Surprise? Selamat untuk kamu yang langsung baca!

Btw, saya akan langsung update kalau ada 15 review (guest dihitung 1 yaaa XD). So, kalau mau update cepat, Jangan lupa review-nya. Cuma 15 review kook XD

.

.

Chapter 11

.

.

"Jam berapa kau akan ke tempat acara?" tanya Hiruma, sambil duduk bersantai di atas tempat tidur sambil menikmati kopinya.

Dia masih mengenakan kaos tidurnya, sementara Mamori sudah mandi dan berganti baju dengan kemeja krem tanpa lengan dipadukan dengan celana pendek putih.

"Jam dua."

"Kalau begitu kita masih punya waktu banyak untuk mengobrol," ujar Hiruma sambil menepuk-nepuk tempat tidur, mengisyaratkan Mamori untuk duduk di sebelahnya.

Mamori lalu mengambil minuman serealnya dan biskuit lalu duduk di samping Hiruma. "Oke. Apa yang ingin kita bicarakan?"

"Mengenai semalam," balas Hiruma. "Sungguh... Kau merusak rencana sialanku."

"Rencanamu?" tanya Mamori dengan bingungnya.

"Aku tidak tahu kau dapat ide dari mana sampai mengira aku akan pergi. Kau tidak pernah bertanya padaku kan?"

"Yah... Mungkin aku salah paham mendengar berita dari televisi," balas Mamori. "Sekarang ceritakan tentang rencanamu."

"Aku ditawari bermain di tiga klub. Awalnya aku ingin kau yang memilihnya. Tapi karena kau sudah menangis terlebih dulu, semuanya jadi berantakan."

"Tiga klub?" balas Mamori.

"Yah.. The Milano, D.C Tiger, dan Tokyo Storm."

Mamori terpaku mendengarnya. "Tokyo Storm?"

Hiruma menghela napas melihat reaksi Mamori. "Hmm.. Tokyo Storm. Benar, heh? Memintamu memilihnya pun sepertinya tidak perlu. Karena jelas sekali apa pilihanmu."

Mamori menggeleng. "Tidak Youichi. Ini hidupmu. Ini masa depanmu. Harusnya kamu yang menentukan."

Hiruma menghela napas lagi. Dia lalu meletakkan telapak tangan di atas kepala Mamori. "Kau bodoh, heh? Itu hanya pekerjaanku. Kaulah hidupku dan kaulah masa depanku."

Mamori menahan senyumannya. "Lima tahun lalu kau tidak bilang seperti ini."

"Makanya... Itu diriku lima tahun lalu. Sekarang aku tidak mau egois. Karena itu, katakan dan lakukan apapun yang sekarang kau inginkan bersamaku."

Mamori menatap ke Hiruma beberapa saat sambil berpikir. "Boleh begitu?"

"Ya bodoh. Aku tidak akan menarik perkataanku."

"Mulai sekarang, jawab jujur pertanyaanku," balas Mamori.

Hiruma menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur sambil meletakkan kopinya di meja. "Apa ini akan jadi semacam interogasi?" ujarnya sambil menyeringai.

Mamori tidak peduli dengan candaan Hiruma. Dia juga meletakkan minumannya di meja lalu memutar tubuhnya sehingga bisa menghadap ke Hiruma. Wajahnya serius walau sambil memakan biskuitnya. "Oke. Aku mulai."

"Hm."

"Aku ingin kamu menjawab jujur. Karena banyak sekali pertanyaan yang menyangkut di kepalaku selama lima tahun kamu di Italia."

"Keh.. Aku mengerti Mamori. Kau bisa menanyakan apapun padaku."

"Selama lima tahun itu apa pernah kau pulang ke Jepang diam-diam?" Mamori mulai bertanya.

"Tidak pernah sekali pun. Aku tidak mungkin mengingkari janjiku."

"Tapi aku hanya melarangmu untuk tidak menemuiku atau meneleponku, kan?" balas Mamori.

"Walau begitu, jika aku pulang, aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menemuimu, bodoh!"

Mamori berdeham menahan senyumnya. "Oke... Pertanyaan lain. Apa kau punya wanita lain disana?"

Hiruma mengerutkan keningnya. "Pertanyaan bodoh macam apa itu? Kalau aku bilang tidak punya, kau pasti akan meragukanku."

"Kau pernah tidur dengan wanita lain?" lanjut Mamori.

"Mana mungkin aku melakukannya bodoh. Aku juga menderita selama lima tahun karena itu!"

Mamori tertawa kecil mendengarnya. "Terima kasih, Youichi," balasnya dan mengecup pipi Hiruma.

"Apa kau punya laki-laki lain selama aku tidak ada?" Kali ini Hiruma yang bertanya.

"Ada. Keigo-kun," jawab Mamori sambil tersenyum karena tahu Hiruma pasti akan kesal.

"Sialan."

"Selanjutnya," sahut Mamori melanjutkan pertanyaan lain. "Apa kamu pernah melihatku di televisi?"

"Yah... Bukan di televisi. Tapi di internet. Saat senggang aku suka melakukannya."

Mamori terdiam mendengarnya. "Benarkah Youichi?"

"Ya! Aku bahkan membeli majalah fashion jika itu ada berita kamu di dalamnya, sialan."

Kali ini Mamori tak kuasa menahan diri untuk memeluk Hiruma. Dia tidak menyangka kalau Hiruma akan mencintainya sedalam itu. "Aku mencintaimu Youichi."

"Lalu apa kau juga pernah dengan sengaja menonton pertandinganku atau mencariku di internet?"

Mamori terdiam sambil perlahan mengendurkan pelukannya. Dia menatap Hiruma serba salah.

"Kau tidak pernah melakukannya, heh?" lanjut Hiruma saat mendapatkan jawabannya.

"Kalau aku melihatmu aku pasti akan menangis!" balas Mamori.

"Lalu apa yang kau lakukan untuk bisa tetap mengingatku? Perasaanmu pasti memudar kan selama lima tahun itu?" balas Hiruma.

"Caraku berbeda denganmu Youichi," sahut Mamori. Dia lalu menyentuh kalungnya. "Setiap aku pergi kerja atau saat aku akan naik ke panggung. Aku selalu mencium kalung ini," ujarnya. Lalu dia menatap Hiruma dengan kesal. "Lagipula kamu sendiri yang bilang kalau aku harus selalu memakai kalung ini untuk mengingatmu. Apa kamu lupa?"

Hiruma mengalihkan perhatiannya. "Ah ya... Aku memang pernah bilang seperti itu."

Mamori menghela napasnya. Walau hanya mengobrol seperti ini, rasanya dia sudah kelelahan. Mamori lalu ikut menyandarkan dirinya di sebelah Hiruma.

Hiruma merangkul pundak Mamori sehingga kepala Mamori bersandar di tubuhnya. Tangannya mengelus kepala Mamori. Mereka diam dalam keheningan yang nyaman.

"Aku ingin sekali-kali kita liburan ke Italia. Aku ingin tahu kehidupanmu disana," sahut Mamori.

Hiruma menunduk melihat ke Mamori. Dia lalu tersenyum. "Ide bagus," balas Hiruma. "Aku ingin menunjukkanmu ke macam-macam tempat yang sering aku kunjungi disana."

Mamori tersenyum mendengarnya. "Setelah selesai acara ini, aku ingin menonton film di bioskop."

Hituma menunduk melihat Mamori. "Ada apa, heh? Tumben sekali."

Mamori tertawa. "Aku hanya tidak ingin kita terlalu sibuk dengan pekerjaan. Kalau kamu sudah aktif di klub, kamu pasti tidak ada waktu untukku."

"Yah... Kau benar."

"Oh ya," sahut Mamori menjauhkan kepalanya dan melihat ke Hiruma. "Kenapa kemarin nomormu tidak aktif?"

"Aku di Italia," jawab Hiruma. Dia melihat Mamori memasang wajah bingungnya. "Aku harus bertemu para petinggi lagi untuk mengakhiri kontrakku. Lalu setelah selesai aku langsung kesini."

Mamori menghela napas. "Kamu tahu bagaimana kacaunya aku saat tidak bisa menghubungimu?"

Hiruma menyeringai. "Jelas sekali terlihat di wajahmu."

"Lalu bagaimana kamu bisa masuk ke kamarku?"

Hiruma mengangkat bahu sambil menaruh tangannya ke belakang kepala. "Aku hanya minta kunci kamarmu di resepsionis. Dan sepertinya dia tahu kalau aku pacarmu."

"Kamu menyalahgunakan ketenaranmu," balas Mamori.

"Ada untungnya kan?" ujarnya tersenyum bangga. "Saat itu aku lelah sekali."

"Kamu lelah tapi masih mau melakukannya denganku semalam," keluh Mamori.

Hiruma merangkulkan lengannya ke pundak Mamori. Dia menyentuh dagu Mamori seolah menggodanya. "Kita lakukan lagi sekarang, bagaimana?" ujarnya menggoda.

Mamori menahan Hiruma dengan telapak tangan di dadanya. "Aku sudah rapi seperti ini."

"Rapi apanya, heh? Kau bahkan belum memakai riasan dan menyisir rambutmu," ujarnya dan memulai menciumi wajah Mamori dan melepas ikatan rambut Mamori.

"Kita juga belum sarapan," balas Mamori seraya mengikuti irama Hiruma yang sudah membawanya berbaring. "Astaga Youichi. Aku sudah harus di lokasi siang ini."

Hiruma memasang wajah kesalnya. "Aku tidak pernah menduga kalau aku akan diduakan oleh pekerjaan."

"Terserah apa katamu," balas Mamori sambil mendorong tubuh Hiruma dan bangun dari tidurnya.

Masih dengan wajah kesalnya, Hiruma duduk di atas tempat tidur sambil melihat ke Mamori yang duduk di meja rias.

"Mandilah. Setelah itu kita sarapan," ujar Mamori.

.

.

Gemuruh musik melantuni acara Fashion Show Kansai. Mamori duduk di antara tamu VIP di meja bundar dan berbincang mengenai busana rancangan yang diperagakan model catwalk di atas panggung. Mamori melihat ke sekeliling ke arah penonton yang mengagumi rancangannya. Mamori tersenyum melihatnya.

Gaun yang dipakai Mamori pun tidak kalah cantik dengan yang dipakai para model itu. Gaun selutut berwarna pink pudar. Rambut Mamori yang disanggul cantik yang memperlihatkan tengkuknya yang indah. Kalung Mamori yang menghias lehernya pun tak pernah dia lupakan.

Awalnya Hiruma menolak tawaran Mamori untuk duduk di sebelahnya. Tapi karena Mamori terus merajuk akhirnya Hiruma mengalah dan dirinya juga ikut ditata rambutnya. Dengan kemeja abu-abu kasualnya, Hiruma masih terlihat mencolok dengan rambut pirangnya yang ditata rapi.

Hiruma duduk di sebelah Mamori dengan tidak melepas tangan Mamori yang bersantai di pangkuannya. Hiruma menikmati musik dan peragaan model itu sambil sesekali memperhatikan Mamori.

Wajah Mamori terlihat bahagia sehingga membuat Hiruma yang tak sadar menyinggungkan senyumnya. Hiruma menyelipkan jemarinya di antara jemari Mamori dan menggenggemnya lembut, sehingga membuat Mamori menoleh ke arahnya. Mamori hanya membalas tersenyum kepadanya.

Walau ini berbeda jauh dengan dunia Hiruma, tapi Hiruma bisa menerimanya. Mereka memang tidak harus sejalan. Tapi walau begitu, mereka bisa berjalan beriringan dan saling mendukung. Hiruma tahu benar Mamori akan selalu mendukungnya. Sekali pun jalan itu berbelok jauh dari Mamori, tapi dia tetap mendukung Hiruma. Karena itu sekarang giliran Hiruma yang akan selalu mendukungnya.

"Aku pernah membayangkan, suatu hari kamu akan duduk di sebelahku dan menemaniku selama acara Fashion Show berlangsung," sahut Mamori dan tersenyum. "Terima kasih kamu telah mengabulkannya Youichi."

"Walau awalnya aku menolak, tapi aku ingat kalau aku sudah berjanji akan menuruti semua keinginanmu."

"Terima kasih juga untuk itu," balas Mamori.

Hiruma menggenggam tangan Mamori lebih erat, sambil mengecupnya. "Akan kulakukan apapun untuk menjaga senyumanmu itu."

Mamori balas tersenyum lembut kepadanya.

.

.

Acara sudah selesai dua puluh menit lalu. Mamori berjalan menuju ruang ganti para model disana. Mamori mengucapkan terima kasih kepada mereka. Selanjutnya Mamori menuju ruang khususnya untuk beristirahat bersama Mariya yang berjalan mendampinginya.

"Kamu lihat Youichi, Mariya-san?" tanya Mamori. Karena saat Mamori tengah menyampaikan salamnya di atas panggung, dia melihat Hiruma pergi meninggalkan acara.

"Aku lihat dia masuk ke ruang pribadi tadi," jawabnya tanpa menyebutkan sesuatu yang Hiruma bawa di tangannya.

"Jadi Youichi sudah disana?"

Mariya lalu teringat sesuatu. "Aku lupa. Ada sesuatu yang tertinggal di ruang ganti tadi."

Mamori menganggukkan kepalanya. Dia lalu meneruskan jalannya. Setelah sampai mamori membuka pintu.

"Youchi," panggilnya.

Mamori mendapati Hiruma yang berdiri di depan pintu. Matanya melihat ke rangkaian bunga mawar yang dipegangnya. Dia lalu mendongak dan melihat Hiruma dengan senyumnya.

"Untuk yang paling cantik di acara malam ini," ujar Hiruma.

Walau Mamori tahu kata-kata itu tidak pernah terbayang akan keluar dari mulut Hiruma, tapi Hiruma mengatakannya dengan penuh kepercayaan diri. Sehingga membuat Mamori mengembangkan senyumnya. Mamori lalu menerima rangkaian bunga mawar itu.

"Bagaimana kalau bukan aku yang membuka pintu ini?" ledek Mamori.

"Jangan meragukan instingku," balas Hiruma.

Mamori tersenyum lagi dan memeluk pinggang Hiruma. "Terima kasih Youichi."

Pintu tiba-tiba terbuka dan Keigo muncul disana. "Oh. Apa aku mengganggu?" ujar Keigo, walau begitu dia tetap masuk dan menutup pintunya kembali.

"Kau harusnya belajar cara untuk mengetuk pintu itu, bodoh," sahut Hiruma.

"Aku sudah mengetuk pintunya tadi," balas Keigo sambil mengendurkan dasinya dan berjalan melewati pasangan itu dan duduk di kursi.

Mamori menepuk-nepuk dada Hiruma dan meredakan kekesalannya. Dia lalu menggandeng tangan Hiruma dan mengajaknya untuk duduk di sofa.

"Ngomong-ngomong," sahut Keigo lagi. "Status kalian itu pacaran atau tunangan?"

Hiruma dan Mamori sama-sama dibuat berpikir dengan pertanyaan Keigo.

"Mau pacar atau tunangan, bukannya sama saja. Ya kan Youichi?"

Hiruma tersadar dari pikirannya sendiri. "Ya. Kau benar. Tidak ada bedanya."

"Tentu saja ada bedanya," balas Keigo. "Kalau bertunangan, Mamori-san akan memakai cincin. Kalau kamu pakai cincin, laki-laki lain pasti akan sungkan mendekatimu."

Mamori tertawa serba salah. "Itu tidak penting. Tidak ada laki-laki yang mendekatiku."

Keigo melihat ke Hiruma. "Kau tidak takut Hiruma-san? Walau Mamori-san tidak menyadarinya. Banyak sekali laki-laki yang mengincarnya. Lebih parahnya, dia terlalu ramah kepada mereka sehingga membuat mereka berharap."

"Keigo-kun," sela Mamori.

Hiruma lalu menatap ke Mamori. "Aku tahu kau selalu ramah. Tapi bukannya itu keterlaluan, heh?"

"Kamu percaya dengan ceritanya? Itu berlebihan. Yang terjadi tidak seperti itu," balas Mamori. Dia lalu melotot ke Keigo yang sudah tersenyum puas.

"Lihat kan? Sudah kubilang dia tidak sadar kalau sudah bersikap seperti itu," lanjut Keigo. Dia lalu bangun dari duduknya dan keluar dari ruangan tanpa rasa bersalah.

"Itu konyol kalau kamu kesal denganku sekarang, Youichi. Dulu-dulu kamu tidak pernah peduli," keluh Mamori.

"Aku akan membelikanmu cincin," balas Hiruma.

"Itu tidak perlu. Untuk apa cincin tunangan lagi," balas Mamori. "Lebih baik kamu langsung beli cincin pernikahan."

Hiruma terdiam melihat Mamori. Sementara Mamori memalingkan wajah merahnya karena menyadari apa yang telah dikatakannya. Hiruma lalu menyentuh dagu Mamori sehingga menghadap wajahnya. Dia lalu tersenyum sebelum mengecupkan bibirnya ke Mamori.

"Ayo makan. Aku lihat ada kedai yakiniku di dekat hotel tadi. Sepertinya enak," ujar Hiruma sambil berdiri.

"Aku baru kesana kemarin malam."

Hiruma menoleh dan menunduk melihat ke Mamori. "Kau keberatan kalau kita makan di situ lagi?"

Mamori tertawa. "Tentu saja tidak. Aku ingin mencobanya lagi karena kemarin aku makan dengan mood yang tidak enak." Mamori lalu meraih telapak tangan Hiruma yang membantunya berdiri. "Kita naik apa kesana?"

Hiruma mengeluarkan kunci mobil dari kantung celananya. Lalu menunjukkannya ke Mamori. "Mobilmu."

"Sebelum itu, kamu keberatan jika aku ganti baju dan melepas riasan rambutku?" tanya Mamori.

"Kenapa juga kau meminta izin dariku dulu, heh?"

Mamori tersenyum mengingat kata-kata Hiruma saat dia membuka pintu tadi. "Karena kamu bilang aku wanita tercantik malam ini. Jadi kupikir kamu menyukai gaun ini mengingat kamu tidak pernah bilang aku cantik."

"Kau selalu cantik di mataku," sahut Hiruma pelan seraya melengos berjalan menuju pintu.

Senyum Mamori tambah mengembang. "Kamu bilang apa Youichi?" balasnya sudah mengikuti langkah Hiruma dan mengaitkan lengan mereka.

"Kau mendengarnya bodoh."

Mamori lalu tertawa kecil. Dia sangat bahagia hari ini.

.

.

To Be Continue

.

.

Wow. Di atas itu adalah sub-chapter terpanjang yang pernah saya tulis selama ini. Saya senang menulis chapter ini karena obrolan mereka mengalir begitu saja XD saya harap kalian juga suka.

Akhirnya Mamori bisa jujur jadi sudah tidak ada kesalahpahaman lagi di antara mereka. Nah... Menurut kalian akan ada konflik lagi tidak niih? Hmmm... Ditunggu saja ya chapter selanjutnya. Apa ini akan jadi happy ending atau sad ending.

Btw.. Saya belum pernah bikim cerita yang sad ending ya? Ah lupakan. Saya tidak suka sad ending jadi saya tidak akan membuat cerita dengan akhir yang seperti itu. XD

Put some words on the review box please? Let me know your feeling about this fiction. Thank you!

Salam : De