Naruto : Ping!

Naruto : Ping!

Naruto : Awas kalau tidak datang!

Hinata : Mana?

Naruto : Cafe Iciraku

Hinata : Mana undangannya?

Naruto : Inikan sedang aku undang!

Hinata : Aku mau undangan tertulis, aku tidak mau pergi dan tetiba kamu mengatakan aku tidak diundang.

Naruto : Sial! Kau'kan punya bukti chat.

Hinata : Chat bisa di hapus.

Naruto : POKOKNYA DATANG. Aku mengundang teman-teman SD kita dulu!

Hinata mendengus setelah meletakkan ponselnya ke atas kasur.

Oh, omong-omong Naruto adalah mantan kekasih Hinata dan lelaki itu tengah berulang tahun yang ke-27, 10 Oktober tepat pada hari ini.

...

18.32

"Mantanku mengundangku ke pesta ulang tahunnya, bolehkah aku pergi?" tanya Hinata pada lelaki bersurai perak yang berstatus sebagai pacarnya. "Sebenarnya aku akan tetap pergi meski kamu tidak mengizinkan, Toneri hehe." Tambahnya sedikit terkekeh.

"Tentu saja, kamu boleh pergi jika ingin." Lelaki itu memasang raut wajah agak jengkel sambil terus memandangi Hinata di depan lemari. "Lagipula kamu sudah berdandan, tidak mungkin kamu akan mendengarkan." Toneri memperbaiki posisi duduknya di atas kursi dengan menopang dagunya ke atas meja rias.

"Kita bukan anak kecil yang akan meributkan masalah cemburu seperti itu, bukan? Dan aku hanya bersemangat. Naruto mengundang teman-teman SD kami, ini seperti reunian." Hinata menjawab jujur. Sudah berapa tahun berlalu Hinata tidak pernah bertemu secara langsung teman-temannya, itu mengapa Hinata bersemangat.

Toneri sedikit tersenyum sebelum berdiri dengan menghampiri Hinata. "Sudah siap?"

Hinata mengangguk. Dia sudah rapi dengan dress baby pink polos sepanjang lutut. "Ayo aku antarkan." Sekali lagi Hinata mengangguk dan pergi keluar dari kamar bersama Toneri.

"Ah, aku lupa." Hinata berbalik berlari ke arah kasur mengambil kotak kado yang sudah terbungkus rapi.

.

.

.

HADIAH

By Author03

One piw piw

.

.

.

Naruto : Boneka lagi, boneka lagi dan warna pink. Aku bukan anak kecil!

Hinata : Huft! Kamu'kan kaya sekarang, apa yang tidak bisa kamu beli? Aku bingung ingin memberi apa.

Pesta ulang tahun semalam berjalan dengan baik. Hinata juga merasa sangat bahagia bertemu lagi teman-temannya setelah sekian lama tapi Naruto benar- benar membuatnya kesal.

Naruto : Masakan aku mie di rumahku.

Hinata : Oh, tidak bisa.

Naruto : Anggap saja itu hadiah untukku!

Sekali lagi Hinata mendengus karena tingkah Naruto.

Hinata : Kamu menyusahkan sekali. Tidak mau.

Naruto : Jika kamu tidak datang, akan aku teror sampai kamu menampakkan batang hidungmu!

...

Hinata POV

Dan di sinilah aku. Hei, jangan salah paham. Lelaki itu tidak bercanda, dia akan terus memaksa sampai mendapatkan apa maunya.

Aku menekan bel yang ada di samping pintu, sesaat aku melirik ke atas langit yang mulai gelap, jam sudah menunjuk pukul tujuh. Aku harusnya tidak datang, tentu saja aku tidak mau pacar aku dan pacar dia-yang berada di kota yang berbeda-salah paham tapi membiarkan lelaki itu menerorku bukan ide yang baik, terlebih lagi aku merasa Naruto tidak memiliki niat apapun padaku, itu mengapa aku datang-dengan izin pacarku pastinya.

"Halo, Kushina-san." Aku tersenyum memamerkan gigi rapiku pada seorang perempuan bersurai merah yang baru saja membukakan pintu.

"Hinata...?" Wanita cantik itu, Ibu Naruto sedikit tekejut melihatku.

"Naruto memintaku datang." Dia mengangguk paham dan segera menyingkir untuk membiarkan aku masuk. Rumah ini bukan rumah yang asing untukku. Dulu, di saat aku bersama Naruto aku sering kemari, itu mengapa aku bisa dengan enteng dan mudah menuju ke arah dapur.

"Menyebalkan sekali." Aku mendengus sambil mengambil panci dari dalam lemari.

"Astaga!" Jantungku seperti meloncat keluar ketika aku berbalik dan mendapati Naruto entah sejak kapan berdiri di belakangku.

"Aku mau ramen." Kalimat pertama yang keluar dari mulut menyebalkannya.

"Aku tahu, aku tahu. Aku sampai membelikan mozzarella karena aku tahu kamu akan suka." ucapku sambil menunjuk mozzarella di dalam kantong kecil yang sebelumnya aku letak di atas meja. "Pergi sana, aku tak bisa kerja kalau kamu terus melihatku." lanjutku mengusirnya dan dia pergi mengambil duduk di meja makan tak jauh dari tempatku memasak.

Hinata POV end

Naruto memalingkan wajah ketika Hinata mematikan kompor. Gadis itu menghampiri dengan semangkuk ramen yang sangat menggiurkan, dia meletakkan ramen itu tepat di depan Naruto.

"Nah, selamat ulang tahun." ucap Hinata. "Kalau begitu aku akan pul-"

"Duduk." Naruto menyela membuat alis Hinata tertekuk. Hinata paham akan perintah itu tapi Hinata tidak menyukainya. "Aku ada sesuatu untukmu. Jadi, tunggu di sini."

Percayalah, perkataannya sama sekali tak membuat Hinata tertarik tapi Hinata menurut, dia mengambil duduk di depan Naruto. "Kamu paling hanya ingin mengerjaiku." kata Hinata tapi Naruto mengabaikannya dengan mulai sibuk pada ramen.

"Ah~ Ini menyenangkan." Lelaki itu tersenyum puas sekali setelah mengosongkan mangkuk yang berisi ramen. Lihatlah dia sampai mengelus-elus perut dan seolah lupa akan keberadaan Hinata.

"Aku bertanya-tanya apakah kamu sedang bersikap baik padaku?" Sebelumnya tidak sempat Hinata jelaskan tapi Naruto baru saja pulang ke Konoha setelah hampir tiga tahun tidak pulang, dia bekerja keras di kota lain dan dia sangat sukses sekarang, mungkin itu alasannya mengapa dia begitu santai di tempat kelahirannya sekarang.

"Aku tidak bersikap baik." Mata Naruto memicing. "Aku hanya kesal kamu memberiku boneka pink lagi!" Hinata tak bisa menahan tawa karena wajah kesal Naruto.

"Sudah kukatakan aku tidak tahu ingin memberi apa."

"Bohong," Bantah Naruto. "Kamu hanya senang mengerjaiku." Sebelumnya, beberapa tahun yang lalu dimana mereka masih bersama. Hinata selalu memberi boneka pink sebagai hadiah ulang tahun alasannya hanya karena lucu.

"Aku tidak." jawab Hinata tapi tampak jelas sekali dia berbohong. "Aku hanya ingat dulu waktu dimana kamu berebut boneka beruang pink dengan adikmu hanya karena dia menginginkannya. Itu sangat manis.

Naruto membuang wajah. Ia ingat hari itu, hari dimana dia menjaga mati-matian barang pemberian Hinata.

"Tapi jangan salah paham, aku tidak bermaksud apapun." Lanjut Hinata membuat Naruto kembali menatap.

"Tunggu di sini." Hinata tak melepaskan matanya dari punggung Naruto yang menjauh dan tak diperlukan waktu lama lelaki itu kembali muncul dengan meletakkan sekotak hp di depannya. "Untukmu." katanya.

Hinata terkekeh kecil. "Apa ini? Isinya nasi lemak?" Kotaknya memang kotak hp iphone tapi Hinata pernah melihat candaan ini, dimana isinya tidak lain adalah makanan tapi raut wajah Hinata berubah menjadi terkejut ketika dia membuka tutup kotak hp itu dan melihat hp pengeluaran terbaru terbaring indah di sana.

"Apa ini? Hp mainan?" Meski Hinata bertanya seperti itu tapi hp di depan matanya tak tampak seperti palsu.

"Itu hadiah untukmu." Hinata menoleh, mempertemukan kontak mata.

"Aku tidak mau." Tolak Hinata cepat. "Mengapa kamu memberikannya untukku?" Kaget? Tentu saja! Belum pernah Hinata menerima hadiah semahal ini.

"Aku memiliki banyak uang, kenapa tidak?"

"Simpan saja uangmu." Hinata bangkit dari posisi duduknya. "Aku akan pulang."

"Padahal hadiah itu sebagai rasa terima kasihku karena dulu kamu sering mentraktirku makan." Helaan nafas Naruto menghentikan langkah kaki Hinata.

"Dengan benda itu, aku bisa mentraktirmu seratus kali lagi dan juga aku tidak mau ada salah paham di antara pacar kita masing-masing."

"Ambil saja dan buang kemudian."

"…"

...

"Naruto benar-benar menyebalkan, entah apa maksudnya." Hinata melempar tas kecilnya ke atas kasur sebelum mendudukkan diri di tempat yang sama. Matanya menatap kotak hp yang dia keluarkan dari kantong. "Dia pasti sudah gila memberiku hadiah semahal ini." Hinata membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya tapi matanya mendapati kertas putih yang terlipat rapi di sana.

Meletakkan hp hitam mahal tadi, Hinata meraih kertas yang dia lihat dan membukanya.

Sudah lama sekali aku tak melihatmu. Besok adalah hari ulang tahunku dan aku berencana mengadakan pesta karena kebetulan sekali aku mengingat kita berada di kota yang sama. Aku tahu kamu pasti berpikiran untuk tidak datang tapi aku akan bersusah payah mencari cara agar kamu mau.

Aku ingin bicara denganmu, Hinata tapi kurasa tidak bisa aku katakan secara langsung.

Mata Hinata mengerjap beberapa kali. "Apa maksudnya ini?" Ingin rasanya tidak melanjutkan tulisan yang tercetak tapi Hinata tidak bisa menahannya.

Aku rasa setidaknya untuk sekali aku harus mengeluarkan apa yang ada di dalam hatiku jadi tidak ada cerita yang tertinggal.

Dulu, di saat kita bersama aku sangat mencintaimu hingga sampai beberapa tahun kemudian. Aku terkadang mengingatmu meski aku sudah memiliki hubungan dengan perempuan lain tapi jangan salah paham! Aku benar-benar mencintai pacarku. Aku hanya berpikir mungkin aku akan benar-benar bisa melupakanmu setelah aku mengatakan semuanya.

Apakah kamu ingat saat di mana selalu aku tanyakan bagaimana perasaanmu padaku? Jawabanmu selalu saja sama, kamu selalu katakan masih memiliki perasaan padaku tapi entah mengapa aku tidak berani memintamu untuk kembali. Sepertinya aku cukup bodoh, aku menunggumu untuk memintaku kembali hingga pada akhirnya kita jatuh cinta kepada orang lain.

Apakah aku menyesal? Aku tidak tahu atau mungkinkah kamu menyesal? Aku juga tidak tahu dan aku tidak ingin lagi tahu.

Aku merasa lega bisa mengeluarkan beban yang ada di dalam hatiku dan aku harap kamu akan meninggalkan kepalaku juga.

Tawa kecil lolos dari mulut Hinata tanpa aba-aba. Entah mengapa ia tak bisa berhenti tersenyum. Pesan yang Naruto beri seolah menggelitik samping badannya.

...

Ting

Suara singkat dari hp menandakan adanya pesan masuk. Naruto menghentikan acara mengelap rambutnya dengan handuk dan meraih ponsel dari atas meja kecil di samping kasur.

Hinata : Aku selalu ingin tahu seperti apa perasaanmu padaku. Meski aku tidak berani mengharapkanmu kembali tapi aku selalu bertanya-tanya, terima kasih sudah memberitahuku dan maafkan aku karena aku bodoh.

Hinata : Terima kasih untuk tidak membenciku

Seutas senyum hadir di bibir Naruto. Lelaki itu tampak senang dan juga lega. "Kamu memang bodoh." Meletakkan kembali hpnya, dia melanjutkan acara mengelap rambut yang terjeda.

.

.

Tamat

.

.

.

"Apa kamu tahu arti dari warna pink untukku? Mengapa selalu aku berikan boneka berwarna pink padamu?"

"Apa? Katakan padaku."

"Kelembutan."

"Lihat wajahmu, melihat wajahmu membuat aku berpikir betapa menyebalkan kamu. Namun, ketika aku mengingat kamu memiliki boneka berwarna pink, aku teringat akan betapa lembut kamu memperlakukanku. Aku menyukainya. Aku sangat menyukai ketika kamu memperlakukan aku seperti kaca indah yang harus ditangani dengan sangat hati-hati."

"Itu mengapa orang-orang selalu bilang don't book judge a cover by."

"Kamu bicara apa, sial…."

.

.

.

.

Halo guysss

Maapkan ehe sedikit cerpen untuk menghibur maafkan jika tidak bagus. author berusaha