Title : Stand Out Fit In
Words : 2771
Pair : -
Genre : Drama, musical
WARNING OOC, typos, etc
A/N : Selamat Membaca!
...
"Kau ... apa?" Kanemaru Shinji seolah tuli ketika Eijun memberitahukan hal yang penting untuk Daigaku-sai nanti.
"Menggantikan Kenji-senpai bernyanyi nanti." jawab Eijun agak enggan untuk mengulanginya lagi.
Shinji dan Hideaki saling menatap dengan tatapan sedikit tidak percaya. Hideaki lah yang pertama kali bertanya. "Apa tidak apa-apa? Tanpa pesiapan, loh. Daigaku-sai akan mulai lusa bukan?"
Eijun mengangguk. Dia menghela nafasnya pelan. "Ya, begitulah. Agak mepet. Tidak ada yang menyangka kalau Kenji-senpai akan kecelakaan bukan?" mengingat ia dekat dengan Kenji-senpai yang merupakan kakak kelas yang satu jurusan dengannya. Kenji-senpai juga tahu kalau Eijun bagus dalam hal bernyanyi, di tambah Kenji-senpai sangat baik pada Eijun, karena semua itu ia jadi tidak enak hati untuk menolak permintaan senpainya.
"Tolak saja, apa susahnya?" Shinji menjawab dengan santai sambil memakan kentang gorengnya.
Eijun melotot mendengarnya. "Apa kau psikopat?! Seenaknya saja mengambil keputusan." Eijun membalas dengan sewot. "Kurasa benar apa kata Haruichi, kau agak-agak." telunjuk kirinya digerakkan ke depan dahi membentuk garis miring dengan ekspresi seriusnya.
"Sialan!" Shinji melempari Eijun kentang gorengnya.
Eijun tertawa sementara Hideaki meringis melihatnya. "Mana bisa begitu, Kanemaru! Senpai orang baik, aku tidak bisa menolaknya begitu saja. Lagi pula kalau dipikir-pikir, ini hanya sekali saja 'kan?"
Shinji mengendikkan bahunya tidak peduli. "Terserah, aku tidak peduli."
Hideaki menggeleng pelan kemudian ia menatap Eijun. "Ngomong-ngomong tentang Kominato, kabar dia bagaimana? Apa dia akan datang ke Daigaku-sai?"
Eijun mengangguk. "Kabarnya baik-baik saja. Dia bilang kuliah di London melelahkan, tapi dia menikmatinya."
"Furuya juga," Shinji ikut menimbrung, mengingat percakapan ia dengan Satoru kemarin. "Dia akan datang besok supaya tidak telat."
Hideaki berdecak pelan sambil menggeleng. "Tidak bisa dipercaya mereka kuliah di luar negri. Yang satu di London, yang satu di Shanghai. Kalian tahu? Aku masih tidak percaya memiliki teman seperti mereka."
Eijun mengangguk setuju. "Tepatnya aku tidak percaya bahwa Furuya memiliki beasiswa kuliah di Shanghai—maksudku, dia memiliki otak yang sama denganku!"
Shinji tertawa. "Kadar keberuntungan orang beda-beda, Sawamura!"
"Sialan." Eijun merotasi matanya.
"Jangan lupakan bahwa dia juga berusaha, loh," Hideaki tersenyum tipis mengingat perjuangan mereka sebelum hari ujian tiba. "Kalian berdua yang paling berusaha, bukan? Seperti ingin membungkam perkataan orang-orang yang meremehkan bahwa kau akan gagal dalam ujian."
Eijun terdiam sejenak. Ingatannya ikut mundur ke belakang di mana mereka berlima, bersama teman-teman tim baseball yang seangkatan dengannya belajar bersama demi lulus. "Nostalgia, eh? Hmm ... tapi kupikir mereka lebih beruntung."
Shinji dan Hideaki menatap Eijun tidak percaya. Shinji yang pertama kali mengibaskan tangannya di depan Eijun. "Halo? Kita berada di Universitas Tokyo, kalau kau lupa."
...
Eijun tersenyum penuh rasa nostalgia melihat pintu gerbang asrama Seidou. Ia memasuki asrama itu dengan langkah ringan dan jantungnya berdebar karena rasa kerinduan. Ia menghirup udara sekitar—masih sama seperti dulu. Kemudian ia melihat sekeliling yang sepi. Mungkin semua orang sedang latihan?
Netra emasnya berhenti di sebuah pintu dengan nomor lima. Ia tersenyum geli mengingat ia pernah ditakut-takuti oleh Yoichi saat hari pertamanya menginjakkan kaki disini. Lalu ia melanjutkan tradisi itu pada Asada Hirofumi dan berlanjut sampai ia menjadi murid kelas tiga.
"Senpai?"
"Oh, Sawamura!"
Eijun menoleh ke belakang, melihat dua orang yang sedang berjalan mendekatinya. "Ah, Rei-sensei! Okami-kozou!"
Rei mendengkus tapi tersenyum, sementara Koushuu yang masih dipanggil seperti itu hanya berdecak pelan saja tanpa mengatakan protes apapun. "Senang melihatmu baik-baik saja dan sehat, Sawamura."
"Senang juga melihat Rei-sensei sehat. Oh, Okumura! Bagaimana kabarmu?"
"Baik-baik saja, Senpai." jawab Koushuu.
Rei menyeringai geli. Ia mengusap kasar rambut Eijun. "Kukira penyakit berisikmu sudah sembuh, Sawamura. Ternyata masih sama saja!"
Pipi Eijun memerah. "I-Ini bawaan dari lahir, tahu! Ciri khas keluarga Sawamura!" seru Eijun berusaha menghindar.
Rei tertawa pelan melihatnya. Ia kemudian melepaskan tangannya dan menatap Eijun dengan kedua tangan tersilang di depan dada. "Jadi, ada keperluan apa kemari, Sawamura?"
Eijun merapikan rambutnya yang agak kusut. Baru kemarin ia potong agak lebih pendek agar poni rambutnya tidak menghalangi mata. Ia kemudian menyeringai dan menatap mereka. "Aku hanya ingin lihat-lihat saja. Kebetulan kegiatan klub di liburkan mulai dari hari ini sampai Daigaku-Sai selesai."
"Kapan acara itu berlangsung?" tanya Rei.
"Besok."
"Ooh,"
"Lalu rencananya aku hanya melihat-lihat sambil menyegarkan pikiranku karena tidak diperbolehkan bermain bisbol." jawab Eijun dengan jelas.
Rei mengeluh pelan. "Kau masih sama saja seperti dulu, Sawamura. Tidak bisa bermain bisbol di sana, kau lari kesini." tapi kemudian ia tersenyum. "Baiklah kalau kau ingin melihat-lihat, aku dan Okumura-kun hendak pergi ke lapangan untuk latihan. Mau ikut melihat-lihat?"
Eijun menyeringai geli. "Tentu saja!"
...
Baru saja ia bertemu Pelatih Kataoka dan Pelatih Ochiai dan bercakap-cakap, sekarang ia memerhatikan para adik kelasnya bermain dari dugout. Harus ia akui, Okumura Koushuu sebagai catcher utama dalam tim itu sangat hebat dan pilihan yang baik. Seolah-olah ia melihat duplikat dari Miyuki Kazuya, mantan batterynya. Mereka berdua sama-sama hebat. Mungkin akan jadi permainan yang seru dan mendebarkan jika tim yang dipimpin oleh Kazuya dan Koushuu bertanding satu sama lain.
"Senpai,"
Eijun mendongak dan melihat Seto Takuma berjalan ke arahnya dengan celana seragam bisbolnya yang kotor karena tanah. "Oh, Seto-kun. Ada apa?"
Takuma duduk di sebelahnya sementara temannya bersiap untuk memukul. Ia melihat Asada Hirofumi berjalan membawa batt.
Perhatian Eijun teralih. Ia langsung berdiri dan bersorak untuk adik kelasnya. "KALAHKAN MEREKA ASADAAA! KAU PASTI BISA!" seru Eijun menarik perhatian semua orang di sana.
Hirofumi terkekeh pelan dan segan. Ia hanya mengepalkan tangan kanan dan mengangkatnya ke atas, membalas seruan Eijun. Setelah itu ia kembali fokus dengan pitcher di depannya.
Eijun terkekeh dan kembali duduk. Ia menatap Takuma. "Ada apa? Maaf barusan aku berteriak."
Takuma ikut tertawa pelan. "Tidak apa-apa, Senpai, aku sudah biasa." belakangan ini ia sudah terbiasa suara berisik orang-orang termasuk Eijun. Hal itu membuat Eijun tertawa. "Bagaimana kuliah Senpai? Apakah semuanya berjalan lancar?" tanya Takuma.
Eijun mengangguk. "Ya, aku harus membagi waktuku belajar dan juga berlatih. Sama seperti di sini." Eijun diam sejenak melihat Takuma yang menunduk. Sebelumnya ia diberitahu oleh Koushuu kalau Takuma sedang banyak pikiran. "Okami Kozou mengatakan padaku kalau kau sedang banyak pikiran. Ada apa?"
Takuma mengadah kemudian tertawa pelan sambil menggosok tengkuknya. "Tidak, tidak apa-apa. Hanya ... sesuatu yang biasa..."
Sebelah alisnya terangkat naik. "Hm? Benarkah?"
Takuma mengangguk pelan. Hening kembali terjadi dan Eijun kembali menonton tim. Jari tangannya menyatu gelisah.
Eijun melirik Takuma. "Apa ada yang sedang kau pikirkan, Seto-kun?"
Takuma melirik tipis. "Apa terlihat jelas?"
Eijun mengangguk. "Ya, jelas sekali."
Takuma diam sejenak lalu mengambil nafasnya. "A-Aku ingin bertanya soal ... rencana masa depan," Eijun mulai mendengarkan Takuma dengan seksama. "Apa ketika Senpai menetapkan rencana masa depan Senpai, semuanya berjalan mulus?"
"Maksudmu?"
"Hm ... tuntutan orang tua dan lain-lain."
Eijun diam sejenak untuk berpikir. "Kupikir tidak, mereka tidak terlau banyak berkomentar." jawab Eijun. "Lalu, bagaimana denganmu?" tanya Eijun pada Takuma. "Apa kau memiliki kesulitan dalam menjawabnya?"
"Aku..."
"Hm?"
"Ayahku ingin aku mendalami bidang hukum. Maksudku, dia ingin aku menjadi seorang pengacara." jawab Takuma pelan.
Eijun mengangguk pelan. "Lalu, bagaimana denganmu? Apa yang kau inginkan di masa depan?" tanyanya pada Takuma.
"Aku ... entahlah? Sepertinya aku akan menuruti apa kata Ayahku saja."
"Bagaimana dengan bisbol?" tanya Eijun langsung.
Takuma tidak menjawab dengan cepat, melainkan ia hanya menunduk. Jari tangannya kembali menyatu dengan gelisah. "Mungkin selesai sampai SMA saja."
"Baiklah, aku akan bertanya. Seperti apa bisbol di matamu?"
Takuma menatap Eijun. "Olahraga yang seru dan mendebarkan. Membuat jantungku berdebar penuh tantangan. Aku menikmatinya, seperti latihan neraka atau hal-hal yang kita semua lakukan di sini."
"Jadi, kau di tuntut oleh Ayahmu menjadi pengacara?" tanya Eijun sekali lagi.
"Ya," Takuma menatap lapangan lagi. Permainan masih belum selesai. "Itu adalah keinginan Ayahku saat muda, tapi ia tidak mencapainya. Jadi ia berharap padaku." jawab Takuma.
Eijun diam sejenak kemudian menepuk punggung Takuma. "Gomen, Seto-kun. Aku kurang bagus dalam hal seperti ini. Tapi bagaimana kalau bicarakan baik-baik dengan Ayahmu? Apa kau sudah membicarakannya?"
Takuma menggeleng pelan.
"Katakan padanya dengan jujur apa yang kau inginkan di masa depan. Bicara dari hati ke hati, kenapa tidak? Lakukanlah dengan Ayahmu. Dari yang ku lihat kau memiliki potensi di bidang bisbol. Hahaha—aku agak bodoh ya? Tentu saja kau punya potensi karena kita pernah ke Koshien bersama-sama!" Eijun menyeru di akhir kalimat membuat Takuma sedikit meringis. Namun Eijun tersenyum pada Takuma. "Ikuti kata hatimu, apa yang kau inginkan dan apa cita-citamu merupakan keputusanmu sendiri. Pilih dengan hati-hati agar kau tidak menyesal. Oke?"
Takuma diam sesaat kemudian tersenyum kecil. "Oke, aku mengerti. Terima kasih, Senpai."
"Sama-sama, hahahaha!" Eijun tergelak. Ia menepuk bahu Takuma beberapa kali kemudian berkata. "Bagaimana kalau kau besok datang ke Daigaku-Sai kami? Aku menyanyi di sana loh."
"Eeeh, yang benar, Senpai?"
Eijun mengangguk lalu berdiri. "Nah, sudah saatnya aku kembali setelah mangkir dari latihan."
...
Daigaku-Sai pertamanya di kampus sangat ramai. Banyak stan-stan yang menarik perhatian mereka. Eijun, Shinji dan Hideaki berjalan dari stan ke stan, mencicipi berbagai macam makanan yang menarik perhatian Eijun, lalu jajanan manis kesukaan Shinji dan pernak-pernik yang menarik perhatian Hideaki.
Hideaki melihat layar ponsel dan membacanya dengan seksama balasan dari Haruichi. Di ponsel itu terdapat gantungan kucing yang baru saja ia beli. "Kominato dan Furuya akan terlambat, mereka datang bersamaan."
Eijun mengangguk kemudian menelan makanannya. "Katakan pada mereka untuk hati-hati."
"Oke."
Shinji melihat jam di tangannya. "Kau tampil jam berapa, Sawamura?"
"Hm? Sebentar..." Ia sibuk memotret berbagai macam makanan yang ia temui lalu dikirimkan pada pacarnya—Aotsuki Wakana. Oh ya, siapa sangka bahwa mereka akan berkencan? Itu terjadi lima bulan yang lalu. "Aku harus tampil sebelum jam istirahat tiba ... seharusnya jam sebe—tunggu! Sekarang jam sebelas kurang?!" Eijun berseru melihat jam di ponselnya. "Mampus, paket dataku habis!" ia berteriak lagi ketika tahu paket datanya telah habis alhasil para Senpai tidak bisa menghubunginya.
Shinji dan Hideaki semakin panik. "Ka-Kalau begitu ayo lari, Sawamura! Toujo, ayo kita juga harus ke sana!" serunya diangguki Hideaki.
Eijun kemudian mulai berlari menuju aula utama kampus, tempat di mana ia akan tampil nanti. Di sana sesak di penuhi orang-orang. Tapi untungnya Shinji dan Hideaki masih bisa menonton dari jarak jauh sementara Eijun mulai pergi ke belakang panggung menemui para Senpai.
...
Eijun menatap para Senpainya dengan gugup. Kali ini mereka berada di atas panggung. Akihito-senpai merupakan seorang gitaris sedangkan Kitamura-senpai merupakan drumernya. Mereka mengangguk pada Eijun, seolah memberikan semangat apinya agar Eijun tidak gugup. Eijun tersenyum kemudian berbalik, menatap para penonton yang sedang bersorak memanggil Akihito dan Kitamura. Netra emasnya menangkap rambut biru tua serta rambut merah jambu mencolok di bagian belakang para penonton. Kedua orang itu mengangkat salah satu tangannya ke atas, menyapa Eijun. Eijun balas menyapa mereka dengan senyuman dan dagu yang terangkat.
"Selamat siang," Akihito yang pertama kali berbicara dan meminjam mic milik Eijun. "Senang melihat festival kali ini begitu meriah, aku melihat wajah-wajah baru di dalam lautan manusia di depanku~ hahaha!" semua orang tertawa. "Mohon maaf bahwa vokalis kami; Kenji sedang tidak bisa hadir. Sebagai gantinya, kami membawa Sawamura Eijun yang di pilih langsung oleh Kenji untuk menggantikan dia! Semuanya, beri tepuk tangan untuk Sawamura Eijun si pemberani ini!" seru Akihito merangkul Eijun di bahunya.
Semua orang bertepuk tangan untuk Eijun, hal itu membuat Eijun sedikit malu dan bertambah gugup. "A-ah, terima kasih banyak semuanya, terima kasih."
"Lalu, semuanya! Selamat mendengarkan!" Akihito menutup pidatonya dan lampu mulai mati. Diawali dengan suara ketukan stik serta lampu yang hanya menyorot mereka bertiga, Eijun mulai fokus dengan suara musik di sekitarnya.
Netra emasnya melihat Takuma, Koushuu, Hirofumi dan beberapa teman seangkatannya masuk ke aula.
I know they don't like me that much
Guess that I don't dress how they want
I just wanna be myself
I can't be someone else
Try to color inside their lines
Try to live a life by design
I just wanna be myself
I can't be someone else, someone else
Teringat akan percakapannya dengan Takuma, ia juga sudah menemui beberapa orang yang memiliki permasalahan dengan Takuma. Dan mereka jauh lebih rumit daripada masalah Takuma sendiri.
They yell, they preach, I've heard it all before
"Be this, be that", I've heard it before, heard it before
Tapi ia bisa melihat adanya perubahan yang membuat bulu kuduknya merinding. Menurutnya, seseorang yang mengikuti mimpi dan mewujudkannya sesuai dengan yang ia rencanakan sangatlah hebat. Meski ia tahu seberapa banyak rintangan yang akan dihadapi, meski ia tahu bahwa semuanya tidak mudah, mereka pasti akan melaluinya dan menikmati hasilnya.
Big boys don't cry
Shoot low, aim high
Eat up, stay thin
Stand out, fit in
Good girls don't fight
Be you, dress right
White face, tan skin
Stand out, fit in
Capai impianmu yang tinggi, tidak peduli seberapa tingginya. Jika ada kesempatan, maka kamu harus mencobanya. Jika tidak, maka kamu akan menyesal seumur hidup. Kekalahan itu ada, kegagalan itu ada. Jika gagal maka yang harus kau lakukan adalah coba lagi, coba lagi dan coba lagi hingga berhasil.
Stand out, fit in
Stand out, fit in
Suatu hari, ketika ia lelah dengan bisbol dan pencapaiannya sebagai Ace, ia menangis di kamar. Kemudian Kuramochi Yoichi datang dan duduk di sampingnya, merangkul bahunya. Lalu di susul Masuko-senpai memberikan puding kesukaannya untuk Eijun.
"Masih banyak kesempatan, masih banyak juga yang harus kau capai, Sawamura. Menyerah itu tindakan pengecut. Jika kau laki-laki dan kau menginginkan Ace, maka kejarlah sampai dapat, Sawamura!"
Onaji koto no kurikaeshi de
Akiaki shiteiru hibi
Tada jibunrashiku aritai
Arinomama de
Can't be someone else
They yell, they preach, I've heard it all before
"Be this, be that", I've heard it before, heard it before
"Bukankah menjadi pengacara itu pekerjaan yang menjamin? Bukannya mau menyakitimu, dunia bisbol itu luas, Nak. Ada banyak orang hebat yang diberkahi kemampuan alami. Kau yang perlu belajar keras mungkin akan tergeser dengan mereka yang diberkahi kemampuan alami." Seto Takuma mengingat perkataan Ayahnya saat itu.
Aku tidak mau! Takuma berteriak keras di dalam hatinya. Ia mengepal. Bisbol adalah hidupku, bagian dari hidupku! Aku tidak rela melepaskannya begitu saja!
Big boys don't cry
Shoot low, aim high
Eat up, stay thin
Stand out, fit in
Good girls don't fight
Be you, dress right
White face, tan skin
Stand out, fit in
"Ada banyak kampus terbaik di Jepang, kenapa harus London?" Kakaknya—Ryosuke bertanya saat Haruichi memilih keputusannya.
Haruichi tersenyum miring. "Aku sudah tahu banyak bisbol di Jepang. Aku ingin melihatnya langsung di luar sana. Seperti apa sensasinya, seperti apa timnya, seperti apa permainannya."
"Bisbol tetaplah bisbol bukan?" Ryosuke mempertegas.
Haruichi mengangguk. "Hm, tetap bisbol. Semuanya sama saja."
"Lalu, kenapa harus London?"
"Karena..." Haruichi menatap Kakaknya. "Sampai saat ini aku hanya mengejar bayang-bayangmu, Aniki. Maka dari itu, aku ingin tahu sendiri apa arti bisbol dan kerja sama tim di luar sana. Biarkanlah aku selesai dengan bayang-bayangmu dan berjalan sendiri di dunia bisbol yang luas."
Stand out fit in
Stand out fit in
Stand out fit in
Stand out fit in
I am who I am, no matter what
Never changing, no matter what, no matter what
"Tidak jadi di Hokkaido, kenapa?"
Satoru memainkan bola di tangannya. "Aku ingin menemukan pengalaman lain di luar sana. Aku bertekad untuk melawan Eijun suatu saat ini. Maka dari itu, aku ingin memiliki banyak pengalaman dari berbagai orang yang aku temui." ia kemudian menatap Kakeknya. "Eijun adalah rival yang aku hormati. Melawannya butuh banyak kemampuan serta pengalaman dari berbagai hal. Ketika semuanya sudah cukup, maka kami akan bertanding dengan profesional."
Big boys don't cry
Shoot low, aim high
Eat up, stay thin
Stand out, fit in
Good girls don't fight
Be you, dress right
White face, tan skin
Stand out, fit in
"Kejarlah apa yang kau ingin capai, Nak," Ayahnya menepuk pelan dadanya. Senyum miringnya hampir mirip dengan Eijun. "Perkebunan biarlah kami yang mengurusnya. Bukan menjadi tanggung jawabmu. Kejar cita-citamu sampai dapat, kalau kau jatuh, jangan lupa untuk bangun sendiri, oke?"
Eijun tertawa kemudian memeluk Ayahnya. "Baik!"
Big boys don't cry
Shoot low, aim high
Eat up, stay thin
Stand out, fit in
Good girls don't fight
Be you, dress right
White face, tan skin
Stand out, fit in
Yoichi tertawa, Kazuya hanya menahan senyum. "Dia banyak berubah! Rambutnya agak pendek. Kau lihat?!" seru Yoichi di samping Kazuya.
Kazuya mengangguk. "Kukira itu bukan dia." ia setuju dengan Yoichi.
"Aku punya ide!" Yoichi menatap Kazuya dengan binar matanya yang penuh dengan rasa antusias. "Sebelum pulang, bagaimana kita bermain bisbol? Kau lihat? Ada anak-anak Seidou di sini, para Senpai juga—" ia menunjuk tepat di mana Isashiki Jun serta Yuki Tetsuya sedang mengobrol. "Kelihatannya akan menarik bukan?"
Kazuya mendengkus. "Ide yang tidak buruk, Mochi."
Stand out fit in
Stand out fit in
Stand out fit in
Stand out fit in
Eijun menghentakkan kakinya penuh semangat yang membara. Keringat menetes di dahinya. Setelah lagu benar-benar berakhir, ia menatap langit-langit aula kemudian tersenyum pada para penonton. Memberi mereka hormat, sekaligus memberi mereka keberanian untuk yang sedang menentukan masa depan serta jati diri mereka.[]
SONG : Stand Out Fit In - ONE OK ROCK
Lyrics : Genius.
