"Bagaimana kalau 5N-0W?"

"Walaupun dunia ini tidak butuh senyumanmu, tapi aku sangat membutuhkannya. Jadi, tersenyumlah untukku..."

"Kau tidak baik-baik saja. Tak satu pun darimu sudah pernah baik-baik saja ..."

"Aku tidak pernah ingat kejadian itu."


Undertale © Toby Box

5A-N5 and 5N-0W © Apria Ling

. . .


Mataku sayu, samar melihat pria itu menolongku. Entah apa yang dilakukannya pada tubuhku, yang penting, saat kusadar, dia sudah tersenyum.

"Untung kau masih bisa diselamatkan." Ujarnya.

Aku hanya diam, terbaring lemah di kasur yang tidak terlalu nyaman. Bersih, hanya saja agak suram… Aku menghela napas. Pria itu sedikit… aneh, bagiku. Kepala dan tangannya tulang, dan dia memakai jas putih seperti professor yang pernah kulihat.

"Siapa kau?" tanyaku pelan.

Pria itu masih tersenyum, mengeluas rambut panjang putihku, "Namaku Gaster, tapi kau bisa memanggilku, Dokter Gaster."

Aku diam, tersenyum tipis.

"Siapa namamu?" tanya Dokter Gaster.

Aku menggeleng. Aku tidak pernah tahu nama yang kumiliki.

"Bagaimana kalau 5N-0W?"

Aku menggangguk.

. . .

Yah, kalian bisa memanggilku 5N-0W, atahu boleh memanggilku Snow (aku sudah menyusun nama asliku, 5 adalah S dan 0 adalah O). Dokter Gaster orang yang baik, dia memberiku banyak gaununtuk pakaianku, karena pakaian terakhirku sudah rusak. Menurutku, dia ilmuwan yang sedang meneliti sesuatu. Banyak kutemukan barang-barang penelitian di labornya, dan itu cukup keren bagiku. Dia tinggal sendirian di rumah sepi ini, tapi dengan adanya aku, dia terlihat tidak kesepian lagi.

"Apa kau punya anak?" tanyaku.

Dokter Gaster menggeleng, "Aku berharap mempunyai anak, tapi kau sudah kuanggap anakku."

Aku tersenyum senang.

Dia bercerita bagaimana bisa menemukanku. Katanya, dia menemukan anak kecil berambut putih panjang di tumpukkan salju luar rumahnya. Tubuhnya penuh luka dan dia juga pingsan. Karena itu, Dokter Gaster membawanya ke rumah dan mengobatinya.

Dan anak itu adalah aku tentunya.

Dia menyukai warna mataku, yang menurutku aneh. Sebelah kanan biru cerah dan sebelah kiri ungu gelap. Keren sih, yang membuatku heran, bagaimana aku bisa melihat? Oke, ini pertanyaan konyol. Penjelasannya, aku dulunya buta. Kedua mataku rusak, jadi tidak bisa melihat. Waktu aku sadar, aku malah bisa melihat. Itu membuatku bingung. Namun, tidak mungkin juga kubilang ini ke Dokter Gaster.

Beberapa minggu kemudian, dia membawa anak laki-laki seumuran denganku dan sama dengannya, kerangka. Namanya 5A-N5, aku memanggilnya Sans (ingat, 5 adalah S). Dia sepertinya pendiam. Aku tidak pernah melihatnya tersenyum. Dia tinggal di sebelah kamarku, dan kuralat, dia pemurung dan tidak suka bicara banyak.

Kali ini Dokter Gaster membuat penemuan baru, (menurutku) membuat Jiwa. Aku terkejut mendengar Sans tidak memiliki Jiwa saat aku menguping pembicaraan mereka. Dan respon Sans, dia segera mencari tahu adakah orang selainnya yang tidak mempunyai Jiwa, hasilnya nihil. Dan setiap kali dia kembali ke kamarnya, dia tidak pernah tersenyum. Ah, mungkin ini sedikit bertele-tele, tapi aku sangat ingin membuatnya tersenyum.

Maka, malam ini, aku nekat ke kamarnya.

TOK! TOK!

"Ya?" Sans membuka pintu kamarnya.

Aku tersenyum kepadanya, melambaikan tangan, "Hai, boleh aku masuk?" tanyaku.

Dia hanya diam, mundur beberapa langkah, mempersilahkan. Aku pun masuk ke kamarnya. Seperti yang pernah kubilang, rumah Dokter Gaster suram, sama dengan kamar Sans. Bahkan, ada beberapa coretan di sekeliling kamarnya. Aku memandang kamarnya dengan antusias, sedangkan Sans duduk di kasurnya.

"Siapa namamu?" tanyaku.

Oke, perkenalan biasanya berawal dari nama, bukan?

"5A-N5." Jawabnya singkat.

Aku mengangguk, "Namaku 5N-0W"

Aku berjalan ke kasurnya, duduk disampingnya, "5A-N5, mmm, kenapa tidak suka tersenyum?" tanyaku polos.

Dia diam sebentar, lalu menunduk, "Buat apa aku tersenyum, 5N-0W. Dunia ini tidak butuh senyuman." Jawabnya pelan.

Aku diam, menatap wajahnya yang lesu. Apakah karena tidak memiliki Jiwa membuatnya tidak tersenyum? Aku menggeleng, memeluk bahunya. Dia kaget dan memandangku.

"Walaupun dunia ini tidak butuh senyumanmu, tapi aku sangat membutuhkannya. Jadi, tersenyumlah untukku..." kataku menatapnya, tersenyum.

Dia terdiam, mencerna perkataanku. Lalu, dia tersenyum. Aku tetap tersenyum, tetap memeluknya.

"Hei, bolehkah aku memanggilmu Sans?" tanyaku, "Kau bisa memanggilku Snow."

Dia pun mengangguk, "Terima kasih, Snow."

"Ya, terima kasih dengan senyumanmu, Sans." Balasku.

Kalau boleh jujur, aku ingin dia terus tersenyum. Karena, senyumannya menenangkanku...

. . .

Beberapa hari kemudian, setelah beberapa pemeriksaan yang dilakukan Dokter Gaster pada Sans (aku selalu mengintip mereka di laboror), setelah sebuah Jiwa berwarna kuning biru berbentuk hati terbuat, aku melihat Dokter Gaster sangat berbeda dari biasanya.

Aku melihat Dokter Gaster menarik tangan Sans ke labornya, malam-malam. Sepertinya Sans tidak bisa tidur, sama denganku. Dia saat itu sedang main rubik (Sans lebih pintar memainkannya daripadaku).

"Apakah kau masih bangun?" tanya Dokter Gaster.

Melihat Sans masih bangun, dia berkata sambil menarik tangan Sans, "Baik, ayo!"

Mereka berdua melewati kamarku, lalu aku mengekor sampai di depan pintu labor. Sans melihat kotak yang berisi Jiwa itu lenyap. Aku juga terkejut.

"Dimana Jiwanya?" tanya Sans.

"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, 5A-N5." Jawab Dokter Gaster.

Setelah masuk labor, Sans di suruh duduk di sebuah dipan.

"Apa ini, Dok?" tanya Sans sambil memegang dadanya, "Pemeriksaanku sampai minggu depan... jadi, apa kau bosan dengan kuningan atahu sesuatu?"

Dengan tiba-tiba, Dokter Gaster mendorong Sans sampai tertidur di dipan itu. Dan Dokter itu belum menjawab pertanyaan Sans.

"Apaan ini, Dok?" tanya Sans kaget.

"Maafkan aku. Ini mungkin sedikit menyakitkan, 5A." Jawab Dokter Gaster, "Tapi, karena kau sudah berhasil mengembangkan kekebalan pada nyeri pembunuh, tidak banya yang bisa kulakukan tentang ini."

"Dok, apa yang dimaksudmu?" tanya Sans ketakutan.

"Apa itu? Itu adalah berjudi." Jawab Dokter Gaster dengan nada datar, "Tapi, jangan khawatir. Aku akan mengakhiri kesedihanmu, keberadaan berJiwa ... Salah satu cara atahu yang lain. Kita tidak perlu menderita lagi. Penghalang harus akan menunggu. Tapi aku yakin Asgore akan mengerti."

Dokter Gaster membuka mata kiri Sans lebar-lebar dan menempelkan selotip dibagian atas dan bawah kelopak matanya. Sans kelihatan ketakutan, sama denganku yang hanya menonton dari kejauhan. Dokter Gaster mengambil sutikan yang berisi cairan biru kuning, warna Jiwa itu.

"Apa maksudmu? Aku baik! Tidak ada yang salah denganku... Jadi..." kata Sans.

"Kau tidak baik-baik saja. Tak satu pun darimu sudah pernah baik-baik saja ..." jawab Dokter Gaster sambil duduk disamping Sans, "Hanya ... tenang dan diam, oke?"

"Tahan... Sekarang ..." suntikan itu mengenai mata kiri Sans.

Dan...

"ARGH!"

"Jangan bergerak!"

Sans memberontak, berusaha menahan sakit. Dokter Gaster segera menyelesaikan percobaan anehnya, menutup mata Sans dengan kain dan menenangkannya. Aku tidak kuat melihatnya lagi, berlari ke kamar dan menutupnya.

Aku menangis ketakutan.

. . .


"Lalu... bagaimana...?" gadis mata sipit berambut coklat seleher memakai kaos biru bergaris merah muda dan bercelana biru, memeluk kembarannya mata bulat yang memakai kaos hijau bergaris kuning dan bercelana coklat.

Gadis berambut putih panjang memakai gaun putih dan berjaket hitam, tentunya aku, tertawa pelan, "Entahlah. Setelah itu, aku kabur."

"Kenapa?" si gadis berkaos hijau bertanya.

"Kutebak ya! Kau takut dengan Dokter Gaster!" kerangka bersyal merah menjawab.

Aku mengangguk.

"Aku tidak pernah ingat kejadian itu." Kerangka berjaket biru memegang kepalanya dengan bingung.

"Masa' lupa sih, Sans?" protesku.

Sekarang, aku bersama Frisk, Chara, Papyrus dan Sans, kembali menceritakan kejadian itu. Frisk sudah ketakutan mendengarnya, Chara juga, tapi disembunyikannya. Papyrus, adiknya Sans (aku baru tahu Sans punya adik), mendengar dengan antusias. Sedangkan Sans, dia hanya mendengar dengan heran. Ayolah, bahkan dia tidak ingat aku pernah memintanya tersenyum. Dia hanya ingat namaku dan kejadian di Jugdement Hall. Tapi, tak mengapalah, sekarang dia lebih sering tersenyum.

Bukan berarti aku sudah menceritakan semua.

Ada satu cerita yang tidak ingin Sans tahu.

Sans sudah membunuh Dokter Gaster waktu itu.

. . .

Fin(?)


Kembali, saya mengetik ulang cerita ini dari akun Apria Ling karena akun itu nggak bisa dipake lagi, dengan sedikit perubahan.

Thank you for reading!