終点 (C) Iki Hayato

.

EXO (C) SM entertainment, God, and their families

.

Main pair ChanBaek. pair lain bakal muncul sesuai alur

.

Warning : BXB, abusive.

.

Baekhyun adalah siswa beasiswa yang culun dan sering menjadi sasaran bully dari orang sekitarnya, terutama Park Chanyeol. Namun, saat Baekhyun naik ke kelas 3 SMA. Tiba-tiba Baekhyun bisa melihat makhluk halus yang ada di sekitarnya, terutama saat dirinya berada di sekolah. Dan saat itu pula Baekhyun berteman dengan arwah-arwah yang belum menyelesaikan urusan mereka masing-masing.

.

Enjoy


Buk!

Satu pukulan mengenai rahang Baekhyun.

Buk!

Satu tendangan kuat mengenai perut Baekhyun. Hingga empunya tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya saking sakitnya sedangkan orang-orang yang menganiayanya hanya tertawa-tawa melihat tubuh Baekhyun yang bergetar menahan sakit di sekujur tubuhnya.

"Bagaimana bisa kau tidak menyelesaikan PR kami?" tanya lelaki yang memiliki suara bass itu.

"Aaakkkhhh..." Baekhyun merintih pelan saat kaki besar lelaki itu menendang perutnya. Luka semalam yang di sebabkan ayahnya masih basah. Baekhyun dapat merasakan darah segar mengalir di perutnya.

Sebenarnya, Baekhyun di suruh mengerjakan PR orang-orang yang ada di depannya kemarin. Namun, karena masalah pribadinya. Baekhyun hanya bisa mengerjakan PR miliknya.

"Tidak mau menjawab ya? Jadi beasiswa yang di berikan oleh sekolah ini padamu apa hah?" bentak lelaki itu.

Ya, orang yang tengah memukuli Baekhyun sekarang adalah Park Chanyeol. anak dari pemilik sekolah dari Baekhyun sekolah. Lelaki itu menarik rambut Baekhyun hingga empunya mendongak menatap wajah tampan Chanyeol yang menatapnya penuh amarah.

"Karena dirimu, kami di hukum oleh Yang Seonsaengnim!"

Buk!

Chanyeol memukul Baekhyun tepat di pipinya, hingga bibir Baekhyun terlihat sedikit sobek. Darah pekat mengalir di sudut bibirnya. Setelah itu Baekhyun di biarkan terbaring begitu saja di halaman belakang sedangkan para penguasa sekolah itu berjalan ke tempat biasa mereka. Setelah beberapa lama kemudian, Baekhyun berusaha bangkit dan berjalan menuju UKS dengan tertatih-tatih. Sakit di perutnya membuatnya kesulitan untuk berjalan.

Baekhyun menghiraukan tatapan aneh dari orang-orang sekitarnya melihat dia jalan tertatih-tatih. Baekhyun berhenti di pintu UKS dan membukanya. Doyoung, salah satu anggota PMR sekolah yang masih kelas 1 terkejut melihatnya. Dengan cepat pemuda kelinci itu menuntunnya ke salah satu ranjang UKS.

"Hyung, mereka memukulimu lagi?" tanya Doyoung sambil menangkup wajah Baekhyun.

Baekhyun tidak menjawab dia hanya menunduk dalam keterdiaman. Doyoung menghela napas pelan, lalu mengambil kotak obat dan mulai mengobati lebam di wajah Baekhyun. Tanpa sengaja, Doyoung menyenggol perut Baekhyun hingga empunya kembali kesakitan. Ekspresi Doyoung berubah panik melihat Baekhyun yang kesakitan.

"Apa mereka melukaimu di sini? Coba buka baju hyung, agar aku bisa mengobatinya." Pinta Doyoung.

"Tidak.. jika ada yang masuk bagaimana?" tolak Baekhyun.

"Aku akan mengunci pintu UKS, nanti hyung buka baju saja." Doyoung beranjak dari tempat duduknya dan mengunci pintu UKS.

Baekhyun mulai membuka blazer sekolahnya, rompi, dasi, lalu kemejanya yang banyak bercak darah hingga Doyoung terkejut melihatnya. Heol!? Apa mereka melukai Baekhyun sejahat ini? doyoung semaki kaget melihat luka yang cukup besar terbuka di perut Baekhyun. Diam-diam Doyoung meringis melihatnya. Pasti sakit sekali.

"Hyung! Apa mereka melakukan ini kepadamu!?" tanya Doyoung dengan nada tinggi. Doyoung benar-benar sudah tidak tahan lagi.

Baekhyun kembali terdiam sebagai jawabannya. Dan Doyoung di buat frustasi karena itu.

"Hyung! Tolong katakan sesuatu!" desak Doyoung.

Baekhyun menggigit bibirnya. "Mereka memang menendangi perutku, tapi perutku begini sepenuhnya bukan karena mereka." Jawab Baekhyun.

"Lalu siapa yang menyebabkan perutmu begini hyung?" tanya Doyoung lagi.

Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Mian, aku tidak bisa mengatakannya padamu. Doyoung ah." Jawab Baekhyun.

Doyoung menatap Baekhyun sedih. "Hyung tidak berbohong demi mereka bukan?" tanya Doyoung tidak percaya.

Baekhyun terkekeh pelan mendengarnya, tangan satunya ia gunakan untuk mengelus pelan rambut Doyoung. "Kali ini aku berbicara yang sebenarnya, Doyoung ah." Jawab Baekhyun.

"Yasudah terserah hyung saja, lebih baik aku mengobati perut hyung." Doyoung mulai membersihkan darah yang masih segar itu dari perut Baekhyun.

Baekhyun sendiri menahan diri untuk tidak berteriak, menangis, atau meringis. Rasa sakit diperutnya memang tidak main-main. Baekhyun melirik ke lemari UKS.

"Doyoung ah, boleh aku pinjam seragam baru? Aku mau mencuci seragam yang kotor ini." tanya Baekhyun.

"Boleh kok hyung, nanti aku ambilkan setelah mengobati lukamu." Ucap Doyoung sambil membalut plester beserta perban di perut Baekhyun.

Setelah selesai membalut luka Baekhyun, Doyoung membuka lemari UKS dan memberikan salah satu seragam yang masih bersih kepada Baekhyun. Baekhyun langsung memakainya setelah di berikan. Tetapi seragam itu malah terlihat kebesaran di tubuh mungil Baekhyun. Seragam itu kira-kira seukuran dengan seragam yang di pakai Chanyeol.

"Maaf hyung, semua seragamnya tinggal ukuran sebesar itu saja." sesal Doyoung sambil menggaruk tengkuknya menahan gemas.

Tidak bisa Doyoung pungkiri jika ia merasa gemas dengan Baekhyun yang memakai seragam kebesaran itu. Baekhyun benar-benar terlihat imut dan menggemaskan dengan seragam oversized itu.

"Tidak apa-apa, ini sudah lebih cukup." Baekhyun menggulung lengan seragamnya hingga sesikutnya.

Lalu pemuda cantik itu membawa seragamnya yang kotor itu ke wastafel UKS, beruntung darahnya itu masih baru jadi mudah di bersihkannya hanya dengan air dan sabun. Setelah seragam Baekhyun bersih, Baekhyun menjemurnya di jendela UKS.

"Doyoung ah, aku numpang menjemur sebentar tidak apa-apa kan? Nanti aku ambil kembali setelah jam pulang." Ucap Baekhyun sambil memakai dasi, rompi, dan blazernya kembali.

Doyoung tersenyum manis. "Ne, hyung." Balasnya.

Baekhyun membuka kunci UKS lalu keluar dari UKS. Saat Baekhyun berjalan kekelasnya, baanyak murid-murid yang ada di lorong menatapnya gemas. Heol! Siapa yang tidak gemas melihat pemuda seimut dan secantik Baekhyun memakai baju oversized begitu. Baekhyun jadi terlihat seperti anak kecil dengan baju kakaknya sekarang.

'Ah. Kiyowo!'

'Bagaimana bisa dia seimut ini'

'Aku ingin menculiknya!'

'Menggemaskan!'

Kira-kira begitulah apa yang di bisik-bisiki oleh murid-murid yang melihat Baekhyun. Yongguk, salah satu teman sepergank Chanyeol yang melihatnya langsung menyenggol bahunya.

"Hei, bukankah itu si culun Byun? Bagaimana bisa dia berpenampilan seperti itu?" ucap Yongguk.

Yang lainnya mengikuti arah pandang Yongguk yang memperhatikan Baekhyun berjalan ke kelasnya dengan sedikit tertatih. Oke, satu gank juga ikutan memuji bagaimana imutnya seorang Byun Baekhyun sekarang.

"Aku baru tahu jika dia bisa berpenampilan seperti ini." ucap Zico.

"Aku meragukan penampilan biasa dia" timpal Zelo.

Saat teman-teman satu ganknya memuji penampilan Baekhyun diam-diam. Chanyeol menatap Baekhyun tidak suka. Penampilan Baekhyun dengan seragam kebesaran menuai pujian dari banyak orang. Dan entah kenapa Chanyeol tidak menyukai itu, artinya Baekhyun sendiri cari perhatian dengan orang lain bukan? Begitulah yang Chanyeol pikir.

"Sepetinya dia masih minta tambah peringatan tadi." ucap Chanyeol sambil beranjak dari tempat duduknya.

Baru saja lelaki bermarga Park itu hendak menghampiri Baekhyun, bel masuk istirahat berbunyi dengan kencang. Sontak murid-murid yang masih di lorong dan di luar kelas langsung masuk ke dalam kelasnya tak terkecuali Baekhyun, karena mereka semua tidak mau kena hukum oleh Choi seonsaengnim, guru BP yang terkenal kejam dalam memberikan hukuman.

"Sudahlah Chanyeol, kau bisa memberinya pelajaran nanti. Aku tidak mau kena sembur guru itu." Ucap Kris.

Chanyeol tidak ada pilihan lain selain iya. Sebelum Chanyeol dan ganknya masuk kelas, Chanyeol menatap tajam pintu kelas Baekhyun.

'Lihat saja nanti kau Byun, berani-beraninya kau cari perhatian.'

.

.

.

.

Sementara itu, pelajaran sudah di mulai selama satu setengah jam. Baekhyun terlihat terantuk-antuk di kursinya. Dia merasa ngantuk sekali. tidak sengaja Baekhyun tertidur, hingga kepalanya terantuk mejanya hingga menimbulkan suara yang keras. Sontak Kim seonsaengnim menoleh ke arahnya beserta semua teman sekelasnya.

"Byun Baekhyun! Seonsaengnim lihat kau terantuk-antuk tadi." ucap guru paruh baya itu.

"Maafkan aku seosaengnim." Sesal Baekhyun.

Teman-teman sekelas Baekhyun tertawa mendengar pengakuan Baekhyun. Kim seonsaengnim menghela napas pelan.

"Kamu cuci muka dulu sana. Seonsaengnim berikan waktu dua menit untuk cuci muka." Ucap guru tersebut.

Baekhyun mengiyakan perintah Kim seonsaengnim, lalu pergi ke toilet dengan langkah yang cepat. Saat di toilet, Baekhyun membasuh wajahnya beberapa kali. Dirinya memandang datar pantulan bayangannya yang ada di cermin, perlahan tangan lentiknya menyentuh pipinya yang terdapat plester.

"Kau terlihat menyedihkan sekali." gumam Baekhyun pada dirinya sendiri.

Baekhyun membasuh wajahnya sekali lagi, tetapi tiba-tiba atensinya teralihkan.

Prang!

Suara peralatan kebersihan terjatuh dari ruang khusus penyimpanan, Baekhyun menoleh ke sampingnya dengan tatapan kaget. Pasalnya ada pemuda seperti dirinya tertimpa peralatan kebersihan tersebut.

"Hei, kau tidak apa-apa? Seharusnya kau pelan-

Ucapan Baekhyun terhenti saat menyadari jika pemuda itu tidak memiliki kaki, pemuda itu menoleh ke arah Baekhyun dengan tatapan tidak kalah kagetnya dengan Baekhyun. Mereka berdua terdiam hingga pemuda itu yang lebih dulu mengeluarkan suaranya.

"ka.. kau bisa meliha-

Sebelum pemuda itu menyelesaikan ucapannya Baekhyun langsung kabur dari kamar mandi, tidak mempedulikan jika pemuda itu terus memanggilnya. Dengan cepat Baekhyun membuka pintu kelasnya dengan kasar, penghuni kelasnya terkejut melihat Baekhyun yang terengah-engah begitu. Ia seperti habis melihat hantu.

Baekhyun memilih untuk tidak mempedulikan teman sekelasnya dan kembali duduk di kursinya. Baekhyun memijit kepalanya frustasi.

'Mimpi! Ini mimpi! Tidak mungkin aku bisa melihat makhluk halus!'

"Ahahahahahaha." Tubuh Baekhyun menegang mendengar suara tawa seorang wanita.

Tidak ada yang berani bercanda di tengah-tengah pelajaran Kim seonsaengnim kecuali... dengan cepat Baekhyun menoleh ke arah jendela. Dan seketika matanya membulat, dia sana Baekhyun melihat seorang gadis cantik berambut panjang hitam dengan seragam yang sama dengan seragam sekolahnya duduk dia atas pohon. Gadis itu tengah bermain dengan burung, dan yang menjadi fokus Baekhyun adalah gadis itu tidak memiliki kaki sama seperti pemuda yang ia lihat di toilet tadi. baekhyun mencubit tangannya untuk memastikan jika ini bukan mimpi.

Namun sayangnya tangannya terasa sakit, dan Baekhyun langsung tahu jika ini bukan mimpi.

Merasa di perhatikan, gadis itu ikutan menoleh ke arah Baekhyun. Dan seketika matanya ikutan membulat saat tahu Baekhyun tengah memperhatikan dirinya. Reaksinya sama seperti pemuda yang di lihat Baekhyun di toilet tadi.

"A... pa kau bisa-

"BYUN BAEKHYUN!"

Tubuh Baekhyun menegang mendengar panggilan dari Kim seonsaengnim yang kini menatapnya tajam. Pria paruh baya itu mulai berjalan mendekati Baekhyun.

"Ada apa denganmu hari ini Byun Baekhyun? Hari ini sepertinya kau tidak fokus dengan pelajaran." Ucap guru itu lagi.

"Maafkan aku seonsaengnim, aku akan lebih memperhatikan pelajaran nanti." Ucap Baekhyun sambil menundukan kepalanya.

Kim seonsaengnim menatap Baekhyun dengan tatapan yang sulit di artikan, guru paruh baya ini tahu jika Baekhyun sedang mengalami masa sulit. Terlihat dari matanya yang begitu kelam.

"Baiklah, untuk hari ini saya memberikan kamu keringanan. Tapi untuk selanjutnya saya tidak akan segan mengeluarkan kamu dari kelas saya Byun Baekhyun, jika kamu seperti ini lagi." Kim seonsaengnim kembali berjalan ke depan kelas dan meneruskan materi yang tertunda.

Baekhyun mengepalkan tangan mungilnya erat. 'Bagaimana bisa aku... melihat mereka?'

.

.

.

.

.

16.05 PM KST

Baekhyun duduk di kereta sambil memeluk tasnya dengan erat, pasalnya dia melihat sosok makhluk halus lagi di kereta. Sosok itu menggunakan jas kantoran dengan wajah menunduk, aura suram makhluk itu menyebar hingga Baekhyun merinding sendiri melihatnya. Baekhyun hampir lupa jika pemberhentiannya sekaligus pemberhentian terakhir kereta ini di stasiun yang tidak terlalu ramai. Di tambah lagi banyak rumor yang mengatakan jika banyak orang yang bunuh diri di stasiun itu. Karena itulah stasiun itu nyaris sepi pengunjung.

"Selanjutnya, pemberhentian terakhir..."

Suara wanita itu membuyarkan lamunan Baekhyun, dengan cepat pemuda manis ini menggendong tasnya sepeti semula dan keluar dari kereta begiu pintu kereta terbuka. Udara dingin khas musim gugur menerpa wajahnya, di tambah lagi suasana suram stasiun ini membuat Baekhyun ingin langsung pergi dari sini. Tidak bohong jika Baekhyun itu sosok yang penakut.

Langkah Baekhyun kembali terhenti saat mendapati seorang pemuda yang seragamnya sama seperti dirinya duduk termenung di salah satu tempat duduk dengan tatapan kosong. Kakinya tidak ada sama sepeti dua hantu yang ia lihat tadi siang. Baekhyun yang tidak mau berurusan dengan hantu itu lebih memilih untuk kabur duluan.

Saat Baekhyun berjalan dengan cepat, tanpa sengaja mata mereka bertemu. Dan saat itu juga Baekhyun langsung kabur dari sana tanpa menghiraukan tatapan kaget dari sang hantu. Beberapa lama kemudian, Baekhyun sampai di rumahnya. Ekspresinya berubah kelam dalam sekejap. Perlahan Baekhyun membuka pintu rumahnya dan masuk. Bagian dalam rumahnya yang remang-remang dan berbau soju membuatnya muak.

Perlahan Baekhyun mendekati sesosok wanita paruh baya yang tengah tertidur di ruang tengah. Perlahan tangan lentik itu menyisipkan sejumput rambut milik wanita itu ke belakang telinganya. Baekhyun pun menempelkan pipi mereka, seakan mentransfer rasa hangat ke wanita itu.

"Eomma, aku pulang." Ucapnya lirih.

Wanita yang Baekhyun panggil eomma itu hanya menjawab dengan gumaman kecil yang tidak dapat terdengar dengan jelas, namun wanita itu terlihat senang. Terbukti dari sudut bibirnya terangkat saat Baekhyun menempelkan pipi mereka sekaligus menggeseknya pelan.

"Sebaiknya eomma makan. Aku sudah membeli makanan saat aku pulang sekolah tadi." baekhyun bangkit dari sofa dan mengeluarkan makanan itu dalam tasnya.

Baekhyun menghangatkan makanan dan meletakan di hadapan ibunya. Baekhyun pun membantu ibunya untuk duduk. Ibu Baekhyun makan makanan itu dengan tatapan sendu.

"Baekhyun, mianhae. Karena kami... masa remajamu rusak.." sesal ibu Baekhyun.

Mata Baekhyun membulat mendengarnya, hatinya terasa di remas setelah mendengar perkataan ibunya tadi. "Ani... bukan salah kalian... ibu tidak perlu merasa menyesal denganku." Ucap Baekhyun dengan cepat.

Kriet...

Suara pagar terbuka membuat atensi Baekhyun dan ibunya teralihkan, wajah Baekhyun menjadi horror setelahnya, bahkan ibunya. Tanpa sadar tubuh mungilnya bergetar perlahan Baekhyun memundurkan tubuhnya hingga terpentuk dinding. Ibunya yang sadar duluan langsung menariknya masuk ke dalam kamarnya.

"Baekhyun... masuklah. Dan jangan keluar sampai besok pagi." Ucap ibunya di sertai remasan pada bahu Baekhyun.

"Ta... tapi.."

"Ikuti apa kata eomma!" perintah ibu baekhyun dengan nada final.

Baekhyun tidak ada pilihan lain selain mengiyakan perkataan eommanya. Baekhyun masuk ke dalam kamarnya sekaligus mengunci pintu kamarnya. Baekhyun langsung mengambil ponselnya sekaligus earphone-nya dan memasangkan ke telinganya. Membiarkan aliran musik memenuhi telinganya dengan volume tertinggi. Tetapi walau begitu...

Buk!

Suara pukulan dan lain-lain terus terdengar di telinganya. Walau ia tidak mendengar teriakan caci makian ayahnya terhadap dirinya dan ibunya. Tanpa sadar, Baekhyun menitikkan air matanya dan meremas sprei kasurnya.

'Kapan ini berakhir?'

.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya Baekhyun berjalan pelan ke stasiun biasa. Dirinya memandangi kerikil di sekitar rel kereta sekaligus merasakan angin sepoi-sepoi khas musim gugur. Baekhyun meringis pelan sambil mengelus pipinya yang terdapat lebam baru. Sebenarnya bukan hanya di wajahnya, tapi di punggungnya sekaligus kaki kena amukan dari ayahnya. Entah apa yang di pikirkan pria paruh baya itu.

Mata Baekhyun membulat saat merasakan hawa dingin di bahu kanannya, tidak hanya bahu kanannya. Tapi sekitarnya juga. Dengan ragu ia menoleh ke arah kanannya. Dan betapa kagetnya Baekhyun saat matanya langsung bertatapan dengan mata doe lelaki itu. Baekhyun nyaris teriak jika lelaki itu tidak mengeluarkan suaranya duluan.

"Ja.. jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu." Ucap hantu itu dengan cepat.

Baekhyun menghela napas lega lalu menyederkan tubuhnya pada dinding, hantu lelaki itu meneliti penampilan Baekhyun dari wajahnya hingga sepatunya. Lalu hantu itu tersenyum kecut.

"Sepertinya kau tidak sedang dalam keadaan baik." Celetuk hantu itu.

Baekhyun tersenyum kecut mendengarnya. "Begitulah..." balasnya.

Kemudian hantu itu mendudukan diri di samping Baekhyun, hantu itu tersenyum manis. Bibirnya terbentuk hati saat ia tersenyum.

"Perkenalkan namaku Do Kyungsoo. Umur asliku 22 tahun, namun wujudku berumur 18 tahun." Ucap hantu yang bernama Kyungsoo itu.

"Na... namaku...

"Namamu Byun Baekhyun bukan? Sudah dua tahun aku selalu melihatmu naik dan turun kereta dari stasiun ini, jadi tidak heran aku sudah hafal denganmu." Jelas Kyungsoo dengan antusias.

Baekhyun tersenyum mendengarnya. "Sepertinya hyung senang sekali." ucapnya.

Kyungsoo menganggukan kepalanya. "Ya. Aku sudah lama sendirian, sekarang aku senang sekali bisa berbicara dengan orang lain."

"Kenapa hyung tidak datang ke sekolah saja? di sekolah ada banyak makhluk seperti hyung." Usul Baekhyun.

Kyungsoo terdiam. Wajahnya berubah muram, Baekhyun jadi merasa bersalah di buatnya. "Ma.. maafkan aku hyung, aku tidak bermaksud-

"Tidak apa-apa." Ucap Kyungsoo dengan cepat.

Tidak lama kemudian terdengar suara pemberitahuan jika kereta akan segera sampai, dengan cepat Baekhyun berdiri dari tempat duduknya. Baekhyun menoleh ke arah Kyungsoo dengan tatapan tidak enak. Enatah kenapa dia tidak ingin meninggalkan Kyungsoo. Kyungsoo yang melihat ekspresi menggemaskan Baekhyun hanya bisa tertawa, perlahan Kyungsoo berdiri dari tempat duduknya dan mengelus kepala Baekhyun.

"Hei.. kenapa wajahmu sedih begitu?" tanyanya di sertai senyuman manisnya.

"Ba.. baru kali ini ada orang yang mau berbicara dengaku selain ibuku dan adik kelas yang ada di PMR. Dan aku sangat senang. Aku sebenarnya masih mau bersama hyung.." jawab Baekhyun dengan ekspresi malu-malu.

Mata Kyungsoo membulat mendengarnya. Kyungsoo juga tidak menyangka ada orang yang berbicara seperti ini kepadanya. Kemudian Kyungsoo tersenyum manis.

"Kita masih bisa bertemu setelah pulang sekolah nanti." Ucapnya.

Baekhyun tersenyum lebar mendengarnya, ini untuk pertama kalinya Baekhyun sesenang ini dengan orang lain. Saat itu juga, kereta berhenti di hadapan Baekhyun. Kyungsoo langsung mendorong Baekhyun ke dalam kabin kereta agar tidak ketinggalan kereta. Saat kereta itu mulai berjalan, Kyungsoo melambaikan tangannya bertanda sampai nanti.

.

.

Baekhyun memasuki sekolahnya tanpa mempedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya. Langkahnya terhenti saat dirinya di hadang oleh para penguasa sekolah itu. Para penguasa sekolah itu menatapnya penuh remeh. Chanyeol yang berada paling depan melemparkan kertas ke hadapannya seenaknya.

"Kami dapat remedial kimia kemarin, perbaiki nilai kami. Dan berikan pada kami saat jam makan siang." Ucapnya dengan nada angkuh.

Perlahan Chanyeol mendekatkan wajahnya pada telinga Baekhyun. "jika kau gagal lagi seperti kemarin, kau tahu konsekuensinya, bukan?" bisiknya dengan suara bass membuat Baekhyun merinding.

Lalu para penguasa sekolah itu meninggalkan Baekhyun begitu saja. Baekhyun menatap sedih para penguasa sekolah itu saat mereka meninggalkannya, perlahan Baekhyun memunguti beberapa kertas yang berjatuhan karena Chanyeol tadi. baekhyun hanya bisa menghela napas sedih memandang punggung lebar itu yang kian makin menjauh.

"Bagaimana bisa aku menyukai lelaki seperti dia." Gumam Baekhyun pelan.

.

Baekhyun menulis di kertas milik para penguasa sekolah itu dengan cekatan, bagaimana bisa mereka remedial dengan soal semudah ini? pikir Baekhyun. Gerakan tangan Baekhyun terhenti saat merasakan hawa dingin di depannya, tanpa pikir panjang Baekhyun menoleh ke depannya. Dan benar saja, di depannya sekarang terdapat hantu gadis yang duduk di atas pohon kemarin. Gadis itu menatap Baekhyun lekat.

"Kau bisa melihatku?" tanya gadis itu.

Baekhyun tidak menjawab, dia hanya melirik ke wajah gadis itu sekilas lalu melirik name tag gadis itu yang bertuliskan "Bae Irene. Kelas 3 – 4" lalu kembali menulis jawaban ulangan remedial para penguasa sekolah itu. Gadis itu menatap Baekhyun tidak percaya.

"Yak! Jangan mengacuhkanku." Omelnya tidak percaya.

Gadis hantu yang bernama Irene itu terus mengganggu Baekhyun dengan mencolek bagian tubuh atau wajahnya. Atau kadang memeluknya dari belakang hingga membuat Baekhyun sendiri berjengit merasakan hawa dingin itu. Lama-kelamaan Baekhyun jadi kesal, Baekhyun merobek kecil kertas miliknya dan menulis sesuatu di kertas itu. Lalu dia memberikan kertas itu kepada Irene.

"Aku sedang sibuk, nanti saja bicaranya." Irene membaca keras-keras tulisan di kertas itu beruntung dia itu makhluk halus jadi tidak ada yang bisa mendengarnya kecuali Baekhyun.

"Memangnya kau mengerjakan apa sih?" tanya Irene.

Gadis cantik itu melongokan kepalanya ke meja Baekhyun, matanya membulat sadari banyaknya kertas remedial di meja Baekhyun. Oke, Irene tidak perlu bertanya apa yang di lakukan Baekhyun sekarang.

"Arraseo, aku akan menunggu sambil bermain dengan burung seperti biasa." Ucap Irene sambil menghela napas.

Gadis itu menaiki jendela di samping Baekhyun dan melompat tanpa beban sama sekali. baekhyun terkejut saat matanya tidak sengaja menangkapnya. Namun, pemuda cantik itu lebih memilih untuk kembali fokus dengan remedial para penguasa itu sebelum jam makan siang.

.

.

.

Beberapa jam kemudian akhirnya makan siang tiba, dengan cepat Baekhyun merapikan kertas remedial itu dan berjalan ke tempat biasa para penguasa sekolah itu berkumpul. Saat Baekhyun sampai, atensi para penguasa sekolah itu langsung menatapnya lekat.

"Ma.. maaf.. aku hanya ingin memberikan ini." Baekhyun menyondorkan tujuh lembar kertas remedial.

Chanyeol langsung berdiri dari tempatnya dan merampas kertas dari tangan Baekhyun dengan kasar. Pria tampan itu memeriksa semua kertas itu, lalu pria itu menoleh ke arah Baekhyun.

"Kau boleh pergi." Ucap Chanyeol dingin.

Wajah Baekhyun berseri-seri mendengarnya, dia tidak perlu menjadi samsak lagi untuk hari ini. dengan cepat Baekhyun berbalik dan pergi meninggalkan Chanyeol dan ganknya. Saat Baekhyun berjalan tidak sengaja leher belakang blazernya tersingkap dan memperlihatkan memar parah yang tampak masih baru. Chanyeol mengernyit melihatnya. Memangnya mereka memukulnya sampai separah itu?

.

Baekhyun menatap pantulan wajahnya di cermin sambil mencuci tangannya. perlahan tangannya menyentuh lebam baru itu.

"Auuch..." ringisnya pelan.

Setelah selesai dengan urusan mencuci tangan, Baekhyun berniat kembali ke kelas dan makan. Tetapi, langkahnya di cegat oleh hantu laki-laki yang ia lihat kemarin. Hantu laki-laki itu menatap Baekhyun lekat sambil melipat tangannya di dadanya. Baekhyun menatap hantu itu datar lalu Baekhyun melirik ke name tag bertuliskan "Lee Taeyong 3 – 1."

'Well, untuk ukuran makhluk halus. Dia terlihat seperti idol yang sekolah di sekolah elit seperti ini' Pikir Baekhyun.

"Kau bisa melihatku?" tanya hantu yang bernama Taeyong itu.

Baekhyun menganggukan kepalanya. "Ne." Jawabnya singkat, padat, dan Jelas.

Lalu Baekhyun berjalan untuk keluar dari kamar mandi itu, namun sayangnya. Taeyong langsung menahannya. Baekhyun menoleh ke arah Taeyong malas lalu memberikan tatapan 'ada apa?'

"Sebentar! Ada yang ingin ku tanyakan kepadamu." Ucap Taeyong dengan cepat.

Baekhyun menghela napas pelan. "Baiklah, tapi jangan di sini."

Baekhyun pun keluar dari kamar mandi dengan Taeyong yang mengikutinya dari belakang. Baekhyun meringis pelan saat hawa dingin dari tangan Taeyong yang terus memegangi lengannya. Baekhyun yang dasarnya memang tidak tahan dingin menatap Taeyong kesal.

"Bisa kau lepaskan? Aku tidak tahan dingin." Ucap Baekhyun dengan suara kecil.

"Shireo yo! kau akan kabur lagi seperti kemarin." Balas Taeyong dengan bibir yang di pout.

Baekhyun memutar bola matanya malas. lalu dia mempercepat langkahnya menuju kelasnya. Saat berjalan, taeyong mengernyitkan keningnya melihat tatapan merendahkan siswa-siswa terhadap Baekhyun, bahkan adik kelas sekalipun. Taeyong melirik Baekhyun yang hanya memasang wajah datar sambil berjalan.

"Apa mereka selalu menatapmu seperti ini?" tanya Taeyong.

Baekhyun tidak menjawab, dia hanya mempercepat langkahnya menuju kelasnya. Saat memasuki kelasnya, Langkah Baekhyun terhenti saat melihat Irene yang menempati tempat duduknya sambil melihat-lihat kertasnya.

"Ah! Kau kembali juga! Ku kira kau berbohong kepadaku." Ucap gadis itu dengan nada kesal.

Irene melirik ke arah Taeyong yang juga menatapnya balik. "Bukankah kau Lee Taeyong yang itu? Jadi kau yang menghuni kamar mandi itu." ucap gadis itu spontan.

"Ne, Jadi Irene sunbaenim benar-benar yang menghuni halaman belakang dan kelas ini" balas Taeyong balik. Irene hanya menganggukan kepalanya.

Baekhyun memutar bola matanya malas mendengar hantu yang tengah reuni itu lalu mengambil kotak bekalnya yang ada di tasnya. Lalu berjalan mendahului mereka. Taeyong dan Irene sontak mengikuti langkah Baekhyun yang terbilang cepat.

"Kau mau kemana?" tanya Irene.

"Kalian bilang mau bicara denganku, bukan? Tidak baik jika kita bicara di kelas."Jawab Baekhyun.

"Jadi mau dimana? Mana mungkin kita berbicara di kamar mandi dengan makanan bukan?" ucap Taeyong.

Lalu Taeyong dan Baekhyun menoleh kearah Irene. Sedangkan gadis itu hanya menghela napas.

"baiklah kita bicara di halaman belakang sekolah saja. di sana sepi kok." Gadis itu melayang mendahului Taeyong dan Baekhyun.

Kedua makhluk beda alam itu saling berpandangan lalu mengikuti Irene ke halaman belakang tempat gadis itu huni. Begitu sampai, Baekhyun langsung duduk dan membuka kain yang membungkus kotak bekalnya.

"jadi, apa yang ingin kalian bicarakan" tanya Baekhyun sambil memisahkan sumpitnya.

Taeyong dan Irene saling berpandangan, lalu Taeyong membuka suaranya duluan.

"Petama biarkan kami memperkenalkan diri dulu. Namaku Lee Taeyong, umur asliku 20 tahun. Kau bisa memanggilku Taeyong." Ucap Taeyong.

"Namaku Bae Irene, umur asliku 22 tahun." Ucap Irene.

"Namaku Byun Baekhyun, aku kelas 3 – 4."

Teyong menggigit bibirnya. "Sebenarnya aku sangat senang akhirnya ada orang yang bisa melihat kami. Sekarang kami jadi gugup mau bicara apa." Ucap Taeyong antusias. Irene yang ada di sebelahnya mengiyakan perkataaan Taeyong.

Baekhyun yang tengah mengunyah nasinya mengernyitkan keningnya. "Bukankah kalian bisa berbicara dengan makhluk lain seperti kalian?" tanya Baekhyun bingung.

Irene menundukan kepalanya. "Eumm.. sebenarnya bisa saja kami begitu. Namun tetap saja, kami sedikit trauma dengan sekolah ini." jawab Irene dengan suara yang agak bagaimana.

Baekhyun menelan jjajangmyeon instannya dengan tatapan kaget. "Tunggu sebentar... Jangan bilang jika kalian... murid bullying?" tebak Baekhyun.

Taeyong dan Irene hanya terdiam. Melihat keterdiaman mereka, Baekhyun menganggap itu sebagai "ya."

"Bagaimana bisa kalian di bully? Dari segi penampilan kalian bisa saja menjadi Visual King and Queen sekolah loh. Tidak seperti diriku yang culun begini" Baekhyun melirik Taeyong dan Irene bergantian.

Baekhyun mengakui jika mereka berdua itu memiliki visual yang tidak main-main. Irene memiliki visual kecantikan yang setara dengan diva kecantikan Korea seperti Yoona Im atau Bae Suzy. Sedangkan Taeyong sendiri memiliki visual ketampanan bagaikan Karakter anime dan karakter game Jepang final fantasy. Sekali lagi Baekhyun benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran anak-anak SM senior high school.

"Aku di bully karena ayahku penjudi dan ayahku juga di tangkap karena melakukan penipuan terhadap sejumlah orang. Mereka bilang, bagaimana bisa orang dengan tampang sepetimu punya orang tua seperti itu? Pasti kau juga sama saja dengan kedua orang tua sialanmu itu. Semenjak saat itu, aku jadi sasaran bully oleh orang sekitarku." Jelas Taeyong dengan suara bergetar.

Mata Baekhyun membulat mendengarnya, begitu juga Irene yang menyimak perkataan Taeyong. Hati Baekhyun terasa di remas mendengar cerita Taeyong yang sedih itu. Baekhyun pun menoleh ke arah Irene.

Irene yang menyadari tatapan itupun langsung menceritakannya. "Ibuku di fitnah sebagai pelacur dan kabar itu menyebar sangat luas di sekolah bahkan di lingkungan rumahku sekaligus. Dengan wajah seperti ini mereka mengataiku calon pelacur dan perusak rumah tangga. Padahal kenyataannya ibuku tidak pernah melakukan hal serendah itu. Mereka juga mengganti namaku menjadi bitchrene." Irene menjelaskan apa yang di alaminya dengan suara menahan tangis. Seolah kejadian itu kembali menimpanya.

Sekali lagi hati Baekhyun semakin di remas rasanya, bahkan jjajangmyeon instan yang tinggal sedikit ia makan mendadak tidak ada rasanya di lidahnya. Baekhyun memandang mereka berdua sedih, tanpa sadar air mata turun dari kedua bola mata jernihnya. Taeyong dan Irene kaget melihat Baekhyun yang mengeluarkan air matanya.

"Ba... bagaimana bisa kalian melewati hari buruk seperti itu... hiks..." Baekhyun terisak pelan sambil mengelap air matanya.

"Ini baru pertama kalinya ada orangyang menangisi kami seperti... " gumam Taeyong pelan.

Lalu pria tampan itu mengelus kepala Baekhyun dengan lembut sedangkan Irene memeluk laki-laki cantik itu dari samping untuk menenangkannya.

"Gwaechana, itu dulu. Tapi sekarang sudah tidak lagi." Ucap Taeyong dengan lembut.

"Eum.. Taeyong benar.." timpal Irene.

"Gwaehana yo.." ucap mereka berdua lagi bersamaan. Tidak lama kemudian, Baekhyun tidak terisak lagi.

"Mereka kejam padahal itu bukan salah kalian"ucap Baekhyun sambil mengelap air matanya.

"Biarkan saja, itu sudah berlalu.." ucap Taeyong.

"Daripada itu, kita jadi lupa tujuan kita kemari." Celetuk Irene dengan cepat untuk mengalihkan pembicaraan. Entah bagaimana tiba-tiba atmosfernya menjadi sedih begini

"Ah! Irene sunbae benar!" Timpal Taeyong dengan cepat.

Baekhyun menuangkan sedikit air ke tangannya dan membasuh matanya dengan air minumnya. "Jadi... apa kalian yang ingin tanyakan?" tanya Baekhyun.

"Bagaimana bisa kau melihat kami?" tanya Taeyong dengan hati-hati.

Baekhyun menaikkan bahunya tidak tahu. "Molla... kemarin aku tidak sengaja tertidur di kelas. Dan saat aku bangun karena terantuk meja... tiba-tiba aku bisa melihat kalian." jelas Baekhyun.

Irene dan Taeyong saling berpandangan. "Bagaimana bisa begitu?" tanya Irene.

"Tidak masuk akal bukan?" ucap Baekhyun setelah menghabiskan suapan terakhir jjajangmyeon instannya.

Baekhyun meneguk air dari botolnya. "Tapi... aku bersyukur bisa melihat kalian." Ucap Baekhyun di sertai senyuman manisnya.

"Wae?" tanya Taeyong.

"Karena dengan begini, aku bisa punya teman. Aku selama ini hanya berbicara dengan ibuku dan adik kelas yang ada di UKS. Ini pertama kalinya aku bicara dengan orang lain rasanya... senang sekali.." lanjut Baekhyun.

Irene dan Taeyong ikutan tersenyum melihat Baekhyun yang tersenyum bahagia begini.

"Omong-omong, di stasiun aku berhenti ada makhluk lagi seperti kalian. Namanya Do Kyungsoo, dia juga tadinya sekolah di sini. Dia umur aslinya 21 tahun. Kapan-kapan akan ku kenalkan kepada kalian." Jelas Baekhyun dengan antusias.

"Arraseo. Aku tidak sabar menunggunya."timpal Taeyong.

Baekhyun tersenyum senang mendengarnya. Sedangkan Irene sendiri malah tersenyum menggoda ke Baekhyun.

"Baekhyun, apa kau menyukai seseorang?" goda Irene dengan senyumannya.

Sontak Baekhyun menoleh ke arah Irene sementara Taeyong membulatkan matanya mendengarnya. "Ti.. tidak kok. Kata siapa?" rona merah terlihat di pipi mochi Baekhyun.

Taeyong yang kaget melihatnya langsung tersenyum dan ikutan menggoda Baekhyun.

"Oho. Benarkah itu?" goda Taeyong sambil menyenggol bahu Baekhyun.

"Oh ya? Aku lihat ada lelaki yang selalu kau gambar di buku sketsamu. Jadi siapa itu ya?" goda Irene lagi.

"Yak! Berani-beraninya noona melihat apa yang ku gambar." Omel Baekhyun dengan wajah yang memerah sempurna. Wajah Baekhyun jadi menggemaskan sekali. Taeyong dan Irene jadi gemas melihatnya.

Sementara itu salah satu teman sekelas Baekhyun, Huang Zitao menatap Baekhyun dengan tatapan bingung. Pasalnya anak itu terlihat berbicara dan bercanda entah dengan siapa.

"Dia berbicara sendiri?" gumam Tao pelan dengan alis berkerut.

TBC...


A/N :Hai ini Hayato. ide cerita ini aku dapet dari lagu Jepang yang berjudul Shuuten. Entah kenapa pas dengar lagu itu langsung kepikiran cerita ini. Padahal liriknya sendiri gak terlalu berhubungan sama cerita ini sih hehe.