Disclaimer: J.K Rowling

Pair: Salazar x Godric

Warning: DBH!AU, AR, Android!Godric, slash, bxb, slight gxg, boys love, alur cepat, slow-up, misstypos, etc

Read and REVIEW please~! DLDR

=o^o=

.

Salazar Slytherin memandangi jejeran robot menyerupai manusia di depannya tak minat, dia sama sekali tidak ingin memiliki Android sekalipun di rumahnya tapi sahabatnya memaksa Salazar untuk membeli satu saja Android yang bisa membantu pekerjaan rumah tangga Salazar. Kedua sahabat wanitanya, Rowena Ravenclaw dan Helga Hufflepuff, mengasihani Salazar, rumah pria itu sangat berantakan dan selalu mereka berdua yang membereskannya. Salazar jarang membersihkan rumahnya yang luas karena dia selalu bekerja dan bekerja, dan sedikit malas juga.

Dan di sini lah Salazar sekarang, menatap cermat belasan Android yang telah disiapkan khusus dari Rowena yang memang memiliki perusahaan sendiri memperjual Android buatannya. Salazar curiga Rowena juga ingin uangnya melayang karena membeli salah satu Android buatan wanita itu. Tapi tak bisa disangkal kalau Rowena mempunyai otak yang sangat cerdas dan pintar, tidak mengherankan jikalau perusahaan Rowena terkenal.

"Jadi, bagaimana?" Helga yang menemaninya dan Rowena bertanya penasaran.

Dia membuang napas, "Sungguh guys, aku tak memerlukannya."

"Pilih saja," perintah Rowena tak sabar, mengetukkan ujung high-heels miliknya yang tak terlalu tinggi berulang kali, merasa gemas dengan kekeras kepalaan Salazar yang menolak keberadaan Android di rumahnya.

Salazar ingin memprotes, dia telah membuka mulut tapi mingkem lagi melihat Rowena memandangnya galak. Dia kembali menatap Android yang berdiri bersampingan satu sama lain, membentuk satu barisan panjang. Ada banyak macam Android di hadapannya, tapi sama sekali tak ada yang membuatnya tertarik. "Kau tak memiliki model yang lebih bagus atau bagaimana? Jelek semua," Salazar bertanya, tapi mengejek, meski ejekannya tadi sesuai pemikirannya pada robot-robot itu.

"What the freak, Salazar," balas Rowena kesal, perempatan imajiner tercipta di keningnya, "itu adalah model-model terbaik dari yang lain."

"Hm? Benarkah? Perasaan wajah mereka hampir pasaran," Salazar memandang malas salah satu Android wanita bersurai pirang kotor, sama sekali tidak ada yang bisa menarik perhatiannya.

Helga kali ini berkacak pinggang, dia putus asa dengan sifat temannya itu. "Lebih baik kau tidak menatap fisik mereka, pikirkan fungsinya," timpal Helga mulai ikut tak sabar, "ini juga demi kebaikanmu, kan? Kami tak mau lagi membersihkan rumahmu dengan senang hati tanpa bayaran sedikitpun."

"Well, kalian 'kan sahabat yang baik." Salazar mati-matian tidak memutar matanya bosan melihat Rowena berakting terkejut mendengar perkataannya, sangat tidak natural dan terkesan menghina. "Lagipula, memang tak ada yang bagus," gumamnya.

"Fungsinya, Sal, fungsinya! Pikirkan fungsi mereka," ujar Helga sebal, melipat tangan depan dada sedikit frustasi.

"Baiklah aku akan memberikannya gratis padamu asalkan kau mau memakai satu saja Android di rumahmu yang seperti kapal pecah di hutan belantara," tukas Rowena benar-benar kesal, mengetukkan ujung heelsnya lebih cepat.

"Gratis ataupun tidak aku tak berminat," tanggap Salazar kecil, menyentuh kulit elastis salah satu robot–terasa seperti kulit manusia asli, tapi agak licin.

Mondar-mandir tak jelas depan kelima belas Android yang disediakan Rowena sembari bolak-balik memandangi semua Android dengan teliti, Salazar mengeluh dalam hati, dia tak mau sembarang memilih, dia hanya ingin ada Android–satu saja–yang berhasil membuat hatinya berminat. Sampai kemudian, iris hijau pucat Salazar menangkap sebuah Android, yang bukan termasuk jajaran barisan tadi, Android yang nampak terabaikan di sebelah ruangan mereka. Dia tak sengaja melihatnya lewat kaca besar yang menghubungkan dua ruangan yang berbeda, berada di antara banyaknya robot lain, yang paling pojok.

Salazar menghampiri kaca yang juga memisahkan raungan mereka tadi, ingin melihat lebih jelas Android tadi. Dia menemukannya, Salazar menemukan Android yang mungkin cocok dengannya.

"Hey, Ro," panggil Salazar setelah sibuk berdiam diri, "aku mau yang itu."

"Yang mana?" Ro mengangkat sebelah alis heran, senang karena Salazar telah memutuskan tapi lalu terkejut melihat arah tunjukan Salazar. "Sal, itu tempat Android yang akan dibuang, tak pantas pula, kenapa kau menginginkannya kalau ada yang lebih bagus dari itu?"

"Kau sendiri yang menyuruhku memilih," balas Salazar masih tak memalingkan pandangannya.

"Ya tapi 'kan–"

"Kau bisa memperbaikinya."

Rowena bertukar tatapan dengan Helga, Helga hanya mengangkat bahu dan menyuruhnya menuruti permintaan pria tersebut. Rowena mengangguk, berjalan ke dalam ruangan itu diikuti Salazar dan Helga. Pintu otomatis terbuka saat mereka akan melangkah masuk, langsung dikelilingi banyaknya Android rusak yang harusnya dibuang ke Junkyard, tapi tidak.

"Kau ingin yang mana?" tanya Rowena lagi, Salazar tak menjawab, hanya berjalan ke arah Android yang seolah terasingkan dari banyaknya Android rusak.

Salazar memandang Android yang terduduk di sudut, beberapa komponennya tidak ada seperti tiga jarinya, salah satu tempat yang harusnya memiliki bola mata menghilang, cuma ada lubang hitam menampilkan beberapa kabel yang menjulur keluar, kakinya nampak patah–tertekuk ke arah yang tak lazim hingga menyebabkan robot itu yang harusnya berdiri seperti robot lain malah duduk di lantai berdebu. Sangat menyedihkan dilihat, percikan listrik kecil terjadi berulang kali di lengan kanan yang lecet parah, menampilkan mesin di dalamnya, kulit di wajahnya juga mengelupas dan mulai kusam.

Tapi Android itu masih hidup.

Salazar berjongkok, membuat sang Android tadi mendongakkan kepala sedikit, bunyi tak mengenakkan terdengar ketika lehernya bergerak, mata robot beriris merahnya menatap Salazar kosong. "Ini," jawab Salazar pelan, mengelus surai merah kecoklatan Android itu, "yang ini."

"Huh?" Helga terlihat bingung, "bukankah itu model G-997 yang telah Rowena jual tapi dapat kekerasan dari pemiliknya, bukan? Pemiliknya mengembalikan G-997 setelah rusak begitu, kejam, mengatakan dia tak butuh lagi dia semenjak memiliki yang baru. Android yang malang," ujar Helga ikut berjongkok, memandang kasihan Android di depannya yang kini beralih ke arahnya, sebelum beralih lagi ke Salazar yang tetap mengusap surai Android tersebut.

Rowena mengangguk, "Oke," ujarnya singkat, "aku akan memperbaikinya."

=o^o=

Rowena bekerja cepat memperbaiki android yang Salazar minta, bahkan wanita itu menepati janjinya memberikan robot tersebut pada Salazar secara cuma-cuma walau tenaganya habis memperbaiki kerusakan parah android G-997. Berlangsung empat hari setelah Salazar memilih android, Rowena datang bersama Helga dengan seseorang yang pertamanya tak Salazar kenal, tapi kemudian pria itu menyadari bahwa orang tersebut adalah android yang dia pilih tempo hari.

Wajahnya jauh lebih bersih—sangat bersih malah, dulu tertutup debu tebal dan kotoran-kotoran yang menempel, komponen-komponen yang hilang dari bagian mesinnya telah diperbarui lagi, tidak ada lecet apapun di kulit elastis sang Android. Dan, rautnya jauh lebih bersahabat, bukan larut dalam hampa lagi. Juga, apa ini hanya perasaan Salazar saja, atau android itu memang memiliki raut manis yang tak selayaknya dimiliki android lelaki? Apa Rowena iseng lagi mendandani android itu?

"Nah," ujar Rowena, senang akan hasil kerjanya ketika mereka duduk di sofa ruang tamu Salazar, sementara android tersebut berdiri di samping sang Ravenclaw. "Bagaimana? Bagus bukan, ciptaanku?" lanjutnya sedikit sombong, Salazar memutar mata malas sedangkan Helga terkekeh kecil.

"Lumayan," jawab Salazar, mengangkat bahu tak peduli meski iris hijau pucatnya meneliti sang robot dari atas sampai bawah, "model G-997, 'kan?"

Rowena mengangguk antusias, "Benar! Aku telah upgrade lebih tinggi sistemnya dari android lain yang aku buat dengan tanganku sendiri. Dia adalah mesin terpintar dari yang lain, aku menambahkan beberapa fitur juga padanya, dan menanamkan kapasitas baterai yang sangat besar hingga kau tak perlu khawatir dia mendadak tak berfungsi. Semua jaringannya telah aku tingkatkan, meski dia hanya robot rumah tangga, tapi pemikirannya jauh dari bersih-bersih rumah saja. Kau harus bangga karena hanya kau satu-satunya orang yang memiliki android seperti itu dari perusahaanku, Salazar," jelas Rowena menepuk bahu robot itu.

"Maksudmu, dia tak seperti android kebanyakan?" tanya Salazar sembari menaikkan sebelah alis, sedikit tertarik.

"Ya," kali ini Helga yang menjawabnya, "aku sedikit membantu Rowena, dan fitur yang dia miliki dengan android lain begitu berbeda. Kemajuan android masih belum terlalu sempurna, pemerintah mengharapkan robot yang sangat mirip dengan manusia, tapi masih tidak ada yang sesempurna layaknya manusia, masih berupa mesin hidup saja walau secara penampilan telah seratus persen mirip. Tapi dia," Helga mengerling pada android itu, "dia adalah yang pertama, yang tak memiliki kekurangan sama sekali—baiklah ada. Tapi hanya satu dan itu pun tidak terlalu penting, kekurangan yang dimiliki semua android; dia tak punya perasaan."

"Tapi," timpal Rowena nampak serius, memandang Salazar tajam, "pemerintah tidak tahu mengenai ini, lebih tepatnya yaitu belum. Lambat laun pasti akan terungkap karena aku yakin mereka bakal curiga mengapa aku tidak membuat android lagi walau harus bercampur tangan dengan para karyawan, atau dengan tanganku sendiri. Aku sudah menduga bahwa jika aku menciptakan sendiri, hasilnya akan luar biasa, tapi juga mengerikan. Android ini benar-benar mirip dengan kita, Sal."

Salazar sangat tertarik sekarang, dapat diprediksikan baginya bahwa kinerja Rowena baik otak maupun perbuatan bukanlah hal yang main-main. "Salah satunya apa?"

"Suaranya," balas Helga tersenyum, "android lain masih bersuara mesin yang kaku, tapi suaranya sangatlah luwes dan seperti manusia, dia bisa tertawa, tersenyum, atau sedih—tapi diingat lagi, dia tak memiliki perasaan." Helga berhenti sebentar guna meminum teh suguhan Salazar, "Ada sepupu jauhku yang senang hati mengisi vokalnya saja, hanya huruf vokal. Tapi lainnya, memang karena kemampuan android itu setelah diperbaiki Rowena," ujar Helga menambahkan, lalu berkata lembut ke arah sang robot hanya bergeming mendengar percakapan ketiga orang itu, "berilah salam pada pemilik barumu."

Sang android mengangguk nurut, "Selamat sore, Mr Slytherin."

Salazar berjengit mendengar sapaan sopan android itu, terdengar mirip sekali dengan yang asli—suara manusia. "Sore," Salazar membalas sapaan itu.

"Saya adalah android ruamh tangga dengan model G-997, siap melayani anda," lanjut android itu kemudian tersenyum lebar, senyuman yang hangat dan cerah.

Ini melebihi ekspetasi, pikir Salazar kagum.

Rowena tersenyum—sangat—puas menyadari binar takjub samar Salazar, "Kau mau memberinya nama? Kurasa dia pantas memiliki nama yang langsung diberikan olehmu, Sal," tawar Rowena.

"Nama?"

"Yes! Dia harus memiliki nama, Salazar," ujar Helga bersemangat, "dia sangat berharga, dan dia sepatutnya mempunyai nama panggilan—tidak mungkin kau memanggilnya dengan nama modelnya, 'kan?"

Slytherin itu mengangguk kecil tanda paham dan mulai mulai menimbang-nimbang nama mana yang akan diberikan, "G-997, G-997, G—Ga, Giu—tidak, Gu—Go? Go—hm, Go, Go—Ric? Ric, Goric, Go—dric, Godric!" Salazar menahan seruan girangnya menemukan nama yang cocok, "Godric, namamu adalah Godric," lanjut Salazar menuju android itu, mengelus surai merah sang android seperti saat pertama kali mereka bertemu, lebih halus lagi elusan Salazar dengan senyuman tipis di wajah rupawannya.

Robot tersebut terdiam sebentar, sinar LED di keningnya berpendar kuning sesaat, sebelum akhirnya kembali menjadi biru dengan senyum lebar nan riangnya. "Baik, Mr Slytherin!"

Dan Godric hanya tertawa menyadari wajah pemiliknya merona tipis.

.

.

To Be Continued