Disclaimer:

Saya tidak memiliki Date a Live ataupun Scarlet Spider, semuanya dimiliki oleh pemiliknya masing-masing.

Chapter 1: Gadis tanpa nama

Senin,10 April

Kemarin adalah hari terakhir libur musim semi, jadi hari ini sudah masuk sekolah. Sambil mengusap matanya yang masih mengantuk, Shidou berkata dengan suara yang direndah-rendahkan:

"Ahh, Kotori imoutoku yang lucu!

"Ohhh!" akhirnya dia menyadari kalau Shidou sudah bangun, namun tetap saja dia menginjak perutnya.

"Ada apa Onichan-ku yang lucu?"

"Grrr"! "pergilah dari atasku! kau itu berat tau!!"

Kotori mengganguk lalu lompat dari tempat tidur.

"Ukkh!" perut Shidou menerima hataman dari imoutonya tersebut.

"Masih jam segini sudah membangunkan..."

Saat menggerutu, ia tiba-tiba mengingat sesuatu.

Pikirannya yang setengah tertidur perlahan-lahan tersadarkan, muncul ingatan dari malam sebelumnya.

Kedua orangtuanya telah berangkat melakukan perjalanan untuk keperluan bisnis kemarin.

Karena itulah Shidou untuk sementara bertanggung jawab atas urusan dapur, maka dari itu Shidou, yang susah bangun tidur, meminta Kotori untuk membangunkannya.

"Ah..." Ia merasa bersalah, seakan sudah melakukan sesuatu yang jahat, ia terburu-buru bangkit dari tempat tidur.

Merapikan rambutnya yang acak-acakan dan menahan kantuk, Shidou dengan lesu berjalan keluar dari ruangan.

Ketika Shidou berjalan untuk mengambil telur dia melihat Kotori sedang menonton televisi. Di layar televisi terlihat jalanan yang hancur bukan main.

"Ahh...spacequake ya?" Shidou bertanya.

Spacequake Itu adalah istilah umum yang diberikan pada letusan, gempa, kelenyapan, dan hal lainnya yang terjadi tanpa alasan jelas pada waktu dan tempat yang tidak pasti.

Peristiwa pertamanya terjadi sekitar tiga puluh tahun lalu. Terjadi tepat di tengah-tengah Eurasia—daerah yang

memuat banyak negara seperti Uni Soviet, Cina, dan Mongolia lenyap hanya dalam satu malam.

Akan tetapi, 5 tahun yang lalu kejadian misterius tersebut kembali terjadi, namun manusia tidak hanya berdiam diri saja, selama 30 tahun mereka telah belajar dari pengalaman tersebut dan membentuk sebuah tim penanggulangan bencana dari Pasukan Bela Diri yang berlensensi.

Tujuan mereka adalah untuk mengunjungi wilayah yang terkena bencana, dan membangun fasilitas-fasilitas yang telah hancur, namun pekerjaan mereka dapat dijelaskan sebagai sihir. Pekerjaan mereka

dikategorikan sebagai Top secret karena mempebaiki bangunan maupun fasilitas dalam sekejap mata dan bersifat rahasia.

"Bukankan disekitar sini banyak terjadi spacequake ? apalagi tahun lalu,kan"?

"...kelihatannya begitu,huh. Mungkin terlalu cepat..."Kotori bergumam.

" Apanya telalu cepat?"

"Ummm", bukan apa-apa kok!"

"Eh! apa itu? Kata Shidou heran.

Terlihat di televisi menampikan sosok pria misterius, berkostum ketat warna merah, berhoddie biru dan berlambang laba-laba, sedang menolong para warga yang belum sempat menuju shelter.

"Kalian bisa memanggilku tetangga yang ramah 'Scarlet Spider! "Twiip" dia lalu mengeluarkan jaring dari pergelangan tangan lalu berayun pergi.

"Wow keren!!" kau melihatnya juga kan, Kotori?"

"Scarlet Spider, ya? umu! kelihatannya menarik" Kotori bergumam.

"Apanya yang menarik Kotori?"

"Ahh!" bukan apa-apa kok, onichan! Kata Kotori.

"Ngomong-ngomong Kotori, bagaimana kalau makan siang nanti diluar saja".

"Ohhh!,benarkah?"

"Ya, kalau begitu kita ketemuan di restoran keluarga setelah pulang sekolah".

"Jangan menarik kata-katamu! Janji! Kamu harus ada disana meskipun ada gempa bumi atau kebakaran atau terjadi spacequake.

"Iya-iya aku tau!"

Sekitar jam 8:15 pagi


"Kelas 2-4 huh?" kata Shidou.

Semenjak spacequake tiga puluh tahun lalu, daerah dari Selatan Tokyo sampai Prefektur Kanagawa—dengan kata lain, lahan kosong yang tercipta dari spacequake tersebut, telah dibangun ulang sebagai kota percobaan menggunakan berbagai metode baru.

Sekolah negeri di mana Shidou terdaftar, Raizen High School, adalah salah satu contohnya. Dilengkapi dengan fasilitas yang dapat dibanggakan, sulit dipercaya bahwa sekolah negeri ini baru saja dibangun beberapa tahun lalu, maka kondisinya sendiri masih hampir sempurna. Tentu saja, sebagai sekolah yang dibangun di daerah bekas bencana, sekolah ini dilengkapi dengan shelter bawah tanah tipe terbaru.

Karena alasan-alasan inilah maka jumlah pendaftarnya cukup tinggi, bagi Shidou, yang mendaftar hanya dengan alasan "dekat dengan rumah", ia perlu berusaha cukup keras.

Ketika Shidou menggerakan kepalanya untuk memeriksa bagan tempat duduk yang tergambar di papan tulis.

"-Itsuka Shidou"

Tiba-tiba terdengar suara monoton dari belakangnya.

"Huh..?"

Ia tidak mengenali suara tersebut, penasaran ia pun berbalik.

Seorang gadis ramping berdiri di sana, memiliki rambut pas sebahu serta wajah seperti boneka tanpa menunjukkan ekspresi apapun.

"...Eh, maksudmu aku..?"Shidou kebigungan.

"Ya" jawabnya datar.

"Ke, kenapa kau tau namaku?"

"Kamu tidak ingat?"

"Ti, tidak"

Mendengar jawaban dari Shidou, gadis itu pun kelihatan kecewa, lalu berjalan ke arah bangku dekat jendela.

"Sebenarnya apa yang terjadi...?" Keluh Shidou.

"Hey, kau kelihatannya cukup bersemangat, sexual beast Itsuka."

Teman Shidou, Tonomachi Hiroto, sebelum menunjukkan rasa senangnya karena berada di kelas yang sama, seakan

memamerkan rambutnya yang dicat dan tubuhnya yang berotot, melipat tangan dan sedikit menekukkan tubuhnya ke belakang sambil tertawa.

Sambil melilitkan lengannya ke sekitar leher Shidou dengan menyeringai, Tonomachi bertanya.

"Tobiichi...? Siapa itu?"

"Ayolah jangan pura-pura bodoh, kau baru saja ngobrol dengannya kan?".

"Dia hanya menanyakan namaku tadi" Balas Shidou.

"Ngomong-ngomong dia itu siapa sih...?"

"Hah!!, kau benar-benar tidak tahu?", dia Tobiichi Origami, si super jenius yang dibanggakan sekolah kita, kau tidak pernah mendengar itu?"

"Belum, baru kali ini aku mendengarnya tapi...apa dia sehebat itu?"

"Hebat saja tidak cukup, nilainya selalu berada di peringkat atas dan melesat ke peringkat atas se-nasional, kau tau!!!""

"Apaaa!!!" kenapa orang sepertinya di kelas kita?" Heran Shidou.

"Entahlah? mungkin kondisi keluarga.

Beberapa saat kemudian pintu kelas terbuka dengan suara berderak. Dari sana seorang wanita pendek dengan kacamata berbingkai tipis muncul dan berjalan ke

belakang meja guru.

Di sekeliling, murid-murid berbisik heboh.

"Ternyata Tama-chan..."

"Ah, Tama-chan."

"Yang benar? Yeahhh!"

—Singkatnya, semuanya membicarakan hal-hal yang baik.

"Baiklah, selamat pagi semuanya. Untuk satu tahun kedepannya, saya akan menjadi guru homeroom kalian, nama saya Okamine Tamae."

Guru IPS, Okamine Tamae—panggilannya Tama-chan,— berbicara lambat dan membungkuk hormat. Mungkin ukurannya kurang pas, kacamatanya sedikit tergelincir, dan dia buru-buru menahannya dengan kedua tangan.

Wajahnya yang kekanak-kanakan dan postur kecilnya yang bahkan tidak lolos untuk menempati generasi yang sama

dengan murid-muridnya, ditambah tingkahnya yang santai, telah meraih ketenaran yang luar biasa di kalangan murid.

Setelah itu, kurang lebih tiga jam telah berlalu.

"Itsuka~. Kau tidak punya kerjaan, kan? Mau cari makanan?"

"Baiklah" Jawab Shidou.

—Saat itulah.

UUUUUUUuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu

Jendela-jendela di kelas bergetar diiringi suara sirene yang terdengar sepanjang jalan.

"Oi oi ada apa ini?

Tonomachi membuka jendela dan melihat keluar. Sementara itu, murid-murid yang tinggal di ruangan kelas semuanya

menghentikan pembicaraan mereka dan menatap, dengan mata terbelalak. Mereka lalu berlari perlahan menuju shelter yang disediakan sekolah.

Shidou dan Tonomachi bergegas menuju shelter, namun ada 1 orang yang bergerak ke arah yang berlawanan.

"Tobiichi?"

"Hey! Apa yang kau lakukan! Shelter-nya ada di arah yang berlawanan"

"Tidak apa-apa."

Origami berhenti sejenak, lalu berlarii kembali.

Tiba-tiba Shidou mengingat sesuatu, lalu berusaha menghubungi adik-nya 'Itsuka Kotori'. Karena tidak ada balasan, dengan sumpah serapah ia pun menutup handphone-nya tanpa mengembalikan layar ke keadaan semula, dan keluar dari barisan murid.

"Woi! kau mau kemana, Itsuka?"

"Maaf kau duluan saja!"

Berlari sekencang yang ia bisa, Shidou berteriak keras.

Terlihat di pandangan Shidou sebuah pemandangan yang sangat menyeramkan. Jalan raya tanpa mobil yang bergerak, sebuah kota tanpa adanya tanda-tanda manusia.

Saat berlari, Shidou melirik ke atas. Ia pikir ia melihat sesuatu yang bergerak di ujung penglihatannya.

"Be..benda apa itu?"

Di langit terlihat sosok menyerupai manusia sedang melayang.

"Uwahhhh...!"

Shidou secara naluriah melindungi matanya. Jalanan di depannya tiba-tiba diselimuti cahaya menyilaukan, dan diikuti sebuah ledakan, dan jalanan yang ada di depannya hilang seketika membentuk sebuah kawah.

"A...apa yang sedang terjadi?" Ia kebingungan.

Beberapa detik kemudan Shidou baru menyadari ada yang ganjal di kawah tersebut, Di sana ada gadis yang memakai gaun aneh, yang kelihatannya sedang berdiri di singgasana dengan kakinya di atas sandaran lengan.

"Gadis, kenapa dia bisa ada disitu?"

Ia hanya dapat melihatnya samar-samar, tapi ia dapat memastikan rambut hitam panjangnya dan rok yang memancarkan sinar misterius. Ia sepertinya tidak salah

memastikannya sebagai seorang gadis.

Gadis tersebut melihat keadaan sekitar, lalu tiba-tiba berbalik menghadap Shidou.

"Un...?"

Dia menyadari keberadaan Shidou, lalu dia mengambil pegangan yang terlihat dari singgasana, dan menariknya perlahan-lahan, yang merupakan sebuah pedang besar dan mengeluarkan aura layaknya pelangi.

Gadis itu mengayunkan pedangnya, dan jejak jalur yang dilaluinya meninggalkan sedikit berkas cahaya.

Lalu-

"Eh...?"

Gadis itu menghadap Shidou, dan disertai suara gemuruh, mengayunkan pedang itu secara horizontal.

Ia instan merendahkan kepalanya. Tidak, lebih tepatnya, lengan Shidou, yang tadinya menopang tubuhnya, kehilangan kekuatan, dan sebagai hasilnya membuat

posisi bagian atas tubuhnya terjatuh.

"Ap-?"

Pedang tersebut melewati kepala Shidou tadi berada.

"...Haaah—"

Dengan mata terbuka lebar, Shidou membalikkan kepalanya ke belakang.

Bangunan, pepohonan di pinggirian jalan atau apa pun yang ada di belakang shidou rata seketika.

Sedetik kemudian, bergema suara kehancuran bagaikan gemuruh guntur dari jauh.

"Hiiii!!"

Hal tersebut membuat Shidou ketakutan setengah mati.

—Apa maksud semua ini? Ehh..? tiba-tiba sebuah pilar bangunan mulai roboh mengenai Shidou.

"Aaaaaaaaaa..!!!!!!!" Shidou hanya bisa berteriak pasrah terhadap apa yang akan menimpanya.

Namun pilar tersebut tiba-tiba berhenti, dan Shidou menyadari ada seseorang telah menolongnya. Sambil nafas terengah-engah dia mengenali sosok tersebut.

"S...Scarlet spider!!!!!!!" teriak Shidou.

Sosok itu pun melompat disamping Shidou.

"-Hup!"

"Hei bung! apa kau tidak apa-apa?" tanya Scarlet spider.

"Ya, terima kasih telah menolongku tuan" Balas Shidou.

"Ayolah-_- aku tidak setua itu!

"-Kalian juga...ya" tanya gadis tersebut.

"Hahhh...?" jawab Shidou dan Scarlet spider bersamaan.

Di depan matanya berdiri seorang gadis yang sampai sesaat yang lalu tidak ada di sana. Benar, gadis yang sama dengan yang berdiri di tengah- tengah kawah barusan.

Dia kira-kira seumur Shidou, atau mungkin sedikit lebih muda.

Dibalik rambut hitamnya yang mencapai lutut adalah wajah yang memiliki baik kecantikan dan wibawa.

Di tengahnya, sepasang mata yang memancarkan sinar misterius, hampir seperti kristal-kristal yang merefleksikan

berbagai sinar berwarna ke segala arah.

Dia berpakaian aneh sekali. Menyerupai bentuk seperti gaun seorang putri, terbuat dengan material yang tidak jelas apakah dari kain atau logam.

Tambah lagi, celah jahitan, bagian dalam, rok dan sebagainya, tersusun dari lapisan cahaya misterius yang tidak terlihat seperti materi fisik.

Dan di tangan itu, dia sedang memegang pedang besar yang panjangnya kira-kira menyamai tingginya sendiri.

Kejanggalan situasi tersebut.

Keanehan penampilannya.

Keunikan dari keberadaannya.

Gadis tersebut, sangat luar biasa... cantik.

"Si...siapa namamu?" tanya Shidou gugup.

"—Aku tidak punya hal semacam itu"

Dengan tatapan sedih gadis itu menjawab.

Saat itulah, mata Shidou dan sang gadis bertemu pertama kalinya.

Kemudian gadis tanpa nama dengan

kemurungan yang sangat, sambil membuat ekspresi yang seakan ingin menangis, menarik pedangnya lagi dengan suara 'kachiri'.

"Whoa!!, tunggu, tunggu, tahan pedangmu tersebut nona!! kata Scarlet spider.

Tapi gadis tersebut hanya melemparkan pandangan kebingungan pada mereka berdua.

"A-Apa yang kau ingin rencanakan...!?" tanya Shidou ketakutan.

"Tentu saja—membunuh kalian secepatnya."

Mendengar sang gadis menjawab dengan sangat datar, wajah Shidou membiru.

"Kenapa...!"

"Kenapa...? Bukannya sudah jelas?"

"—Lagipula, bukannya kalian datang untuk membunuhku juga?"

"Huh...?"

Diberikan jawaban yang tak diduganya, mulut Shidou terbuka lebar.

"... tidak mungkin aku akan melakukan it...?

"...Prutttt!, Gwahahahaha!!!, kau pikir bocah sma seperti dia yang ketakutan, ingin membunuhmu nona, hahahaha!!!.

"——Apa?"

Gadis itu menatap mereka berdua dengan campuran keterkejutan, kecurigaan, dan kebingungan.

Namun, sang gadis seketika itu menyipitkan mata dan berpaling dari mereka berdua.

Layaknya dipandu olehnya, Shidou dan Scarlet spider berbalik melihat ke atas-

Terlihat ada beberapa manusia yang

berpakaian aneh sedang terbang di langit—dan tambah lagi, dari senjata-senjata di tangan mereka, sejumlah besar sesuatu yang mirip misil diluncurkan ke arah Shido, Scarlet spider dan sang gadis.

"W-Waaaaaaaaaah!?" teriak Shidou

"Cih! sebenarnya apa yang terjadi!!" gerutu Scarlet spider.

Namun misil yang diluncurkan dari angkasa melayang tanpa bergerak di udara beberapa meter di atas gadis tersebut, seperti sedang dipegangi oleh tangan-tangan tak terlihat.

Gadis itu dengan jengkel menghela nafas.

"... hal seperti ini sia-sia saja, kenapa mereka tidak pernah bisa belajar."

"Wow keren, ternyata kau bisa menghentikan semua misil tersebut!" kata Scarlet spider terkagum melihatnya.

Seraya berkata, sang gadis mengangkat tangan yang tidak memegang pedang, dan mengepalkannya kuat-kuat.

Saat dirinya melakukan hal ini, misil yang tak terhitung jumlahnya remuk, seakan diremas dengan paksa, dan meledak di tempat mereka berada.

"Jangan bilang kau itu anaknya Magneto? maaf, cuma bercanda!" ucap Scarlet spider.

"—Hmpf"

Gadis itu mengeluh pelan lagi, memasang wajah yang seperti akan meneteskan air mata kapan saja.

Melihat ekspresi tersebut, Shidou merasa jantungnya berdebar bahkan lebih kuat daripada saat ia hampir kehilangan nyawanya tadi.

Siapa gadis itu, ia tidak tahu. Siapa orang-orang di langit itu, ia juga tidak tahu. Namun orang yang disampingnya ia hanya dapat mengetahui nama panggilannya saja, untuk sementara ini.

Lalu pada momen berikutnya, dari arah lain, sebuah sorotan cahaya laser dengan tenaga luar biasa ditembakkan ke arah sang gadis.

"...!"

Ia refleks menutupi matanya.

Ia merasa seperti sedang melihat lamunan yang buruk. Akan tetapi—setelah melihat sosok yang baru saja mendarat, tubuh Shidou menjadi kaku.

Sosok yang sedang memakai mesin, atau semacamnya.

Dari atas sampai bawah terlapisi body suit yang asing adalah seorang gadis.

Dia membawa mesin thruster besar di punggungnya, dan sebuah senjata dengan bentuk seperti tas golf di kedua

tangannya.

Alasan mengapa tubuh Shidou diam membeku adalah sederhana. Ia mengenali gadis itu.

"Tobiichi—Origami...?"

Gadis dengan penampilan mekanik yang terlalu berlebihan itu adalah teman sekelasnya, Tobiichi Origami.

Origami mendelik sekilas ke Shidou.

"Itsuka Shidou...?"

"Ehhh... kalian berdua saling kenal, ngomong-ngomong namamu Itsuka Shidou ya?". Ucap Scarlet spider

"Ya, kau bisa memanggilku 'Shidou'!"

"Baiklah, Shidou-kun, ngomong-ngomong temanmu itu berpakaian apa?"

"... Huh? ap-Apa-apaan pakaian itu—"

Akan tetapi, Tobiichi langsung memalingkan pandangan dari Shidou, menuju sang gadis bergaun.

"—Fmph"

Gadis tersebut mengayunkan pedangnya dengan cara yang sama seperti sebelumnya ke arah Origami.

Origami dengan cepat menyentak tanah, menghindari tempat dimana pedang tersebut diayunkan, dan mendekati

gadis itu dengan kecepatan menakjubkan.

Dari ujung depan senjata di tangan Origami, muncul sebuah pedang yang terbuat dari cahaya.

Sasarannya adalah sang gadis, Origami mengayunkannya dengan seluruh kekuatan.

"—Ugh"

Gadis tersebut mengernyitkan alisnya sedikit, lalu menghentikan serangan tersebut dengan pedang di tangannya.

—Pada saat itu.

"Twipp!!" Dua buah jaring menghentikan pergerakan pedang mereka berdua.

"Hei! apa kalian berdua pernah mendengar:

-'dengan kekuatan besar maka datang tanggung jawab besar', namun kalian tidak menerapkan hal tersebut, lihatlah sekeliling hancur lebur ka-" Scarlet spider tiba-tiba menghindar.

"Boom!!"

"Nn...meleset" ucap Origami datar.

"Woi! aku belum selesai bicara!!, baiklah kalau begitu "Crawler Assault'!!" teriak Scarlet spider diiringi pukulan dan tendangan secara beruntun ke Origami.

Namun serangan tersebut terhenti, karena gadis misterius tiba-tiba menghajar Scarlet spider dan membuatnya terlempar membentur dinding.

Lalu sang gadis dan Origami menyentak tanah di saat hampir bersamaan, berbentrokan tepat di depan Shidou.

"Gyaaaaaaah!"

Menghadapi tekanan angin yang terlalu kuat, Shidou tanpa ampun terlempar mengenai Scarlet spider, dan mengakibatkan keduanya pingsan.


"—Bagaimana situasinya?"

Mengenakan kemeja dan seragam militer berwarna merah membara yang tergantung di bahunya seperti jubah,

seorang gadis muda memasuki bridge dan menanyakan pertanyaan tersebut.

"Komandan"

Laki-laki yang sedang berdiri di samping kursi komandan memberi salam hormat yang sama sempurnanya dengan di buku kemiliteran.

"Jelaskan situasinya?" ucap sang komandan yang merupakan seorang gadis.

Lelaki tersebut segera berdiri tegak.

"Siap. Serangan dimulai segera setelah Spirit muncul."

"AST?"

"Begitulah kelihatannya."

AST, Anti Spirit Team. Mengenakan armor mekanik untuk memburu Spirit , menangkap Spirit , membinasakan Spirit; melebihi manusia, namun belum se- level dengan monster; mereka adalah penyihir

zaman modern.

Meskipun dengan tingkat kemampuan superhuman saja masih belum cukup untuk bertarung serius dengan Spirit.

Kekuatan Spirit ada pada tingkat yang berbeda.

"—Kami sudah memastikan 10 orang. Pada saat ini kami sedang mengawasi salah satunya, yang sedang bentrok dalam pertarungan."

"Perlihatkan tampilannya sekarang."

Terlihat pada jalan lebar sekitar dua blok dari pusat kota, dua gadis sedang bertarung sambil mengayunkan senjata-

senjata besar.

"Dia cukup handal. Tapi, yah, dengan Spirit sebagai lawannya dia mungkin tidak akan dapat berbuat apa-apa."

Sang komandan dengan santai bersandar ke punggung kursi, dan mengangkat tangan kecilnya dengan jari kedua dan jari ketiga terangkat lurus. Seperti meminta batang rokok.

"Kannazuki."

"Siap" Lelaki tersebut membalas.

Lelaki itu dengan sigap mencari di sakunya, dan mengambil sebuah lolipop kecil. Ia dengan cepat namun hati-hati melepas bungkusnya.

Lalu, ia berlutut disamping komandan, dan mengatakan "silahkan" saat menempatkan lolipop itu di antara jari-jari

komandan.

Sang komandan memasukkannya ke dalam mulutnya, dan batangnya mulai bergerak naik-turun.

"... ahh, kalau diingat-ingat ke mana 'senjata rahasia' kita?

Dia tidak terlihat dari tadi. Aku ingin tahu apa dia masuk ke shelter sebagaimana mestinya?"

"Coba saya lihat—dan, huh?"

Lelaki itu memiringkan kepalanya, kebingungan.

"Ada masalah apa?"

"Eh, itu!"

Sang lelaki menunjuk ke arah gambar. Komandan menggerakkan pandangannya ke sana—"ah", dia membuat suara pendek.

Di sisi pertarungan antara sang Spirit dan sang anggota AST, terbentang sosok lelaki berpakaian seragam sekolah dan seorang lagi berkostum merah serta hoddie biru.

"... Timing yang sempurna. Cepat pungut mereka".

"Dimengerti."

Lelaki itu menunduk hormat.

Bersambung

Mohon maaf, kalau fanficnya agak aneh typo, tidak nyambung ataupun berantakan, karena ini baru pertama kali saya membuat fanfic, sekian dan terima kasih.