"Bagaimana kalau sekarang Yui?" Tanya Kirito sambil menggendong Yui di punggungnya.

Saat ini, mereka sudah hampir setengah jam berkeliling kota dan tidak membuahkan hasil apapun. Yui pun masih tidak ingat.

"Bagaimana ini Kirito? Kita sudah berkeliling cukup lama dan Yui tidak ingat apapun" Tanya Yujio yang mulai bingung.

Kirito yang tadi sedang berjalan di depan kini berhenti. Naofumi menoleh ke arah Kirito dan bertanya. "Kenapa kau berhenti Kirito?" Tanya Naofumi.

"Kau dengar itu?" Tanya Kirito membuat ketiga temannya memiringkan kepala mereka.

Sesaat kemudian, sebuah suara memasuki telinga Naofumi. "Kembalikan anak-anak itu!" Suara tsb terdengar sangat marah. Suara tsb sudah jarang terdengar oleh Naofumi dan Kirito.

"Naofumi, ini.." Kata Kirito tidak menyelesaikan kalimatnya.

"Ya, aku tahu. Ayo!" Naofumi dan Kirito pun berlari ke arah asal suara tsb.

"Eh, Kirito, Naofumi, tunggu!" Teriak Yujio sebelum berlari mengejar dua orang yang telah berlari terlebih dahulu. Sedangkan Alice hanya bisa menghela nafas dan mengikuti yang lainnya.

Di tempat lain, sekelompok pria berarmor menghadap seorang wanita berambut coklat pendek. "Kembalikan anak-anak itu!" Bentak si wanita.

"Ayolah, jangan buat seolah kami orang jahatnya. Kami hanya mengajarkan pada anak-anak ini cara menjadi warga yang baik" Kata salah seorang pria berarmor.

"Warga yang baik harus bayar pajak. Jadi, kau akan melunasi pajaknya dengan memberikan semua senjatamu dan armormu sampai tidak tersisa apapun" Lanjut pria berarmor lainnya.

Dari arah belakang wanita berambut coklat, muncul empat sosok yang berlari ke arah mereka. Dua diantaranya melompati kelompok berarmor. Di lainnya berdiri di depan si wanita dan membelakangi nya.

"Oi, oi, oi, oi. Siapa kalian?!" Tanya kesal salah satu diantara kelompok berarmor.

Keempatnya tidak menghiraukan pertanyaannya dan hanya menatapnya. "Tunggu dulu, aku ingat kau" Kata pria berarmor lainnya menatap lelaki berambut hitam yang mengenakan pakaian santai hijaunya. Kemudian ia menoleh ke arah lelaki berambut hitam lainnya yang menggunakan baju santai hitam dan menggendong seorang anak perempuan kecil di punggungnya. "Kalian duo 'Beater and Devil'"

"Jadi mereka ini 'Black and Green Brothers'" Kata pria yang lainnya.

"Kirito-san, Naofumi-san" Kata si wanita.

"Sedang apa kalian disini?!" Tanya kesal pria yang pertama menyadari Naofumi dan Kirito.

"Tidak ada. Hanya berkeliling" Jawab lelaki berjulukan 'Devil'.

"Apa yang dilakukan Army disini?" Tanya Alice kebingungan.

"Kirito-san, Naofumi-san, tolo-" Kata-kata si wanita tidak sempat selesai.

"Tenanglah, kami akan menyelesaikannya" Kata Kirito.

Naofumi menoleh ke arah Yujio yang terlihat marah sambil meraih sesuatu di pinggangnya. "Yujio" Panggil Naofumi membuat yang dipanggil menoleh. "Stay cool, bahkan ketika kau akan menebas musuhmu"

Mendengar kalimat tsb, Yujio sedikit terbelalak matanya dan mengangguk. Ia kemudian membuka item pouche nya dan memunculkan pedang terpercaya nya, Blue Rose Sword.

Yujio berjalan ke arah kelompok tsb. Tanpa menatap pada wajahnya, ia mengayunkan pedangnya yang telah bercahaya biru. Setelah beberapa kali melakukan tebasan, kelompok tsb ketakutan dan kabur.

Setelah itu, Alice berjalan ke arah Yujio yang sedang dikerumuni oleh anak-anak yang kagum padanya. Wanita tadi pun berjalan ke arah anak-anak tsb. Sedangkan Kirito hanya tersenyum melihat pemandangan santai ini.

Namun, sesuatu terjadi mengganggu kedamaian. "Mereka semua... Hati mereka semua..." Kata Yui menjulurkan tangannya ke atas. Kirito yang mendengarnya menoleh kearahnya.

"Yui?" Tanya Kirito membuat Naofumi menoleh ke arah mereka.

Yui terus-menerus mengulang kalimat 'Mereka semua..' sedangkan Kirito terus bertanya. "Yui, ada apa? Yui?"

Yui kemudian berhenti dan mendekatkan wajahnya ke pundak Kirito. "Aku... Aku... Aku bukan berada di tempat seperti ini... Aku selalu sendirian di tempat yang gelap..." Kata Yui dengan nada ketakutan.

Kirito pun menurunkannya. "Apa kau ingat sesuatu Yui? Apa kau bisa jelaskan lebih detail ingatanmu itu?" Tanya Kirito namun tidak mendapat jawaban apapun.

Mata Yui yang semula tertutup kini terbuka sangat lebar. Bersamaan dengan itu, sebuah suara bising memasuki telinga semua orang disitu. Yui yang sedang berdiri kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Ketika suara bising tsb menghilang Kirito dengan cepat menangkap Yui.

"Yui?" Panggil Kirito dengan kebingungan.

"Papa... Aku takut.." Kata Yui dengan erat memegang baju Kirito. Mendengarnya Kirito hanya mengeratkan pelukannya.

"Kau tak perlu takut Yui, aku akan menjagamu" Kata Kirito dengan pelan. Setelahnya Yui langsung jatuh pingsan.

"Apa itu tadi?" Tanya Naofumi agak bingung.

(Author: tambahan sebelum lanjut, si wanita tadi itu namanya Sasha. Jadi mulai sekarang author nyebut dia pake nama itu. Oke? Back to story)

Keesokan paginya, seluruh anggota party telah berkumpul di tempat penitipan anak di lantai 1. Mereka pun memulai sarapan dan mengobrol.

"Jadi seramai ini tempat penitipan anak" Kata Melty melihat anak-anak yang sedang makan sarapan.

"Ya, dan semua bisa senang juga berkat Kirito-san dan Naofumi-san yang tidak jarang memberi kami uang" Kata Sasha.

"He? Onii-chan dan Naofumi yang biasanya meminta uang untuk info boss lantai? Jadi kesana uangnya pergi" Kata Leafa dengan sedikit nada meledek.

Kelima perempuan yang menaruh hati pada Kirito melihat sekeliling dan tidak ada tanda-tanda dirinya. Sasha yang melihatnya langsung berkata. "Kirito dan Naofumi sedang bersama Yui. Karena kejadian kemarin, Yui harus beristirahat. Bahkan, semalam dia sempat melakukannya lagi"

"Kelihatannya mereka berdua sangat peduli dengan Yui" Kata Yujio.

Sasha hanya mengangguk sebelum kembali berbicara. "Ya, apalagi sejak kejadian waktu itu" Katanya menundukkan kepalanya.

"Ada apa?" Tanya Asuna melihat ekspresi wajah wanita tsb.

"Dulu, tiap kali mereka kesini, mereka benar-benar senang. Bahkan beberapa kali membantuku mengurus anak-anak walau sedikit" Jawab Sasha. "Suatu hari mereka sangat dekat dengan salah satu anak disini. Mereka berdua sudah seperti kakak nya. Karena ingin membantu, mereka bersama anak itu meningkatkan level bertiga" Lanjutnya.

"Apa yang terjadi?" Tanya Misako.

"Anak itu meninggal" Jawab Sasha dengan dirinya yang makin menundukkan kepala. "Setelah itu, peningkatan level anak-anak ku hentikan"

"Jadi, apa dia alasan mereka mengincar drop item event Natal" Gumam Yujio yang membuat semua menoleh ke arahnya.

"Maksudmu item yang bisa membangkitkan seseorang dari kematian?" Tanya Sinon dengan terkejut.

"Sisi bagusnya adalah mereka selamat. Sisi buruknya, benda itu tidak bisa digunakan untuk anak itu. Akhirnya, Kirito menggunakannya padaku" Jawab sekaligus jelas Yujio.

Sebuah suara pintu terbuka memasuki telinga semua player di ruangan tsb. Penasaran, mereka menoleh ke arah asal suara tsb. Nampak lah sosok berpakaian hijau dan hitam memasuki ruangan.

"Oh, hey Kirito, Naofumi. Bagaimana keadaan Yui?" Sapa Yujio langsung bertanya.

"Kau bisa tanyakan itu padanya langsung" Jawab Naofumi dan yang dibicarakan pun ikut memasuki ruangan.

Yui langsung berlari ke arah meja yang berisi party Naofumi dan Kirito. Sedangkan Naofumi dan Kirito berjalan dengan santai.

"Nampaknya dia sudah lebih baik" Kata Yujio melihat Yui yang sangat berenergi.

"Nah Yui-chan mau makan apa?" Tanya Asuna dengan lembut.

Yui tidak langsung menjawab dan menoleh ke arah Kirito. "Papa, boleh kah aku minta yang waktu itu kau berikan?" Pinta Yui dengan polos.

"Maaf ya, Yui. Masalahnya adalah sandwich nya tidak ada" Jawab Kirito sambil mengelus kepala Yui.

Yui pun nampak sedikit sedih. "Kalau begitu aku mau yang papa makan" Jawab Yui lagi. Mereka pun menyelesaikan makanan mereka.

Singkat cerita, Yupiter datang dan meminta tolong pada party Naofumi dan Kirito untuk membantunya. Ia menjelaskan bahwa The Army semakin buruk karena pengaruh Kibaou.

Player-player Army yang mencoba menantang bos lantai 74 pun atas perintahnya. Kibaou kesal dan memancing Thinker, sang pemimpin guild Army yang sesungguhnya, ke dalam dungeon tingkat tinggi tanpa perlengkapan sama sekali bahkan kristal pun tidak.

Walau semua mempunyai kecurigaan terhadap ceritanya, namun Yui mulai berbicara. "Tenang saja papa, dia mengatakan yang sejujurnya" Kata Yui yang berada di samping Kirito.

"Kenapa kau berpikir begitu Yui?" Tanya Alice penasaran. Semua pun ikut penasaran.

"Entahlah. Tapi aku yakin bahwa dia mengatakan yang sebenarnya" Jawab Yui walau agak bingung.

"Baiklah. Aku lebih baik percaya lalu menyesal daripada tidak percaya sama sekali" Kata Kirito sebagai tanda menyetujui permintaannya.

"Tapi kami-" Tepat ketika Naofumi akan memulai kalimat khas nya, Kirito menyikut nya.

"Ne, Naofumi. Bagaimana sebagai imbalannya kita habisi monster disana?" Kata Kirito membuat Naofumi bingung.

"Maksudmu?" Tanya Naofumi.

"Ya, jika ceritanya benar, maka dungeo tingkat tinggi itu mempunyai banyak monster tingkat tinggi pula. Itu bisa sangat membantu dalam meningkatkan level" Jawab Kirito.

Naofumi pun memegangi dagu nya dan berpikir. Setelah selesai berpikir ia mulai membuka bibirnya. "Baiklah, tak masalah bagi ku" Kata Naofumi menyetujui.

""Bahkan disaat seperti ini kalian masih saja memikirkan tentang bayaran"" Kata seluruh anggota party 'Black and Green Brothers'.

Seperti yang sudah jelas, party tsb memasuki labirin tempat Thinker terjebak. Yui ikut datang memasuki labirin karena ia sangat ingin bersama 'ayah'nya.

"Haaa!" Teriak Kirito sambil menebas monster katak di depannya.

"Uuooo!" Teriak Yujio yang bersama dengan Kirito menebas monster katak.

Selain Kirito, Yujio, Raphtalia, dan Alice, semua hanya menonton dari belakang. Di tambah Naofumi yang hanya mempersiapkan perisainya di depannya.

"Maaf tak bisa membantu" Kata Yupiter dengan sopan meminta maaf atas ketidak-mampuannya.

"Tak apa. Mereka benar-benar menikmatinya" Jawab Melty.

Beberapa saat kemudian, mereka pun kembali memasukkan pedang mereka ke sarung pedangnya masing-masing. "Fiuh, itu tadi sangat melegakan" Kata Kirito sambil dengan lega.

"Bagaimana itu mungkin Kirito. Walau kau menggunakan dua pedang, harusnya perbedaan jumlah monster yang kita bunuh tidaklah sampai 3 kali lipat" Keluh Yujio.

"Hahaha, sudah kubilang, otot yang kebesaran itu akan menghambatmu dalam Aincrad-style" Kata Kirito.

"Tapi bukankah ini avatar virtual. Otot ku tak tersimpan disini harusnya" Kata Yujio yang masih mengeluh.

"Begitulah Sword Art Online. Bahkan avatar ku yang sudah ku buat sampai satu jam hilang dan di sinilah aku terjebak dengan tampilan asli ku" Jawab Kirito. "Jangan lupa fakta bahwa kita bisa masuk ke Sword Art Online lagi adalah sesuatu yang supranatural. Hal yang kau katakan tadi tidak ada apa-apanya" Sambung Kirito.

"Ngomong-ngomong, Kirito-sama, kau tadi nampak agak bersemangat melihat reward item mu. Ada apa?" Tanya Raphtalia.

"Aku lega kau bertanya" Kata Kirito sambil memegang dagunya. "Aku mendapat sebuah bahan makanan yang terlihat enak" Jawab Kirito.

"Ne Asuna, Sachi, bisakah kalian nanti masakan ini untukku?" Tanya Kirito.

Karena terhalang oleh party member yang ada di depannya, Asuna maupun Sachi tak bisa melakukan apapun dan hanya terlihat bingung. Sesuatu pun melayang ke arah mereka sebagai jawaban dari ekspresi mereka.

Ketika menangkapnya, Asuna yang pertama berteriak dan Sachi pun ikut berteriak. Teriakkan nya bukan karena takut ataupun semacamnya. Namun lebih pada teriak jijik. Asuna pun melempar yang sepertinya adalah daging kaki katak yang di bunuh oleh Kirito.

Mendengar sesuatu hancur, Kirito cepat-cepat melihatnya dan nampak kecewa karena daging yang ia berikan telah hancur. "Jangan harap kami akan memasaknya!" Teriak Asuna.

"Baiklah kalau begitu" Kirito pun segera memanipulasi penyimpanannya dan mengeluarkan semua daging kaki katak tsb. "Aku takkan kalah!" Katanya menyatakan.

"Kyaah! Singkirkan itu" Teriak Asuna sambil membuang satu persatu daging yanga da di atas tangan Kirito.

"Yang benar saja Kirito, tidak ada dari kami yang ingin memakannya" Kata Sinon.

"Tapi kau tau kata mereka. Semakin aneh penampilannya maka rasanya akan semakin bagus" Katanya masih mencoba menyelematkan sebanyak mungkin daging.

Dalam beberapa saat, tangan Kirito sudah tak memegang apapun. Kirito menghela nafas. "Hei, Naofumi. Bukan kah kau seharusnya membantu ku? Setidaknya kau dipihak ku untuk menyimpan daging itu kan" Kata Kirito menunjukkan sedikit kekesalannya.

"Tidak. Kau sungguh kalah jumlah. Aku golput saja" Kata Naofumi.

"Apa maksudmu? Kau balas dendam terhadap ku?!" Tanya Kirito dengan kesal.

Setelah beberapa saat, mereka pun kembali menelusuri dungeon tsb. Melihat sekeliling, akhirnya di depan nampk sebuah cahaya. Disana berdiri seorang pria yang meneriakkan nama Yulier. Dengan senang Yulier berlari ke arahnya.

"Jangan mendekat! Kau dengar? Jangan mendekat!" Teriak pria bernama Thinker tsb.

Mendengar teriakkan Thinker Naofumi dan Kirito secara reflek menoleh ke arah samping. Kirito menoleh ke kiri dan tidak mendapatkan apapun. Sedangkan Naofumi yang menoleh ke arah kanan mendapatkan sosok yang siap membunuh Yulier kapanpun. Setelah melihatnya, Naofumi berlari dan menggunakan perisainya untuk menahan serangan tiba-tiba sang monster.

Setelah bersiap, seluruh anggota party pun memasang posisi. Thinker dan Yulier bersama dengan Yui berada di safe zone.

Sesuatu terasa mengganggu Kirito dan Naofumi. Suatu perasaan yang mengatakan ini ide buruk. Kemudian mereka teringat, ketika Leaf Storm, guild tingkat bawah yang damai meninggal semua karena Kirito dan Naofumi.

"Takkan kubiarkan itu terjadi lagi" Batin Kirito dan Naofumi bersamaan.

Nama dari monster yang terlihat seperti Gream Reaper adalah Fatal Scythe. Monster tsb mengayunkan sakitnya ke atas dan menggerakkannya kebawah tepat mengenai perisai Naofumi.

Dengan sekuat tenaga, Naofumi berusaha menahan serangannya namun gagal. Sebagai hasil, dirinya terpental hingga mengenai dinding.

Kirito yang merupakan yang terdekat dengan Fatal Scythe menjadi sasaran selanjutnya. Yang lain pun meneriakkan namanya dengan kekhawatiran.

Mendengar teriakkan temannya, Kirito menoleh. "Tenang saja. Aku akan parry, kalian lah yang habisi dia" Kata Kirito sambil menunjukkan senyum percaya dirinya.

Yui yang melihatnya tak tahan dan belari ke arah sosok yang ia panggil ayah. "Papa!" Teriaknya berlari ke arah Kirito.

Yui yang berada di antara Kirito dan Fatal Scythe masih memanggil 'ayah'nya. Kirito tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya begitu pula yang lain. Naofumi yang baru saja mulai mengangjat kepalanya melihatnya juga.

Pemandangan yang dengan jelas tergambar di pikiran semua orang. Kirito dan Naofumi adalah yang paling benci dengan pemandangan yang tergambar tsb. "Yuuiii!" Teriak Kirito dan Naofumi bersamaan.

Yui menoleh dan mendapati sosok yang menyerupai pencabut nyawa mengarahkan sakitnya ke arahnya. "Takkan kubiarkan! Tidak akan kubiarkan ini terjadi lagi!" Teriak batin Kirito.

Naofumi dari kejauhan tak perlu mengamati lebih lanjut hal yang mungkin akan terjadi. Dia membencinya. Hal yang paling mungkin terlintas di kepalanya dia sangat membenci hal tsb. "Takkan kubiarkan satu pun dari kalian mati!" Teriak batinnya.

Dengan kecepatan luar biasa, Kirito berhasil berada di antara Yui dan Fatal Scythe. Ia pun memeluk Yui erat-erat sambil membelakangi sabit yang datang.

Kirito tahu, walau sempat menarik pedangnya pun tidak ada yang akan berubah. Dia pasti mati. Maka dari itu, ia ingin saat-saat terakhirnya yaitu ketika ia memeluk Yui.

Beberapa saat berlalu, Kirito tidak merasakan apapun. Bahkan dengan adanya Pain absorber, seharusnya dia sedikit terdorong oleh tebasan sabit yang akan merenggut nyawanya.

Rasa penasaran mengalahkan Kirito, ia pun menoleh. Matanya terbelalak ketika melihat perisai berwarna hijau transparan menahan sabit Fatal Scythe. Tanpa perlu menoleh Kirito paham dengan jelas siapa pemilik perisai tsb.

"Kirito, cepat menyingkir dari sana segera. Serahkan saja pada mereka. Kau cukup lindungi Yui saja!" Teriak Naofumi.

Mendengarnya, Kirito terkejut. Ia pun teringat kalimatnya sendiri di awal Sword Art Online di mulai.

"Aku yakin mereka baik-baik saja tanpa kita. Lagipula, mereka sangat kuat. Walaupun dengan level mereka yang mengulang dari level 1. Aku yakin mereka pasti bisa" Itu lah yang dikatakannya pada Naofumi di hari pertama mereka terjebak di kastil melayang tsb.

Setelah beberapa saat, akhirnya mereka berhasil selamat dari Fatal Sycthe. Kini mereka sedang menikmati kemenangan sementara mereka.

Dua hari berlalu, tidak ada hal menegangkan terjadi. Dan ketika itulah, Naofumi mendapatkan sebuah pesan.

"Tuan Iwatani, aku Mirelia meminta pada anda dan party anda untuk kembali ke baris depan. Kami sudah menemukan ruangan bos lantai 75" Itu lah isi pesan dari sang ratu.

Tidak mempunyai alasan untuk menolak, Naofumi memberitahu semua. Walau sangat disayangkan bagi semuanya karena istirahat mereka harus berakhir, namun mereka juga ingin secepatnya berkumpul kembali dengan keluarga yang mereka tinggalkan.

"Baiklah, kalau begitu besok kita semua-" Tak sempat menyelesaikan kalimatnya, Naofumi disela oleh sosok Yui yang berlari ke arah 'ayah'-nya.

"Papa, Yui juga ingin ikut" Katanya dengan polosnya.


Berikutnya akan menjadi bagian-bagian akhir dari Aincrad-Main Arc. Setelahnya, adalah Aincrad-ALfheim Arc. Ditunggu ya!