Ia menatap mata dwiwarna itu. Rasa takut segera menghampirinya. Bukan, bukan ini yang ia inginkan. Ada banyak Beast yang bisa ia jadikan pendamping, tapi tidak dengan yang satu ini. Ia takut, sangat takut. Bahkan jika ia bisa memilih tanpa harus kehilangan nyawa, ia pasti akan menolaknya. Tidak bisa, ya itu jelas tidak bisa. Bukan karena takdir atau ramalan dari Tetua. Tapi untuk membayar kesalahan Klan.

Sesungguhnya ini tidak cukup, bahkan sangat tidak pantas. Mana ada sebuah pengkhianatan dibalas dengan sebuah penyatuan dua Klan. Oh, tidak. Itulah kenapa Beast Bermarga Akashi ini menatapnya dengan pandangan benci. Sangat tidak ramah. Bahkan ia bisa pastikan ada keinginan membunuh dari Beast didepannya, yang duduk bersandar sambil melipat tangannya.

"Kau sungguh tidak punya pikiran."

Ia baru tau dan bahkan tidak percaya Beast muda seusianya_atau lebih tua setahun?_bisa berkata hal cukup tak sopan pada para Tetua. Ia ingin menegurnya, namun melihat kilat mata dwiwarna itu, mungkin lain kali.

"Dia bahkan tidak tau siapa aku!"

Benar, ia tidak tau. Kecuali seorang bocah bermarga Akashi yang kedepannya_katanya_akan menjadi kekasihnya.

"Sampai kapan pun, jangan beri tahu dia. Biar dia pahami sendiri."

Ia ingin protes. Apa ia tidak boleh tau Beast tipe apa calon kekasihnya ini?

Golden Sunset

by

RedPaper

Kise menatap genangan air dibawahnya. Kupingnya berdenging saat menerima tawa dan ejekan dari orang disekitarnya. Pengkhianat! Pelacur! Atau apa lagi yang tidak bisa Kise pahami. Ia menunduk, mengambil buku sampul merahnya yang basah akibat siraman air. Tapi buku itu diinjak oleh seseorang yang Kise ketahui.

"Oh ya ampun.. Kalian tidak lihat pakaian yang ia kenakan? Lekuk tubuhnya sangat tercetak jelas. Apa seperti ini Beast Rubah? Penggoda!"

Kise menggeram dan menatap Beast Puma didepannya dengan ganas. Furihata Kouki jika Kise tidak salah ingat. Ingin sekali rasanya Kise balik mencemooh tentang siapa seorang penggoda disini. Tentu jika ia tidak ingat kesepakatannya dengan Akashi.

Kise cukup bersyukur ibu dan kakak perempuannya tidak di penjara akibat kesalahan ayahnya. Untuk itu, Kise harus jadi anak yang penurut. Ia janji tidak akan membuat kesalahan dimana pun, yang membuat semua orang bertanya siapa Alpha Beastnya. Itu bukan hal yang bagus. Bisa saja mereka akan langsung tau jika (calon) Alphanya adalah seorang Akashi_yang sudah 10 tahun sejak insiden perjodohan itu, Kise tidak pernah melihatnya lagi.

Kise meringis mengingat memori itu sekaligus merasakan kembali dinginnya air yang disiramkan padanya. Ia kembali menatap Kouki yang tertawa terbahak. Kise mengerti jika pemuda didepannya ini sedang memiliki masalah berat hingga bersikap seperti pelacur di akademi. Alpha Kouki pergi meninggalkannya setelah menandainya. Bahkan Alpha dengan Beast Kerbau itu sama sekali tidak peduli pada Kouki.

Kise membiarkan air matanya ikut mengalir bersama air yang menetes dari rambutnya. Kouki tau itu. Ia tau jika Kise mengetahui masalahnya. Menggeram karena rasa simpati yang Kise berikan, Kouki mendorong Kise ke tembok dan segera pergi bersama dua temannya.

Kise melirik sebentar lalu menarik nafas. Ia menggunakan energinya untuk mengeringkan tubuh dan pakaiannya. Midorima sudah berdiri didepannya dengan pandangan jengah. Kise tertawa kecil lalu menghampiri pemuda ular itu.

"Mido," panggil Kise.

"Jika keluarga tau, mereka tidak akan diam saja, Kise," balas Midorima.

"Jangan biarkan mereka tau." Kise mengusap lehernya dan memalingkan wajahnya. Raut wajah pemuda rubah itu menjadi sangat sedih.

"Dia memintaku tidak membuat masalah."

Midorima mengerut kesal. Ia bersandar pada tembok, menatap luar jendela, dimana pohon-pohon Shakura yang melambai tertiup angin. Akashi muda itu juga pernah memintanya menjadi pengawas Kise. Sebuah hal yang merepotkan, disaat Midorima juga perlu berbagi waktu dengan Omeganya. Untungnya saja Omega Midorima paham dan mengerti situasinya. Jadi Beast Kelinci itu tidak pernah mengeluh ataupun cemburu pada Kise.

Untuk Akashi sendiri, Midorima yakin cepat atau lambat pemuda itu akan menemui Kise. Kise melewati masa dewasanya dengan sangat buruk. Tak sedikit Beast Alpha yang mencoba menandainya, membuat Midorima dan beberapa pengawal keluarga Akashi kepayahan dalam mengurusi mereka.

"Aku akan kembali ke ruangan, kau ikut?"

Kise mengangguk pada Midorima. Keduanya berjalan bersama hingga menemui Kuroko, Omega Midorima. Kuroko tersenyum pada keduanya. Midorima memperhatikan keduanya. Bagaimana mata keduanya sama-sama berkilau saat bertemu dan bercerita. Bagaimana juga mata keduanya meredup saat berbagi kisah sedih. Andai Akashi melihat ini..

-xoxoxo-

Lagi, pedang itu lagi-lagi bermandikan darah merah maupun hitam. Begitu juga kedua tangan dengan cakar panjang dan tajam itu. Pemiliknya menggeram, membuat semua musuhnya beringsut mundur perlahan, meski masih mencari celah untuk melukai Kaisar dikepungan mereka. Burung Api merah berputar di langit, memekik, memberi peringatan pada Kaisar jika ada sesuatu yang datang. Lebih kuat dari musuh yang mengepungnya sekarang.

Sang Kaisar mengendus lalu mengeryit. Ia meludah, bersamaan dengan munculnya Scyt dari balik bayangnya. Makhluk berwujud Death Angel itu melayang mengelilinginya, menyentuh tiap jilatan api yang melindungi tubuh sang Kaisar. Scyt tertawa, dalam dan gelap.

"Mengertilah, My Lord. Kau terlalu lama bermain dengan Darah."

Musuh disekitarnya melolong, khas Klan Serigala bayangan. Scyt menarik nafas dan menghembuskannya. Hawa dingin dan penuh tekanan membuat Lynx dilangit kembali memekik. Sang Kaisar mengibaskan pedangnya, sisa darah memercik dari ujung pedangnya. Scyt masih melayang mengelilingi Kaisar, ujung jubah hitamnya menggaris tanah, membentuk lingkaran samar.

"My Lord."

"Berikan aku permata hitam itu dan kau tidak akan kehilangan hewan peliharaanmu, lagi," ujar sang Kaisar.

"Itu yang sudah aku duga, dan sayangnya aku tidak bisa. Kecuali jika, anda memberiku jiwa dari Omegamu sendiri."

Kaisar diam mencerna. Ia kembali menyarungkan pedangnya dan berbalik, membuka portal menuju rumahnya. Ia melirik Scyt dari balik bahunya.

"Akan kubawa dia padamu."

Scyt mendesis dan para serigala bayang ikut melolong. Lynx memekik sebelum kembali bersatu dengan simbol Krisan dileher Kaisar.

-xoxoxo-

Kise mendongak, menatap langit mendung yang berhias kiltan petir. Bukannya akan hujan, semua orang tau jika itu adalah pertanda Kaisar para Beast baru saja kembali dari perburuannya. Kise merasakan wajahnya memanas dan hatinya berdegup kencang. Berita yang ia dengar, Kaisar sangatlah tampan dan sedang mencari Omeganya. Kise berjongkok dan menepuk wajahnya sekali. Entah kenapa ia seperti bisa membayangkan wajah Kaisar.

"Ryota, ada apa?"

Kise mendongak, lalu tersenyum malu pada wanita paruh baya yang merupakan ibu Akashi. Ia berdiri kembali, meraih satu cangkir teh madu dan memberikannya pada Akashi Lisa. Lisa tersenyum anggun.

"Apa yang kau pikirkan?"

Lisa meraih cangkir putih itu lalu meletakkannya kembali pada konter dapur. Ia menuntun Kise duduk kursi balkon dapur.

"Bukan apa-apa. Hanya, berpikir, apakah perburuan Kaisar berhasil hingga dia kembali?"

Lisa menaikan kedua alisnya dan tersenyum tanda paham. Ia menatap langit kelabu yang perlahan menghilang, tanda portal Kaisar akan tertutup.

"Kau ingin bertemu dengannya?"

"Eh?! Bukan begitu! Aku, hanya bertanya saja," balas Kise panik.

"Ryota, sebentar lagi Akashi akan pulang."

Kise terdiam. Tubuhnya membeku tegang. Bayangan mata dwiwarna yang selalu membuatnya ketakutan kembali pulang. Kise akan kembali melihatnya. Melihat mata tajam yang terkesan angkuh dan menuntut. Kise mengusap lehernya, tanda ia merasa tidak nyaman dengan pembicaraan yang akan Lisa bawa.

"Aku sangat tau bagaimana kesan pertamamu terhadap Akashi. Tapi dia Alphamu_"

"Calon," potong Kise.

Lisa tersenyum dan membelai Kise dengan sayang. Hanya Lisa yang bisa bertindak seperti seorang ibu untuk Kise. Karena sebagian besar keluarga Akashi mengganggap Kise adalah masalah, benalu, akibat kejadian masa lalu.

"Jika kau tau siapa Akashi, mungkin kau akan mengubah sikapmu padanya," ujar Lisa yakin. Ia berdiri dan tersenyum pada salah satu pelayannya.

"Nyonya Lisa, Kaisar Seijuro sudah tiba."

Kise sontak berdiri dengan mulut menganga. Kenapa seorang Kaisar Beast mengunjungi kediaman Akashi? Akashi Masaomi bahkan sedang keluar rumah. Kise menyentuh lengan Lisa, menanyakan tentang kebenaran kedatangan sang Kaisar.

"Ibu, apa yang Kaisar lakukan disini?"

Lisa tertawa kecil dan menggandeng Kise keluar dari dapur.

"Aku sangat tidak mengerti kenapa kau sangat tidak paham dengan status keluarga kami, Ryota."

Kise mengeryit bingung lalu melotot horor melihat seorang pemuda berjubah merah dengan topeng setengah wajah yang menutupi wajahnya. Itu sang Kaisar. Astaga, Kise bahkan hanya mengenakan baju tidurnya.

"Ibu aku belun ganti baju!" pekik Kise histeris yang membuat Kaisar menoleh pada mereka.

Lisa tertawa kecil dan berhenti didepan Kaisar. Kise menunduk cemas sambil menggigit bibirnya. Lisa sangat tidak mengerti, jika Kise ingin Kaisar melihatnya dengan tampilan terbaiknya.

"Kenapa Ryota? Kau tidak ingin menyapanya?" tanya Lisa.

Kise menyentuh telinga kirinya, membuat anting berbandul manik kepala naga itu bergoyang kecil.

"Se-selamat malam, Kaisar."

"Kau sudah makan?"

Kise terhenyak lalu mendongak cepat, menatap wajah yang masih tertutup topeng itu. Jantungnya berdegup dengan kencang. Ada perasaan gelisah saat Kise mendengar suara yang tidak asing untuknya, meski sedikit lebih berat.

"Kau mendengarkanku."

Bukan pertanyaan dan Kise mundur selangkah. Air matanya menetes perlahan. Lisa memanggilnya, namun tidak ia hiraukan. Kise mendengar Kaisar itu menghembuskan nafas berat.

"Ryota_"

"Akashi.."

Kise membekap mulutnya yang lancang menyebutkan nama calon Alphanya. Namun Kaisar didepannya tersenyum kecil dan melepas topengnya. Kembali, Kise menatap mata Dwiwarna itu. Mata yang pernah menatapnya dengan kebencian. Mata yang selalu berambisi untuk melenyapkannya.

"Akashi.."

"Senang melihatmu lagi, Ryota."

to be continue