A/N: Yah aku tahu ini fic yang sangat berbeda. Aku hanya mencoba membuat sesuatu yang terbalik, maaf kalau sudah ada yang mirip dengan yang lampau-lampau tapi kuusahakan berbeda. Semi AU. Bakal banyak unsur-unsur muggle.

1.) Dari awal nama Draco itu Draco William Granger dan Hermione jadi Hermione Narcissa Malfoy.

2.) Astoria half-blood, masuk Gryffindor. Daphne tetap di Slytherin.

3.) OH ya, Cho Chang [Gryffindor] dan Cedric Diggory [Slytherin] masih hidup di sini.

4.) OH ya, maaf kalau... gaje.

5.) Intinya bayangkan mereka terbalik kalau tidak mengerti! Sudut pandang Draco.

HAPPY READING:D

.


Harry Potter © J.K. Rowling

oOo

Fast, Malfoy And Furious © Pixie Porsche

Chapter 1: My Way

.

.


"Mau apa kau dikamarku, muggle?"

Yang ada di otak berlapis surai platinaku saat ini adalah suaranya terdengar seperti petir besar yang menenggelamkan seekor itik kecil dari permukaan danau. Tentu saja akulah itik itu. Apalagi sekarang aku dipergoki dalam posisi jongkok dan membokonginya. Kulirik dia dari balik pundakku, berkacak pinggang dengan mata terpicing di ambang pintu.

Aku menatap hazelnya penuh kekesalan indikator: full. Dia memiringkan kepalanya seraya menatapku tajam sampai aku mengakui status aku-tidak-pintar-Occlumency jika dibandingkan dengannya.

"Aku tidak menyembunyikan ataupun membakar essaimu, Granger." katanya datar plus seringai Guy Fawkes di mulut tipisnya. Rambut cokelat bergelombangnya meluncur bagaikan air terjun sampai sebahu, membuat laki-laki satu Hogwarts minus aku tergila-gila padanya. Warna rambutnya selalu dia ganti setiap awal tahun, yang awalnya pirang pucat sepertiku, lalu merah, ungu tua, merah jambu, hijau sehijau panji asramanya dan terakhir cokelat tua. Cokelat tua yang kutebak ditambah sedikit adonan pengembang kue seperti milik Mum dirumah.

"Alasan yang cukup dipercaya sebagai agen asuransi, Malfoy." jawabku sinis. "Cepat beritahu atau—"

"Atau apa? Kau akan berani mencium Astoria?" ucapnya santai seolah itu hanyalah pertanyaan retoris sekaligus sarkasme yang mendalam.

"Dia sahabatku. Dan aku sama sekali tidak ingin menciumnya," tanggapku malas. Kurasa hidupku penuh dengan kebohongan belaka akhir-akhir ini.

"Kau ini, ingin bertransformasi menjadi biksu ya? Bersikaplah seperti laki-laki dengan hormonnya, Ferret."

"Aku adalah laki-laki dengan hormon yang terhormat. Terkendali pendeknya," jawabku seratus persen murni menyindir.

Hermione menaikkan alisnya tinggi-tinggi seolah aku baru saja mengucapkan lelucon konyol tentang lipstik rahasia Snape. Dan tampaknya ia tidak menangkap sindiranku. "Blimey, bisa jadi malam pertamamu menikah nanti mengerikan. Tidur diam masing-masing diujung ranjang terlelap seperti pasangan kakek-nenek keriput yang lemah."

Bah, jika saja dia laki-laki atau boleh juga waria, aku sudah meninjunya daritadi hingga terpental ke cermin lonjong di sudut kamar ini. Dengar, aku sama sekali tidak lemah. Dia-lah yang membuat imageku jadi lemah. Aku sudah menjadi salah satu pahlawan dalam Perang Besar Hogwarts melawan Voldy Moldy bersama sahabatku Harry dan Ron dua bulan yang lalu, namun anehnya pengkhianat, manja, dan pemuja Darah Murni seperti dia malah dinobatkan menjadi Ketua Murid Perempuan. Aku hampir saja muntah siput di atas podium ketika Prof. McGonagall menyebutkan namanya untuk bersanding denganku. Ya ya ya aku mengerti visi misi Dumbledore untuk menyatukan Gryffindor dan Slytherin dalam artian damai. Tapi pleasebukan seperti ini caranya. Kehidupan seperti ini sama saja dengan aku harus terus memasang infus pengisi nutrisi dan efek perdamaian di pergelangan tanganku sampai hari kelulusan tiba. Aku menghembuskan napas panjang, berharap bisa menjadi angin puting beliung yang menerbangkan rambut semaknya hingga botak di langit-langit kandang ular ini. Mataku kembali menjelajahi tiap sudut kamarnya.

"Sudah kubilang tidak ada, Granger," keluhnya merasa terganggu seraya melangkah ke tempat tidur. "Bisakah kau segera keluar dari kamar suciku?" Hermione menguap, menghempaskan tubuh rampingnya yang berbalut tanktop putih sambil merentangkan tangannya lebar-lebar. Jangan tanya, aku sudah terbiasa dengan tingkahnya yang seperti perempuan jalang itu. Maaf, aku terlalu termakan ion-ion negatif disekelilingnya selama tujuh tahun ini. Tapi anehnya walaupun terlihat seperti itu, tak ada satupun murid perempuan yang berani berbisik-bisik tentang kelakuan Hermione Narcissa Malfoy. Dan untuk sebagian kaum Adam yang berdarah murni? Pembicaraannya selalu sama, Demi-Merlin-dia-sangat-hebat-di-ranjang. Dan dia kaya dalam semua arti kata. Cantik, seksi, pintar, mantan Pelahap Maut paling bersinar, pewaris tunggal klan Malfoy, penuh skandal dan menggairahkan. Hermione dicintai dan ditakuti: kekuasaannya melampaui kecantikannya dan kekayaannya.

Sedangkan aku? Aku pernah bertanya pada Ron mengenai diriku walau aku tahu bertanya padanya merupakan 90% pilihan yang salah. Dia bilang aku adalah cowok pintar yang klise: dikagumi dan disukai namun tidak menggairahkan. Tapi Harry yang sudah tahu tentang aktivitas muggle-ku menyangkalnya dengan tatapan berbinar seperti mesin bingo sampai aku takut gosip Trio Gay Gryffindor benar-benar beredar.

Aku mendongakkan kepalaku lelah. Accio pun tidak membuahkan hasil sejak tadi. Suasana hatiku terlanjur pecah sepecah tanah musim kemarau di belakang rumah Grammyku. Ditambah wajah cantik namun gila dalam maksud tertentu yang mengusirku dari kamarnya seolah aku ini virus, menambah jumlah liter keringat yang membanjiri pelipisku.

"Aghh keberadaanmu disini membuatku kepanasan, Granger. Hari ini aku sedang malas menyembunyikan barang-barangmu yang tidak berguna itu," ucapnya sambil mengibaskan rambut kekanan dan kekiri. "Atau... Oh kau akhirnya mau mengajakku bermain, eh?" lanjutnya dengan desahan yang menggoda.

Mari kuluruskan beberapa fakta. Sebagai laki-laki normal akupun berhak merona sedikit dan merasakan ketegangan yang cukup hebat di bagian bawahku akibat mendengar perkataan Hermione barusan. Tapi sebagai rival laki-lakinya selama bertahun-tahun akal sehatku terus memborgol pikiranku tentang bayangan kenikmatan jika aku bersamanya disuatu tempat, disuatu malam, disuatu momen yang pas, disuatu atmosfir cinta yang ... Stop. Aku melewati garis batasku terlalu jauh.

Dia bangkit dari tempat tidurnya dan mulai berjalan ke arahku.

"Aku belum pernah mencoba yang sepertimu," bisiknya pelan di telinga kananku. Bibirnya yang dipoles liptik merah menyala meninggalkan bekas di daun telingaku. Oh God, beri aku kekuatan melesat cepat seperti dalam balapan drift-ku di dunia muggle untuk segera pergi dari sini.

Hermione menempelkan pipi mulusnya sejajar dengan tulang pipiku. "Apa sama menariknya?" Pertanyaan terakhir itulah yang memberiku kekuatan untuk bangkit berdiri meraih gagang pintu.

"Tidak. Aku tidak akan mau sederajat dengan orang-orang bodoh yang hanya mementingkan nafsu, jalang." ujarku setengah berteriak membanting pintu kamarnya. Aku sadar aku cukup sok suci, dibandingkan dalam dunia drifting muggle yang lebih banyak umbrella girl atau cewek-cewek seperti Hermione mengitariku intens. Aku hanya tidak mau ikut-ikutan dilabeli sebagai satu dari belasan cowok murahan Hermione. Samar-samar aku mendengar sebuah teriakan dari balik pintu. "Aku menafsirkan itu sebagai jawaban 'Ya', Granger."

Aku tidak mengerti. Satu-satunya perempuan didunia yang tidak-berperasaan-namun-pintar hanyalah Hermione Malfoy seorang. Entah seperti apa jika dia berkeluarga nanti. Aku membayangkan anaknya yang banyak dan berjarak 9 bulan tiap umurnya. Ditambah jika spermanya bervariasi, bisa-bisa selain wajah anak-anaknya yang berbeda, sekali mengandung ia bisa kembar tujuh.

Akhir minggu ini berturut-turut aku selalu bangun tengah malam dengan mata membelalak seperti angka 0. Serpihan kotoran mata berjatuhan dari tempat bertenggernya akibat pembubaran paksa sehingga sangat mengganggu penglihatanku. Itu tidak akan terjadi berturut-turut kalau bukan karena suara desahan Hermione dalam permainannya dengan cowok-cowok itu. Aku berusaha memejamkan mata dalam backsound berjudul 'Desahan Kenikmatan Surga' —yang bodohnya tidak di Muffliato. Bukannya tenang dalam gelapnya pejaman mata, imajinasiku malah melayang-layang liar dalam otak.

Aku kembali fokus mencari perkamen essai Transfigurasi sepanjang 2 meter sampai aku melihat Crookshanks-Kucing-Manis-Jalang sedang menggunakannya sebagai alas bersantai serta pembuangan kotoran multifungsi didepan perapian. Aku mengambil perkamenku penuh emosi hingga membuat tubuh gempalnya terjungkir seratus delapan puluh derajat. Mati-matian aku menggembungkan mulut menahan tawa, tapi kemudian matanya berkilat-kilat pertanda bahwa aku harus mengambil langkah seribu saat itu juga.

.

.

Aku mengedarkan pandangan ke penjuru Aula Besar. Astoria, Cho, Harry dan Ron melambaikan tangan mereka padaku dari ujung meja. Aku berjalan menghampiri mereka tapi bahu kiriku tersenggol seseorang. Cedric Diggory. Aku baru saja menyenggol seorang Cassanova Hogwarts. Tatapan dingin Cedric membuat otakku beku. Tak peduli statusku adalah ketua murid bagi para Professor, namun bagi murid-murid Hogwarts, Cedric-lah ketuanya. Cedric dan Hermione. Orang-orang selalu membandingkanku dengan Cedric yang inilah, yang itulah, seksi lah. Setiap kali aku berada dekat dengannya, rasa percaya diriku mengering jadi cemburu yang menyakitkan.

"M-Maaf, Diggory." ucapku berusaha penuh kewibawaan Ketua Murid Laki-Laki. Namun entahlah mungkin di telinganya suaraku seperti seekor cicak tanpa buntut yang terjepit diantara kusen pintu.

Cedric hanya menaikkan alisnya sinis dan segera berlalu tanpa mengucapkan apapun. Ia bergabung dengan pengikutnya yang tiba-tiba datang entah darimana di pintu utama Aula Besar. Cedric membisikkan sesuatu dan seketika mereka cekikikan menatapku. Aku berani bertaruh bahwa Cedric dendam padaku karena bukan dia kandidat yang dipilih sebagai Ketua Murid Laki-Laki.

Merasa dipermalukan, aku berjalan penuh emosi ke ujung meja. Aku duduk disamping Astoria yang langsung menepuk-nepuk pundakku dengan tatapan sabar-mate-biarkan-dia. Harry mengangguk penuh bijak.

"Mantan kekasihmu, Cho." ucapku sinis.

Cho mendelik tajam ke arahku. "Demi celana dalam dekil berumbai Hello Kitty Umbridge! Aku tidak mau mengakui cowok setan itu sebagai mantanku—"

"Cowok setan? Tapi gadis-gadis lain masih menganggapnya cowok malaikaa..at," cetus Ron sambil bergaya ala patung malaikat dan membidik piring Harry sebagai kolam pancurannya.

"Ron! Aku jadi membayangkan ... Em ... Itu—argh kau menghancurkan mood makanku!" protes Harry keras.

Ron memandang Harry dengan senyuman menggoda. "Apa? Seperti ayam goreng-mu? Atau—"

"Silencio!" sentak Harry akhirnya. Ron megap-megap seperti tertelan duri ikan herring asap. Aku hanya menggelengkan kepala melihat keduanya. Astoria mendengus dan memutar bola mata hitam legamnya sebagai ekspresi atas tingkah idiot Ron. Rambut hitam panjangnya menyebarkan aroma citrus dihidungku. Cho menumpukan dagu pada punggung tangannya, terlihat malas.

"Em, Harry sejak tadi Collin—" tunjuk Astoria dengan dagu runcingnya.

Ckrik.

"CREEVEY!" teriak Harry dan Ron mengejar Collin Creevey mengitari Aula Besar.

"Creevey selalu menyimpan berkasnya dua kali. Dia memperbarui sistem kameranya. Ada yang original ada juga yang kopian." kata Cho santai menenggak jus labunya sampai habis.

"Dan besok korannya benar-benar laku," sambungku cekikikan.

"Dua pahlawan gay teromantis edisi bulan ini." tutup Astoria.

Harry dan Ron kembali dengan napas terengah-engah. Mata mereka membelalak seperti ikan koi tersengat lebah.

Ron bersuara. "Creevey... Hosh... Aku—"

"Daph-at... Hosh," lanjut Harry puas mengibas-ngibaskan sebuah roll foto tua. Kacamata bulatnya mulai melorot menuju ujung hidung. Kualihkan pandanganku menghadap selatan, Katie Bell sedang menggumamkan mantra melayang untuk menurunkan Collin Creevey yang tergantung di salah satu obor yang tertancap di dinding.

"Itu berlebihan, hey mate," ujarku. "Termasuk diskriminasi fotografer 'handal'. Sepuluh poin dari Gryffindor karena membully adik kelas."

Harry dan Ron melongo bulat menatapku. "Hei ini asramamu sendiri, Draco! Jika saja Cedric yang—" Ron protes besar namun terhenti ketika Harry menyenggol sikutnya.

Aku berusaha menyayukan mataku detik ini. Mengubah atmosfirnya menjadi melankolis. "Ya. Ya. Dan ya. Harusnya aku tetap menjadi Prefek sekaligus Chaser Gryffindor terhandal daripada menjadi seorang ketua murid,"

"Kau cocok jadi ketua murid kok, Drake." kata Astoria lembut. Aku merona hingga ke akar rambut. Suaranya yang mungil kadang membuatku merasa sudah bertahun-tahun tidak ke dokter telinga untuk penyedotan kotoran. Aku balas tersenyum padanya. Ron terlihat merasa bersalah sementara Harry melanjutkan pai apelnya penuh hasrat.

"Oh ya, kalian tahu? Pesta Dansa Halloween nanti seperti neraka bagiku." ujar Cho sambil menelungkupkan wajah orientalnya.

Aku mencomot keik Madeira didepanku cepat. "Apa? Ada sesuatu? Aku belum tahu apa-apa tentang itu. Prof. McGonagall belum memberitahuku sesuatu."

Giliran Astoria bicara. "Masquerade Party. Kabar buruknya setelah pesta kita disuruh menginap seminggu atau lebih tepatnya mengintil pasangan kita untuk mengenalinya lebih dalam—"

"Rencana persatuan asrama!" potong Harry setengah berteriak. Ron tersentak kaget dan mengeluarkan gumpalan menjijikkan keik cerinya yang belum sempat tertelan.

"P-Pasangannya beda asrama?"

Cho mengangguk pasrah. "Aku lebih memilih berguling-guling di padang pasir selama sebulan daripada berpasangan lagi dengan Cedric,"

Ron tersenyum sambil memicingkan matanya. "Kupegang kata-katamu, Cho."

"Ron! Kau tidak mengerti kalimat perumpamaan dengan kalimat serius ya?!" dengus Cho kesal.

Tubuhku rasanya seperti terikat ribuan tali tambang. Tentu. Saja. Aku. Berpasangan. Dengan. Partner. Ketua. Muridku. Aku membayangkan seminggu penuh di Malfoy Manor, dilumat habis oleh Hermione dan kembali ke Hogwarts dengan mata ciut dan energi yang terkuras habis. Harry menatapku dengan senyuman lebar yang menghilangkan mata hijau emeraldnya. Aku mendengus.

"Aku akan berusaha menyibukkan diriku sendiri, Harry. Ingat aku bukan yang seperti itu." ucapku dongkol. Astoria terlihat menunduk memainkan ujung roknya dengan kuku-kuku ramping berpoles cat hitam.

"Ini gila,"

"Aku sempat mempertimbangkan untuk mengulang tahun ketujuh ini dan mengikuti pelatihan Auror saja." gerutu Harry. Ron mengangguk tanda menyetujuinya.

Aku menoleh ke samping kiriku. "Kau ... Dengan Theo, Tori?"

Astoria menggoyangkan kepalanya seolah limbung kekanan dan kekiri. "Jika saja Daphne—"

"Tidak pernah hidup. Benar?" Ron melengkapi kalimat gantung Astoria sambil cekikikan. Daphne Greengrass, salah satu kroni Hermione. Kelakuannya pun tak jauh berbeda dengan Ketua Murid Perempuan Hogwarts. Pendeknya sama-sama seperti itu. Aku pernah berkunjung sekali ke Mansion Greengrass dalam rangka perayaan Natal dua tahun yang lalu, tebak apa yang dilakukan Daphne saat semuanya sedang khidmat menyanyikan Kidung Natal? Ia sibuk bercumbu dengan Theo di sudut ruangan yang jelas-jelas adalah kekasih Astoria. Semalaman itu aku berusaha menenangkan sahabat terbaik sejak kecilku, Astoria yang meraung-raung seperti beruang kutub. Tuksedo-ku sampai tidak berbentuk akibat dihiasi tangis dan ingus dari hidung mancungnya itu.

Astoria menampilkan senyum paksanya. Kembali fokus pada sup ayam yang sudah dingin didepannya. Cho menjepit-jepit kedua kelopak matanya frustrasi.

"Jadi, Drake ..." ucapan Ron menggantung.

Aku mengernyit. "Apa?"

"Ehehe—transfigurasi, essai." jawab Ron cengengesan.

Harry meliriknya skeptis. "Kurasa sebelumnya ada yang bilang ia akan menyelesaikan essai Transfigurasi sepanjang dua meter tanpa tulisan sebesar kaki gajah dan tanpa bantuan otak encer Draco..."

Ron menggelengkan kepalanya. "Oh itu si Ronald Weasley, Harry. Jangan keras-keras sebut namanya." desis Ron penuh waspada.

Cho menegakkan tubuhnya tiba-tiba. "Oh ya kawan, aku dan Tori ada pelajaran Herbologi sekarang. Jadi, sampai jumpa nanti!" ujarnya. Ia beranjak diikuti Astoria yang melambaikan jemari kurus mungilnya pada kami.

Aku mengeluarkan segulung kertas tua kasar dari dalam kantong jubahku. Membentangkannya lebar-lebar dihadapan Harry dan Ron yang langsung menganga lebar. Aku sudah terbiasa dengan tatapan bodoh mereka melihat tulisan seperti semut kecilku sepanjang dua meter. Tapi kali ini aku juga menganga. Mataku tertuju pada tengah-tengah perkamen.

"Demi Merlin! Kotoran Crookshaaanks!" teriakku menggema ke seluruh Aula Besar.

Hal terakhir yang terlintas dikepalaku adalah: Aku harus membuat undang-undang baru tentang larangan keberadaan hewan peliharaan di lingkup Hogwarts.

.

.

Aku sedang mendiskusikan tugas Transfigurasiku bersama Astoria dengan damai sampai terdengar langkah kaki berisik di sebelah kiriku.

"Miss Malfoy, kau terlambat sepuluh menit. Apa yang membuatmu terlambat?" seru Prof. McGonagall heran.

Jika aku berperan menjadi Hermione sejenak, aku akan menjawab dengan muka penuh binar psikopat dan berteriak lantang, "Ah maafkan aku, Professor. Permainan Anthony begitu hebat hari ini!"

Tapi Hermione hanya nyengir lebar seraya menghempaskan pantatnya di kursi seberangku. "Latihan Quidditch, Prof. Maafkan aku," Prof. McGonagall hanya mengangguk datar. Hell, seharusnya dia mendapatkan detensi bukan?!

Astoria kembali mengajakku fokus membahas pelajaran Bab 3 dengan perkamenku yang berhias bercak cokelat tua di bagian tengahnya. Demi Merlin, aku tidak bisa benar-benar sepenuhnya fokus kalau Hermione tidak terus mengedipkan matanya padaku, seakan menyindirku dan Astoria. Awalnya kukira ia mendadak kedutan, tapi kemudian ia mulai membuat bunyi-bunyi ciuman vulgar padaku. Aku membuang muka dan mulai menyambung-nyambungkan spekulasiku bahwa gen gila Hermione menurun dari bibi tergilanya, Bellatrix Lestrange.

Aku tidak berani bertaruh bahwa aku masih dalam alam sadarku ketika detik pertama menginjakkan kaki di Malfoy Manor. Aku lebih memilih berdiam di Kanaloa Bar ketimbang bersama Hermione di istana mencekam itu.

.

TBC


Jadi... REVIEW? Kalau pendapat reader cukup menarik aku lanjut, kalau engga yah udah huehehehe. :d