I don't own Naruto, it belongs to Kishimoto Masashi.


"Sasuke-kun sakit?" tanya Sakura melihat sahabatnya (ehm, TTM-nya) masih meringkuk di kasur kosan elitnya. Biasanya, Sasuke sudah rapi sebelum Sakura datang untuk menebeng motornya ke kampus, bahkan untuk kuliah paling pagi sekalipun.

"Hm". Sasuke hanya menyahut pelan. Aduh, bahkan suaranya serak. Sakura langsung masuk dan meraba keningnya.

"Ya ampun, kamu demam?"

"Cuma masuk angin, aku begadang 2 malam menyelesaikan tugas dari Kakashi."

"Oh." Walaupun Sakura tidak mengambil mata kuliah yang sama seperti Sasuke, Hatake Kakashi terkenal ke seluruh kampus sebagai dosen yang pelit nilai. Orangnya terlihat santai, tapi standarnya tinggi. Bahkan nilai B- saja jarang ada yang bisa dapat. Dan Sasuke yang terobsesi menyamai prestasi kakaknya sebagai lulusan terbaik di satu angkatan tentu harus kerja ekstra keras untuk bisa dapat A. Sakura hanya bisa geleng-geleng kepala. "Lagi-lagi kamu maksain diri. Jangan bilang lupa makan juga?"

Sasuke cuma diam. "Nggak sempat." Jawabnya nggak peduli. Sakura memutar matanya.

Si rambut pink melihat sekeliling kamar Sasuke, penuh dengan cup bekas ramen instan di antara kertas-kertas tugasnya. "Ampun deh.. Lama-lama kamu jadi Naruto, loh." Sakura bergidik.

Sasuke cuma mendengus " Nggak lah. Level dia mah kecanduan. Beda."

Sakura tertawa dan kemudian mengeluarkan ponselnya "Sasuke-kun mau makan apa? Aku belikan via JekFood ya? Bubur ayam mau? Obat sekalian ya."

"Nggak usah.. Aku tidur aja, nanti juga sembuh. Kamu kan ada kelas, nanti telat."

"Cuma kuliah umum, bisa titip absen ke Ino. Dan udah, kamu diam saja, suara hampir habis begitu." Sakura tersipu, karena sesungguhnya suara Sasuke yg asli sudah dalam, pas serak begini jadi tambah sexy. Nggak baik buat jantung.

Si ganteng nyengir.

"Oke, bubur dan obatnya datang dalam 20 menit. Aku juga numpang sarapan di sini ya, tadi nggak sempat."

"Ya. Cuci piring sekalian ya.."

"Ih. Dasar.. Dikasih hati minta jantung. Iyaaa, nanti kucuci.."

Oh, Sasuke, sebenarnya tanpa diminta juga jantung hati Sakura sejak lama udah jadi milik kamu loh. Tinggal ambil aja.

"Terima kasih, Sakura."

Sang gadis membalasnya dengan senyum lebar. "Sama-sama."

"Aku tidur sebentar ya, pusing."

"Oke, nanti aku bangunin kalau buburnya udah datang."

"Hn."

Baru sekitar 5 menitan Sasuke memejamkan matanya, tiba-tiba dia bangun dan berlari ke kamar mandi. Lalu "Hueekk!"

Sakura buru-buru menyusul dan memijat tengkuknya. Kemudian keluar lagi, "Tunggu ya, ku ambilkan air minum!"

"Ini, Sasuke-kun." Gadis bermata hijau itu menyerahkan segelas air putih hangat kepada Sasuke yg telah selesai mengeluarkan isi perutnya "Minumnya pelan-pelan."

"Sepertinya sakitmu parah juga, Sasuke-kun.. Mau ke dokter saja?"

"Tidak usah.. Setelah muntah ini agak mendingan."

"..baiklah kalau kamu merasa begitu.." Sasuke memang tidak suka dokter ataupun rumah sakit, dan dia keras kepala. Sakura sesungguhnya khawatir, tapi berdebat soal ini dengan Sasuke pasti sia-sia.

Kemudian, selintas ide terbesit di pikiran Sakura. "..eh, apa.. Sasuke-kun mau.. Aku kerok saja?" begitu tawaran itu keluar dari mulutnya, Sakura langsung menyesal. Kesannya kok.. Mesum? Pacar saja bukan (lebih tepatnya, belum. Tapi seperti biasa Sakura tidak berani ge-er padahal satu kampus juga sudah menganggap mereka pacaran).

Mata Sasuke hampir keluar dari kepalanya.

"Maaf, lupain. Ha..ha..ha.." Muka Sakura merah padam membara. "A.. Aku cek dulu ke depan ya, siapa tau makanannya sudah datang." Sakura beranjak pergi. Malunya, ya ampuuun!

"Kalau kamu nggak keberatan." Tiba-tiba Sasuke menarik T-shirtnya ke atas, melepasnya hingga dada bidangnya terlihat kemana-mana. Sakura melongo. Dan mungkin kalau di komik-komik, dia mimisan saat itu juga. "Ada minyak angin di bagian atas lemari baju, punya Itachi yg ketinggalan. Kau punya koin kan?" Sasuke berbalik tengkurap.

"HAH?" Jantung si pinky rasanya berhenti.

"Tolong ya, Sakura."

Di-skakmat begitu tentu saja Sakura jadi susah menolak, apalagi dia duluan yang mulai menawarkan tadi. Grogi, dia mencari-cari koin di tas dan dompetnya. Rasanya memang banyak recehan hasil kembalian belanja yang dia simpan. Ah, ini ada satu yang cocok. Pinggirannya membulat, tidak akan terlalu sakit di kulit.

Lalu si gadis pun mencari minyak angin Itachi di lemari baju Sasuke, yang seperti dugaannya tertata rapi, mungkin lebih rapi daripada lemarinya sendiri. Tapi baju Sasuke monoton sekali ya, hanya ada warna hitam, abu-abu, putih, biru tua, dan jeans. Berbeda dengan bajunya yang punya semua warna pelangi. Nah, itu dia minyak anginnya!

"..aku cuma biasa mengerok punggung Ayahku yang kulitnya tebal, jadi maaf ya Sasuke-kun, kalau nanti kamu merasa terlalu sakit, bilang saja." Sakura mengambil posisi di tepi kasur Sasuke. Tangannya sedikit gemetar meneteskan minyak angin ke atas kulit punggung Sasuke yang putih mulus. Sakura ikut merasa mulas.

"Aa."

Goresan pertama rasanya terlalu keras, Sakura menyerngitkan mata. "Maaf, terlalu keras ya?"

"Nggak. Teruskan saja Sakura, kulitku tidak setipis itu."

"Oh, oke."

Pelan-pelan Sakura melukis punggung Sasuke dengan goresan-goresan koinnya yang menimbulkan garis-garis warna merah tua. "Merah sekali, Sasuke-kun. Pantas kamu sampai muntah." Tepat saat itu, Sakura bersendawa keras. "Maaf, tampaknya anginmu transfer ke aku, nih." Mukanya memerah, walau dia tahu Sasuke tidak bisa melihatnya.

Sasuke tertawa kecil. "Memang bisa ya?"

"Selalu begitu tiap kali aku mengerok Ayah. Malah kadang lebih keras lagi. Kata Ayah anginnya keluar lewat aku. Entahlah bagaimana penjelasan logisnya, aku juga nggak tahu."

"Hn. Tapi memang mualku pelan-pelan hilang."

"Ah, syukurlah!"

Jari Sakura sudah mencapai bagian pinggang si pemuda. Sasuke tiba-tiba tertawa. "STOP! STOP! GELI!"

Koin si jari Sakura berhenti seketika, dia lagi-lagi melongo. "Sasuke-kun bisa geli juga?!"

Sepasang mata hitam melihat ke arahnya, muka Sasuke memerah. "Aku kan manusia juga, Sakura." Kemudian dia bangkit pelan-pelan, dan duduk bersila memunggungi sahabat perempuannya. "Sepertinya sudah cukup, mualku sudah hilang sekarang."

"Ah, iya." Kemudian Sakura dengan suara ragu-ragu berkata, "..biasanya..hmm.. setelah selesai dikerok, Ayah memintaku memijat punggungnya sedikit." Jarinya memainkan koin," Apa.. Sasuke-kun.. mau juga?"

Sasuke tidak menjawab lama, dan si pinky merasa bodoh menawarkan. "Ah, tapi begitu saja juga tak apa-apa. Yang penting kan kamu sudah merasa baikan." Sakura sibuk menutup kembali botol minyak angin milik Itachi. Dia baru sadar ini merk mahal, pantas baunya enak sekali, tidak seperti bau nenek-nenek.

"..Sakura.." Sesaat Sasuke terdengar ragu, tapi kemudian dia kembali berbaring tengkurap.

"Karena kamu memaksa, yaaa.." terdengar nada menggoda di suara serak milik Sasuke.

Sakura mengambil bantal kemudian memukul kepala Sasuke. "Enak saja kamu bilang memaksa!" Bantal lain melayang, "Kamu memang semakin mirip sama si idiot Naruto, huh!"

Sasuke terbahak-bahak, tapi suara tawanya tenggelam terhalang bantal.

TRING!

Tepat saat itu ponsel Sakura berbunyi. Ah, tampaknya sarapan mereka telah tiba.

"Bubur dan obatnya datang, Sasuke-kun. Aku ambil dulu ke depan. Pakai bajumu ya!"

"Pijatnya belum, Sakura."

"A.." Sakura kehabisan kata-kata. Sasuke ini kok sakit malah jadi genit begini?

"Tapi kasihan kalau ojeknya menunggu. Ambil dulu sana, baru pijat aku."

Sakura berlari keluar kamar Sasuke dengan muka semerah tomat, sampai sang mbak penjaga kosan memasang muka kepo bin curiga. Hati-hati digerebek ya kalian!

Ketika Sakura masuk lagi sambil membawa bubur dan obat, Sasuke sudah memakai bajunya kembali dan turun dari tempat tidur. Entah Sakura harus merasa lega atau kecewa melihatnya.

"Kamu sudah nggak pusing? Ah, ini buburnya, ayo kita makan dulu."

"Sudah lebih enak." Sasuke mengambil gelas dan mengisinya dengan air galon. Kemudian dia mengambil dua buah mangkok dan sendok dari dapur mini-nya. "Taruh di sini saja".

Mereka kemudian terdiam menghabiskan bubur masing-masing.

"Perutku lapar ternyata." Sasuke dengan cepat mengosongkan mangkoknya, Sakura masih asyik menyuap sisa buburnya. "Makanya jangan lupa makan. Hari gini kan tinggal pesan saja dari ponsel. "

"Iya, sayang."

Sakura langsung tersedak buburnya. "Ughuk! Ughuk!" Sang pemuda dengan cepat mengambilkan air dan membantunya minum.

"Kenapa kau tersedak sih?"

Wajah Sakura sudah tidak karuan, dia hanya bisa melongo dan menunjuk-nunjuk Sasuke.

"KAMU BILANG APA BARUSAN?"

"Kenapa kau tersedak?"

"YANG SEBELUMNYA!"

"Ah. Itu." Sekarang gantian wajah Sasuke yang tersipu. Dia memalingkan muka sambil menggaruk-garuk leher belakangnya. "Cuma keceplosan. Kurang tidur." Kemudian dia menunduk sebentar, menutup mulutnya dengan tangan. Lalu Sasuke mengangkat wajahnya dan menatap mata hijau si gadis. "Apa kamu keberatan kupanggil begitu, Sakura?"

Jantung Sakura berdetak kencang sekali, "Maksudmu.. apa, Sasuke-kun?"

Sasuke diam lama sekali, walau tatapan mereka tetap saling mengunci.

Kemudian tangannya menggengam tangan Sakura. Mata hitam sang pemuda melembut.

"..selama ini, kau itu lebih dari sekedar teman bagiku." Dia menggaruk hidungnya. "Dan kukira.. Kau juga." Telinga Sasuke bahkan ikut memerah, dan bukan karena demamnya. "Apa aku salah, Sakura?"

Sepasang mata hijau yang cantik itu sudah basah oleh airmata.

"Oi, oi, kenapa nangis?" Sasuke panik.

"Sasuke-kun bodoooh!" Teriak Sakura, lalu kepalanya disandarkan di dada Sasuke. "Kenapa kamu nggak pernah bilang, hah? Memangnya aku dukun yang bisa baca pikiran kamu?" Kepalanya lalu diangkat, ditatapnya balik mata hitam Sasuke yang selama ini selalu bikin hatinya berdesir. "Selama ini aku pikir aku cuma bertepuk sebelah tangan saja, tau! Tanggung jawab, kembalikan malam-malamku yang habis untuk menggalau! Kembalikan air mataku yg jatuh mmmph!"

Bibirnya dibungkam oleh bibir Sasuke. Otak Sakura membeku saat itu juga.

"Jangan berisik, aku masih pusing." Kemudian sang gadis pun dipeluknya erat, Sasuke menaruh dagunya di atas kepala Sakura. "Nanti kuganti semua. Kita kencan tiap hari kalau kau mau." Kemudian dia mencium ubun-ubun penuh rambut pink itu, "Tapi tunggu aku pulih dan selesai tugas dari Kakashi ini ya."

Sakura tertawa kecil. "Ganti status di fesbukmu juga."

"Tentu."

"PP kembaran."

"...Sakura.."

"Baik, baik!"

Telepon Sakura kembali berbunyi. "Ino. Sebentar ya, Sasuke-kun", dia mengangkat teleponnya. "Ya? YA AMPUN! OKE, AKU SEGERA KE SANA! AMANKAN KURSI SEBELAHMU YA." Sakura menutup teleponnya. "Maaf Sasuke-kun, aku harus pergi dulu! Ternyata ada kuis dadakan! Memang ibu Anko ini suka bikin kejutan nggak enak. Cks!"

"Kamu naik apa?"

"Ojek online saja biar cepat. Sudah mau dimulai kata Ino." Sakura sibuk mengetik di ponselnya. "Ah, untung langsung dapat! Aku pergi ya!"

"Hati-hati. Nanti kujemput."

"Hah, tidak usah. Kamu istirahat saja."

"Kujemput. Kau kan masih hutang pijatan padaku."

Muka Sakura memerah. "Dasar mesum!" Lalu dia keluar dan menutup pintu kamar Sasuke dengan kencang. Samar-sama didengarnya sang kekasih tertawa. Kekasihnya. Sasuke sekarang resmi jadi kekasihnya!

Sakura senyum-senyum sepanjang jalan.

Akhirnya!


Terima kasih sudah membaca!