Hangatnya sang surya menemani aktivitasnya pagi itu. Sinarnya yang cerah menyorot kesibukan dari balik jendela kamar. Seorang gadis berambut pirang nampak sibuk mengikat tali sepatu. Tangannnya dengan cekatan membuat sebuah simpul.

Kamarnya berantakan. Mulai dari peralatan mandi hingga buku-buku sekolah berserakan di lantai kamarnya. Seprai dan selimut belum sempat ia rapikan. Ia sendiri bahkan lupa di mana ia meletakkan tas sekolahnya.

"Caga!" Sebuah suara dari luar mengagetkannya. Ia menyelesaikan simpul sepatu sebelum beralih mengintip keluar jendela, sedikit mengeluh karena sosok yang selalu pergi bersamanya ternyata sudah datang sebelum ia sempat bersiap-siap.

"Caga!" Seorang pemuda berambut kecoklatan nampak memanggil namanya. Ia menatap ke arah jendela kamar sang gadis. menemukan sosoknya di balik kaca jendela, pemuda itu pun melambaikan tangannya.

"Ayo! Kau sudah siap?"

Gadis itu mendengus. Ia membuka jendela kamarnya lalu berteriak pada pemuda itu.

"Belum Kira! Ini baru pukul setengah Sembilan!"

"Ayolah Cagali. Nanti kita terlambat!" Pemuda itu mengeluh. Ia hendak melajukan kembali sepedanya namun sosok gadis bernama Cagali itu seketika menahan niat pemuda itu.

"Kira! Jangan tinggalkan aku!" Rengekan Cagali membuat pemuda itu menghentikan laju sepedanya seketika. Cagali melihat wajah pemuda itu berubah masam dengan sorot mata seolah menyuruh sang gadis untuk bergegas.

"Lima menit," Pinta Cagali padanya. Tanpa menunggu persetujuan Kira, gadis itu segera kembali ke kamarnya untuk mencari tas sekolahnya. Ia memang tak bisa lagi merapikan kamarnya atau memakan sarapannya terlebih dulu. Jadi, yang harus ia lakukan adalah menemukan tasnya. Cagali mulai menggeledah isi kamarnya. Tanpa mempedulikan kondisi kamarnya yang makin berantakan, ia nekat membuka isi lemarinya demi menemukan tas sekolahnya. Mungkin tersembunyi di dalam lemari atau tertumpuk di antara buku-buku.

"Cagali! Kira sudah menjemputmu!" Suara ibunya dari luar membuat ia semakin panik.

"Bilang pada Kira untuk menunggu, bu! Aku akan segera datang!" Ujar Cagali sambil menyingkirkan buku-bukunya yang berserakan di lantai.

Gadis tomboy itu akhirnya menemukan tas sekolahnya di bawah kolong tempat tidurnya. Ia menarik tas sekolahnya itu lalu segera menghambur keluar kamarnya. Gadis itu berlari menuruni tangga. Di bawah tangga ibunya tampak menunggu sambil membawakan segelas susu untuknya.

"Aku tidak sempat bu. Nanti sore aku akan meminumnya," Cagali sudah menapaki lantai dasar rumahnya.

"Bagaimana dengan bekalmu?"

Cagali segera menyambar bekal makanannya. Setelah itu dalam hitungan detik sosoknya sudah menghilang di balik pintu rumah.

"Kau ini lama sekali!" Kira langsung mengomel begitu mendapati Cagali sudah bersiap dengan sepedanya.

"Aku mempersiapkannya semua dalam lima menit seperti yang kujanjikan!" Cagali bersikeras.

"Lima menit lewat tiga detik di jam tanganku!"

Cagali menghela nafas. "Ayolah Kira,"

Mereka berdua pun mengayuh sepeda mereka meninggalkan rumah Cagali. Pagi hari ini jalanan mulai dipenuhi oleh barisan pelajar yang ingin berangkat ke sekolah mereka masing-masing. Cukup sulit bagi mereka dengan sepeda untuk melintasi kerumunan anak-anak sekolah.

Cagali dan Kira adalah teman sejak kecil. Mereka bisa dibilang sudah seperti saudara karena selalu bersama, terutama saat mereka berangkat dan pulang sekolah. Tak ada yang menyangka bahwa dua manusia seperti mereka bisa menjalin hubungan persahabatan hingga saat ini. padahal, kalau ditilik, Kira dan cagali memiliki sifat yang bertolak belakang. Cagali adalah gadis tomboy, keras kepala, dan cenderung nakal. Kontras dengan Kira yang pendiam, penurut, dan alim.

"Ah! Tugas dari Murrue-sensei belum kukerjakan!" Keluh cagali sembari mengayuh sepedanya berdampingan dengan Kira. Sosok yang bersamanya saat itu tak terlalu mempedulikan keluhan sang gadis.

"Kira, aku ingin menyalin jawabannya darimu. Pelajaran Murrue-sensei di kelasmu dimulai setelah istirahat bukan?"

"Ada baiknya kau mencoba mengerjakannya sendiri, cagali," kira menasihati. Cagali menjulurkan lidahnya mendengar ucapan bijak itu.

"Tak sempat! Kemarin sore setelah berlatih Judo aku merasa amat lelah,"

Kira hanya terdiam mendengar alasan gadis itu. Ia memang susah dinasihati jadi apa boleh buat.

Mereka tiba di sekolah lima menit sebelum bel berbunyi. Cagali dan Kira memarkir sepeda mereka di halaman belakang lalu berjalan bersama menuju ke sekolah.

"Semoga harimu menyenangkan Kira," Cagali menepuk bahu Kira sebelum memasuki kelasnya. Kira tersenyum singkat sambil meleggang menuju ke kelasnya.

*

Hari ini bisa dibilang cukup melelahkan. Kegiatan di kelas seolah berlangsung amat lama sehingga bel istirahat yang ditunggu oleh para murid seperti suara malaikat penyelamat yang membebaskan mereka sejenak dari himpitan tugas.

Seluruh murid dalam sekejap menghambur keluar kelas mereka, mencari tempat yang bisa mereka datangi untuk melepas lelah mereka. Ada yang pergi ke kafetaria sekolah untuk makan sambil beristirahat, ada yang pergi ke halaman belakang untuk menikmati pemandangan, atau ada pula yang masih berada di dalam kelas mereka untuk makan atau mengerjakan PR yang belum mereka buat di rumah.

Cagali berjalan meninggalkan kerumunan teman-temannya yang masih berada di dalam kelas. Sembari membawa bekal makanan dan buku PR miliknya, ia melangkah menuju tangga sekolah. Beberapa siswa berpapasan dengannya, memperhatikan gerak gadis lincah itu saat menaiki tangga sekolah.

Gadis itu menjelajahi satu per satu lantai yang ada di sekolah itu hingga akhirnya ia tiba di atap gedung. Cagali membuka pintu yang membatasinya dengan pemandangan langit di atap gedung tersebut. Ia menapaki atap gedung sekolah, menghampiri satu sosok yang tengah menunggunya sejak tadi.

Kira sedang menghabiskan roti isinya ketika sosok Cagali datang sambil menjinjing bekal dan buku PR-nya. Gadis itu langsung duduk di samping Kira, tanpa mempedulikan sorot mata Kira yang tengah memperhatikannya.

"Aku bawa bekal ini cukup banyak untukmu,"

"Aku sudah memakan roti isi," jelas Kira.

"Ah! Roti takkan membuatmu kenyang," Cagali membuka bekalnya, memperlihatkan pada sahabat karibnya itu isi makan siangnya. Porsinya cukup banyak dan cukup menggiurkan memang.

"Ibuku membuatkan ini juga untukmu,"

"Merepotkan," Kira tersenyum getir.

"Tidak, makanlah,"

Cagali melahap bekalnya lalu memberikannya pada Kira. Mereka makan bergantian sampai bekal yang dibawa cagali pun habis tak bersisa.

"Setelah itu aku menyalin pekerjaanmu!" Cagali menyambar buku yang tergeletak di samping tubuh Kira. Kira menghela nafas, merapikan kotak makan siang Cagali. Gadis ini memang tak pernah berubah, selalu saja membiarkan kotak makannya begitu saja setelah makan.

"Ah! Soal ini tak bisa kujawab, tapi kau bisa menjawabnya, Kira?" Tukas Cagali sambil menyalin pekerjaan temannya itu. kira hanya mendengus, memperhatikan soal yang gadis itu maksud lalu berujar.

"Contoh penyelesaian soal ini ada di buku paket. Kau tidak membacanya?"

"Tidak sempat," jawab cagali cuek. Kira kembali mendengus.

"Ah! Jangan menyalin semua! Nanti kalau Murrue-sense tahu, aku bisa kena marah,"

"Aku tahu!" Cagali menyahut tenang.

Mereka berdua bergelut dalam keheningan. Masing-masing sibuk dengan aktivitasnya. Cagali masih menyalin PR Kira sedangkan pemuda berwajah kalem itu sibuk memandangi langit.

"Kira," cagali memanggil dengan wajah serius. Matanya terfokus pada jawaban soal di buku pemuda itu.

"Ya,"

"Sejak kita saling mengenal, hingga saat ini apa kau pernah merasa risih dengan kedekatan kita seperti ini?"

Kira heran. Pertama kali sosok Cagali menanyakan hal itu padanya. Belum pernah ia mendengar sahabatnya itu menyinggung hal tersebut.

Tak ada yang salah dengan kedekatan mereka, kecuali ketika usia mereka yang semakin dewasa dan jenis kelamin mereka yang berbeda. Setiap orag tentunya akan mempertanyakan bagaimana mungkin mereka bisa dekat selama bertahun-tahun sebagai teman tanpa ada perasaan lain yang menyelimuti hati mereka. Apalagi kedekatan mereka saat ini jauh melebihi pasangan kekasih pada umumnya.

"Kenapa menanyakan itu?" Kira meringis sambil menatap mata cagali. Wajah Cagali sedikit bersemu, membuatnya semakin heran dan salah tingkah.

"Tidak. Aku hanya berpikir suatu saat nanti kau akan menemukan sosok yang mungkin lebih membuatmu nyaman,"

Kira berpikir sebentar, mencari jawaban tepat untuk menjelaskan perasaannya.

"Tidak," Kira berujar singkat.

"Milly pernah menanyakan padaku di kelas, apa aku dan kau tidak memiliki perasaan apapun, dan tidak merasa risih dengan kedekatan kita seperti ini,"

"Sudahlah Caga, kau tak perlu memikirkannya. Aku sendiri tak merasa keberatan. Kita bersahabat dekat sejak kecil dan fakta itu memang tak bisa dipungkiri,"

Cagali terdiam sebentar. ia menutup bukunya. "Baiklah, lupakan saja," Ujar gadis itu. "Kukembalikan ini. terima kasih, Kira," Cagali meringis. Dalam sekejap, wajah seriusnya pun mencair, terganti oleh senyum ringan yang biasa Kira lihat.

Kira menerima bukunya. Ia memperhatkan sosok sang gadis mengambil bekal makan siangnya lalu berdiri. Kira meraih tangan Cagali yang terulur di hadapannya. Pemuda itu ikut berdiri.

"Sebentar lagi masuk kelas. Kita harus cepat sebelum bel masuk berbunyi,"

Cagali mengangguk. "Nanti siang aku ada praktikum Biologi. Hmmm… tunggu aku sampai selesai ya…" Cagali menggenggam tangan Kira, tersenyum meminta.

Kira menghela nafas. "Yah… apa boleh buat," Kira terdiam sebentar "Ayo kita pergi,"

Bel masuk berbunyi tatkala mereka tengah menuruni tangga. Kedua insan itu langsung menghambur menuju ke kelas mereka. kira memasuki kelasnya terlebih dahulu karena letaknya memang di lantai yang lebih atas dari Cagali. Cagali tersenyum saat pemuda kalem itu memasuki ruang kelasnya. Ia pun langsung melangkah menuju ke kelasnya. Dalam perjalanan, sang gadis masih mengingat jelas kata-kata yang pemuda itu ucapkan.

Ya, teman… hanya teman. Kira memang hanya temanku.

Cagali berujar dalam hati. Ia menunduk lalu menghela nafas.

Halo, bertemu dengan Liel di sini. Kali ini aku mempost fanfic Gundam SEED/DESTINY yang dulu sempat kutulis 2015 lalu xD udh lama banget, aku sendiri juga udh lupa alurnya x'D tapi aku akan coba menyelesaikannya yosh! *bisanya cuma janji doank* xD