"Tuan Putri mau belajar menggunakan pedang?"
Pemuda berjubah hitam menatap gadis yang tinggi badannya tak lebih dari bahunya khawatir. Ia tahu persis bahwa Tuan Putri tak terlalu suka dengan benda tajam. Latihan pedang? Oh, yang benar saja. Ia sangat tahu karakter Tuan Putri, melihat darah setitik saja sudah teriak setengah mati. Masih membekas dalam ingatannya ketika gadis dengan iris safir ini berumur 10 tahun. Ketika itu Tuan Putri tengah bermain di taman bunga mawar miliknya di istana Lotus, tak sengaja ujung jari kelingkingnya tertusuk duri mawar saat ia asyik memetik mawar. Dan sudah bisa kau bayangkan bagaimana kerasnya jeritan yang ia buat.
"Hah! Apa salahnya perempuan belajar pedang, Gempa? Ini bela diri. Kondisi kerajaan mulai tak kondusif. Aku hanya berusaha melindungi diriku sendiri."
Pemuda yang dipanggil Gempa terkesiap. Ini seperti bukan sifat gadis ini. Gempa berjalan duluan lalu berdiri tepat di depan sang gadis. Mengamati dari atas sampai bawah. "Tuan Putri? Apa Tuan Putri sakit?"
Tuan Putri memutar matanya malas, "Aku, Lunaria Ying de Lytha, baik-baik saja, Gempa."
.
Revenge
sebuah fanfic dari nattfrei
.
Lunaria Ying de Lytha. Keturunan satu-satunya Raja dari Kerajaan Lytha. Kerajaan besar yang terletak di Benua Scaline, rakyatnya hidup makmur dan mandiri. Cinta rakyat untuk pemimpinnya bahkan lebih besar dari keluarganya sendiri. Itu semua berkat sifat otoriter sang Raja, siapapun yang menentang Raja akan langsung dibinasakan. Terlihat seperti kerajaan yang tak berperikemanusiaan tapi rakyatnya hidup dengan makmur. Sekilas memang aneh.
"Tuan Putri Ying, benarkah apa yang dikatakan Tuan Gempa? Tuan Putri ingin belajar pedang?"
"Benar, Sica. Aku akan jadi ahli pedang perempuan."
Sica, pelayan pribadi Ying refleks menghentikan gerakan menyisir rambut Ying. Reaksi Sica sama seperti Gempa. Tidak percaya dengan apa yang Tuan Putri katakan. Ini bukanlah hal normal yang biasa diminta Tuan Putri Ying, pikir Sica.
Ying dikenal sebagai Putri yang tak ingin terlihat mengenakan apapun yang biasa dikenakan lelaki. Ying selalu ingin terlihat girly. Gaun yang cantik, riasan rambut yang imut adalah dua hal yang krusial bagi Tuan Putri yang satu ini. Setiap hari ia meminta pada Sica untuk merias rambutnya yang berwarna hitam panjang dengan gaya baru. Pernah sekali Ying melihat para ksatria membawa pedang di pinggangnya, Ying langsung mundur menjauh. Setelah itu Raja memerintahkan agar semua ksatria menaruh pedangnya di sisi yang tak akan terlihat oleh Tuan Putri. Seluruh insan di penjuru istana jadi tahu bahwa sang Putri anti dengan benda tajam.
"Sica, apa kau pikir aku tak mampu jadi ahli pedang?"
Sica mengerjapkan matanya. Dengan cepat ia menata kalimat, "Tidak Tuan Putri. Anda pastinya mampu menjadi apapun yang Anda mau. Hanya saja..."
Ying yang semula berkaca menoleh ke arah Sica yang tengah menunduk sembari meremas sisir, "Hanya saja?"
Sinar bulan menyorot ke jendela kamar tidur Tuan Putri. Mereka berdua diam sampai Sica akhirnya membuka mulut, "Hamba mohon maaf jika ini lancang. Hanya saja, ini tidak seperti Tuan Putri. Apa Tuan Putri mencemaskan sesuatu sehingga mengharuskan Anda belajar menggunakan pedang?"
Ying menghela napas, ia mengerti bahwa semua orang khawatir dengan dirinya. Iris safirnya menatap lurus ke depan, Ying memainkan jarinya di meja rias. Alasan Ying ingin belajar pedang adalah karena ia bermimpi selama seminggu penuh tentang pemberontakan yang terjadi di Kerajaan Lytha. Di dalam mimpi ia melihat sang Raja mati tak berdaya di tangan lelaki bermata rubi menyala. Mimpinya terasa amat nyata. Ying merasa itu adalah sebuah ramalan masa depan. Semenjak itu Ying merasa kalut, ketika minum teh dengan sang Raja pun Ying begitu cemas akan keselamatan Ayahnya. Sesekali sang Raja bertanya mengapa raut wajah Ying tak ceria seperti biasanya namun tentu Ying tak bisa membeberkan apa alasan di balik itu.
Belajar pedang adalah salah satu rencana Ying agar bisa melindungi semua orang di istana termasuk dirinya sendiri. Ying berusaha mengubah takdir yang telah ditetapkan Dewa. Diam-diam Ying mencari berita mengenai keluarga-keluarga bangsawan yang dekat dengan Yang Mulia Raja melalui mata-mata. Apakah ada gerakan mencurigakan? Keluarga mana yang bermuka dua? Dan yang paling penting... apakah di antara mereka ada pemuda dengan mata rubi? Ying harus menemukan dan membunuh pemuda bermata rubi itu. Tapi masalahnya adalah Ying tak bisa melihat jelas raut wajah si pemuda. Hanya mata rubi yang menjadi petunjuk Ying selama ini.
Ying tak pernah minat dengan urusan politik Kerajaan. Itu adalah hal terbodoh yang sang Putri lakukan. Pantulan cermin memperlihatkan Ying tengah tersenyum kecut. Jika saja sebelum umur 12 ia sudah belajar tentang politik maka pasti ia sudah hapal dengan nama dan wajah tiap keluarga bangsawan yang dekat dengan Ayahnya. Semua hal sudah Putri pelajari semenjak kecil, hanya satu yaitu politik yang belum ia masuki selama kini.
"Tak ada apa-apa, Sica. Aku hanya tertarik belajar hal yang baru dan melindungi orang yang aku sayangi. Termasuk kau dan pelayan lainnya."
"Tuan Putri..."
Hening mendera kamar tidur ruang Putri. Atmosfer yang tadinya berat bagi Sica kini perlahan mengendur, suasana seperti biasanya. Sica kembali menyisir rambut Ying dengan perlahan. Rambut Tuan Putri begitu halus, Sica tak bisa membayangkan jika Tuan Putri kehilangan rambutnya bahkan jika itu hanya sehelai saat berlatih pedang. Sesayang itu... sesayang itu Sica pada Tuan Putri ini.
"Sica, aku mengantuk."
"Baik, Tuan Putri."
Sica menaruh sisir di meja rias. Membereskan sedikit kasur milik Ying, membungkus tubuh mungil Tuan Putri dengan selimut sebelum ia meninggalkannya seorang diri. Sebelum keluar, Sica meniup lilin yang diletakkan di sebelah pintu, "Selamat tidur, Tuan Putri."
.
"Bisa kita mulai, Gempa?"
"A-apa Anda yakin Tuan Putri?"
"Jika kau tak bisa mengajarkanku maka aku akan cari ksatria lain yang mampu."
"Tidak Tuan Putri. Hamba... akan mengajarkan Anda."
Ying berkonsentrasi, pedang yang ia genggam ternyata cukup berat. Namun Ying harus bisa menggunakannya. Berat pedang ini tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan beratnya melihat sang Ayah tergolek tak berdaya di mimpinya. Ying memantapkan hati, menggenggam erat pedang tajam penuh arti walau masih belum bisa mengangkatnya.
"Pertama, pasanglah kuda-kuda."
Ying mengangguk, ia berusaha memasang kuda-kuda dengan baik. Gempa yang melihat kuda-kuda Tuan Putri masih agak kaku pun berusaha membetulkannya, "Maaf jika saya tak sopan. Tapi bisakah Tuan Putri agak condongkan badan Anda ke depan dan cobalah mengangkat pedangnya."
Pedang tajam itu dicoba diangkat. Ying terlihat kesusahan mengangkatnya, Gempa yang melihat hal itu berusaha membantunya dengan tangannya.
"Jangan kau bantu."
Semua orang di sana menoleh ke arah gerbang masuk. Sosok pemuda tinggi dengan rambut raven berjalan mendekat ke arah Ying dan Gempa. Jubah yang senada dengan warna rambutnya sedikit berkibar terkena angin. Sampai di depan mereka berdua, pemuda itu langsung mengambil pedang yang digenggam Ying dengan cepat.
"Ketua Fang! Anda terlalu kasar." Gempa sedikit berteriak ketika melihat tangan Tuan Putri tertarik akibat Fang.
"Ksatria Gempa, jika Tuan Putri ingin menjalani latihan ala ksatria, maka beliau perlu merasakan kerasnya latihan ini. Jangan biarkan rasa ibamu mengotori esensi dari latihan keras yang sudah leluhur kita ajarkan." Pemuda bernama Fang itu menatap tajam Gempa.
Ying sedikit menunduk. Fang adalah ketua dari pasukan utama Kerajaan. Maka sudah pasti ia akan tegas dengan siapapun yang ingin belajat menggunakan senjata. Tak pandang bulu, inilah yang Tuan Putri inginkan.
"Ketua Fang, aku mohon latihlah aku."
Gempa terkejut, "Tuan Putri, Anda tak perlu memoho-"
"Segala kehormatan bagiku, Tuan Putri Ying."
Ying tersenyum, "Terima kasih."
.
.
.
Halo semua. Aku kembali dengan fanfic baru yang semoga tetap berjalan hingga tamat seiring berjalannya waktu hahaha. Semoga kalian enjoy dengan fanfic ini.
Terima kasih!
