HAPPY READING
.
.
.
.
"Yang Mulia, hari ini 9 ibu dan 5 bayi yang selamat, 13 tidak sempat mendapatkan tindakan khusus." Ino memberikan laporan harian data Rumah Sakit.
"Lagi? Jumlah meninggalkan masih tinggi. Bagaimana dengan tenaga medis tambahan?" Sakura meremas jari jemari erat, merasa miris dengan keadaan negara dibawah pimpinannya.
"Seperti yang telah direncanakan, tenaga ahli menyebar, dengan masing-masing memboyong tenaga medis yang belum mampu melakukan tindakan khusus. Sejauh ini kita bertambah 4 orang tanpa bimbingan lagi. Maaf, Yang Mulia, mengajari tenaga medis ahli membutuhkan waktu." Tidak terlalu buruk, tapi belum cukup untuk menyelamatkan kaumnya.
"Tidak, itu lebih baik dari pada tanpa tindakan. Setiap wilayah harus punya setidaknya satu tenaga medis ahli, dan membiarkan tenaga medis lain mempelajari metode khusus ini."
"Akan kami laksanakan, Yang Mulia. Meskipun dengan tenaga medis ahli yang ada belum cukup mampu untuk mencapai daerah terpencil. Kami masih selalu mendapatkan data perkembangan setiap harinya."
"Ya, untuk Rumah Sakit pusat, aku sendiri yang akan turun tangan."
"Baik Yang Mulia."
"Yang Mulia, Anda tidak bisa terlarut di Rumah Sakit, Anda juga harus menyelesaikan tugas Kerajaan."
"Aku tahu itu, Tuan Shikamaru. Aku akan berusaha membagi waktu agar keduanya bisa ditangani dengan baik." Sakura menoleh kepada Shikamaru, jenderal sekaligus penasihat Kerajaan.
Shikamaru mengangguk mengerti. "Selain tenaga kerja medis, kita juga perlu menyokong persediaan obat-obatan, karena dibeberapa wilayah kecil yang gagal melakukan tindakan khusus adalah infeksi paska operasi, persediaan obat yang lambat diberikan."
"Ah, Kau benar Jenderal, Kita perlu mencari solusi untuk masalah ini juga."
"Justru ini akan menjadi kesempatan emas untuk para apoteker, kita hanya perlu meringkas bahan obat apa saja yang diperlukan paling banyak lalu dibuat selebaran, bahan-bahan tersebut bisa dijual di Apotek pusat, kemudian membentuk tim Farmasi untuk meracik resep. Setelah itu biarkan para pedagang mendistribusikan kepada apotek-apotek kecil disetiap penjuru." usul Jirayya sebagai perdana menteri.
"Saran yang bagus. Dokter Ino, segera buat tanaman obat apa saja yang paling dibutuhkan dan biarkan para pencari tanaman mengetahui ini." Sakura melirik kepada Ino.
"Mungkinkah kita juga perlu memberi sokongan untuk setiap ahli tanaman, agar menanam tumbuhan obat?"
"Ide yang bagus, Yang Mulia. Tapi ada beberapa obat yang memang tidak banyak tumbuh di wilayah Kirigakure." Beritahu Shikamaru.
"Jadi, bagaimana saran untuk ini?" Tanya Sakura kepada setiap orang yang menghadiri rapat.
"Menanam akan membutuhkan waktu lama. Mengandalkan para pedagang pun belum tentu cukup. Kita perlu bekerja sama dengan wilayah lain." Saran Sai cukup menggiurkan, meskipun terdengar repot.
"Saya baru ingat, bahwa kasus yang sudah menimpa kita selama 3 bulan ini, ternyata tidak hanya di wilayah kita, Kirigakure. Tapi, seluruh dunia Shinobi. Sunagakure, Kumogakure, Iwagakure, bahkan negara Kaisar pun tak pelik dari masalah ini, Konohagakure." jelas Jirayya.
Seketika semua orang serempak menahan nafas. "Ada apa sesungguhnya?" Tanya Shikamaru.
Jirayya menggeleng lirih. "Belum ada yang tahu."
"Apakah mereka?" Tanya Sakura tanpa ekspresi berarti.
"Hampir 100% meninggal dalam jangka waktu yang berbeda."
Sakura menarik nafas sendu. "Tadinya ketika saran kerja sama diusulkan mungkin lebih baik meminta bantuan tenaga medis, jika begini kasusnya mereka pun tidak akan memberikan. Kita juga bukan wilayah timbal balik yang mempunyai bahan untuk diperdagangkan."
"Tapi Kaisar Uchiha telah memberikan surat undangan bagi para Kage untuk menghadiri rapat. Di Desa Sunagakure."
Sakura mengkerutkan alis bingung. "Anda belum membuka berkas hari ini, Yang Mulia." Ingat Shikamaru.
"Ah benar, Aku belum membaca surat undangan yang dimaksudkan. Jadi apa maksud dari perkumpulan lima kage?" Sakura merasa tidak berdaya karena sibuk di Rumah Sakit, urusan negara terbengkalai.
"Karena terjadi diseluruh dunia. Kaisar pikir ini disebabkan oleh sesuatu sebab yang harus segera diusut asal usulnya, dengan mengetahui akar permasalahan, kita bisa memperbaiki. Mungkin Kaisar meminta kerja sama karena tidak tahu pasti di wilayah mana akar permasalahannya." jelas Jirayya.
"Cukup masuk akal, setidaknya dalam kondisi seperti ini tidak akan ada perang. Semua nasib para Shinobi sedang di pertaruhkan. Jangan sampai kelahiran generasi shinobi terhenti. Tolong terima undangan Kaisar, Yang Mulia." Sai membungkukan badan tanda hormat.
"Tolong terima undangan Kaisar, Yang Mulia." diikuti serempak oleh semua orang.
"Baik, tolong persiapkan perjalanan ke Sunagakure. Dan jalankan tindakan sesuai hasil rapat. Untuk kekurangan lainnya kita bahas lagi setelah pertemuan dengan para kage." Rapat berakhir sesuai titah Sakura.
"Dilaksanakan, Yang Mulia." serempak semua orang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura memasuki ruangan dilantai teratas bangunan berbentuk kubah, Ruang pertemuan Kage.
"Saya, Queen Sakura dari Kirigakure meminta maaf atas keterlambatan menghadiri undangan Anda, Kaisar." Sakura membungkuk singkat, diikuti oleh Jirayya dan Sasori -adik Sakurag- dibelakang.
"Duduklah." Titah Sasuke tanpa ekspresi berarti.
Sakura duduk di kursi yang telah disediakan. Bisa dilihat lima Kage duduk dibarisan kursi terdepan didepan meja bundar. Dan pengikut Kage dikursi menjorok kebelakang sedikit. Hanya satu kursi Kage yang diisi bukan oleh Kage itu sendiri.
Sesungguhnya Sakura juga ingin tidak hadir, biasanya hanya para utusan ketika rapat dilakukan. Tapi masalah kali ini memang cukup pelik.
Alasan Sakura simple, hanya tak ingin bertemu lagi dengan Kaisar. Kejadian dimasa lalu membuat hubungan dua desa menjadi renggang. Walaupun semua desa harus patuh pada perintah Kaisar, asalkan semua urusan beres, keabsenan setiap pemimpin tidak di permasalahkan secara besar. Maka kali ini pun, asalkan Sakura fokus pada urusan negaranya, hanya mengabaikan urusan pribadi.
"Semua telah lengkap." Buka Sasuke. "Hanya saja Queen Tsunade sedang ada urusan sebentar. King Gaara telah menyiapkan kudapan untuk kita semua." Lanjutnya.
Sasuke datang dengan Empress dan Jenderal-nya. Gaara dengan kedua saudaranya. Killer Be dengan dua Ajudan-nya. Ditempat Tsunade ada Raja dan Perdana menteri nya.
"Kemana gerangan Queen Tsunade?"
Gaara menampilkan raut gusar. "Istriku tengah bersalin, dan Aku meminta bantuan kepada Queen Tsunade." Sakura mengangguk mengerti.
"Semoga semuanya lancar." Doa Sakura, meskipun ia tahu jawabannya.
"Ya, Aku hanya berharap sebuah keajaiban. Ditengah. Ya Kau tahu, saat ini selamat dari maut adalah kemustahilan." Bisa Sakura lihat tatapan menyendu Gaara, meskipun telah ditutupi dengan apik. Ia mengerti Gaara sedang mengkhawatirkan istrinya.
"Saat ini memang belum ada solusi berarti. Aku hanya memerintahkan kepada warga untuk mencegah kehamilan, dan mereka yang sudah terlanjur hamil, tak ada satu pun yang selamat. Aku tak mungkin menambah para wanita lagi untuk musnah karena melahirkan generasi baru." Seorang Killer Be yang Sakura tahu sebagai pribadi ceria pun menyendu, dengan raut penyesalan yang tertahan.
"Mungkinkah Queen-"
"Ya, bunuh diri dua hari lalu, hanya karena sudah menahan kontraksi selama 6 hari. Katanya, ini lebi sakit daripada kehamilan sebelumnya." Be memotong ucapan Sakura.
"Aku turut berduka cita, Saya sungguh tidak tahu."
"Tidak masalah, memang tidak diumumkan, karena begitu dimakamkan, Aku bertekad untuk datang kesini mencari solusi agar tidak lebih menyesal karena gagal menyelamatkan wanita lainnya."
"Ada baiknya para warga tidak diberi pengumuman yang mengerikan, setidaknya mereka tidak mati dengan putus asa, padahal wanita begitu mulia karena harus berjuang menghantarkan kehidupan baru." Saran Kato -suami Tsunade.
"Kau benar, dan kurasa kita semua tidak ada yang begitu. Tapi mereka peka terhadap sekitar, sehingga kekhawatiran mungkin terjadi." Jawab Gaara.
"Aku tidak bermaksud menakutimu King Gaara." Be menoleh pada Gaara. "Dan. Anda, My Lady." tunjuk Be pada Empress Hana.
"Aku tidak bisa menutup mata dengan kejadian ini, tapi aku juga tak ingin menyerah begitu saja. Apalagi ini putra pertama Kaisar." Bisa Sakura lihat walaupun Hana berbicara tenang, tidak dengan ekspresinya yang takut, sebelah tangannya meremas lengan baju Sasuke dan satunya meremas baju depan perutnya. Sasuke hanya menoleh sesekali. Dan kembali fokus pada pembicaraan.
"Sejauh ini, Suna hanya menciptakan alat modifikasi seperti telapak tangan tanpa ruas jari untuk membantu jalan lahir bayi, tapi begitu bayi berhasil keluar tetap gagal. Bayi terlambat ditangani dan sang Ibu pendarahan." Ucap Gaara.
"Itu sudah bagus, mungkin jika penanganan lebih cepat setidaknya bayi selamat." Ucap Karui, Ajudan Killer Be.
"Sudah dicoba, tapi sepertinya waktu sedang memburu. Dan. Tindakan sang Ibu selama kontraksi juga membuat bayi tertekan, itu menurut para medis." Jawab Temari -Adik Gaara.
"Berapakah usia kandungan, Empress Hana?" Tanya Kato menoleh ke arah tempat duduk Kaisar.
"Tujuh bulan." Jawab Sasuke tanpa ekspresi.
"Istriku seorang tenaga medis, tapi dia juga ahli tanaman, sejauh ini yang bisa kami lakukan hanya memperlambat kematian, ketika Sang Ibu mengalami kontraksi, kami hanya bisa memberikan obat anti kontraksi. Tentu saja bayi tidak akan selamat jika dibiarkan terlalu lama, tapi sang Ibu bisa bertahan setidaknya 45 hari dari kematian. Otomatis bagi orang tak mampu membeli obat tidak berlaku karena terbatas stok obat." jelas Kato.
"Beruntung, Istriku sudah bukan masa produksi, kalau iya, aku akan sangat was-was dengan menumpuk obat pencegah kehamilan. Dan beruntung juga untuk mu Queen Sakura, karena Anda belum menikah. Tapi mau sampai kapan masalah ini terjadi." Sakura menoleh ke arah Jirayya.
"Bagaimana di Konohagakure menangani masalah ini, di Desa yang sangat besar pasti memiliki jangkauan yang luas dan tindakan yang besar. Angka kelahiran pun pastiny sangat tinggi." bagi Gaara basa basi sudah cukup dia perlu solusi. Dan Kaisar mengumpulkan semua untuk membahas hal penting ini.
Sasuke menoleh ke arah Sakura kemudian memalingkan kearah lain. "Belum terbangun solusi. Pemikiran sama dengan desa lain untuk pencegahan dini. Dilarang pernikahan dibawah umur. Kami tidak tahu jika ada obat pencegah kehamilan." Sasuke menarik nafas dalam.
"Satu bulan lalu kami mendistribusikan sebuah alat untuk pria bernama kondom, untuk para pasangan yang masih ingin berhubungan intim tanpa khawatir hamil. Seperti yang telah diketahui, Konohagakure adalah desa besar. Tidak memungkinkan banyak kehidupan bebas. Kami hanya curiga jika kejadian yang ternyata menimpa dunia Shinobi ini adalah sebuah wabah. Dan menyebar dari satu tubuh ke tubuh lain." Jelas Kakashi.
"Tapi jika itu menimpa dari tubuh ke tubuh, dari manakah anggota kerajaan?" Bantah Sakura tenang.
"Itu hanya prediksi, Aku tahu aku punya banyak selir, tapi kupastikan mereka adalah orang-orang baik-baik dalam artian tingkat keperawanan. Itu berarti mereka tak pernah berhubungan dengan orang lain. Tapi Ratu ku pun mengalami apa yang terjadi pada semua Ibu hamil." Killer Be mencoba membuka penerangan.
"Kau juga tenaga medis, Queen Sakura." Tunjuk Gaara.
Sakura mengangguk setuju. "Tapi kami masih kekurangan tenaga medis. Aku tak benar-benar menerapkan solusi untuk mencegah angka kehamilan, mungkin disini aku harus mencatat pengalaman kalian semua." Sakura memberi Jeda. "Sebenarnya Desa kami punya solusi, tapi masih berhasil sekitar 10% sejauh ini." Sakura berucap ragu.
"Berapa besar pun tingkat kualitas, akan menjadi sangat berharga, ungkaplah, jangan ragu." Ucap Kato.
"Tapi mungkin jika Queen Tsunade disini, usul dari setiap orang bisa menjadi solusi, biar bagaimana pun Aku belajar medis dari beliau." Sakura menoleh pada Sasori, yang diangguki yakin.
"Begitukah Queen Sakura?" Tanya hanya, ada secercah harapan dimatanya, pun tak jauh dari sorot mata Gaara.
"Mungkin Istriku sudah memberikan epidural untuk Queen Matsuri, sehingga beliau tak mengalami kontraksi hebat. Bisakah seseorang memanggilnya?" pinta Kato pada setiap perwakilan kage.
"Biar saya saja." tawar kankuro. Diangguki semua orang.
.
TBC
