Title : Yell

Words : 1705

Pair : -

Genre : Drama, musical

WARNING OOC, typos, etc

A/N : A-Aku gak bisa berhenti dengerinnya! Sedih sekaligus ada rasa aneh di dalem hati. Iya, karena aku udah lulus jadi aku kangen suasana sekolah dan temen-temen di sana T^T

...

EIJUN bangun terlalu pagi, ya, ia tahu akan hal itu. Ia juga sudah memakai seragam dengan rapi meski tidurnya tidak terlalu tenang tadi malam. Netra emasnya menatap matahari yang terbit di depannya. Ia duduk di tangga di dekat lapangan baseball, menikmati bagaimana udara pagi menyambutnya, menikmati hari-hari terakhirnya sebelum lulus dari Seidou. Menikmati pemandangan di depannya untuk yang terakhir kalinya.

Kilasan balik mulai dari ia kelas satu; terlambat datang ke latihan di hari pertamanya, tantangan dari pelatihnya, memulai perjalanan Ace-nya dari titik nol, berjuang mati-matian, latihan sampai semua badan terasa sakit, kemudian merasakan kemenangan di tanah Koshien. Hal-hal yang telah dilaluinya membekas di dalam ingatannya. Seperti sebuah mimpi saja ia memiliki masa-masa sekolah yang seperti ini. Eijun yakin ia akan merindukan merasakan hal-hal menegangkan sekaligus seru seperti ini.

"Kukira kau di mana, tidak ada di kamarmu,"

Eijun menoleh, ada keempat temannya yang datang, termasuk Furuya Satoru yang setengah mengantuk. Eijun tersenyum pada Haruichi dan menjawabnya. "Lihat, pemandangan indah ini tidak akan terjadi dua kali. Kita harus menikmatinya bukan?"

Mereka ikut duduk dan menikmati matahari terbit. Sedikit kelam namun penuh akan penghayatan. Terutama karena keheningan mendukung mereka sehingga suasana sedikit ada kesedihan di sana.

"Kita ... akhirnya akan berpencar, bukan?" Shinji yang pertama kali buka suara.

Wajah Haruichi dan Satoru memuram. Menyakitkan mendengarnya. Mengingat mereka berdua akan berkuliah di tempat yang jauh dari Jepang, dari teman-temannya, dari rumahnya sendiri. Poni Haruichi tersibak karena angin. "Maaf..." Haruichi menjawab lirih.

Satoru mengangguk pelan.

"Jangan meminta maaf begitu, Kominato," Hideaki berujar. Kepalanya berbalik memberikan senyuman pada mereka. "Keputusan kalian adalah milik kalian. Kemana pun kalian pergi, tempat kalian pulang adalah rumah; di sini."

Eijun mengangguk lalu tertawa pelan. "Apapun keputusan kalian, kami menerimanya. Kami tidak masalah. Toh, kita semua memiliki hak masing-masing untuk mengejar cita-cita, bukan?" ia menepuk bahu Haruichi dan Satoru yang berada di samping kanan kirinya. "Baik-baik-lah kalian di sana. Jangan lupakan baseball dan Jepang, oke? Siapa tahu kita akan bertemu kembali di tanah lapangan baseball lagi." Eijun terkikik geli di akhir kalimat. "Kita akan bermain kembali, entah kita sudah menjadi dokter, guru, pengusaha, atau menjadi artis sekalipun, atau menjadi orang sukses. Bermain baseball layaknya anak SMA yang sedang menghabiskan waktu masa muda mereka."

Mereka tertawa kecil. Matahari sudah mulai menaik, menampakkan sinarnya tanpa malu-malu. Seolah tersenyum mendukung mereka dengan sepenuh hati untuk hari besar ini.

"Ya, kupikir itu ide bagus." Shinji mengangguk. "Suatu saat kita akan bermain kembali bersama yang lainnya." sambungnya.

Haruichi mengangguk, perasaannya membaik. Ia kemudian menoleh menatap Eijun. "Itu ide terbaik, Eijun-kun."

Satoru mengangguk setuju. "Aku pasti akan mengabulkannya!"

Eijun tertawa kemudian tersenyum lebar. "Yosh!" ia menepukkan tinju ke tangannya sendiri seraya berdiri. "Kenapa kita bermuram durja? Bukannya seharusnya kita merayakan hari besar ini dengan senyuman lebar?!"

Mereka tertawa kemudian berdiri. Setuju dengan Eijun. Ya, mereka harus melalui hari terakhir di Seidou dengan penuh senyuman dan rasa gembira. Angin mengibaskan jas dan rambut mereka. Bahkan mungkin membawa terbang rasa nostalgia ke udara.

...

Seperti deja vu bahwa ia kembali berada di atas panggung ini. Teringat dengan pelepasan angkatan Chris-senpai ia bernyanyi di sini, kini ia juga berdiri di atas panggung ini untuk pelepasan angkatannya. Berdiri menghadapi ratusan murid yang akan lulus. Beberapa ekspresi yang berbeda tercetak di sana. Ada yang tidak sabar menunggu dunia perkuliahan, ada yang masih tidak rela melepas masa muda SMA, ada yang bermuram durja seperti mereka tadi pagi.

Eijun menarik nafas, tidak ingin membuang waktu yang berlalu. Ia menoleh ke belakang di mana seorang murid dari klub musik klasik di undang untuk mendampingi Eijun di atas panggung ini. Murid cowok itu mengangguk dan tersenyum pada senpainya (Eijun) yang sedang duduk dan di depannya terdapat mic.

Eijun kemudian menatap lurus, melihat satu persatu teman-teman satu angkatannya, baik di lingkungan sekolah atau yang satu klub baseball.

"Kalian tahu? Meski duduk saja aku sudah canggung sekarang," Eijun buka suara sambil memegang dadanya yang berdebar, sontak hal itu mengundang tawa. Setelah tawa mereda barulah Eijun kembali bicara. "Rasanya deja vu. Aku pernah berdiri di sini mengantarkan pelepasan kakak kelas yang terdahulu. Sekarang aku berdiri lagi disini mengantarkan pelepasan kita. Saat itu aku tidak mengerti rasanya perpisahan, aku tidak mengerti rasanya berpisah dengan teman-teman. Tapi sekarang aku mengerti bagaimana rasanya; tidak rela, ingin bersama, ingin melalui semuanya bersama-sama. Tapi, ketahuilah, mereka akan selalu bersama di hati kita meski jaraknya terlampau jauh. Kita masih terhubung satu sama lain, beruntung bahwa ada ponsel di zaman sekarang ini. Hahaha," Eijun tertawa pelan kemudian ia memandang penuh rasa rindu. "Percayalah akan ada momen di mana kita semua kembali bersama, mungkin akan membicarakan tentang hal-hal konyol di masa SMA, tentang rasanya jatuh cinta disaat SMA, menjadi pengagum rahasia guru, atau hal semacam itu. Kita berpisah tapi kita akan kembali bersama, di satu meja yang sama, di satu tempat yang sama dengan penuh canda tawa yang nostalgia."

Semua orang di sana terdiam mendengarnya.

Eijun menarik nafas. "Jadi, aku membawakan lagu ini untuk hari besar ini."

Lampu mati kemudian nyala kembali dengan hanya menyorot Eijun saja. Suara piano sebagai pembuka mulai terdengar lembut dan merdu. Suara itu lebih lembut daripada saat mereka berdua pertama kali latihan.

"Watashi" wa ima doko ni aru no to

Fumishimeta ashiato wo nando mo mitsu kaesu

Kareha wo daki akimeku madobe ni

Kajikan da yubisaki de yume wo egaita

Satu persatu ia melihat ekspresi wajah mereka yang berubah. Seolah terpana dan tersihir dengan suaranya yang menggema di aula ini.

Tsubasa wa aru noni tobezu ni irun da

Hitori ni naru no ga kowakute tsurakute

Yasashii hidamari ni kata yoseru hibi wo

Koete bokura kodoku na yume e to aruku

Ia kemudian memejamkan matanya mengingat hari-hari yang ia lewati bersama teman-temannya. Berjuang bersama mereka hingga ke tanah nasional Koshien yang suci.

Sayonara wa kanashii kotoba janai

Sorezore no yume e to bokura wa tsunagu YELL

Tomo ni sugoshita hibi wo mune ni daite

Tobidasu yo hitori de tsugi no sora e

Haruichi tersenyum kecil. Ia selalu mengagumi bagaimana suara Eijun bernyanyi. Di tambah ia sangat menghayatinya. Ia selalu mengagumi Eijun dari segala sisi. Dan ia selalu merasa bersyukur mempunyai sahabat seperti Eijun.

Bokura wa naze kotae wo asette

Ate no nai kuragari ni

Jibun wo sagasu no darou

Dareka wo tada omou namida mo

Massugu na egao mo koko ni aru noni

Satoru memandang Eijun dengan pandangan yang sulit di artikan. Pertama kali ia bertemu dengan Eijun dan mengetahui ambisinya; ia tidak tahu menganggap Eijun sebagai rival, musuh, teman, atau sahabatnya? Rasanya kehadiran Eijun sedikit mengganggunya (karena suaranya yang terlalu berisik), tetapi rasanya permainan baseball tidak lengkap dan tidak seru jika tidak ada Eijun. Pun dengan suara pukulan bola yang dilakukan oleh Haruichi. Atau sorakan semangat dari Shinji, Hideaki serta Eijun.

"hontou no jibun" wo dareka no kotoba de

Tsukurou koto ni nogarete mayotte

Arinomama no yowasa to mukiau tsuyosa wo

Tsukami bokura hajimete asu e to kakeru

Jika Hideaki boleh jujur, ia sempat iri dengan posisi Eijun. Iri sekaligus kagum dengan semangat dan ambisinya. Iri bahwa Eijun berhasil menjadi Ace dan menjadi pitcher paling diawasi oleh tim sekolahan lain. Tapi dari pada itu, ia senang bisa bermain di dalam satu lapangan yang sama dengan Eijun, di satu sisi yang sama, di satu tim yang sama. Menyemangati satu sama lain dan menikmati permainan dengan rasa mendebarkan dan seru.

Sayonara wo dareka ni tsugeru tabi ni

Bokura mata kawareru tsuyoku nareru ka na

Tatoe chigau sora e tobitatou tomo

Todae wa shinai omoi yo ima mo mune ni

Senyum kecil Shinji mengartikan banyak hal. Terutama tentang betapa ia bersyukur bisa melalui masa-masa SMA dan baseball bersama teman-temannya. Ia yang mendampingi Eijun memimpin tim dan memenangkan Koshien bersama-sama.

Eien nado nai to kidzuita toki kara

Warai atta ano hi mo utai atta ano hi mo

Tsuyoku fukaku mune ni kizamarete iku

Dakarakoso anata wa dakarakoso bokura wa

Ta no dare de mo nai dare ni mo make nai

Koe wo agete "watashi" wo ikite iku yoto

Yakusoku shitan da

Hitori hitori hitotsu hitotsu michi wo eranda

Rei tersenyum penuh haru mengingat hari-hari di mana ia membawa Eijun ke Seidou, melihat perkembangan anak itu yang semakin hari semakin bertambah. Pun dengan anak-anak yang lainnya. Yang ia dan Pelatih Kataoka serta yang lainnya bimbing. Perlahan, anak lembek seperti mereka menjadi kuat dan tegar di setiap pertandingan. Ia bahkan tidak sadar bahwa waktu cepat berlalu. Kini, mereka sudah besar dan akan memilih jalannya masing-masing.

Sayonara wa kanashii kotoba janai

Sorezore no yume e to bokura wo tsunagu YELL

Itsuka mata meguriau sono toki made

Wasure wa shinai hokori yo tomo yo sora e

Menurut Kataoka, ini bukan perpisahan. Tetapi ini hanyalah salam 'sampai jumpa' dan 'selamat datang' pada kedewasaan mereka. Setiap tahunnya ia melihat anak-anak yang ia didik tumbuh dewasa seiring waktu, setiap tahunnya ia mengalami hal yang sama sehingga ia yakin bahwa pelepasan ini bukan akhir dari pertemuan. Melainkan sebuah permulaan untuk sebuah lembaran hidup yang baru. Ia tersenyum mengingat perjuangan anak-anak didiknya. Hal itu juga mengingatkan ia ketika lulus sekolah. Jadi, kemanapun mereka pergi, sejauh apapun, mereka pasti akan kembali.

Bokura ga wakachiau kotoba ga aru

Kokoro kara kokoro e koe wo tsunagu YELL

Tomo ni sugoshita hibi wo mune ni daite

Tobidatsu yo hitori de tsugi no sora e

"Apa kau berencana menjadi pro?" suatu saat, sebelum Miyuki Kazuya pulang dari kelulusannya, ia bertanya pada Eijun. Netra coklatnya menatap Eijun dengan penuh minat dan keseriusan di sana.

Eijun diam sejenak, melihat keseriusan itu membuat darahnya berdesir. "Ya. Tentu saja."

Kazuya tersenyum miring lalu mengangkat dagunya. "Tampaknya kita akan memilih kampus yang berbeda ya?"

Eijun tertawa kecil. "Kalau begitu, kita akan bertanding satu sama lain?"

Kazuya mendengkus mendengar tantangan tidak langsung itu. "Menarik. Mari kita lihat nanti seberapa pesatnya kau tumbuh, Sawamura."

Eijun tersenyum lebar memperlihatkan giginya. "Aku pasti akan mengalahkanmu sampai-sampai kau tidak bisa melakukan home run, Cap!" serunya.

Kazuya tertawa—sedikit menyebalkan, namun geli mendengarnya. Ia menepuk dada Eijun dua kali. "Tidak sabar menantikan hal itu, Partner."

Suatu saat, mereka akan kembali bertemu di lapangan yang sama. Ya, ini bukan perpisahan melainkan babak baru.[]

SONG : YELL – Ikimono-Gakari.

Lyrics by Genius.