Zaman sudah semakin maju. Semakin canggih dalam berbagai bidang termasuk pergaulan. Namun, itu tidak menutup kemungkinan sebuah adat dan kebiasaan di masa yang begitu lampau, masih begitu rapi untuk dipelihara. Kalian tidak boleh keluar ketika waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Kalian hanya bisa keluar bila orang tua kalian mengizinkan. Kalian tidak boleh bergaul ataupun dekat dengan seseorang yang bukan pilihan orang tua kalian sendiri. Kalian tidak boleh saling menatap lama ataupun berpegangan tangan pada orang lain. Entah itu lawan jenis ataupun sesama.
Kalian harus tahu bahwa zaman dahulu anak remaja begitu dikekang dengan aturan-aturan ketat dimana aturan-aturan tersebut pernah menjadi kebudayaan orang tua mereka dulu. Semuanya harus dengan aturan dan keinginan orang tua. Sedangkan anak? Tidak memiliki hak apapun selain berkewajiban untuk patuh terhadap apa yang orang tua mereka katakan.
Sisi baiknya, remaja disaat itu tidak banyak membantah dan begitu penurut. Menurut mereka orang tua lebih berpengalaman, dan apa yang mereka lakukan pada anak mereka adalah suatu hal yang baik. Bukankah semua orang selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya? Sayangnya, tidak semua.
Berbeda dengan zaman sekarang yang sudah dipenuhi oleh pergaulan dan pertemanan layaknya sepasang kekasih. Remaja dulu tidak berani berpegangan karena takut bisa menyebabkan kehamilan. Lucu bukan? Ya, memang sangat lucu. Tapi asal kalian tahu bahwa mereka lebih baik. Otak mereka masih benar-benar suci. Benar-benar polos tanpa ada goresan sedikitpun. Namun, jangan kalian pikir bahwa peradaban budaya seperti itu telah musnah. Mereka masih tetap ada, mempertahankannya dengan cara mereka masing-masing.
"Sampai kapan aku harus menahannya?" Wanita berumur kepala 3 itu menatap putra tunggalnya yang sedang menjahit sebuah boneka. Wajah polos khas anak-anak selalu terpatri hingga membuat sang ibu merasa iba setiap saat. Orang tua mana yang tidak menginginkan anaknya bahagia? Bahkan mereka berharap anak-anak mereka bisa hidup lebih baik dan layak dibandingkan kehidupan orang tua mereka sekarang yang sudah terlihat menyedihkan dan cukup menderita.
Tetapi, wanita itu juga merasa takut dan khawatir bila ia melepaskan dan memberikan putranya kepada orang lain.
Dia adalah seorang carier. Seorang submissive.
Namun, kejadian dimasa ia masih di dalam kandungan,
membuat otak dan perilakunya tidak senormal anak-anak lainnya.
Dan itu membuat Yoona, ibunya, selalu merasa sedih dan simpati terhadap Baekhyun.
"Ibu, Baekkie lapar."
Tubuh mungil dan ringkih itu beringsut dari sofa. Meninggalkan karya seninya dan berjalan ke arah ibunya dengan wajah memelas. Sesekali ia memegang perutnya yang sudah tampak membesar berhubung usia kandungannya sudah memasuki 7 bulan. Ibunya hanya tersenyum dengan hati yang semakin sakit melihat bagaimana keadaan putra semata wayangnya.
Kenapa semua ini harus menimpanya? Apa tidak cukup dengan kelainan yang ia miliki? Dan sekarang ia tengah mengandung dari lelaki yang tidak diketahui sama sekali identitasnya. Yoona tidak bisa mendapatkan jawaban dari Baekhyun mengingat putra mungilnya itu justru menangis ketakutan dan memohon ampun ketika ia bertanya perihal kehamilan Baekhyun.
"Kau lapar? Sebentar, akan ibu ambilkan ya."
Hari itu Yoona baru saja mndapatkan uang bonus dari atasannya. Ia sangat bersyukur karena ia bisa membeli makanan yang begitu sulit untuk ia beli dan ia konsumsi bersama Baekhyun. Selama ini mereka hanya makan seadanya. Dengan nasi dicampur garam dan juga segenggam mentimun. Selama itupun Yoona merasa lega karena Baekhyun tidak banyak mengeluh atau menuntut. Dia orang yang sangat penurut.
Yoona selalu mengajarkan hal baik pada putranya. Dia tidak pernah meracuni sifat bahkan pikiran Baekhyun dengan hal-hal buruk. Tetap berbuat baik walau banyak yang menyakiti, tidak membenci walau banyak yang melukai. Hidup terlalu berharga bila harus digores dengan perlakuan buruk setiap manusia.
Malam itu hujan turun dengan deras. Angin bertiup kencang hingga membuat pepohonan melengkung hampir 180 derajat. Cuaca yang dingin tak tertahankan membuat semua orang betah berbaring dibalik selimut.
Beda dengan Baekhyun. Harusnya ia berada di dalam rumah. Berbaring tidur di dekat perapian dengan memeluk boneka hasil buatannya sendiri. Dengan kaki telanjang dan pakaian seadanya ia keluar. Melangkah sembari menopang beban dibagian perut.
"Ibu!"
Baekhyun terus melangkah dengan pandangan yang terus melihat ke segala arah.
"Ibu! Ibu dimana!?"
Kali ini isak tangis menyertainya. Sudah 3 hari ini ibunya tidak pulang. Baekhyun hanya menemukan uang di amplop dan juga beberapa makanan untuk dimasak atau dihangatkan. Baekhyun pikir ibunya sedang kerja lembur, maka dari itu ia tidak pulang. Tapi ini sudah memasuki hari ke 3. Akhirnya dengan berani ia datang ke tempar kerja ibunya. Menanyakan keberadaan wanita yang sudah melahirkannya ke dunia. Namun, yang ia dapatkan nihil. Bahkan salah satu pekerja yang ada disana mengatakan bahwa ibunya sudah 2 hari ini tidak pernah datang ke tempat kerja.
Baekhyun semakin sedih dan khawatir. Maka dari itu ia putuskan untuk mencari ibunya. Dan sekarang, ia terlihat luntang-lantung di jalanan. Berteriak memanggil ibunya, berharap ibunya datang dan memeluknya. Dengan air mata yang terus mengalir dan juga tumpuan berat dibagian perut membuat Baekhyun tersiksa. Perutnya sangat besar. Semakin berat ditambah dengan bayinya kini tengah menendang-nendang bagian dalam perut Baekhyun.
"Aakkh!"
Baekhyun menepi disebuah pohon besar. Ia mendudukkan tubuhnya dan bernafas dengan cepat. Dia melepas bawahannya hingga tak ada satu helai pun benang yang menutupi. Kedua kakinya mengangkang lebar ketika rasa sakit dibagian perutnya semakin menjadi.
"Huh huh huh, aakh!"
Baekhyun mengerang tertahan. Ia merasa sesuatu akan keluar dari lubangnya. Itu adalah saatnya ia melahirkan. Tapi Baekhyun tidak mengerti dan tidak tahu bagaimana ia bisa mengeluarkan bayi yang ada di dalam perutnya.
"Astaga! Kyungie! Cepat kemari, ada seseorang yang ingin melahirkan!" Seorang lelaki bermata rusa menghampiri Baekhyun ketika mendengar suara teriakan, raut wajahnya langsung terkejut dan panik melihat seorang submissive hendak melahirkan dibawah pohon. Ia mengeluarkan sweater tebal dari tasnya untuk menyelimuti tubuh Baekhyun yang sudah tampak kedinginan dan gemetar. Tak lama pria bermata bulat ikut menyusul dan tak kalah terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Luhan, kita bawa dia ke rumah, mustahil membawa pria ini ke klinik melihat kondisinya sudah darurat." Pria yang baru saja dipanggil Luhan itu mengangguk cepat. Dilihatnya tidak ada kendaraan apapun yang tampak berlalu lalang. Berjalan kaki pun butuh memakan waktu sampai setengah jam. Kini, tempat yang paling aman untuk Baekhyun adalah rumah mereka yang jaraknya tidak jauh dari sana.
Dengan sekuat tenaga mereka berdua menopang tubuh Baekhyun dari sisi kanan dan kiri. Beberapa kali Baekhyun hampir terjatuh karena menahan sakit yang setiap kali datang bagaikan menusuk kulit. Begitu perih dan nyeri.
Sesampainya dirumah, Luhan langsung mengambil kasur busa dan menghamparkannya dilantai. Tubuh Baekhyun diletakkan diatas kasur busa dengan perlahan. Tak lupa Luhan memberikan 2 bantalan di kepala Baekhyun. "Ambilkan air hangat dan beberapa kain. Cepat." Titah Kyungsoo. Kyungsoo sendiri kebingungan apa yang harus ia lakukan terhadap submissive yang ingin melahirkan. Dia tidak mempunyai bekal ilmu medis atau kedokteran. Matanya sempat memandang ke arah jam dinding, sialnya waktu sudah menunjukkan tengah malam yang artinya klinik sudah tutup. Walaupun memang mustahil jika mereka menghubungi dokter yang bermalam di klinik untuk datang kemari saat ini, karena tak akan sempat menolong Baekhyun yang benar-benar sudah siap mengeluarkan bayinya.
Baiklah, ia beberapa kali pernah menonton film yang menampilkan seseorang sedang melahirkan. Yang perlu ia lakukan hanyalah menyuruh Baekhyun mendorong bayinya agar keluar kemudian mengambilnya, memotong ari-arinya dan langsung memandikan bayi tersebut.
"Kau harus mendorong bayimu keluar." Baekhyun tidak mengerti apa yang Kyungsoo katakan. Ia hanya menjerit sembari terisak merasakan sakit diperutnya yang semakin menjadi. Luhan menaruh air hangat dan beberapa kain di dekat Kyungsoo, ia kemudian mengambil tempat disamping Baekhyun guna menggenggam tangan mungil Baekhyun. Ringisan keluar dari bibir Luhan saat Baekhyun menggenggam tangannya sangat kuat. Disisi selatan, Kyungsoo terus menyuruh Baekhyun mendorong bayinya. Air mata keluar semakin deras, jeritan sakit tidak dapat Baekhyun tahan lagi ketika ia merasakan lubangnya seperti dirobek, sesuatu keluar dari lubangnya sedikit demi sedikit hingga suara tangisan bayi terdengar sangat nyaring memecah keheningan malam.
Kyungsoo dan Luhan langsung tersenyum lega melihat bayi dan pria mungil itu menjalani persalinan dengan selamat. "Bayinya laki-laki." Wajahnya tidak bisa menyembunyikan raut kebahagiaan melihat wajah bayi yang ada digendongannya. Luhan dan Kyungsoo sama seperti Baekhyun, mereka adalah submissive. Kelahiran buah hati seolah menjadi kebahagiaan yang menular pada diri mereka.
"Luhan, tolong kau mandikan bayinya. Aku akan membersihkan sisanya. Besok kita harus membawa pria ini ke klinik."
Walau samar namun Baekhyun masih mendengarnya dengan jelas. Ia tidak bisa menahan rasa lelah dan kantuk yang tiba-tiba menerjang. Kedua matanya memaksa untuk menutup, tidak hiraukan panggilan yang terus menyebut namanya.
Keesokan paginya, sesuai dengan rencana semalam, Luhan dan Kyungsoo membawa Baekhyun ke klinik untuk diperiksa lebih lanjut. Tak hanya Baekhyun, bayinya juga mendapatkan pemeriksaan yang lebih baik. "Bayinya sehat, begitupun dengan ibunya, hanya saja ia harus banyak istirahat, jangan terlalu banyak beraktifitas terutama yang berat-berat. Kondisinya belum sepenuhnya stabil." Wanita dengan balutan jas putih ber-nametag Kim Jiwon itu memandang sejenak ke arah Baekhyun yang tengah menggendong anaknya. Alisnya mengkerut setiap melihat interaksi Baekhyun bersama bayinya. Mungkin ini hanya perasaannya saja diawal, tetapi dugaannya semakin kuat ketika Baekhyun mulai berbicara dan berinteraksi dengannya barusan.
"Dimana suaminya?" Tanya Jiwon. Luhan dan Kyungsoo saling memandang, mereka menggeleng pelan dan menjelaskan bahwa mereka menemukan Baekhyun tengah sekarat dibawah pohon semalam, sendirian tanpa ada seorang pun disampingnya.
"Bagaimana dengan orang tuanya? Atau keluarganya?"
"Kami tidak tahu dok, kami hanya menemukannya sudah dengan keadaan sekarat."
Ini buruk. Mereka berharap menemukan titik terang tentang pria mungil itu. Namun, mereka malah menemukan cerita menyedihkan dari Baekhyun. Saat Baekhyun mengatakan bahwa ibunya pergi dan tidak kembali pulang ke rumah. Ia menceritakan kenapa ia bisa diluar ditengah derasnya hujan dan berakhir menyedihkan dibawah pohon. Hal yang mengejutkan mereka dapati ketika Baekhyun mulai menangis sembari menyebut nama ibu berulang kali.
"Ada hal penting yang harus kalian tahu." Jiwon membawa Luhan dan Kyungsoo keluar sejenak dari balik tirai, memandang kedua pria itu dengan raut serius. "Dia tidak seperti orang pada umumnya, dia memiliki kelainan. Pola pikirnya seperti anak kecil."
"Apa maksudmu dia mempunyai syndrome?" Jiwon menggeleng pelan, matanya sesekali melirik ke arah Baekhyun yang masih terisak sambil sesekali tertawa pelan ketika mencium pipi bayinya.
"Kurasa sewaktu ia masih di dalam kandungan, ibunya mengalami sebuah insiden yang berefek pada bagian otaknya. Itulah kenapa ia memiliki pola pikir seperti anak kecil. Mendengar apa yang ia katakan tadi, aku merasa was-was jika ia harus tinggal seorang diri, apalagi ia memiliki seorang bayi."
Meninggalkan seseorang sebatang kara dengan keadaan seperti itu membuat Luhan dan Kyungsoo berpikir untuk membawa pria mungil itu tinggal bersama mereka. "Kau tidak perlu khawatir, mulai sekarang dia menjadi bagian keluarga kami." Luhan mendekat kemudian duduk ditepi ranjang. Tangannya terulur mengusap rambut Baekhyun penuh sayang.
"Siapa namamu?" Tanya Luhan.
Baekhyun mengerjap beberapa kali dan melihat Luhan, Kyungsoo dan Jiwon secara bergantian. Guratan senyuman akhirnya terlukis di bibir tipisnya.
"Ba-Baekhyun, Byun Baekhyun."
17 tahun kemudian
"Kyung, apa kau memasak sup rumput laut lagi?" Pria bermata cantik seperti rusa menghampiri sepupunya yang masih sibuk berkutit di dapur. Pria itu menggenggam sekantong belanjaan yang berisi buah-buahan dan sayur-sayuran, lalu kemudian ia taruh diatas meja dapur.
"Aku tidak akan protes karena 3 hari ini kau selalu memasak sup rumput laut. Tapi, apakah kau benar-benar tidak menyediakan daging? Sebagai makan malam atau siang?"
Kyungsoo menghela nafas mendengar ocehan Luhan. Ya, dia memang tahu bahwa Luhan kurang menyukai sayuran. Apalagi ia paling tidak suka dengan makanan sejenis sup. Sepupunya itu terlalu mencintai makanan enak serba instan dengan kandungan lemak di dalamnya.
"Baiklah. Aku akan memasak kornet ayam dan sapi. Tapi kau harus memakannya dengan sup." Titah Kyungsoo lalu dibalas anggukan pasrah Luhan.
Luhan dan Kyungsoo adalah saudara sepupu dengan marga berbeda tentunya. Luhan mempunyai darah dan marga Cina karena ayahnya murni berasal dari Cina, sedangkan ibunya berasal dari Korea. Beda dengan Kyungsoo yang memang asli memiliki darah Korea tanpa campuran darah apapun.
Yang jelas perbedaannya adalah status yang melekat pada mereka berdua. Luhan sudah menikah 5 tahun yang lalu dengan pria yang bernama Oh Sehun. Dia bukanlah pria tampan yang kaya atau mempunyai kemewahan. Ia hanya pemuda sederhana yang memiliki toko roti manis yang selalu laris setiap harinya. Sedangkan Kyungsoo dia masih ingin sendiri. Ah, lebih tepatnya dia yang bermalas-malasan untuk mencari lelaki diluar sana.
Bahkan Luhan sendiri terus meracau dan menyindir Kyungsoo karena tak kunjung laku-laku. Namun Kyungsoo masa bodo. Toh, juga dia yang menjalani hidup.
Ngomong-ngomong, Luhan dan Kyungsoo sudah memasuki umur kepala 3. Hanya saja Kyungsoo lebih muda 1 tahun dari Luhan. Jangan mengatai mereka tua karena sebenarnya kata 'tua' berlaku untuk umur 40 tahun ke atas. Lagipula mereka mempunyai wajah yang begitu imut dan cantik. Seolah-olah mereka adalah ratu anti-aging di kota kecil ini.
"Aku pulang."
"Oh, Chanyeol!"
Luhan yang tadi sibuk mengupas bawang langsung terhenti dan menyambut kepulangan anak dari saudara angkatnya.
"Kau mau langsung makan siang?" Tawar Luhan.
"Dimana Mama?" Tanya Chanyeol tanpa menggubris tawaran Luhan.
"Dia dikamar. Dia selalu dikamarnya dengan bahan-bahan rajutan. Ah! Tolong antarkan makanan ini pada Mamamu, dia belum sempat sarapan tadi."
Chanyeol seketika mengernyit tak suka mendengar perkataan Luhan barusan. "Kau membiarkan perutnya kosong seharian? Hanya karena dia orang asing, kau memperlakukannya seperti itu?" Nada Chanyeol semakin terdengar tidak bersahabat diakhir kalimat. Matanya memicing tidak suka ke arah Luhan.
"Maaf Chan, tadi aku dan Kyungsoo kesiangan dan kami-…"
"Tidak becus."
Chanyeol mengambil alih nampan ditangan Luhan kemudian berlalu begitu saja menaiki lantai 2. Entahlah, Luhan merasa menyesal karena telah mengatakan yang sebenarnya perihal Baekhyun kepada Chanyeol. Memasuki SMA Chanyeol selalu bertanya dimana ayahnya, namun Kyungsoo dan Luhan hanya diam lalu mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Tapi semakin hari Chanyeol sering bertanya tentang ayahnya, siapa ayahnya dan dimana ayahnya. Lama kelamaan Luhan menjadi tidak tega dan mengatakan yang sejujurnya tentang ibunya, Baekhyun. Walaupun Kyungsoo keberatan bila Luhan harus membongkar semuanya detik itu. Semenjak itulah, Chanyeol mulai berubah. Dia lebih pendiam dan bicara sekenanya.
Parahnya, bila terjadi sesuatu pada Baekhyun, Chanyeol menyalahkan Luhan dan Kyungsoo. Dia selalu berprasangka tidak baik pada Luhan maupun Kyungsoo karena Chanyeol berpikir bahwa mereka menganggap dirinya dan juga ibunya sebagai orang asing. Apakah Chanyeol tidak melihat bahwa selama ini Kyungsoo dan Luhan selalu memperlakukan Baekhyun dengan baik? Terutama Luhan yang terlihat begitu menyayangi Baekhyun.
"Kurasa sifat arogan Chanyeol ia dapatkan dari ayahnya. Tidak usah terlalu dipikirkan." Kyungsoo mencoba untuk menghibur Luhan. Dirinya memahami bagaimana sepupunya itu terlalu memasukkan kata-kata orang lain ke dalam hati. Tidak seperti dirinya yang tidak terlalu memusingkan perkataan Chanyeol, dia hanyalah seorang bocah yang masih perlu banyak belajar tentang sopan santun dan belajar menghargai seseorang.
Disisi lain Chanyeol membuka pintu kamar Mamanya, remaja jangkung itu tersenyum lebar mendapati pria cantik itu masih berkutit dengan untaian benang dan 2 jarum dikedua tangannya. Bibir tipis rapunzelnya tak henti tersenyum sambil bersenandung irama merdu yang ia buat sendiri.
"Mama."
Baekhyun menoleh ke arah pintu kemudian tersenyum manis.
"Chanyeol, anakku."
To Be Continue
AN :
Baekhyun 32 tahun
Chanyeol 17 tahun
Luhan 35 tahun
Kyungsoo 34 tahun
Sehun 37 tahun
Umur para pemain setelah 17 tahun. Aku kasih tahu supaya kalian gak bingung, dan silahkan hitung sendiri diumur berapa Baekhyun melahirkan. Dan ini catatan penting, cerita ini sebenernya aku repost dan aku revisi yang dimana aku juga ngerombak umur mereka disini. Usia mengandung itu 9 bulan, bukan 12 bulan, jadi jangan hitung mundur setahun umur Baekhyun :v
