Chapter 13

.

.

Hari itu... Enam tahun lalu

Mamori berjalan menapaki jalanan berbatu di sebuah pantai yang menuju pinggir laut. Angin musim semi bertiup lembut menyapu rambut Mamori. Dress kuning pudar selutut yang dipadukan dengan jas berwarna putih dan sneakers putihnya. Mamori sedang menunggu seseorang yang berjanji akan menemuinya hari ini.

Hari ini tepat sebulan setelah hari kelulusannya. Begitu pun dengan Hiruma walaupun orang itu tidak sempat menghadiri acara wisuda karena kesibukannya. Sudah satu tahun Hiruma bermain untuk Bird Osaka yang mengontraknya selama dua musim. Jadi hari ini adalah hari pertama libur panjang Hiruma setelah satu musim pertandingan usai.

Entah ada apa Hiruma memintanya bertemu di tempat mereka pertama kali kencan ini. Tapi Mamori menyukai tempat ini dan Hiruma tahu itu. Pantai ini indah dan tenang. Tidak begitu banyak pengunjung yang mendatangi tempat ini. Mamori memandang jauh ke tengah laut. Menikmati harum aroma air laut dan suara gemericik ombak yang menenangkan, ditambah angin yang menyejukkan. Mamori sangat menyukainya. Dia tidak sering ke tempat ini, hanya dua kali. Dan ini adalah kali ketiga.

Dari belakang seorang anak laki-laki berlari ke arah Mamori. Anak itu menarik tangan Mamori dan mendapatkan perhatiannya. Mamori menoleh ke samping melihat anak itu.

Mamori lalu tersenyum. "Ada apa?"

Anak laki-laki itu tersenyum dengan riangnya. "Untuk kakak," ujarnya sambil menyerahkan secarik kertas putih yang dilipat.

Mamori memandang dengan bingung seraya menerimanya. "Untukku? Siapa yang memberikannya?" tanya Mamori.

Anak itu menunjuk ke belakang dan Mamori mengikuti ke arah yang ditunjuknya.

"Sudah ya kak," ujar anak itu, sambil kemudian berlari.

"Terima kasih," teriak kecil Mamori dan anak itu membalas dengan cengirannya.

Mamori melihat ke Hiruma yang berjalan ke arahnya. Dengan setelan kaos lengan panjang putih yang digulung dan celana jeans-nya, Mamori tidak pernah tahu kalau Hiruma bisa semenarik itu. Entah karena dia sudah tidak bertemu laki-laki itu selama empat bulan atau karena pada dasarnya Hiruma seperti itu. Mamori hanya terpana melihat ke arah Hiruma. Dia melihat Hiruma menepuk lembut kepala anak laki-laki itu saat dia melewatinya. Setelahnya Hiruma kembali kelihat ke arah Mamori sambil memasang senyuman khasnya.

Mamori lalu teringat dengan kertas yang diterimanya tadi. Dia lalu membuka lipatan dan membacanya.

Kau mau menikah denganku?

Mamori terpaku membacanya. Satu kalimat itu membuat Mamori melupakan segalanya. Dia tidak pernah berharap Hiruma akan melamarnya. Tidak. Dia bukan tidak berharap. Dia menginginkannya tentu saja. Tapi dia tidak menyangka Hiruma akan melamarnya dengan cara seperti ini. Dan itu sungguh di luar prediksi Mamori.

Mamori mengalihkan perhatiannya lagi ke Hiruma dan mendapati laki-laki itu sudah berdiri di depannya. Dia mendongak ke Hiruma yang tersenyum kepadanya.

"Kau mau?" tanya Hiruma.

Mamori masih memandangi Hiruma, menatap ke kedua bola matanya. Terlepas dari pertanyaan Hiruma barusan, Mamori sangat merindukan laki-laki ini. Begitu besar sampai dia tidak pernah menyadarinya.

"Peluk aku dulu," ujar Mamori.

Hiruma menghela napas lega dan melingkarkan lengan ke leher Mamori dan membawanya mendekat. Ramping, wangi, dan lembut. Semua itu ada di diri Mamori dan hampir membuat Hiruma kacau jika tidak merasakannya dalam jangka waktu yang lama. Seperti saat ini.

Mamori melingkarkan lengannya ke pinggang Hiruma. Mencium dalam-dalam wangi tubuh Hiruma yang begitu dirindukannya. Mamori mendapati dirinya tersenyum merasakan kedamaian ini. Hanya Hiruma yang bisa membuatnya seperti ini. Satu-satunya laki-laki yang diinginkan Mamori seumur hidupnya dan sekarang dia mendapatkan lamaran darinya.

Hiruma menurunkan tangan ke pinggang Mamori dan bersantai disana. Hiruma merenggangkan pelukan mereka.

"Aku punya sesuatu di kantung belakang celanaku," ujar Hiruma. "Ambillah."

Mamori merasakan kantung belakang Hiruma yang menggembul. Dia lalu mengambil dan menarik isinya. Mamori menunduk dan terpaku lagi dengan apa yang didapatnya. Sebuah kotak perhiasan berwarna ungu muda.

Hiruma mengambil kotak itu dan membukanya. Mamori melihat sebuah cincin yang yang sangat cantik disana.

"Maukah kau menikah denganku?" tanya Hiruma. Lagi.

"Kamu tidak ingin berlutut sambil melamarku?" sahut Mamori.

"Aku tidak ingin melakukan hal yang merepotkan seperti itu," balas Hiruma.

"Pakaikan," ujarnya langsung.

Hiruma terdiam sesaat sehingga membuat Mamori mengalihkan perhatiannya lagi ke Hiruma.

"Kenapa?" tanya Mamori bingung.

"Kau mau menerima lamaranku?"

Mamori tertawa kecil melihat kekakuan Hiruma. "Apa yang membuatmu berpikir aku tidak akan menerima lamaranmu?"

"Yah... Karena kamu tidak berkata apa-apa tadi."

"Cuma kamu satu-satunya untukku Hiruma. Dan aku tidak pernah mencintai laki-laki manapun selain dirimu," balas Mamori dengan senyuman termanisnya.

Kelegaan melanda Hiruma. Dia tidak pernah merasa selega ini. Mamori menerimanya. Selangkah lagi Mamori akan resmi menjadi miliknya. Hiruma lalu membalas senyuman Mamori dan memakaikan cincin itu.

Mamori dengan bahagianya memandangi jemarinya yang sudah tersematkan cincin. Wajahnya penuh dengan senyuman. "Ini indah sekali Hiruma. Aku tidak menyangka kamu tahu ukuran jariku."

"Itu bukan masalah," sahutnya dan melingkarkan lengan ke pinggang Mamori lagi. Merapatkan jarak mereka.

Hiruma melekatkan bibirnya ke bibir Mamori dan menciumnya dalam-dalam. Mamori menopang dirinya dengan melingkarkan lengan ke leher Hiruma. Membalas ciuman Hiruma dengan sama lembutnya.

Hari ini adalah yang paling menggembirakan dalam hidup Mamori. Berharap hari-hari selanjutnya akan lebih indah dan mereka bisa bersama selamanya.

.

.

Hiruma mengetuk jari telunjuknya di atas meja. Suara loud speaker ponsel terdengar memenuhi ruang tengah apartemen Mamori. Entah sudah berapa kali Hiruma menelepon Mariya. Karena begitu banyaknya, telinga Hiruma terasa panas hanya karena mendengar nada sambung.

Hal ini begitu membuatnya kesal. Dia tidak peduli apa tanggapan orang lain melihat kelakuan Hiruma yang menelepon seseorang terus menerus. Seperti kehilangan kesabaran. Hiruma tidak berhenti menghubungi Mariya walaupun dia sendiri merasa jenuh karena wanita itu tidak kunjung mengangkatnya.

Hiruma bisa saja mendatangi kantor pusat Mamori. Tapi dia ingat sekarang hari Sabtu dan Keigo bilang kalau kantor pusat hari ini libur. Jadi kalaupun Hiruma kesana, dia tidak akan bisa menemui siapapun, kecuali penjaga kantor yang bertugas.

Ya. Ini hari libur Mamori. Harusnya mereka bisa bersantai. Mereka ada janji untuk menonton bioskop hari Minggu besok. Tapi apa yang sekarang terjadi. Mamori tidak tahu ada dimana. Dia berhasil membuat Hiruma kalang kabut memikirkannya.

Hiruma lalu mendapatkan jalan lain. Dia lalu kembali menelepon Keigo.

"Berikan aku alamat rumah asisten itu," ujar Hiruma langsung tanpa basa-basi menyapanya.

"Mariya-san?" tanya Keigo.

"Ya."

"Akan kukirimkan," balas Keigo.

"Keh..." Hiruma lalu menutup teleponnya.

Tak lama kemudian sebuah pesan masuk dari Keigo. Dia melihat sebuah alamat di daerah Tokyo, yang membuat Hiruma sedikit lega karena tempat itu hanya berjarak tiga puluh menit dari apartemen Mamori.

Hiruma lalu bergegas mengambil jaket dan kunci mobilnya.

.

.

Mariya meletakkan masakannya untuk sarapan di atas meja makan. Aoi yang duduk di kursi meja makan, sudah menatap makanan itu dengan tidak sabar. Sarapan pagi seperti ini memang selalu ditunggu-tunggu olehnya. Karena biasanya, Aoi hanya sarapan bersama teman-teman pusat penitipan. Tapi setiap hari libur berbeda. Mariya akan menemaninya seharian. Dari mulai sarapan pagi, sampai makan malam.

Mariya mengisi mangkuk nasi Aoi dilanjutkan dengan mangkuk nasinya.

"Selamat makaan!" ujar Aoi dengan riangnya.

Mereka lalu memulai makannya.

"Dimana kamu menyembunyikan ponsel Mama?" tanya Mariya.

"Aku tidak akan memberikannya," balas Aoi.

"Bagaimana kalau ada telepon penting?"

"Karena itu. Sekarang hari libur. Mama tidak boleh memikirkan pekerjaan."

Mariya tersenyum. "Baiklah. Mama akan bermain denganmu. Sekarang cepat habiskan makannya."

Dua puluh menit kemudian mereka selesai makan. Aoi tengah bermain di depan televisi saat suara bel apartemennya berbunyi. Mariya yang baru selesai dari dapur segera bergegas menyalakan interkomnya. Dia kaget saat melihat di layar siapa yang bertamu ke rumahnya.

"Selamat pagi," sapa Mariya sedikit ragu.

"Aku Hiruma Youichi," balas Hiruma.

Tentu saja Mariya sudah tahu. Dia kemudian membuka pintunya.

"Aku ada perlu," ujar Hiruma.

"Silakan masuk," balas Mariya.

"Tidak perlu. Karena aku sedang buru-buru."

Mariya memandang dengan wajah bingungnya. Dia kemudian mendapati Aoi yang sudah berdiri di sebelahnya, lalu beralih lagi ke Hiruma. "Ada perlu apa Hiruma-san?"

"Maaf mendadak datang kesini karena aku sudah menghubungimu beberapa kali tadi," jawab Hiruma.

"Oh maaf. Anakku menyembunyikan ponselnya," ujar Mariya. Dia lalu menunduk melihat ke Aoi. "Aoi. Cepat minta maaf."

Aoi menundukkan kepalanya. "Maafkan aku Paman."

Hiruma melihat wajah bersalah Aoi. Dia lalu mengusap kepala anak itu. Setelah itu dia lalu kembali lagi ke Mariya. "Aku hanya ingin tanya apa kau tahu dimana Mamori?"

"Anezaki-san?" ulangnya bingung. "Bukannya sekarang libur? Dia seharusnya ada di apartemennya."

"Maksudku, dia tidak pulang semalam. Dan ponselnya tidak aktif."

Mariya terlihat berpikir. "Tidak pulang?" gumamnya. "Aku terakhir bertemu dengannya saat jam makan siang. Saat itu dia bilang kalau dia akan pergi keluar. Kupikir dia ada urusan pribadi. Karena kalau urusan kantor, aku pasti akan tahu."

"Pergi keluar?" ulang Hiruma.

"Ya. Kalau tidak salah dia bilang akan ke daerah Saitama," lanjut Mariya lagi.

"Saitama?" Hiruma ikut berpikir dibuatnya. Saat itu juga dia langsung mendapatkan kejelasan. Hiruma tahu dimana kemungkinan besar Mamori berada. "Terima kasih," ujarnya kepada Mariya dan dia langsung pamit.

.

.

Kemarin...

Mamori menuruni tangga sampai ke lobi dan bertemu Mariya yang baru saja pulang istirahat.

"Kamu mau pulang Anezaki-san?" ujar Mariya.

Mamori tersenyum. "Aku ada perlu di Saitama. Apa aku ada jadwal hari ni?"

Mariya menggeleng. Karena sebetulnya Mamori tidak perlu berada di kantor. Tapi dirinya selalu ada disana setidaknya dua hari seminggu. "Mau aku antar?"

"Tidak. Terima kasih Mariya-san. Aku sudah memesan taksi," ujar Mamori. "Sampai nanti."

Mamori lalu berjalan ke luar kantor dan menuju taksi yang sudah menunggunya.

Selama dua jam perjalanan dia sudah sampai di lokasi tujuan. Mamori lalu turun dari taksi di depan rumah berpagar kayu dan tembok batu yang tinggi. Taksi itu pun berlalu meninggalkan Mamori. Setelahnya Mamori berdiri di depan pagar dan menyiapkan hatinya

Sudah lebih dari lima tahun dia tidak kesini. Saat ini, Mamori merasa senang dan gugup, karena dia akan menemui seseorang yang sudah lama tidak dia jumpai.

Mamori menekan bel rumah itu.

"Ya," sapa suara dari interkom. Suara laki-laki.

"Halo Ayah. Ini aku Mamori," sapa Mamori.

Tidak ada jawaban di interkom itu. Sesaat setelahnya, pintu gerbang terbuka otomatis. Mamori lalu berhasil melewati gerbang dan berjalan menuju pintu utama melewati taman dan kolam di sekitarnya. Mamori selalu menyukai rumah ini. Begitu asri dan terawat. Taman itu juga semakin indah setelah lima tahun Mamori tidak melihatnya.

Mamori melihat pintu utama terbuka dan seorang laki-laki berusia lima puluh tahunan berdiri disana. Mamori selalu merasa terintimidasi dengan sosoknya yang tinggi dan gagah di usianya. Rambutnya sudah mulai memutih. Dan dia menatap ke Mamori dengan tatapan yang tajam. Walau terintimidasi, tetapi Mamori tidak pernah merasa takut dengan tatapan itu. Karena bola mata itu mirip dengan bola mata laki-laki yang dicintainya.

Mamori tersenyum kepada Ayah Hiruma. "Halo Ayah. Apa kabar?" ujarnya membungkukkan badan.

Ayah Hiruma ingin membalas namun sebuah tangan segera bisa menggeser tubuhnya.

"Mamori. Kamu sudah datang?" ujar wanita yang tiba-tiba muncul dari belakang Ayah Hiruma. Wanita anggun yang semakin menarik dengan keriput di ujung matanya. Rambutnya masih berwarna cokelat terang dan wajah yang terlihat awet muda itu tetap menarik untuk dilihat.

"Ibu," sapa Mamori membungkukkan badannya.

"Ayo masuk," ujarnya yang sudah merangkul pundak Mamori.

"Kenapa kau tidak bilang-bilang kalau Mamori akan kesini?" keluh Ayah Hiruma di belakang mereka dan kembali menutup pintu.

"Kalau aku bilang, bukan kejutan namanya. Kamu terkejut kan?"

Mamori hanya bisa tertawa mendengarnya.

"Kamu bawa baju kan?" tanya Ibu Hiruma.

Mamori balas mengangguk.

"Yang penting kita lakukan sesuai rencana. Jangan sampai Youichi tahu kalau kamu kesini," lanjutnya.

"Aku juga sudah mematikan ponselku," sahut Mamori.

"Rencana apa? Apa yang kalian rencanakan?" tanya Ayah Hiruma di belakang mereka.

Ibu Hiruma menoleh sesaat. "Kamu tahu kan tingkah anak itu. Saat waktu itu aku meminta dia mengajak Mamori kesini tapi tidak dia lakukan?"

"Cuma karena itu kau masih kesal?"

Ibu Mamori berhenti dan bertolak pinggang menghadap ke suaminya. "Bukan cuma itu," balas Ibunya. "Pertama. Setelah lima tahun dia pulang, dia tidak memberi kabar dan tidak pulang ke rumah."

Mamori tersenyum serba salah karena merasa kalau dia adalah sumber penyebabnya.

"Kedua. Dia hanya mampir saat ada kiriman barang-barangnya dari Italia. Itu pun saat kita tidak ada di rumah. Dia tidak membereskannya dan rumah jadi berantakan karena itu."

Ayah Mamori hanya mendengarkan karena tahu kalau istrinya tidak akan berhenti di situ.

"Ketiga. Dia belum juga melamar Mamori setelah kepulangannya. Benar begitu kan Mamori?"

Mamori hanya balas tersenyum.

Ibu Hiruma menggenggam tangan Mamori di depan dadanya. "Kamu mau kan menikah dengan Youichi?" pintanya.

Mamori menatap kaget bercampur dengan rasa ingin tertawanya. Dia tidak menyangka dengan apa yang dikatakan Ibu Hiruma. Karena dia tengah dilamar oleh calon ibu mertuanya.

Ayah Hiruma hanya garuk-garuk kepala dan berjalan melewati mereka. "Kalau kamu seperti itu, bisa-bisa dia kabur dan tidak jadi menginap."

"Tidak mungkin begitu," sebalnya kepada Ayah Hiruma.

"Lagipula anak itu juga pasti akan segera tahu kalau Mamori disini. Dia itu anakku, sudah pasti dia akan tahu," lanjut Ayah Hiruma.

"Ayo Mamori simpan tasmu di kamar Youichi. Setelah itu kita buat makan malam," ajak Ibu Hiruma yang sudah tidak memedulikan perkataan suaminya.

.

.

To Be Continue

.

.

Side Note :

Menurut saya, itu adalah lamaran paling romantis sepanjang sejarah saya menulis cerita fanfiction ini.. Setuju tidak? Bagaimana menurut kalian? XD

Di chapter sebelumnya kalian pasti sudah mengira-ngira kalau Mamori diculik atau semacamnya. Ya kan? Tapi ternyata ada yang berhasil menebak kalau yang menculik pasti orangtuanya Hiruma!

Bagaimana romantisnya pertemuan Hiruma dan Mamori di chapter berikutnya, harap nantikan dengan sabar. Mood saya akan bagus kalau saya dapat review yang banyaaakkk dari kalian looh. Jadi review-nya jangan lupa guys. Ditunggu!

Salam : De