13:00
Deringan kaku mengaung teratur, persis di sebelah futon bergulung tebal. Selimut mulai disingkap, mempersembahkan lelaki tampan bin proporsional terduduk dalam perawangan belaka. Sinar mentari tidak menghalanginya mengencangkan selembar kain kasa di leher dan tangan.
Suara di kamar makin tidak karuan ketika ada suara lain berganti; sebuah ringtone bernada tinggi, singkat dan berulang. Satu tangan meraih, membuka dan menekan tombol merah serta menjatuhkan kembali. Ia bangkit dan melepas celana tidur, dan menyengir singkat mengingat ukiran nama di panggilan yang diputus barusan.
"Mereka pasti akan baik-baik saja." Ekspresi masih tidak lepas dari seringaian serba susah dibaca, menyambi ganti lembar pakaian.
Satu sorot sepasang mata cokelat menangkap arah sumber suara lain lagi. Ketukan berulang di pintu. "Masuklah. Tidak dikunci."
Dengan gesit menarik baju dan mengancingkan hingga rapi, ia melangkah menyambut seorang gadis menawan dengan pakaian sailor. Menukar satu-dua kalimat dalam bisikan, sang gadis lantas duduk dan menaruh tas sekolah persis di seberang futon, "Kalau begitu, kutunggu, Dazai-san."
Dazai menyengir tipis kala merapikan barang penting di jaket—handphone dan dompet—dan melambai singkat ke gadis, "Tunggu sebentar ya, Nona Tomie. Kita akan bertemu di rendezvous."
.
.
Human Instrumentality Project presents
The Static Speaks my Desire
CATATAN : MENGANDUNG PESAN MORAL AGAK NEGATIF. Pembaca yang sedang dalam kesedihan atau depresi disarankan tidak membaca.
Penulis tidak meraup keuntungan apapun dari series ini.
Kesalahan dalam penulisan maupun gaya menulis sepenuhnya milik penulis.
.
.
Pintu Agensi Detektif Bersenjata dibuka seenak udel, menampilkan Dazai di depan kantornya. Ia mencelingak-celinguk, hanya ada beberapa saja yang duduk rapi. Langkah kaki disusuri, melewati satu lelaki dengan vest dan celana sewarna.
Sekonyong satu tangan ditarik hingga Dazai kehilangan keseimbangan, disusul timpaan pantat pada lawan bicaranya bak kilat, "Brengsek! Kau tidak menjawab teleponku barusan, bangsat! Ini genting, apa yang kau lakukan!?"
"Haeh?" Dazai berlagak bodoh, "Kan, kalian sudah lebih dari cukup, ha ha—."
"Tidak dalam mataku!"
Tangan ampas barusan langsung diputar sadis, membuat si korban mengerang setengah ketawa setengah kesakitan. Baru saja buku hijau dengan tulisan 'Ideal' dipamerkan, Dazai sudah menjerit tidak karuan, "Wah, waaah! Kau betulan bakalan membunuhku!?"
"Kalau kau bertingkah lebih dari ini."
"Maaf deh!" Dazai langsung melepas tangan dan mendorong jauh-jauh pelaku, ibarat ular licin. "Tapi aku ada jadwal ngedate—."
"Mau bundir lagi?" Satu alis bergetar sebal. Tangan sudah dikepalkan, berencana memukul kalau-kalau sudah tidak waras.
Dazai gantian menyandarkan kedua tangan di muka, seakan terpesona dengannya, "Kunikida-kun, kau hebat! Apakah kau bisa membaca pikiranku seperti ini? Tidak, tidak, cara bunuh diri yang cakep—."
Apes, tangan sudah melayang dan memukul habis Dazai. Ups, rupanya target meleset hanya sepuluh senti di sebelah Kunikida. Ditambah sebuah buku merah membentengi satu sisi wajah Dazai dari serangannya.
Ia bangkit sepenuhnya, plus mengantungi buku dibalik jaket cokelatnya, "Maaf, Kunikida-kun. Aku serius punya jadwal date~ Kapan-kapan aku traktir kau deh!"
Kunikida terduduk memijat pelipis kala rekan sekerjanya justru melesat menghilang. Ia menutup kembali laci meja Dazai, dan mendekat ke ruang tamu. Di sana, Kunikida duduk dan melonggarkan dasi selagi pemandangan luar kantor masih benderang dan berisik. Suatu kenormalan yang damai.
"Dazai bego."
Hanya itu yang bisa dikatakan untuk menumpas impuls membunuhnya.
Kunikida kini merasa gelisah seharian, memikirkan sesuatu yang... mungkin asing di sekitarnya...
(owo)
Tanggal XX
Aku sudah mencoba jenis obat siklopropan. Apa daya, aku tiba-tiba tidak ingin lagi. Aku cuma mau mati bersama perempuan... Ya, barangkali cocok untuk diriku. Perempuan masih menolak bersamaku. Kurasa masih lama lagi.
Jemari lantas membalik lembar kertas, dibarengi siulan pelan.
Tanggal XY
Apakah ini mimpi? Ada beberapa perempuan yang cukup menjanjikan. Aku takkan mengulur waktu lagi~
Bejubelan lembar langsung berdempet dalam baluran kover merah ketika si pembaca sudah berhenti di depan toko Daiso.
"Silakan, silakan!" Ada seorang salesgirl mondar-mandir menawarkan pamflet dan tisu di pinggir trotoar di dekatnya, "Kami dari Chuchu Maid Cafe melayani pemijatan, kafe, dan maid service! Hari ini diskon 10 persen seluruh pelayanan!"
Rok serba pendek tersibak cantik, menebar godaan.
Sungguh fanservice berbahaya.
"Tapi aku harus buru-buru~" Lah, sang pembaca justru menyengir tipis.
Dazai langsung melangkah cepat ke bagian aksesori di toko tadi, menemukan segulung pita merah cantik dalam plastik. Tanpa keraguan, langsung menyambangi kasir yang sepi dan melempar pelan pita pilihannya.
Gaung ringtone kembali menyala di dekat, lantas diperiksa kembali saat gemericing recehan sudah mendarat di wadah.
Memainkan barang pesanan barusan, ia menelepon singkat, "Hei, Nona."
Handphone diapit saat kedua tangan membuka plastik barang, "Jangan khawatir, Nona Tomie. Sebentar lagi hari akan selesai, dan kita bisa pergi bersama. Oh ya, demi cinta kita, aku barusan beli pita merah."
Mata sayu melirik selipan di balik jaket. Buku merah yang belum lama dibaca tadi, dan menggangguk tipis, "Ya, benar. Tunggu sebentar."
Ia menepi di trotoar, lalu melilitkan pita pada satu tangan. Sepucuk kartu remi ditekuk dan digosok tajam pada pita, memutuskan gulungan tadi. Ia membuang kartu remi di tong terdekat selagi menyambung pembicaraan, "Sudah selesai. Tinggal kamu, Nona."
Gedung demi gedung dilewati, menyusuri ke perempatan tidak jauh dari toko Daiso.
"Hei..."
Terdiam sejenak.
"Bagaimana kalau kita makan malam terakhir? Eh, ini masih siang ya... Apa mau dipercepat?"
Mencelingak ke sekeliling, menemukan restoran murah. Ia menghampiri dan mengecek menu di depan, dan pergi kabur dilepas pekerja restoran yang melambaikan papan jalan berikut sejumlah kertas terduga bon.
Memagut dagu, "Susah menemukan yang mau menerimaku, buuu! Beli di combini? Oke."
Langkah kaki membelok ke combini persis di seberang penyebrangan. Tanpa tedeng aling-aling, belok ke rak makanan cepat saji. Menyambar dua porsi katsudon dingin, lalu mengantri ke kasir.
Tangan sudah menenteng kantung plastik yang menghangat, "Sudah dapat katsudon. Tidak apa-apa, dapat juga dari uang kehidupanku. Hmmm... No Longer Human, ya."
Berdiri di belakang lampu merah, bibirnya menarik seringaian.
"Ya, itu aku. Dazai. Ya, kau tidak salah dengar."
Indikator lampu hijau mengaung, dan Dazai mulai berjalan, "Apa, ya. Aku merasa ingin menutup kisah hidup dibumbui cinta pahit. Indah bukan?"
Riuh ramai orang masih menemani perjalanan pria nyentrik ini.
"Oh, kau sudah pergi? Baiknya."
Di sebelahnya, ada sepasang kawula bergandengan. Kala pandangan saling berjua, mereka memberi kedipan kilat, lalu menari tanpa karuan hingga menghilang ditiup angin. Dazai menyengir, bersiul sepanjang hari pelarian ke mimpinya.
.
.
For the first time in my life I realized what a horrible,
miserable, salvationless hell it is to be without money.
.
.
Langit kini menggelap gurita, memancarkan silauan redup di tepi jembatan dan sungai. Satu dari beberapa manusia di sana menepi persis di sebelah pria berperban.
Buku merah diapit diantara jemari satu tangan ketika korek api disodorkan, mengalihkan atensi pria ke seorang gadis sailor. "Hey, Nona Tomie. Sudah selesai dengan persiapan di kosanku?"
"Sudah. Apakah itu... No Longer Human?"
"Meleset."
Tomie bersandar pada tepi jembatan, "Kamu mah, Dazai-san..."
"Kecemburuanmu masih indah, Nona Tomie." Dazai menyambar korek api dan menyakukan. "Mau membaca?"
"Tidak, makasih. Aku rasa sudah tahu isi buku itu."
Dazai terdiam. Tomie lalu mengambil katsudon dari kantung plastik di antara mereka, dan mencabut chopstick kayu, "Untuk orang sepertimu, aku kira buku itu kurang lebih membahas frustrasi dan pasrah dalam menerima ketidakbergunaan di dunia."
Segulung pita merah disodorkan ke Tomie yang masih sibuk mengunyah makanan, disambut multitasking hebat—satu tangan kukuh mengambil katsudon dan lainnya mengikatkan pita tersebut.
"Dazai-san."
"Ya?"
"Apakah kau hidup tanpa sesuatu yang berharga?"
Satu tarikan senyum mengiringi pertanyaan Tomie. Korek api dimainkan dalam kedua tangan, lalu dinyalakan membakar buku merah tadi. Dazai mengedikkan bahu, "Kalau membahas dari seluruh aspek yang kupunya, ya."
Tomie membuang kotak katsudon di tong sampah terdekat saat Dazai melompat duduk di pagar jembatan. Sisa pita lantas diikatkan diantara mereka berdua, sebelum keheningan menginterupsinya.
Sang gadis melompat duduk tepat di paha Dazai, memeluknya.
"Siap?"
"Ya, Dazai-san. Tunggu."
Tomie menciumi pipi Dazai, lalu mendorong terjatuh bersama.
Detik berikut, apa yang Dazai lihat bukanlah keabu-abuan dalam kehidupan. Kuasa air menghembas pandangan mata dan menginjak dada, di saat kedua tangan mengunci Tomie bersama. Kekacauan di kepala terjadi selama terjerumus di dalam air...
... hingga satu klip terakhir terekam sebelum semuanya gelap.
.
.
La fin.
The End.
Author's Note:
Maafkan tata menulis Penulis yang masih berupaya setengah mati memberikan kesan gelap di sini.
Duh, Dazai... Meski penulis masih belum sepenuhnya tenggelam dalam Bungou Stray Dogs, Dazai ini memang... sesuatu sekali. Oh ya, pembaca setia Bungou Stray Dogs pasti dong mengenal siapa Tomie ini?
Penulis sengaja menulis ini karena ingin mencoba memberikan imajinasi dari point of view sebuah permainan bernama The Static Speaks My Name. Permainan ini memang sangat menggoda, dijamin Dazai sudah bakal ngiler haha. Tapi Dazai yang di Bungou Stray Dogs... mah... sudah pasti belok pilih cewek terus bunuh diri bersama. Memang dah itu Dazai. Ck.
Oh iya, ini fanfiksi perdana di Bungou Stray Dogs. Senang berkenalan dengan pembaca sekalian!
