The Promised Neverland © Kaiu Shirai. Ilustrasi © Posuka Demizu. Penulis tidak mengambil keuntungan finansial apapun dari karya transformatif ini

The Death of The Fireflies © aria-cheros (arianadez dan psycheros)

[Prolog]

.

.

Barangkali, tanpa sadar, mereka terperosok ke lubang kelinci ajaib dan mendarat di dunia peri.

Langit begitu pekat tanpa bintang, tapi padang rumput kecil di tepi sungai itu jauh dari gulita. Ribuan bola cahaya mengambang rendah di udara, berpendar hijau kekuningan, nyala-redup bersamaan seolah mengikuti irama napas kelinci tidur. Norman berlarian, berloncatan, mengulurkan tangan, berusaha menjangkau bola-bola sihir itu, tapi mereka selalu terbang ringan menjauhinya seperti kapas tertiup angin.

"Norman, lihat."

Norman menoleh. Berdiri dengan kedua tangan tertangkup di depan dada adalah Ayshe, sahabat karibnya, kawan berbagi nasibnya, gadis kecil dengan separuh wajah tersembunyi di balik kepang tebal keperakan. Batang sungai berkilauan di belakang punggungnya, menyanyikan ricik malam bersama derik jangkrik.

"Kau berhasil menangkapnya?" Norman terengah, berlari mendekati Ayshe. Desah helai-helai rumput teki di bawah kakinya begitu lembut, suara salju meleleh perlahan di bawah matahari musim semi.

Norman menjajari Ayshe, puncak kepala gadis kecil itu hanya mencapai telinganya, dan mereka membungkuk bersama-sama, mengintip dengan berdebar-debar ke dalam cangkang yang terbentuk dari jari jemari pucat Ayshe.

"Wow …."

Seekor serangga mungil merambat kebingungan melintasi buku-buku jari Ayshe. Bentuknya mirip kumbang bubuk kayu, dengan kepala bulat kecil berwarna jingga dan tubuh lonjong ramping serupa perisai yang melindungi sayap-sayap tipis transparan. Bagian ekor kumbang itu berkelip-kelip seakan sedang mengirim kode S.O.S krpada ribuan kawanannya. Seorang aviator yang tertangkap oleh musuh.

Norman terkikik. "Dia seperti membawa lentera morse di pantatnya!"

Ayshe mendengkus, tapi Norman melihat sudut bibirnya tertarik naik dalam senyum kecil. Perut Norman menggeliat geli. Ayshe tidak mudah terhibur, jadi Norman sangat menghayati setiap momen di mana ia berhasil membuat sahabatnya itu tersenyum.

"Nama hewan ini kunang-kunang. Papa bilang, mereka membuat cahaya ini dari reaksi kimia antara oksigen dan zat luciferin. Seperti ilmuwan yang menggunakan tubuh mereka sendiri sebagai laboratorium."

Ayshe selalu tahu hal-hal aneh tentang dunia flora dan fauna. Papanya seorang ahli Biologi, punya laboratorium besar dengan stoples-stoples berisi hewan diawetkan dalam larutan formalin. Norman mengagumi mereka berdua dan ingin menjadi sepintar Ayshe.

"Wow," Norman berbisik terkesima, menggoda si kunang-kunang dengan menyentil lembut perutnya. Serangga itu terbang rendah seperti terlonjak, sesaat tampak ingin melayang pergi untuk bergabung kembali dengan teman-temannya, tapi kemudian berubah pikiran lalu mendarat lagi di ujung jemari Ayshe.

"Sepertinya dia menyukaimu," Norman nyengir kecil, menyikut bahu Ayshe. Gadis kecil itu memutar bola mata, tapi senyumnya tidak luntur.

"Kau mau memeliharanya?" Ayshe justru menawarkan, menempelkan sisi telapak tangannya ke telapak tangan Norman sehingga kunang-kunang itu berpindah tempat. Norman terkikik merasakan kaki-kaki panjang kurus kumbang itu menggelitik permukaan kulitnya.

"Mmm, tapi aku tidak tahu banyak tentang kunang-kunang. Apa Ayshe mau membantuku?"

"Kau tidak bisa memelihara kunang-kunang?"

Norman cemberut, pipinya sedikit bersemu. "Bukannya tidak bisa, tapi aku belum pernah mencoba!"

Ditambah lagi, entah kenapa Norman selalu gagal memelihara hewan piaraan. Tak peduli betapa pun ia berusaha; ikan koki, kepiting hermit, bahkan ulat yang ia ambil dari halaman untuk belajar proses metamorfosis pun selalu mati tanpa sebab. Mungkin Norman memang tidak berbakat.

Kali ini gantian Ayshe yang terkikik. Ia menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangan, matanya menyipit sampai tinggal segaris.

"Ayshe!"

"Ups, maaf," Ujar gadis kecil itu, walau sama sekali tidak terdengar menyesal. Ia masih tersenyum geli, bola matanya berkilauan. "Baiklah. Ayo kita rawat dia bersama-sama."

"Benar? Sungguh?" Norman menawarkan jari kelingking, "Janji jari kelingking?"

Kunang-kunang nyala-redup bersamaan, hijau kekuningan. Air sungai gemericik, menyusup di antara bebatuan. Angin hangat musim panas berhembus lembut, mengusik helai-helai rumput, mengeringkan keringat di tengkuk.

Ayshe menyambut kelingking Norman, menautkan keduanya seperti sepasang rantai. Sebuah kesepakatan yang harus ditepati. "Tentu. Janji."

Barangkali mereka terpelosok ke lubang kelinci dan kini terjebak di dunia peri. Tapi tidak masalah, sebab ada Ayshe bersama Norman di sini.

.

.

{tbc}