All Characters aren't mine. They Belong to Mangaka Eyeshield 21.

Original Fiction Story by Diyari De (Do not duplicate, translate to other language, or copy it to some other site)

Warning : Rated M for the storyline and language

This Fiction Contains :

- Superb OOC

- Drifted Away Storyline

- Too Much Tears

- Too Many Additional Characters

- Not Your Typical ES21 Fiction

- Minus Yamato, Akaba, The Wizards Members

- Don't Hate Me XD

.

.

Diyari De Presents : Broken Years

.

.

Epilog

.

.

Terungkap. Atlet Hiruma dan Desainer Anezaki. Ternyata mereka sudah bertunangan selama 6 tahun dan akan segera menikah!

"Apaan judul artikel ini?" ucap Suzuna sambil memegang tablet di tangannya.

"Benar kan? Mereka memang akan segera menikah?" balas Sena yang duduk di sebelahnya.

"Yang benar, bukan bertunangan selama 6 tahun. Tapi DITINGGAL selama 5 tahun!" protesnya berrlanjut.

Sena hanya mengangkat bahu dan enggan untuk membalas. "Sudahlah. Kamu jangan kesal terus dengan Hiruma Senpai. Kamu tahu sendiri kalau dia sangat mencintai Mamo-Nee."

"Ya. Tapi dia lebih mencintai pekerjaannya."

"Suzuna..."

"Ya ya... Aku tidak akan berkomentar lagi. Apapun yang kukatakan, Mamo-Nee juga tidak akan mendengarkanku. Karena dia sudah cinta mati dengan You-Nii."

Sena tertawa. "Kamu tahu itu." Sena tiba-tiba terdiam berpikir. "Oh ya Suzuna?"

"Hm? Ada apa?" memperhatikan Sena sepenuhnya.

"Apa kamu tahu bagaimana mereka bisa pacaran?"

Suzuna ikut berpikir. Karena entah bagaimana, Suzuna tidak pernah terpikirkan tentang itu. Bahkan bahwa kenyataannya, Suzuna juga sama sekali tidak tahu.

.

.

Hari itu . . . Sembilan tahun lalu

Mamori berlari di lorong kampusnya, mengejar Hiruma yang sudah jauh di depannya. Hiruma membuka pintu ruang klub dan menyadari kalau Mamori tengah berlari menghampirinya. Hiruma masuk dan membiarkan pintu terbuka. Selang beberapa detik kemudian, Mamori muncul. Mereka saling bertatapan. Sementara, Mamori masih mengatur napasnya.

Hiruma hanya terdiam sambil menunggu Mamori memulai perbicaraan.

"Apa benar yang mereka katakan?" tanya Mamori.

"Soal apa?" tanya balik Hiruma yang sudah bersandar di pinggir meja.

Mamori tidak langsung menjawab. Dia membaca raut wajah Hiruma. Ingin menyiapkan hatinya kalau apa yang didengarnya itu benar.

Hiruma melihat kecemasan di wajah Mamori. Karena sudah mengenalnya hampir lima tahun sejak SMA, hanya dengan melihatnya saja Hiruma sudah tahu. Bahkan sekalipun Mamori menyembunyikan perasaan sedihnya.

"Apa benar kamu akan pindah ke Amerika?" tanya Mamori. Beberapa saat lalu dia dengar dari anggota klubnya kalau ada orang dari Universitas di Amerika yang mendatangi Hiruma dan menawarinya beasiswa untuk membela klub disana.

"Yah...," sahut Hiruma. "Memang benar aku ditawari untuk bermain di klub universitas di Amerika."

"Kamu akan menerimanya?" tanya Mamori lagi.

"Kenapa kau begitu penasaran dengan keputusanku?"

"Bagaimana denganku? Aku bergabung dengan the wizards karenamu. Entah aku tidak tahu, aku merasa terpaksa atau tidak. Tapi semuanya karena kamu. Kamu yang memintaku bergabung. Tapi kalau kamu pergi, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau ada di klub ini lagi."

Hiruma menyeringai mendengar pernyataan Mamori. "Jangan sampai anggota lain mendengar perkataan bodohmu itu. Mereka pasti akan kecewa."

"Aku serius Hiruma!"

"Kau mau aku tidak pergi?"

Mamori terdiam. Dia ingin mengiyakan pertanyaan itu. Tapi dia tahu itu terlalu egois. Karena semua itu tentang masa depan Hiruma. Sudah pasti Hiruma yang harus menentukan.

"Apa jawabanku akan mempengaruhimu?"

"Akan aku pertimbangankan," jawab Hiruma.

"Kalau begitu aku ingin kamu tetap disini."

Hiruma tersenyum. "Keh... Akan kupikirkan lagi." Hiruma beranjak dari sandarannya, melewati Mamori sambil menepuk-nepuk kepalanya. Dia kemudian masuk ke ruang loker

Hiruma keluar lagi dari ruang loker dengan kaos di tangannya. Dia melihat Mamori masih ada disana, bersandar di meja. "Ada yang ingin kau katakan lagi, heh?"

"Ah tidak. Tidak apa-apa."

"Keh..."

Mamori terus memperhatikan pergerakan Hiruma. Mulai dari Hiruma meletakkan tas ke atas meja di sebelahnya, dan membuka tas, lalu mengeluarkan buku-buku kuliahnya.

"Ada apa lagi, sialan! Jangan terus-terusan melihatku," protes Hiruma menoleh ke Mamori.

"Aku cuma berpikir. Dulu kau mengajakku bergabung ke the wizards. Kau bilang aku harus tetap bersamamu sampai memenangkan kejuaraan dan mempertahakannya sampai akhir," ujar Mamori. "Aku cuma mengingatkan kalau seandainya kamu lupa pernah berkata seperti itu."

"Segitu takutnya aku pergi?"

Mamori mengangkat bahunya. "Aku cuma tidak terbiasa dengan mereka."

Hiruma menatap ke Mamori lagi. "Lalu kau terbiasa denganku?"

"Yah... Aku mengenalmu sudah lama. Aku sudah tahu sifat dan perangaimu. Walau pun buruk, aku cukup nyaman denganmu."

Hiruma hanya terdiam dan mereka saling bertatapan.

Tidak lama Mamori mengalihkan pandangannya dan memandang ke depan. Merasa canggung dengan tatapan Hiruma. "Kenapa? Apa aku tidak boleh bilang begitu? Apa salah kalau aku terbiasa denganmu?"

"Tidak salah," balas Hiruma, sambil memasukkan kaos dan sepatunya ke dalam tas. '"Hanya saja itu akan membuatku bertanya-tanya," lanjutnya kemudian menoleh ke Mamori lagi dan menatapnya. " 'Apa kau menyukaiku atau tidak? Apa aku boleh melewati batasan itu atau aku harus menunggu?' itu yang kupikirkan."

Seolah waktu berhenti. Mamori hanya diam di tempat. Entah kenapa dadanya bergemuruh kencang. Dia melihat senyuman Hiruma seraya dia berjalan melewatinya. Hiruma sudah meninggalkan ruangan dan Mamori sendirian. Beberapa detik berlalu sementara Mamori masih tidak bergerak. Dia lalu menoleh ke pintu. Mamori menarik napas panjang kemudian menghelanya, seolah dia tidak bernapas selama beberapa detik tadi.

.

.

"Oh... Ini bukannya kunci apartemen Hiruma?" ujar salah seorang anggota. "Anezaki-san!" panggilnya kemudian melempar kunci itu.

Mamori yang tengah mengatur isi tasnya di kursi, dengan refleksnya menangkap kumpulan kunci itu. "Kenapa aku?"

"Kamu kan dekat dengannya," ujar anggota itu. "lagipula kita sudah mau pulang."

"Aku juga mau pulang," protes Mamori, namun tiga orang anggota itu tidak menggubrisnya.

Mamori menghela napasnya. Sudah dua hari dia tidak bicara dengan Hiruma. Entah kenapa Mamori merasa harus menghindarinya. Dia tidak sanggup menghadapi Hiruma, apalagi jika harus menatap matanya. Jadi jika sedang latihan pun, Mamori selalu berhasil menghindar jika harus berdua saja dengan Hiruma.

"Apa aku tinggal saja di meja? Baiklah. Aku akan mengirimkannya pesan kalau kuncinya ada di atas meja."

"Bukannya itu tindakan tidak bertanggung jawab, heh?"

Mamori menoleh kaget ke arah pintu. "Hiruma! Kebetulan. Ini kuncimu. Aku pulang dulu."

Hiruma tidak beranjak dari pintu dan hanya menyodorkan tangannya seolah meminta kunci.

Mamori melihat ke tangan Hiruma lalu ke kunci itu. Dengan malas dia mengambil kunci itu dan bangun dari duduknya. Dia berjalan ke arah Hiruma sembari meletakkan kunci di telapak tangannya.

Hiruma menerima kunci itu sekaligus tangan Mamori. Mamori kaget melihat ke tangannya yang digenggam Hiruma, kemudian mendongak melihatnya.

"Aku cuma mau bilang. Kalau kau merasa tidak nyaman, aku tarik perkataanku kemarin. Jadi tidak perlu kau pikirkan," ujar Hiruma. Dia lalu melepaskan tangan Mamori. "Keh... Aku pulang dulu."

Hiruma berbalik dan berjalan meninggalkan Mamori yang lagi-lagi terdiam di tempat. Beberapa saat kemudian Mamori tersadar dan dia langsung beranjak mengejar Hiruma.

Hiruma yang sudah mencapai gerbang menghentikan langkahnya. Seolah ada telepati di antara mereka, Hiruma merasa harus berhenti melangkah dan menoleh ke belakang. Tidak menyangka kalau Mamori tengah berlari ke arahnya.

Hiruma memandangi Mamori, sampai dia berhenti dan meninggalkan jarak di antara mereka. Mamori mengatur napasnya.

"Kenapa kamu menarik perkataanmu?" ujar Mamori sambil melangkahkan kakinya perlahan, mendekat lagi ke Hiruma.

"Stop," sahut Hiruma, tidak yakin kenapa Mamori mendekat ke arahnya. Tapi merasa harus menghentikan Mamori demi kebaikannya. Dia tidak ingin melewati batas yang sudah jelas diberikan untuknya. "Jangan berani kau melangkah lebih dari ini—

"Aku tidak tahu ini tindakan yang benar atau tidak. Tapi yang pasti, aku akan menyesal jika tidak mengejarmu," sahut Mamori yang sudah berdiri di depan Hiruma. Mamori melingkarkan lengannya ke pinggang Hiruma dan menyandarkan kepala di dada Hiruma. Mamori tersenyum sambil menghela napas lega. "Ya benar... Kurasa ini tindakan yang benar."

Hiruma masih berdiri kaku. Kaget dengan tindakan Mamori. Hiruma menunduk melihat ke Mamori yang mendongak ke arahnya dan tersenyum dengan polosnya.

"Aku tidak ingin salah mengartikan ini," sahut Hiruma, berhasil menemukan suaranya. "Tapi kenapa kau memelukku?"

Mamori menggeleng masih dengan senyumnya. "Aku cuma ingin bilang. Kalau kamu sudah boleh melewati batas."

Hiruma berdeham sambil menutup mulutnya, mengalihkan pandangannya dari Mamori. Mamori hanya memandanginya tertawa melihat tingkah Hiruma. Dia kemudian kembali menyandarkan kepalanya dan memeluk Hiruma lebih erat.

Hiruma memberanikan diri membalas pelukan Mamori. Perlahan dan pasti, tangan Hiruma melingkari tubuh Mamori. Dia mengecup ujung kepala Mamori dan mengelus rambutnya.

"Lain kali berilah aba-aba, kau mau buat aku jantungan, heh?"

"Aba-aba seperti saat mulai babak pertandingan?" canda Mamori mendongak menatap Hiruma lagi.

Hiruma menaikkan tudung jaket bulu Mamori ke kepalanya. Karena udara malam yang dingin, Hiruma kemudian menangkup pipi Mamori. Tangan hangat Hiruma bertemu dengan pipi Mamori yang dingin. Hiruma lalu menyinggungkan senyumnya. Dia kemudian mengecup kening Mamori.

"Aku antar kau pulang," ujar Hiruma sambil menurunkan tangan Mamori dari pinggangnya, dan berganti menggenggam tangannya.

"Naik bis?" tanya Mamori, sambil mereka berjalan.

"Ya. Memangnya naik apa lagi?"

"Kalau begitu kita naik bis dari dua halte di sana," balas Mamori.

"Keh... Tidak masalah," Hiruma lalu memasukkan tangan mereka ke saku jaketnya. "Masih belum terlalu malam."

Mamori tersenyum mendengar Hiruma yang dengan mudahnya menurut kepadanya.

"Kamu tidak lapar?"

Hiruma menoleh, "kau lapar, heh?"

"Hm... Aku belum makan dari pagi."

"Kau sibuk menghindariku sampai lupa makan?" ledek Hiruma.

"Ya... Aku sampai tidak nafsu makan," balas Mamori.

"Keh... Kita makan di kedai remen itu."

"Oh ya... Kamu sudah buat keputusan? Tentang ke Amerika itu."

Hiruma menoleh melihat ke Mamori. Hiruma tersenyum meledek kepadanya. "Aku sudah menolaknya tepat pada saat mereka menawariku."

Mamori terperangah tidak percaya. Dia lalu memukul dada Hiruma. "Kamu mempermainkanku?"

Hiruma tertawa. "Kau harusnya lihat sendiri bagaimana wajah panikmu waktu itu."

Mamori menghela napas. "Ternyata aku mencemaskan hal yang tidak perlu. Kau menyebalkan sekali Hiruma."

"Tapi karena itu aku jadi tahu perasaanmu," ujar Hiruma sambil terkekeh.

"Makanya aku bilang kamu menyebalkan."

"Jangan marah-marah terus. Kau bilang lapar tadi. Ternyata masih punya tenaga untuk marah," sahut Hiruma sambil membuka pintu kedai ramen dan menahannya untuk Mamori masuk. Hiruma kemudian menutup pintunya kembali.

.

.

END OF STORY

To all of My Dearest Readers, thank you for all your support. Hope we meet again in the next story. See you guys!