Kalimatnya yang mengatakan bahwa kami akan bertemu kembali, benar terjadi. Meski lebih tepat jika disebut ia yang mengunjungiku ke tempat kerja hari ini.

Pria berambut hijau itu, hanya duduk saja di atas batu besar yang berada di pintu masuk workshop pembuatan kapal milik Iceberg. Saat ku tanya mengapa ia datang kesini, ia bilang hanya ingin melihat-lihat dan berjanji untuk tidak menggangguku. Jadi, ku tinggalkan saja ia disana. Yang tak sampai sepuluh menit sudah memejamkan mata meski aku tak yakin makhluk sepertinya dapat tertidur juga.

Iceberg memintaku untuk bekerja lebih lama di tempatnya. Menggantikan Kalifa, sekertarisnya yang ambil cuti mengunjungi orang tuanya di Osaka.

Sambil mengingat-ngingat kemampuanku di belakang komputer, ku lirik lagi pria berambut hijau itu dari jendela besar lantai dua di ruangan Kalifa yang mengarah ke halaman workshop. Ia masih disana, tertidur dengan pulasnya.

Aku terkikik geli, merasa aneh saat melihat sinar matahari membuat tubuhnya seperti memiliki semburat-semburat keemasan. Andai saja ada orang lain yang juga bisa melihatnya.

"Kau sudah menyelesaikan ini?" Iceberg tiba-tiba muncul dan meneliti hasil pekerjaanku yang ku letakkan di atas mejanya.

Aku mengangguk. Namun mengamatinya dengan waspada, menunggu jika ada yang kalimat negatif yang akan segera keluar dari mulutnya.

Namun, "Kau menyelesaikannya dengan baik," katanya. Dari balik wajahnya yang selalu terlihat datar, aku menemukan ketulusan disana. "Kau bahkan mengerjakannya lebih cepat dari Kalifa."

"Terima kasih."

"Ku rasa pekerjaanmu sebelumnya melibatkan hal-hal seperti ini."

"Ah, entahlah." Aku menerawang. Menyusuri huruf-huruf pada keyboard komputer dengan jari-jariku. "Aku tak yakin."

"Kau masih belum mengingat apapun?"

Aku menggeleng pelan. "Aku tak lagi yakin akan mampu mengingatnya."

"Tak masalah, pelan-pelan saja. Biarkan tubuhmu yang mengingat semuanya." Ia berkata seraya duduk di mejanya. Lalu tak lama, terlibat percakapan dengan orang lain di ponselnya.

Aku termenung. Meski aku yakin tubuhku sudah memberikan banyak kode tentang apa yang biasa ku lakukan sebelumnya, aku masih tak bisa menyusun potongan-potongan kode tersebut dengan benar. Dan itu, sungguh membuatku kesal.

Setelah aku merampungkan semua pekerjaanku hari itu, aku meminta izin pada Iceberg untuk pulang lebih awal dengan alasan sakit pada kedua kakiku. Sebagai tipe atasan yang tak banyak menuntut, ia memberi izin saja. Jadi, ku tinggalkan kantornya dan keluar dari sana diikuti si pria berambut hijau yang tiba-tiba sudah mengekor sejak aku keluar dari pintu gerbang workshop.

"Pasti menyenangkan pulang kerja lebih awal." Ia membuka percakapan. Kedua tangannya terkatup di dalam kantung celana dan mulutnya masih menguap beberapa kali sejak tadi. Ia benar-benar tertidur rupanya.

"Jadi, kau tak bisa makan dan minum tapi bisa tertidur?" tanyaku akhirnya. Cukup penasaran dengan 'sistem kerja' tubuhnya,

"Aku tetap memerlukan energi untuk melakukan beberapa hal."

"Seperti?"

"Merasuki seseorang misalnya, atau memegang sesuatu." Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Aku menghentikan langkah dan mengamatinya antusias. "Jadi sebenarnya kau bisa menyentuh sesuatu?"

"Bahkan menggerakkannya jika ku mau." Ia mengangguk. "Namun, selain benda-benda yang berasal dari alam, aku butuh energi lebih untuk melakukannya."

"Benda dari alam?"

"Yah, seperti batang pohon, atau bebatuan, atau semak-semak, atau air laut. Kau pasti paham soal itu," jelasnya dengan sabar.

"Ara, pantas saja kau selalu bersandar pada batang pohon," ujarku. Ingat betul pria ini tak pernah lepas dari pepohonan di sekitar kami sejak aku bertemu dengannya pertama kali. Jadi, hanya pada benda-benda itu ia bisa beristirahat tanpa perlu mengeluarkan energi lebih. "Lalu, benda-benda apa saja yang bisa kau sentuh?"

Ia melirik ke sekitar kami. "Apapun," jawabnya singkat. "Aku bahkan bisa menggendongmu jika ku mau. Namun tentu, akan terlihat aneh jika orang lain melihatmu melayang di udara. Aku juga butuh banyak sekali energi untuk melakukannya."

"Dan apa yang akan terjadi jika kau kekurangan energi?"

Pria berambut hijau ini terdiam. Nampak berfikir dengan serius sebelum menjawabnya. "Entahlah, mungkin tubuh asliku yang merasakan akibatnya," jawabnya dengan tenang. Lalu terkekeh kecil saat melihatku termenung menatapnya. Seolah-olah meyakinkanku jika tak akan terjadi apapun padanya. "Lagipula, untuk apa aku menggendongmu bukan?" Tambahnya lagi, seraya melanjutkan langkah.

Aku mengangguk. Aku yakin, ia akan baik-baik saja.


Sudah dua minggu sejak pria tak kasat mata ini menemani hari-hariku. Ia dengan rajinnya menungguku pagi-pagi sekali di pekarangan rumah, menemaniku seharian di tempat kerja, juga membuatkanku kopi andalannya setiap malam. Membuat Sanji mengeluhkan rasa kantuknya selama dua pekan ini lantaran selalu terbangun tengah malam pada kami.

Namun hari ini, rabu pagi. Tak ada jadwal pekerjaan untukku lantaran semua tempat kerja di kota ini telah selesai ku datangi. Tadinya, Rayleigh memintaku kembali membantu di kedainya. Tapi ia bilang, aku bisa beristirahat dulu sejenak dan menunggu sampai hari senin untuk melakukannya. Jadi, aku memilih berlibur hari ini.

"Lalu, kau akan melakukan apa?" tanya pria berambut hijau itu saat ku jelaskan perihal pekerjaanku.

Aku melirik sebentar Nami yang tengah duduk di teras. Sedang sibuk dengan bisnis olahan kulit jeruknya sambil berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya. Lalu kembali mengamati pria di depanku. Berusaha berbicara sepelan mungkin agar tak menimbulkan tanda tanya tentang mengapa aku berbicara sendirian.

"Entah. Aku memutuskan untuk berlibur tapi aku tak yakin akan pergi kemana. Aku belum pernah kemanapun sejak berada disini," kataku sambil mengupas satu persatu kacang rebus yang terhidang di meja makan. Lalu mengunyah mereka dengan lahap.

"Hmm." Pria di hadapanku menaruh dagunya di tangan kiri, sementara satu tangan lainnya mengatuk-atuk meja secara perlahan. Sejak mengetahui meja makan ini dibuat sendiri oleh mendiang ayah Nami dari pohon jati asli, ruang makan ini langsung menjadi tempat favoritnya. "Kau mau ikut denganku?" tanyanya kemudian.

"Kemana?"

"Aku menemukan satu tempat yang bagus beberapa hari lalu. Tapi, butuh waktu lebih dari satu jam untuk berjalan kaki. Aku khawatir kakimu masih tak cukup kuat untuk itu." Dapat ku lihat ia melirik kedua kakiku dari ujung matanya.

Aku mencibir. Tak suka orang lain melihat ini sebagai beban yang berat bagiku. "Aku baik-baik saja," tukasku kesal. "Aku selalu berjalan kaki dari dan ke tempat kerja selama ini."

"Dan kau mengeluhkan rasa sakitnya setiap tengah malam bukan?" Ganti ia mengingatkanku tentang betapa seringnya aku bercerita padanya tentang ngilu yang mendera kakiku tiap kali kami berbincang saat larut malam. "Lagipula, bukan hanya karena kondisi kakimu. Berjalan kaki sejauh itu juga cukup melelahkan, tahu."

"Lalu, kau berniat mengajakku jalan-jalan atau tidak sebenarnya?"

"Baiklah. Kau ikut saja dengan mobil si pengantar cola. Kita akan bertemu disana."

"Pengantar cola? Maksudmu, Franky?" Sosok pria berbadan besar dengan rambut biru eksentrik yang sering berganti-ganti model mendadak terbersit di kepalaku. Ia merupakan kurir pengantar minuman bersoda yang sering berkeliling dari satu kota ke kota lain di pulau ini. "Lalu, apa maksudmu kita akan bertemu disana?"

"Kau tau duduk di mobil akan menguras cukup banyak energiku bukan? Aku tak mau hanya tertidur jika sudah sampai disana."

Aku terdiam. Lalu mengedarkan pandanganku berusaha mencari cara agar kami bisa berangkat bersamaan. Hingga ku temukan beberapa potongan kayu di ujung perkarangan rumah. Aku tersenyum. Lalu dengan segera mengumpulkannya sebelum menelfon Franky dengan ponsel yang ku pinjam dari Nami.

Pria itu datang dan menunggu di persimpangan jalan menuju rumah. Sudah siap dengan mobil pick up yang mengangkut beberapa box minuman bersoda. Masih tersisa sedikit ruang di salah satu sisinya, yang langsung ku isi dengan beberapa potongan batang kayu yang tadi ku bawa dari rumah.

"Kau mau menjualnya atau apa?" Franky bertanya dengan heran.

"Ada sesuatu yang ingin ku lakukan dengan kayu-kayu ini," jawabku tenang. Berusaha untuk tak menimbulkan lebih banyak pertanyaan dengan menyibukkan diri menyusun kayu-kayu tersebut dengan benar.

Selagi Franky – yang saat itu mengepang dua rambut nyentriknya – masih mengamatiku dengan bingung, pria tak kasat mata di belakangku justru tertawa dengan kencang. Jika saja aku bisa sedikit mencubit perutnya, pasti sudah ku lakukan dari tadi.

Perjalanan kami berlangsung selama kurang dari setengah jam. Ditemani dengan cerita-cerita konyol tentang pengalaman Franky selama hampir lima tahun ia bekerja mengantarkan minuman-minuman bersoda ini ke seluruh penjuru pulau. Ia bilang, dengan pekerjaan itu ia bisa mengenal hampir keseluruhan penduduk pulau. Juga berkali-kali dijodohkan dengan beberapa putri dari pelanggan-pelanggan setianya. Aku terkikik saja. Mendengarkan dengan seksama sambil sesekali melirik ke belakang untuk memastikan pria berambut hijau itu masih berada disana.

Tak lama, kami kemudian turun tepat di depan pintu masuk yang mengarah ke dalam hutan. Franky bilang, aku akan menemukan sebuah kuil tua jika berjalan mengikuti alur yang diciptakan hutan tersebut. Meski terlihat bingung lantaran aku memintanya berhenti di tempat seperti ini, ia toh tetap melanjutkan perjalanannya. Sambil memintaku untuk berhati-hati dan menyarankanku untuk kembali ikut pulang dengannya satu jam lagi. Aku mengangguk. Lalu lanjut berjalan memasuki hutan.

Ada sebuah papan jalan di depan hutan tersebut yang membuatku yakin tempat ini tak benar-benar tanpa penghuni. Dapat ku dengar juga sayup-sayup deru motor dari dalam hutan. Sekali lagi, aku tak pernah takut pada hal apapun. Tapi mengingat pria di sebelahku bukanlah manusia seutuhnya yang bisa membantuku jika terjadi sesuatu, aku jadi waspada juga.

"Benarkah ini jalannya?" tanyaku pada akhirnya setelah lima menit kami berjalan kaki.

Ia mengangguk. "Tidak jauh, sebentar lagi sampai. Dan jangan khawatir, ada beberapa turis yang kulihat tengah berkemah tak jauh dari sana. Perlengkapan mereka cukup untuk menolongmu jika terjadi sesuatu," tambahnya lagi. Selalu saja mengerti arti kegelisahanku.

Dan benar saja, kami akhirnya tiba. Di sebuah danau yang tak terlalu besar, namun cukup untuk memanjakan mata. Pohon-pohon tua yang besar di sekitarnya membuat tempat ini terlihat magis namun hangat disaat yang bersamaan. Ada beberapa tanaman air juga daun-daun keemasan yang berguguran mengapung diatas danau tersebut. Membuat airnya tidak nampak jernih tapi tetap menyegarkan mata. Berpadu sempurna dengan semburat pantulan cahaya matahari yang menyeruak masuk dari celah-celah pepohonan, juga warna kehijauan yang melingkupi seluruh penjuru danau.

"Bagaimana?" tanya pria disampingku kemudian. Sudah duduk dengan nyaman sambil bersandar pada sebuah pohon tua di dekat kami.

Aku ikut duduk di sampingnya. "Aku menyukainya," jawabku jujur. "Benar-benar tempat yang tenang. Bagus sekali untuk meredakan pikiranku setelah menghabiskan tiga bulan bekerja di banyak tempat."

"Kau terlalu memforsir tenagamu."

"Mereka sudah menerimaku dengan sangat baik. Dua minggu pertama mereka bergiliran menjenguk dan membawakan segala macam keperluanku. Apalagi yang bisa kulakukan untuk membalas mereka?" Aku menerawang. Masih ingat betul rasa sakit di hari-hari pertama aku terdampar di pulau ini.

Pria di sebelahku hanya memejamkan matanya. "Lalu, kapan kau akan mengurus dirimu sendiri?"

"Hmm?"

"Kau bilang kau bahkan masih tak ingat apapun."

"Entahlah." Aku menghela nafas panjang. Kesal sebenarnya membahas soal ingatanku yang tak kunjung kembali. "Aku bahkan tak lagi ingat punya memori yang baik sebelum ini."

"Ternyata kau tak seoptimis kelihatannya."

"Hey –,"

"Cobalah mulai menuliskan beberapa hal yang sudah kau lakukan secara berulang secara tidak sadar selama tiga bulan belakangan ini. Apa yang kau lakukan itu, bisa jadi seringkali juga kau lakukan sebelumnya," pria tersebut memberi saran.

Aku terdiam. Seketika membenarkan perkataannya. Pelan-pelan, ku runutkan kegiatanku sejak pagi hingga malam hari. Aku selalu mencari teh hangat dan koran untuk dibaca sebelum aku memulai aktivitasku. Juga menggantung pakaian yang akan ku kenakan esok hari di belakang pintu. Aku senang membaca buku di sela-sela waktu senggangku, juga tak mahir berbasa basi dengan orang lain. Apa itu semua juga sering kulakukan sebelumnya?

"Lalu, jika sudah ku runutkan, apalagi yang harus ku lakukan?" aku bertanya lagi.

Membuat pria berambut hijau di sebelahku tertawa dengan hebat. "Pikirkanlah sendiri sisanya. Aku kesini untuk berlibur, bukan untuk memikirkan hal-hal yang berat," ia menjawab sekenanya.

Aku mendengus. Ingin sekali ku cubit pinggangnya, tapi tanganku malah menembus tubuhnya. Membuatnya kembali tertawa dan malah mengejekku dengan senyumannya.

Tapi yah, baiklah. Untuk sementara mari nikmati saja dulu pemandangan indah disini.

Aku kemudian bangkit seraya meregangkan tubuh dan melirik sekitarku. Ia benar. Dalam radius kurang dari lima puluh meter dari tempat ku berdiri, samar-samar ku lihat beberapa tenda terbangun diantara pohon-pohon tua tersebut. Sebuah motor trail juga terparkir diantaranya. Menyusul deru motor-motor lain di sekitar kami.

Aku melangkah perlahan mendekat pada danau lalu berjongkok di tepiannya. Memperhatikan pantulan diriku sendiri diatas beriak air yang begitu tenang disana. Lalu tiba-tiba, aku mendengar sebuah suara. Memanggil namaku dengan nada baritone rendah yang hangat, dan begitu familiar di telinga. Membuat tubuhku seketika membeku dan bergetar hebat. Apa aku berhalusinasi?

"Robin."

Aku terkesiap. Segera bangkit dan menoleh dengan cepat. Namun sayang, gerakan yang terburu-buru membuatku kehilangan keseimbangan dan terpeleset masuk kedalam danau. Aku tenggelam.