Ch 6: System of a World, Ruler
Emiya Shirou dan Tohsaka Rin kini baru sampai di Academy City. Lebih tepatnya, sebuah bangunan yang berisi meja-meja seperti di guild di dalam anime isekai. Ketika akan menelusuri ruangan yang lebih dalam dari bangunan tsb, mereka dikejutkan oleh seorang sosok perempuan pendek berambut coklat dengan pakaian berwarna ungu dan topi yang berwarna ungu juga.
Sosok tsb pun berbicara. "Jadi, siapa kalian?"
"Namaku adalah Emiya Shirou. Dia adalah Tohsaka Rin" Kata Shirou memperkenalkan dirinya dan Rin.
Perempuan berpakaian ungu di hadapan Shirou hanya memperhatikan Shirou dan Rin untuk sesaat. "Baiklah, namaku adalah Cardinal. Aku terpanggil oleh Holy Grail War untuk menjadi servant Class Ruler" Kata Cardinal memperkenalkan dirinya.
"Tunggu, Ruler? Apa artinya kaulah yang akan mengamati perang kali ini?" Tanya Rin agak sedikit kebingungan.
"Secara simpel, begitu" Jawab Cardinal. "Aku terpanggil di titik ini, di dalam gedung ini" Lanjutnya. "Ada apa memangnya?" Tanyanya.
Tohsaka pun menjawab. "Kami dari Asosiasi Sihir datang kemari untuk mengamati Holy Grail War kali ini" Rin berhenti sejenak sebelum melontarkan pertanyaan. "Tapi aku sedikit curiga denganmu. Selama lima kali peperangan, tidak ada yang mengatakan adanya servant Class Ruler. Apa kau yakin kau tidak mengada-ngada?" Kata Rin dengan penuh kecurigaan.
Ruler pun langsung menjawab. "Mudah, Holy Grail, setelah dihantam dengan Excalibur, mulai menciptakan Class baru. Setidaknya, untuk perang kali ini adalah Ruler dan Shielder. Secara singkat, alasan kemunculan Ruler adalah karena Holy Grail tidak mempercayai manusia untuk melaksanakan ritual Holy Grail War sendiri" Mendengar akhir penjelasan Ruler, Shirou dan Rin hanya dapat pasrah mengingat pengamat Holy Grail sebelumnya, Kirei Kotomine, hampir menghancurkan Fuyuki City.
"Ja-Jadi, kau akan melakukan tugas mengawasi perang sendiri?" Tanya Shirou.
"Setelah kupikir, mungkin akan ada bagusnya jika kalian membantuku" Jawab Cardinal. "Jika seorang servant terpanggil, maka kalian akan memeriksanya dan memberitahukan tentang peraturan Holy Grail. Aku akan mencari tahu nama Heroic Spirit mereka" Lanjut Ruler berambut coklat yang kini memunculkan tongkatnya.
"Tunggu, kau bisa langsung mengetahui nama Heroic Spirit mereka? Bagaimana?" Tanya Rin dengan sangat keheranan.
"Sebagai seorang Ruler, Holy Grail memberiku kemampuan untuk mengetahui identitas, kemampuan, serta kekuatan tiap servant yang kutemui" Jawab Ruler.
Dengan begitu, kelompok pengamat yang terdiri dari Emiya Shirou, Tohsaka Rin, dan Ruler bernama Cardinal mulai menemui satu persatu servant pada Holy Grail War keenam.
Saat ini, adalah hari ke-2 setelah pertemuan antara Tohsaka Rin dan Emiya Shirou dengan Ruler. Ketika itu, mereka sedang akan menghampiri master baru di Holy Grail War keenam dengan Servant Class Caster. Caster dipanggil dengan master bernama Kakine Teitoku. Saat ini, Ruler dan Rin menghampiri master dari Caster dan Caster yang baru saja terpanggil.
"Konbawa" Sapa Rin menyelinap masuk ke ruangan dimana Kakine dan beberapa orang serta Caster berada.
Secara spontan, tiga orang anggota SCHOOL langsung menyerang Rin yang langsung menghindari setiap serangan mereka. Rin pun kembali berbicara. "Tenanglah, aku disini bukan untuk bertarung dengan kalian" Rin pun mencoba menenangkan mereka. "Aku yakin, kalian pasti mempunyai beberapa pertanyaan mengenai sosok yang tidak kalian kenal itu. Aku bisa menjawab pertanyaan kalian" Lanjutnya dengan tenang.
"Kau ini apa?" Kakine pun langsung bertanya.
"Aku adalah Tohsaka Rin. Aku adalah penengah dalam Holy Grail War keenam" Jawab Rin.
"Siapa dia? Dan apa itu Holy Grail War?" Tanya seorang perempuan berambut pirang sambil menunjuk Caster pada kata 'dia'. Matanya tiba-tiba bercahaya merah.
"Dia adalah Caster, seorang servant yang akan membantu kalian dalam Holy Grail War" Jawab Rin yang sempat terintimidasi sedikit oleh bercahayanya warna mata dari si perempun berambut pirang. "Untuk apa itu Holy Grail War, mudahnya, itu adalah sebuah ritual pemanggilan item bernama Holy Grail. Dalam ritual ini, kalian akan bertarung dengan master dan servant lainnya. Normalnya, ini adalah perang yang dilaksanakan oleh 7 ahli sihir sebagai masternya. Namun, untuk suatu alasan yang tidak kuketahui, perang kali ini masternya berupa Esper seperti kau. Juga, tidak berhenti sampai tujuh, nampaknya kali ini masternya ada hingga delapan" Lanjut Rin menjelaskan dan menoleh ke arah Kakine ketika kata 'kau'.
"Hmph, Holy Grail ya. Itu alat untuk mengabulkan harapan kan?" Tanya Kakine yang dibalas dengan anggukan oleh Rin. "Ha, kalau begini berarti bagus. Kita akan mengikuti perang ini" Kata Kakine dengan penuh percaya diri.
Rin yang memutuskan bahwa itu akhir dari percakapan, memutuskan untuk keluar dari ruangan tsb. Ia keluar dan menemui Ruler. "Jadi?" Tanya Rin dengan singkat.
"Servant Caster, Cerinthus. Terkadang menyebut dirinya sebagai penyihir mimpi" Ruler pun memberitahukan identitas dari si servant.
"Jadi dia bisa menggunakan sihirnya untuk menjebak orang dalam mimpi?" Tanya Rin mencoba menyimpulkan.
"Tidak, lebih tepatnya sihirnya berdasarkan imajinasi. Dia mampu memunculkan senjata api dalam jumlah banyak hanya dengan memikirkannya" Jawab Ruler.
Rin hanya memikirkan hal tsb untuk sementara. Sihir yang digunakan Caster hampir mirip dengan sihir proyeksi dari Emiya Shirou dan Archer yang Rin panggil.
Rin terlepas dari pikirannya ketika Ruler berkata. "Ayo, ada satu lagi yang baru saja terpanggil"
Dengan begitu, mereka pun melanjutkan perjalanan. Rin pun berkata. "Cerinthus, memangnya ada pahlawan di zaman dulu yang namanya seperti itu?" Tanya Rin.
"Di dunia ini, mungkin tidak. Tapi bisa saja di dunia lain" Jawaban Ruler membuat Rin sedikit terkejut.
"Dunia lain?" Tanya Rin kebingungan.
"Ya, Holy Grail mengalami sedikit perubahan setelah beradu dengan Excalibur. Contohnya diriku. Aku bukan berasal dari dunia ini. Aku bahkan sebenarnya hanyalah sistem sebuah dunia buatan" Penjelasan Ruler membuat Rin tambah bingung. "Dunia yang kumaksud adalah dunia VR" Lanjutnya.
"Maksudmu dunia game begitu?" Tanya Rin.
Ruler terdiam untuk sesaat sebelum menjawab. "Ya. Meski begitu, semua orang di dalam dunia game tsb. Semua orang dari luar dunia game tsb yang datang ke dunia game ini, akan merasakan rasa sakit" Ruler kembali terdiam dan menjawab. "Berikutnya adalah Assassin. Jadi kurasa kau harus berhati-hati"
Rin yang akhirnya mulai sedikit paham dengan penjelasan Ruler, dibuat bingung lagi oleh peringatannya.
Ketika sampai, Rin langsung memasuki ruangan dimana ada empat orang perempuan/wanita dan satu orang laki-laki berkepala babi. Rin langsung mengamati adanya dua buah katana yang diperban di pinggang si kepala babi.
Namun, Rin dipaksa menghindari serangan dari sebuah laser berwarna hijau. Rin hanya menoleh ke arah seorang perempuan berambut coklat panjang yang mengangkat tangannya, seolah dia baru saja menembakkan sesuatu. "Kau ini siapa? Berani sekali datang kemari" Kata wanita tsb.
Rin untuk sesaat tidak menjawab, nampak dari wajahnya bahwa dia sedang memikirkan kalimat. Akhirnya, Rin menjawab. "Namaku adalah Tohsaka Rin. Aku datang kemari untuk memberitahu kalian tentang sosok yang tidak kalian kenal itu. Juga, aku akan menjelaskan apa yang kalian ingin tahu dalam Holy Grail War"
"Kalau begitu, siapa dia? Kenapa dia bisa tiba-tiba muncul di sini? Apa itu Holy Grail War?" Rin pun dihujani pertanyaan oleh wanita tsb.
"Pertama, dia adalah Servantmu. Servant dalam Holy Grail War adalah seorang pahlawan pada masanya, bisa dari masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Mereka adalah orang orang yang akan menbantumu dalam memenangkan Holy Grail War" Jawab Rin yang kemudian melihat Command Seal di salah satu tangan wanita tsb. "Kedua, karena kau terpilih sebagai master dari Assassin. Aku tidak yakin pastinya, tapi harusnya dia keluar melalui sebuah kartu tertentu"
Rin menarik nafas panjang. "Ketiga, Holy Grail War adalah ritual untuk memanggil artefak kuno bernama Holy Grail, alat yang dapat mengambulkan harapan. Ritual ini berupa perang antara beberapa master dengan bantuan dari Servant mereka" Rin berhenti untuk kembali menarik napas. "Biasanya, masternya adalah 7 ahli sihir. Namun kali ini, masternya berupa esper. Serta, jumlahnya aku yakin bukan tujuh tapi delapan"
Rin pun menunggu respon lainnya. Nampak dari wajah mereka, nampaknya kelompok Assassin sudah paham dengan situasi mereka saat ini. "Jadi, maksudmu jika kami memenangkan perang ini, kami dapat meminta apapun?" Pertanyaan tsb dijawab dengan anggukan dari Rin.
"Wah, berarti kita bisa meminta untuk jadi kaya!" Seru kegirangan si perempuan pirang dengan topi baret.
"Kita pikirkan itu nanti saja!"
Setelahnya, Rin memutuskan untuk pergi. Di luar, ia kembali bertemu dengan Ruler. "Bagaimana, kau tahu siapa Assassin itu?"
"Hashibira Inosuke, mempunyai indra sentuh yang lebih tajam. Ia dapat merasakan ke arah mana seseorang melihatnya. Ia juga dapat merasakan dimana targetnya dengan salah satu teknik pernapasan nya" Ruler menjelaskan.
"Kutebak dia juga berasal dari dunia lain" Ucap Rin nampak tidak terkesan.
"Kau sepertinya cepat paham"
Dengan begitu, mereka kembali ke tempat sebelumnya. Nampak disana Shirou baru kembali dengan sejumlah kantung. "Oh, Toshsaka, Ruler, kalian sudah kembali" Sapa Shirou.
"Emiya-kun, apa yang kau bawa itu?" Tanya Rin.
"Oh, ini adalah bahan makanan. Tidak baik jika kita terus makan di restoran. Nanti uang kita akan cepat habis" Jawab Shirou menjelaskan.
Tak lama kemudian, di ruangan pribadi para pengamat, nampak Shirou dan Rin yang sedang duduk dan bersiap untuk menyantap makanan mereka. Ruler di sisi lain hanya menatap makanannya dengan kebingungan.
"Ada apa, Ruler?" Tanya Shirou.
Ruler nampak tersadar dan bersiap untuk makan. "Bukan apa-apa" Jawabnya dan perlahan ia menyuap satu sendok makanan buatan Shirou ke dalam mulutnya.
Sekitar 3 hari lainnya berlalu. Perlahan, satu demi satu servant mulai terpanggil. Meski belum semua, namun sudah ada sepasang servant yang saling bertarung. Ruler memutuskan untuk mengamatinya dengan bantuan Charlotte. Ia sangat bersyukur karena setidaknya ia dapat bertemu dengan Charlotte sekali lagi.
Ketika Charlotte kembali, ia menjelaskan bahwa itu adalah Berserker dan Assassin. Ya, Berserker dan Masternya diserang tepat setelah mereka ke tempat pengamat untuk dijelaskan tentang Holy Grail War. Berserker terpanggil sekitar dua hari lalu.
Dua hari lalu juga, Archer dan Lancer sudah terpanggil. Archer terpanggil di sebuah rumah sakit oleh laki-laki bernama Aihana Etsu. Sedangkan Lancer dipanggil oleh seseorang yang sering menyebutkan soal tekad, orang tsb bernama Sogiita Gunha.
Terakhir, kemarin. Servant Shielder dan Rider dipanggil. Shielder dipanggil di sebuah kamar asrama yang agak sempit, sedangkan rider dipanggil di rumah sakit. Keduanya, sama seperti hampir semua master lainnya, nampak tidak harus pindah. Master Shielder karena dia bahkan sudah tinggal dengan seorang biarawati yang nampaknya berasal dari sisi sihir. Untuk Master Rider, dokter yang merawat si Master langsung percaya ketika dikatakan bahwa Rider (di sebutnya sebagai Uzumaki Naruto) adalah kenalan si Master.
Sekarang, Ruler, atau yang biasa menyebut dirinya Cardinal, sedang berada di perpustakaan raksasanya. Perpustakaan ini adalah salah satu Noble Phantasmnya. Memang agak tidak berguna untuk bertarung, namun sebagai pengamat, perpustakaan ini sangat berguna. Bahkan, Holy Grail sudah menambahkan tentang dunia atau zaman dari para sevant kali ini. Tak hanya itu, nampaknya Holy Grail juga menambahkan informasi tentang dunia ini.
Kemudian, tiba-tiba saja dia merasakan kehadiran servant lainnya. Akan tetapi, servant tsb terasa begitu familiar. Ruler pun menyadari siapa servant tsb.
Ruler, bersama dengan Rin, menuju Master terakhir yang baru saja memanggil servantnya. Master dari Saber.
Benar saja dugaan Ruler, Saber perang ini adalah dia. Dan yang memanggil nya adalah seorang murid SMP. Berdasarkan apa yang ia ketahui tentang dunia tsb, murid SMP tsb adalah murid SMP Tokiwadai.
Karena tak mungkin menjelaskan tentang Holy Grail di kamar asrama tsb, Rin menciptakan ilusi yang menirukan kedua murid tsb dan akhirnya menuntun ketiga remaja tsb ke tempat para pengamat.
Setelah penjelasan panjang lebar dari Rin, Saber, Masternya, dan teman si Master pun pergi. Kemudian, Rin pun bertanya. "Jadi, bagaimana dengan Servant terakhir ini?"
"Servant Saber, Kirito" Jawab Ruler. "Dikenal sebagai Black Swordsman. Satu-satunya player yang mampu menggunakan Dual Blades"
"Tunggu, player?" Tanya Shirou kebingungan karena ia baru keluar dari tempatnya tadi.
"Di dunianya, pernah terjadi sebuah insiden yang menjebak 10.000 pemain dalam sebuah permainan. Jika kau mati dalam game tsb, maka alat yang digunakan untuk memasuki dunia game tsb akan membunuhmu" Jawab Ruler menjelaskan. "Dia juga berasal dari dunia yang sama denganku"
Beberapa hari berlalu sejak Master terakhir memanggil Servantnya. Kelompok pengamat kini dapat beristirahat karena sudah tidak perlu menunggu kehadiran servant lainnya.
Namun itu hanya bertahan beberapa hari itu saja. Cardinal yang sebelumnya mengirim Charlotte untuk tetap bersama Kirito, kini mendapat pesan dari Charlotte bahwa terjadi sebuah penyerangan terhadap sekolah dua Master perang kali ini.
Cardinal kini berjalan ke kamar istirahat Rin dan Shirou. Cardinal mengetuk pintu tersebut dengan tongkatnya. "Tohsaka, Emiya. Keluarlah, kita mendapat tugas" Panggil Cardinal sebelum menggunakan Sacred Art miliknya untuk membuka kunci pintu tsb.
Ketika pintu terbuka, nampak Rin dan Shirou yang sedang berciuman. Keduanya melirik ke arah Cardinal dan terkejut. ""Ru-Ruler?!"" Panggil keduanya dengan (tentu saja) terkejut.
"Maaf, tapi kalian harus melakukan itu lain kali. Kita harus ke SMP Tokiwadai karena nampaknya terjadi pertempuran di sana" Ucap Cardinal tanpa benar-benar menunjukjan ekspresi apapun.
"Tunggu, SMP Tokiwadai? Bukankah itu sekolahnya Master dari Berserker dan Master dari Saber?" Tanya Rin memastikan.
"Maksudmu, si As dan Ratu Tokiwadai? Misaka Mikoto dan Shokuhou Misaki?" Tanya Shirou memastikan. Rin dan Cardinal menoleh ke arah Shirou dengan sedikit kebingungan."Apa? Aku sering keluar untuk membeli bahan makanan. Beberapa orang yang kutemui sering membahas mereka"
"Itu tidak penting sekarang. Sebaiknya kita segera pergi" Ucap Cardinak sambil membalikkan tubuhnya. "System Call: Generate Blizzard Gate: 01 (zero one)"
Pintu dari Noble Phantasm milik Cardinal pun muncul. Cardinal dan kedua Magus tsb berjalan melewatinya. Mereka mulai menyusuri perpustakasn tsb ke pojok tertentu. Kemudian, Cardinal kembali membuka pintu tsb dan muncul di depan SMP Tokiwadai.
"Emiya-kun, kau panggil ambulan dan menunggu lah. Ruler, nampaknya seorang servant telah menyerap Mana mereka. Kau bisa menyembuhkan mereka sekaligus kan? Kalau bisa, lakukanlah. Aku akan mengecek jika masih ada orang di dalam"
"Baik, Tohsaka!" Jawab Shirou.
"Itu mudah" Jawab Cardinal.
Timeskip
Kini, kelompok pengamat telah menyelesaikan tugas mereka. Sekarang, mereka memutuskan bahwa tindakan Caster semakin terlalu tak terkendali. Mereka perlu menghentikannya sebelum Caster melakukan tindakan yang malah dapat menyebarkan sihir kemana-mana.
Dengan begitu, Ruler menggunakan Command Spell yang ada bersamanya untuk memanggil Servant yang berada dalam jangkauannya. Sayangnya, selain Berserker, Saber, dan Caster, yang dapat ia raih hanyalah tiga Servant.
Setelah memanggil Servant yang lain, kelompok pengamat pun menggunakan Noble Phantasm milik Ruler untuk berpindsh dengan mudah ke lokasi kelompok Saber dan Berserker.
"Biar kutebak, setelah ini kalian ingin menyuruh kami untuk menghabisi Caster, benar kan?"
"Itu benar, Saber" Jawab Cardinal pada si Saber berambut hitam. "Aku adalah orang yang dipanggil Holy Grail untuk mengamati perang kali ini. Servant Ruler Class"
"Cardinal" Panggil Kirito dengan terkejut.
"Lama tak jumpa, Saber. Meski tidak lama bagiku, namun itu berasa sudah sangat lama bagimu kan. Berapa? Sekitar 200 tahun kan?"
Pertemuan yang berselang beberapa hari/200 tahun lebih sejak perpisahan mereka, harus berhenti karena ada ancaman yang menunggu.
Di suatu lahan kosong, seseorang yang menyebut dirinya sebagai Penyihir Mimpi sedang berdiri di tengah-tengah lahan kosong. "Nah, mari kita mulai!"
"Tower of White Water Spirit!" Serunya sebelum sebuah bangunan yang menjulang tinggi mulai muncul.
Di sebua bangunan tertentu, seseorang baru saja membuka mata kecoklatannya. Ketika orang itu berbicara, tidak terdengar suaranya. Namun, mulutnya dengsn jelas berkata. "Fase pertama sudah benar-benar dimulai"
Selesai! Chapter kali ini akan menjadi 'awal daru fase pertama' yang disebutkan oleh sosok baru yang tadi.Tapi, berikutnya cuma malah juga jadi akhir fase pertama. Fase pertama itu sebenarnya...............tunggu aja sampai chapter yang membahasnya muncul. Segitu aja untuk hari ini, kalo kependekan, Author minta maaf. Ini kedua terakhir sebelum Author kembali On-Hold ceritanya. Di tunggu ya!
