TGIF !
Acung tangan yang nunggu-nunggu update-an Jum'at ini ? Yah ga apa2 walaupun belum tembus 15 review. Chapter ini saya persembahkan bagi pembaca setia yang selalu setia mengunggu dan rajin me-review XD
So guys... This chapter for yooou !
.
.
Chapter 12
.
.
Mamori tengah asik dengan komputer grafisnya untuk membuat sketsa kasar untuk rancangan spesial di Fashion Tour selanjutnya. Walaupun dia sudah menyelesaikan Tour Kansai beberapa hari kemarin, tapi Tour selanjutnya masih akan terus berlanjut dalam sebulan lagi.
"Atlet Hiruma secara resmi menandatangani kontrak dengan Tokyo Storm. Hiruma yang ditarik dari The Milano akan membela Tokyo Storm selama tiga musim. Sebelumnya Atlet Hiruma sempat ditawari..."
Mamori menoleh dari meja kerjanya saat mendengar berita di televisi. Setelah itu dia kembali fokus ke komputer grafisnya. Sejak kejadian waktu itu, Mamori tidak ingin mendengar berita apapun tentang Hiruma. Karena seperti yang Hiruma bilang, lebih baik bertanya langsung jika itu menyangkut dirinya dibanding mendengar dari berita yang mengada-ada. Tapi Mamori tidak ingin menyalahkan berita sepenuhnya. Karena berita itu sudah menyampaikan informasi yang sebenarnya. Namun Mamori saja yang terlalu sensitif dan berprasangka buruk. Sehingga membuat dirinya terpengaruh dan goyah.
Beberapa saat kemudian, suara pintu diketuk dan dia melihat Mariya masuk ke dalam.
"Laporan untuk acara kemarin itu," ujarnya lalu meletakkan dokumen ke atas meja. Mariya menoleh ke televisi sesaat lalu melanjutkan perkataannya. "Aku tidak menyangka kalau Atlet Hiruma itu begitu berpengaruh."
Mamori melihat ke Mariya untuk melanjutkan ceritanya.
"Pihak Channel Fashion menghubungiku kalau rating acara kita naik tiga persen dari rata-rata biasanya. Kemungkinan terjadi karena banyak penggemar penasaran dengan kebenaran hubungan kalian. Dan entah dapat informasi dari mana mereka tahu kalau Atlet Hiruma akan ada di acara itu."
Mamori tertawa. "Jangan meremehkan jaringan informasi penggemar. Mereka bahkan lebih cepat tahu dibanding wartawan."
Mariya mengangguk-angguk. "Kamu benar. Pihak sponsor juga berterima kasih pada Atlet Hiruma untuk itu." Mariya lalu tersenyum. "Syukurlah dia tetap memilih di Jepang."
Mamori lalu balas tersenyum. "Ya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika dia pergi lagi."
"Seharusnya kamu tidak perlu cemas berlebihan seperti itu Anezaki-san. Aku sudah menduga Atlet Hiruma pasti tidak akan pergi ke klub luar negeri lagi."
Mamori menggeleng. "Kamu tidak akan bilang seperti itu kalau tahu dulu dia pernah tanpa ragu meninggalkanku."
"Kurasa itu tidak mungkin. Dia pasti sempat ragu dan merasakan kesulitan juga."
Mamori tersenyum pilu membayangkan lima tahun lalu. Tentu saja dia tahu bagaimana perasaan Hiruma waktu itu. Mereka sama-sama tahu rasanya melepaskan seseorang yang tidak ingin ditinggalkan. Bagaimana rasanya menahan diri untuk tidak bersikap egois. Dan bagaimana rasanya sendirian sambil merindukan seseorang.
Ponsel Mamori berdering di atas meja.
"kalau begitu, aku permisi dulu Anezaki-san," sahut Mariya.
Mamori tersenyum dan mengangguk kepada Mariya. "Terima kasih, Mariya-san," ujarnya.
Mamori lalu meraih ponselnya. "Halo? Dengan Anezaki," sapanya.
.
.
Hiruma mengendarai mobilnya dan sampai ke sebuah tempat kerja konstruksi. Setelah memarkirkan mobilnya, Hiruma menuju kantor kecil yang tak jauh dari bangunan konstruksi itu. Di dalam dia melihat dari jendela Musashi sedang menyeduh kopi dan melihat ke arahnya.
"Yo. Pak Tua," sapa Hiruma dan masuk ke ruangan itu.
"Kau datang?" ujar Musashi. "Kopi?"
"Ya," balas Hiruma.
"Bagaimana kau tahu lokasi kerjaku sekarang disini?" tanya Musashi. "Oh. Lupakan aku pernah bertanya."
Hiruma memamerkan senyumnya.
"Akhirnya kau ambil kontrak dengan Tokyo Storm. Pilihan yang tepat."
"Yah... Sebuah taruhan besar sebetulnya. Apa yang terjadi jika tidak ada klub Jepang yang mau mengontrakku?"
"Itu tidak mungkin terjadi," balas Musashi sambil meletakkan kopi Hiruma di atas meja dan duduk di sofa seberangnya.
Hiruma menyerup kopinya. Dia kemudian berpikir sesaat dan terlihat ragu untuk berkata. "Aku ada beberapa pertanyaan," sahutnya.
Musashi mengalihkan perhatiannya ke Hiruma. "Katakan."
"Dari sudut pandangmu, apa hubunganku dengan Mamori sekarang?"
Musashi terdiam berpikir sambil menyerup kopinya. "Bukannya kalian sudah kembali bersama?" Musashi lalu meletakkan cangkir kopinya.
"Memang benar. Tapi apa menurutmu aku dengannya masih bertunangan?" tanya Hiruma dengan wajah seriusnya.
"Kalian dulu pernah bertunangan. Kalian berpisah selama lima tahun lalu sekarang kembali bersama. Jadi maksudmu kau bingung dengan status hubungan kalian sekarang?"
"Yah..."
Musashi tertawa. "Kau jauh-jauh kesini hanya untuk menanyakan hal sepele macam itu?"
"Jangan tertawa sialan," keluh Hiruma. "Aku ragu apa aku harus melamarnya lagi atau tidak."
"Kenapa kau ragu?"
"Kau tahu selama ini banyak lelaki yang mendekatinya. Aku ingin segera melamarnya, tapi aku tidak bisa untuk segera menikahinya."
Musashi terdiam lalu mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu?"
"Setidaknya aku akan menikahinya setelah aku bermain selama satu musim di Tokyo Storm."
Musashi menghela napas. "Apa hubungannya menikah dengan kontrak di klub. Kurasa di kontrak perjanjian tidak ada larangan."
"Memang tidak ada. Tapi aku ingin berkonsentrasi untuk klub dulu," balas Hiruma ragu dengan jawabannya sendiri.
"Apa kau bodoh Hiruma?" balas Musashi terlihat kesal. "Anezaki sudah menunggumu selama lima tahun. Dan sekarang kau mau membuatnya menunggu lagi? Bagaimana kau bisa begitu yakin kalau Anezaki mau menunggu lagi? Jangan bodoh Hiruma."
"Dia pasti akan mengerti," lirih Hiruma sambil berpikir.
Musashi menghela napas panjang. "Kau tidak berubah Hiruma. Pada akhirnya kau tetap mementingkan karirmu dibandingkan dengannya. Jangan membuatku mengasihani Anezaki lebih dari ini "
Hiruma terdiam berpikir mendengar kata-katanya.
"Sebesar apapun cintanya, tidak ada jaminan Anezaki akan bertahan bersamamu. Jangan sampai kau menyesal kehilangan seseorang yang berharga untukmu. Kau itu tipe orang yang tidak sadar betapa berharganya orang yang ada bersamamu. Kau paham itu Hiruma?"
.
.
Hiruma menghabiskan waktunya dengan ketiga sahabatnya di kantor kerja Musashi. Dua jam dia bermain catur sambil mengobrol santai. Setelah itu datang Kurita yang baru saja kembali dari latihan rutinnya. Mereka mengobrol dan bercerita tentang segala macam hal. Karena pertemuan mereka inilah yang pertama terjadi setelah lima tahun tidak bertemu.
Kurita masih saja mengeluh karena Hiruma tidak menghadiri upacara pernikahannya. Tapi tidak hanya Kurita, baru-baru ini dia ingat kalau dirinya juga melewatkan pernikahan Sena dan Suzuna. Bukan tidak tahu, Hiruma sesaat lupa kalau bocah pendek didikannya itu ternyata sudah melangkahi Hiruma dan menikah lebih dulu.
Orang-orang di sekitar Hiruma memang sudah banyak yang menikah. Musashi pun akan menikah dua bulan lagi. Karena itu Hiruma paham apa yang dikatakan Musashi padanya tadi. Hiruma tidak boleh menunda terlalu lama. Dia bersyukur Mamori mau menunggu dirinya yang egois selama lima tahun. Apa yang terjadi padanya seandainya Mamori menemukan laki-laki lain dan mencampakkannya. Hiruma seharusnya paham tentang itu.
Hiruma memarkirkan mobilnya di parkir basemen. Penjaga pintu masuk basemen sudah hapal dengan Hiruma jadi dia tidak perlu menanyakan identitas Hiruma. Dan lagi-lagi dia bersyukur dengan ketenarannya yang membuat penjaga itu tahu siapa Hiruma.
Hiruma sudah mengirim pesan kepada Mamori tadi kalau dia akan makan malam bersama Kurita dan Musashi dan akan pulang malam. Jadi dia berharap Mamori tidak menunggunya walaupun wanita itu tidak membalas pesan Hiruma.
Hiruma memasukkan password apartemen Mamori. Dia menyadari lampu lorong yang masih gelap. Hiruma menyalakan lampu itu sambil mengganti sepatu dengan sandal rumah. Hiruma berjalan menuju ruang tengah dan membuka jaketnya. Dia celingukan mencari keberadaan Mamori di dapur dan di kamar mandi.
"Mamori?" panggil Hiruma.
Tidak ada jawaban.
Hiruma membuka ruang kamar. Dia mendapati ruangan yang gelap dan Mamori tidak ada disana. Dia lalu berjalan menuju ruang kerja Mamori sambil melewati jendela beranda. Gordennya masih tertutup rapat. Hiruma mengintip dari gorden itu untuk melihat kemungkinan ada Mamori di beranda. Namun kosong. Bahkan pintu beranda juga masih terkunci.
Hiruma membuka ruang kerja Mamori dan juga masih gelap. Hiruma masuk ke dalam dan menyalakan lampu. Dia tidak bisa menemukan Mamori dimana pun. Hiruma lalu duduk di ayunan santai. Sebelumnya dia sering duduk disana sambil mengobrol dan melihat Mamori kerja. Menurutnya ini benda yang nyaman yang ada di ruangan ini.
Hiruma menarik ponsel di saku celananya. Dia mengecek akun Mamori lagi dan baru menyadari kalau pesan yang dia kirim tadi sore bahkan belum diterima Mamori. Hiruma mencoba menelepon nomor ponsel Mamori.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silakan coba lagi,"
Hiruma memandangi ponselnya tidak percaya. Mamori tidak pernah mematikan ponselnya. Sekarang sudah hampir tengah malam. Apa yang dikerjakannya sampai tengah malam seperti ini.
Hiruma bangun dari duduknya dan menuju kamar tidur. Dia berusaha untuk tidak cemas. Hiruma tengah mengisi pikirannya dengan hal yang positif dan ingin mengesampingkan kekhawatirannya yang berlebih. Dia lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
.
.
Sinar mentari sudah mulai menyingsing dan mengintip dari pinggir jendela menyinari jam dinding yang menempel di salah satu dinding kamar. Hiruma tengah tertidur lelap dengan kaos putihnya. Sayup-sayup suara pagi membangunkan Hiruma. Dengan posisi tengkurap sambil memeluk bantal, Hiruma perlahan membuka matanya.
Masih dengan setengah sadarnya, Hiruma ingat kalau setelah mandi semalam, dia langsung tertidur beberapa saat setelah dia berbaring. Dia juga ingat kalau Mamori belum pulang. Dan sampai pagi ini pun dia tidak melihat keberadaan Mamori.
Hiruma duduk dan meraih ponselnya di atas meja. Dia membuka layar ponsel sambil mengacak-acak rambut seraya merapikannya. Dia lalu mencoba menelepon Mamori lagi.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silakan coba lagi,"
Hiruma mengeluh dan menghela napasnya. Dia lalu melempar ponselnya ke tempat tidur sembari dirinya bangun dan keluar kamar menuju dapur. Hiruma mengambil botol minum dari kulkas dan menenggaknya.
Hiruma lalu kembali ke kamar dan meraih ponselnya. Dia mencari nomor telepon Keigo. Untungnya dia sempat menanyakan nomor telepon laki-laki itu untuk berjaga-jaga jika hal ini terjadi. Dan ternyata tepat seperti dugaannya. Dia memang membutuhkan nomor Keigo untuk mencari Mamori.
Hiruma mendengar nada sambung yang cukup lama. Keigo tidak menjawabnya. Memang masih terlalu pagi untuk menelepon seseorang. Hiruma pun biasanya tidak bangun sepagi ini. Tapi karena dia mendapati tidur sendiri dan Mamori yang tidak bersamanya walau sudah pagi pun. Pikiran Hiruma jadi tidak tenang karena dia tidak tahu keberadaan Mamori.
Hiruma masih menenangkan dirinya agar tidak panik. Mamori pasti baik-baik saja. Dia harus percaya itu. Karena jika terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan, baik Keigo atau Mariya pasti akan segera menghubunginya. Jadi Mamori pasti dalam keadaan aman dan dalam pantauan yang lainnya.
Hiruma menyalakan kompor untuk membuat kopi. Walau masih terlalu pagi, tapi dirinya tidak ada selera untuk kembali tidur lagi. Ya. Walau pun dia berusaha tenang, tapi untuk kembali melanjutkan tidurnya, rasanya tidak mungkin. Hiruma berat untuk merasa lega jika dia belum tahu keberadaan Mamori. Karena itulah, kopi akan menjadi sesuatu yang bisa menenangkannya. Dan setelah itu dia akan menelepon Keigo tiga puluh menit lagi.
.
.
Keigo memarkirkan mobil putih di depan kantor pabriknya. Walau hari libur, tapi dia harus berangkat pagi ke pusat bahan hari ini. Pabrik masih sepi dan hanya ada dua orang penjaga yang bertugas. Keigo menuju kantornya dan duduk di kursi kerjanya sambil mencari berkas di laci yang ingin dibawanya.
Setelah itu Keigo mengambil ponsel di saku jaketnya. Dia melihat sebuah panggilan masuk. Sebuah nama yang cukup membuatnya kaget karena tiba-tiba meneleponnya. Keigo berniat menelepon lagi, namun terdengar sebuah nada sibuk.
Keigo lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Dia menuju dapur untuk membuat segelas kopi susu sebelum memulai perjalanan jauhnya.
.
.
"Nomor yang anda hubungi sedang sibuk. Silakan coba lagi."
"Sialan," maki Hiruma ke layar ponselnya ketika menghubungi Keigo untuk kedua kalinya.
Tak lama Hiruma lalu mencoba menelepon lagi. Kali ini terdengar nada sambung. Lagi-lagi nada sambung yang panjang dan Keigo tidak mengangkatnya.
"Apa yang dilakukan bocah sialan itu," keluh Hiruma.
Beberapa saat kemudian, Hiruma mencoba menelepon untuk yang ke empat kalinya. Dan kali ini langsung tersambung.
"Hal—" Sapaan Keigo terhenti saat mendengar kekesalan Hiruma.
"Kenapa lama sekali mengangkatnya, sialan!"
Keigo menjauhkan ponsel dari telinganya. "Uwoh... Tenang Hiruma-san. Ada apa?"
"Kau tahu dimana Mamori?" tanya Hiruma, masih dengan kesalnya.
Keigo terdiam sesaat berpikir. "Bukannya sekarang kantor libur?" bingungnya. "Aku sedang di pabrik dan dia tidak ada disini."
"Yang kutanya kemarin. Dia tidak pulang semalam."
Keigo terlihat berpikir lagi. "Kemarin dia tidak datang ke pabrik. Jadi aku tidak bertemu dengannya kemarin," ujar Keigo, sambil meminum kopi susunya. "Kenapa tidak kau telepon saja?"
Hiruma menghela napasnya kesal. "Kalau aku bisa menghubunginya, aku tidak akan meneleponmu, bodoh."
"Dia tidak mengangkat teleponnya?" balas Keigo.
"Dia mematikan ponselnya," jawab Hiruma langsung.
Keigo terhenti sesaat. Dia tahu pasti kalau Mamori tidak pernah mematikan ponselnya karena urusan pekerjaan. "Dia tidak pernah mematikan ponselnya," ujar Keigo.
Hiruma ikut terdiam dibuatnya. Dia tahu itu. Tapi dia berusaha untuk tidak panik. Sekarang, ketenangan yang berhasil Hiruma jaga, kini mulai tergoyah.
"Kenapa kamu tidak segera lapor polisi?" lanjut Keigo. "Dia tidak pulang semalam dan ponselnya tidak aktif, Aku akan lapor polisi." balas Keigo sudah mulai panik.
"Jangan dulu," cegah Hiruma.
"Kenapa? Apa kamu tidak takut terjadi apa-apa pada Mamori-san?"
"Percuma kau lapor polisi kalau dia belum hilang selama dua puluh empat jam!"
Keigo menopang dahinya di telapak tangan. "Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
"Kau tahu dimana Mamori kemarin?" tanya Hiruma.
"Setahuku dia ada di kantor pusat."
"Berikan aku nomor seseorang yang ada disana yang bisa kuhubungi," lanjut Hiruma.
"Aku akan berikan nomor Mariya-san," sahut Keigo.
"Keh... Cepat kirimkan."
Hiruma memutuskan teleponnya. Dia menunggu nomor telepon Mariya yang akan dikirim Keigo. Hiruma terus berharap semuanya baik-baik saja. Dan Mamori dalam keadaan aman dan jauh dari suatu hal yang tidak diinginkannya. Semoga begitu.
.
.
To Be Continue
.
.
Side Note :
Haaii... Lagi-lagi masalah muncul. Duuh... Kayaknya saya hobi banget ya bikin konflik tentang Mamori yang menghilang. Ga apa-apa, kalian para pembaca juga pasti senang kan kalau sudah melihat Hiruma galau karena kehilangan MamoriXD
Review dari kalian tetap ditunggu ya. Jangan bosan-bosan untuk mereview karena saya juga tidak akan bosan untuk mengembangkan ide untuk menulis cerita.
See you on the next chapter!
Salam : De
