--keesokan paginya
"Hoaaam..." Suara Kirito yang menguap baru bangun tidur terdengar. "Masih jam segini ya. Yasudah, aku ke ruang tamu saja" Pikir Kirito melihat jam. Setelahnya, ia berjalan menuju luar ruangan tsb.
"Ohayou, Kirito. Kenapa kau bangun sepagi ini?" Tanya Gwen yang baru saja keluar dari kamar nya.
"Ohayou. Aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Aku berniat untuk duduk-duduk saja menunggu waktu. Kau sendiri kenapa?" Tanya Kirito balik Kirito.
"Kau ini Kirito. Tentu saja aku harus mulai menyiapkan sarapan. Kalian kan akan ke dungeon, tidak bisa jika perut kalian kosong" Jawab Gwen. "Oh iya Kirito, mau ku buatkan kopi?" Tawar Gwen.
"Hm, boleh. Arigatou ne Gwen" Jawab Kirito menerima tawarannya dengan senang hati.
"Satu lagi. Setelah kau meminum kopi mu, aku ingin kau ke hutan untuk mencari ini" Kata Gwen memberikan sebuah kertas. "Kemarin di pasar tidak ada. Kalau jam segini kemungkinan belum buka. Jadinya kupikir lebih baik mencarinya langsung. Aku juga sudah menuliskan monster apa saja yang perlu kau buru" Sambung Gwen.
"Memangnya untuk apa?" Tanya Kirito.
"Untuk bekal kalian nanti. Masih ada sih, hanya saja mungkin kurang kalau untuk satu party kalian" Jawab Gwen masih sibuk dengan penyerahan kopinya.
"Baiklah, nanti akan kucari" Jawab Kirito. Kemudian kopinya pun telah disajikan oleh Gwen.
Segera setelah menghabiskan minumannya, Kirito langsung bersiap menggunakan perlengkapannya dan langsung pergi.
"Hoaaam... Ohayou Gwen-san" Kata Lux keluar dari kamarnya.
"Ohayou Lux. Akhirnya kau bangun" Kata Gwen menoleh kearah temannya. "Ayo, banyak yang harus kita lakukan" Kata Gwen menarik tangan temannya tsb.
Beberapa saat kemudian, Naofumi pun ikut bangun dan Kirito pun selesai berburu. "Tadaima" Kata Kirito memasuki rumah kayunya.
"Okaeri. Kau dapat semua kan?" Tanya Gwen menghampiri Kirito.
"Mhmm. Ini dia" Kata Kirito menyodorkan sejumlah bahan makanan pada Gwen.
Setelah beberapa menit, akhirnya Kirito dan Naofumi selesai sarapan. Karena masih sedikit lama hingga waktu pertemuan, Kirito dan Naofumi mengobrol sebentar.
"Ne, Kirito. Menurutmu, antara Gwen, Lux, Asuna, dan Sachi, masakan siapakah yang paling enak?" Tanya Naofumi.
"Ya, karena sudah lama tidak makan masakan mereka, aku agak bingung. Tapi kurasa masakan mereka semua sama enaknya. Menurutmu sendiri?" Jawab Kirito sekaligus balik tanya.
"Ya, kurang lebih sama sepertimu. Bagaimana menurutmu kalau kapan-kapan kita mengundang mereka dan meminta mereka berempat memasak bersama?" Balas Naofumi.
"Ya, pastinya masakan mereka akan sangat enak" Jawab Kirito.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat. "Yosh, kurasa sudah saatnya" Kata Naofumi bangkit dari duduknya diikuti oleh Kirito.
"Kalau begitu kami pergi dulu" Kata Kirito kemudian mereka keluar dari rumah kayu tsb.
"Hm? Kenapa aku merasa mereka melupakan sesuatu ya?" Tanya Lux pada temannya Gwen.
"Kurasa tidak ada. Maksudku, kemarin mereka sudah mempersiapkan item heal, kristal teleport, bahkan sudah sarapan. Aku tidak yakin mereka melupakan sesuatu" Jawab Gwen juga ikut bingung.
"Ngomong-ngomong tadi kenapa Kirito pergi berburu?" Tanya Lux lagi.
"Mencari beberapa bahan. Kemarin di pasar tidak ada jadi kuminta dia mencarinya di hutan. Ya, itu untuk bekal mereka. Kalau tidak sih akan kubeli nanti saja" Jawab Gwen dengan santai. Nampaknya sesuatu telah ia lupakan.
"Bekal yang kau maksud itu berupa keranjang piknik ya?" Tanya Lux yang di jawab dengan anggukan. "Apa seperti itu?" Tanya Lux membuat Gwen menoleh.
"Ya, seperti itu. Ditambah aku juga menurunkan alas berpola garis merah-" Seketika ia terhenti oleh dirinya sendiri ketika memperhatikan keranjang yang ada diatas meja tsb.
"Aaaah, mereka melupakannya!" Gwen kemudian mengambilnya dan membawanya. "Aku akan menyusul mereka, tolong jaga rumah oke?" Tanpa menunggu respon dari temannya, Gwen sudah berlari dengan cepat.
--beberapa saat kemudian di kota utama lantai 74
"Yo minna. Akhirnya semua sudah berkumpul kan? Kalau begitu ayo!" Ajak lelaki berambut hitam, Kirito.
Ketika sedang berjalan menuju pintu keluar, teleport gate aktif lagi. Kemudian memunculkan sosok yang sedang kelelahan. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah keranjang. "Cotto matte Kirito, Naofumi" Katanya membuat Kirito, Naofumi dkk terhenti dan menoleh.
"Eh, Gwen. Kenapa kau kelelahan begitu?" Kata Kirito menghampirinya.
"Itu semua salahmu" Katanya menyalahkan Kirito. Kirito pun terkejut karena bingung apa yang ia lakukan. "Kau melupakan bekal mu. Bagus aku cepat ingat jadi kau tidak akan kelaparan nantinya" Kata Gwen lagi menyodorkan keranjang piknik tsb.
"Woah, arigatou Gwen. Aku tertolong" Kata Kiriti berterimakasih pada Gwen.
Di dalam rombongan, Asuna, Sachi, Mikoto, dan Melty yang secara kebetulan mengumpul di satu titik saling berbisik. "Ne, bukankah mereka makin keliatan seperti sebuah pasangan? " Tanya Asuna.
"Ya, sang perempuan membawakan sang laki-laki bekal, benar-benar biasa. Tapi itulah yang membuat mereka makin terlihat seperti sebuah pasangan" Jawab Mikoto.
"Apalagi mereka terlihat akrab dan bahkan tinggal satu rumah" Kata Sachi menambahkan.
"Aku ingin tau, apa mereka juga tidur bersama?" Melty makin menambahkan. Ketika itulah pikiran keempat makin tidak karuan.
"Kirito-sama sepertinya sedang bersenang-senang" Batin Raphtalia melihat Kirito.
"Hah.. Kau ini Kirito. Ayo, sebaiknya kita cepat ke dungeon" Kata Naofumi yang kemudian menarik Kirito.
"Sekali lagi terimakasih Gwen. Dah" Kata Kirito yang ditarik oleh Naofumi.
Setelah memasukkan bekal nya ke item pouche, mereka mulai perjalanan ke dungeon. Dungeon tsb lah yang diperkirakan lokasi bos lantai berada.
"Haaa!" Teriak Naofumi menangkis serangan seekor Salamander. "Switch" Teriaknya lagi bertukar tempat dengan Kirito.
Kirito pun menghampiri Salamander yang kehilangan keseimbangan karena parry. Pedangnya bercahaya kebiruan. Bersamaan dengan itu, ia bergerak menebas Salamander dengan tebasan horizontal sebanyak 4 tebasan.
"Fiuh..." Baru saja selesai dengan seekor Salamander, dari arah belakang Kirito, Salamander lain menerjang nya dengan cepat. Namun, berkat refleks Kirito, ia berhasil menangkis serangan Salamander dari belakangnya itu. "Switch"
Dengan aba-aba dari Kirito, Yujio menyerang dan langsung menghabisi Salamander dihadapannya tsb.
"Yosh, mari lanjutkan" Kata Kirito begitu mereka selesai berurusan dengan para Salamander yang tersisa.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka hingga mencapai sebuah gerbang. Sebuah pintu raksasa.
"Kurasa ini tempatnya" Kata Asuna pada yang lainnya.
"Nah, Kirito, Naofumi. Kalian tau monster apa ini kan?" Tanya Melty pada kedua player yang berada di depan pintu raksasa tsb.
"Entahlah" Satu kata yang keluar dari mulut Kirito membuat semua orang terkejut. "Ya, kami tidak sempat menangani semua monster lantai. Bahkan beberapa yang kita lawan, seperti White Wyrm waktu itu, itu bukan bos lantai. Tapi ‹Field Boss›. Jadi aku tidak yakin Gleam Eyes itu lantai 74 atau bukan" Sambungnya.
"Baiklah, kalau begitu kita bukas saja" Usul Alice menarik perhatian semuanya. "Kita hanya akan melihatnya. Jika memang itu Gleam Eyes, berarti kita tau cara mengalahkannya" Kata Alice menambahkan.
"Ya, kurasa Alice ada benarnya" Sambung Sachi.
"Baiklah, ayo!" Kata Kirito bersemangat. Mereka pun mendorong pintu raksasa di depan mereka. Pintu itu pun terbuka dan menampakkan sosok humanoid berkepala dan tanduk layaknya kambing. Berkulit biru gelap serta pedang yang hampir seukuran dengan sosok tsb. Kemudian, muncullah kursor yang berwarna merah dan dibawahnya terdapat tulisan.
"Gleam Eyes Monster" Kata Kirito membaca tulisan yang berada di bawah kursor.
Mata sosok raksasa itupun terbuka. Menampakkan matanya yang biru selaras dengan api yang menerangi ruangan tsb. "ROOAAR" Suara raungan nya terdengar sangat jelas hingga keluar ruangan. Mereka pun memutuskan untuk pergi sesegera mungkin.
Setelah berada cukup jauh, akhirnya mereka berhenti. Nafas mereka agak terengah-engah.
"Ya, sekarang kita tau apa yang akan kita hadapi" Kata Sinon masih terengah-engah.
"Ya, kurasa sudah waktunya makan siang" Kata Naofumi menoleh ke arah Kirito.
"Yosh, kalau begitu" Kata Kirito dengan senang hati mengeluarkan keranjang yang tadi diberikan oleh Gwen. "Mari makan!" Kata Kirito kemudian menyiapkan makan siang mereka.
Saat makan pun, mereka sempat mengobrol. "Jadi, Kirito, Naofumi. Bagaimana cara mengalahkannya?" Tanya Yujio memulai percakapan.
"Ya, untuk catatan, dia sangat kuat. Serangan pedangnya benar-benar kuat bahkan hampir mustahil untuk melakukan parry jika tidak menggunakan perisai" Jawab Naofumi pada pertanyaan Yujio.
"Dia juga bisa menyemburkan api dari mulutnya. Jika bukan karena Pleiades dan Dark Storm Blade serta Soul Eater Shield, kurasa kami harusnya sudah mati" Kata Kirito menambahkan.
"Sekuat itu ya..." Kata Asuna menelaah informasi kami. Yang lain pun juga ikut memikirkannya.
"Sayangnya..." Kata Kirito menarik perhatian teman-temannya. "Bisa jadi lebih kuat. Karena sama seperti Illfang di lantai 1, dia bertambah kuat dibanding yang ada di Melromarc. Walaupun berbanding kekuatannya tidak signifikan" Lanjut Kirito makin membuat teman-temannya cemas.
Ketika sedang membereskan bekas makan siang mereka, terdengar sebuah suara. Suara yang menandakan seseorang memasuki area tsb.
Kami pun melihat ke asal suara tsb. Muncullah sosok beberapa player laki-laki berarmor merah dengan senjata yang beragam. Ada pula dua player perempuan yang satu berarmor hitam yang terbuat dari kain saja, yang satunya berarmor putih dan tidak nampak membawa senjata apapun.
Salah seorang laki-laki menyapa Kirito dan Naofumi. "Oi, bocah perisai, anak pedang. Jadi kalian disini juga" Katanya melambaikan tangannya. Kirito pun balik menyapanya. Segerombolan sosok tsb adalah Fuurinkanzan dengan L'arc, Therese, dan Glass.
"Jadi kalian menolak ajakan kami karena akan pergi bersama Fuurinkanzan" Kata Kirito pada L'arc.
"Ya, itu karena kami tidak tau kalian juga kemari" Jawab Therese.
"Kalian kemari untuk mencari ruangan bos nya kan? Sudahkah kalian temukan?" Tanya L'arc penasaran.
"Tentu saja sudah. Kami sudah memetakan dungeon ini sampai ruangan bos nya" Jawab Naofumi.
"Kalau begitu baguslah-" Kata-kata L'arc terpotong oleh munculnya sekelompoo orang lain. Mereka adalah Guild Aincrad Liberation.
"Kalau begitu bagaimana kalau kalian menyerahkan data petanya pada kami" Kata pemimpinnya.
"Cih, apa-apaan kau" Kata Klein kesal dengan sikapnya.
"Tak apa Klein" Kata Kirito menghentikan Klein. "Tapi kami minta bayaran" Kata Kirito meniru kata-kata Naofumi. Party Kirito hanya bisa tersenyum kecil mendengar Kirito meniru Naofumi.
"Kau tidak pernah berubah, dasar beater" Katanya dengan ekspresi yang menggambarkan rasa kekesalan.
"Kau tau cara kami berbisnis. Kami pernah mengalahkannya berdua saja. Apa untungnya bagi kami jika memberimu secara gratis begitu hm?" Kata Naofumi ikut menambahkan.
"Cih, baiklah baiklah" Katanya pasrah kemudian mengeluarkan sejumlah uang. "Ini cukup kan?" Katanya tidak menghilangkan nada kesalnya.
"Ya, yasudahlah. Aku juga kasian dengan pasukannya yang kelelahan seperti itu" Kata Kirito meledek nya.
"Kau sadar tidak ada gunanya kau meminta ini. Kau juga tidak bisa mengalahkannya dengan-" Kata-kata Naofumi pun dipotong.
"Berisik. Ayo! Kita tidak boleh berhenti sekarang" Perintahnya pada pasukannya yang kelelahan itu.
Setelah melihat mereka berjalan agak jauh makin ke dalam dungeon Kirito pun mulai berbicara lagi. "Dia idiot ya?" Tanyanya dengan polos.
"Sepertinya begitu" Jawab Naofumi singkat.
"Yah, sebaiknya kita cepat tolong mereka. Tindakan mereka ini sama saja bunuh diri kan" Kata Klein dengan serius.
"Baiklah, ayo" Kata Kirito mulai berlari ke bagian dalam dungeon. Begitu pula semuanya.
Setelah beberapa saat berlari dan melawan monster-monster yang bermunculan, akhirnya mereka sampai. Ruangan bos tsb jelas tidak tertutup. Dari luar mereka dapat melihatnya, bagaimana Gleam Eyes yang sangat kuat menjalankan tugasnya.
Sebuah sosok pun melayang ke arah Kirito, Naofumi dan kawan-kawannya. Itu adalah pemimpin Aincrad Liberation. Biasa dipanggil Covartz.
"Ka-Kau..." Katanya pada kelompok yang baru sampai. Tepat setelah itu, Covartz pecah menjadi berkeping-keping.
Hal ini membuat Asuna sangat tidak bisa mengendalikan dirinya. "A-Asuna, tenangkan dirimu" Kata Kirito berusaha menangkan Asuna.
Ketika ia sibuk menangkan Asuna, ia lupa akan Misako(Mikoto). Misako yang di dunia nyata ia pernah mengalami hal yang serupa. Seseorang mati tepat dihadapannya. Ketika inilah, Misako tidak bisa mengendalikan dirinya. "Haaaaa!" Ia langsung menyerang Gleam Eyes.
"Misako!" Teriak seluruh anggota party Kirito Naofumi.
"Mau bagaimana lagi" Kata Klein memasuki ruangan bersama dengan party(guild)nya.
Misako menerjang Gleam Eyes dan menggunakan esper powernya yaitu Elektromaster. Gleam Eyes yang sebelumnya hendak menyerang sisa anggota AL, kini berbalik arah menghadap Misako.
Misako kemudian menarik senjatanya. Tepat ketika ingin menyerang, Gleam Eyes mengayunkan pedangnya dari kanan ke kiri dengan sangat keras. Hal ini memaksa Misako menjadi lebih defensif. Serangan Gleam Eyes yang sangat kuat menghempaskan Misako ke belakang.
Kirito pun menangkap Misako yang terhempas. "Daijoubu ka?" Tanya Kirito nampak khawatir.
"Daijoubu desu.." Jawab Misako melepaskan diri dari Kirito.
Serangan berikutnya pun kembali mengarah mereka. Namun kali ini, ada Naofumi yang sudah siap menahannya.
"Kita sudah tidak punya pilihan lain. Kita harus melawannha" Kata Kirito menyiapkan pedangnya. "Leonidas!" Teriak Kirito di iringi dengannya membanting pedangnya.
Gleam Eyes berhasil terserang, namun ia menancapkan pedangnya pada tanah, membuat serangan tsb berhasil ditahan.
TRANG TRANG TRANG. Bunyi beradunya sebuah pedang dengan perisai dan pedang lain.
Kini keduanya, Kirito maupun Naofumi sudah hampir kehabisan tenaga. Kirito dengan Elucidatornya dan Naofumi dengan Chimera Viper Shield nya.
"Kalau begini terus..." Batin Naofumi.
"Kami akan kehabisan tenaga" Pikir Kirito mencoba menahan serangan lainnya dari Gleam Eyes.
"Naofumi! Kita tidak punya pilihan lain!" Teriak Kirito pada sahabatnya. Kata-katanya membuat teman party mereka berpikir macama macam.
"Apa kau yakin akan berhasil?" Tanya Naofumi meragukan.
"Kurasa begitu" Jawab Kirito melihat baru HP nya yang tinggal sedikit.
"Semua! Tolong beri kami 15 detik" Kata Kirito dan Naofumi menangkis hantaman keras dari Gleam Eyes.
"Baiklah" Jawab Klein tanpa ragu.
"Kirito, Naofumi. Jika kalian menggunakan Blood Sacrifice lagi, kami akan-" Yujio yang hendak memperingati dihentikan oleh kedua sahabatnya.
"Tenang saja. Kali ini akan berbeda" Balas Kedua sahabatnya bersamaan.
Party Naofumi dan Kirito serta party Klein berusaha sebisa mereka untuk mengalihkan perhatian Gleam Eyes. Sementara itu, Naofumi dan Kirito sedang membuka skill info dari senjata mereka.
"Yosh minna...!" Teriak Kirito.
"Switch!" Teriak Naofumi menyambung Kirito. Tanpa pikir lagi, L'arc pun menangkis great sword milik Gleam Eyes.
"Satellite Shield" Kata Naofumi mengaktifkan skillnya pada Kirito. "Zweite Speed" Sihirnya pun juga mengarah pada Kirito.
"Haaaaa!" Kata Kirito sambil meraih pedang lain yang tiba-tiba muncul di punggungnya.
Dengan segera, Kirito menggunakan sword skill vertikal square. Hal tsb membuat Gleam Eyes mengalami flinch.
Gleam Eyes kembali menyerang secara Vertikal, namun ditahan dengan kedua pedang dan ddan sebuah perisai yang muncul entah dari mana. Perisai itu berupa perisai sihir namun tidak berwarna hijau. Perisai itu berwarna hitam transparan.
Kirito langsung melakukan parry pada Gleam Eyes. "Straburst... Stream" Kirito mengkatifkan sebuah skill dengan pergerakan yang begitu lincah.
Tebasan demi tebasan dilancarkan pada Gleam Eyes. Ketika Gleam Eyes akan menyerang balik, Kirito mebgacuhkannya. Namun serangannya tidak pernah sampai pada Kirito karena sebuah perisai yang sama seperti sebelumnya muncul kembali.
"Haaaa!" Teriak Kirito beriringan dengan serangan terakhir dari skill nya.
Namun hal tsb tidak diiringi dengan hancurnya Gleam Eyes. Matanya yang biru itu masih menyala terang. Dengan setitik HP, Gleam Eyes nelompat mundur menjauh dari Kirito. Kemudian, entah bagaimana, ia memulihkan HP nya hingga sedikit dibawah titik kuning.
"A-Aarghh... Sial..." Kata Kirito dalam keadaannya yang tidak menguntungkan.
"Kirito!" Teriak semua mengkhawatirkannya.
Tepat sebelum mengenai Kirito, sesuatu menghantam Gleam Eyes. Semua terkejut bahkan anggota party Kirito sendiri. Sebuah api biru menghantam Gleam Eyes dengan keras.
Kini pedangnya sudah kembali menjadi satu. Satu pedang bermotif api di tangan kiri dan api biru yang menyelimuti tangan kanan Kirito.
Tanpa diberi aba-aba apapun, Naofumi seakan menyadari apa yang akan dilakukan oleh Kirito. "Datanglah, Wrath Shield!" Kata Naofumi mengaktifkan skill Wrath Shield nya.
"Haaaa!" Teriak mereka berdua bersamaan. "Combo attack: Ultimate Dragon Flame!" Kedua nya berteriak bersamaan lagi. Kedua api tsb menciptakan serangan yang sangat kuat. Gleam Eyes berusaha menahannya, namun hal itu sia-sia.
Kini Gleam Eyes telah hancur seperti monster kebanyakan setelah dikalahkan. Sekarang yang tersisa adalah Kirito dengan pedang apinya dan Naofumi dengan Wrath Shield nya. Di saat-saat kemenangan, keduanya terjatuh, tergeletak di tanah.
"Kirito! Naofumi!" Teriak seluruh anggota party yang dipanggil.
Detik ketika mereka membuka mata mereka, mereka masih berada di ruangan bos. "O-Ouch... Kepalaku sakit..." Kata Kirito berusaha bangun.
"Huh... Selalu seperti ini.." Ucap Naofumi seolah ini hal biasa.
"Ngomong-ngomong, apa itu tadi?" Tanya Klein menghampiriku.
"Apa aku harus mengatakannya?" Kata Kirito balik bertanya.
"Tentu saja! Aku tidak pernah melihat itu" Jawab Klein penasaran.
"Tadi itu adalah skill baru yang kudapat dari perisai buatan Lizbeth.
"Kirito, jangan bilang itu tadi..." Kata Misako pada Kirito agak khawatir.
"E-Entahlah... Sepertinya itu esper power ku. Tapi, terasa agak berbeda. Terasa lebih kuat dari yang kemarin..." Kata Kirito memandangi tangan kanannya. "Soal pedangnya, yang pertama itu adalah Dari Repulsor buatan Lizbeth. Yang kedua... Fire Thrower Sword. Pada dasarnya terbuat dari esper power ku" Lanjutnya.
Keesokan harinya, tersebar luas sebuah berita. "Green Shielder dan Black Swordsman mengalahkan bos lantai 74 bersama teman-temannya. Bahkan menggunakan skill yang terkesan curang" Agil membacakan isi berita tsb pada Kirito dan Naofumi.
"Huh... Bagaimana bisa berita ini tersebar begitu cepat? Padahal baru seminggu" Keluh Kirito.
Kemudian, seseorang memasuki toko milik Agil tsb. "Kirito-sama, Naofumi-sama. Kalian dipanggil oleh komandan guild KoB" Kata-kata Raphtalia mengejutkan keduanya. Tapi tidak lama kemudian mereka kembali normal.
Jelas komandan KoB memanggil mereka. Pertama, Kirito dan Naofumi mengungkap bahwa ada mata-mata di KoB. Kedua, mereka juga menyelesaikan lantai 74 bersama salah satu anggota KoB.
