Langit terlihat mendung memayungi salah satu Desa terpencil bernama Konoha.

Seolah mengerti akan suasana duka yang menyelimuti salah satu rumah di antaranya, Langit di atas sana tampak begitu muram.

"Sasuke kun, kami turut berduka cita atas musibah yang menimpa istrimu." Berbagai ucapan belasungkawa memenuhi ruang utama rumah sederhana milik keluarga Uchiha.

Meski rumah itu tergolong besar namun masih bergaya tradisional yang sebagian besar bangunan terbuat dari kayu.

Bahkan lantainya-pun masih menggunakan kayu dan menggunakan pintu geser.

"Semoga Naruchan tidak rewel mencari ibunya."

Lelaki dewasa bersurai kelam itu hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan seorang wanita berambut pirang di depannya.

Wanita bernama Yamanaka Ino duduk bersimpuh sambil memandang sendu gadis mungil di samping sang empunya rumah sekaligus ayah dari Naruto.

Semua warga tahu jika Naruto adalah anak adopsi dari Uchiha Sasuke dan Uchiha Sakura. Sakura dinyatakan mandul dan keduanya sepakat untuk mengadopsi anak dari panti asuhan di kota.

Mereka mengadopsi Naruto sedari umur 1 tahun. Sekarang usianya hampir menginjak 6 tahun.

Sakura sangat menyayangi Naruto dan merawatnya dengan baik.

Sedangkan Sasuke tak terlalu ambil pusing dengan pertumbuhan Naruto karena ia sibuk bekerja di perkebunan Jeruk miliknya.

Bahkan surat-surat adopsi saja Sakura yang mengurusnya, ia hanya tinggal membubuhkan tanda tangannya sebagai persetujuan bahwa ia mau mengadopsi Naruto.

Di kesehariannya-pun ia hanya memandang sekilas putrinya itu kemudian beristirahat.

Mereka jarang berkomunikasi layaknya ayah dan anak.

Sasuke tak terlalu menyukai ataupun membenci Naruto. Ia hanya merasa tak memiliki benang merah yang mengikat di antara dirinya atau bocah tersebut.

Dan setelah ini entah apa yang harus ia lakukan untuk mengurus bocah itu.

Ia sangat tidak berpengalaman mengurus anak.

Istrinya begitu saja meninggalkannya akibat kecelakaan saat menjemput Naruto.

Naruto menunduk takut melihat wajah suram lelaki yang harus ia panggil dengan sebutan 'ayah' di seberang meja.

"Apa yang biasa ibumu lakukan untuk mengurusmu?"

Sasuke bertanya dengan nada seolah sedang menginterogasi penjahat.

Tatapannya tajam menusuk objek mungil di depannya yang terlihat ketakutan.

"Na- Naru bisa melakukan semuanya sendiri," jawab Naruto lirih.

"Bisakah kau berbicara lebih keras lagi. Ayah tak mendengarnya."

Naruto meremat kencang rok seragam Taman Kanak-Kanaknya ketika suara baritone sang ayah terdengar ingin menyakitinya.

"Naru biasa sendiri!"

Naruto segera membekap mulutnya dengan kedua tangan mungilnya saat ia berteriak kencang diiringi tatapan tajam yang mengarah pada sang ayah.

Biasanya sang ibu akan memarahinya jika ia berteriak kencang layaknya anak laki-laki. Tapi dirinya terlahir sebagai anak laki-laki. Masalahnya sang ibu tak menyukainya sebagai anak laki-laki.

Alhasil seluruh keterangan akan identitas dirinya disamarkan oleh sang ibu menjadi anak perempuan.

Semua orang di Desa-pun menganggapnya sebagai seorang anak perempuan.

Meski ia masihlah anak-anak namun ia tak sebodoh itu untuk membedakan jenis kelamin.

Harusnya ia pergi ke sekolah mengenakan kemeja dan celana pendeknya, bukan rok seperti yang dikenakannya sekarang.

Melihat tingkah putrinya, Sasuke segera merogoh kantong celananya dan mengambil dompet miliknya. Pria itu segera mengambil beberapa lembar uang kemudian meletakkannya di atas meja makan.

"Baguslah kalau begitu. Jadi aku tak perlu repot-repot mengurusmu. Ini uang untuk keperluanmu. Belilah apapun yang kau inginkan."

Sasuke mendorong uang diatas meja ke arah putrinya kemudian beranjak dari tempatnya. Namun baru beberapa langkah kakinya meninggalkan tempat itu, ia harus berhenti karena pertanyaan sensitif putrinya.

"Ayah, apakah ibu akan pulang ke rumah?"

"Ibumu tak akan pernah kembali lagi," jawab Sasuke tanpa memandang lawan bicaranya.

Setelah menjawab pertanyaan Naruto, Sasuke segera melangkah meninggalkan ruang makan karena harus bekerja.

Tak ada sarapan pagi seperti biasanya. Tak ada sambutan penuh cinta dari Sakura. Semua terasa hampa bagi Sasuke. Namun tidak dengan bocah cilik bersurai pirang yang tersenyum lebar mengetahui sang ibu tak akan pernah kembali.

Melewati pertumbuhan tanpa bimbingan orang tua yang benar membuat Naruto tumbuh menjadi remaja urakan.

Suka berkelahi dengan teman sekelasnya atau dari sekolah Desa sebelah.

Bukan tanpa alasan remaja berusia 16 tahun itu memberi bogem mentah pada mereka.

Naruto hanya tak suka jika mereka mengejeknya.

Ada yang mengatakan ia gadis tomboy berdada rata. Tak menarik kecuali parasnya yang cantik. Bahkan jakun yang seharusnya tumbuh menonjol terlihat samar jika tak di perhatikan dengan teliti.

Rambutnya panjang hampir sepinggang karena ia jarang memotong rambut.

Seragam sekolahnya selalu tergulung beberapa lipatan hingga ke siku.

Bahkan beberapa kali Naruto terkena skors karena kedapatan merokok di sekolah bersama teman lelaki sekelasnya.

Sedangkan Sasuke yang sering mendapat undangan rutin dari sekolah sudah tak sanggup menghadapi tingkah anaknya itu dan berakhir tetangganya yang datang memenuhi undangan tersebut.

Namun entah mengapa setelah sang tetangga yang mengurusi masalah Naruto, putrinya itu tak lagi sering berbuat ulah.

Kadang ia berpikir kenapa tidak dari dulu ia menyerahkan Naruto ke tetangganya itu.

Ia bisa memberinya uang untuk keperluan putrinya beserta tambahan sedikit uang untuk tetangganya itu.

Toh selama ini keduanya hidup seperti itu sedari kepergian istrinya.

Ia akan meninggalkan uang untuk Naruto berbelanja kebutuhan sehari-hari atau keperluan pribadi putrinya itu.

Sasuke berjalan gontai menuju kamar mandi rumahnya. Hari ini ia memutuskan untuk tidak bekerja mengawasi perkebunan karena merasa sedikit pening akibat alkohol yang dikonsumsinya semalam.

"Kyaaa!"

Sasuke berjengit kaget saat membuka pintu dan baru selangkah memasuki area kamar mandi. Ia melihat putrinya sedang berdiri di depan wastafel dengan keadaan hampir telanjang menghadap cermin.

"Maaf, kukira tak ada orang." Naruto segera membalikkan badan memunggungi sang ayah begitu pria itu memandang penampilannya. Hatinya berdegup kencang berharap sang ayah tak menyadari jika ia memiliki dada yang sangat rata.

Jika selama ini ia dapat menyamarkannya dengan memakai bra yang sedikit menonjol maka jika ia dalam keadaan seperti ini maka ia tak lagi dapat menutupi penampilannya.

"A- ayah?"

Naruto semakin gelisah di tempatnya saat Sasuke tak meninggalkannya tapi malah menghampirinya.

Bahkan ia merasakan tangan besar ayahnya menyingkirkan rambut panjang yang menutupi punggungnya.

Sasuke adalah pria dewasa yang terkadang membutuhkan kehadiran pasangan. Namun setelah kepergian Sakura ia tak pernah sekalipun tertarik untuk melakukan hal intim seperti itu.

Ia lebih tertarik menghabiskan waktu di perkebunan dan rumah. Jika ia ingin menenggak alkohol maka ia tak perlu repot pergi ke tempat hiburan malam.

Di kulkasnya beberapa botol minuman bir kaleng tersedia.

Tapi entah mengapa saat melihat pinggul Naruto dan belahan bokong yang sedikit terlihat membuat gairahnya bangkit tiba-tiba.

Tanpa berpikir apakah putrinya sudah cukup umur atau tidak, ia ingin sekali melakukan sesuatu hal yang kotor.

Ia ingin menjamah tubuh di depannya dan tanpa pikir panjang pria itu segera menghampiri putrinya.

Sasuke menyingkirkan rambut panjang putrinya dengan satu tangan dan tangan lainnya mengelus garis punggung gadis di depannya dari tengkuk hingga ke tulang ekor.

Sasuke menempelkan tubuhnya ke punggung Naruto dan melepaskan satu tangannya yang sedang memegang rambut si pirang.

Tangan Sasuke yang masih berada di bagian bawah tubuh Naruto bergerak menyusup memasuki celana dalam yang dipakai oleh gadis di depannya itu.

"Mnn,"

Jantung Sasuke berdetak kencang saat mendengar suara yang ditimbulkan oleh aksinya meremas daging padat di belakang tubuh putrinya.

Dengan nafas memburu pria itu semakin aktif melakukan kegiatanya.

Hidungnya mengendus wangi jeruk yang menguar dari rambut putrinya itu.

Merasa tak cukup hanya dengan meremas bagian belakang tubuh putrinya, Sasuke dengan kasar membalikkan tubuh putrinya agar menghadap ke arahnya.

Tanpa memperdulikan status gadis di depannya, Sasuke segera meraup rakus bibir sewarna peach Naruto.

Tangannya meraba bagian tubuh mana saja untuk merangsang birahi putrinya itu.

Namun saat tangannya tak sengaja menyentuh bagian intim Naruto, Sasuke segera menghentikan ciumannya.

Dengan jantung berdetak kencang, tangan Sasuke meraba bagian selangkangan Naruto yang terasa menonjol dan sedikit basah.

Sasuke segera melangkah mundur begitu tangannya menyentuh benda yang terasa tak asing baginya.

"Kau laki-laki? "

Naruto menunduk merasa bersalah.

Dadanya terasa sesak begitu menyadari ia terbuai oleh cumbuan ayahnya.

"Katakan padaku yang sebenarnya?! Sejak kapan kau menjadi laki-laki?!"

Sasuke bertanya dengan nada tinggi penuh amarah.

"Ya! Iya aku laki-laki sejak lahir! Istri gilamu yang membuatku seperti ini dan aku bahagia perempuan itu mati!"

Plak!

Sasuke memandang tak suka remaja di depannya itu setelah melayangkan satu tamparan keras di pipi Naruto. Ia tak tahu harus memanggilnya apa?

"Kau, berani-beraninya berkata seperti itu pada istriku setelah ia memungutmu dan merawatmu dengan baik!"

"Dia iblis! Bu- akh!" Sasuke segera meraih leher Naruto dengan kedua tangannya saat tak terima dengan ucapan si pirang tentang istrinya.

Wajahnya memerah karena amarah. Matanya menatap benci anak yang ternyata sudah membohonginya itu.

Namun saat melihat Naruto hampir memejamkan mata, Sasuke segera melepaskan cekikannya.

"Uhuk! Uhuk! Uhuk! Hah… hah!"

Naruto jatuh terduduk di atas lantai kamar mandi sesaat setelah Sasuke melepaskannya.

Perlahan ia berusaha menetralkan deru nafasnya kembali, namun belum juga ia dapat bernafas dengan baik, Sasuke berteriak mengusirnya.

"Pergi dari rumahku! Aku tak sudi melihat wajahmu lagi! Kau menjijikan! Pergi sebelum aku membunuhmu!"

Naruto berusaha bangkit dari tempatnya meski harus kesulitan karena tak memiliki tenaga lebih untuk bergerak.

Meski demikian pemuda itu tetap berusaha dengan cara merangkak meninggalkan kamar mandi.

"AAARGH!"

Sasuke berteriak frustasi kemudian menghampiri kaca di atas meja wastafel dan memukulnya hingga retak.

Dadanya terasa sesak mengingat ia hidup dalam kebohongan. Entah siapa yang harus disalahkan.

Dirinya yang terlalu acuh atau keadaan yang membuatnya seperti ini.

Untuk terakhir kalinya Naruto memandang bangunan tua di depannya. Sebuah tas jinjing berisi pakaian seperlunya ia genggam erat dengan kedua tangannya.

"Terimakasih telah membesarkanku seperti ini, ayah."

Naruto membungkuk hormat beberapa detik kemudian kembali menegakkan tubuhnya. Bibirnya melengkung tipis meski dadanya terasa begitu sakit karena terluka.

Air matanya mengalir tanpa dapat dicegah.

Tubuhnya perlahan berbalik meninggalkan bangunan tempat dimana ia bernaung selama 15 tahun hidupnya.

Mungkin ia memang tak seharusnya disana.

Seharusnya ia menjadi laki-laki di luar sana. Berjuang keras dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya bukan merawat tubuhnya agar tetap halus layaknya wanita anggun yang diimpikan oleh kebanyakan lelaki.

Meski berat meninggalkan orang yang dicintainya sedari kecil namun pria itu bukanlah tempat yang tepat untuk dirinya melabuhkan hidup.

Ia akan berusaha berjuang mencari jati dirinya yang sesungguhnya berharap dunia mengakuinya kembali sebagai laki-laki.

TBC.