"Naofumi-sama, Kirito-sama" Panggil seorang perempuan dari ujung pintu ruangan. "Kalian dipanggil oleh komandan guild KoB" Kata Raphtalia membuat kedua yang dipanggil sempat terkejut.
"Baiklah. Ayo!" Kata Naofumi berjalan keluar ruangan.
Mereka terus berjalan hingga sampai pada tempat tujuan mereka. Disana, mereka mendapati beberapa orang berseragam KoB. Disana juga ada Ratu Melromarc serta ketiga pahlawan lainnya.
Mereka pun mengetuk pintunya. "Silahkan masuk" Kata peria berambut silver dengan baju merah pada dua orang yang berada di balik pintu.
"Kurasa kalian paham kenapa kami memanggil kalian kemari" Kata orang tsb pada Kirito dan Naofumi.
"Mengenai yang kami lakukan di lantai 74 kan?" Tanya Kirito memastikan.
"Semua yang terlibat selalu memberi jawaban yang sama. Alasannya karena kalian tidak punya pilihan, dan itu juga untuk menyelamatkan guild Aincrad Liberation, apa itu benar?" Tanya sang Ratu.
"Kurang lebih begitu" Jawab Naofumi.
"Dan kudengar Kirito, kau menggunakan yang dinamakan kekuatan esper. Apa itu benar?" Tanya Heathcliff pada si lelaki berjubah hitam.
"Ya, begitulah. Aku memang seorang esper. Pertama kali aku menggunakannya, itu ketika kami melawan Kuradeel" Jawab Kirito.
"Oh ya, mengenai itu. Banyak yang harus dibahas" Kata salah satu dari petinggi KoB. "Contohnya seperti, kenapa kau seenaknya memutuskan untuk mencari informasi dari anggota Laughing Coffin yang kau tangkap?" Tanya petinggi KoB tsb.
"Mantan" Kata Kirito dengan tenang mengoreksi kalimat lawan bicara nya. "Kulakukan itu agar mengurangi jumlah pemain yang mengetahuinya. Jika rencana tsb sampai pada si mata-mata, maka dia akan cepat-cepat membunuh mereka berdua dan kita tidak akan dapat informasi apapun" Jawab Kirito.
"Lalu, pengecekkan telah dilakukan selama beberapa hari. Kenapa mereka masih hidup?" Tanyanya lagi.
"Itu karena informasi nya salah. Bukan karena mereka berbohong, tapi karena salah kira" Jawab Naofumi. "Si mata-mata, Kuradeel, mendengar bahwa semua mengira si mata-mata memiliki awalan nama Kra, jadi dia merasa tidak terancam dan tidak perlu untuk membunuh anggota Laughing Coffin yang membocorkan hal ini" Lanjut Naofumi.
"Lalu, apa rencana kalian yang sebenarnya?" Kalimat ini membuat keduanya terkejut. "Pada awalnya kalian sangat ingin menjauhi teman-teman kalian. Kenapa tiba-tiba kalian ingin membentuk party dengan mereka lagi? Apa kalian merencanakan sesuatu?"
"Untuk kali ini, kurasa kami tidak punya niatan apapun" Jawab Kirito dengan nada tenang.
"Baiklah, kalau begitu kurasa tidak ada yang harus-" Kata-kata Heathcliff terhenti oleh Kirito dan Naofumi.
"Sebenarnya" Kata-kata mereka berdua menghentikan sang komandan KoB. "Kami ingin meminta untuk beristirahat dari baris depan" Lanjut Kirito.
Seorang dari petinggi KoB sempat ingin menjawabnya dengan sepele namun didahului oleh Naofumi. "Kami juga bermaksud untuk meminta istirahat untuk seluruh anggota party kami"
Seluruh ruangan menanggapinya dengan sangat serius. Suasana kini semakin tegang. "Kurasa aku bisa mengizinkan Melty beserta teman-temannya untuk beristirahat bersama kalian. Aku juga yakin, Subaru dan Moonlight Black Cat akan mengizinkannta juga. Namun, player seperti Asuna, Sinon, dan Leafa yang berada di Guild KoB, keputusannya berada di tangan para petinggi khususnya komandan Heathcliff" Kata Ratu Mirelia.
"Komandan, kurasa sebaiknya kita tidak mengizinkannya. Mereka bisa jadi merencanakan sesuatu" Kalimat itu sangat menghina Kirito dan Naofumi. Akan tetapi mereka sadar, bahwa pemikiran tsb tidak muncul tanpa alasan. Merekalah yang memulainya.
"Hm... Mirelia-sama" Panggil Heathcliff menarik perhatian sang Ratu. "Bagaimana di negara asal anda cara terbaik menyelesaikan masalah seperti ini?" Tanya Heathcliff dengan sangat sopan.
"Tentunya dengan diskusi. Namun jika gagal, satu-satunya cara adalah dengan duel" Jawab Ratu Mirelia dengan tenang. "Apa anda berniat berduel dengan mereka berdua?" Tanya Mirelia.
"Sebenarnya, tidak juga. Saya paham kenapa mereka melakukan ini. Bagian dari kecerobohan saya sebagai komandan Guild yang membiarkan seorang mata-mata masuk ke dalam Guild kami ini" Jawab Heathcliff masih dengan sopan.
"Lalu? Apa yang akan anda lakukan?" Tanya Mirelia nampak penasaran.
"Begini saja, kami akan mendiskusikan hal ini" Kata sang komandan KoB.
"Baiklah. Tak masalah bagi kami" Jawab sang Ratu. "Kalian berdua tak masalah,kan?" Tanyanya pada kedua sahabat.
"Kurasa tak masalah" Jawab lelaki dengan perisai tsb.
"Kalau begitu kami permisi" Kata Ratu keluar bersama dengan yang lainnya.
Ketika sedang berjalan keluar, Kirito dan Naofumi terhenti oleh tiga sosok di depan mereka. "Naofumi-san, Kirito-san, ada yang ingin kami pastikan" Kata Itsuki si pahlawan busur.
Mereka berlima keluar bersama-sama. "Sebenarnya apa yang kalian berdua rencanakan?" Tanya Ren memulai pembicaraan.
"Menjauhi teman-teman sendiri pasti mempunyai alasan. Kini kalian kembali bersama mereka. Kami hanya penasaran, kenapa kalian melakukan semua ini?" Sambung Motoyasu.
"Alasannya..." Kata Kirito hendak menjawab. "...hanya karena kami sempat punya masalah yang harus diselesaikan tanpa mereka terlibat. Itu saja kok" Jawab Kirito agak berbohong.
Naofumi nampak mengetahui kebohongan Kirito. "Setelah masalah tsb selesai, kami berpikir untuk mencoba kembali. Kami sempat khawatir bahwa kami sudah terlalu jauh" Sambung Naofumi.
"Sokka, kalau begitu baguslah" Kata Motoyasu nampak lega.
"Ya..." Kata Kirito juga nampak lega.
Siangnya, para petinggi KoB selesai berunding. Mereka memutuskan untuk mengizinkan anggotanya seperti Asuna, Sinon, dan Leafa untuk berlibur bersama Kirito, Naofumi, dan party-nya.
"Yosh, kurasa sudah semuanya" Kata Kirito selesai membantu teman-teman nya pindah.
"Gomen Kirito, Naofumi. Kalian jadi harus membeli beberapa rumah lagi" Kata Sinon.
"Kenapa meminta maaf? Jelas kami yang meminta kalian untuk berlibur" Balas Kirito.
"Yosh, mari kita mulai pembagian kamarnya" Kata Kirito yang entah kenapa membuat semuanya bersemangat.
"Yang pastinya, karena ada tiga rumah, masing-masing nya akan diisi satu laki-laki!" Seru semuanya.
Setelahnya Kirito mempersiapkan alat untuk mencatat. "Bagaimana kalau kita undi?" Kalimatnya barusan membuat mereka semua agak panik kecuali Yujio dan Alice.
Hasil undian pun selesai. Dan hasilnya sebagai berikut.
1. Kirito
2. Gwen
3. Melty
4. Misako
5. Asuna
1. Naofumi
2. Raphtalia
3. Sinon
4. Leafa
5. Filo
1. Yujio
2. Alice
3. Lux
4. Sachi
Nampaknya ada beberapa yang terlihat senang ada juga yang tidak. Di akhir hari mereka selesai mengatur tempat.
"Gomen ne Sachi, teman-temanmu tidak bisa bersama dengan kita. Karena aku tidak menemukan jumlah yang cocok" Kata Kirito.
"Ie, tak apa" Jawab Sachi.
Esok harinya, mereka sarapan bersama. Keadaan tenang seperti ini akan jarang mereka dapatkan.
Kirito yang melihat Yujio melamun langsung bertanya. "Ada apa, Yujio?"
"Ah? Tidak, tidak apa-apa. Hanya saja tinggal di desa seperti ini mengingatkanku pada kehidupan di Desa Rulid" Jawab Yujio tersadar dari lamunannya.
"Oh, sokka" Jawab Kirito. Ketika ini, semua seolah melupakan sesuatu dan berusaha mengingatnya.
"Oh iya" Kata Asuna mengejutkan semua yang ada di ruangan tsb. "Kau mash berhutang penjelasan Kirito" Kata Asuna membuat semua teringat, termasuk Kirito.
"Uh...baiklah..." Kata Kirito pasrah.
"Bagaimana mulainya ya, um. Ya, aku semacam memulai hidupku dari nol lagi selama di 'dunia manusia'. Dan ketika kami umur 10 tahun, kami diberi tugas untuk menebang pohon Gigas Cedar" Kata Kirito mulai menjelaskan.
"Ketika Kirito berusia 13 tahun, dia menjadi tertarik pada pedang. Bahkan sampai menciptakan sword style baru" Kata Yujio ikut menjelaskan.
"Singkat cerita, kami selesai melakukan tugas yang harusnya mustahil selesai saat usia kami 15 tahun. Itu semua berkat Blue Rose Sword milik Yujio. Kami kemudian diperbolehkan untuk memilih Sacred Task baru. Ketika itulah, kami pindah ke Zakaria dan akhirnya ke Centoria, dimana kau tau kami akhirnya melanggar Taboo Index saat menjadi Elite Swordsman in Training" Kata Kirito lagi.
"Lalu, bagaimana dengan bagian kau katanya mengenalku?" Tanya Alice.
"Oh, kami mempunyai teman bernama Alice Zuberg. Dia dibawa oleh Deusolbert Systhesize Seven. Dia membawa Alice ketika kami 11 tahun" Jawab Kirito. "Tentu saja, kau tidak ingat, begitu pula dengan Deusolbert sendiri. Jika Deusolbert ingat, maka jelas dia akan mempertanyakan kemunculan dirimu yang tadinya merupakan pelanggar Taboo Index" Lanjut Kirito sebelum Alice berhasil mengatakan apapun.
"Sungguh tak bisa dipercaya, pemimpin tertinggi sampai melakukannya" Kata Alice merenungkan hal yang dikatakan Kirito.
"Lalu, Taboo Index yang mana yang kau langgar, Kirito, Yujio?" Tanya Naofumi.
Kirito sempat terdiam sebentar, kemudian menjawab. "Kalau Yujio, larangan bahwa kita tidak boleh mengurangi life seseorang dengan sengaja. Sedangkan aku pembunuhan" Jawab Kirito agak keberatan menjawab.
"Oh, begitu" Balas Naofumi.
"Kau tidak menanyakan kenapa mereka melakukannya?" Tanya Gwen.
"Ie, aku tak butuh alasan mereka. Sudah jelas kan, mereka melakukannya karena terpaksa" Jawab Naofumi. "Kurasa itu bagian dari, "Walau dilarang, ada beberapa hal yang harus dilakukan." Benar kan, Kirito?" Tanya Naofumi yang dijawab anggukan oleh Kirito.
"Jadi, apa kalian tau cerita sebenarnya dari pemimpin tertinggi?" Tanya Alice terlihat penasaran. Yujio ngejawab dengan gelengan sedangkan Kirito terdiam sesaat.
"Administrator itu, dia menggunakan Sacred Art untuk membuat penampilannya seperti ketika masih muda ketika ia menyadari «Life» miliknya terus menurun. Setelahnya, ia mencoba untuk mengambil alih posisi System Cardinal di dunia tsb" Kalimat terakhir Kirito membuat semua terkejut.
"System Cardinal ini bukan system seperti yang ada di dunia virtual. Lebih tepatnya, itu adalah system yang diciptakan oleh Dewi Kehidupan Stacia untuk membantu berjalannya kehidupan di dunia" Lanjut Kirito. Kirito pun melanjutkan ceritanya sampai selesai.
"Hm..." Alice masih merenungkan semua yang ia dapat dari Kirito. Tentunya, karena ia tak bisa percaya, bahwa orang yang ia layani berbohong banyak hal padanya. Bahkan mengambil ingatannya tentang keluarganya.
"Ja, kalau begitu, aku akan keluar" Kata Kirito berdiri.
"Mau memancing lagi hm?" Tanya Naofumi.
"Ya, begitulah" Jawab Kirito keluar ruangan tsb. Di hari yang tenang, ia memancing. Namun, karena belum lama mendapatkan skill memancing, ia mendapat sedikit ikan ketika itu.
"Hhh... Hanya sedikit..." Pikir nya mengeluh.
Ketika pikirannya terfokus kan pada jumlah ikan yang ia dapat, tiba-tiba dia mendapatkan sebuah ajakan pertemanan. Dalam ajakan tsb, terdapat pesan.
"Besok siang, temui aku di kota lantai 22 sendiri. Ada yang harus ku bicarakan berdua denganmu" Begitulah yang tertulis.
Kirito pun bingung dan akhirnya kembali ke rumah kayunya.
Keesokan harinya, pada siang hari, sesuai yang diperintahkan, ia ke kota. Dia melihat sekitar untuk mencari orang yang menyuruhnya kemari.
"Jadi kau sudah datang" Kata sebuah suara menghampiri Kirito. Lelaki tsb berambut pirang dengan kacamata.
"E-Etto..." Kata Kirito bingung.
"Namaku Motoharu desu. Aku kesini karena ada hal yang ingin kusampaikan serta tanyakan" Katanya.
"Kalau begitu, baikla-" Kalimat Kirito terpotong.
"Kau tidak diikuti kan?" Tanya Motoharu mengejutkan Kirito.
"Te-Tentu saja tidak" Jawab Kirito. "Lalu, apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Kirito.
"Yah, ini soal sihir dan sebagainya" Kata Motoharu. "Pertama, aku bertanya padamu, juga mempercayaimu untuk merahasiakan apa yang akan kukatakan padamu karena seorang temanku mengenalmu" Katanya mengangkat jari telunjuknya.
"Siapa?" Tanya Kirito.
"Kamijou Touma" Jawabnya dengan singkat.
"Kamijou Touma...laki-laki berambut hitam jabrik dengan kemampuan tangan kanan yang aneh?" Tanya Kirito memastikan.
"Yap, the one and only, Kamijou Touma, sang Imagine Breaker. Pengguna kemampuan yang bisa menetralisir esper power maupun sihir" Katanya dengan tenang.
"Sihir? Apa dia pernah berhadapan dengan sihir?" Tanya Kirito lagi.
"Kau bisa dibilang begitu. Ya, ini adalah hal kedua yang akan kukatakan. Di dunia yang kita ketahui, di Academy City, ada yang namanya sihir" Kalimat Motoharu membuat Kirito sangat terkejut.
"Kau bohong kan?!" Tanya Kirito tidak percaya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Memang ada yang namanya sihir di dunia kita. Hanya saja mereka tidak menampakkan diri" Kata Motoharu.
Kirito menenangkan diri untuk sementara. "Lalu, apa lagi yang ingin kau katakan?" Tanya Kirito.
"Hm, sebenarnya, aku ingin bertanya terlebih dahulu. Kau ini esper kan?" Tanya Motoharu yang dijawab dengan anggukan dari Kirito. "Pernahkah kau menggunakan sihir dari duniamu?" Tanyanya dijawab dengan anggukan lagi.
"Kalau begitu, ada kemungkinan tubuhmu sedang sekarat sekarang" Kata Motoharu mengejutkan Kirito.
"Maksudmu?" Tanya Kirito yang terkejut.
"Seorang esper, bila menggunakan sihir maka dia akan menerima kerusakan pada tubuhnya. Dan itu sudah terbukti" Jawab Motoharu. "Pernahkah kau merasa sakit ketika menggunakan sihirmu itu?" Tanya Motoharu.
"Ie, aku tidak pernah merasakan sakit ketika menggunakan sihir, bahkan ketika di Melromarc" Jawab Kirito.
"Kalau begitu ini bisa lebih rumit lagi" Kata Motoharu berdiri. "Karena dengan begitu, ada kemungkinan kau dapat memicu perang antara pihak ilmu pengetahuan dan pihak sihir. Semua itu karena kau seorang esper yang menggunakan sihir tanpa adanya rasa sakit" Kata Motoharu makin membuat Kirito cemas.
"Uh, yah... Ketika di Melromarc, aku sempat kehilangan ingatan. Mungkin karena itu, aku semacam menjadi manusia biasa. Makanya bisa menggunakan sihir tanpa rasa sakit. Kalau ketika di Sword Art Online, itu karena mereka memasang system bernama Pain Absorber" Kata Kirito.
"Hm, kurasa tidak begitu. Sekali kau menjadi esper, maka kau memang harusnya merasakan rasa sakit ketika menggunakan sihirmu itu. Atau mungkin, kau akan menerima efek yang berbeda?" Kata Motoharu yang kemudian merenungkan kalimatnya sendiri.
"Ya, aku mendapatkan sebuah senjata khusus. Mungkin saja karena itu" Kata Kirito mencoba mengelak.
"Hm, baiklah. Akan kusimpan ini sampai kita keluar dari game ini" Kata Motoharu kemudian bangkit dari duduknya. "Ja, kalau begitu aku pergi dulu" Katanya hendak berjalan menjauhi Kirito. "Oh iya, beritahu temanmu yang esper untuk tidak menggunakan sihir. Itu bisa melukai diri mereka" Katanya berbalik badan.
"Haik, akan kukatakan padanya" Jawab Kirito.
Setelah selesai, Kirito kembali ke rumah kayunya. "Tadaima" Suasana saat itu sangatlah sepi.
"Okaeri, Kirito" Balas Gwen keluar dari kamarnya.
"Yang lain kemana?" Tanya Kirito.
"Oh, mereka sedang bermain di air terjun" Jawab Gwen. Sebelum Kirito bisa mengatakan sesuatu, Gwen sudah membaca pikirannya dan menjawab. "Tidak, aku disini untuk menunggumu"
"Maaf merepotkan" Kata Kirito mebggaruk tengkuknya.
"Tak masalah" Katanya kemudian berjalan ke ruang tamu.
Suasana benar-benar sepi dan tenang. Saat seperti ini benar-benar bikin ngantuk. Ketika hampir menutup matanya, Kirito disadarkan oleh suara Gwen.
"Ano, Kirito" Panggil Gwen. "Bisakah nanti malam kau ke air terjun? Ada yang ingin dibicarakan" Pinta Gwen.
"Yah, jika memang ingin membicarakan sesuatu sekarang saja. Atau disini saja" Kata Kirito.
"Kau.. Tak mau ya?" Tanya Gwen dengan nada lembut.
"Bukan begitu... Baiklah, aku akan lakukan" Kata Kirito.
"Syukurlah" Kata Gwen lega. "Oh iya, nanti kau pergi sana terlebih dahulu. Aku sebenarnya ada yang harus dilakukan sebelum kesana" Katanya memberitahu.
"Baiklah kalau begitu" Malamnya pun, Kirito sudah berada di tempat yang diminta.
