Chapter 9
.
.
Udara dingin menyapu leher Mamori dan membuatnya terbangun dari tidurnya. Mamori melihat ke jam meja di depannya, masih pukul dua malam. Dia ingat kalau dia tidur lebih cepat tadi. Mamori lalu membetulkan posisi tidurnya sambil merapatkan selimut.
Mamori menoleh melihat Hiruma yang terlelap. Napasnya teratur dan wajah damainya saat tertidur, membuat Mamori tersenyum melihatnya. Masih sama seperti dahulu, Hiruma selalu tidur dengan berbaring menghadap ke arahnya. Walau tidak selalu memeluk Mamori di setiap tidurnya, tapi Mamori tetap merasa aman, karena Hiruma Tidak pernah tidur sambil memunggunginya. Mamori selalu terbangun dengan mendapati wajah Hiruma dan kehangatan di sebelahnya.
Mamori berbaring menyamping menghadap Hiruma dan memandangi wajahnya lama. Sepintas rasa cemas melintas di pikiran Mamori. Apa kehangatan ini akan menghilang darinya? Apa Hiruma akan meninggalkannya lagi? Selalu seperti ini. Hal yang paling ingin Mamori tanyakan, selalu tercekat dan tidak pernah bisa dia utarakan. Seolah membahas itu akan membuat dirinya ketakutan jika mengetahui kebenarannya. Karena tidak menutup kemungkinan Hiruma akan pergi lagi.
Air mata tergulir hangat dari ujung mata Mamori. Satu pinta Mamori ingin terus bersama Hiruma. Dia tidak cukup berani untuk memintanya. Apa kehangatan ini akan berlangsung selamanya, atau hanya sementara. Apa satu permintaan Mamori itu terlalu serakah.
Mamori bergeser mendekat ke Hiruma. Dia lalu melingkarkan lengan ke pinggang Hiruma, memeluknya.
Hiruma terbangun dan merasakan Mamori yang memeluknya. Dia lalu menaikkan selimut ke tubuh Mamori dan memeluknya lebih erat. Hiruma kembali memejamkan matanya sambil tangannya menepuk-nepuk lembut pundak Mamori, menenangkannya agar kembali tidur pulas.
.
.
"Apa sudah tidak ada bawaan lagi di atas, heh?" tanya Hiruma yang berdiri di depan bagasi mobil putih Mamori.
Mamori menggeleng. "Sudah semua," jawab Mamori.
Hiruma lalu menutup bagasi mobil itu.
"Ayo Mamori-san," ajak Keigo seraya dia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.
Mamori pun berjalan ke pintu depan mobil dan diikuti oleh Hiruma. Mamori lalu memeluknya hangat.
Hiruma membalas pelukan Mamori dan enggan melepaskannya. Setelah beberapa saat Hiruma mengendurkan pelukannya dan berganti mengecup pipi Mamori.
Mamori tersenyum sambil menyentuh pipi Hiruma dengan telapak tangannya. "Aku pergi dulu. Jangan buat berantakan apartemenku."
"Keh..." sahut Hiruma dengan memegang tangan Mamori di sentuhan terakhirnya sampai Mamori masuk ke dalam mobil.
"Makan yang teratur. Aku sudah beli banyak bahan makanan. Jangan tidur terlalu malam."
"Aku tahu," balas Hiruma bosan. Dia lalu melihat ke Keigo yang melihatnya. "Kau. Bawa mobil ini hati-hati."
"Tenang saja Hiruma-san. Aku pasti akan menjaga pacarmu," balas Keigo dengan senyumannya.
"Jangan terlalu dekat dengannya." Entah Hiruma berkata itu untuk Mamori atau Keigo.
"Dah Youchi. Ayo jalan Keigo-kun."
Keigo kemudian melajukan mobilnya keluar dari parkir basemen. Hiruma kemudian kembali ke apartemen.
"Aku tidak percaya Hiruma-san yang garang itu bisa melakukan hal yang romantis," sahut Keigo sambil mengemudikan mobilnya.
Mamori terlihat berpikir mendengarnya. "Apanya romantis?"
"Itu... Saat dia mencium pipimu."
"Apa kamu tidak pernah melakukan itu kepada pacarmu?" balas Mamori.
"Aku? Tentu saja pernah," jawab Keigo sambil tertawa. "Tapi tidak pernah terbayang padaku kalau pacarmu juga melakukan itu."
"Hal-hal begitu sudah biasa dia lakukan. Dia tidak pernah melakukannya di depan orang lain memang,"
Keigo mengangguk-angguk. "Ngomong-ngomong. Ucapannya yang terakhir itu, apa dia cemburu padaku?"
"Ah ya... Dia sempat merajuk karenamu waktu itu," balas Mamori sambil memangku wajahnya dan melihat ke luar jendela. "Tapi syukurlah karena itu semuanya jadi jelas. Aku bahkan tidak menyangka dia bisa cemburu padamu."
"Ngomong-ngomong soal cemburu. Apa selama Hiruma-san di Italia kamu tidak pernah merasa cemas atau khawatir dia bersama wanita lain?"
Mamori menoleh sesaat ke Keigo lalu kembali melihat jendela lagi. "Kalau kamu bertanya begitu, sudah pasti aku cemas setiap waktu. Tapi dari awal aku sudah melepaskannya. Jadi walau aku cemas pun, itu sudah bukan hakku lagi."
"Jadi karena itu selama lima tahun kamu seperti wanita yang tidak punya kekasih," balas Keigo. "Aku tidak mengerti rasanya menunggu seseorang yang bahkan sudah kita lepaskan. Bagaimana kamu bisa percaya diri kalau dia akan kembali padamu?"
Mamori tersenyum. "Saat itu aku tidak punya kepercayaan diri. Setiap hari aku merasa ketakutan jika suatu hari dia benar-benar lepas dari tanganku."
"Kamu sudah melepaskannya, tapi kamu tidak ingin dia benar-benar melepaskan tanganmu? Sungguh rumit," ujar Keigo. "Kenapa kamu memilih cinta yang rumit seperti itu Mamori-san? Padahal banyak laki-laki yang mendekatimu. Model Takumi dan pengacara muda itu. Mereka jelas suka padamu."
"Entahlah. Mungkin karena aku sudah terlalu mencintainya," balas Mamori. "Sejauh apapun aku mencari yang lain, di benakku, aku hanya akan membandingkan orang itu dengan Youichi. Dan akhirnya aku tidak bisa mencintai orang lain lagi."
"Jika itu kasusku, aku pasti akan memilih orang lain yang dia tidak bisa hidup jika aku pergi jauh darinya," ujar Keigo. "Jadi jika aku jadi kamu, aku pasti akan memilih orang lain yang mencintaiku dan tidak akan pergi jauh dariku."
"Yah... Memang sepantasnya seperti itu. Karena itu jika ada orang lain mendengar ceritaku, mereka akan menganggap aku bodoh."
Keigo tertawa. "Karena itu kamu baru cerita semuanya sekarang? Tapi kurasa bukan kamu saja yang bodoh. Kalian berdua sama-sama bodoh."
.
.
Dua minggu Mamori akan menghabiskan waktunya di Osaka. Acara Tour Fashion Show di Kansai akan berlangsung sepuluh hari lagi, dan mereka akan menyiapkan segalanya. Keigo seperti biasa sebagai Penanggung jawab panggung dan lokasi acara. Sementara Mariya mengurus para model, sponsor, dan pengambilan gambar.
Perjalanan yang melelahkan saat mereka sampai di Hotel dekat lokasi acara. Mariya yang sudah tiba lebih dulu telah memesankan kamar untuknya. Jadi Mamori hanya menunggunya saat tiba di lobi.
"Mamori-Neechan!" sapa suara anak laki-laki di belakang Mamori.
Mamori menoleh dan melihat anak berumur enam tahun berlari ke arahnya. "Aoi-kun," balas Mamori dengan senyum cerah yang seolah keletihannya barusan langsung sirna. Mamori lalu berlutut dan mendapatkan Aoi di pelukannya.
"Aku suka sekali mainan yang Nee-chan belikan," ujar Aoi.
"Syukurlah kalau Aoi-kun suka."
"Aoi... Mama bilang jangan berlari," sahut Mariya yang tiba setelahnya. "Ini kunci untukmu Anezaki-san. Dan ini untukmu Keigo-kun. Kamar kalian bersebalahan." Mariya lalu melihat ke jam tangannya. "Lebih baik kalian segera istirahat."
Petugas hotel membantu mengantar barang dan memandu mereka ke kamar. Kamar Mamori dan Keigo ada di lantai lima. Mamori masuk ke kamarnya bersama dengan Mariya dan Aoi sedangkan Keigo sudah masuk ke kamarnya.
"Kamarku ada di lantai tiga," ujar Mariya.
"Ma, aku mau tidur dengan Nee-chan," rajuk Aoi kepada Mariya.
"Jangan Aoi, hari ini Nee-chan ingin istirahat. Lagipula Nee-chan akan kesempitan kalau Aoi ikut tidur disini."
Mamori duduk di tempat tidur sambil mengusap selimut cokelat muda yang lembut itu. Memang ini single bed, tapi masih bisa untuk ditiduri dua orang.
"Aku balik ke kamar dulu Anezaki-san," ujarnya sambil menggandeng tangan Aoi. "Selamat istirahat."
"Selamat istirahat. Sampai besok Mariya-san, Aoi-kun," ujar Mamori sambil menunduk dan tersenyum ke Aoi.
.
.
Hari ini jadwal Mamori adalah melakukan wawancara dengan beberapa Wartawan majalah dan televisi. Dari pagi dia sudah sibuk menyiapkan diri dan membaca catatan Mariya tentang beberapa pertanyaan yang akan diajukan. Tidak ada pertanyaan yang aneh. Semuanya masih menyangkut Tour Fashion Show Mamori.
Mamori menuju ruang serba guna hotel yang telah disewanya. Mamori masuk ke dalam dan melihat para petugas sibuk mempersiapkan ruang. Masih ada waktu tiga puluh menit lagi. Mamori bersama Mariya lalu menuju ke ruang ganti. Untungnya Aoi anak yang penurut, jadi walau Aoi sering diajak ikut Fashion Tour di luar kota, Mamori tidak keberatan.
Sambil duduk, Mariya menyerahkan beberapa dokumen laporan ke Mamori. Dokumen itu tentang daftar para model. Mamori punya lima belas model wanita yang dikontraknya, tapi hanya sepuluh yang akan dipakainya untuk Fashion Show di Kansai ini.
"sepuluh nama itu sudah mengkonfirmasi jadwal. Mereka akan datang minggu depan," ujar Mariya. "Dan tiga model yang akan melakukan pengambilan gambar hari ini sudah tiba di lokasi."
"Shina-san tidak bisa datang?" ujar Mamori saat melihat daftar namanya.
"Dia ada acara pernikahan kakaknya. Jadi dia tidak bisa ikut."
Mamori menghela napas. "Sayang sekali. Padahal model utama kali ini adalah dia."
"Lalu siapa yang akan menggantikannya?"
Mamori melihat foto para model itu lagi. "Kikkawa-san saja."
"Baiklah. Aku akan menghubungi dia lagi nanti," ujar Mariya.
"Desainer Anezaki-san," ujar seseorang sambil mengetuk pintu yang terbuka. "Acara akan dimulai sepuluh menit lagi."
.
.
Wawancara dengan para wartawan berjalan dengan lancar. Pertanyaan wartawan juga sesuai dengan pertanyaan yang sudah dibacanya di ruang tunggu tadi. Walau ada saja beberapa yang bertanya mengenai kehidupan pribadinya. Khususnya tentang Hiruma. Tapi Mamori lega, karena sudah tidak ada kesalahpahaman lagi.
Hari ini cukup sibuk untuk mereka. Setelah wawancara yang berlangsung dua jam, Mamori dan Mariya berkunjung ke tempat lokasi proses pengambilan gambar untuk acara. Karena ini acara miliknya, maka sudah pasti dia juga akan diambil gambarnya. Dengan ruangan yang sudah di desain seperti layaknya bangunan kuno di Osaka, para pekerja ini sungguh profesional.
Malam hari dia habiskan dengan makan malam bersama Mariya, Aoi, dan Keigo di restoran hotel. Walau sebenarnya dia sangat ingin makan di tempat lain yang ingin dikunjunginya saat di Osaka, tapi mengingat sibuknya hari ini maka Mamori mengurungkan niatnya.
Setelah makan malam, mereka kembali ke kamar hotel masing-masing. Mamori membuka sepatunya dan langsung melemparkan dirinya ke atas tempat tidur. Hari pertama di Osaka cukup melelahkan. Dia berharap bisa melewati semuanya dengan lancar. Karena acara ini bukan hanya perjuangannya, tapi juga perjuangan semua pihak yang membantunya.
Mamori ingin sekali meraih tasnya dan mengambil ponselnya, berniat untuk menelepon Hiruma. Tapi dia terlalu lelah. Dia bahkan terlalu malas untuk mencuci muka dan mengganti pakaiannya. Sudah lewat jam sembilan. Walau dia tahu Hiruma pasti belum tidur saat ini. Tapi Mamori sudah tidak ada tenaga untuk mengobrol. Akhirnya beberapa saat dia memejamkan mata, Mamori sudah terlelap dengan nyamannya.
.
.
Mamori terbangun saat mendengar bel pintu kamar hotelnya. Dia lalu duduk di atas tempat tidur sambil meregangkan tubuhnya. Setelah itu dia berjalan ke pintu dan membukanya.
"Wah... Tidurmu nyenyak Anezaki-san?" ujar Mariya sambil melihat setelan yang dipakai Mamori.
Mamori mengangguk dan tersenyum. Mamori lalu menutup pintunya kembali setelah Mariya masuk. "Mana Aoi-kun?"
"Dia bersama Keigo-kun membeli makanan," ujar Mariya.
"Aku cuci muka dan mandi dulu sebentar," ujar Mamori.
Sepuluh menit Mamori di pancuran dan sudah berganti dengan kaus lengan panjang dan celana trainingnya yang nyaman. Mamori ikut duduk di meja makan bersama dengan Mariya.
"Ada jadwal apa hari ini?" tanya Mamori.
"Baru saja busana untuk acara sudah sampai di lokasi. Jadi nanti siang kita akan mengeceknya," jawab Mariya.
"Lalu?"
"Sekalian mengecek kesiapan panggung."
Mamori mengangguk bersamaan dengan suara bel pintu berbunyi. Mariya lalu beranjak untuk membukakan pintu. Keigo dan Aoi muncul di sana.
"Ayo kita sarapan."
.
.
Setibanya di lokasi acara, Mamori berjalan melalui pintu menuju ke belakang panggung. Masih banyak pekerja yang sibuk berlalu lalang melakukan pekerjaannya. Mamori mengikuti Mariya di belakang dengan Aoi yang menggandeng tangannya. Mereka masuk ke ruang busana.
Sejumlah baju sudah berderet di rak gantung yang banyak. Mamori duduk di sofa, sementara Mariya menghitung jumlah busana itu, Mamori menunggu untuk melakukan pengecekan lebih lanjut.
Suara ketukan pintu terdengar. "Masuk," sahut Mamori.
Pintu itu terbuka. "Ah ternyata benar disini," ujar salah satu pekerja.
"Ada apa?" tanya Mamori.
"Keigo-san meminta anda melihat panggung," ujarnya.
"Oke," ujar Mamori dan mendapat anggukan dari Mariya. "Aoi-kun tunggu disini saja ya," lanjutnya tersenyum sambil mengusap kepala Aoi.
Mamori lalu mengikuti pekerja itu melewati lorong hingga sampai ke atas panggung. Mamori berjalan hati-hati karena masih banyak kabel dan benda-benda berserakan di atas panggung.
"Ada apa?" tanya Mamori saat tiba di sebelah Keigo yang berdiri sambil memandang ke kejauhan.
"Menurutmu bagaimana jika aku taruh hiasan disana sebagai layar untuk pembukaan sebelum acara?" unjuk Keigo, mengingat lokasi yang dia pilih mendukung untuk idenya ini. "Lalu saat mereka semua terpaku pada layar, panggung akan dibuat gelap dan model utama akan muncul dari sana."
Mamori bisa membayangkannya. "Ide bagus. Kamu atur saja."
"Oke," balas Keigo tersenyum mengiyakan. Dia menoleh memperhatikan raut wajah Mamori. Ragu untuk bertanya kepadanya. "Ngomong-ngomong Mamori-san? Apa kamu sudah menelepon Hiruma-san?"
Mamori langsung menoleh mendapati pertanyaan ganjil Keigo. "Belum. Ada apa memang? Aneh sekali pertanyaanmu."
"Yah... Bukan apa-apa. Aku kesana dulu," ujar Keigo sambil berjalan menuruni panggung.
Mamori lalu kembali ke ruang ganti untuk melakukan pengecekan.
.
.
Hari masih sore hari saat Mamori kembali ke kamar hotelnya. Dia kemudian duduk di ujung kasur sambil menyilangkan kedua kakinya lalu membuka minuman kaleng susunya. Mamori kemudian ingat percakapan dengan Keigo tadi siang. Dia lalu merogoh tas dan mengambil ponselnya. Setelah itu dia menelepon Hiruma.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silakan coba lagi,"
Mamori melihat ke layar ponselnya. Setelah itu dia mencoba menelepon lagi, dan mendapatkan jawaban yang sama.
"Tumben sekali ponselnya tidak aktif," gumam Mamori lalu meletakkan ponsel sambil meneguk susunya. Setelah menghabiskan minumannya,
Sore hari yang sungguh menenangkan. Hari yang tenang untuk Mamori. Tanpa tahu apa yang akan terjadi, dia lalu bergegas mandi dan mengganti baju. Dengan tidak sabar, dia menantikan makan malam di restoran yang ingin dikunjunginya.
.
.
To Be Continue
.
.
Side Note :
Halooo... Its been a long time guys. Maaf ya baru bisa update. Semoga kalian suka dengan chapter ini. Sebagai permintaan maaf, biar kalian tidak penasaran dengan konflik yang terjadi, maka saya update 2 chapter sekaliguus XD
I really hope you guys like it. Because i put so much effort in this fic. Soo lets enjoys the story XD
Salam : De
