Some Characters aren't mine. They Belong to Mangaka Eyeshield 21.

Original Fiction Story by Diyari De (Do not duplicate, translate to other language, or copy it to some other site)

Warning : Rated M for the storyline and language

This Fiction Contains :

- Superb OOC

- Drifted Away Storyline

- Too Much Tears

- Too Many Additional Characters

- Not Your Typical ES21 Fiction

- Minus Yamato, Akaba, The Wizards Members

- Don't Hate Me XD

.

.

Diyari De Presents : Broken Years

.

.

Chapter 1

.

.

Gemerlap lampu cahaya memenuhi panggung modeling. Beberapa model nan cantik berjalan dengan anggun di atas catwalk. Suara alunan musik mengiringi irama setiap langkah mereka. Para penonton terkagum dengan keindahan busana yang ditampilakannya. Bukan hanya menawan, busana itulah yang telah dinanti-nanti oleh para pengamat fasion dari seorang wanita berbakat.

Suara host menyebut nama Anezaki Mamori dengan penuh antusias dan semangat. Mamori mengeluarkan napas menenangkan dirinya di balik panggung. Dia kemudian meraih kalung yang dipakainya dan menciumnya, seolah meminta kekuatan. Dengan langkah pasti dan senyum di wajahnya, Mamori menerima tangan Keigo, sang host muda yang akan mendampinginya berjalan sampai ke ujung catwalk. Mamori melambaikan tangan ke seluruh penjuru penonton. Dengan penuh rasa hormat, Mamori membungkukkan tubuhnya, seraya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya. Setelah itu dia kembali berjalan ke belakang panggung kembali.

"Terima kasih Keigo-kun," ujar Mamori kepada pemuda itu.

"Sama-sama Mamori-san," balas Keigo lalu kembali ke penonton.

Samar-samar Mamori mendengar Keigo menutup acara dan disambut tepuk tangan meriah dari para penonton. Tidak lama berselang, para model memasuki belakang panggung dan Mamori menyambutnya dengan ucapan terima kasih. Setelah itu Mamori masuk ke ruangan pribadi diikuti oleh asistennya.

"Kamu sudah bekerja keras hari ini Anezaki-san," ujar Mariya kepada Mamori.

"Sama-sama Mariya-san. Terima kasih atas bantuannya," balas Mamori sambil menempatkan dirinya di sofa diikuti dengan Mariya yang duduk di seberangnya.

"Pengelola apartemen sudah meneleponmu berkali-kali," ujar Mariya.

"Mariya-san, santailah sedikit. Kamu juga butuh istirahat kan?"

"Aku mengerti Anezaki-san. Tapi apa kamu lupa harus segera menempati apartemen baru besok pagi?"

"Apa jasa angkut barang sudah membereskannya hari ini?" tanya balik Mamori. "Apa ada masalah?"

"Karena kamu tidak menyuruh orang untuk memantaunya. Jadi apartemenmu sekarang tidak terkunci. Dan pengelola apartemen memintamu untuk segera men-setting-nya."

"Baiklah. Aku akan langsung pulang," ujar Mamori. "Kamu mau ikut ke tempatku Mariya-san?"

Mariya menggeleng. "Aku sudah janji dengan anakku untuk membuatkannya makan malam."

"Oh iya. Hari ini ulang tahun Aoi-kun. Aku lupa membelikannya kado."

"Ya. Dan dari pagi dia sudah kegirangan menanyakannya padaku."

Mamori tertawa mendengarnya. "Besok aku akan ke rumahmu membawa kadonya."

.

.

Mamori membungkukkan badannya dan mengucapkan terima kasih kepada petugas apartemen yang sudah membantunya memasang password. Setelah itu Mamori masuk ke dalam dan pintu terkunci otomatis. Dia lalu berjalan di lorong menuju ruang tengah dan menyalakan lampunya.

Perabotan memang sudah diletakkan sesuai dengan instruksi Mamori. Tapi tidak dengan kardus-kardus yang menumpuk. Kardus yang berisikan segala barang-barang Mamori mulai dari baju, sepatu, buku, dan lain sebagainya. Sudah pasti petugas jasa barang tidak mengotak-atik itu. Jadilah Mamori besok akan bekerja keras seharian merapikan apartemennya, sesudah memberikan kado untuk Aoi tentunya.

Mamori menuju ke salah satu kardus yang bertuliskan 'pakaian rumah' di atasnya. Mamori lalu membuka kardus itu dan mengambil kaos secara asal yang bisa dipakai untuk tidur. Dia kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan mukanya. Setelah itu dia mengganti bajunya.

Mamori masuk ke kamar tidurnya yang cukup nyaman. Alasan dia memilih apartemen ini karena kamar tidur ini. Terdapat pintu kaca ke balkon yang bisa untuk bersantai. Apartemennya ada di lantai delapan. Tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Posisi ini sangat tepat karena dia bisa melihat pemandangan kota tanpa tertutup satu gedung pun. Dia bisa melihat langit yang luas dari kamar ini. Yang lebih istimewa adalah, kamar ini bisa mendapatkan matahari terbit dari sisi kiri dan juga matahari terbenam sisi kanan tanpa terhalang satu gedung pun.

Mamori melemparkan dirinya ke kasur. Hanya dalam hitungan menit, Mamori bisa merasakan dirinya mulai mengantuk, dan dengan cepat dia terlelap.

.

.

Suara dering ponsel samar-samar terdengar dan membangunkan Mamori dari tidur lelapnya. Mamori dengan malas bangun dari tidurnya. Dia terdiam beberapa saat sebelum beranjak dari tempat tidur dan mengambil tasnya. Mamori lalu mendapati ponselnya. Dia melihat enam panggilan tak terjawab dari Mariya. Tidak lama kemudian ponselnya berdering lagi. Mamori lalu menjawabnya.

"Halo?" sapa Mamori dengan suaranya yang masih mengantuk.

"Kamu sudah melihat berita?" sambar Mariya langsung.

Mamori terdiam beberapa saat, mulai menyambungkan pikirannya. "Berita?"

"Ya!"

"Masih terlalu pagi untuk menonton televisi. Ada apa memang?" balas Mamori setengah malas.

"bukan di televisi," balas Mariya. "Lihat berita di ponselmu. Sekarang."

Keadaan seperti ini yang selalu dibenci Mamori. Siapa pun tidak suka jika mendapat kabar dadakan di pagi hari, terlebih jika itu kabar buruk. Kalau mendengar dari nada bicara Mariya, sudah pasti itu kabar buruk.

Sebelum itu, Mamori ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Dia menepuk-nepuk kedua pipinya. Belum ada sepuluh menit dia bangun tidur, dan hari masih sangat pagi. Tapi dia harus siap menerima berita itu, walaupun berita buruk sekali pun.

Dengan ragu Mamori membuka pesan yang dikirimkan Mariya. Dia lalu membuka link yang dikirimnya.

.

.

Kemarin...

Hiruma membuka matanya dari tidur yang cukup nyenyak. Membiasakan diri dan ingat kalau dia sedang berada di dalam pesawat. Dia mengintip keluar dari jendela pesawat dan melihat cahaya yang tersorot masuk, kemudian menutupnya kembali.

Perjalanan yang lumayan lama dari Italia ke Jepang, harus bisa dimanfaatkan Hiruma untuk tidur mengingat saat dia sampai nanti, masih banyak urusan yang harus diselesaikannya. Hiruma lalu melihat ke jam tangannya yang menunjukkan pukul empat sore. Sekitar dua jam lagi dia akan tiba di Jepang, tanah kelahirannya yang sudah lima tahun tidak dia kunjungi.

Dua jam kemudian pesawat sudah mendarat. Hiruma lalu menarik kopernya dan berjalan keluar pesawat. Sambil berjalan di lorong bandara menuju pintu kedatangan, Hiruma merogoh ponsel di kantung dan menyalakannya. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk dari Musashi, dan dua buah pesan dari Agensinya. Dia lalu membaca pesan dari Musashi.

"Aku tunggu di pintu keluar. Hati-hati. Banyak wartawan."

Tidak mengherankan jika wartawan ada disini. Bukan hal yang mengagetkan Hiruma tentu saja. Hiruma Youchi, Sang Atlet American Football Jepang yang berhasil menembus Liga Eropa. Satu-satunya atlet Jepang yang direkrut oleh The Milano, Klub asal talia dalam lima musim. Bahkan kabar kalau Hiruma sudah memperpanjang kontrak pun sudah tersebar. Walaupun dia sendiri heran dari mana wartawan mendapat berita itu, sementara yang bersangkutan sama sekali belum mendengarnya.

Hiruma melewati pintu kedatangan dan banyak wartawan yang sudah menunggunya. Dia tidak butuh seorang pengawal atau asisten yang mengikutinya kemana-mana. Karena walaupun jalan sendirian, tidak ada yang berani menyentuhnya. Jadi dengan santai Hiruma melewati mereka.

"Atlet Hiruma, apa benar Klub Tokyo Storm akan meneken kontak dengan anda?" tanya langsung seorang wartawan yang menyodorkan microfon kecilnya.

"Kabarnya anda akan memperpanjang kontrak lagi dengan The Milano?" tanya wartawan lainnya.

Hiruma tidak peduli dengan pertanyaan-pertanyaan itu dan terus melanjutkan jalannya. Dia sama sekali tidak tertarik untuk menjawab.

"Apa rencana anda setelah lima tahun baru kembali ke Jepang?" tanya seorang wartawan wanita.

Hiruma menghentikan langkahnya. "Rencanaku, heh?" jawab Hiruma. Dia lalu memamerkan senyum khasnya. "Ada seorang wanita yang ingin kutemui."

Kerumunan wartawan itu langsung heboh dan menanyakan siapa wanita yang dimaksud Hiruma. "Siapa wanita yang anda maksud?"

"Sang desainer muda itu tentu saja. Anezaki Mamori."

.

.

Mamori menatap layar televisinya dengan tatapan malas. Mendengar suara lelaki itu, melihat wajah dan senyumannya membuat Mamori serasa ingin menimpuk layar televisinya dengan remote. Lelaki itu masih saja penuh percaya diri, pikir Mamori dalam hati. Sama sekali tidak ada rasa kecanggungan. Dan itu sungguh menyebalkan.

Mariya melihat ke Mamori, menunggunya sampai wanita itu membuka suara. Menurutnya, Mamori memang wanita yang tenang, karena saat mendengar berita itu, wajahnya tidak menunjukkam reaksi apapun.

"Bagaimana kamu bisa tenang-tenang saja Anezaki-san?" sahut Mariya mengalihkan perhatian Mamori.

"Kalau aku panik, nanti kamu ikut panik," balas Mamori. "Tidak perlu diambil pusing."

Mamori menenangkan hatinya. Walau dia seorang desainer muda yang tengah naik daun, tapi dia tidak pernah diberitakan seperti ini. Berita tentangnya selalu berhubungan dengan karya dan pekerjaannya. Jadi berita yang sudah seperti gosip ini pasti akan terus diburu wartawan. Mamori hanya bisa berdoa semoga tidak berpengaruh ke pekerjaannya.

"Aku yakin pasti ada beberapa wartawan di depan apartemenmu ini," sahut Mariya menghela napasnya frustasi. "Aku heran mereka bisa tahu apartemen barumu."

"Belum tentu mereka ada di bawah sana Mariya-san. Itu hanya kecemasanmu saja. Berita ini pasti akan reda satu sampai dua hari. Aku tidak setenar itu sampai harus ada wartawan."

"Ini bukan hanya kecemasanku saja," sanggah Mariya. "Memang banyak orang yang belum mengenalmu. Tapi apa kamu tahu siapa Hiruma Youchi? Apa kamu tidak tahu hebohnya kepulangan Atlet Hiruma ini?"

Mamori tersenyum. Tentu saja dia tahu.

"Dia dikontrak klub Italia. Dan baru kembali ke Jepang setelah lima tahun. Wartawan pasti akan terus memburunya dan media akan menjadikannya berita hangat."

"Aku tahu itu," ucap Mamori dengan lirih.

"Ngomong-ngomong," sahut Mariya. "Bagaimana dia bisa mengenalmu?"

"Bukan hanya sekedar kenal," balas Mamori dengan senyum pilunya membayangkan tahun menyesakkan itu.

"Apa?" balas Mariya sambil menunggu kelanjutan perkataan Mamori.

"Aku dengannya, dulu pernah bertunangan."

.

.

Hari itu... Lima tahun lalu

Mamori menunduk dan menyembunyikan muka sambil terus memeluk lututnya. Dia menahan isakan tangisnya dengan Hiruma yang hanya bisa duduk terdiam di sebelahnya.

Hiruma tentu bisa menduga akan seperti ini. Tangisan Mamori pasti akan menyakitinya. Tapi jika Hiruma diam saja, hal itu akan tambah menyakitkan.

"Jangan nangis terus seperti itu, bodoh."

"Jangan bicara padaku," ketus Mamori.

Hiruma menghela napasnya. Dia tahu. Sebenarnya kabar gembira ini bisa menjadi badai untuk mereka berdua. Tapi Hiruma tidak mungkin terus-terusan menyembunyikannya. Kenyataan kalau Hiruma akan dikontrak klub di Italia pasti akan menyakiti mereka berdua.

"Aku masih dua bulan lagi disini. Jadi simpan air matamu."

"Diam Hiruma," balas Mamori.

Hiruma terdiam beberapa saat. "Sampai kapan kamu akan terus memanggilku dengan nama itu? Bukannya sebentar lagi kamu juga akan menyandang nama Hiruma?" godanya berharap Mamori mau menoleh ke arahnya.

Mamori mengangkat kepalanya dan menatap kesal ke Hiruma. "Kamu masih bisa bercanda di saat seperti ini?" balasnya kesal.

"Bukan hanya kau saja yang berat, Mamori. Aku juga berat meninggalkanmu disini."

"Kalau begitu jangan pergi!" balas Mamori. "Kamu juga dapat perpanjangan kontrak dari Bird Osaka kan? Kenapa harus jauh-jauh ke Italia? Lima tahun itu bukan waktu yang singkat!"

"Aku tidak tahu kamu bisa bersikap egois," balas Hiruma lirih sambil menggaruk belakang kepalanya.

Mamori menatap tajam ke Hiruma. Mendengar kata-kata yang menyebalkan keluar dari mulutnya. Mamori lalu melempar bantal sofa ke arahnya. "Kamu pikir siapa yang lebih egois!"

Mamori lalu masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu dengan kesal dan menguncinya.

Hiruma menghela napasnya. Dia memang egois. Tapi begitu pun dengan Mamori. Salah satu dari mereka harus ada yang mengalah. Tapi tidak ada yang mau melakukannya.

.

.

Lima belas menit Hiruma menunggu waktu yang tepat. Cukup lima belas menit. Karena dia tahu Mamori bisa menenangkan dirinya dengan cepat setelah tangisannya itu. Hiruma telah mengenalnya dengan baik. Bahkan sifat dan tingkah laku Mamori telah meresap sepenuhnya ke dalam hidup Hiruma.

Hiruma berjalan ke balkon dari ruang tengah. Dia lalu melompat ke balkon kamar Mamori. Walau sudah dilarang berkali-kali karena apartemen Mamori ada di lantai tiga, tapi Hiruma tidak peduli. Hiruma juga tahu, sekesal apapun Mamori, dia tidak pernah mengunci jendela kamarnya untuk Hiruma lewat.

Hiruma membuka pintu jendelanya. Dia melihat Mamori yang menatap jauh ke arah jendela. Hiruma lalu melompat masuk dan berjalan menghampiri Mamori.

"Aku belum selesai," balas Hiruma duduk di atas tempat tidur di samping Mamori.

Mamori tidak menjawab dan kembali menundukkan kepalanya.

"Ikut aku ke Italia. Kita menikah dan hidup disana," ujar Hiruma.

"Kamu sama sekali tidak memikirkanku Hiruma. Kamu tahu aku baru saja dapat tawaran di butik besar. Kamu tahu bagaimana perasaanku. Itu impianku," jawab Mamori masih dengan menundukkan kepalanya.

Hiruma mengelus kepala Mamori. "Aku tahu. Tapi ini juga impianku. Kau tahu itu sejak dulu."

Mamori memeluk Hiruma. Memeluknya erat seakan kehilangannya. "Aku benci padamu."

Hiruma tersenyum melihat tindakan Mamori yang bertolak belakang dengan ucapannya.

"Karena itu aku memberitahukannya sekarang. Kita masih punya dua bulan lagi untuk mencari solusinya. Aku masih ada disini."

Mamori terdiam, memejamkan mata sambil mendengar detak jantung Hiruma. Dia tidak suka keadaan ini. Dia tidak mau kehilangan Hiruma. Kehilangan kehangatannya.

"Selama dua bulan ini, aku akan menuruti semua perkataanmu. Apa pun itu katakan saja, walau itu egois sekalipun."

"Tetaplah disini. Jangan pergi ke Italia," bisik Mamori.

"Kalau itu aku tidak bisa," balas Hiruma.

Mamori terdiam. Air matanya mulai menggenang lagi. Dia lalu membawa Hiruma berbaring bersamanya. Dan Mamori menumpukan dirinya di atas dada Hiruma. "Aku benar-benar benci padamu," lirihnya sambil menyapukan jarinya ke wajah Hiruma. Mengamati dan merasakannya.

Hiruma balas menyampirkan rambut ke belakang telinga Mamori. Dia mengusap lembut air mata di pipi Mamori. "Aku akan menemanimu semalaman. Aku tidak akan membuatmu tidur malam ini."

"Apa itu? Aku tidak ingin tidur bersamamu."

Hiruma tersenyum. "Yah... Kalau itu keinginanku."

Hiruma mendekap Mamori dengan erat, membelai ke punggung Mamori dan jari-jarinya menyentuh ke belakang lehernya. Berharap semua baik-baik saja. Berharap mereka bisa melewati semua ini. Dan berharap mereka selalu bersama selamanya.

.

.

To Be Continue

.

.

Side Note :

Haaai ! Apa kabar? Sesuai ocehan saya di fic sebelumnya. Mungkin Oktober? Okay... Walau hampir lewat. Tapi memang sesuai rencana XD

Siapa yang beruntung dapat notif tengah malam dari fic baru ini?

Masih berlabuh di kapal yang sama. Cerita ini dibuat karena ide yang tiba-tiba muncul di otak saya. Awalnya dari sebuah judul. Lalu otak saya mulai merangkai cerita, dan alhasil. Jadilah cerita ini. Karena biasanya tema cerita dulu baru judul. Jadi fic kali ini judul dulu baru tema. Spesial!

Sekali-kali saya ingin membuat karakter Mamori yang punya pekerjaan seperti orang terkenal. Karena biasanya hanya Hiruma melulu yang kebagian jadi orang terkenal. Jadi di cerita ini Mamori saya buat berbeda. Tidak lagi jadi 'wanita sederhana' XD

Nah. Bagaimana kelanjutan ceria ini, semoga kalian bisa menikmatinya. Cerita ini akan penuh dengan drama. Jadi siap-siap saja XD.

Ditunggu respon kalian. Review, favorit, dan. Follow sangat dibutuhkan agar saya tetap semangat menulis cerita ini. Sangat berharap fic terbaru ini bisa nge-HITS seperti About That Night atau You and I. Jadi diharapkan kalian bisa memberikan feedback yang luar biasa. Ditunggu ya...

See you on the next chapter!

Salam : De