Malamnya, Kirito dikejutkan oleh pernyataan cinta dari kelima temannya, Misako, Asuna, Sachi, Melty, dan Gwen. Dan untuk menyelesaikannya, Kirito harus mengencani kelimanya dan memilih diantara mereka.

Dua hari berlalu dan Kirito masih belum memilih diantara kelimanya. Perdebatan terjadi diantara dirinya. Namun akhirnya mereka memutuskan agar Kirito memilih setelah mereka keluar dari Aincrad.

Tiba-tiba, ia diminta untuk mengecek hutan dan memastikan apa ada hantu disana. Walau sudah sempat menyangkal kemungkinan hantu di dunia virtual, Kirito tetap dipaksa melakukannya.

Ia menghela nafas sembari berjalan. "Yaampun, ada-ada saja" Katanya kemudian terus berjalan. "Sudah kuduga pasti tidak ada apa-apa" Batinnya kemudian hendak berbalik arah. Namun ia terhenti ketika melihat sosok gadis kecil dengan rambut hutan panjang yang mengenakan pakaian putih.

Kirito hanya memperhatikan dari jauh. Namun ia terburu-buru menghampiri gadis kecil tsb ketika sosok misterius tsb terjatuh. Tidak mempunyai pilihan lain, ia membawanya ke rumahnya.

Kirito pun telah membaringkan sosok anak kecil di atas kasur salah satu kamar. "Bagaimana bisa dia berada di dalam hutan? Apa dia tersesat?" Batinnya bertanya-tanya.

Tak mempunyai waktu untuk bertanya-tanya lagi, Kirito melihat gadis tsb telah membuka matanya. "Syukurlah kau sudah sadar" Kata Kirito. "Apa kau tau apa yang terjadi padamu? Misalnya seperti bagaimana kau bisa berada di dalam hutan?" Tanya Kirito.

"Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa-apa" Jawab lawan bicara Kirito.

"Kalau begitu, apa kau masih ingat namamu?" Tanya Kirito lagi.

"Na-Nama..." Gumam sosok berambut hitam panjang tsb. "Namaku... Yui..." Jawabnya sambil menoleh pada Kirito.

"Baiklah Yui. Namaku Kirito" Kata Kirito menyebutkan namanya.

"Kiito" Kata Yui mencoba mengulang perkataan Kirito.

"Yang benar Kirito" Kata Kirito mengoreksi Yui. "Ki-ri-to"

"Kiito" Yui masih belum bisa.

"Sepertinya itu masih terlalu sulit untukmu" Kata Kirito memberikan senyuman masam bercampur ramah. "Kalau begitu kau boleh panggil aku dengan panggilan yang menurutmu mudah saja" Kata Kirito. Jika seseorang melihat mereka, sekilas mereka terlihat seperti ayah dan anak (walau dari penampilan Kirito masih terlalu muda).

"Papa" Jawab Yui. Ekspresinya berubah menjadi seolah ketakutan. Mungkin ketakutan karena Kirito yang tidak ingin di panggil begitu.

Melihat raut wajah Yui, Kirito tak bisa mengatakan tidak. "Baiklah Yui. Kau bisa panggil aku Papa" Kata dan senyum Kirito dengan ramah.

"Papa!" Seru Yui langsung memeluk sosok 'ayah'nya.

"Kau pasti lapar. Mari lihat ada apa saja yang bisa dimakan" Katanya berjalan keluar bersama dengan Yui yang memegang tangan kirinya.

"Baiklah Yui, silahkan" Kata Kirito memberikan sebuah Sandwich pada Yui. Sedangkan dia memegang yang ada saus nya.

Yui tidak berkata apapun dan hanya melihat sandwich yang ada di tangan Kirito. Menyadari tatapan 'putri'nya, Kirito pun menjawab. "Asal kau tahu Yui, ini sangat pedas" Kata Kirito memperingati 'putri'nya.

"Aku mau yang sama dengan yang papa makan" Kata Yui dengan penuh keyakinan.

Mendengar perkataan Yui, Kirito pun membalas. "Kalau kau memang mau, maka aku tidak akan melarang. Karena pengalaman itu sangat berharga" Kata Kirito kemudian memberi Yui sandwich yang pedas.

Yui pun mengigit sandwich di tangannya sekali. Raut wajahnya menandakan bahwa ia merasakan rasa pedas yang dikatakan Kirito. "Enak" Katanya setelah berhasil menelan gigitan pertamanya.

"Hehe, baiklah kalau begitu. Kurasa kau pasti bisa menghabiskan sandwich itu" Kata Kirito terdengar lega.

Beberapa saat kemudian, mereka berhasil menyelesaikan makan siang mereka. Lebih tepatnya, Yui menghabiskan satu sandwich dan Kirito menghabiskan 2. Kini, Yui tertidur dengan kepalanya berada di atas pangkuan Kirito. Sedangkan Kirito hanya mengelus kepalanya.

Pintu depan pun berbunyi terbuka. Kirito menoleh ke arahnya dan mendapati Naofumi yang memasuki ruangan. "Yo Kirito-" Kalimat Naofumi terpotong tepat di awal.

"Ssstt" Kirito mengisyaratkan untuk jangan berisik dengan menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya. "Ada apa Naofumi?" Tanya Kirito dengan pelan.

"Aku dengar kau mengecek sosok hantu yang terlihat di hutan. Tapi..." Kalimat Naofumi menggantung ketika ia menoleh ke arah sosok yang tertidur. "Kurasa memang bukan hantu"

"Namanya Yui. Sayangnya, dia tidak ingat apapun" Jawab Kirito tanpa ditanya.

"Dan kau akan merawatnya sampai dia ingat lagi?" Tanya Naofumi.

"Tentu saja" Jawab Kirito dengan senyuman.

"Kalau begitu, besok kita akan pergi ke lantai pertama kota pertama. Mungkin ada yang mengenalnya" Kata Naofumi memberi solusi.

"Baiklah, kurasa itu tak masalah" Balas Kirito.

Waktu pun berlalu. Matahari virtual telah terbenam. Saat inilah kelima player perempuan yang tadi pergi kembali. "Kirito, kami kembali!" Kata Asuna dengan gembira.

Namun tidak ada jawaban dari perkataannya. Ketika mereka berjalan makin ke dalam rumah tsb, mereka mendapati 2 sosok yang matanya terpejam. Yang satu mereka kenali sebagai Kirito. Namun, sosok gadis kecil berwmbut hitam panjang yang tidur di pangkuan Kirito lah yang tidak mereka kenali.

Mata gadis itu terbuka. Pupil hitamnya menatap kelima perempuan yang berada tidak jauh dari pintu masuk. Ia menggerakkan kepalanya menoleh ke arah pemuda bermabut hitam kemudian kembali mengarah pada kelima perempuan yang masih terdiam.

"Ne, papa" Katanya sambil mengguncangkan Kirito. Kata yang ia ucapkan sungguh mengejutkan kelima perempuan tsb. "Ne papa, bangun!" Katanya lebih keras.

Mata pemuda bermabut hitam itu terbuka. "Oh, Yui. Ada apa?" Tanya Kirito masih belum menyadari kehadiran orang orang yang baru datang tsb.

"Apa mereka semua mama Yui? Atau salah satu dari mereka?" Tanya Yui dengan polosnya. Kirito terheran sejenak sebelum ia menoleh ke arah yang di tunjuk Yui.

Tanpa menghiraukan pertanyaan Yui, Kirito menyambut kedatangan kelima player wanita yang masih berdiri. "O-Oh, kalian sudah kembali" Kata Kirito.

Kirito, tanpa mempunyai pilihan lain, harus menjelaskan semua yang terjadi sejak pagi hingga siang tadi. Setelahnya, yang lain pun paham.

Merasa semua sudah terjelaskan, Kirito kembali duduk di ruang tamu. Sampai sosok Yui menghampirinya. "Jadi, siapa diantara mereka yang merupakan mama Yui?" Tanya Yui lagi dengan polosnya.

Dengan suara Yui terdengar oleh semuanya, Asuna, Sachi, Misako, Melty, dan Gwen langsung berpikir hal yang sama. "Mungkin Kirito akan membuat keputusan dengan ini" Dan setelahnya, mereka semua mengintip ke arah ruang tamu. Sedangkan Kazuto hanya bisa tersenyum masam sambil menggaruk tengkuknya.

"Hhh... Yui, kenapa kau harus bertanya itu sekarang?" Batin Kirito. "Ya, aku tak bisa bilang tidak ada. Mereka mungkin akan berpikir bahwa aku membuat keputusan dengan tidak memilih siapapun. Tapi, tidak mungkin aku benar-benar memilih salah satu dari mereka, tidak sekarang. Aku juga tidak mungkin bilang 'Ya, begini Yui, mereka semua itu mamamu', itu hanya akan memperumit keadaan" Batin Kirito lagi.

Kirito akhirnya memutuskan untuk mencondongkan tubuhnya ke arah Yui. Membisikkan sesuatu dan setelahnya Yui mengangguk paham. Sayangnya bagi yang sedang menguping, mereka tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Kirito pada Yui.

Kirito yang sadar sedang diintip berbicara dengan keras. "Baiklah Yui, setelah makan kau segera tidur. Besok kita akan mencari tahu asalmu" Kata Kirito.

Keesokan harinya, mereka semua pergi setelah semua paham apa yang terjadi. Kirito, Naofumi, Eugeo, dan Alice pergi ke lantai 1 tempat panti asuhan. Sachi, Leafa, dan Sinon bersama Moonlit Black Cat bertanya di sekitar lantai 22. Sisanya (kecuali Lux dan Gwen) mencoba di sekitar pemain tingkat menengah.

"Bagaimana Yui, kau mengingat sesuatu?" Tanya Kirito menggendong Yui di punggung nya. Yui menoleh ke kanan dan kiri kemudian menggelengkan kepalanya.

"Ne Kirito, apa menurutmu ini ada hubungannya dengan Dewa Vector?" Tanya Yujio sambil memperhatikan sekitarnya.

"Tentu saja tidak. Dia berada di dunia lain. Tidak mungkin dia kemari" Bantah Kirito.

"Hm..." Yujio pun kembali berpikir.

"Bagaimana kalau itu perbuatan Vector versi developer SAO?" Tanya Naofumi yang membuat Kirito agak jengkel mendengarnya.

"Maksudmu? Tidak mungkin developer SAO menggunakan sihir atau semacam-" Kalimat Kirito terhenti.

"Ada apa Kirito?" Tanya Yujio.

"Tidak, bukan apa-apa" Jawab Kirito. "Fiuh, hampir saja. Aku tidak boleh membongkar adanya sihir di dunia ini" Batin Kirito.

"Bagaimana jika benda yang menempel di kepala kita yang menghapus ingatan Yui?" Tanya Alice.

"Maksudmu?" Tanya Kirito.

"Ya, kau sempat bilang bahwa alat itu semacam menghalangi atau memutus perintah dari syaraf kan? Maka tidak mustahil jika itu bisa digunakan untuk menghapus atau mengubah sesuatu dalam otak kita" Jelas Alice.

Kata-kata Alice tadi benar-benar membuat Kirito berpikir. "Itu mungkin saja" Pikirnya kemudian mereka kembali menyusuri kota pertama di lantai 1.


Sorry minna-san! Author lupa publish! Chapter 13 akan menyusul tepat setelah chapter 12 ini! (Kali ini Author bakal beneran langsung).Dukung Author terus ya!