Chapter 10

.

.

Hari itu... Dua tahun lalu

"Sialan kau Hiruma!"

Hiruma menoleh dari punggungnya menuju ke rekan satu tim yang menerobos masuk ke kamar asramanya. Dengan mengunyah permen karet dan tidak peduli, Hiruma kembali bermain game di laptopnya.

"Aku sudah susah payah mengenalkanmu dengan teman sepupuku, kenapa kau malah tidak datang," keluh Zoel, linemen asal Amerika yang bermain untuk The Milano.

"Aku tidak menyuruhmu melakukannya, sialan."

Zoel duduk di kasur sambil menghadap Hiruma di meja komputernya. "Sial Hiruma. Kau tidak cocok dengan tipe setia. Laki-laki seperti kita harus mencoba setiap perempuan yang bisa kita temui."

Hiruma menyeringai menatap Zoel. "Jangan masukkan aku ke dalam kategori yang sama denganmu, bodoh."

"Apa kau tidak kasihan dengan dirimu? Kau tidak bertemu dengan pacarmu hampir tiga tahun. Setidaknya lepaskanlah hasratmu. Banyak perempuan disini yang tidak keberatan melakukan hubungan semalam. Kau harus mencobanya."

"Apa kau tidak bosan mengoceh hal yang sama terus menerus."

Zoel menghela napas pasrah. "Image-mu itu jauh dari kata setia. Tidak cocok!"

"Terserah apa katamu."

Zoel melirik ke majalah di atas bantal. Dia melihat Wanita cantik dengan rambut merah kecokelatan di cover majalah itu. Senyumannya menenangkan. Dan yang menarik adalah warna bola matanya yang biru terang. Zoel bisa menduga kalau wanita ini adalah orang Jepang, dan dia juga bisa menebak kalau dia punya turunan darah Amerika.

Hiruma menoleh memperhatikan Zoel yang terdiam memandangi majalah. "Apa yang kau lihat, heh?"

"Seleramu unik juga," sahut Zoel tanpa melihat ke Hiruma. "Dibanding majalah playboy, kau lebih memilih majalah seperti ini untuk melampiaskannya."

"Buang jauh-jauh pikiran kotormu itu, sialan," bantah Hiruma.

"Siapa wanita ini? Orang Jepang? Kau mengenalnya?"

Hiruma menyeringai karena Zoel menanyakan itu. "Dia pacarku."

Zoel tertawa. "Lucu sekali. Kau pikir aku percaya?"

Hiruma lalu mengambil ponselnya. Dia kemudian mencari sesuatu disana. Beberapa saat kemudian, Hiruma menunjukkan layar ponsel itu ke hadapan Zoel. "Menurutmu, heh?"

Zoel mengernyit ke layar ponsel itu, lalu bergantian melihat ke cover majalah di tangannya. Rambut merah kecokelatan dan mata biru yang sama. Dua kombinasi unik ini, tidak mungkin hanya sebuah kebetulan. "Bagaimana mungkin wanita ini bisa jadi pacarmu!"

"Yahh... Itulah yang terjadi. Dia pacarku. Ah bukan. Malah sudah jadi tunanganku."

"Omong kosong! Pasti banyak laki-laki di Jepang yang mengincarnya. Dia tidak akan mungkin bertahan padamu. Kau bahkan tidak pernah pulang untuk menemuinya."

"Sialan. Jangan menambah beban di pikiranku!"

Zoel menyengir melihat Hiruma. "Aku tidak mengerti apa yang membuatmu tidak pernah pulang ke Jepang. Padahal kau punya pacar yang cantik begini. Apa pacar dan orangtuamu tidak pernah protes?"

"Bukan masalah. Aku sudah berjanji," balas Hiruma.

"Janji?"

"Yah... Janji."

.

.

Mamori mengamati dari bawah panggung para model yang mendengarkan instruksi pelatih sebelum mereka melakukan rehearsal besok. Mamori berdiri ditemani Keigo yang sedang berdiskusi dengan pekerja. Dekorasi panggung sudah hampir selesai, hanya tinggal sentuhan terakhir dan panggung sudah siap digunakan besok.

"Bintang tamu spesial kali ini adalah sang bintang American football kebanggaan D.C Tiger, Zoel Washington."

Mamori menoleh ke televisi yang menyala tidak jauh darinya. Walau dalam bahasa Inggris, tentu Mamori mengerti. Itu adalah acara berita olahraga dari saluran luar negeri. Mamori lalu kembali fokus melihat ke atas panggung lagi.

"Mamori-san," panggil Keigo sambil memperlihatkan tablet di tangannya, mendapatkan perhatian Mamori. "Panggung sebelah sini ada masalah pencahayaan. Jadi kurasa—"

"Kudengar Atlet Hiruma yang dulu satu tim dengan anda dulu akan direkrut oleh D.C Tiger?"

Mamori sontak menoleh lagi ke televisi, mendapati nama Hiruma disebut dia acara itu.

"Yahh benar... Aku dengan Hiruma Youichi teman baik saat di The Milano dulu. D.C Tiger sudah menawarkannya kontrak bermain. Jadi aku berharap dia mau bergabung bersamaku."

"Hei, matikan tivinya segera," perintah Keigo kepada karyawan yang berjalan di sebelahnya.

"Tidak apa Keigo-kun," tahan Mamori.

Sesaat kemudian seseorang mematikan televisi itu. Mamori mendapati dirinya yang penuh dengan pikiran. Dia harus berkonsentrasi. Dia tidak butuh hal-hal yang membingungkan pikirannya saat ini.

"Apa yang ingin kamu bicarakan Keigo-kun?" tanya Mamori, kembali fokus pada Keigo.

"Mamori-san..."

"Tidak apa. Aku harus fokus pada pekerjaanku."

Keigo memandang dengan cemas. "Apa kamu sudah menghubungi Hiruma-san?"

Mamori menatap ke Keigo, menyadari pertanyaan yang sama yang dilontarkannya beberapa hari lalu, tersirat makna yang membuatnya cemas.

"Aku mendengar berita beberapa hari lalu. Kalau Hiruma-san ada di Italia untuk memperpanjang kontrak dengan The Milano," ujar Keigo ragu sambil mengusap belakang lehernya.

Mamori terdiam mendengarnya. Entah Mamori harus berkata apa. Dia bahkan tidak yakin dengan raut wajah yang sedang diperlihatkannya.

Keigo menepuk pundak Mamori. "Istirahatlah. Sekarang sudah sore. Aku akan memanggil Mariya-san."

.

.

Mariya menatap dalam diam ke Mamori yang berjalan di sebelahnya. Mereka sedang berjalan menuju kamar Mamori.

"Kamu baik-baik saja, Anezaki-san?" tanya Mariya khawatir.

Mamori mengangkat kepala dari lamunannya. "Aku baik-baik saja."

Mariya tidak membalas. Dia tahu Mamori tidak baik-baik saja.

"Aku akan pesankan makan malam. Istirahatlah."

"Tidak perlu Mariya-san. Aku tidak lapar," balas Mamori. "Selamat malam."

Mamori lalu masuk ke kamarnya. Dia kehilangan selera. Otaknya tidak bisa berpikir jernih. Apa yang harus dia lakukan. Dia kehilangan tenaganya. Mamori terduduk di balik pintu. Melihat ke tangannya yang gemetar. Dia tidak baik-baik saja. Mamori tidak bisa mengontrol dirinya. Pikirannya sangat kacau. Mamori berusaha memikirkan hal-hal yang menyenangkan. Tapi percuma, pikirannya terlalu kalut. Dia mengambil napas panjang. Tapi udara di sekitarnya terasa sesak. Seolah Mamori kesulitan mengambil napas.

Mamori merasakan kecemasannya.

Mamori berusaha meraih dinding untuk membantunya berdiri.

"Tidak mungkin... Itu tidak akan terjadi... Semua akan baik-baik saja..." lirih Mamori, seolah menguatkan dirinya sendiri.

Mamori sampai ke atas tempat tidur. Dia membaringkan tubuhnya disana. Mamori memejamkan matanya. Berusaha menenangkan pikirannya. Dia membayangkan hal-hal yang membahagiakan. Dia membayangkan saat pertama kali memulai butik pertamanya. Saat dia lulus ujian masuk Saikyoudai. Saat mereka memenangkan kejuaraan Chrismas Bowl. Saat dia melihat senyum kemenangan Hiruma. Saat Hiruma pertama kali meminta Mamori menjadi kekasihnya. Dan saat Hiruma melamarnya.

Air mata Mamori mulai menetes bergulir dari ujung matanya. Mamori menutup mata dengan lengannya. Tangan yang lainnya menggumpal di atas dadanya. Dia merasa sesak.

Apa Mamori harus kehilangan Hiruma lagi.

"Kenapa kamu memilih cinta yang rumit seperti itu Mamori-san?"

Seandainya Mamori jatuh cinta dengan lelaki lain. Dia tidak akan mengalami hal menyesakkan seperti ini. Dia akan merasakan cinta tanpa harus ada perpisahan. Tapi Mamori jatuh cinta dengan Hiruma. Mamori tidak pernah menyesalinya. Tapi sampai kapan dia harus bertahan seperti ini.

Sudah sejak lama Mamori kehilangan rasa egoisnya. Tak pernah sekali pun Mamori bersikap egois dan meminta Hiruma untuk tetap tinggal. Dia bahkan tidak pernah bertanya tentang pekerjaan Hiruma disana. Apa Hiruma hanya pulang untuk sementara lantaran Mamori ingat barang bawaan Hiruma hanya berupa satu koper. Apa Hiruma akan pergi lagi meninggalkannya. Seandainya pertanyaan itu bisa terlontar dengan mudah dari mulutnya.

Mamori meluapkan seluruh air matanya. Seolah tangisan selama lima tahun yang dia pendam, sudah tidak dapat ditahannya lagi. Dia bukan wanita tegar. Mamori tidak bisa menjadi salah satunya. Tapi Mamori akan berusaha. Dia harus terlihat tegar, walau harus menyakiti dirinya sendiri.

.

.

Rehearsal berlangsung tanpa kendala. Para model sudah berlatih menguasai panggung. Begitu pun dengan bagian suara dan pencahayaan. Segala sesuatu di belakang panggung sudah di persiapkan. Mulai dari bagian busana dan tata rias. Semua pekerja sudah paham dengan bagian mereka masing-masing. Mariya sebagai pengatur acara juga sudah siap, dan Keigo juga ikut dalam rehearsal itu, mengingat dia sebagai host acara nanti. Begitu pun dengan Mamori, Mamori harus siap. Dia tidak boleh membiarkan masalah pribadinya mengganggu jalannya acara.

Acara besok akan berlangsung mulai pukul lima sore dan akan berlangsung selama tiga jam. Karena itu setelah rehearsal hari ini, para model diminta untuk istirahat, begitu pun para pekerja lainnya.

Sebelum kembali ke hotel, mereka mengadakan makan malam bersama. Mariya sengaja menyewa tempat makan malam di kedai yakiniku yang tidak jauh dari hotel dan gedung acara. Semua orang mengobrol dengan santai dan bersenda gurau. Mereka tahu, acara makan malam ini memang rutin mereka lakukan selama touring untuk meningkatkan suasana hati mereka setelah bekerja selama beberapa hari mempersiapkan semuanya.

Mamori melihat ke cangkir yang baru diletakkan oleh pelayan di depannya.

"Aku tidak memesan ini," balas Mamori sambil melihat ke cangkir teh di depannya.

"Aku yang memesannya," balas Keigo sambil mengangguk seraya mengucapkan terima kasih ke pelayan.

"Untukku?" tanya Mamori menoleh ke Keigo yang duduk sebelahnya.

Keigo mengangguk. "Itu teh chamomile. Agar kamu bisa tidur nyenyak malam ini. Kau tidak tahu, matamu terlihat kacau dan itu menyeramkan," canda Keigo.

Mamori ikut tersenyum. Tidak dipungkirinya, karena tidak mungkin matanya akan terlihat baik-baik saja walau dia sudah menangis semalaman kemarin.

"Semua akan baik-baik saja, Mamori-san," ujar Keigo, sambil meminum minumannya. "Walau itu Amerika atau pun Italia, masih belum ada kepastian klub mana yang akan Hiruma-san pilih."

"Mau itu Amerika atau Italia, kedua pilihan itu tetap akan membuatnya pergi lagi."

Keigo menepuk-nepuk kepala Mamori. "Jangan bersedih, oke? Besok sudah mulai acara. Aku tidak mau matamu malah terlihat tambah buruk. Kompres dengan air hangat setibanya di hotel nanti. Dan jangan menangis lagi."

"Aku tahu...," balas Mamori. Dia sedikit tersenyum karena mendapati Keigo menasihatinya. "Kamu sudah dewasa rupanya," ujarnya tertawa kecil.

"Jadi selama ini kau menganggapku anak kecil, Mamori-san?" balas Keigo.

"Yah... Hampir seperti itu."

.

.

Makan malam telah usai. Mereka lalu kembali ke hotel. Mariya dan Aoi lebih dulu keluar lift di lantai tiga. Setelah mengucapkan selamat malam, Mamori dan Keigo menuju ke lantai lima. Setibanya di lantai lima, mereka berjalan menyusuri lorong.

Mamori berdiri di depan pintu kamarnya. Dia mencari kunci sambil melirik ke Keigo yang berdiri di sebelahnya. "Tidak perlu menungguku, Keigo-kun. Pergilah ke kamarmu."

Keigo menggeleng. "Aku harus memastikan sampai kamu masuk ke dalam."

"Baiklah," balas Mamori sembari menggesekkan kartu ke gagang pintu. Dia lalu membuka pintu itu dan sesaat dia berhenti. "Youichi..." lirihnya tanpa sadar.

"Ada apa Mamori-san?" tanya Keigo bingung melihat Mamori yang terdiam sesaat.

"Ah tidak," balas Mamori tersenyum serba salah. "Aku seperti mencium wangi cologne yang biasa dipakai Youchi."

Keigo mengusap kepala Mamori. "Kamu butuh istirahat. Masuklah. Selamat malam."

"Selamat malam Keigo-kun."

Mamori lalu masuk ke kamar dan menutup pintu. Dia lalu menyalakan lampu ruangan. Mamori menaruh jaket dan tasnya di sofa sembari membuka sepatunya. Gerakan Mamori seketika terhenti saat melihat seseorang di atas tempat tidurnya. Rasa kaget, lega, dan senang bercampur disana saat melihat Hiruma yang tengah berbaring dan tidur dengan nyaman.

Mamori berjalan mendekat ke Hiruma yang masih terlelap. Dia perlahan duduk di sebelah Hiruma. Tangannya mengelus pipi Hiruma, seolah meyakinkan kalau ini adalah nyata. Hiruma benar-benar ada disini bersamanya.

Hiruma menangkap gerakan tangan Mamori di pipinya. "Sudah pulang?"

Mamori memasang senyuman pilu di wajahnya.

"Semua berjalan lancar, heh?" tanya Hiruma saat melihat wajah Mamori yang tidak biasa dan bergantian tangannya yang menyapu lembut pipi Mamori.

Mamori menunduk dan merangkul leher Hiruma.

Hiruma menghela napas. Entah apa yang terjadi, Hiruma hanya bisa menenangkan Mamori dengan mengelus kepalanya seraya dia bangun dan duduk. Hiruma kemudian membalas pelukan Mamori. Dia merasakan tangan Mamori yang mengencang di punggungnya.

"Belum sepuluh hari tidak bertemu denganku, kau sudah merindukanku seperti ini, heh?"

Mamori membenamkan wajahnya di leher Hiruma. Mencium wangi yang sama, yang selalu tercium dari tubuh Hiruma. Dia sangat hapal dengan wangi ini. Karena wangi inilah yang tercium dari dirinya sendiri jika Hiruma terlalu menempel padanya seharian. Mamori sangat amat merindukannya.

Hiruma membalas mencium ke telinga Mamori. Masih dengan mengusap kepalanya lembut seraya menenangkannya. Karena Hiruma bisa menduga, kalau Mamori tengah menahan emosinya.

"Persiapan untuk besok lancar?" tanya Hiruma, berusaha untuk mengalihkan suasana.

"Hm," sahut Mamori sambil menganggukkan kepalanya.

"Lalu kenapa kau seperti habis menangis?"

Mamori melepaskan pelukannya. Dia menundukkan kepalanya dan mengusap genangan air mata yang hampir menetes tadi.

"Aku boleh menciummu?" tanya Hiruma.

Mamori membalas dengan tatapan bingung.

"Kupikir kau lelah malam ini, karena itu aku bertanya," lanjut Hiruma ragu.

Mamori melingkarkan lengan ke leher Hiruma dan mulai mencium bibirnya. Mamori tak kuasa menahan keinginannya. Karena dia tahu ini akan jadi saat-saat terakhir Mamori bisa menyentuh Hiruma. Dia tahu Hiruma akan segera pergi meninggalkannya. Kesedihan itu kembali melanda Mamori.

Hiruma membalas ciuman Mamori seraya membawa Mamori berbaring di tempat tidur. Hiruma melingkupi tubuh Mamori di atasnya. Tangannya mulai membuka kancing kemeja Mamori dan menurunkannya dari pundaknya. Hiruma mencium leher Mamori. Dia menelusuri pundak Mamori dengan bibirnya. Gerakan Hiruma berhenti seketika saat mendengar suara isakan tangis dari Mamori. Kaget dan bingung, Hiruma sontak melihat ke wajah Mamori.

Mamori tak kuasa menahan air matanya. Tak seharusnya Mamori menangis seperti ini. Tapi bila mengingat kalau ini akan jadi sentuhan terakhir Hiruma untuk dirinya, Mamori terlalu rapuh untuk membayangkannya. Dia tidak akan sanggup jika Hiruma pergi meninggalkannya lagi.

Hiruma mengerutkan keningnya. "Kenapa kau menangis, heh?" tanya Hiruma bingung. Entah kesalahan apa yang telah diperbuatnya. "Apa aku terlalu kasar?"

Tangisan Mamori semakin menjadi. Wajah Hiruma sudah terlihat samar di matanya. Tangannya meraih ke belakang leher Hiruma dan membawa wajahnya mendekat. Dia merangkul Hiruma sekuat tenaga. Mengerahkan segala dayanya agar Hiruma tidak pergi meninggalkannya lagi.

"Kumohon padamu Youichi. Jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku lagi," lirih Mamori dengan isakan tangisnya.

Hiruma terpaku mendengarnya.

Sialan. Hiruma ingin memaki dirinya sendiri karena tahu Mamori menangis karenanya. Walau begitu, Hiruma merasa hangat. Hatinya berdebar kencang saat mendengar luapan kejujuran Mamori.

Hiruma membawa Mamori duduk dan masih tetap sambil memeluknya. Dia mengelus kepala Mamori di pundaknya yang masih terus terisak dalam tangisannya.

"Aku sudah bilang padamu kan..." ujar Hiruma lembut di telinga Mamori. "Mintalah apapun dariku walaupun itu permintaan yang egois sekali pun." Hiruma lalu melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Mamori. "Apa yang membuatmu berpikir aku akan pergi lagi?"

"Karena aku tahu kamu akan pergi," balas Mamori.

Hiruma menyandarkan lengannya santai di pundak Mamori. Dia lalu memamerkan senyumnya untuk menenangkan Mamori. "Dengar. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku akan disini bersamamu, walau tidak setiap waktu. Aku tetap akan menagih makan malam buatanmu. Aku akan sibuk dengan pekerjaanku. Tapi kupastikan aku akan menemanimu tidur setiap malam."

Itu pernyataan yang panjang yang sanggup membuat Mamori menangis lagi. Tapi kali ini Mamori menangis dengan bahagianya.

"Kenapa tangisanmu malah makin kencang, bodoh?" Hiruma lalu kembali merangkul Mamori. Hiruma tak kuasa menahan senyumannya melihat tingkah Mamori. "Sudah jangan menangis lagi," ujarnya sambil menepuk-nepuk kepala Mamori.

.

.

To Be Continue

.

.

Side Note :

Dibilang Hiruma jangan nangis lagi, Mamori malah tambah nangis. Duuh XD

Gimana guys... Puas tidak setelah beberapa chapter tidak ada bagian HiruMamo-nya? Tenang... Di chapter berikutnya kemesraan mereka masih berlanjut kok. Yang sabar yaaa

Cerita masih belum berakhir. Masih chapter 10. Masih panjang kok.. Kalian juga pasti sudah hapal kan kalau saya sudah buat genre drama, pasti akan lebih dari 12 chapter.

Nah... Jangan bosan-bosan review ya. Ditunggu feedback-nya.

Salam : De