubuhnya dihimpit tanah. Dari kejauhan, Gempa menghela nafas lega. Sedikit lagi dan semuanya selesai.
"A-apa?!" Gempa terkejut bukan main. Tanah pencekam yang dia buat dijadikan lumpur oleh Air.
Bukan main.
Gempa tidak tau kalau pecahan kelima Boboiboy punya pemikiran cepat dalam menentukan apa yang harus dia lakukan selanjutnya di pertarungan. Nalurinya begitu hebat.
Air membuat udara menjadi lembab, tak lama bulir-bulir air terkumpul. Sebelum dirinya meluncurkan serangan lain, Halilintar muncul di belakang dengan aliran listrik merah mengelilingi tubuhnya. Air menoleh ke belakang, matanya agak bergetar. Halilintar paham tatapan itu. Takut dan permintaan minta dibebaskan. 'Dia sadar,' pikir Halilintar. Tapi tidak mungkin dia berhenti, bisa saja tatapan itu hanyalah tipuan agar dia goyah.
"Maaf."
Listrik menyebar cepat dan menyetrum Air. Suaranya begitu keras dan menakutkan. Halilintar menangkap tubuh saudaranya yang sudah tidak sadarkan diri sebelum jatuh ke tanah. Si sulung agak bersalah dengan tindakannya. Kemudian menatap saudara-saudaranya yang perlahan mendekat sambil menjaga jarak karena genangan air di sekitar mereka berdua masih memercikan listrik merah berbahaya. Halilintar menghela nafas, setidaknya masalah ini sudah selesai. Sekarang tinggal melakukan prosedur selanjutnya dan menunggu sebentar sebelum akhirnya kembali ke jam kuasa.
.
.
.
.
.
Gajekah? Anehkah? Ini pertama kali nulis ff BBB jadi masih jelek.
Ke depannya akan diusahakan lebih bagus lagi. Btw, mohon maaf ada beberapa kata kasar dan kata-kata yang tidak pantas. Suka khilaf saya kalo nulis yang beginian. :'(
...
"Ini belum selesai, kuasa-kuasaku. Ini hanyalah permulaan." Sosok alien berupa mirip primata itu tertawa geli. Rupanya dirinya harus menunggu sedikit sebelum akhirnya mencapai tujuan utama. "Ice… hm? Haruskah aku beri dia pujian? Dia melakukannya dengan baik."
Apa yang Retak'ka inginkan?
Tentu saja kuasa elementalnya. Kekalahannya dulu sangat memalukan dan tidak bisa diterima. Retak'ka tidak akan mengaku kalau bocah bumi bernama Boboiboy itu berhasil mengalahkannya. Awalnya, Retak'ka ingin menyerap elemen air dan mengalahkan bocah itu meski dengan satu kuasa. Tapi kemudian dia berpikir, kenapa harus bersusah payah kalau dia bisa membuat sebuah berita mengejutkan dengan memanfaatkan pecahan Boboiboy? Membuat bocah bumi itu seakan tidak bisa mengendalikan kuasanya sendiri dan tanpa sadar mengatakan ke semua galaksi kalau dia tidaklah pantas memakai kuasa dari tujuh elemental.
Ice sendiri juga pribadi yang diam dan penurut, tidak akan sulit untuk membuatnya patuh. Tinggal menanamkan batu jingga pengendali pikiran asal planetnya dengan paksa dan boom! Selesai.
Tidak salah dia memilih.
Tangan besar Retak'ka mengusap pelan batu jingga yang terhubung dengan Ice. Mendekatkan batu itu ke bibirnya kemudian berbisik, mengatakan perintah terakhir sebelum akhirnya menghancurkan batu jingga itu berkeping-keping. Dengan hancurnya batu penghubung, maka perintah apa pun yang Retak'ka katakan tidak akan bisa dibatalkan.
"Bekukan kapal dan semua orang yang ada di sana. Jangan sampai ada yang mencabut batu itu. Tunggu aku menjemputmu juga saudaramu, kuasaku."
Sama seperti Boboiboy yang akan melakukan apa pun untuk mempertahankan kuasanya, Retak'ka akan melakukan apa pun agar kuasanya kembali.
.
.
.
.
.
Tamat beneran
