Aku terbangun dengan rasa sakit luar biasa di sekujur tubuhku. Kepalaku terasa berputar dan nyeri merambat di kedua tanganku. Aku bahkan tak yakin apa kakiku masih dapat digerakkan karena meski sebisa mungkin aku perintahkan seluruh otot-otoku melakukannya, yang terasa hanya ngilu yang mencekit. Beruntung, indera pendengaranku masih dalam kondisi yang baik. Karena di sela sela rasa sakit itu, sayup-sayup ku dengar beberapa suara yang berbeda berteriak di sekitarku. Juga deru deburan ombak yang begitu lembut menghajar lautan. Tapi tunggu… ombak? Dimana aku?

Perlahan tapi pasti, aku buka kedua mataku yang masih terpejam. Sinar matahari adalah hal pertama yang menyeruak masuk melewati kedua retinaku. Aku mengerjap erjap beberapa kali. Membiasakan diri dengan sinarnya yang menyilaukan mata. Lalu ku gerakkan kepalaku semampunya. Memastikan dengan baik dimana aku berada. Ah perasaan ini. Baru ku sadari tubuhku begitu basah dan indera perabaku menangkap banyaknya butiran pasir di tempat ku terbaring. Tak salah lagi, ini pantai. Aku tertidur di pinggir pantai. Ah tidak, aku yakin tertidur bukan kata yang tepat untuk menggambarkan kondisiku saat ini. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Mengapa aku ada disini? Lalu, siapa orang-orang ini?

"Astaga! Dia sudah bangun! Dia sudah bangun!" seru salah seorang wanita. Air mukanya terlihat begitu lega.

"Ah, syukurlah," beberapa orang lain menyahut senang.

"Ayo, bawa dia kerumahku."

Aku menatap satu persatu orang dalam kerumunan itu dengan wajah dipenuhi tanda tanya. Aku yakin mereka juga menyadarinya, namun lebih memilih abai karena terlalu bahagia melihatku telah membuka mata.

Aku melirik gadis berambut oranye yang sejak tadi duduk paling dekat denganku. Berusaha meminta penjelasan meski rasanya sulit untuk sekedar menggerakkan rahangku ke atas dan ke bawah. Alhasil, mimik wajahku mengekspresikan semuanya. Gadis itu kemudian tersenyum, seakan mengerti betapa bingungnya aku saat itu. Ia hanya mengangguk kecil.

"Tenanglah, kau akan baik-baik saja. Kau bisa bertanya semaumu ketika tiba dirumahku," katanya pelan, tapi cukup untuk membuatku tenang.

Lalu kemudian, dapat ku rasakan seseorang membopong tubuhku. Seorang pria dengan rambut pirang keemasan dan alis yang berputar. Begitu lembut meski tetap saja membuat nyeri berkelebat hebat di sekujur tubuhku. Ku putuskan untuk kembali memejamkan mata. Berusaha menahan rasa sakit yang mendera dan menerima pertolongan mereka.


Holla minna!
Aku kembali. Hihi

Cerita ini muncul dalam benakku begitu saja setelah mendengarkan lagu One Sweet Day yang dicover oleh Afgan dan Sivia saat YouTube playerku sedang memutar musik secara random. Hanya cerita sederhana sebenarnya, yang ku yakin sudah bisa kalian tebak endingnya setelah membaca satu atau dua chapter pertama. Meski aku tak juga berniat membuat cerita ini berchapter-chapter seperti Pekat yang baru saja rampung beberapa minggu belakangan.
Dan karena akan menjadi cerita yang singkat, jadi cerita ini hanya akan berfokus pada dua karakter utama. Dan semoga kalian tak bosan dengan dua karakter yang akan aku ceritakan disini. Hihi

Baiklah, aku tunggu review dari kalian!
Semoga kalian menyukainya daaan, selamat membacaa ;)