.
.
Naruto© Masashi Kishimoto.
Story (c) Raawrrr.
Warning! AU! OOC, (maybe) Typo(s), etc.
Saya tidak mendapatkan keuntungan material apapun terkait pembuatan fiksi ini.
~ Happy Reading ~
.
Suara hak dari sepatu yang ia kenakan menggema di lorong rumah sakit. Sakura Haruno, dokter muda di rumah sakit yang dikelola oleh keluarganya menghentikan langkah ketika melihat sosok gadis kecil berdiri di hadapannya, seakan melarang Sakura untuk lewat.
Raut tak mengerti muncul pada wajahnya, hanya sesaat karena setelahnya ia tersenyum kecil dan membungkukkan badannya sedikit agar sejajar dengan gadis (berumur sekitar dua belas tahun?) yang menghalangi jalannya.
Tidak menggunakan pakaian pasien rumah sakit, namun memakai dress berwarna putih dengan sepatu berwarna pink yang ada hiasan bunga sakura di bagian depannya. Salah satu anak dari pasien rumah sakit, sepertinya? Oh, atau bisa jadi sedang membesuk kenalan.
"Ada apa, dik? Butuh sesuatu?"
"Bu dokter!" Suara riang gadis itu menggema, "punya pacar tidak?"
Sebelah alis Sakura terangkat naik. Kenapa tiba-tiba menanyakan hal seperti itu?
"Uh... ya, punya. Memangnya kenapa?"
Rentetan gigi putih terpampang. Gadis tersebut tersenyum lebar sembari menyodorkan sebuah botol minuman pada Sakura.
"Ini apa?" Tak langsung menerima, Sakura malah memandang lekat botol tersebut.
"Minuman!" Mengangkat botol yang disodorkan lebih tinggi sedikit, "minuman rahasia yang memiliki efek tak terduga!"
Tunggu, tunggu. Memangnya hal yang seperti itu ada? "Jangan bergurau, ah!"
Gadis itu menggeleng cepat, "aku tidak bergurau!"
"Tapi—"
"Ambil saja, dokter!"
Menyerah, akhirnya Sakura mengambil minuman yang disodorkan. Ia tak bisa terus menerus diam, masih ada pekerjaan yang harus ia kerjakan sebagai dokter. Ia menghela napas pelan sembari menutup mata sejenak untuk membuat dirinya rileks karena ya... bertemu dengan gadis asing yang memaksa agar ia menerima minuman mencurigakan cukup membuat ia was-was juga.
"Baiklah. Terima... kasih?"
Mengerjap pelan kala lawan bicaranya tadi sudah hilang dalam jarak pandangan. Kemana dia? Kapan dia pergi? Rasanya, Sakura hanya menutup mata barang sejenak, satu menit pun tidak sampai.
Sakura mencoba berpikir positif, mungkin gadis itu bersembunyi di suatu tempat makanya cepat hilang.
"Ah, sudahlah. Aku harus bergegas."
.
.
.
"Dekorin?"
Sakura, yang sedari awal duduk di sofa empuk sembari menatap siaran televisi akhirnya mengalihkan pandang kala panggilan khusus untuknya terdengar.
"Ino-butachan? Kenapa kau ada di sini?"
Gadis yang dipanggil Ino memutar bola matanya, "memangnya aneh jika aku ada di rumahku sendiri?"
Sakura meringis kecil. "Bukan begitu, maksudku, kau tidak ada jadwal pemotretan? Kau 'kan model yang sangaaaaaat sibuk."
Namikaze Ino namanya, salah satu model perempuan terkenal di Jepang. Memiliki rambut pirang pucat panjang dengan poni yang menutupi mata kanannya. Memiliki manik aquamarine yang memukau, pun bentuk tubuh yang ideal untuk para gadis. Barbie-look-a-like lah, ya. Sahabat Sakura sejak masa Sekolah Dasar.
"Memangnya aku sesibuk itu?"
"Ya. Sangking sibuknya, kita jadi susah untuk menghabiskan waktu bersama seperti dulu."
Sebuah senyum jahil muncul pada wajah Ino. Ia berjalan mendekat dan mencolek pipi Sakura. "Lihat siapa yang rindu padaku~"
"Geez, apa yang kau lakukan, Ino-buta!" Ditepis tangan Ino yang dengan seenak jidat mencolek pipinya, "aku tidak rindu padamu, shoo, shoo!"
Ino terkikik geli dan berhenti menggoda Sakura dengan mencolek pipi sang gadis berambut merah muda itu. Lantas, ia pun mengambil spot kosong tepat di sebelah Sakura.
"Mau kencan sama Naru-nii?" tiba-tiba saja Ino bertanya.
"Iya. Habisnya sudah hampir seminggu tidak bertemu. Jadinya mau melepas rindu gitu~ Ah, senang deh bisa kencan!" Sakura menyikut pinggang Ino, mengejek secara tak langsung. Soalnya, yang ia tahu Ino tidak bertatap muka secara langsung dengan kekasihnya hampir sebulan, hanya berinteraksi lewat pesan dan sesekali video call jika memang ada waktu luang. Sama-sama sibuk, sih.
"Berisik, Dekorin!" dengus Ino sebal dan tanpa sengaja matanya menatap sebuah botol minuman di dalam tas Sakura yang terbuka. "Eh, itu minuman?"
"Yang ma— oh, itu?" Menunjuk botol minuman dalam tasnya, "iya itu minuman."
"Kebetulan! Aku sedang haus dan malas ke dapur." Tanpa permisi, ia mengambil botol minum milik Sakura.
"Eh tunggu! Itu belum tentu minuman yang aman dikonsumsi!"
Terlambat, isi dari botol tersebut sudah Ino minum.
BRUK—!
Plop.
Botol minuman itu terlepas dari genggaman Ino, membuat isinya yang belum habis membasahi sofa.
Asap tiba-tiba muncul disekeliling tubuh Ino sesaat.
Mata Sakura membola ketika asap itu hilang.
.
.
.
"Sakura-chan~ Ayo pergi kencan!" Naruto, yang baru saja turun dari lantai dua berjalan menghampiri sang kekasih. Ia tadi bersiap-siap dulu (mandi, ganti baju, menatap kaca dan memuji ketampanannya sendiri) di kamar, Sakura datang saat ia sedang bersantai soalnya.
"N-naruto..." Sakura menelan ludahnya. Bagaimana reaksi Naruto jika tahu keadaan adiknya—Ino— sekarang ini?
"Ada a—"
"Papa!"
Pertanyaan Naruto terhenti ketika suara cempreng khas anak kecil terdengar. Tunggu, tunggu. Sejak kapan di rumahnya ada anak kecil? Seingatnya, ia hanya berdua dengan Ino di rumah sebelum Sakura datang. Pun, Sakura tadi datang sendirian, tidak membawa anak kecil.
"... Dia siapa?" Naruto bertanya, ketika ia sudah bisa melihat sosok yang tadi menyerukan kata 'Papa'. Bocah berambut pirang sebahu, dengan baju kemeja ungu lengan pendek yang kebesaran di tubuh mungilnya. Eh, itu baju yang Ino pakai tadi, 'kan?
"Ini... Ino. Adikmu."
"HEEEEEEEEEE—?!" Suara teriak nyaring menggema, membuat bocah (yang katanya adalah) Ino sedikit kaget karena teriakan itu muncul tiba-tiba.
"M-ma-mana mungkin dia Ino!" Naruto menunjuk sang bocah pirang, "Ino 'kan seumuran denganmu, Sakura-chan! Aku tidak percaya! Apakah ini... anak haram Ino?"
PLETAK!
Sebuah pukulan menghampiri kepala Naruto. Sakura—sang pelaku pemukulan— menatap Naruto dengan kesal. "Kau ini kenapa malah berpikiran buruk tentang adikmu!"
"Habisnya aku tidak percaya dia Ino!?"
Ino, yang sedari tadi mengamati percakapan antara Naruto dan Sakura akhirnya bergerak mendekati Sakura yang duduk di sebelahnya. Tangan mungilnya mencengkeram erat baju bagian depan yang Sakura kenakan, kepalanya mendongak dan terlihat jelas kedua matanya kini berkaca-kaca.
"Kaa-chan... Papa benci padaku?" Ino dalam versi mini hendak menangis.
Sakura berkeringat dingin.
Naruto mengacak rambut pirangnya.
Kaa-chan? Papa?
Nampaknya, Sakura dan Naruto berubah status menjadi orangtua mendadak.
.
TBC
.
A/N:
Iya, ini masih pemanasan jadi pendek. /alibi
Kira-kira Ino enaknya dibikin umur berapa, ya?
Ah, sudahi dulu saja, deh. Sampai jumpa di chapter depan!
So, umh, review perhaps?
V
