Len facepalm.
"Geser sana."
"Hm?"
Bukannya geser, Rin malah nambah nempel.
"Dibilangin geser."
"Hmmm…" Sekarang nggak ada lagi ruang di antara mereka.
Perempatan imajiner muncul di jidat kembar termuda. "Gue udah lama heran, lo itu punya masalah pendengaran atau gimana."
"Nggak kok, telinga gue baik-baik aja."
"Terus kenapa lo nggak geser-geser?"
"Ya kan gue udah geser."
"Maksud gue geser menjauh, bukan mendekat, Bego!"
"Oh. Bilang dong daritadi," jawab si gadis, nggak terlalu peduli sebenarnya.
Rin memang nyebelin. Bukan hal aneh lagi, udah jadi rahasia umum malah. Len kadang ingin menjambak rambutnya sampai botak.
Eh, enggak deng.
Sibling Universe
Drabbles. RinLen!Siblings.
VOCALOID © Yamaha Corp. & Crypton Future Media, Inc.
FIRST. PSP
Aneh.
Banget.
Len yakin kemarin habis main pulang sekolah, dia simpan di lemari. Tapi sekarang udah nggak ada.
Kepala digaruk-garuk dengan ekspresi bingung. Ke mana ya perginya?
Tau, ah.
Meskipun otak udah mencoba melupakan, namun hatinya tetap enggak bisa. Gimana kalo dimaling? Itu kan mahal! Pikirnya, sedikit parno.
Jadi untuk meringankan beban hati, dia turun ke dapur dengan tujuan mulia cari makan. Kulkas pun diobrak-abrik.
Apel. Jeruk. Anggur. Es krim. Jeruk. Jeruk. Es krim. Jeruk. Es krim. Susu. Jer– eh buset, banyak banget jeruk dan es krim.
Lalu penjelajahan dilakukan secara lebih intens, hingga akhirnya sesisir pisang terdeteksi dalam jangkauan radar matanya. Len menghela napas lega. Setidaknya pisangnya tidak ikut raib.
Setelah kulit dilepas, isi pun dikunyah. Matanya melirik sekotak jus jeruk di sudut kulkas. Len teringat kakak kembarnya. Kemudian kotak tersebut diraih dan tungkainya bergerak meninggalkan dapur.
"Rin?" panggilnya begitu menyadari keadaan rumah yang senyap. Nggak mungkin Rin ikut ngilang juga kan?
Kepala Len celingak-celinguk ke kiri dan ke kanan, mendapati pintu kamar Rin yang terbuka. Dan dia berjalan mendekat.
"Hei, Rin –"
Ohhh…
Niat Len baik, cuma mau ngasih sekotak jus jeruk pada Rin lalu pergi. Tapi apa yang ia dapat?
"Hei, Len!" Rin bahkan nggak mengalihkan pandangannya, masih berkutat dengan benda yang berada dalam genggamannya. Jempolnya dengan lihai menari di atas tombol-tombol. Di atas tombol-tombol PSP milik Len. PSP yang sejak tadi dia cari-cari sampai jungkir balik di kamar yang udah jadi seperti kapal pecah.
"Rin?" Suaranya kecil, hampir sayup-sayup.
"Yaaa?"
"Itu PSP gue."
"Terus?"
"Balikin."
"No."
Alis Rin menukik tajam. Fokus maksimal mengalahkan musuh dalam game.
"Lo tau nggak gue udah kaya orang gila nyari itu sampai ngira udah dimaling? Plis, balikin."
Len sebenarnya pengen pasrah. Cuma hanya tinggal satu stage lagi sampai dia mencapai bos level. Dan dia harus namatin itu hari ini. Hari ini juga!
"Lo nggak liat gue lagi make? Ntar lagi deh, habis gue ngelarin yang ini."
"'Ntar lagi' itu berapa lama lagi, Rin? Balikin dong."
Rin jadi kesel. Len mulai merengek. Dan Len yang merengek itu mirip bayi. Dan Rin nggak pernah kuat ngehadapin bayi. Dan Len yang merengek seperti bayi itu sama dengan bencana alam.
"Pelit banget sih. Lo tetiba pengen main karena ngeliat gue lagi mainin ini? Serius, picik banget."
Len berdecak. Kesel juga dituduh yang enggak-enggak. Kalo Rin mikirnya gitu, yaudah sekalian basah aja.
"Ya lo mau apa? Itu kan punya gue. Suka-suka gue dong."
"Ih berisik banget. Nah loh gue hampir mati. Hush, hush, sana lo pergi!"
Len melotot. Dia diusir? Tanpa sadar kotak jus teremas. Len melirik ke bawah, kemudian sebuah ide terlintas di benaknya. Dia menyeringai. Hehe.
Slurp.
Hm?
Rin menaikkan sebelah alisnya. Kenapa ada suara mencurigakan seperti itu? Begitu menoleh ke arah adik kembar tersayangnya, Rin ingin ngais aspal.
Len berdiri menyandarkan sebagian bobot tubuhnya di bingkai pintu, sambil menyeruput sekotak jus jeruk terakhir milik Rin minggu ini. Alisnya naik turun seperti anak autis. Senyumnya aneh khas penderita struk stadium akut.
"Aa – aaa..."
Mulut Rin mangap-mangap seperti ikan kehabisan oksigen. Antara ingin memaki dan menangis. Tega banget!
Rin loncat dari tempat tidur. Datang mendekati Len (yang udah tremoran) dengan kecepatan melebihi kecepatan kilat. Wajahnya merah menahan amarah.
"LO!" Ada jeda yang membuat Len menelan ludah, takut sebenarnya liat Rin marah begini. "Cuma karena PSP BODO lo ini, lo tega ngabisin jus jeruk TERAKHIR gue minggu ini?! JAHAT BANGET LO SUMPAH!" Sambil memaki, telunjuk Rin juga terangkat menusuk-nusuk dada Len. Si korban kekerasan ingin meringis, tapi ditahan.
"Gue udah minta baik-baik, tapi lo-nya nggak ngedengerin," dia coba bela diri. Duh mampus gue ngomong apaan coba?!
"Sialan! Kalo lo butuh banget benda ini, NIH AMBIL!" Rin melempar PSP tersebut tepat di kepala Len sebelum pergi keluar kamar. Pintu di belakangnya dibanting keras.
"AWW!" Len menjerit pilu. "NGGAK PERLU MUKUL GUE JUGA KALI!" Sebelah tangannya mengusap-usap bekas memerah di sudut dahinya, sementara sebelahnya lagi memegang PSP yang dia khawatirkan (semoga tidak) penyok. "TERUS BANTING AJA PINTUNYA SAMPAI HANCUR SEKALIAN!"
Kembar laki-laki mencibir, dan kemudian berjalan hendak mengambil tempat senyamannya di tempat tidur. Lupa kalo itu kamar Rin dan bukan kamarnya. Tapi bodo amat lah!
PSP dinyalakan, namun senyum sumringah di bibir luntur begitu menyadari sebuah keganjilan.
"RIN LO NGE-SAVE GAME LO DI SLOT GUE, BR*NGS*K!"
