BBB HANYA MILIK ANIMONSTA
SEMOGA TERHIBUR
Angin siang menerpa wajahnya lembut, Fang bersandar di bawah lebatnya dedaunan pohon tua di bukit Planet Crovian, kapal angkasa berada tidak jauh darinya, pintu masuk kapal dibiarkan terbuka lebar-lebar dengan tangga masuk tergerai, terlihat seolah menunggu kedatangan seseorang persis seperti sang pilotnya.
Fang tengah menunggu Sai dari tempat pemantauannya beberapa Mil dari titik pendaratan mereka, menurut perjanjian seharusnya Sai sudah sampai di titik pendataran mereka untuk kembali ke markas, namun sepertinya terjadi sesuatu yang membuatnya terlambat, namun Fang yakin apapun itu sepertinya bukan hal serius karena Sai tidak mengirimkan pesan SOS, jadi Fang memutuskan untuk menunggu daripada menyusul.
Selama menunggu, perhatian Fang segera tertuju ke sebuah gedung yang berada di kaki bukit. Tangannya bergerak mengatur lensa visual kacamata futuristiknya, kacamata itu bukan benda yang semata-mata hanya bertengger di ujung hidungnya, Fang menyukai kacamata sejak dia kecil, menurutnya kacamata itu keren, membuatnya terlihat lebih misterius dan tentu saja membuatnya terlihat jenius, namun logikanya masih berfungsi sempurna, dengan pekerjaannya yang sangat menuntut, mengenakan sesuatu yang hanya dapat mempermanis penampilan bukanlah sesuatu yang disukai Fang.
Dia memesan kacamata itu dengan desain spesial dan juga dilengkapi teknologi terbaru, kacamata yang dia kenakan dapat beralih fungsi sebagai teropong, bodycam, ataupun sensor untuk mendeteksi berbagai hal yang dapat membantunya menjalankan misi.
Fang mempertajam visualnya, membuat matanya dapat memperhatikan gedung di kaki bukit itu lebih jelas dari kejauhan. Gedung berbentuk "U" dengan tiga lantai, halaman luas dengan berbagai macam wahana kecil seperti ayunan, dan papan jungkat jungkit.
Anak-anak berbagai rentang usia sedang menghabiskan waktu mereka di sana, anak-anak yang terlihat berusia 5 hingga 10 tahun sedang bermain dan tertawa dengan satu sama lain, anak-anak lain terlihat seumuran dengan Fang dan yang paling tua sepertinya menginjak usia 18 tahun, terlihat mengayomi anak-anak yang lebih muda, tidak jarang anak-anak yang sepertinya berusia 16 tahun ke atas terlihat sedang menggendong balita bahkan menimang bayi yang terlihat baru berumur beberapa bulan.
Keberadaan orang dewasa dapat dihitung jari di tempat itu, mereka semua berpakaian serupa, rambut mereka juga telah memutih seluruhnya dikarenakan usia, wajah berkeriput dan terlihat lelah namun ajaibnya senyum mereka tidak pernah hilang.
Sekejap, gedung itu terlihat seperti tempat penitipan anak atau sekolah, namun nyatanya Gedung itu merupakan Panti asuhan. Tempat anak-anak tanpa keluarga berlindung dari kejamnya dunia, tempat mereka dapat menemukan kesempatan kedua, tempat mereka menemukan keluarga baru tanpa ikatan darah.
Bukan hal jarang bagi Fang untuk membayangkan bagaimana rasanya jika dia harus bergabung dengan mereka, hampir setiap hari, Fang ingat betul itu, dia membayangkan bagaimana rasanya jika suatu hari nanti dia harus pergi ke sebuah panti asuhan, menetap disana dan tumbuh hingga dia mendapatkan cukup ilmu untuk bertahan seorang diri, dia bahkan pernah mencari sendiri dan memutuskan panti asuhan yang ingin dia tuju jika saja Kaizo memutuskan untuk membuangnya dulu.
Sekarang dia tidak perlu mengkhawatirkan tentang kemungkinan untuk bergabung ke panti asuhan, berkat pendidikan yang dia tempuh saat berada di armada kapal angkasa yang dipimpin oleh Maskmana dan pekerjaannya sebagai penyelamat power sphera, Fang memiliki kemampuan dan cukup uang untuk bertahan seorang diri di planet asing jika Kaizo sudah tidak menghendaki keberadaan Fang di dekatnya, yang perlu Fang lakukan hanya mencari Lembaga baru untuk bergabung atau bahkan membangun timnya sendiri.
Dia sudah bukan dirinya yang dulu, dia sudah bukan anak kecil yang hanya tahu bagaimana merengek kepada abangnya untuk ditemanin bermain, dia sudah bukan anak kecil yang terus-terusan berceloteh dan menceritakan tentang hal sepele tentang hari yang dia jalani karena merindukan menghabiskan waktu dengan abangnya yang jelas-jelas sedang kelelahan, dia sudah bukan anak kecil yang tidak tahu apa-apa tanpa dapat melakukan apa-apa, yang jika abangnya memutuskan untuk membuangnya, dia tidak tahu harus kemana lagi jika bukan ke panti asuhan.
Fang tidak mengingat banyak tentang planet asalnya, dia juga tidak mengingat banyak tentang orangtuanya yang tewas saat planetnya hancur, memorinya saat masa-masa pelarian dari peperangan terasa seperti rekaman kaset rusak, satu momen dia dapat mengingatnya jelas dan momen berikutnya tidak ada yang dapat dia ingat. Namun setelah dia dan Kaizo berhasil selamat dari malapetaka itu, setiap menit dan setiap detik kejadian yang berlalu setelahnya seolah terukir begitu dalam di memorinya.
Memorinya tidak hanya menampilkan gambar di dalam kepalanya, memorinya seolah dapat memicu seluruh indra Fang untuk kembali merasakan potongan masa lalunya. Seperti asap yang membuat paru-parunya berteriak, seperti aroma menjijikan yang keluar dari potongan-potongan tubuh seseorang, atau dentuman memekakan yang keluar setiap kali sebuah bom menghantam bangunan.
Fang ingat betul saat dia dan Kaizo berhasil mencapai camp pengungisan. Fang ingat bagaimana kotornya dia, rambutnya lengket akibat cairan asing, pakaiannya lusuh dan robek di sana sini, dia juga ingat bagaimana kelaparannya dia, perutnya berkeruyuk, tidak ada makanan atau air yang dapat membantunya mengatasi rasa lapar itu, air liurnya bahkan seperti telah mengering tanpa sisa, Fang ingat dia dan Kaizo hanya terdiam di sudut tenda bersama puluhan anak lainnya, yang setengahnya terlihat sudah tidak memiliki nyawa lagi, tenda itu sunyi, terlewat sunyi, bahkan dengan puluhan anak, tidak ada satupun yang menangis, mungkin mereka ingin, hanya saja mereka tidak memiliki tenaga lagi untuk menangis, dan kebanyakan dari mereka sudah sadar tangisan itu tidak akan membawa mereka ke tempat lebih baik lagi, karena Fang saat itupun sudah paham, menangis hanya akan membawa kematian, menangis hanya akan memberikan posisimu ke pada musuh, jika musuh mengetahui keberadaanmu, maka itu adalah akhir hidupmu.
Fang ingat dia tengah memainkan jari abangnya saat itu, jari kurus penuh memar dan luka lecet yang tidak terobati persis seperti miliknya, dia memainkan jari abangnya untuk mengalihkan rasa laparnya. Lapar yang dirasakan Fang begitu menyiksa sehingga satu-satunya hal yang terpikirkan oleh Fang untuk meredakan rasa lapar itu hanya dengan tidur, namun tidur bukanlah pilihan terbaik saat itu.
Mereka harus selalu bersiap untuk lari, karena tidak pernah ada yang tahu kapan pesawat musuh datang dan menjatuhkan bom, tidak pernah ada yang tahu kapan tank-tank besi dengan senjata berisi ratusan peluru panas akan datang dan menembaki mereka, bagi yang sudah menyerah, tidur menjadi cara paling mudah untuk mati, bisa jadi mereka mati dikarenakan tidak dapat lari saat serangan datang atau mati dalam tidur karena kelaparan, tidur adalah pilihan buruk waktu itu, namun sakit di perutnya yang sudah tidak terisi berhari-hari semakin tidak tertahankan, dia meringkuk di sisi abangnya, Fang bahkan ingat walaupun saat itu pikiran Kaizo kosong, saat Fang meringkuk tidak jauh dari abangnya, Kaizo segera menarik tubuhnya mendekat. Hanya dengan rangkulan lemah Kaizo, Fang merasa aman.
Memorinya sedikit berulah setelah itu, dia ingat dia berpindah-pindah dari satu camp ke camp lainnya, lalu entah kapan dan bagaimana Maskmana tiba-tiba muncul lalu memungut mereka, dia ingat saat abangnya yang putus asa menerima tawaran Maskmana tanpa keraguan sedikitpun, dia ingat saat Kaizo mulai berguru pada Maskmana. Dia ingat saat Kaizo mulai berubah, dia juga ingat kapan dirinya sendiri mulai berubah.
Segalanya tidak pernah sama lagi setelah kapal armada angkasa yang dipimpin oleh Maskmana menjadi rumah keduanya. Rumah yang ganjil, dingin dan sunyi, walaupun kenyataanya kapal angkasa itu selalu dipenuhi oleh perajurit, alarm darurat tidak jarang berbunyi, tapak kaki berlarian dan teriakan perintah sering kali mengisi hari-harinya, namun anehnya Fang selalu merasa sendiri dalam kesunyian.
Awalnya Fang kira keadaan akan kembali seperti sedia kala, dia dapat melihat cahaya harapan di mata Kaizo bersinar kembali setelah sebelumnya redup, Kaizo kembali memberikannya perhatian dan kasih sayang selayaknya keluarga. Lalu Maskmana mulai melatih Kaizo, membuat waktu bersama mereka menipis, dan Fang mulai kehilangan abangnya saat Maskmana mulai mengirim Kaizo ke dalam misi.
Ditinggal di kapal angkasa dengan pengasuh dan guru yang selalu berganti setiap bulan bukanlah yang menyenangkan, dia tidak pernah mengenal baik siapapun yang berada di kapal itu, para prajurit selalu mengenakan topeng yang menutupi wajah mereka, walaupun menjadi satu-satunya anak kecil di kapal itu tidak membuat Fang dihujani perhatian, keberadaan anak kecil di kapal angkasa terasa menggangu dan para prajurit itu tidak segan-segan menunjukkannya, mereka tidak senang dengan keberadaan Fang sehingga keberadaannya dianggap tidak nyata.
Tidak ada yang pernah mengajaknya bicara, ataupun menyapa, satu-satunya orang yang dapat menjadi tempat larinya hanya Kaizo seorang, hingga abangnya sendiri mungkin muak dengannya.
Fang mengakui dia seolah memaksa Kaizo untuk memberikan perhatian di waktu senggang abangnya, dia juga mengakui kalau dia mengganggu waktu istirahat abangnya dengan memaksa untuk tidur di bersama di ranjang abangnya.
Fang dapat merasakan kehangatan Abangnya semakin menipis, dan mencapai puncaknya pada hari itu…
Maskmana mengirim Kaizo ke sebuah misi. Biasanya misi yang dijalankan Kaizo hanya memakan waktu satu atau dua minggu, namun kali terasa seolah misi terlama yang dijanalankan abangnya. Dua bulan penuh Kaizo menjalankan misi itu, dan Fang tidak dapat menahan kerinduannya.
Saat Fang mendengar kabar kepulangan Kaizo dari robot pengasuhnya tentu Famg tidak dapat menahan kegembiraanya, dia menunggu dan menunggu tidak kenal waktu, Fang selalu melakukan itu setiap kali Kaizo kembali dari misi, menyambut Kaizo dengan hangat hanya satu-satunya hal yang Fang tahu untuk membuat abangnya ceria setelah pulang dari misi yang menakutkan.
Kaizo datang ke ruangan mereka sekitar pagi dini hari, Fang yang menahan kantuknya hanya untuk menunggu Kaizo segera berlari menyambut abangnya. Fang kira Kaizo akan senang, Fang kira Kaizo tidak akan marah, karena itulah yang biasa abangnya lakukan saat melihat Fang menyambutnya setelah kembali dari misi, pelukan hangat dan tawa kecil, terkadang kecupan singkat di puncak kepala.
Namun malam itu berbeda…
Berlari dengan kecepatan penuh, Fang segera memeluk Kaizo yang baru sampai di ruangan mereka, dia ingat dia mulai berceloteh berbagai hal tidak penting, dari sambutan singkat, lalu bagaimana dia kesepian ditinggal dan menanyakan bagaimana hari-hari abangnya di tengah misi.
Kaizo bungkam sepanjang celotehan Fang, masih belum merasakan keganjilan dari abangnya Fang masih bergelayut manja meminta waktu Kaizo, dan tentu setelahnya hal tidak berjalan seperti yang Fang inginkan.
Dia ingat bagaimana Kaizo menarik tangannya dari genggaman Fang, menarik paksa seolah tidak ingin disentuh, dia ingat ekspresi Kaizo yang diisi kemarahan tertuju padanya, tidak... bukan hanya kemarahan, Fang dapat merasakan emosi lain ditujukan kepadanya, dan Fang menerjemahkan emosi itu sebagai kebencian, dia ingat bagaimana mata Abangnya yang serupa dengannya mengeluarkan hawa dingin, begitu dingin hingga berhasil membekukan senyum Fang.
Fang sadar saat dia melihat tatapan mata itu dia telah melakukan kesalahan besar…
"Diam!" geram Kaizo. "Bisa kau kunci mulutmu itu untuk sesaat? Aku muak dengan suaramu!"
Senyuman Fang memudar, tubuhnya kaku dan dia mematung menatap Kaizo. Saat itu Fang melihat Kaizo bukan lagi sebagai abangnya, seperti sesuatu sudah merasuki tubuh Kaizo dan berpura-pura menjadi abangnya, seseorang di depannya hanya memiliki penampilan serupa Kaizo di luar, namun di dalamnya… Fang tidak tahu siapa, dia tidak mengenal siapa yang mengisi tubuh itu sekarang.
Tatapan mereka saling terkunci, saat Kaizo mendekat, tanpa sadar Fang mundur, dia ingat rasa takut mengisi dadanya waktu itu, mulutnya terkatup tanpa kuasa mengeluarkan kata-kata, tubuhnya bergetar ketakutan, Fang dapat merasakan wajahnya mendingin, seolah darah menolak untuk mengalir ke pembuluh darah di wajahnya, membuat wajahnya memucat, perasaan yang muncul saat itu merupakan perasaan yang sama persis saat dia berusaha bersembunyi dari kejaran musuh. Fang terus mundur hingga punggungnya membentur pintu masuk, dan rasa di dadanya seolah mengatakan kalau orang di depannya akan membunuhnya.
Kaizo berlutut, berusaha mensejajarkan wajah mereka, Fang menunduk, menolak untuk menatap wajah abangnya, dia bahkan memejamkan mata, pasrah menerima apapun yang Kaizo akan lakukan padanya. Saat Fang merasakan tangan Kaizo mencengkram wajahnya, kedua mata Fang terbuka. Kaizo memaksa Fang untuk menatap lekat ke dua bola matanya yang terisi kemarahan, tubuh Fang bergetar saat Kaizo mendekatkan bibirnya ke telinga Fang, membisikkan kalimat yang membuat dadanya tercabik.
"Jika kau tidak mau diam, aku bersumpah akan melemparkanmu ke panti asuhan kau paham itu!"
Fang tidak pernah menyangka hanya dengan satu kalimat yang terucap dari mulut abangnya dapat menghempaskan Fang ke realita menyakitkan, dia hanya membeku di tempat, kebingungan memproses apa yang baru saja terjadi. Saat Kaizo meninggalkannya, Fang masih terdiam seraya memperhatikan punggung Kaizo yang menjauh hingga menghilang di balik pintu kamarnya.
Itu adalah hari Kaizo berubah, begitu pula dirinya. Kalimat itu yang membuatnya menjadi dirinya yang sekarang.
Entah apa yang membuat Fang berhasil mengambil langkah untuk berpindah dari tempat itu, Fang berhasil memaksakan kakinya untuk pergi ke kamarnya sendiri, naik ke ranjang, dan bergelung di balik selimut.
Malam itu tidak dapat tidur, Fang berusaha mencari alasan kenapa abangnya tiba-tiba bersikap seperti itu kepadanya, dia sadar Kaizo sedang kelelahan akibat misi yang panjang, dia sadar ada beban berat yang bertengger di bahu Kaizo saat ini, dia sadar kalau luapan amarah pasti bisa terjadi sewaktu-waktu, abangnya masih muda, dan dia dihadapkan dengan puluhan pilihan pahit, jadi bukan hal mengherankan jika emosinya meledak.
Semakin dia mencari alasan semakin matanya terbuka lebar-lebar karena suara-suara yang tidak pernah muncul di dalam kepalanya sekarang berteriak. Omongan-omongan para prajurit yang tidak pernah digubrisnya tiba-tiba terngiang.
Fang sering mendengar bisik-bisik dari mulut prajurit tentang dia yang tidak diinginkan oleh Maskmana, dia mendengar para prajurit itu mengatakan Maskmana hanya menginginkan Kaizo ke dalam pasukannya, dan Fang hanyalah ekstra yang tidak pernah dibutuhkan Maskmana, dia mendengar bisik-bisik bahwa alasan Maskmana membawanya ke armada ini karena permintaan Kaizo untuk juga membawa Fang bersamanya.
Tentu Kaizo melakukan itu, Kaizo adalah abangnya, dia sayang padanya, buktinya sudah jelas, Kaizo pasti memohon pada Maskmana untuk menyertakan Fang karena dia adalah adiknya…
Pikiran itu cukup untuk menenangkan perasaan Fang, tidak menjawab pertanyaannya namun untuk sekarang itu sudah cukup. Saat Fang mulai memejamkan mata, memori yang hampir dia lupakan muncul, memori yang begitu jelas hingga seluruh indranya merasakan kejadian itu terjadi lagi.
Matanya seakan dapat melihat reruntuhan gedung, puluhan pesawat yang memuntahkan bom ke kota tempatnya tinggal, telinganya bahkan dapat mendengar teriakan dan rintihan orang-orang, penciumannya dapat mengendus aroma besi pekat dan asap di udara yang pengap, bahkan kulitnya dapat merasakan luka-luka yang menggores tubuhnya saat itu.
Memori itu menunjukkan ibunya, mendekap dia dan abangnya, Fang ingat ibunya tengah sekarat waktu itu, dengan kata yang terputus-putus ibunya meminta Kaizo untuk berjanji untuk menjaga dirinya sendiri dan juga Fang, permintaa tersebut tentu diiyakan oleh Kaizo yang setengah menangis. Ibunya membuat abangnya berjanji untuk menjaganya sebagai permohonan terakhir ibunya, dengan kata lain, Kaizo menjaganya bukan karena keinginannya sendiri, Kaizo menjaga Fang dikarenakan hal yang serupa dengan Maskmana.
Dia terpaksa melakukannya…
Yaa… malam itu adalah hari Fang memutuskan untuk berubah, dia sadar tidak ada yang menginginkannya, dia sadar jika dia terus bersikap seperti anak kecil maka hanya tinggal waktu hingga Kaizo memutuskan untuk melemparkan Fang ke panti asuhan. Malam itu dia juga bersumpah untuk berubah, tidak ada lagi celotehan, tidak akan lagi pelukan atau kecupan. Dia akan bersikap dewasa diumurnya yang masih belia.
"Aku bersumpah akan jadi anak baik, jadi abang tidak akan membuangku," bisik Fang pada diri sendiri "Abang tidak akan membuangku, dia tidak akan membuangku kalau aku bersikap baik."
Fang mendecih, memutus pikirannya tentang masa lalu. Bahkan setelah bertahun-tahun pikiran itu masih mengganggunya.
Fang tidak akan membantah, jika hubungannya bersama Kaizo dapat kembali selayaknya saudara normal, dia sangat menginginkan itu. Yang menyebabkan hubungan mereka tercoreng bukan lain adalah karena dirinya sendiri, jika saja dia dapat memutar waktu, dia tidak akan bersikap seperti dirinya yang dulu, jika saja dia bisa mandiri lebih cepat, dia tidak akan mendengar kalimat itu keluar dari mulut Kaizo, dan Fang yakin dia hubungan mereka akan lebih normal sekarang.
Dan juga… hingga saat ini, dia tidak pernah memiliki keberanian untuk menanyakan tentang kebenaran yang sesungguhnya, dia tidak pernah berani bertanya kepada Maskmana apakah ucapan para prajurit itu benar, dan dia tidak pernah berani bertanya pada Kaizo, apakah ucapannya malam itu hanyalah luapan emosi sesaat atau memang begitulah adanya.
Fang tahu betul alasan kenapa dia tidak pernah berani menanyakannya, dia takut akan jawaban, dia takut jika kata "Iya" keluar dari mulut mereka, Fang yakin dia tidak akan dapat mengahadapi kenyataan itu, dia akan hancur.
Dia mengecek jam kuasanya, sebuah pesan dari Sai muncul mengatakan dia terjebak kerumunan parade di kota, Fang menggerang tidak percaya, mereka akan terlambat dari jadwal utama mereka, tapi Fang tidak dapat melakukan apa-apa, menyusul Sai hanya akan semakin membuang waktu, dia juga tidak dapat menjemput Sai dengan pesawat angkasa karena mendaratkan pesawat angkasa di sembarang tempat adalah illegal, dan dia juga tidak dapat menggunakan kekuatannya di tempat warga sipil berkumpul jika bukan keadaan darurat.
Fang mengatur lensa kacamatanya dari bening menjadi menghitam, dia berbaring di rerumputan, kedua tangannya menyangga kepalanya, jika memang Sai akan terlambat maka Fang akan memanfaatkan waktunya untuk tidur sejenak, memikirkan masa lalu membuatnya lelah tiba-tiba.
TO BE CONTINUE
