Sequel of Proved me Wrong
-Sempiternal-
By: Koyuki17
Boboiboy © Monsta Studio
Bentangan mayapada masihlah berpautan dengan mereka yang sintas. Saksi dari entitas bernama dan bertutur, yang telah mendekap pamungkas kisahnya. Jiwa-jiwa yang semula meragu, memandang sederet klise dimana tak ada yang berubah dari semesta mungil mereka. Jemari yang gatal dan menguar kembali koyak dalam sukma.
Interval waktu membiaskan sedikit demi sedikit bait-bait elegi itu. Memagari mereka dalam realitas yang menunggu setiap kali kirana surya membuyarkan hening malam. Hingga mereka mencoba untuk tak lagi membilang apa yang hilang.
.
.
.
-Bagian 1-
Imaji
Hampir tak ada lagi tenaga yang tersisa dari pria itu, hingga manik safir miliknya meredup karena kombinasi lelah dan kantuk. Di petak ruangan yang tak seberapa luas, tersisa bekas-bekas pertempuran sang komikus baru: carik kertas, pena,botol-botol tinta, hingga kaleng-kaleng kosong kopi dan bungkus makanan cepat saji. Taufan menatap langit-langit kelabu dari sofa berlapis kulit yang menjadi tempat punggung pegalnya bersandar. Benak Taufan mencerna baik-baik kesehariannya kini, yang setiap minggu harus dikejar deadline.
Bunyi bel cempreng (yang tak pernah sempat diperbaiki) membuat Taufan melongok pada pintu kayu berwarna legam dari sofa tempatnya mengaso. Siapa pula yang berkunjung selarut ini, begitulah pikir pria itu. Tubuh letihnya beringsut perlahan dan beranjak menuju sumber suara yang mengusik istirahatnya. Tak disangka, sosok akrab saudaranya pun tersibak dari balik pintu.
"Lama amat sih kau, Taufan." Sepasang iris rubi milik itu memandang Taufan, lalu mengedarkan pandangannya pada apartemen Taufan yang sudah serupa dengan kapal pecah.
Lima detik mata Taufan terbelalak, pikirannya macet di tengah jalan. Setelah menyentuh kedua bahu Halilintar yang terbungkus jaket berwarna hitam dan merah, Taufan menyadari yang berdiri di hadapannya bukanlah ilusi dari pikiran lelahnya.
"Kak Haliiii!" seruan Taufan seperti biasa menusuk gendang telinga Halilintar. Ia bergelayut di pinggang Halilintar.
Napas panjang pun dihela Halilintar. "Kau pasti kerja sampai kelaparan lagi kan?"
Halilintar menyodorkan tiga buah kotak bekal yang menjadi oleh-olehnya hari ini. Setelah berada dalam neraka berupa pengumpulan naskah komiknya, mendadak mata Taufan berbinar. Layaknya orang yang menjumpai oase di tengah gurun gersang. Bahagia ketika letih itu sederhana saja memang.
"Makanaaaaan~" bagi orang yang berhari-hari melahap makanan-makanan olahan dari supermarket, Taufan nyaris lupa diri saking riangnya.
"Setidaknya bereskan dulu mejanya," Halilintar melirik meja yang terkubur dalam kekacauan.
Butuh waktu sekitar lima menit hingga sampah-sampah yang berserakan itu dijejalkan ke dalam tong sampah. Halilintar ikut membantu Taufan, walau diselingi omelan-omelan tentang bagaimana membuat kamar ini lebih layak dihuni. Sejak Taufan memutuskan untuk tinggal sendiri, Halilintar menjadi sedikit cerewet padanya.
Meja di depan sofa kini disulap menjadi meja makan, dimana kedua saudara itu mulai memuaskan rasa lapar mereka. Nasi yang masih hangat pun dijejali oleh beberapa lauk dan tumisan sayur.
"Rasanya jadi teringat masakan tuan muda kita…" celoteh Taufan sambil mengambil suapan besar dari nasi dan lauk pauknya.
"Ini memang masakannya kok," celetuk Halilintar enteng. Mulutnya kembali sibuk mengunyah.
"Yang benar?! Kalau tahu begitu, kenapa tak sekalian saja ikut makan malam di sini…" Taufan pun menopang dagu.
"Asrama tak akan mengizinkannya keluar jam segini bukan? Sudahlah makan saja." Halilintar tak memperpanjang lagi percakapan di jam makan mereka.
Karena ia maupun Halilintar tak memiliki bakat dalam memasak, Fang mengambil inisiatif untuk belajar mengelola dapur. Walaupun penuh dengan perjuangan panjang tentunya. Bagaimana makanan-makanan yang kelihatannya tak bisa dimakan itu perlahan menjadi masakan rumahan pada umumnya.
-PmW S-
"Rasanya baru kemarin ya," ujar Taufan tiba-tiba. Dua cangkir kopi kini berada di atas meja selepas makan malam tandas tanpa sisa.
Mulai lagi…
Halilintar menggulirkan bola matanya, Dia bisa menebak apa yang akan diujarkan Taufan berikutnya. Bagaimana sosoknya yang selalu terlihat ceria itu selalu berubah dalam sekejap ketika topik ini mengemuka diantara keduanya. Ya, hanya ketika mereka duduk berhadapan seperti saat ini.
"Waktu kita masih sering-sering kembali ke rumah. Melongok apa dua anak laki-laki itu terus akur. Lalu kita khawatir apa mereka makan teratur, berangkat ke sekolah..."
"Baru lima tahun…" setelah berujar demikian, Halilintar pun memandangi gelas kopi yang masih mengepul panas dengan tatapan nanar.
Benak kedua saudara itu lebur dalam keheningan.
"Kak Hali…"
"Hnn…"
"Apa… semua itu hanya mimpi saja ya?" Taufan pun terhenyak pada sandaran sofa, pandangan matanya tertuju pada nyala lampu putih di langit-langit.
Frgamen-fragmen itu kembali menyelimuti benak Taufan. Mereka yang akrab mengunjunginya kala senggang, seolah menggenapi sunyi yang tak pernah Taufan suka. Penggalan kala ia memangku bayi mungil yang menjadi adik kesayangan mereka. Kala Taufan mengajak Boboiboy cilik bermain di taman dan melihatnya akrab dengan beberapa teman baru. Kala anak itu beranjak dewasa dan selalu menjadi kebanggan mereka. Kala Taufan mengetahui bahwa sampai akhir pun, Boboiboy bahagia bisa bersama mereka semua.
Semakin lama, penggalan itu semakin bias adanya. Hinggalah Taufan mulai beranggapan bahwa semua itu bukanlah apa yang dulu ia alami. Bahwa semua itu adalah bunga tidurnya semata.
"Taufan," sebuah panggilan itu merebut semua atensi Taufan hingga ia duduk tegak kembali. Membuyarkan benaknya yang terlalu jauh berkelana barusan.
"Kau cuma lelah." Ujar Halilintar, tangan besar miliknya menepuk keras punggung Taufan. "Bicaramu mulai melantur, tidur sana."
"Lelah…haha. Betul juga…" Taufan mengucek matanya yang tiba-tiba perih. Entah karena terlalu lama terjaga beberapa malam. Mungkin juga karena percakapan barusan.
"Semuanya bukan mimpi," tambah Halilintar, suaranya begitu lugas. "Jelas sekali bukan mimpi."
"Iya, iya. Aku gaakan bicara seperti itu lagi."
Halilintar berdeham dan memecah canggung yang masih tersisa di antara mereka berdua.
"Soal rumah atok…" topik baru dilontarkan oleh Halilintar, membuat sang adik meliriknya kembali. "Aku berencana pindah ke sana lusa."
"Baguslah, rumah itu tidak akan kosong lagi." Tersenyum tipis, Taufan pun memainkan sendok di meja dan membuatnya berputar seperti jarum kompas. "Lusa aku akan mampir kalau begitu."
Halilintar pun mengangguk sembari menyeruput kopinya. Secarik kertas berisi gambar tokoh-tokoh komik rancangan Taufan yang tergeletak di karpet membuat Halilintar tertarik untuk mengambilnya. Tepat saat ia mengambil makanan titipan Fang, sebuah buku bersampul karakter-karakter ini ada di di atas meja belajarnya di asrama.
"Rasanya karakter ini familiar, jangan bilang…" Tak mungkin Halilintar tak mengenali raut wajah tokoh fiksi itu. Bagaimana tokoh itu selalu berani dan tangguh. Bagaimana ia digambarkan sebagai anak yang tangkas, lihai dalam berlari dan keingintahuannya dalam berpetualang.
"Siapa lagi dong~" sebuah senyuman lebar kembali menghidupkan tingkah riang ala Taufan. "Jagoan hebat seperti Boboiboy! Banyak pembaca yang mengirimiku pesan kalau mereka menyukainya!"
Tahun demi tahun telah berganti sejak malam bersalju itu. Namun diam-diam, Taufan menyisipkan adiknya pada fiksi yang ditempa oleh jemarinya. Bagaimana ia memanggil kembali sosok sang adik dalam dunia rekaannya.
"Oh ya, Fang juga membaca komikmu," Halilintar lanjut mengamati kertas-kertas sketsa yang lain.
"Masa?!" Pria itu terlonjak kaget. "Aih aih. Kukira sekarang dia baca buku berisi not balok saja."
"Dan biar kutebak karakter ini mirip dengan anak itu" telunjuk Halilintar mengarah pada satu karakter berkacamata yang menjadi rival si tokoh utama barusan.
Taufan cengar cengir dan tak berusaha mengelak. Memang sebagian besar ceritanya lekat dengan observasi tak disengajanya pada dua anak itu. Bagaimana mereka bertengkar karena ini itu sebelum akhirnya kembali baikan dengan sendirinya. Bagaimana keduanya memiliki mimpi yang berbeda, dan berupaya meraihnya tanpa kenal lelah. Lalu Taufan mencoba memadukan potongan-potongan kisah itu dalam komik petualangannya.
Walaupun harus didepak sampai KO setiap minggunya, Taufan tak ingin berhenti melanjutkan sebentang imajinya ini. Kala seorang anak laki-laki bertopi jingga menjelajahi semesta fantasi yang Taufan bentangkan untuknya. Hingga sama seperti adiknya itu, 'ia' menorehkan kisah-kisah terbaiknya.
Berlanjut pada Bagian 2: Nala
A/N: Terima kasih bagi yang sempat membaca coretan ini. Sudah lebih dari satu tahun sejak PmW tamat. Dan buah dari lamunan di tempat kerja saya menjadi sekuel dari PmW yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.
Akan ada tiga bagian untuk sekuel ini, dan masing-masing akan fokus pada Taufan, Halilintar, dan terakhir Fang. Bagian pertama telah selesai, dan di waktu senggang minggu depan, saya akan berusaha melanjutkan bagian kedua. Dengan rutinitas saat ini, saya memang semakin sulit untuk meluangkan waktu. Dan berbagai proyek menulis pun tersendat tanpa bisa banyak tersentuh sejak tahun lalu m(_ _)m
FF ini saya persembahkan untuk Selvi Ramania. Terima kasih banyak atas reviewnya ^^
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya~
