Holaaa! Happy Saturdaaay~~ ! XD
.
.
Chapter 14
.
.
Mamori bersama Ibu Hiruma tengah berada di dalam rumah kaca di halaman belakang. Rumah Kaca itu mirip seperti kebun yang berisi berbagai macam tanaman obat-obat ini cukup luas dan asri. Mamori ikut membantu Ibu Hiruma mengurus kebunnya. Mulai dari mengambil daun kering, menyirami, dan memetik beberapa untuk keperluan.
Suasana yang rindang dengan beberapa pohon besar yang mengelilingi menjadikan kebun ini begitu asri. Setelah hampir dua jam mengurus kebun itu, mereka duduk di bangku taman sambil menikmati jus yang dibawa oleh Mamori tadi.
"Kalau kamu mau kamu bisa membawa tanaman lidah buaya itu," tawar Ibu Hiruma.
"Apa boleh?"
"Tentu saja boleh. Itu sangat berguna untuk rambut dan kulitmu. Kamu bisa membawanya."
"Terima kasih bu," balas Mamori.
"Ngomong-ngomong, jus ini enak. Aku tidak tahu kalau jus strawberry campur apel bisa seenak ini," ujar Ibu Hiruma.
"Aku sering membuatnya di rumah. Walaupun Youichi tidak begitu suka. Dia lebih memilih memakan apelnya langsung."
"Yah... Dia mirip Ayahnya. Tidak suka yang repot-repot," ujar Ibu Mamori. Dia lalu tersenyum sambil menggenggam tangan Mamori. "Sejujurnya Mamori..."
Mamori menoleh mendengarkannya.
"Entah apa aku sudah pernah bilang ini sebelumnya. Tapi aku sangat bersyukur kamu lah yang dipilih Youichi," ujarnya memandang ke wajah Mamori. "Aku selalu berpikir, apa akan ada wanita yang bisa bertahan terhadapnya, mengingat sifatnya yang keras seperti itu. Tapi kamu ada. Kamu sanggup menghadapinya."
Mamori ikut tersenyum menenangkan Ibu Hiruma yang tampak terharu.
"Laki-laki di keluarga ini memiliki sifat yang keras. Mereka tidak bisa mengungkapkan apa yang diinginkannya. Sekali pun mereka ungkapkan, itu hanya kepada orang yang mereka percayai dan yang diminta pun selalu hal yang egois. Tapi yakinlah Mamori, laki-laki yang seperti itu, adalah lelaki yang akan mencintai wanitanya selalu. Dia yang akan melindungimu dan tidak akan menyakitimu."
"Ya bu. Aku tahu itu dengan pasti," balas Mamori.
"Suamiku pun begitu. Sekali pun di matanya sikapku sangat menyebalkan dan bertentangan dengannya, aku tahu dia mencintaiku."
Mamori tersenyum.
"Dia memang jarang sekali mengatakannya. Tapi aku tahu. Youichi juga seperti itu kan?"
Mamori mengangguk. "Ya. Tapi walau begitu, dia selalu mengungkapkannya lewat cara lain."
"Dia memang mirip sekali dengan Ayahnya."
"Jangan membicarakanku," ujar seseorang di belakang mereka.
Mamori dan Ibu Hiruma menoleh dan mendapati Ayah Hiruma.
"Ada telepon untukmu," ujar Ayah Mamori.
"Tunggu disini ya," ujar Ibu Hiruma dan keluar dari rumah kaca diikuti dengan Ayahnya.
.
.
Hiruma memarkirkan mobil di garasi terbuka di depan rumahnya. Saat dia mendengar kata Saitama, sudah pasti Hiruma akan merujuk kesini. Dan dia sudah yakin kalau Mamori memang ada disini. Dia juga sudah menduga kalau Ibunya pasti dalang dibalik semua kesusahannya kali ini.
Hiruma berjalan di lorong menuju ruang tengah. Dia melihat Ayahnya yang sedang menonton televisi, dan Ibunya yang sudah menelepon. Ibunya kaget saat melihat Hiruma muncul di pintu dan dia langsung menutup gagang teleponnya.
"Kenapa kamu kesini?" kaget Ibu Hiruma, membuat Ayahnya ikut menoleh ke arah pandangnya.
Tepat seperti dugaan Hiruma kalau Mamori memang ada disini. Karena jika dilihat dari reaksi Ibunya yang lebih terlihat panik daripada senang saat melihat kedatangan Hiruma.
"Dimana dia?" tanya Hiruma.
"Apa?" balas Ibu Hiruma. Dia lalu kembali ke telepon lagi. "Nanti aku akan meneleponmu lagi."
"Jangan pura-pura bodoh," balas Hiruma.
"Sudah kubilang dia pasti akan tahu," sahut Ayahnya sambil lanjut menonton televisi.
"Apa yang kamu bicarakan," balas Ibu Hiruma.
"Dimana Mamori?" tanya Hiruma lagi.
"Kenapa kamu bertanya padaku. Mana aku tahu."
"Dia ada di rumah kaca," sela Ayah Hiruma.
Ibu Hiruma melotot walau tidak digubris suaminya. "Sayang!"
"Sudahlah. Kau tidak akan bisa menyembunyikan sesuatu darinya."
Hiruma langsung melanjutkan jalannya di lorong menuju halaman belakang. Hiruma membuka pintu pagar kayu dan berjalan di jalanan batu di antara pepohonan yang rindang. Dia lalu sampai di tempat peristirahatan. Matanya bertemu dengan Mamori yang tengah duduk di bangku taman. Hiruma melihat wajah kaget Mamori lalu sesaat berganti dengan senyumannya.
"Kamu menemukanku?" sahut Mamori tersenyum.
Hiruma mendekat sambil mengerutkan keningnya. Berpikir bagaimana wanita ini bisa berkata setenang itu seolah tanpa rasa bersalah.
Hiruma lalu berlutut dengan satu kaki dan menggenggam tangan Mamori di atas pangkuan Mamori. Hiruma menunduk. Dia menghela napasnya. Meredakan segala kelelahan dan kepanikannya selama beberapa jam mencari Mamori.
Mamori tertawa kecil sambil mengelus kepala Hiruma. "Bagaimana kamu tahu aku ada disini?"
"Tidak usah bertanya," balas Hiruma, masih terdengar kesal. Dia lalu mengangkat kepalanya dan mendongak melihat ke Mamori. "Jangan pernah berbuat hal seperti ini lagi."
"Maksudmu berkunjung ke rumah orangtuamu?" balas Mamori dengan wajah polosnya, lalu tersenyum.
Hiruma tambah mengerutkan keningnya. "Kau senang, heh?"
"Ya. Aku jadi tahu kalau kamu bisa juga mencemaskanku."
"Omong kosong. Kau tahu aku selalu mencemaskanmu."
"Ya ya ya... Maafkan aku Youichi," balas Mamori, menangkup kedua pipi Hiruma, mengecup bibirnya, lalu memasang senyum manisnya.
Hiruma terdiam sambil memperhatikan senyuman Mamori. Dia memandangi kedua bola mata Mamori. Merasa yakin kalau dia harus melakukannya kali ini. "Kau mau hidup bersamaku?"
Mamori menganggukan kepalanya seraya berpikir dengan ucapan Hiruma. "Ya... Boleh saja. Bukannya selama ini kita sudah tinggal bersama karena kamu sering tidur di apartemenku?"
Hiruma mengerutkan keningnya lagi, kesal dengan kepolosan Mamori yang begitu apa adanya.
"Bukan begitu maksudku, bodoh," balas Hiruma. Dia lalu mengacak-acak rambutnya. "Sialan. Harusnya aku bawa cincin!" keluhnya kepada diri sendiri.
Mamori memandangi Hiruma. Baru menyadari apa yang hendak Hiruma katakan. "Kamu melamarku Youichi?"
"Ya sialan! Sekarang aku sedang melamarmu. Lagi," balas Hiruma. "Aku tidak pernah menyangka akan melamarmu dua kali."
"Kalau begitu katakan lagi dengan jelas," ujar Mamori.
Hiruma mengambil tangan Mamori dan menggenggamnya. Dia lalu menatap dengan penuh keyakinan ke Mamori. "Kau mau menikah denganku? Hidup selamanya bersamaku? Kau harus mau."
Mamori tersenyum. "Kamu tahu Youichi. Aku rasa lamaranmu sudah lengkap sekarang."
Hiruma menatap dengan tatapan bingungnya.
"Kamu melamarku sambil berlutut kali ini," lanjut Mamori dengan senangnya.
"Kau mau tidak?" tanya Hiruma lagi.
"Apa yang membuatmu berpikir aku akan menolak lamaranmu?" balas Mamori dengan bingungnya.
"Kau juga menjawab seperti itu dulu. Kau tidak ingat, heh?"
Mamori tidak tersenyum. Dia menatap dengan kepastiannya. Memandangi Hiruma dengan keseriusannya. "Kamu bersungguh-sungguh kali ini? Tidak ada lagi pergi meninggalkanku?"
Hiruma memandangi Mamori, menangkap kesedihan darinya. Dia tahu Mamori begitu terluka. Dia tahu itu. "Maaf karena telah membuatmu ragu kepadaku."
"Aku tidak membutuhkan maafmu, Youichi. Aku ingin kesungguhanmu."
"Aku tidak akan pergi lagi. Aku berjanji. Aku tidak akan egois lagi. Sudah cukup aku merasakan lima tahun tanpamu. Itu tahun-tahun terberatku," balas Hiruma.
Mata Mamori sudah berkaca-kaca. Dia mengangguk-anggukan kepalanya. Sangat yakin jika dia bicara, air matanya akan ikut menetes.
Hiruma tersenyum. Dia bangun dari berlututnya dan duduk di sebelah Mamori. Hiruma langsung meraih Mamori dan memeluknya. Dia mengusap lembut kepala Mamori. "Terima kasih karena bertahan dengan keegoisanku. Karena telah menungguku."
Air mata Mamori perlahan jatuh menetes.
Hiruma menunduk melihat ke Mamori. "Jangan sampai ingusmu menempel di bajuku," goda Hiruma.
Mamori memukul dada Hiruma. Sementara Hruma hanya membalas dengan tawanya. Mamori merangkul pinggang Hiruma lebih erat.
.
.
Hiruma duduk bersandar di atas tempat tidur saat tengah mematikan laptopnya. Sesaat kemudian sebuah telepon masuk di ponselnya. Hiruma lalu meraihnya dan melihat nama Keigo di layar ponsel.
"Ya," sapa Hiruma.
"Halo Hiruma-san. Kamu menemukan Mamori-san?" tanya Keigo terdengar panik.
"Ya. Aku menemukannya."
"Syukurlah. Kupikir dia diculik," ujar Keigo.
"Kau benar. Dia diculik," ucapnya pelan sehingga Keigo tidak bisa mendengarnya.
"Apa?"
"Bukan apa-apa," balas Hiruma. "Ada yang mau kau tanyakan lagi, heh?"
"Apa aku boleh bicara dengan Mamori-san sebentar? Aku hanya ingin memastikan kalau dia baik-baik saja."
"Kau tidak percaya padaku, sialan?" kesalnya. "Jangan mencemaskan pacar orang lain. Bikin kesal saja."
Keigo menghela napasnya mendengar amukan Hiruma. "Ya sudah. Jaga Mamori-san baik-baik. Jangan sampai dia 'hilang' lagi."
"Keh." Hiruma lalu menutup teleponnya.
Sesaat kemudian, suara pintu kamar diketuk dan terbuka. Hiruma melihat Mamori masuk ke dalam dan menutup pintunya kembali. Hiruma meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur. Mamori pun menghampiri dan ikut duduk di sebelahnya.
Hiruma melirik ke Mamori. Dia melihat ke buku sketsa yang ada di pangkuannya. "Kau mau bekerja, heh?" tanya Hiruma.
Mamori menoleh dan menyadari kalau dia tengah diperhatikan. Dia lalu menggeleng. "Bukan kerjaan."
Hiruma melihat ke gambar di buku sketsa itu.
"Kamu ingin dibuatkan baju kan? Ada lebih dari dua puluh rancangan untukmu. Kamu tinggal pilih. Nanti aku buatkan."
Hiruma terdiam memandangi buku sketsa yang sudah ada di pangkuannya. Dia lalu menoleh ke Mamori lagi. "Kau bisa membuat semua rancangan ini hanya dalam beberapa minggu?"
Memori terpana dengan pertanyaan Hiruma dan dia langsung tertawa. "Aku tidak mungkin membuatnya hanya dalam beberapa minggu. Itu sudah kubuat hampir lima tahun selama kamu pergi."
Hiruma hanya memandangi Mamori.
"Itu caraku untuk mengobati rinduku," lirihnya malu.
Hiruma memamerkan senyumnya. Dia lalu menepuk-nepuk kepala Mamori. "Ternyata kau bisa membuat rindu jadi bermanfaat."
Hiruma mulai melihat-lihat buku sketsa itu. Saat pacaran dulu Hiruma memang sama sekali tidak tertarik untuk melihat semua ini. Tapi sekarang, seperti kata Mamori, rasa rindu itu benar tersampaikan ke Hiruma melalui gambar ini. Di pinggir gambar bahkan tertulis catatan-catatan yang berhubungan dengan Hiruma. Seperti bahan pakaian, kebiasaan dirinya dalam berpakaian, kapan waktu dipakai, dan lain sebagainya.
"Kau yakin ini ukuranku? Aku saja tidak tahu," balas Hiruma.
"Hanya dengan melihatnya saja aku sudah tahu."
Hiruma mengangguk dan melanjutkan penjelajahannya. "Kau hebat," kagum Hiruma.
Mamori menekuk kedua lututnya untuk menopang kepalanya. Dia lalu melihat ke Hiruma. "Kamu memujiku?"
Hiruma lanjut melihat lagi berkali-kali. "Aku boleh pilih dua?"
"Tentu saja. Kamu bahkan boleh memilih semuanya."
Hiruma melirik ke Mamori. "Kalau begitu kenapa tanya."
"Aku tanya mana yang ingin kamu pakai dulu. Aku tidak mungkin membuatnya sekaligus."
Hiruma menutup buku sketsa itu dan meletakkannya di meja. "Aku akan memilihnya nanti," ujarnya. "Sekarang aku mau tidur. Aku terbangun pagi sekali tadi pagi gara-gara seseorang."
Mamori tertawa. Dia lalu mengusap rambut Hiruma yang sudah tidur berbaring. "Kalau begitu selamat malam Youichi," ujar Mamori dan bangun dari duduknya.
Dengan segera Hiruma menangkap tangan Mamori. "Kau mau kemana, heh?"
Mamori melihat ke Hiruma. "Karena kamu tidur disini, maka aku tidur di kamar tamu."
"Peraturan sialan dari mana itu?" balasnya protes.
"Ibumu yang bilang seperti itu," jawab Mamori. "Ibu bilang lebih baik aku tidur di kamar tamu."
"Masa bodoh! Aku tidak peduli. Kau tidur disini. Aku tidak mengizinkanmu keluar."
"Tapi aku lebih memilih mematuhi ibumu," balas Mamori tersenyum
"Dia hanya ingin menambah penderitaanku," sahut Hiruma.
Hiruma menarik tangan Mamori sehingga membuatnya kaget. Hiruma membaringkan Mamori detik itu juga dan menahan Mamori dengan lengan dan kakinya. Dia memeluk Mamori layaknya guling dan enggan melepaskan.
"Kamu berat Youchi."
"Aku lelah," balas Hiruma dan memejamkan matanya.
Mamori memutar tubuhnya menghadap Hiruma. Dia menempatkan dirinya dengan nyaman, dengan lengan Hiruma yang terselip di lehernya dan lengan yang satu lagi memeluk pinggangnya. Mamori mengusap rambut Hiruma dengan lembut untuk membantunya tidur.
Hiruma membuka matanya dan bertatapan dengan mata Mamori. Dia menikmati pemandangan itu sesaat. "Cium aku."
Mamori menempatkan telapak tangan di pipi Hiruma. Dia memandangi wajah Hiruma, menjelajahi kedua bola matanya. Merasakan betapa dia sangat mencintai Hiruma. Lelaki yang membuat Mamori menyadari kalau cinta tidak butuh alasan. Jika ada yang bertanya mengapa Mamori memilih Hiruma untuk hidupnya, jawabannya hanya satu. Karena itu Hiruma. Mamori tidak bisa membayangkan dirinya bersama lelaki lain. Karena jika bicara cinta, maka hanya ada satu nama. Yaitu Hiruma.
Hiruma memejamkan matanya sembari mengecup telapak tangan Mamori yang menempel di pipinya. Dia mencintai wanita ini. Karena Mamori, Hiruma mengenal cinta. Mamori yang mengajarkan segalanya. Dia yang pertama dan satu-satunya wanita dalam hidup Hiruma.
"Jangan memandangiku terlalu lama," sahut Hiruma. "Aku tidak ingin bercinta denganmu di rumah orangtuaku."
Mamori tersenyum dan membawa dirinya mendekat. Mamori lalu mengecup ringan bibir Hiruma. "Karena itu aku memilih tidur di kamar tamu."
Hiruma membawa Mamori ke dalam pelukannya. "Tapi aku butuh memelukmu. Aku tidak mau tidur sendirian lagi," ujarnya, lalu mengecup kening dan ujung kepala Mamori.
Mamori tersenyum dengan mata terpejamnya. "Kalau sampai ibu tahu aku tidur disini. Kamu harus bertanggung jawab kalau dia mengomel besok pagi."
"Keh... Tapi dia pasti tidak akan mengomel," balas Hiruma. "Sekarang berhenti bicara dan biarkan aku tidur."
Mamori mendongak melihat Hiruma yang sudah memejamkan matanya. Jarinya menyentuh lembut rambut Hiruma yang jatuh di keningnya, sehingga membuat Hiruma membuka matanya lagi. "Selamat malam Youichi. Tidur yang nyenyak."
.
.
To Be Continue (EPILOG)
.
.
Side Note :
Sorry for loooooong late update guys! Saya tahu pembaca setia pasti sudah nunggu-nunggu update-an cerita ini. Maaf yaaa menunggu lama!
Tidak perlu khawatir, alhamdulillah saya selalu sehat wal'afiat. Terima kasih untuk doa dan semangat dari kalian. Semoga kita semua selalu sehat dan bisa melewati pandemi ini. Aamiin.
Okay... Chapter ini sudah terlalu manis. Jadi jangan kebanyakan adegan manisnya, nanti diabetes XD. Walau di atas ditulis to be continue, tapi sebenarnya ini sudah akhir cerita (jangan kecewa yaa...) Jadi seperti biasa, selanjutnya adalah chapter epilog. Ditunggu yaa...
Jangan lupa review dan kesan-kesan kalian dalam membaca ini.
Salam : De
