Aku berusaha sebaik mungkin menggerakkan seluruh anggota tubuhku. Meski dalam kesusah payahan itu akhirnya aku ingat, aku tak bisa berenang. Ku coba untuk menggapai apapun yang ada di sekitarku. Juga berteriak meminta bantuan seseorang. Namun yang keluar dari mulutku hanyalah butiran butiran gelembung oksigen yang semakin membuatku kesulitan bernafas.

"Robin! Robin!"

Astaga, tidak. Suara itu muncul lagi. Pasti ada yang mengenalku di sekitar sini. Tapi, siapa? Ia terlalu nyata jika disebut imajinasi.

"Robiin!"

Kini ku biarkan tekanan air menarik tubuhku hingga ke dasarnya. Pasrah sudah akan nasibku jika harus berakhir disini. Ku pejamkan mataku untuk menahan rasa sakitnya. Hingga disela-sela waktu itu, kembali potongan-potongan mimpiku muncul dan menampilkan diriku yang begitu jelas didalam sana. Begitu anggun dalam balutan gaun chiffon biru muda selutut, rambut pony tail sederhana yang ditata dengan hiasan bunga-bungaan yang cantik, juga raut wajah yang begitu bahagia.

"Robin! Akhirnya kau tiba!" seru satu-satunya wanita yang duduk di meja makan. Menghampiri diriku yang berbahagia disana. Sementara yang lain hanya menyapaku dengan wajah bahagia yang sama. Saling bersahutan memuji kecantikanku malam itu.

Lalu aku terperanjat saat melihat sosok pria yang masuk tak lama kemudian. Ia si pria berambut hijau. Begitu gagah dalam setelan blazer biru muda yang serasi denganku. Tubuhnya yang tegap dan bidang, menampakkan betapa tampannya dia malam itu. Tangannya kokoh, tapi lembut menarik pinggangku untuk mendekat ke arahnya. Diriku yang saat ini menyaksikan semua itu dari sudut ruangan, hanya bisa mengernyit keheranan melihat diriku disana tersenyum dengan begitu bahagia saat menatapnya. Seolah-olah, hanya pria itu satu-satunya hal penting dihidupku selamanya.

"Zoro! Robin! Mari mendekat, makan malamnya sudah siap."

"Ah, Koushiro-san, baiklah."

"Ya ampun, Robin, kalian sudah menikah, kau bisa memanggilku ayah sekarang."

"Dan juga memanggilku nee-chan!"

"Dia sudah sering melakukannya, Kuina."

"Diam kau, Zoro! Kau juga seharusnya memanggilku dengan sebutan yang sama."

Mereka kemudian larut dalam percakapan yang membuat gelak tawa. Saling bercengkrama, mengingat momen-momen menarik dalam pernikahanku dan Zoro. Gelas-gelas wine beberapa kali terangkat keatas. Bersulang untuk kebahagiaan kami berdua.

Hingga kemudian, ruangan tersebut mendadak hilang. Dan ku dapati diriku berdiri di pinggir trotoar jalan yang mengarah ke lautan.

Tak ada apapun yang lewat dalam beberapa detik setelahnya. Hingga ku sadari sebuah mobil sedan hitam melaju dan menabrak pembatas jalan dengan cepat di depanku. Membuatku tanpa berbasa-basi berlari mengampiri mobil tersebut. Mataku kemudian terbelalak. Kaget menyadari diriku sendiri yang berada di dalamnya.

Robin yang disana berlumuran darah, namun tetap tersadar. Menangis sejadi-jadinya sambil terus membangunkan Zoro yang duduk dibalik kemudi di sampingnya. Tangannya bergetar hebat, berusaha melepaskan sabuk pengaman yang mengikat di tubuhnya.

Cepatlah. Kumohon, cepatlah keluar dari sana.

Namun sayang, baru saja ia akan keluar dari mobil, sebuah truk besar dengan kecepatan tinggi datang dan kembali menghantam mereka berdua. Membuat mobil yang mereka tumpangi terjun bebas ke lautan di sebelah jalan, dan membuat pandanganku kembali di penuhi oleh air.

Saat ku tersadar, aku sudah berada di tepian danau, dengan tubuh gemetar karena kedinginan dan memori yang barusan terputar dengan jelas dalam ingatanku.

Lalu aku terkesiap. Melirik ke sisi yang lain dan mendapati Zoro disana. Mengamatiku dengan sangat khawatir, dan tubuh yang basah kuyup karena menolongku tadi.

"Robin, kau baik-baik saja?" tanyanya cemas. Masih terus mengamatiku dengan iris hijaunya.

"K-kau… sudah mengetahuinya?" tanpa ku sadari suaraku bergetar saat menanyakan hal tersebut. "Kau sudah tau kalau ini, aku?"

Untuk sesaat ia terdiam. Menunduk sebentar sebelum kembali menatap kedua bola mataku dan mengangguk perlahan. "Iya. Aku tau."

"T-tapi… bagaimana…" tanpa terasa, air mataku tumpah. Tak menyangka dua minggu terakhir ini telah ku habiskan waktu sia-sia bersama pria yang ternyata suamiku sendiri tanpa mengtahui kebenarannya. "Bagaimana bisa kau tak memberitahuku sejak awal, Zoro?!"

"Apa mungkin kau akan percaya jika ada makhluk tak kasat mata mengatakan bahwa ia adalah suamimu saat pertama kali kalian bertemu?" Zoro balik bertanya. Dan itu membuatku tersentak. Ia benar. Aku bahkan masih merasa ia adalah imajinasiku dalam beberapa hari terakhir. "Aku tak ingin kau mengingatku dalam rasa sakit, Robin. Maka dari itu aku berusaha membantumu secara perlahan. Dan aku bahagia, dapat menemanimu beberapa minggu terakhir ini." Ia tersenyum. Sebuah senyum manis yang selalu berhasil menghancurkan tembok besarku.

Baru saja mulutku akan mengeluarkan pertanyaan yang lain, ku sadari semburat keemasan muncul secara perlahan dari punggungnya. Ia mengamati telapak tangannya. Lalu mengamatiku dengan senyumnya yang lain.

"A-apa yang terjadi?" tanyaku panik.

"Aku pasti sudah menghabiskan seluruh energiku untuk menolongmu tadi," jawabnya tenang.

Aku terdiam. Mengingat dengan betul percakapan kami berdua beberapa waktu lalu.

"Dan apa yang akan terjadi jika kau kekurangan energi?"

"Entahlah, mungkin tubuh asliku yang merasakan akibatnya."

"Astaga!" Aku terperanjat. Air mataku tumpah seketika. "Dimana kau sekarang? Dimana tubuh aslimu?"

"Tenanglah, Robin. Aku akan baik-baik saja." Ia masih bersikap tenang. "Aku ada di ruang ICU rumah sakit internasional di Tokyo. Dokter pasti sedang berusaha sebaik mungkin untukku sekarang."

Semburat keemasan itu kini semakin memakan habis seluruh tubuhnya. Menyisakan wajah tampannya yang masih terus tersenyum dan satu tangannya untuk menghapus air mata yang tak henti keluar membasahi wajahku.

"Tenanglah," katanya lagi. "Aku akan menunggumu datang."

"Berjanjilah kau akan baik-baik saja sampai aku tiba."

"Aku janji." Ia mengangguk. Anggukan terakhirnya sebelum tubuhnya benar-benar menghilang dan meninggalkan diriku sendiri di tepi danau tersebut.

Dengan segera, aku bangkit. Mencari apapun dan siapapun yang bisa mengantarku dengan cepat kembali ke Tokyo. Aku harus kembali, secepatnya.


Kegaduhan yang ku timbulkan sukses membuat Nami dan Bellmere menyambangi kamarku. Mereka menyeruak masuk. Memaksa tanganku untuk berhenti memasukkan apapun yang ku temui ke dalam koper besar yang telah ku siapkan sejak lama. Koper besar yang ku beli dari salah seorang warga untuk berjaga-jaga bila hari ini akan tiba.

"Robin, tunggu, tenanglah. Ceritakan pada kami ada apa sebenarnya? Mengapa kau basah kuyup?" tanya Nami seraya mengguncang bahuku demi membuat mata kami bertemu.

"Suamiku… suamiku, Nami. Ingatanku, aku sudah mengingat semuanya," jawabku dengan nada bergetar. Dapat ku lirik Franky juga berupaya menjelaskan hal serupa pada Sanji yang menyaksikan kami dari ambang pintu.

Setelah kejadian di danau tadi, aku dengan segera berlari tanpa arah keluar dari hutan. Baru saja sepuluh menit berjalan, mobil milik Franky muncul dan aku kembali diantar olehnya ke kediaman Bellmere setelah sebelumnya aku merajuk dan memaksanya untuk langsung mengantarkanku menuju dermaga.

"Masih ada waktu satu jam sebelum kapal berikutnya berangkat, Robin. Kau masih sempat mengemasi barang-barangmu juga berpamitan pada yang lain." Begitulah katanya sehingga ia membawaku kembali kesini.

Mulut Nami terbuka lebar mendengar pernyataanku. Ia dan ibunya saling melirik sebelum akhirnya bergantian memberiku sebuah pelukan hangat. "Selamat Robin, aku senang mendengarnya!" seru gadis berambut oranye tersebut. "Lalu, dimana suamimu sekarang?"

"Kami mengalami kecelakaan mobil yang hebat, Nami. Dan sekarang ia dalam kondisi kritis di ICU sebuah rumah sakit di Tokyo. Aku harus bergegas kesana."

"Astaga, kau seharusnya mengatakan itu sejak awal." Bellmere menyentuh tanganku. "Kalau begitu, cepatlah ganti pakaianmu. Kau tak akan mungkin pergi kesana dalam keadaan basah kuyup seperti ini. Biar kami yang menyiapkan barang-barangmu."

Tanpa berbasa basi, aku mengiyakan tawarannya. Dengan segera aku menganti pakaianku, sementara Bellmere dan Nami sibuk memilah barang-barang penting yang bisa aku bawa di dalam sebuah ransel berukuran sedang.

"Koper besar akan menghambat perjalananmu. Kami akan mengirimkan sisa-sisa barangmu yang tertinggal jika kau sudah mengirimkan alamat mu sesampainya di Tokyo," terang Bellmere saat menyerahkan ranselnya padaku.

Aku mengangguk. Mengerti maksudnya.

Kini ganti Nami menyerahkan sesuatu untukku. Sebuah ponsel.

"Nami, bukankah ini milikmu?"

"Itu ponsel lamaku. Tidak terlalu canggih tapi cukup untuk menghubungi kami jika sesuatu terjadi padamu disana. Ingat, kau harus selalu mengabari kami!" tegasnya membuatku terharu.

"Nami, terima kasih banyak!" Aku memeluknya dengan hangat. "Maaf belum bisa membalas kebaikan kalian. Tapi aku berjanji akan kembali setelah keadaan sudah kembali seperti sedia kala."

"Tenang saja, kami mengerti." Bellmere mengelus pundakku. "Suamimu lebih membutuhkanmu sekarang. Pergilah."

Aku mengangguk. Kemudian berjalan menuju pekarangan rumah.

Franky dan truk cola nya sudah menungguku disana. Siap mengantarku kembali menuju dermaga. Setelah puas berpamitan, kami kemudian melaju pergi.

Aku juga berterima kasih berkali-kali pada Franky sepanjang perjalanan. Kalai bukan karena dia, aku pasti akan sangat menyesal jika tak berpamitan pada orang-orang sebaik mereka.

Kami sampai di dermaga tepat lima belas menit sebelum kapal berlayar. Aku dengan segera membeli tiketnya, dan mencari tempat ternyaman di dek sambil terus berdoa pada Tuhan untuk setidaknya memberiku kesempatan melihat Zoro sebelum hal paling buruk terjadi padanya.

Ah, tidak. Aku bahkan tak ingin ada sesuatu yang buruk terjadi padanya. Ia harus sembuh. Ia pasti akan baik-baik saja dan aku akan dengan segera mengenalkannya pada Nami dan yang lainnya.

Sepanjang perjalananku menuju Tokyo, aku tak bisa berhenti merutuk dan mengutuk diriku sendiri tentang betapa bodohnya aku dua minggu belakangan ini. Seharusnya aku sadar itu dia. Caranya membuat kopi, caranya mengamatiku, caranya membaca raut wajahku dengan mudah. Seharusnya aku sadar ada sesuatu yang berbeda pada makhluk tak kasat mata itu. Tapi bodohnya, aku bahkan menyia-nyiakan kesempatanku untuk bisa lebih cepat bertemu dengannya.

Bagaimana bisa aku melupakan pria yang sudah lebih dari sepuluh tahun bersamaku dengan mudah?

Robin, kau benar-benar wanita bodoh.

Dulu, kami sama-sama menjadikan aula olahraga sebagai tempat favorit kami. Aku yang kutu buku bisa menghabiskan berjam-jam waktuku disana sementara ia puas bermain kendo. Di tempat itu pula kami bertemu pertama kali. Dari pertemuan awal yang kikuk, hingga aku yang sering mengejarnya dengan shinai tiap kali ia mengganggu waktuku dengan buku-bukuku. Dari ia yang berbicara dingin dan seadanya, hingga tertawa terbahak-bahak hanya karena mendengarku tertidur di perpustakaan.

Kami akrab dengan mudah dalam masa-masa sekolah itu. Bahkan masuk universitas yang sama sesudahnya, meski kami berada dalam fakultas yang berbeda.

Di kampus, kami tau kami saling jatuh cinta. Ia kerap kali terlihat cemburu saat aku berdekatan dengan pria lain selain dirinya, pun dengan aku yang tanpa sadar bisa diam berhari-hari tiap tau ia berkomunikasi dengan perempuan lain selain aku. Namun anehnya, meski begitu tak ada satupun dari kami yang berani menyatakan cinta. Kami tetap dalam persahabatan kami, hingga kami lulus, dan sulit berkoneksi selama hampir dua tahun lantaran kesibukan kami masing-masing.

Di sela-sela waktu itu, aku sempat menjalin hubungan dengan seorang dokter muda bernama Law. Zoro yang ku kabari tentang hal itu, hanya memberi selamat dan tak banyak membahas apapun tentang hubunganku dengannya. Hingga tiga tahun berselang, ia tiba-tiba bertanya, 'Hey, apa kau masih bersama kekasihmu?'.

Waktu itu musim gugur saat aku jawab tidak. Lalu esoknya, setelah sekian lama tak bertemu, ia tiba-tiba datang menjemputku dengan mobil barunya yang ia beli dari hasil keringatnya sendiri. Datang dengan senyum sumringah dan membawaku menuju sebuah pantai di pinggir kota Chiba. Dan disanalah, ia akhirnya menyatakan keinginannya untuk melamarku. Ia juga meminta maaf karena membuatku menunggu terlalu lama. Lantaran ia tak ingin melamarku dengan barang-barang pemberian orang tuanya.

Jadi, di mimpi itulah kami dua tahun kemudian. Menggelar acara makan malam bersama keluarga dan kerabat terdekat sebagai ganti dari tiadanya resepsi dari pernikahan kami yang sederhana. Hingga akhirnya, kecelakaan tersebut terjadi saat kami memutuskan untuk pergi berbulan madu keesokan harinya menuju Aomori. Tak ada yang bisa ku ingat setelahnya. Bahkan nama maupun darimana aku berasal. Semua kenangan kami selama lima belas tahun benar-benar hilang begitu saja tanpa bekas disapu ombak selama tiga bulan lamanya.

Tinggal kini, aku yang tergopoh-gopoh menjajaki lorong putih yang sarat dengan aroma alkohol. Bersinggungan dengan paramedis yang sama sibuknya denganku. Tak ada satu orangpun yang bisa ku tanyai disini. Para dokter bergerak dengan cepat memasuki satu ruangan ke ruangan yang lain. Sementara perawat bergantian membawa alat-alat medis mereka sambil berlari tak mengindahkan kehadiranku.

Disela-sela kebingunganku saat itu, muncul secara tiba-tiba sosok lain yang berada jelas dalam mimpiku. Wanita berambut hitam, dengan setelan kaus dan mata yang sembab. Ia terlihat begitu terkejut saat mendapatiku berada tepat di hadapannya.

"K-kau… Robin?" tanyanya memastikan.

Membuatku menyunggingkan senyuman karena kini aku tau siapa dia. "Kuina nee-chan," lirihku tak bisa menahan tangis.

Setelah memastikan itu benar-benar aku, ia kemudian membawaku duduk ke salah satu bangku di ruang tunggu. Tangannya masih tak henti meremas lengan dan menyapu keseluruhan wajahku seolah tak percaya bahwa aku masih hidup.

"Astaga, Tuhan. Astaga." Ia menatapku sendu. "Aku benar-benar tak percaya ini kau. Syukurlah, syukurlah kau masih hidup."

"Tenanglah nee-chan, aku baik-baik saja."

"Hampir satu minggu tim SAR mencarimu, tapi mereka tak menemukan tanda-tanda keberadaanmu. Zoro juga berada dalam kondisi yang sangat kritis saat itu hingga aku perlu mencari banyak pendonor untuk menyelamatkan hidupnya. Fokusku terbagi, Robin. Aku benar-benar pasrah saat tim pencari mengatakan bahwa mereka tak bisa menemukanmu. Sungguh, maafkan aku. Seharusnya aku tak menyerah saat itu." Kuina tertunduk lesu. Air matanya tak henti mengalir.

"Kau sudah melakukan hal yang tepat, nee-chan. Sudah seharusnya kau menyelamatkan Zoro," kataku menenangkan. "Lalu, dimana dia sekarang?"

"Oh, ya Tuhan! Kau harus segera menemuinya! Ini, benar-benar keajaiban." Gadis itu mendadak kembali ceria. "Setelah tiga bulan lebih tak sadarkan diri, akhirnya dokter mengatakan tanda-tanda vitalnya terus membaik dalam empat jam terakhir. Ia bahkan sempat menggerakkan jarinya tadi. Cepatlah kau temui dia, sepertinya ia tau kau akan datang!"

Mendengar hal tersebut, aku jadi ikut senang. Dengan segera aku menuju ruangan yang diarahkan oleh Kuina, lalu masuk ke dalamnya.

Ruangan tersebut tak sepenuhnya berwarna putih. Beberapa fasilitas seperti kursi dan juga nakas kecil diujung ruangan berwarna kecoklatan. Ada banyak sekali peralatan medis yang mengitari satu-satunya bangsal di sana. Tersambung pada beberapa bagian tubuh Zoro yang nampak tertidur pulas diatasnya. Dengan hati-hati, aku mendekat ke arahnya.

Ia masih sama seperti yang aku ingat. Meski ventilator dan selang makanan menutupi hampir sebagian besar wajah tampannya. Beberapa luka bekas jahitan juga masih nampak terlihat pada beberapa bagian tubuhnya. Menandakan betapa berat hari-hari yang ia lalui beberapa bulan belakangan. Dan membayangkan jiwanya berkelana menyaksikan itu semua, rasanya pasti begitu menyiksa.

"Zoro," bisikku tepat di telinganya. Berusaha sebaik mungkin untuk menahan tangis. "Bangunlah, aku sudah sampai."

Melihat tak ada respon, ku genggam erat-erat tengannya. Berharap dengan begini ia menyadari kehadiranku.

"Kau pasti sudah melewati hari yang berat." Aku kembali buka suara. "Maafkan aku karena sudah begitu lama melupakanmu, Zoro. Seharusnya aku ada disini sejak awal."

Beberapa detik setelahnya, dapat kurasakan ada gerakan halus dalam genggaman tanganku. Itu jari-jari Zoro. Berusaha mengeratkan tangannya diantara jari jemariku. Hingga kemudian, matanya terbuka secara perlahan. Sempat ia mengerjap-ngerjap beberapa kali untuk membiasakan lagi retinanya terhadap rangsangan cahaya setelah berminggu-minggu terpejam.

"Zoro," panggilku lagi.

Meski samar, dapat kulihat ia menyunggingkan seulas senyuman. "Kau… pasti terburu-buru," katanya tertatih. "Kau datang… dengan sangat cepat."

Kini, tangisku tak bisa terbendung. Dengan cepat ku peluk tubuhnya untuk melepas kerinduan selama berbulan-bulan lamanya. Tubuh tegap dan bidang yang selalu menjadi tempatku berpulang.

"Tenanglah… aku sudah bilang akan menunggu… kedatanganmu, bukan?" katanya dengan suara parau seraya mengelus pelan rambutku.

Sementara aku hanya mengangguk dalam pelukannya. Akhirnya, aku bisa kembali menyentuhnya.